Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) Legenda/Cerita/Dongeng Rakyat/Seni Bertutur Desa Penyandingan (Tanjung Bubuk), Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia PIPIT Cerita asli : H. Muhammad Amin Rejet (M A R) Editor / diketik oleh: Jaksen M. Amin Pada sebuah pohon batang pinang yang tidak seberapa tinggi, terdapatlah sepasang (dua sejoli) burung Pipit sedang membuat sarang diatas pelepah daun pinang. Mereka akan mengembangbiakkan keturunannya, bertelur. Selesai membuat sarang induk betina terus betelur sebutir. Kemudian mereka terbang lagi mencarai makan kesana kemari. Berkejar-kejaran sambil bersiul sangat
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 2 gembira sekali tampaknya. Besoknya datang lagi dan yang betina bertelur satu biji pula. Hari-hari berikutnya yang betina tidak bertelur lagi, kini ia telah mengeram. Mengerami telur dua biji. Sedangakna Pipit jantan sekali-sekali datang ke situ menengok isterinya sedang mengeram. Dengan kasih sayang dan penuh tanggung jawab si jantan membawakan oleh-oleh untuk isteri yang tercinta berupa makanan ulat-ulat segar. Begitulah kehidupan dua pasang makhluk yang bercinta-cintaan dan hidup berumah tangga penuh kasih sayang. Tak lama lagi mereka akan mendapat keturunan buah hati pengarang jantung, pengobat letih pelipur lara. Anak kesayangan, belahan jiwa cindera mata. Hari-hari ditunggu kini tibalah, telur dua butir menetas sudah. Anak-anak Pipit meronta-ronta minta serangga. Ulat dan serangga didatangkan oleh ayah
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 3 tercinta. Kini perut anak Pipit kenyang, induk dan bapak merasa bahagia. Apabila lapar,anak pipit berbunyi, ”cit, cit”, minta serangga lagi, begitulah kerjanya setiap hari sehingga setiap pagi induknya repot membasuh tahi pada lampin * pada sebuah tali. Di situ terdapat hulu sungai (mata air) memisahkan dua daratan. Sedang induk pipit membasuh lampin-lampin anaknya, tiba-tiba lalulah dari situ seekor biawak. Lalu induk pipit menyapa :”Biawak ! Biawak ! apa kerjamu sekarang ?” tanya induk pipit. “Tidak ada”. Jawab Biawak singkat. “Maukah kau kuupah untuk membasuh tahi anakku ?” Tanya Pipit “Mau asalsesuai dengan upahnya ? “ jawab Biawak “Sesuai, percayalah ! Kalau kau mau, besok kau mulai bekerja disini datanglah pagi-pagi !” kata induk Pipit. “Ya ! Aku datang besok.” jawab Biawak. * Lampin = Jarit tipis lapis bayi berak.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 4 Besok paginya diwaktu Biawak sedang membasuh lampin anak Pipit, datanglah seekor Beruk lewat dari situ. Melihat Biawak berkincah membasuh lampin, Beruk menegur : “Apa yang kau kerjakan Biawak ?” tegurnya. “Membasuh lampin anak Pipit !” jawab Biawak. “O, pantas saja Biawak, cak rupamu ini, tukang basuh tahi anak pipit ! Kepala kayak kukusan ** , badan bersisik-sisik, buntut seperti serkit, kaki tangan bak kais kapar (sampah) dan berjalan teriker-iker (melata), merangkak.” Cemooh Beruk dan terus ia berlalu dari situ. Biawak tidak menjawab, hatinya rasa sedih dihina Beruk. Lantas ia menangis sambil mencuci kain-kain lampin. Tak lama induk Pipit turun kebawah dilihatnya Biawak sedang menagis. Cepat ia mendekat dan menegur : “Mengapa Biawak kau menangis ?” tanya induk Pipit. ** Kukusan = Wadah untuk ngukus ketan terbuat dari puran, luncuk seperti kerucut.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 5 “Aku dihina oleh Beruk !” jawab Biawak sambil menyeka air matanya. “Apa katanya tadi ?” Tanya induk Pipit lagi. “Pantas saja Biawak seperti rupamu ini, tukang cuci tahi anak Pipit, kepala kayak kukusan, badan bersisiksisik, buntut seperti serkit, kaki tangan cak tolen kais kapar, berjalan meiker-iker.” Biawak menirukan ucapan Beruk. “Ai, coba jawab olehmu tadi !” kata induk Pipit. “Daripada kau Beruk ! mendingan aku, kepala cak cubuk *** , badan seperti berunang **** , buruk, bebulubulu, buntut cak umbul-umbul, kaki Tangan tolen bilah sekeping dan jalan melompat-lompat ! maitu, katakan !” induk Pipit mendekati Biawak (pegawainya). Biawak berhenti menangis. Ia dapat bahan untuk menjawab cemoohan Beruk kalau ia lalu lagi besok atau lusa. *** Cubuk = Tempurung kelapa dibuat takaran beras, sebagai canting. **** berunang = Wadah untuk mendukung padi.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 6 Kebetulan besoknya Beruk lewat lagi sedang Biawak tengah mencuci lampin-lampin anak-anak majikannya. “Ho, ho, ho, “ Beruk tertawa mencemooh kan Biawak. “Apa tidak ada pekerjaan lain bagi mu Biawak ! Sebab kau tiap pagi mau disuruh oleh Pipit membasuh lampin anaknya ? Pantas saja rupamu begitu, kepala kayak kukusan, badan bersisik-sisik, buntut seperti serkir, kaki tangan cak kais kapar dan berjalan meiker-iker, merangkak” ,kata Beruk lagi, dengan mimik mengejek. Biawak menjawab : “Daripada kau Beruk ! Mendingan aku. Kepalamu cak cubuk, badanmu seperti berunang buruk, bebulu-bulu, buntut cak umbulumbul, kaki tangan tolen bilah sekeping dan berjalan melompat-lompat diatas dahan kayu.” “Ai, siapa yang ngajar kau ah ?” Beruk tersinggung sambil jalannya meteng mendekati Biawak. “Majikanku” jawab Biawak. “Siapa ?” tanya beruk. “Pipit !” jawab Biawak.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 7 “Dimana sarangnya ?” tanya Beruk. “Itu diatas pohon pinang !” jawab Biawak jujur. “Nah, tunggu dia kuhabisi !” Beruk dengan geram langsung memanjat batang pinang. Colot, colot, colot, ger, ger,sampai batang pohon bergetar. Beruk terus mendekat sangkak/sarang burung Pipit. Colot, ger, ger, “bur” induk Pipit terbang meninggalkan dua ekor anaknya. Anak Pipit berbunyi : cit, cit, cit… “Nah tinggal anaknya !” kata Beruk lalu meraup kedua anak Pipit langsung ke dalam mulut. Anak Pipit berteriak : “Nanti dulu nenek ! Kami jangan dikertub !”. “E…emm… “ Beruk mengemu anak Pipit. “Kita beroyat nenek !” e…emm… “Kita cerita dulu nenek” e…emm…. “Andai-andai mak dengan bapak nenek” ”e…emm”…Beruk tidak bisa membuka mulut.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 8 “Sekarang nenek ! mak dengan bapak mau berhuma barangkali ?” eemm… “sudah menyerpei tanah lalu mereka nebas nenek !” Eeemm… “Sudah nebas terus nebang nenek !” , ”eeemm…” beruk tak bisa bicara “Sekarang nenek, mereka menghamparkan reba ?” ”eemm…”,.....beruk menggumam “Sebulan dari situ mereka menunuh / membakar huma. Terus manduk dan mengadung sekeliling huma, nenek.”. “Eeemm…” Beruk monitor, mendengarkan terus. “Kemudian nenek, musim hujan tiba mereka menugal.” ”Eeemm…”, beruk tetap menutup mulutnya “Kini padi mereka sudah berumput lagi nenek.” ”Eemm….”..........beruk menyimak
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 9 “Tidak terasa padi menghamparkan buah nenek. Tiga minggu lagi mereka bersiap untuk panen, nenek.” ”Eemm…”, beruk masih fokus menutup mulutnya “Cukup masak benar, mereka mulai panen padi nenek. Terus diolah (diirik) lalu dijemur sudah masak, diisar dengan gilingan kayu. Kemudian ditumbuk di lesung pakai alu nenek.” ”Eemm…”...beruk terus mendengar Dengan cepat bulu-bulu anak Pipit tumbuh dalam mulut Beruk. Dalam mulut Beruk panas lebih dari dierami oleh induknya. “Bukan main gembira hati mak dan bapak setelah mendapat beras anyar-anyar baru, nenek.” ”Eemm…”...beruk mengangguk, sambil merasakan panas dalam mulutnya “mereka lalu menanak nasi, ya nasi “sulung” nenek. Sudah makan kenyang nenek, mereka guling-guling di rumah.
Dongeng rakyat”PIPIT”, karya H. Muhammad Amin Rejet (M. A. R) 10 Mereka membuatkan kami adik pula…gana…gini. Terpetak, angen ini !” “Hoh, hoh, hoh” Beruk tertawa mulutnya terbuka. “Pur, pur, cirit, cirit” anak Pipit terbang sambil berak dalam mulut Beruk. Beruk dengan gerutunya : “Ai, amen kertuplah tadi, tainya jadilah !” sambil mengilam tahi anak Pipit. TAMAT