Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 1 Legenda/Cerita/Dongeng Rakyat Desa Penyandingan (Tanjung Bubuk), Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia Burung Engkak Bujang Meranai Cerita: H. Muhammad Amin Rejet (M A R) Editor / diketik oleh: Jaksen M. Amin Alkisah ……pada zaman dahulu kala ada seorang raja dan permaisurinya, beranak 7 orang semuanya perempuan. Yang tua sampai nomor 6 jahat perangainya busuk hatinya dan buruk kelakuannya. Kecuali yang bungsu baik dan hormat. Pada suatu hari mereka bertujuh menangguk udang. Membawa wadah bakul
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 2 masing-masing. Ketia mereka menangguk dapat satu biji udang lalu dimakannya. Dapat satu lagi dimakannya. Begitulah seterusnya…… lain halnya dengan Putri Bungsu ( anak ke-7) dapat satu dimasukkannya ke dalam bakul. Dapat lagi dimasukanya pula ………tak sebijipun dimakannya. Ketika matahari kira-kira pukul 10.00 mereka mengajak pulang, sebab ibunya sudah lama menunggu hasil dari pencaharian anaknya untuk dimasak lauk -pauk. Mereka berenam beragam (berunding) bagaimana nanti kalau ditanyakan oleh ibu mereka. Mengapa sebiji udang pun tak didapat. Mereka berenam sepakat untuk membuangkan udang yang didapat oleh Putri Bungsu,adik mereka.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 3 Kalau sam-sam tak mendapat berarti memang udang tidak ada sama sekali. Tidak ada alasan ibu mereka akan marah. Pikiran busuk mereka timbul…………. Lalu udang setengah bakul yang didapatkan adiknya itu ditumpahkan mereka ke dalam air………… “Mengapa dibuang kak ?” tanya Putri Bungsu. “ Kalau adik mendapat sedangkan kami tidak, kami tentu kena marah oleh ibu. Jadi biar kita sam-sama kena marah ?” kata kakaknya. “ Tidak kak ! Kenapa perolehan kakak tadi kamu makan ?” Putri Bungsu membela diri. “ Diam kau ! Katakan nanti sama ibu bahwa udangnya memang tidak ada bagaimana memperolehnya ?” Bentak saudarasaudaranya.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 4 Begitulah caranya kaka-kaka Putri Bungsu memperlakukan seseorang kepada siapaun, oleh karena itu mereka dijuluki orang “Senem” ( orang jahat hati ). Ketika sampai di rumah : “mana udang yang kamu peroleh?”tanya ibu mereka. “udangnya memang tidak ada bu!”jawab senem yang tua. “ah masa satu ekor udangpun tak kalian dapat?”ibunya tidak percaya. “saya mendapat bu …”belum habis laporan putri bungsu pada ibunya, saudara-saudaranya membentak “hei, bohong kau, mana buktinya? Senem-senem tambah marah, putri bungsu diam takut sama kakak-kakaknya yang banyak itu. Hanya air matanya saja yang bergulir jatuh pada pipinya yang merah kena sinar matahari
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 5 Lantas cepat ia masuk kamar, lalu diikuti oleh ibunya. Dalam kamar diceritakannya hal ihwal udangnya setengah bakul tadi. “Kalau begitu harus dilaporkan pada Bapak mereka” , pikir sang Ibu. “ Bisa saja mereka, terutama yang berenam mendapatkan hukuman” , lanjut pikiran Ibu.. ………………………………….
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 6 Kemudian permaisuri raja mendapatkan suaminya menceritakan peristiwa yang baru terjadi. Dalam pikiran mereka, anak-anak harus diberi pelajaran hidup mandiri, jangan manja, biarkan mereka berusaha sendiri mencai kehidupan. “Kirim sajake hutan anak kita 6 orang itu kak!” Usul permaisuri - “kecuali anak kita yang bungsu sambungnya. “jangan pilih kasih, kalau mau dibuang, buang semua!”sahut raja. “boleh!tapi usul saya 6 orang diasingkan satu tempat dan Putri Bungsu asingkan di satu tempat yanglain? Usul permaisuri lagi. “Baiklah kalau begitu!” sahut Raja.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 7 Maka dibuatkanlah pondokan tempat anak-anak mereka, beberapa beradik itu dalam hutan belantara. Satu tempat untuk adikberadik ber enam (senem), dan satu tempat lagi tidak jauh dari situ sebuah pondok untuk Putri Bungsu. Dalam hutan yang jauh dari keramaian manusia, hiduplah berdikari anak-anak itu dengan pesangon/bekal ala kadarnya. Dan ransum secukupnya buat sementara. Setelah itu mereka harus berikhtiar mencari nafkah sendiri, untuk menyambung hidupnya. Tidak berselang beberapa hari datanglah dua ekor burung engkak (dua laki isteri) mau bertelur pada rumah senem beradik. “Engkak, engkak!” kata burung engkak lalu hinggap pada rumah senem.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 8 “Hei, burung engkak kenapa kau kemari?” tanya senem. “Boleh kami, membuat sarang untuk bertelur disini?” usul burung engkak. “Tidak!” jawab Senem “Nyahlah kau dari sini laut lepas bumi lebar... (jembar). Jangan kau ngeringami (bikin runyam/berisik) dan ngotori tempat kami, pergilah!!!” Perintah Senem. “Payuh amen dak pacak?, ya lah kalau tidak bisa” kata engkak dengan lesu, lalu mereka terbang mendapatkan pondok Putri Bungsu terus hinggap. Putri Bungsu segera menyapa “Hai Burung Engkak! Khabar berita apa yang kau bawa, cepat sampaikan padaku. Berita buruk atau baik?”.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 9 “Tidak ada cerita dan kabar baik atau buruk, Cuma kami ingin numpang bertelur kalau diizinkan, oleh yang punya rumah?” “Oh, boleh, boleh! Aku senang ada teman dan mari aku bantu untuk membuat sarang” sambut Putri Bungsu. “Terima kasih, terima kasih, wahai orang yang baik hati. Dengan apa kami membalas budi baikmu!” Puji burung engkak. “Ah tak usah dipikirkan, kita sesama makhluk harus saling kasih mengasihi dan sayang menyayangi!” ujar Putri Bungsu berkelakar. Terus Putri Bungsung membuat kotak di tempatnya pada saka/kasau/tiang di bawah atap garangnya/terasnya. Setelah beberapa hari bertelurlah engkak yang betina pada kotak itu. Telur itu dua butir, sedangkan induknya
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 10 terbang tidak kembali-kembali lagi, mengerampun tidak. Putri heran, kemana burung engkak itu, hanya tinggal telurnya saja, pikirnya. Sekarang mulailah Putri Bungsu ini berikhtiar untuk membuat huma (nebas) hutan setiap hari. Pagi-pagi ia bekerja nebas hutan. Tapi ketika ia pulang ke rumah sore hari nasi dan lauk sudah tersedia di hidangan masih panas. Putri heran siapa yang memasakkannya, oleh karena badan cape dan perut lapar dimakannya saja masakan itu tidak ambil pusing. Perutnya kenyang lantas tidur... Besoknya begitu juga.... begitulah seterusnya. Putri penasaran.. dilihatnya telur di garangnya, tetap telur, tidak ada perubahan. ……………………………..
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 11 Sekali waktu Putri ingin mempergoki siapa yang menyiapkan makanan itu. Ia sengaja pulang dari nebas sebelum sore. Secara mengendap, cara diam-diam ia mengintai dari bawah rumah didengarnya ada pemuda yang sedang memasak di dapur. Ia segera naik tangga pelan-pelan dilihatnya dua pemuda betelang (belagak/ganteng) sedang memasak. Dan telur dalam kotak sarng di garang sudah pevah dua, tinggal kerompangya(cangkangnya). Segera Putri menggenggam kerompang telur itu dan menyembunyikannya di balik gendongannya. Lantas ia menyapa pemuda-pemuda yang bertindak sebagai koki itu. “oh rupanya kalian yang menyiapkan makanan untukku?” kata Putri.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 12 Pemuda-pemuda itu terperanjat segera mereka menuju sarang tuk mendapatkan kerompang telur...tapi kerompang telur tidak ada lagi. Oleh karena tempatnya tidak ada maka mereka tidak bisa kemana-mana, langsung mereka menjawab tegur Putri Bungsu. “Ya, dik kami yang memasak di sini sebagai imbalan kebaikan budi baik adik. Kami kasihan sama adik sore-sore pulang, untuk masak lagi. Jadi jangan adik repot-repot kami sudah sediakan masakan kalau adik berkenan menerimanya, kata pemuda tampan dan ganteng. “Aku senang sekali kalian siapkan masakan, Alangkah luhurnya budi kalian, siapa kalian ini? Suka menemani aku sebatang kara di dalam hutan belantara ini, menuruti nasib tak beruntung?” Putri ingin tahu.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 13 “Oh jangan mengiba dik? Saya adalah bujang engkak dan ini adikku bujang meranai, jangan takut, kami menemanimu terus kalau berkenan dihati?” kata Bujang Engkak. “Kalau boleh tahu siapa nama adik? Dan kemana kerompang telur di sini?” tanya Bujang Engkak. “Namaku Putri Bungsu, dan kerompang telur itu aku tidak tahu?”Putri sedikit berbohong. “Tunjukkan terus terang dik, kami tidak akan jadi telur lagi, tapi kerompang telur itu akan dibakar. Agar kami tidak bisa lagi kembali ke dalamnya”, tegas Bujang Engkak. “Kalau kata kakak begitu, ini dia kerompang telur itu!” jawab Putri Bungsu. Ketika kerompang telur itu dibakar gelap tiga hari tiga malam………………………
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 14 Kemudian baar.......terang benderang tempat itu seketika menjadi kota dan negeri yang ramai sekali. Dan pondok Putri Bungsu yang kecil dulu, sudah berubah menjadi istana layaknya, sedangkan rumah kakaknya senem tetap sebagai semula. Kini Putri Bungsu tidak lagi nebang nebas (membabat hutan) untuk Bertani, ia hanya mengurus rumah; yang bertindak menebang nebas kakaknya Bujang engkak dan bujang meranai. Tidak lama dari situ mereka (Bujang Engkak dan Putri Bungsu) menghadap penghulu untuk dinikahkan. Resmilah mereka menjadi suami isteri. Hidup rukun dan damai ke gunung sama mendaki kelurah sama
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 15 menurun. Telungkup sama makan tanah terlentang sama minum air. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kini............mereka telah memiliki : “Pelita diwaktu gelap, penyejuk kalbu saat kecewa, peneguh iman dikala goyah, pengobat luka penawar jiwa.” Akan tetapi rumah tangga yang begitu tenteram dan damai, tidak selamanya abadi. Setelah mereka panen padi yang banyak mendapat gabah yang begitu lumayan, gudang dan bilik penuh oleh padi, datanglah godaan dari kakak mereka senem enam beradik………………………………….
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 16 Mereka berenam iri dan dengki terhadap adiknya Putri Bungsu, mereka berusaha agar rumah tangga Putri Bungsu bersama suaminya hancur berantakan. Satu ketika mereka datang pada adiknya Putri Bungu ketika suaminya bekerja di ladang. “Bagaimana dek, suamimu sayang apa tidak samamu?” tanya salah satu mereka. “Sayang dan kasih, aku tak pernah lagi masuk hutan membanting tulang memeras keringkat, cukup di rumah menyiapkan segala sesuatunya. Kami saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi saling asah dan salingasuh. Ibarat kedua belah tangan. Yang satu merawat yang lain, begitu juga sebaliknya?” Putri Bungsu menerangkan suasana rumah tangga mereka.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 17 “Kami tak percaya tentang kasihnya itu, sebelum adik membuktikan dengan memberikan ujian sebagai percobaan / eksprimen. Kalau sudah dicoba ia tidak marah barulah benar-benar ia sayang, cinta dan kasih” goda mereka. “Bagaimana cara mencobanya?” tanya P. Bungsu “Ini dia satu blek (kaleng) serpihan miang rebung, adik taburkan pada sprei kasur dikala ia akan tidur!” Mereka memberikan resepnya dan langsung pulang. Putri Bungsu menyambut dan menyimpannya. Menjelang malam sudah ditaburkannya miang rebung tadi. Ketika malam tiba dan Bujang Engkak selesai makan malam ia segera merebahkan badannya di pembaringannya kasur empuk dalam kamr untuk melepaskan lelah... tapi apa
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 18 yang dirasakannya.......usahkan menjadi tenang..........malah sebaliknya...........gelisah.... .....miring kanan, miring kiri sama saja miang dan gatal. Ia segera bangkit dan memanggil putri untuk diganti seperti yang lain. Setelah mandi Bujang Engkak bertanya pada Putri Bungsu, “Siapa dik yang mengajarimu berbuat seperti apa yang terjadi?” tanyanya sambil senyum. “Mbok nemku!” jawab Putri Bungsu. “Usah kau turuti ajarannya itu, mereka akan merusak rumah tangga kita!” Bujang Engkak memperingatkan. “Ya, kak aku minta maaf, kukira ajarannya itu baik” sahut Putri Bungsu. Lalu mereka tidur dengan pulasnya.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 19 Besoknya mereka (senem) datang lagi menanyakan pada Putri apakah suaminya marah atau tidak? “Ia tidak marah, tetap sayang padaku. Juga aku sayang padanya. Semua keperluannya kupenuhi dan kulayani. Antara hak dan kewajiban kami penuhi seimbang menurut kemampuan kami masing-masing” kata Putri Bungsu. “Bagus, kalau begitu. Coba adik pasangkan ini di tempat ia tidur malam nanti!” kata Senem. Ia memberikan jarum dua kodi pada Putri Bungsu. Putripun melaksanakannya. Ketika Bujang Engkak mau berbaring akan tidur, untung saja ia cermat memperhatikan seprei yang berbaris nampak jarum yang dipasang oleh isterinya. Cepat ia membersihkan dan membabat
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 20 ranjau-ranjau itu, terus menyimpannya lalu ia tidur seakan-akan tidak ada terjadi sesuatu. Kendatipun ada ganjalan di hatinya, ia tidur dengan nyenyaknya. Besoknya Bujang Engkak bertanyatanya dalam hatinya, Apa salahku? Maka Putri Bungsu berbuat yang bukan-bukan. Tapi tidak dihiraukan ia tetap bekerja pergi ke ladangnya, mengurus tanamannya. Tapi malang baginya., besok paginya Mbok Nem datang lagi dengan membawa pisau garpu, untuk digantungkan di muara pintu. Serta diayunkan pada muka Bujang Engkak saat ia pulang kerja. Ya, Putri bungsu logo dan polos menurut saja apa yang disarankan iblis jahanam berenam tersebut. Putri lugu dan patuh pada
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 21 kakak2nya, Ia tak tahu apa akibat dan resiko yang bakal terjadi. Kira-kira waktu jam Bujang Engkak pulang kerja, Putri Bungsu sudah siap menggantungkan pisau dari mbok nemnya tepat pada kening suaminya. Dan ia sudah menunggu di atas memegang ujung pisau garpu yang tajam. ……………………………………
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 22 Yah begitulah nasib yang menimpa Bujang Engkak, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Ketika ia memasuki pintu yang sudah ternganga dan melangkah......tibatiba...........taak..........”aduuh maak”..............darah mengalir dari keningnya. Cepat ia menepak (meraba) keningnya ke belakang dan duduk bersandar. Adiknya Bujang Meranai segera mengobati dan membalut dengan kain putih. Putri Bungsu merasa menyesal dan segera turun mendapatkan suaminya tersandar lesu. “Maafkan aku kak! Aku berbuat salah” kata Putri menghiba-hiba di ujung kaki suaminya. “Pintu maaf selalu terbuka untukmu! Tapi untuk kali ini bagaimana aku memaafkanmu? Apa salahku sayang? Kalau lama-lama aku
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 23 di sini akhirnya kau membunuhku. Baiklah besok kami akan pergi dari sini. Usaha kau susul dan cari........patuhilah apa yang diajarkan oleh mbok Nemmu? Kata Bujang Engkak. Mendengar itu airmata Putri Bungsu tak tertahan keluar dengan derasnya. Ia menangis menjadi-jadi. Tapi sesalnya tidak ada gunanya. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Sungguhpun demikian, rasa iba B.Engkak pada isterinya, lalu dibelainya rambut isterinya dan lama-lama P.Bungsu tertidur di pangkuan suaminya. Pukul 04.00 subuh B.Engkak dan B.Meranai telah berangkat meninggalkan Putri Bungsu masih tergeletak tidur nyenyak bagaikan bangkai.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 24 Karena cintanya sama isterinya B. Engkak meninggalkan satu lembar kain dan satu utas tambang ayam hutan pikat “Beruge”. Lalu ia berpesan sama cecak, kalau ia dan B. Meranai telah jauh berjalan barulah Putri Bungsu dibangunkan. Berjalanlah Bujang Engkak dan Bujang Meranai meniti jalan setapak dengan sebilah pedang di tangan. Masuk hutan keluar hutan masuk rimba keluar rimba sambil membuat latih (jalur titian/jejak) jalan. Hari semakin siang, kira-kira pukul 10.00 cecak berbunyi : “Cak, cak, cak”, bangunlah Puteri Bungsu. Bujang Engkak dan Bujang Meranai sudah jauh berjalan!”.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 25 Jit (terjaga dari tidur), Putri Bungsu tersentak dari tidurnya. Dilihat suaminya Bujang Engkak sudah tidak ada lagi. Rumahnya kusut berantakan, sebagaimana perasaan hatinya saat itu, Ia risau, galau, resah, sedih, menyesal. Ia bangkit dan diperhatikannya satu lembar kain dan satu utas tambang ayam pikat / “ ayam beruge” masih tertinggal. …………………………………….
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 26 Ia (Putri Bungsu) berusaha menyusul dari belakang dengan hati hancur remuk bagaikan kaca terhempas ke batu. Sambil menangis ia berendai : “Bujang Engkak Bujang Meranai Tanti(tunggu)aku sejalan-jalan Kainku abis dikait ranting Rambutku abis dikait unak Tambang beruge, kakak tinggal Kain kakak tinggal selembar” Seakan berlari ia menyusul jejak suaminya di depan. Sambil memanggil, menyeru dalam rendai : “Bujang Engkak Bujang Meranai Tanti aku sejalan-jalan
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 27 Kainku abis dikait ranting Rambutku abis dikait unak Tambang beruge, kakak tinggal Kain kakak tinggal selembar” Seekor kumbang mendengar sayup-sayup suaru Putri Bungsu, mencoba menegur dan mengingatkan Bujang Engkak. “Oi, Bujang Engkak ! Tunggu Putri Bungsu menyusul. Kasihan dia, dengan suaranya serak menangis” Bujang Engkak dan Bujang Meranai memperlambat jalannya didengarnya sayup sampai terdengar suara Putri Bungsu : “O, Bujang Engkak Bujang Meranai Tanti aku sejalan-jalan Kainku abis dikait ranting
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 28 Rambutku abis dikait unak Tambang beruge, kakak tinggal Kain kakak tinggal selembar” Bujang Engkak dengan suara sendat menahan tangis menjawab dalam rendai : “O, adik Putri Bungsu ! Baleklah ke belakang, turutlah kate “Mbok Nemmu kalau dak hilang labet di kening aku tidak balek ke belakang.” Putri Bungsu masih memanggil : “O, Bujang Engkak Bujang Meranai Tanti aku sejalan-jalan Kainku abis dikait ranting
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 29 Rambutku abis dikait unak Tambang beruge, kakak tinggal Kain kakak tinggal selembar” “Tunggu kak ayuk tuh!” usul Bujang Meranai pada kakaknya. Lalu mereka duduk menunggu. Tak lama dengan napas terengahengah Putri Bungsu tiarap pada pangkuan suaminya. Dengan isak tangisnya. “Maafkan aku kak! Aku ikut kemana kakak pergi”. Perkataan Putri tidak digubris oleh Bujang Engkak, hanya dielusnya rambut isterinya yang terurai panjang. Sambil ia berdendang menidurkan isterianya. “Tidur.......tidurlah adik..........jangan menangis lagi lupakan segala rasa risau di
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 30 hati. Jangan adik bersedih, karena kakak pergi. Lukaku di kening, masih terasa pedih. Apa yang terjadi........ Kuanggap ujian diri........ Penyesalan tak guna. Diakhir ini cerita.............” Dengan nyenyaknya Putri Bungsu tertidur dipangkuan suaminya. Lalu diangkatkan Bujang Engkak dengan dibantalinya dengan bangkai-bangkai binatang dan didindingnya dengan batang-batang buruk. Kemudian mereka berjalan lagi setelah berpesan dengan ranting.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 31 “Ranting! Jangan kau patah sebelum kami jauh berjalan” kata Bujang Engkak. Apabila mereka sudah jauh maka “tas” ranting patah. “Putri Bungsu bangunlah! Bujang Engkak sudah jauh berjalan” Ranting menegur. Jit, Putri Bungsu terbangun lantas berlari menyusul Bujang Engkak sambil berendai lagi seperti tadi. Sayup-sayup terdengar suaranya yang memilukan, kumbang menegur Bujang Engkak supaya ditunggu. Bujang Engkak mau meneruskan perjalanan, tapi Bujang Meranai mencegah, terpaksa Bujang Engkak menuruti saran adiknya. Mereka menunggu sambil duduk dipungkar kayu /bongkot kayu (akar pokok batang kayu) dalam rawang.
Legenda/dongeng rakyat ”Burung Engkak Bujang Meranai” karya M.A.R 32 ………………………………. Bagaimanakah kisah selanjutnya ???.....