UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
REVIEW MATERI
PFeinldsiadfikatan
FILSAFAT YANG DIGUNAKAN DALAM STUDI MENGENAI MASALAH-
MASALAH PENDIDIKAN
NURDAYATI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat serta
inayah-Nya, yang karena-Nya, penulis dapat menyelesaikan Tugas akhir Mata Kuliah Filsafat
Pendidikan berupa review materi yang bertujuan untuk memahami dan mengembangkan
pengetahuan.
Ruang lingkup materi meliputi Hakikat Manusia dan Pendidikan, Hubungan Filsafat dengan
Praktek Pendidikan, dan Aliran-aliran Filsafat (Idealisme, Materialisme, Realisme, Pragmatisme,
Progresivisme, Eksistensialisme, Esensialisme, Perenialisme, Behaviorisme, Kontruktivisme,
Naturalisme, Filsafat Ki Hajar Dewantara, Pancasila, dan Benjamin S Bloom). Berdasarkan materi-
materi tersebut diharapkan mampu memberikan wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan
pembaca sehingga dapat berinovasi dalam proses pembelajaran dimasa mendatang.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam upaya penyusunan ebook ini. Oleh
karena itu, segala saran dan kritik demi perbaikan sangat dinantikan.
Indralaya, November 2021
Penulis
Filsafat Pendidikan ii
DAFTAR ISI ii
iii
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 1
BAB I Hakikat Manusia dan Pendidikan 1
1
1. Hakikat Manusia 2
2. Aspek-aspek hakikat manusia 2
3. Hubungan Hakikat Manusia dengan Pendidikan 2
BAB II Hubungan Filsafat Pendidikan dengan Praktek Pendidikan 2
1. Konsep Filsafat Pendidikan 3
2. Lingkup Filsafat Pendidikan 3
3. Hubungan antara Filosofi Mengajar dan Gaya Mengajar 3
BAB III Aliran Filsafat Idealisme 4
1. Pengertian Filsafat Idealisme 4
2. Implementasi aliran filsafat idealisme dalam pendidikan 4
BAB IV Aliran Filsafat Materialisme 4
1. Pengertian fisafat materialisme 5
2. Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Materialisme 5
3. Pandangan Aliran Filsafat Materialisme terhadap Pendidikan 5
BAB V Aliran Filsafat Realisme 5
1. Pengertian filsafat Realisme 6
2. Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Realisme 6
3. Bentuk-bentuk aliran filsafat realisme 6
BAB VI Aliran Filsafat Pragmatisme 6
1. Pengertian filsafat Pragmatisme
2. Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Pragmatisme iii
3. Implementasi Pragmatisme dalam Pendidikan
Filsafat Pendidikan
BAB VII Aliran Filsafat Progresivisme 7
1. Pengertian Filsafat Progresivisme 7
2. Latar Belakang Munculnya Filsafat Progresivisme 7
3. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Progresivisme 8
4. Pandangan Filsafat Progresivisme Tentang Pendidikan 8
5. Mengidentifikasi kurikulum menurut aliran progresivisme 9
6. Aktivitas Pendidikan Menurut Aliran Progresivisme 9
7. Tujuan Pendidikan Aliran Progresivisme 9
10
BAB VIII Aliran Filsafat Eksistensialisme 10
1. Definisi Filsafat Eksistensialisme 10
2. Ciri-ciri Filsafat Eksistensialisme 11
3. Prinsip Filsafat Eksistensialisme 11
4. Sejarah dan Latar Belakang filsafat Eksistensialisme 11
5. Tokoh Filsafat Eksistensialisme 12
6. Implementasi filsafat eksistensialisme 13
13
BAB IX Aliran Filsafat Esensialisme 13
1. Definisi Aliran Filsafat Esensialisme 13
2. Sejarah Munculnya Aliran Esensialisme 13
3. Tokoh-tokoh Aliran Essensialisme dan Pandangannya Mengenai Pendidikan 14
4. Ciri-Ciri Aliran Esensialisme 14
5. Pandangan Aliran Esensialisme di Bidang Pendidikan 14
6. Konsep Pendidikan Esensialisme 15
7. Peranan dan Fungsi Esensialisme dalam Pendidikan 15
8. Prinsip-prinsip aliran esensialisme dalam pendidikan 15
9. Pandangan dan Sikap tentang Aliran Essensialisme 15
10. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Essensialisme 16
11. Implementasi Ensensi dalam Dunia Pendidikan 16
BAB X Aliran Filsafat Perenialisme iv
1. Pengertian Filsafat Perenialisme
Filsafat Pendidikan
2. Sejarah Perkembangan Aliran Perenialisme 16
3. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Perenialisme 16
4. Hakikat Pendidikan Menurut Aliran Perenialisme 16
5. Konsep Dasar Aliran Perenialisme 16
6. Implikasi Aliran Perenialisme Di Pendidikan 17
7. Kelebihan dan kekurangan 17
BAB XI Aliran Filsafat Behaviorisme 18
1. Pengertian Teori Behaviorisme 18
2. Ciri-ciri Filsafat Behaviorisme 18
3. Prinsip Filsafat Behaviorisme 19
4. Aplikasi dalam Pembelajaran Behaviorisme 19
5. Implikasi Teori Belajar Behaviorisme 19
6. Tujuan Pembelajaran Behaviorisme 20
7. Tokoh-tokoh dalam aliran teori behaviorisme 20
8. Kelebihan dan kelemahan teori behaviorisme 20
BAB XII Aliran Filsafat Kontruktivisme 21
1. Definisi Aliran Filsafat Kontruktivisme 21
2. Tujuan Konsturktivisme 21
3. Kajian Ontologi, epistemologi dan aksiologi dari konstruktivisme 21
4. Konsep Filsafat Konstruktivisme Secara Umum 22
5. Langkah-langkah Konstruktivisme 22
6. Sejarah Lahirnya Konstruktivisme Dalam Filsafat Pendidikan 23
7. Hubungan Filsafat Konstruktivisme Dengan Pendidikan 23
8. Implementasi Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan 23
BAB XIII Aliran Filsafat Naturalisme 24
1. Pengertian Filsafat Naturalisme 24
2. Sejarah Perkembangan Aliran Naturalisme 24
3. Tokoh-tokoh yang Menganut Aliran Filsafat Naturalisme 24
4. Ciri-ciri Filsafat Naturalisme 25
Filsafat Pendidikan v
5. Klasifikasi Filsafat Naturalisme 25
6. Pandangan Filsafat Naturalisme Terhadap Pendidikan 25
7. Implikasi Aliran Naturalisme di Pendidikan 25
BAB XIV Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara 26
1. Hakikat Pendidkan Ki Hajar Dewantara 26
2. Tokoh-Tokoh Pendidikan Yang Berpengaruh Pada Ki Hajar Dewantara 26
3. Dasar pendidkan Ki Hajar Dewantara 26
4. Implikasi Filosofi Pendidkan Ki Hajar Dewantara 27
5. Sejarah Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara 27
6. Kelebihan dan Kekukarangan Teori Ki Hajar Dewantara 28
BAB XV Aliran Filsafat Pancasila 30
1. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat 30
2. Ajaran Metafisika dan Ontologi Pancasila 30
3. Epistomologi Pancasila 31
4. Aksiologi Pancasila 32
5. Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional 32
BAB XVI Filsafat Benjamin S Bloom 34
1. Biografi Benjamin S Bloom 34
2. Bentuk-bentuk Filsafat Benjamin S Bloom 34
3. Bentuk Taksonomi Benjamin S Bloom revisi 34
4. Prinsip Belajar yang Menjadi Landasan Filsafat Pendidikan Taksonomi Bloom 35
5. Kelebihan dan Kekurangan Taksonomi Benjamin S Bloom 35
KESIMPULAN 36
DAFTAR PUSTAKA 37
Filsafat Pendidikan vi
BAB Hakikat Manusia dan Pendidikan
I
1. Hakikat Manusia
Hakikat manusia adalah sebagai ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan pikiran sehingga
memiliki berbagai sifat dan karakteristik yang membedakannya dari ciptaan lainnya,
sehingga manusia adalah salah satu unsur utama dalam berjalannya suatu sistem tatanan
kehidupan. Untuk mengembangkan kemampuan, potensi, mengelolah akal dan pikiran
manusia selalu melakukan upaya dalam menumbuhkan dan mengembangkanya baik potensi
jasmani ataupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat dan kebudayaan
atau Pendidikan.
2. Aspek-aspek hakikat manusia
Aspek-aspek hakikat manusia yang dijelaskan secara rinci dengan berdasr pada pendapat
ahli, yaitu:
a. Manusia Sebagai Makhluk Tuhan
b. Manusia Sebagai Kesatuan Badan Roh
c. Manusia sebagai makhluk individu
d. Manusia Sebagai Makhluk Sosial
e. Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya
f. Manusia Sebagai Makhluk Susila
g. Manusia Sebagai Makhluk Beragama
3. Hubungan Hakikat Manusia dengan Pendidikan
Hakikat Pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusiawi ataupun usaha manusia
dalam menghadapi perubahan dan kemajuan zaman yang berlangsung seumur hidup.
Pada makalah dijelaskan Asas-asas keharusan atau perlunya pendidikan bagi manusia, yaitu:
a. Manusia sebagai makhluk yang belum selesai, manusia ada karena ciptaan Tuhan dan lahir
kedunia dengan tidak berdaya serta tidak lepas dari bantuan orang tua.
b. Tugas dan tujuan manusia yaitu menjadi manusia, manusia itu sendiri yang menentukan
pilihannya menjadi siapa di masa depan
c. Perkembangan manusia bersifat terbuka, manusia berkembang sesuai kodrat dan martabat
kemanusiaannya.
Filsafat Pendidikan 1
BAB Hubungan Filsafat Pendidikan dengan
II Praktek Pendidikan
1. Konsep Filsafat Pendidikan
Filsafat Pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-
masalah Pendidikan. Filsafat Pendidikan pada hakikatnya adalah penerapan analisis filsafat
terhadap lapangan Pendidikan. Filsafat Pendidikan memainkan peranan penting dalam
memberikan arahan bagi Pendidikan pada berbagai isu serta memberikan teori pengetahuan
untuk Pendidikan dikerjakan sebagaimana mestinya.
2. Lingkup Filsafat Pendidikan
Penulis menjelaskan lingkup filsafat Pendidikan yaitu: Tujuan dan Cita-cita Filsafat
Pendidikan, Interpretasi tentang Sifat Manusia, Nilai Pendidikan, Teori Pengetahuan,
Hubungan pendidikan dan berbagai bidang kehidupan nasional dan berbagai komponen
sistem Pendidikan. Masing-masing dipaparkan dengan sangat jelas.
3. Hubungan antara Filosofi Mengajar dan Gaya Mengajar
Dari makalah yang disajikan penulis menjelaskan bahwa dalam Pendidikan PAUD,
filsafat Pendidikan melakukan pengkajian secara mendalam, luas, mendasar tentang peranan
Pendidikan terhadap pengembangan anak dan memberikan arah yang benar tentang
penyelenggaraan Pendidikan anak. Filsafat Pendidikan anak dibutuhkan untuk mengungkap
dan mengkaji realitas yang sedang terjadi dalam proses Pendidikan anak. Namun, pada
makalah kelompok banyak terdapat kesalahan dalam penulisan kata. Semoga dapat
dievaluasi dan dibenahi dikemudian hari. Dan berkenaan dengan materi sudah sangat baik.
Filsafat Pendidikan 2
BAB Aliran Filsafat Idealisme
III
1. Pengertian Filsafat Idealisme
Pada makalah dijelaskan Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid
Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di
antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera.
Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini
memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau
tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan
idea.
2. Implementasi aliran filsafat idealisme dalam pendidikan
Pada makalah dijelaskan implementasi aliran filsafat idealisme:
a. Pendidikan bukan hanya mengembangkan dan menumbuhkan, tetapi juga harus menuju
pada tujuan yaitu dimana nilai telah direalisasikan ke dalam bentuk yang kekal dan tak
terbatas.
b. Pendidikan adalah proses melatih pikiran, ingatan, perasaan. Baik untuk memahami
realita, nilai-nilai, kebenaran, maupun sebagai warisan sosial.
c. Tujuan pendidikan adalah menjaga keunggulan kultural, sosial dan spiritual.
Memperkenalkan suatu spirit intelektual guna membangun masyarakat yang ideal.
d. Pendidikan idealisme berusaha agar seseorang dapat mencapai nilai-nilai dan ide-ide
yang diperlukan oleh semua manusia secara bersama-sama.
e. Tujuan pendidikan idealisme adalah ketepatan mutlak. Untuk itu, kurikulum seyogyanya
bersifat tetap dan tidak menerima perkembangan.
f. Peranan pendidik menurut aliran ini adalah memenuhi akal peserta didik dengan hakekat-
hakekat dan pengetahuan yang tepat.
Filsafat Pendidikan 3
BAB Aliran Filsafat Materialisme
IV
1. Pengertian fisafat materialisme
Pada makalah dijelaskan bahwa materialisme adalah paham filsafat yang meyakini
bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik, hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Ciri utamanya adalah menempati ruang dan waktu,
memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif, sehingga bisa diukur, dikuantifikasi
(dihitung), dan diobservasi.
2. Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Materialisme
Kelompok menjelaskan tokoh dari aliran filsafat materialisme yaitu, Thales,
Anaximenes, Heraklitus, Empedokles, Epikuros, Demokritos, Titus Lucretius Carus, Julien
de la Mettrie, Baron von Holbach, Thomas Hobbes, Karl Marx. Terdapat beberapa macam-
macam yang terdapat pada aliran materialisme, antara lain: Materialisme Mekanik,
Materialisme Dialektis/Dialektika, Materialisme Extrim, Materialisme Metafisik,
Materialisme Vitalistis, dan Materialisme Modern.
3. Pandangan Aliran Filsafat Materialisme terhadap Pendidikan
Untuk pendidikan, materialisme memandang bahwa proses belajar merupakan proses
kondisionisasi lingkungan serta menekankan pentingnya keterampilan dan pengetahuan
akademis empiris sebagai hasil kajian sains atau alam , sedangkan perilaku sosial sebagai
hasil belajar.
Pada makalah kelompok menjelaskan tentang Materialisme sebagai sistem pemikiran
yang meyakini materi sebagai satusatunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan
apapun selain materi. Sistem berfikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham materialisme
dialektika Karl Marx. Dalam kritik yang dilontarkan pada Hegel tentang manusia sebagai
esensi dari jiwa. Marx menyanggah bahwa manusia adalah makhluk alamiah dalam obyek
alamiah.
Filsafat Pendidikan 4
BAB Aliran Filsafat Realisme
V
1. Pengertian filsafat Realisme
Filsafat realisme adalah pandangan bahwa objek-objek indera adalah nyata dan berada
sendiri tanpa di sandarkan, tanpa pengetahuan lain atau kesadaran akal, tanpa ada
hubungannya dengan pikiran kita, persepsi kita, benda itu tetap ada terlepas dari kenyataan
jika benda itu kita ketahui. Realisme merupakan suatu aliran yang lahir di Eropa pada abad
ke 16-17 yang menunjukkan keinginan untuk mengetahui segala sesuatu dalam alam. Ini
berarti beralihnya perhatian dari pelajaran-pelajaran tentang manusia kepada realita
(kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan alam).
2. Tokoh aliran filsafat realisme
Terdapat tiga tokoh dalam aliran filsafat realisme yaitu Aristoteles (384 -322 M),
Francis Bacon (1210 - 1292 M), dan John Locke (1632 - 1704 M).
3. Bentuk-bentuk aliran filsafat realisme
Terdapat 5 bentuk aliran realisme yaitu realisme rasional, realisme klasik, realisme
religius, realisme natural ilmiah, dan neo realisme dan realisme kritis. Dunia pendidikan
memiliki pandangan realisme yang erat dengan pemikiran dari John Locke bahwa asal mula
adanya pemikiran dan akal pikir jiwa manusia tidak lain adalah sebuah tabula rasa, manusia
diibaratkan sebgaai kertas putih yang kosong dan dapat diisi dengan beberapa elemen
kehidupan dari lingkungan sekitar.
4. Kelebihan dan kekurangan filsafat realisme
Kelebihan filsafat realisme pendidikan dalam dunia pendidikan adalah program
pendidikan terfokus, peserta didik adalah penguasa pengetahuan, dalam hubungannya dengan
disiplin, tatacara yang baik sangat penting dalam belaja, kurikulum komperhensif, dan
metode yang digunakan logis dan psikologis.
Sedangkan kelemahan filsafat realisme pendidikan dalam dunia pendidikan adalah
metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam.pada setiap peserta didik dan terjadi
kekeliruan dalam menilai persepsi.
Filsafat Pendidikan 5
BAB Aliran Filsafat Pragmatisme
VI
1. Pengertian Filsafat Pragmatisme
Penulis menjelaskan Istilah pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa yunani),
yang berarti praktek atau berbuat atau tindakan. Bahwa segala sesuatu itu tergantung dari
hubungan dengan apa yang dapat dilakukan. Istilah lain dalam menyebut aliran ini antara lain
instrumentalisme dan eksperimentalisme. Disebut instrumentalisme karena pada aliran ini
menganggap bahwa dalam hidup ini tidak dikenal tujuan akhir, melainkan tujuan antara dan
sementara yang merupakan alat utuk mencapai tujuan berikutnya, termasuk dalam bidang
pendidikan. Dikatakan Eksperimentalisme karena menggunakan metode eksperimen dan
berdasarkan pada pengalaman dalam menentukan kebenaran.
Pada makalah kelompok menjelaskan bahwa Pragmatisme adalah aliran yang bersedia
menerima segala hal, asalkan hal tersebut berakibat baik atau berguna, bermanfaat secara
praktis bagi kehidupan nyata yang mementingkan kegunaan suatu pengetahuan dan bukan
kebenaran objektif dari pengetahuan. Berdasarkan pengalaman kehidupan nyata.
2. Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
Pada materi kelompok menjelaskan tokoh-tokoh yaitu: Charles Sandre Peirce (1839
M), William James (1842-1910 M), dan John Dewey (1859-1952 M). masing-masing
dijelaskan secara rinci.
3. Implementasi Pragmatisme dalam Pendidikan
Menurut pragmatisme, pendidikan adalah suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi
dari pengalaman-pengalaman individu, proses aktivitas individu yang selalu disempurnakan
dari waktu kewaktu
Pendidikan pragmatisme dalam kontek ke-Indonesiaan terlihat jelas dalam pendidikan
berbasis kompetensi, berorientasi pengembangan dan kemampuan sumber daya manusia
yaitu pendidikan kejujuran.
Filsafat Pendidikan 6
BAB Aliran Filsafat Progresivisme
VII
1. Pengertian Filsafat Progresivisme
Pada makalah dijelaskan Aliran Progresivisme ini berpendapat bahwa pengetahuan
yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus
terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Progravisme
mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu
mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi
masalah- masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri.
Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih
besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata” dan juga
pengalaman teman sebaya.
Penulis juga mencantumkan pendapat ahli dari Barnadib yang dikutip oleh Anbiya dkk
(2020) Filsafat progresivisme berpandangan bahwa pendidikan adalah sebagai upaya
terencana untuk membantu tumbuh kembangnya peserta didik. Parameter kualitas dari proses
pembelajaran dapat diamati dari kualitas peserta didik sebagai output proses pendidikan.
2. Latar Belakang Munculnya Filsafat Progresivisme
Pada makalah dijelaskan latar belakang filsafat progresivisme yang bukan merupakan
suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, malainkan merupakan aliran
suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan tahun 1918. Selama 20 tahun menjadi
gerakan yang sangat kuat di Amerika Serikat banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan
ini. Gerakan progeresik terkenal luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah
tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras belajar fisik dan banyak hal-
hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan.
Sejarah mengatakan perkembangan aliran Progresivisme dianggap sebagai aliran
pikiran yang baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke-19, akan tetapi garis
perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang sampai pada zaman Yunani purba. Misalnya
Hiraclitus (544), Socrates (469), Protagoras (480) dan Aristoteles.
Filsafat Pendidikan 7
3. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Progresivisme
Pada makalah dipaparkan beberapa tokoh filsafat progresivisme yaitu: William James
(1842 –1910), John Dewey (1859 - 1952) dan Hans Vaihinger (1852-1933), masing-masing
dipaparkan dengan sangat jelas.
4. Pandangan Filsafat Progresivisme Tentang Pendidikan
Pemakalah menjelaskan beberapa pandangan progresivisme tentang Pendidikan yaitu
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut pandangan aliran ini adalah Pendidikan harus
memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berintraksi dengan
lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus.
b. Kurikulum Pendidikan
Kalangan progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah (child-
centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran
yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik.
c. Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme
diantaranya adalah: Metode Pendidikan Aktif, Metode Memonitor Kegiatan, Metode
Penelitian Ilmiah, Pemerintahan Pelajar, Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga, Sekolah
Sebagai Laboratorium Pembaharuan.
d. Belajar
Proses belajar terpusat pada anak dengan memberikan perhatian anak.
e. Peranan Guru
Guru menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat,
pembimbing, pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh yang dapat
berbuat apa saja (otoriter) terhadap muridnya.
f. Peserta Didik
Teori progresivisme menempatkan pesrta didik pada posisi sentral dalam melakukan
pembelajaran. karena murid mempunyai kecenderungan alamiah untuk belajar dan
menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga memiliki kebutuhan-kebutuhan
tertentu yang harus terpenuhi dalam kehidupannya.
Filsafat Pendidikan 8
5. Mengidentifikasi kurikulum menurut aliran progresivisme
Kalangan progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah (child-
centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang
berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik. Jadi, ketertarikan anak
adalah titik tolak bagi pengalaman belajar. Imam Barnadib dikutip oleh Utomo (2020)
menyatakan bahwa kurikulum progresivisme adalah kurikulum yang tidak beku dan dapat
direvisi, sehingga yang cocok adalah kurikulum yang berpusat pada pengalaman.
6. Aktivitas Pendidikan Menurut Aliran Progresivisme
Salah satu kegiatan/aktivitas pendidikan adalah menyelenggarakan proses belajar
mengajar. Belajar dilaksanakan dengan memperhatikan berbagai potensi yang dimiliki oleh
anak didik. Oleh karena itu, dalam pandangan progresivisme belajar harus dipusatkan pada
diri siswa, bukan guru atau bahan pelajaran.
7. Tujuan Pendidikan Aliran Progresivisme
Tujuan pendidikan progresivisme harus mampu memberikan keterampilan dan alat-alat
yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda dalam proses
perubahan secara terus menerus.Yang dimakssud dengan alat-alat adalah keterampilan
pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk
menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah.Pendidikan bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam kehidupan pribadi
maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada
dalam proses perubahan.
Makalah dijelaskan dengan materi yang bersumber dari berbagai jurnal dan buku
terbaru. Selain itu, pemaparan sanagt jelas dan mudah dipahami.
Filsafat Pendidikan 9
BAB Aliran Filsafat Eksistensialisme
VIII
1. Definisi Filsafat Eksistensialisme
Pada makalah penulis menjelaskan definisi dari filsafat dan juga definisi
eksistensialisme yang kemudian di simpulkan menjadi satu definisi dari filsafat
eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana
yang benar dan mana yang tidak benar.
2. Ciri-ciri Filsafat Eksistensialisme
Penulis menjelaskan ciri-ciri dari filsafat eksistensialisme, yaitu:
a. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan
masyarakat, khususnya terhadap idealisme Hegel.
b. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep- konsep
filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
c. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa
kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
d. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis,
komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam
kolektif atau massa.
e. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
f. Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi serta
pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Kemudian penulis menjelaskan terdapat empat pemikiran yang dapat dikatakan filsafat
eksistensialisme serta menjelaskan ciri-ciri yang sama dimiliki dari keempat pemikir
tersebut, yaitu: pemekirian Martin Heidegger, Jea Paul Sartre, Karl Jaspers, dan Gabriel
Marcel. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami cir-ciri serta pemikir dari filsafat
eksistensialisme.
Filsafat Pendidikan 10
3. Prinsip Filsafat Eksistensialisme
Didalam makalah penulis menjelaskan beberapa prinsip dari filsafat eksistensialisme, yaitu:
a. Eksistensialisme tidak memperdulikan apa itu metafisika atau Tuhan.
b. Kebenaran bersifat eksential daripada proporsional atau faktual
c. Eksistensialisme berpendapat bahwa setiap manusia hidip dalam keadaan sendiri
selama hidupnya.
d. Eksistensialisme tidak memperdulikan atas jawaban terhadap masalah yang ada dalam
ilmu filsafat yang penting
e. Jiwa yang terdapat pada aliran ini adalah mengutamakan manusia,
memperkembangkan eksistensi yang ada dalam diri manusia yang memiliki alasan
yaitu manusia akan mati.
4. Sejarah dan Latar Belakang filsafat Eksistensialisme
Penulis menceritakan sejarah dan latar belakang filsafat eksistensialisme yaitu Intinya
adalah terdapat beberapa filusuf yang menolak untuk mengikuti suatu aliran, penolakan
terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak
puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal dan primitif yang sangat dari
akademik. Selain itu, terdapat golongan filsuf yang menyadari bahwa manusia mulai
terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya
sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar bukan
hanya dengan semua serba instant. Penulis menjelaskan dengan singkat dan jelas sehingga
dapat dipahami.
5. Tokoh Filsafat Eksistensialisme
Beberapa tokoh filsafat eksistensialisme yang dijelaskan didalam makalah, yaitu:
Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844-1900), Martin Heidegger
(1899-1976), Jean Paul Sartre (1905-1980), Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Fyodor
Mikhailovich Dostoyevsky (1821-1881), Albert Camus (1913-1960). Penulis menjelaskan
pemikiran dari masing-masing tokoh dengan jelas tetapi tidak mencantumkan biografi dari
masing-masing tokoh.
Filsafat Pendidikan 11
6. Implementasi filsafat eksistensialisme
Pada makalah dijelaskan implementasi dari eksistensialisme dalam pendidikan,
implementasi filsafat dalam bidang pendidikan, implementasi filsafat di kehidupan sehari-hari
dan tanpa menjelaskan implementasi eksistensialisme dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya pengaruh Eksistensialisme pada dunia pendidikan di Indonesia sangat besar, dapat
dilihat dampak dari kebebasan berpikir merupakan latar belakang dari munculnya sekolah-
sekolah rakyat jelata. Sebelumnya hanya rakyat golongan atas yang bisa menikmatinya.
Filsafat Pendidikan 12
BAB Aliran Filsafat Esensialisme
IX
1. Definisi Aliran Filsafat Esensialisme
Penulis menjelaskan definisi dari filsafat esensialisme berdasarkan berbagai sumber
kemudian disimpulkan definisi filsafat esensialisme merupakan aliran dari filsafat pendidikan
yang menginginkan dunia pendidikan menerapkan konsep pendidikan tradisional tanpa
berpatokan padadoktrin tertentu. esensialisme dapat dikatakan sebagai aliran yang
menginginkandunia pendidikan memberikan ilmu pengetahuan kapada peserta didik dengan
halyang paling dasar.
2. Sejarah Munculnya Aliran Esensialisme
Penulis menceritakan sejarah awal mula munculnya pada tahun 1930 yang dipelopori
William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel, pada tahun 1983
mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The esensialist commite for the advanced
of American Education" Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada
"Teacher College" Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah
menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda. Penulis juga
menceritakan perkembangan filsafat esensialisme.
3. Tokoh-tokoh Aliran Essensialisme dan Pandangannya Mengenai Pendidikan
Beberapa tokoh yang dijelaskan di dalam makalah berikut biografi yang jelas di
paparkan, yaitu: Desiderius Erasmus Roterodamu, John Amos Comenius (1592-1670), John
Locke (1632-1704), Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827), Johann Friedrich Herbart (1776-
1841), William T. Harris (1835-1909).
4. Ciri-Ciri Aliran Esensialisme
Di dalam makalah juga memaparkan ciri-ciri aliran esensialisme dari berbagai sumber
kutipan dan salah satu sumbernya yaitu menurut Bagley yang dikutip (Siahaan, 2019: 183)
ciri-ciri aliran esensialisme yaitu:
Filsafat Pendidikan 13
a) Minat-minat yang kuat dan tahan lama yang sering tumbuh dari upaya upaya belajar
awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.
b) Pengawasan pengarahan dan bimbingan orang dewasa yang melekat dalam masa balita
yang panjang atau adanya keharusan ketergantungan yang khusus.
c) Adanya cara untuk menegakkan disiplin.
d) Essensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan,
sedangkan sekolah-sekolah adalah pesaingnya memberikan teori yang lemah.
5. Pandangan Aliran Esensialisme di Bidang Pendidikan
Di dalam makalah penulis menjelaskan Pandangan Aliran Esensialisme di Bidang
Pendidikan, salah satunya pandangan berkenaan dengan metode belajar. Metode pendidikan
dalam pandangan esensialisme adalah bahwa pendidikan berpusat pada pendidik (teacher
centered). Esensialisme meyakini bahwa peserta didik tidak betul-betul mengetahui apa yang
diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar. Oleh karena itu, pedagogi yang bersifat lemah
lembut harus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode latihan
tradisional yang tepat. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melaui diskusi dan
pemberian tugas, dan penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan
membaca.
6. Konsep Pendidikan Esensialisme
Adapun konsep pendidikan menurut esensialisme yang di bahas pada malahan bahwa
kaum esensialis mengemukakan sekolah harus melatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi
dengan jelas dan logis, keterampilan-keterampilan inti kurikulum haruslah berupa membaca,
menulis, berbicara dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk
memperhatikan penguasaan terhadap keterampilan-keterampilan tersebut.
Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi
pengajaran yang logis yang mempersiapkan untuk hidup mereka, sekolah tidak boleh
mempengaruhi atau menetapkan kebijakan kebijakan sosial.
7. Peranan dan Fungsi Esensialisme dalam Pendidikan
Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah
pada generasi muda dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari
disiplin tradisional. Dengan pembelajaran yang berfokus pada guru.
Filsafat Pendidikan 14
Esensialisme memberikan penekanan upaya kependidikan dalam hal pengujian ulang
materi-materi kurikulum, memberikan pembedaan-pembedaan esensial dan non esensial
dalam berbagai program sekolah dan memberikan kembali pengukuhan autoritas pendidik
dalam suatu kelas di sekolah.
8. Prinsip-prinsip aliran esensialisme dalam pendidikan
Prinsip di paparkan dengan jelas yang salah satu peinsipny bahwa Pendidikan haruslah
dilakukan melalui usaha keras, tidak begitu saja muncul dari dalam diri siswa dan
menekankan pentingnya prinsip disiplin. Terdapat beberapa prinsip yang di paparkan
penulis.
9. Pandangan dan Sikap tentang Aliran Essensialisme
Pada makalah di paparkan Pandangan dan Sikap tentang Aliran Essensialisme dari segi
ontologi, epistimologi, dan axiologi. Masing-masing di paparkan sikap tentang aliran
esensialisme.
10. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Essensialisme
Kelebihannya Essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu
kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial.
Kelemahan Menurutnya aliran essensialisme, sekolah tidak boleh memengaruhi atau
menetapkan kebijakan-kebijakan sosial.
11. Implementasi Ensensi dalam Dunia Pendidikan
Penulis menjelaskan implementasi dari berbagai segi pendidikan misalnya fungsi
sekolah, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, kurikulum, pelajar dan pengajar.
Masing-masing d implementasikan berkenaan dengan aliran esensialisme.
Filsafat Pendidikan 15
BAB Aliran Filsafat Perenialisme
X
1. Pengertian Filsafat Perenialisme
Pada makalah penulis menjelaskan secara rinci pengertian filsafat perenialisme baik
secara etimologi maupun terminologi yang akhirnya disimpulkan bahwa filsafat perenialisme
adalah suatu ajaran filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan
masa lampau yang sudah terbukti baik hasilnya sepanjang sejarah.
2. Sejarah Perkembangan Aliran Perenialisme
Penulis menjelaskan sejaran perkembangan aliran perenialisme secara rinci mulai dari
pendukung dari filsafat perenialisme yaitu Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adle.
Dan juga menjelaskan perenialis menggunakan prinsip-prinsip yang dikemukakan Plato,
Aristoteles, dan Thomas Aquino dengan berdasar pada pendapat-pendapat para ahli.
3. Tokoh aliran Perenialisme
Penulis menjelaskan siapa saja tokoh aliran perenialisme, yaitu: Plato, Aristoteles,
Thomas Aquinas, dan Mortimer J. Adler. Penulis juga menceritakan biografi tokoh serta
pemikiran tokoh sehingga materi yang disampaikan sangat jelas dan dapat dipahami.
4. Hakikat Pendidikan Menurut Aliran Perenialisme
Pada makalah penulis menjelaskan hakikat pendidikan menurut Aliran Perenialisme
dipandang sebagai Education As Cultural Regression Pendidikan sebagai jalan kembali, atau
proses mengembalikan keadaan manusia Sekarang seperti dalam kebudayaan masa lampau
yang dianggap sebagai kebudayaa nideal. Tugas Pendidikan adalah memberikan pengetahuan
tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan
masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal tersebut. Perenialisme percaya
bahwa prinsip-prinsip Pendidikan juga bersifat universal dan abadi.
5. Konsep Dasar Aliran Perenialisme
Penulis menjelaskan konsep dasar aliran perenialisme dengan berdasarkan berbagai
sumber referensi. Salah satu sumber menjelaskan konsep dasar aliran perenialisme ditijau
Filsafat Pendidikan 16
dari berbagai aspek yaitu dari segi Pendidikan, tujuan, hakikat guru, murid, proses belajar
mengajar. Semua aspek dijelaskan secara rinci sehingga mudah dipahami.
5. Implikasi Aliran Perenialisme Di Pendidikan
Penulis menjelaskan implementasi aliran perenialisme diberbagai bidang Pendidikan
berdasarkan tokoh filsuf, yaitu:
a) Menurut Plato ilmu pengetahuan dan nilai sebagai manifestasi dari hukum universal
yang abadi dan ideal sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin dicapai bila ide itu
menjadi tolak ukur yang memilikiasas normative dalam semua aspek kehidupan.
b) Menurut psikologi Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu nafsu,
kemauan dan akal. Ketiga potensi ini merupkan asas bagi bangunan kepribadian dan
watak manusia. Ketiga potensi itu akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan,
sehingga ketiganya berjalan secara berimbang dan harmonis.
c) Menurut Aristoteles orientasi pendidikan ditujukan kepada kebahagiaan, melalui
pengembangan kemampuan-kemampuan kerohanian seperti emosi, kognisi serta
jasmaniah manusia
d) Menurut Thomas Aquino bahwa tujuan pendidikan sebagai usaha untuk merealisasikan
kapasitas dalam tiap individu manusia sehingga menjadi aktualitas.
6. Kelebihan dan kekurangan
Didalam makalah kelompok telah menjelaskan berbagai kelebihan dan kekurangan dari
filsafat perenialisme diantara kelebihannya yaitu Perenialisme tetap percaya terhadap asas
pembentukan kebiasaan dalam permulaan Pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis,
dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan diantara kelemahannya yaitu Pengetahuan
dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari.
Filsafat Pendidikan 17
BAB Aliran Filsafat Behaviorisme
XI
1. Pengertian Teori Behaviorisme
Pada makalah dijelaskan bahwa teori behaviorisme dicetuskan oleh Gagne dan Berliner
yang berisi tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat
terjadi tidaknya perubahan tingkah laku.
Teori Behaviorisme adalah paham yang menekankan pada perubahan tingkah laku
yang didasari oleh prinsip stimulus dan respon. Dalam penentuan kebijakan pendidikan di
indonesia paham behavioris ini masih mendominasi terutama pada kebijakankebijakan yang
bersifat hakekat dan prinsip misalnya adanya tujuan nasional pendidikan. Sedangkan
kebijakan penetapan program kurikulum, penyiapan tenaga guru yang kualifikatif, serta
sistem penilaian yang baik merupakan sebuah usaha untuk memberikan stimulus yang terbaik
untuk menghasilkan respon yang diharapkan.
2. Ciri Teori Belajar Behaviorisme
Penulis memaparkan degan berdasar pendapat para ahli diantaranya menurut
Saihu&Agus (2019) kemudian disimpulkan pendapat pemateri. Adapun ciri-ciri Teori
behavioristik utama antara lain:
a. Lingkungan menjadi faktor sangat penting.
b. Menekankan pada faktor bagian.
c. Menekankan pada tingkah laku yang tampak dengan mempergunakan metode-objektif
d. Bersifat mekanis.
e. Masa lalu atau pengalaman menjadi Penting
f. Mengutamakan unsur-unsur.
g. Reaksi atau respons sangat penting dalam pembelajaran.
h. Menekankan latihan sebagai faktor penting dalam pembelajaran.
i. Mementingkan mekanisme hasil belajar.
j. Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh ialah munculnya
perilaku yang diinginkan.
Filsafat Pendidikan 18
Disimpulkan Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil,
bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi
atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,
mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya
perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa
tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau
reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan
yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya. Guru yang menganut
pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan
dan tingkah laku adalah hasil belajar.
3. Prinsip dalam Teori Belajar Behaviorisme
Pada makalh dipaparkan beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
a. Reinforcementand Punishment;
b. Primary and Secondary Reinforcement;
c. Schedules of Reinforcement;
d. Contingency Management;
e. Stimulus Control in Operant Learning;
f. The Elimination of Responses
4. Aplikasi dalam Pembelajaran Behaviorisme
Pebulis menkelaskan aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik
mahasiswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang
dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti,
tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of
knowledge) ke orang yang belajar. Diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama
terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau dosen
itulah yang harus dipahami oleh murid.
5. Implikasi Teori Belajar Behaviorisme
Pada makalah menjelaskan bahwa behaviorisme dapat diterapkan untuk metode
pembelajaran bagi anak yang belum dewasa. Karena hasil eksperimentasi behaviorisme
cenderung mengesampingkan aspek-aspek potensial dan kemampuan manusia yang dilahirkan.
Filsafat Pendidikan 19
cenderung mengesampingkan aspek-aspek potensial dan kemampuan manusia yang
dilahirkan.
Bahkan behaviorisme cenderung menerapkan sistem pendidikan yang berpusat pada
manusia baik sebagai subjek maupun objek pendidikan yang netral etik dan melupakan
dimensi-dimensi spiritualitas sebagai fitrah manusia. Oleh karena itu behaviorisme
cenderung antropomorfis skularistik.
6. Tujuan Pembelajaran Behaviorisme
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pembelajar untuk
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau
tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampi- lan yang terisolasi atau
akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan
kurikulum secara ketat, sehingga aktivtas belajar lebih banyak didasarkan pada buku
teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku
teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
7. Tokoh-tokoh dalam aliran teori behaviorisme
Pada makalah juga dijelaskan tokoh filsafat behafiorisme yaitu: Edward L. Thorndike,
Robert M. Gagne, Ivan Petrovich Pavlov, David Ausubel, Baruda. Masing-masing tokoh
dipaparkan dengan menyertakan biografi dan pendapatnya.
8. Kelebihan dan kelemahan teori behaviorisme
Pada makalah dijelaskan kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihannya yaitu:
Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar, Guru
tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri,
Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapatkan pengakuan positif
dan perilaku yang kurang sesuai, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang
sudah berbentuk sebelumnya dan lain sebagaianya.
Adapun kelemahan atau kritik terhadap behaviorisme adalah pembelajaran siswa yang
berpusat pada guru, bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati
dan diukur
Filsafat Pendidikan 20
BAB Aliran Filsafat Kontruktivisme
XII
1. Definisi Filsafat Konstruktivisme
Pada makalah penulis memaparkan materi definisi filsafat dan definisi kontruktivisme
dari berbagai pendapat ahli yang disimpulkan bahwa filsafat konstruktivitas adalah suatu
upaya yang membangun pengalaman-pengalaman untuk menjelaskan bagaimana kita tahu
apa yang tidak kita ketahui, agar seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih
dinamis.
2. Tujuan Konsturktivisme
Tujuan dilaksanakannya pembelajaran konstruktivisme yaitu (1) memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung kepada benda-benda konkrit ataupun
model artifisial, (2) memperhatikan konsepsi awal siswa guna menanamkan konsep yang
benar, dan (3) sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan
mungkin salah. Tujuan konstruktivisme yaitu: 1) Mengembangkan kemampuan siswa untuk
mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyanya 2) Membantu siswa untuk
mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap 3) Mengembangkan
kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
3. Kajian Ontologi, epistemologi dan aksiologi dari konstruktivisme
Penulis menjelaskan filsafat berdasarkan kajian ontology, episemotogi, dan aksiologi.
• Ontologi
Asumsi ontologis pada paradigma konstruktivisme adalah besifat relatif. Tidak ada suatu
realitas yang dapat dijelaskan secara tuntas oleh suatu ilmu pengetahuan. Realitas sosial
dari suatu masalah yang diteliti merupakan realitas sosial buatan yang memiliki unsur
relativitas yang cukup tinggi dan berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh
pelaku sosial.
• Epistemologi
Paradigma konstruktivisme bersifat subjektif dan transaksional. Pemahaman tentang suatu
realitas atau temuan merupakan suatu produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.
Filsafat Pendidikan 21
Dalam mengungkap suatu kebenaran, peneliti dan objek penelitiannya berhubungan secara
interaktif, sehingga fenomena dan pola-pola keilmuan dapat dirumuskan dengan
memperhatikan gejala hubungan yang terjadi di antara keduanya.
• Aksiologi
Paradigma konstruktivisme menganggap bahwa nilai, etika, dan pilihan moral merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu penelitian. Peneliti di sini bertindak sebagai
passionate participant, yaitu fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas
pelaku social. Di mana tujuan penelitiannya adalah rekonstruksi realitas social secara
dialektik antara peneliti dengan aktor social yang diteliti.
4. Konsep Filsafat Konstruktivisme Secara Umum
Hakikat Realitas:menurut Konstruktivisme,manusia tidak pernah dapat mengerti
realitas yang sesungguhnya secara ontologis.Yang dapat kita mengerti hanyalah struktur
konstruksi kita akan sesuatu objek.
Filsuf realisme atau empirisme(misalnya:Aristoteles,John Locke) menyatakan bahwa
sumber pengetahuan adalah”dunia luar”,semua pengetahuan diturunkan dari pengalaman atau
observasi atas alam semesta.
5. Langkah-langkah Konstruktivisme
Pada makalah juga dijelaskan tahapan dalam pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivisme, yaitu:
a) peserta didik didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang
akan dibahas,
b) peserta didik diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui
pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterprestasian data dalam suatu kegiatan yang
telah dirancang oleh guru
c) peserta didik melakukan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi
peserta didik, ditambah dengan penguatan guru
d) guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat
mengaplikasikan pemahaman konseptualnya
Filsafat Pendidikan 22
6. Sejarah Lahirnya Konstruktivisme Dalam Filsafat Pendidikan
Sejarah singkat filsafat konstruktivisme diawali oleh Gimbatissta Vico, epistemology
dari Italia. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Giambattista Vico adalah seorang filsuf abad
ke-18 dan ilmuwan, pengagum karya René Descartes. Penulis juga memaparkan perjalanan
perkembangan filsafat kontruktivisme.
7. Hubungan Filsafat Konstruktivisme Dengan Pendidikan
Hubungan antara aliran kontruvisme dan pendidikan adalah kontruvisme merupakan
aliran yang membantu dalam proses pembelajaran yang berguna untuk meningkatkan
pemahan siswa yang di realisasikan melalui pendidikan dengan pendidikan anak akan belajar
demi terujudnya belajar yang efektif dan efisien sesuai dengan karakteristik anak maka para
ahli melakukan penelitian tentang pelajaran dan pembelajaran sehingga munculah teor-teori
pembelajaran salah satunya teori kontruvisme yang di plopori oleh jeant piaget teori ini
menekankan pada kognitif anak menurutnya anak belajar dan membangun pengetahuan
mereka manakala mereka berupaya untuk memahami lingkungan yang ada di sekitar mereka
dan mengabil makna darin pengalaman mereka sendiri. Sehingga pembelajaran kontruvisme
ini anak belajar dengan sendirinya anak yang berperan aktif dengan begitu anak akan mudah
dalam memahami pemebelajran.
8. Implementasi Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, di mana peserta didik membangun sendiri
pengetahuan, keterampilan dan tingkah lakunya.Peserta didik mencari arti sendiri dari yang
mereka pelajari.Peserta didik sendirilah yang bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.
Mereka sendiri yang membuat penalaran dengan apa yang dipelajarinya, dengan cara
mencari makna, membandingkan dengan apa yang telah ia ketahui dengan pengalaman dan
situasi baru.Ada sejumlah implikasi yang relevan terhadap proses pembelajaran berdasarkan
pemikiran konstruktivisme personal dan sosial. Selain itu, pada makalah dipaparkan dengan
sangat jelas dan dapat dipahami.
Filsafat Pendidikan 23
BAB Aliran Filsafat Naturalisme
XIII
1. Pengertian Filsafat Naturalisme
Pada makalah penulis memaparkan definisi dari berbagai ahli kemudian disimpulkan
bahwa Filsafat Naturalisme ini merupakan teori yang menerima “nature” (alam) sebagai
keseluruhan realitas. Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam
arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari
fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang di-ungkapkan kepada kita oleh sains
alam.
2. Sejarah dan Perkembangan Filsafat Naturalisme
Penulis memaparkan sejarah filsafat naturalis yaitu lahir pada abad ke 17 dan
mengalami perkembangan pada abad ke 18. Naturalisme berkembang dengan cepat di bidang
sains. Ia berpandangan bahwa “Learned heavily on the knowledge reported by man’s sense”.
Aliran ini dipelopori oleh J.J Rosseau, seorang filsuf Perancis yang hidup pada tahun 1712-
1778. Rosseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan
baik. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang
diberikan orang dewasa, justru dapat merusak pembawaan baik anak itu, sehingga aliran ini
sering disebut negativisme. Hingga pendukung filsafat naturalis.
3. Tokoh-tokoh yang Menganut Aliran Filsafat Naturalisme
Adapun tokoh pelopor filsafat naturalis yang dijelaskan pemakalah yaitu: Plato (427 –
347 SM), Aristoteles (384 – 322 SM), dan William R. Dennes (Filsuf Modern). Masing-
masing pandangan dijelaskan secara rinci.
4. Ciri-ciri Filsafat Naturalisme
Menurut Samsudin yang dikutip oleh Sumarto (2019 : 18) Ciri-Ciri Aliran Naturalisme
a. Lebih mementingkan kemiripan gambar pada lukisan dengan objek yang dilukis.
b. Teknik serta kepiawaian pelukis menjadi senjata utama
c. Biasanya membawakan tema-tema lukisan yang indah namun berdasarkan kemurniannya
Filsafat Pendidikan 24
d. Naturalisme menjadi bentuk apresiasi seniman terhadap keindahan alam
e. Mengangkat tema keindahan pemandangan yang ada disekitar.
f. Melukiskan kecantikan dan ketampanan potret manusia sesuai dengan manusianya (apa
adanya), tanpa dilebih-lebihkan
5. Klasifikasi Filsafat Naturalisme
Pada makalh dipaparkan klasifikasi filsafat naturalis yaitu: Naturalisme Materialistik
dan Naturalisme Humanistik, masing-masing dijelaskan dengan sangat rinci.
6. Pandangan Filsafat Naturalisme Terhadap Pendidikan
Penulis juga menjelaskan Dimensi utama dan pertama dari pemikiran aliran filsafat
naturalisme di bidang pendidikan adalah pentingnya pendidikan itu sesuai dengan
perkembangan alam. Manusia diciptakan dan ditempatkan di atas semua makhluk, karena
kemampuannya dalam berfikir. Peserta didik harus dipersiapkan kepada dan untuk Tuhan.
Untuk itu pendidikan yang signifikan dengan pandangannya adalah pendidikan ketuhanan,
budi pekerti dan intelek. Pendidikan tidak hanya sebatas untuk menjadikan seseorang mau
belajar, melainkan juga untuk menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana.
7. Implikasi Filsafat Naturalisme dalam Pendidikan
Penulis menjelaskan naturalisme dalam filsafat pendidikan mengajarkan bahwa guru
paling alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Oleh karena itu, pendidikan
bagi penganut paham naturalis perlu dimulai jauh hari sebelum proses pendidikan
dilaksanakan. Sekolah merupakan dasar utama dalam keberadaan aliran filsafat naturalisme
karena belajar merupakan sesuatu yang natural. Paham naturalisme memandang guru tidak
mengajar subjek, melainkan mengajar murid.
Filsafat Pendidikan 25
BAB Filsafat Pendidikan Ki Hajar
XIV Dewantara
1. Hakikat Pendidkan Ki Hajar Dewantara
Penulis Menjelaskan menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah usaha
kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak
didik agar dalam garis-garis kodrat pribadinya serta pengaruhpengaruh lingkungan, mendapat
kemajuan hidup lahir batin.
Pendidikan yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara memperhatikan keseimbangan
cipta, rasa, dan karsa tidak hanya sekadar proses alih ilmu pengetahuan saja atau transfer of
knowledge, tetapi sekaligus pendidikan juga sebagai proses transformasi nilai (transformation
of value).
Ki Hadjar Dewantara telah jauh berpikir dalam masalah pendidikan karakter, mengasah
kecerdasan budi sungguh baik karena dapat membangun budi pekerti yang baik dan kokoh,
hingga dapat mewujudkan kepribadian (persoonlijkhheid) dan karakter (jiwa yang berasas
hukum kebatinan). Jika itu terjadi, orang akan senantiasa dapat mengalahkan nafsu dan
tabiat-tabiatnya yang asli, seperti bengis, murka, pemarah, kikir, keras, dan lain-lain (Taman
Siswa. 1977).
2. Tokoh-Tokoh Pendidikan Yang Berpengaruh Pada Ki Hajar Dewantara
Ada 3 tokoh yang berpengaruh pada Ki Hadjar Dewantara dalam menggunakan
kebudayaan di dalam kurikulum Pendidikan Mulai dari TK (Taman Kanak-kanak/Taman
Indria) sampai sekolah menengah diantaranya yaitu: Pestalozzi, Froebel, Maria Montessori.
Masing-masing dijelaskan dengan detail.
3. Dasar pendidkan Ki Hajar Dewantara
a) Asas kemerdekaan, yang berarti disiplin diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggi,
baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat;
b) Asas kodrat alam, yang berarti bahwa pada hakikatnya manusia itu sebagai makluk, yaitu
satu dengan kodrat alam.
c) Asas kebudayaan, yang berarti bahwa pendidikan harus membawa kebudayaan
kebangsaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia
Filsafat Pendidikan 26
dan kepentingan hidup lahir batin rakyat pada setiap zaman dan keadaan
d) Asas kebangsaan, yang berarti tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, malah harus
menjadi bentuk kemanusiaan yang nyata.
e) Asas kemanusiaan, yang menyatakan bahwa darma setiap manusia itu adalah perwujudan
kemanusiaan yang harus terlihat pada kesucian batin dan adanya rasa cinta kasih terhadap
sesama manusia dan terhadap makluk ciptaan Tuhan seluruhnya.
4. Implikasi Filosofi Pendidkan Ki Hajar Dewantara
Dasar yang paling penting dalam pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara
(Sugiarta:2019) adalah adanya persamaan persepsi antara penegak atau pemimpin pendidikan
tentang arti “mendidik” itu sendiri. Beliau menyatakan bahwa mendidik itu bersifat
humanisasi, yakni mendidik adalah proses memanusiakan manusia dengan adanya
pendidikan diharapkan derajat hidup manusia bisa bergerak vertikal ke atas ke taraf insani
yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ada dua hal
yang harus dibedakan yaitu, “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama
lain.
Dalam proses tumbuh kembangnya seorang anak, Ki Hadjar Dewantara memandang
adanya tiga pusat pendidikan yang memiliki peranan besar. Semua ini disebut “Tripusat
Pendidikan”. Tripusat Pendidikan mengakui adanya pusat-pusat pendidikan yaitu
a) Pendidikan di lingkungan keluarga,
b) Pendidikan di lingkungan perguruan.
c) Pendidikan di lingkungan kemasyarakatan atau alam pemuda.
Ketiga lingkungan pendidikan tersebut sangat erat kaitannya satu dengan lainnya,
sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, dan memerlukan kerjasama yang sebaik-baiknya, untuk
memperoleh hasil pendidikan maksimal seperti yang dicitacitakan.
5. Sejarah Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan
nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton
Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut
hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia
tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.
Filsafat Pendidikan 27
Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara
mempunyai Semboyan yang dikutip oleh Warsito dan Widodo (2018) yaitu tut wuri
handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing
madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan
ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau
contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita,
terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa. Di Usianya yang genap 40 tahun, Ki Hajar
Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan mengganti nama aslinya Raden Mas
Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar beliau
dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati. Pada masa pendudukan
Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada organisasi Putera
bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Dimasa
kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dingkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan
Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia
membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak berlebihan
pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional untuk
mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-
pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.
6. Kelebihan dan Kekukarangan Teori Ki Hajar Dewantara
a) Kelebihan Teori Ki hajar Dewantara
• Menekankan pada pendidikan budi pakerti (karakter) pada diri anak. Sebagaimana
disebutkan bahwa pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah daya upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pakerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh
anak.
• Menekankan pada pengembangan berbagai kemampuan dan potensi anak
• Menekankan kasih sayang dan lebih bersifat humanis-religius.
• Menekankan jiwa nasionalisme pada anak-anak.
• Menekankan padan pentingnya pendidikan keluarga.
b) Kekurangan Teori Ki Hajar Dewantara
• Keluarga sangat berperan sentral, sehingga baik-buruknya anak sangat bergantung
pada keluarga.
Filsafat Pendidikan 28
• Menganggap sekolah sebagai tempat pendidikan yang kurang penting, karena lebih
menekankan pada pendidikan keluarga dan sekolah dinomor duakan.
• kurikulum pembelajaran yang jelas, sehingga sangat sulit untuk diterapkan dalam
pendidikan.
• Tidak bisa diaplikasikan dalam semua jenjang pendidikan. Sebab pandangan keduanya
lebih cocok diaplikasikan pada jenjang pendidikan dasar.
• Membutuhkan banyak pengorbanan dari orang tua, karena harus terus menerus
memberikan pendidikan kepada anaknya.
Filsafat Pendidikan 29
BAB Filsafat Pendidikan Pancasila
XV
1. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Pancasila sebagai sistem Filsafat merupakan kesatuan yang berasal dari berbagai unsur
yang memiliki fungsi yang tersendiri, tujuan yang sama, saling berkaitan, dan bergantung.
Filsafat merupakan sebuah upaya manusia dengan pemikirannya dalam membangun
peradapan. Sistem dapat diartikan sebagai rangkaian yang saling berkaitan antara unsur yang
satu dengan yang lainnya. Selain itu, penulis juga menjelaskan berdasarkan pendapat ahli
Menurut Harefa (2020:103) pancasila sebagai suatu sistem falsafah hidup bangsa Indonesia
termaksud dalam nilai-nilai terkandung di dalamnya yang digali dari nilai-nilai sosial budaya
yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri kemudian dijadikan sebagai pandangan hidup
berbangsa dan bernegara Pancasila sebagai sistem filsafat memiliki karakteristik tersendiri
yang berberbeda dengan filsafat lainnya.
2. Ajaran Metafisika dan Ontologi Pancasila
Pada makalah di jelaskan bahwa Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila
bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri, malainkan memiliki satu kesatuan dasar
ontologis. Subyek pendukung pokok dari sila-sila Pancasila adalah manusia. Hal tersebut
dapat dijelaskan bahwa yang berketuhan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan
beradab, yang bersatu, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial, yang pada hakikatnya adalah
manusia. Sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis
memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan
rohani. Sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta
sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka secara hirarkis sila
pertama mendasari dan menjiwai sila-sila Pancasila lainnya.
Adapun asas-asas metafisika dan ontologi dalam filsafat pendidikan pancasila adalah
sebagai berikut:
a. Asas monoteisme
Filsafat Pendidikan 30
b. Asas makrokosmos-mikrokosmos
c. Asas tata ada yang selaras, serasi, seimbang (harmoni)
d. Asas tata hidup manusia budaya (asas kultural/religius).
e. Asas persatuan dan kesatuan
f. Asas tertib damai, kemerdekaan dan keadilan
g. Asas bhineka tunggal ika
h. Asas idealisme, realistis dan pragmatis
3. Epistomologi Pancasila
Penulis juga menjelaskan secara rinci berkenaan dengan epistemologi kajian Pancasila
sebagai filsafat yaitu dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai
suatu sistem pengetahuan. Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya nya juga
merupakan sistem pengetahuan titik ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief system,
sistem cita-cita, menjadi suatu ideologi. Oleh karena itu Pancasila harus memiliki unsur
rasionalitas terutama dalam kedudukannya sebagai sistem pengetahuan.
Dasar epistemologi Pancasila pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar
ontologisnya, sehingga dasar epistemologi Pancasila sangat berkaitan erat dengan konsep
dasarnya tentang hakikat manusia. Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada
hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan dan susunan pengetahuan Pancasila.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberi landasan kebenaran pengetahuan manusia
yang bersumber pada intuisi. Manusia pada hakikatnya kedudukan dan kodratnya adalah
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama Pancasila
epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran Wahyu yang bersifat mutlak. Hal ini
sebagai tingkat kebenaran yang tinggi titik Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan
manusia merupakan suatu sintesis yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia
yaitu akal, rasa dan kehendak manusia untuk mendapatkan kebenaran yang tinggi.
Selanjutnya dalam sila ke-3 keempat dan kelima, maka epistemologi Pancasila
mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai suatu paham epistemologi,
maka Pancasila mendasarkan kan pada pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada
hakikatnya nya tidak bebas karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia
serta moralitas religius dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang
mutlak dalam hidup manusia.
Filsafat Pendidikan 31
4. Aksiologi Pancasila
Pada makalh dijelaskan Prinsip-prinsip ajaran nilai atau aksiologi Pancasila menurut
Siahaan (2019:305) yaitu: Prinsip nilai religious, Prinsip nilai alami, Prinsip nilai manusia,
Prinsip relativitas dan kemutlakan nilai
5. Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional
Penulis juga menjelaskan Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2 UU RI No.2
Tahun 1989 bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Hal tersebut
sejalan dengan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa
Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan
hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia. Berdasarkan peraturan perundangan
tersebut jelaslah bahwa pancasila adalah Landasan Filosofi Sistem Pendidikan Nasional.
Penulis menjelaskan bahwa setiap butir Pancasila memiliki tujuan yang sesuai sebagai
dasar pelaksanaan pendidikan yang berkarakter dan berkualitas secara kognitif maupun
moralnya, uraiannya sebagi berikut:
a. Ketuhanan yang Maha Esa, dalam sila yang pertama pendidikan memilih pancasila
sebagai dasar pendidikan karena pendidikan harus mampu menngutamakan hal-hal yang
dapat memperkuat nilai-nilai keimanan bagi peserta didik agar selalu takwa dan beriman
sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, selain itu agar peserta didik mampu
memaknai suatu pendidikan dengan didasarkan pada kewajiban mereka sebagai makhluk
Tuhan untuk selalu menuntut ilmu dan dengan adanya pendidikan yang didasarkan pada
sila ini maka output yang akan dihasilkan yaitu terciptanya insan atau peserta didik yang
berakhlak mulia.
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam sila kedua pendidikan menjadikan pancasila
sebagai dasar pendidikan karena pendidikan harus mampu membentuk setiap peserta didik
yang mampu untuk memberikan perlakuan sebagaimana layaknya manusia dan nantinya
seseorang yang telah mendapatkan pendidikan itu dapat menghargai hak manusia yang
sesuai dengan makna dari sila ini, ketika seseorang dapat memahami hak dan kewajiban
diri sendiri dan orang lain maka orang tersebut mampu memberikan perlakuan yang sesuai
sehingga menjadikan setiap manusia menjadi beradab dan dapat memperlakukan setiap
manusia sama tanpa pandang bulu.
c. Persatuan Indonesia, dalam sila ketiga pendidikan menjadikan pancasila sebagai dasar
pendidikan karena pendidikan harus mampu untuk menjadikan peserta didiknya dapat
Filsafat Pendidikan 32
bersatu dengan peserta didik lainnya, hal Ini menunjukkan bahwa ketika terjadinya proses
pendidikan maka ada saat mereka harus belajar dari lingkungan sosialnya, dari lingkungan
sosial yang ada maka ia akan belajar sendiri menengenai pengetahuan maupun nilai-nilai
yang ada dalam suatu masyarakat dan hal ini memungkinkan setiap orang untuk bersatu dan
meminimalisir adanya diskrimantif antar perbedaan yang menjadi corak dari bangsa
Indonesia, sehingga terbuktilah dengan adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dapat
dimaknai bahwa bangsa Indonesia memiliki keberagaman sehingga di dalam proses
pendidikan harus ada proses saling bertukar pengetahuan dan sebagainya yang
menungkinkan setiap orang dapat menjalin kebersatuan untuk memenuhi suatu kebutuhan
pendidikan.
c. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan,
dalam sila keempat pendidikan menjadikan pancasila sebagai dasar pendidikan karena
mengharuskan suatu pendidikan dapat menjadikan setiap orang menjadi lebih demokratis,
aktif, dan kritis di dalam memberikan solusi pada setiap masalah yang sedang terjadi di
Indonesia, tetapi dalam pandangan yang lain dapat dikatakan bahwa di dalam proses
pendidikan mengharapkan memunculkan output cendekiawan yang mampu mengkritisi
segala permasalahan yang dapat mengancam keutuhan NKRI hal ini dapat dilakukan dengan
usaha dari dalam maupun dari luar, maka biasannya pendidikan di 3 pusat lingkungan
tersebut telah memberikan berbagai usaha agar seseorang dapat lebih kritis lagi seperti
dimasyarakat bahwa terdapat organisasi yang memungkinkan partisipasi oleh setiap orang
untuk mengatasi hal-hal yang bersangkutan dengan program atau kinerja dari setiap
organisasi tersebut, adanya penyuluhan mengenai pemilu dan sebagainya.
d. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam sila ke lima pendidikan menjadikan
pancasila sebagai dasar pendidikan karena mengungkapkan secara abstrak bahwa suatu
pendidikan harus mampu menciptakan bibit yang mampu memberikan keadilan sosial bagi
lingkungan yang ditempatinya dalam arti bahwa ketika seseorang sedang berbaur dengan
temannya maka orang itu tidak boleh membedakan yang satu dengan yang lainnya.sehingga
biasanya hal yang dapat dilakukan yaitu dengan menanamkan sejak kecil bahwa seseorang
tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain, sehingga jika memilih teman
harus adil dan tidak boleh memandang pangkat maupun derajatnya (Wasmana, 2018 : 28-29).
(Makalah dipaparkan dengan sangat jelas dengan mengacu pada berbagai sumber terbaru).
Filsafat Pendidikan 33
BAB Filsafat Benjamin S Bloom
XVI
1. Biografi Benjamin S Bloom
Pada makalah kelompok memaparkan secara rinci biografi dari Benjamin Samuel
Bloom atau yang lebih dikenal dengan Bloom salah satu filosof yang menaruh perhatian
cukup besar terhadap filsafat pendidikan sehingga lahirlah yang saat ini dikenal dengan
Taksonomi Bloom. Lahir pada tanggal 21 Februari 1913 di kota Lansford Pennsylvania dan
meninggal pada tanggal 13 September 1999.
Pada makalah juga dijelaskan berbagai Pendidikan yang ditempuh, gelar yang diterima,
bagaimana beliau mengawali karirnya hingga akhir hayat Benjamin S Bloom.
2. Bentuk-bentuk Filsafat Benjamin S Bloom
Taksonomi yaitu berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti
mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi
atas prinsip dasar atau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom,
seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan
mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.
Pada makalah juga menjelaskan Taksonomi Bloom, tujuan pendidikan dibagi ke dalam
tiga domain, yaitu: 1. Ranah kognitif (yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir), 2. Ranah afektif
(berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap,
apresiasi, dan cara penyesuaian diri) dan 3. Ranah psikomotor (berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin).
3. Bentuk Taksonomi Benjamin S Bloom revisi
Taksonomi Ranah Kognitif direvisi Anderson dan Krathwohl yaitu: mengingat
(remember), memahami/mengerti (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze),
mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create).
Perbedaan antara taksonomi Bloom (1956) dan Revisi taksonomi Bloom yakni pada
dimensi pengetahuan. Taksonomi bloom sebelum direvisi hanya memiliki satu dimensi,
Filsafat Pendidikan 34
sedangkan revisi taksonomi Bloom mempunyai dua dimensi pengetahuan, yaitu dimensi
pengetahuan dan dimensi proses kognitifnya. Letak perbedaan mendasar dari dua taksonomi
tersebut sebenarnya pada penempatan dimensi pengetahuan, dimana pada taksonomi bloom
sebelum revisi mencakup enam pengetahuan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2),
penerapan (C3), analsis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Sedangkan pada revisi
taksonomi Bloom dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, pengetahuan
konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Cakupan menghafal
(C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), membuat
(C6) merupakan cakupan dimensi proses kognitif.
4. Prinsip Belajar yang Menjadi Landasan Filsafat Pendidikan Taksonomi Bloom
Pada makalh dijelaskan prinsip-prnsip dalam Taksonomi Blom, yaitu:
a. Kematangan Jasmani dan Rohani
b. Kesiapan
c. Memahami Tujuan
d. Memiliki Kesungguhan
e. Ulangan dan Latihan
5. Kelebihan dan Kekurangan Taksonomi Benjamin S Bloom
Kelebihan Taksonomi Bloom, meliputi:
a. Lebih fokus pada kemampuan (skill) dari pada konten (hafalan materi) sehingga
pembelajaran di kelas terkesan lebih relevan dengan apa yang dibutuhkan di dunia luar.
b. Para pengajar bisa mengendalikan dan menyesuaikan tujuan belajar, aktivitas belajar dan
proses evaluasi dengan mudah.
c. Dapat digunakan di berbagai mata pelajaran atau lintas disiplin ilmu.
Pada makalah juga dijelaskan kekurangan dari Taksonomi Bloom, yaitu yang paling
umum adalah dengan adanya tingkat proses berfikir, cenderung memikirkan proses berfikir
tingkat rendah dan berlomba-lomba untuk mengikuti tingkat atas. Padahal kegiatan pada
proses berfikir tingkat rendah adalah prasyarat menuju proses kegiatan berfikir tingkat tinggi
Filsafat Pendidikan 35
KESIMPULAN
Filsafat adalah landasan pokok dari seluruh ilmu yang akan membawa dampak baik untuk
manusia, pengetahuan tersebut bersifat radikal dalam mencari kebenaran yang mutlak dengan
tujuan agar ketika didapatkan, hasilnya akan bisa dinalarkan dengan akal logika dan tak
terbantahkan. Sedangkan pendidikan adalah upaya memelihara, menuntun anak dari sejak lahir
kedunia untuk mencapai kedewasaan baik itu jasmani maupun rohani, untuk memudahkan dalam
berinteraksi antar sesama makhluk baik itu manusia maupun hewan dan tumbuhan (alam). Fungsi
dari pendidikan sendiri sangatlah penting. Dengan pendidikan seseorang akan dimungkinkan
menjadi pribadi yang lebih teratur dan lebih produktif dalam menjalani hidup. Manusia yang
memiliki tingkat produktivitas yang tinggi maka, secara tidak langsung akan meningkatkan
mobilitas pertumbuhan suatu bangsa tersebut baik dibidang ekonomi, sosial, budaya, dan moral.
Jenis-jenis Filsafat Pendidikan meliputi Idealisme, Materialisme, Realisme,
Pragmatisme,progresivisme, Eksistensialisme, Esensialisme, Perenialisme, Behaviorisme,
Kontruktivisme, Naturalisme, Filsafat Ki Hajar Dewantara, Pacansila Dan Benjamin S Bloom.
Masing-masing memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda, tokoh, kelebihan dan
kekurangan serta cara pengimplementasiannya juga berbeda.
Filsafat Pendidikan 36
DAFTAR PUSTAKA
Andriani, Fera. (2017). Pragmatisme menepis keraguan memantapkan keyakinan. Jurnal
Pendidikan dan Pranata Islam STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. 8 (2): 240-249
Dalyono. Psikologi Pendidikan, hlm. 51-52.
Effendi, R. (2017). Konsep revisi taksonomi Bloom dan implementasinya pada pelajaran
matematika SMP. JIPMat, 2(1).
Giri, IPAA, Ardini, NL, & Kertiani, NW (2021). Pancasila sebagai Landasan Filosofis Pendidikan
Nasional. Sanjiwani: Jurnal Filsafat , 12 (1), 116-126.
Gunawan, I., & Paluti, A. R. (2017). Taksonomi Bloom – Revisi Ranah Kognitif. E-
Journal.Unipma, 7(1), 1–8. https://doi.org/http://doi.org/10.25273/pe.v2i02.50
Harefa, Arianus & Daliwu, Sodialman(2020)Teori Pendidikan Pancasila yang Integrasi
Pendidikan Anti Korupsi. Jawa tengah. Luthfi Gilang.
Jamaludin., dkk. (2021). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Yayasan Kita Menulis.
Made Sugiarta, dkk.2019. Filsafat Pendidikan KI Hajar Dewantara.Vol 2, No 3.Jurnal Filsafat
Indonesia.
Magdalena, I., Islami, N. F., Rasid, E. A., & Diasty, N. T. (2020). Tiga ranah taksonomi bloom
dalam pendidikan. EDISI, 2(1), 132-139.
Maslakhah, Siti. (2019). Penerapan Metode Learning by doing sebagai implementasi filsafat
pragmatism dalam mata kuliah linguistic historis komparatif. Diksi, 27 (2), 159-167
Maudana, I Gusti. 2019. Membangun Karakter Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Ki Hadjar
Dewantara. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 2 No. 2 2019 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-
ISSN: 2620-7990
Noventari, W. (2016). Harmonisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Sistem Among Sesuai Dengan
Alam Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara. JPK (Jurnal Pncasila dan
Kewarganegaraan), 1(1), 50-59.
Nurgiansah, Heru. 2020. Filsafat Pendidikan. Purwokerto Selatan: CV. Pena Persada
Filsafat Pendidikan 37
Prakoso, Ardhani dkk.(2020).Pendidikan Pancasila Berbasis Pendekatan Nilai-Nilai.Bintang
Pustaka Madani. Yogyakarta.
Safitri, R. 2021. Konsep Pancasila sebagai sistem filsafat. ://doi.org/10.31219/osf.io/pcqfz
Saidah, A. H. (2020). Pemikiran Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, Dan Pragmatisme
Dalam Perspektif Pendidikan Islam. AL ASAS, 5(2), 16-28.
Setianingsih, C., & Suningsih, A. (2018). Analisis Terjadinya Revisi Taksonomi Bloom (Bloom’s
Taxonomies). Jurnal Majalah Kreasi STKIP MPL, 10(2).
Siahaan, Sardianto Markos. 2019. Filsafat Pendidikan. Universitas Sriwijaya
Sinta, M. (2021). Landasan Ontologis Filsafat Pancasila.
Siti, Maslakhah. (2019). Penerapan meotde learning by doing sebagai implementasi filsafat
pragmatisme dalam mata keliah linguistik historis kompratif. Jurnal ilmiah bahasa, satra,
dan pengajarannya. 27 (2): 159-167
Sugiarta, I. M., Mardana, I. B. P., & Adiarta, A. (2019). Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara
(Tokoh Timur). Jurnal Filsafat Indonesia. 2(3), 124-136.
Sugiarta. 2019. FILSAFAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA (TOKOH TIMUR). Jurnal
Filsafat Indonesia, Vol 2 No 3 Tahun 2019 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN: 2620-7990
Sutono, Agus (2019). Aksiologi Pancasila. Jurnal Ilmiah CIVIS, 8 (2), 67-86
Thaib, M, Razali. (2016). Pragmatisme konsep utilitas dalam pendidikan. Jurnal intelektual. 4 (1):
96-110
Tohir, Muhammad.(2019).Inti Sari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Jakarta. Kencana.
Topan, Mohamad. (2020). Pragmatisme dalam pendidikan di Indonesia: kritik dan relevansinya.
AL-IDRAK Jurnal Pendidikan dan Budaya, 1 (1), 16-26
Warsito, R., & Widodo, S. T. (2018). Implementasi Nilai-Nilai Luhur Ajaran Ki Hajar Dewantara
dalam Perkuliahan Pendidikan Pancasila untuk Mengembangkan Karakter Mahasiswa.
PKN Progresif: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan, 13(1), 1-22.
Wikandaru, Reno. 2017 . Metafisika Informasi dalam perspektif pemikiran jean baudrillard:
kontekstualisasinya dengan pertautan medida dan politik di Indonesia. Jurnal Filsafat. 27
(02) : 264-289
Filsafat Pendidikan 38
UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
Filsafat Pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai
masalah-masalah Pendidikan. jenis-jenis filsafat pendidikan meliputi
idealisme, materialisme, realisme, pragmatisme,progresivisme,
eksistensialisme, esensialisme, perenialisme, behaviorisme, kontruktivisme,
naturalisme, filsafat ki hajar dewantara, pacansila dan benjamin s bloom.
Masing-masing memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda, tokoh,
kelebihan dan kekurangan serta cara pengimplementasiannya juga berbeda.