The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kazuosirait, 2021-12-08 02:05:54

Kazuo Cerpen

Kazuo Cerpen

MITOKONDRIA
DAN NUKLEUS

Kazuo Kevin Namosal Sirait

"Dia tidak lagi diam-diam di depan layar dan
setiap kali dia harus istirahat, dia akan
beristirahat."

Pramenulis



Topik : Terlalu lama di depan layar (Kepahlawanan)
Tujuan : Memberitahu bahwa terlalu lama di depan
layar tidak bagus untuk kesehatan.
Pembaca : Semua umur

Ide : Ada seorang bernama Mitokondria, dan dia
berumur 12, dia memiliki paman yang bernama
Nukleus. Tetapi, dia adalah seorang remaja yang
sangat suka terus di depan layar dan kebanyakan
waktu. Dia hanya bermain game dan tidak
mengerjakan pekerjaanya. Ayahnya yang bernama
Kromosom juga selalu mengingatkan dia untuk
mengerjakan pekerjaanya, tetapi tidak didengar.
Akhirnya ayahnya hanya membiarkan dia dan
setelah Mitokondria mengalami sakit punggung
yang sangat parah dan matanya yang sangat gatal.
Akhirnya Mitokondria sadar bahwa dia sudah
melakukan sesuatu yang salah dan mulai memakai
komputernya lebih sedikit dan lebih rajin
mengerjakan pekerjaan.

Draf

Awal : Pada suatu hari, ada seorang remaja laki-laki
bernama Mitokondria. Dia adalah adalah anak yang
sangat susah diingatkan dan hanya tinggal bersama
ayahnya, yaitu Kromosom. Dikarenakan ibunya
pergi, dia juga mempunyai paman yang bernama
Nukleus. Mitokondria juga bersekolah secara online
dikarenakan ada sebuah pandemi.

Permulaan Konflik : Suatu hari, sepulang sekolah
Mitokondria mulai bermain game seperti biasa.Dia
mempunyai satu jam untuk bermain game. Setiap
hari dia mulai pada jam 5 sore. Seharusnya dia
selesai pada jam 6. Setelah memperhatikan
Mitokondria, ayahnya Kromosom melihat bahwa
Mitokondria bermain game sampai jam 8 dan hanya
mengerjakan pekerjaan sangat sedikit. Akhirnya
ayahnya berbicara dengan Mitokondria.

Klimaks : Di pertengahan sekolah, Mitokondria
membuka mikrofonnya tanpa dia sadar. Saat itu dia
bermain game terus-menerus. Lama-kelamaan
matanya terasa gatal dan punggungnya terasa sakit.
Penyakitnya tersebut menjadi makin buruk setiap
hari.

Antiklimaks : Mitokondria sangat memaksa
pamannya untuk mengizinkan dia bermain game.
Pamannya tidak mengizinkan Mitokondria dan
menjelaskan hal buruk yang dapat terjadi pada
Mitokondria. Mitokondria menyadari dan memahami
efek yang dapat terjadi pada dirinya jika bermain
game terlalu lama.

Penyelesaian : Sikap Mitokondria berubah, dia mulai
membatasi dirinya untuk bermain game. Dia menjadi
lebih rajin, pada saat ayahnya pulang, ayahnya sangat
bangga. Ayahnya berterima kasih kepada paman
Mitokondria karena telah membantu menyadarkan
Mitokondria.

Mitokondria dan Nukleus
Oleh : Kazuo Namosal Sirait

Pada suatu hari, ada seorang remaja laki-laki
bernama Mitokondria. Dia adalah adalah anak yang
sangat susah diingatkan dan hanya tinggal bersama
ayahnya, yaitu Kromosom. Dikarenakan ibunya
pergi, dia juga mempunyai paman yang bernama
Nukleus. Mitokondria juga bersekolah secara online
dikarenakan ada sebuah pandemi.

Mitokondria mempunyai ayah, ibu, dan paman.
Ayahnya bernama Kromosom, dan pamannya
bernama Nukleus. Dia tidak memiliki banyak teman,
dan salah satu temannya adalah Membran. Seorang
teman yang jarang berinteraksi dengannya sebab
kecanduan dengan game. Dia juga mempunyai
kebiasaan buruk di sekolah daring seperti, bermain
game diam-diam, menutup kamera. Mitokondria juga
bermain game lebih dari waktu yang semestinya. Dia
juga bermain game sampai malam, dan dia malah
tidak mengerjakan pekerjaanya. Karena hal itu,
ayahnya Kromosom selalu mencoba mengingatkan
Mitokondria untuk bermain game lebih sedikit dan
mengerjakan pekerjaanya, tetapi tidak ada hasilnya.

Suatu hari, seperti biasa Mitokondria lanjut
bermain game, tetapi kali ini tidak ada ayahnya
karena ayahnya sudah pergi. Sebelum dia
bermain game Paman Nukleus berkata
kepadanya, “Mitokondria, tolong kerjakan
pekerjaan kamu sebelum bermain game ya.”
Mitokondria menjawab, “Oke akan saya lakukan
nanti.”
Seharusnya dia hanya bermain selama satu jam
dan dia mulai pada jam lima sore. Seharusnya dia
selesai pada jam 6, tetapi dia tetap bermain
hingga jam delapan malam. Pada saat dia akan
memasuki kamarnya, pamannya Nukleus
bertanya kepadanya, “Mitokondria apakah kamu
sudah selesai mengerjakan beberapa
pekerjaanmu?”
Mitokondria menjawab, “Saya sudah
menyelesaikan dua pekerjaan saya, Paman.”
Walaupun Nukleus tahu bahwa Mitokondria
sedang berbohong, namun dia tetap mengizinkan
Mitokondria masuk ke dalam kamarnya.

Keesokan harinya, Mitokondria melalui rutin yang
biasa dan memulai kelas onlinenya. Dia masih
fokus pada saat pelajaran pertama yaitu
matematika, tetapi lama-lama dia merasa bosan
dan mulai bermain game pada saat gurunya
menjelaskan. Dia juga mematikan audio
meetingnya, tetapi setelah dia melihat bahwa
pamannya akan melihat apa yang akan dia
lakukan, dia menghidupkan audio meetingnya
kembali dan pura pura menjadi fokus, tetapi tiba
tiba gurunya memanggilnya dengan berkata,
“Mitokondria tolong tunjukkan catatanmu
sekarang.” Dia bingung apa yang harus dia
lakukan karena selama itu dia hanya bermain
game, akhirnya dia memutuskan untuk
meninggalkan meeting tersebut.

Pamannya melihat apa yang dilakukan oleh
Mitokondria. Dia memutuskan untuk menemui
Mitokondria dan bertanya. “Mitokondria, tolong
fokus dan kerjakan pekerjaan kamu ya.”
Mitokondria menjawab, “Oke, Paman.”
Mitokondria bergabung balik ke meetingnya,
tetapi dari pada bertanya karena dia tidak
mengetahui apapun, kali ini dia menonton
youtube dan setiap beberapa menit dia akan
balik berpura pura mengerjakan pekerjaan.
Rutinitas ini berlanjut sampai akhir sekolah pada
jam lima sore. Mulai dari saat itu dia merasakan
bahwa punggungnya sakit dan matanya menjadi
amat gatal.

Hari demi hari penyakit Mitokondria semakin
parah. Pada hari terakhir sekolah dalam minggu
iitu, dia harus beristirahat di kamarnya karena
disuruh oleh pamannya. Tetapi pada saat
Mitokondria mulai berbaring di kamarnya. Dia
berkata kepada pamannya, “Paman, kenapa sih
saya harus berbaring, saya masih mau main game
satu jam lagi.”
Pamannya menjawab, “Kan punggung dan mata
kamu sakit, kamu harus beristirahat dulu ya
Mitokondria.”
Mitokondria akhirnya setuju, tetapi jika pamannya
pergi ia akan bermain game. Jika dia mendengar
pamannya dengar sepeda motornya, dia akan
kembali berbaring. Tetapi pamannya menyadari
bahwa hari demi hari, kesehatannya tidak
membaik tetapi tetap sama dan terkadang lebih
parah. Mitokondria juga merasakan itu dan
akhirnya pamannya berbicara kepadanya,
“Mitokondria sepertinya kita harus ke rumah sakit,
karena kamu tidak membaik.”

Mitokondria menjawab, “Jangan! Saya tidak mau.”
Pamannya berkata, “Jadi bagaimana kesehatan
kamu tidak membaik, berarti ada yang salah kan?”
Akhirnya mitokondria mengatakan apa yang
terjadi dengan berkata, “Sebenarnya Saya akan
main komputer setiap kali Paman pergi. Maaf ya.”
Pamanya berkata, “Kamu tahu itu tidak baik kan?
Lain kali jangan seperti ini lagi ya Mitokondria.”
Akhirnya mulai dari hari itu, Mitokondria
menyadari bahwa dia harus tetap beristirahat dan
tidak menatap layar terlalu lama.

Setelah beberapa hari, kondisi Mitokondria mulai
membaik dan pamannya menyadari bahwa
sekarang Mitokondria sudah bersikap lebih baik.
Dia tidak lagi diam-diam di depan layar dan setiap
kali dia harus istirahat, dia akan beristirahat. Dua
hari kemudian, Mitokondria sudah bisa kembali ke
sekolah, dan kali ini dia lebih fokus pada pelajaran.
Pada saat pulang sekolah, Ayah Mitokondria
kembali dan Pamannya Mitokondria langsung
menceritakan apa yang terjadi. Akhirnya, Ayah
Mitokondria berkata, “Terima kasih sudah
membantu Mitokondria untuk berubah.”

Mitokondria adalah anak yang sangat susah
diingatkan dan mempunyai ayah bernama
Kromosom dan paman bernama Nukleus. Setiap
hari dia akan bermain game di waktu yang sangat
lama. Perilakunya tidak baik di kelas saat daring.
Kejadian yang sama ini terus berlangsung
walaupun sudah diingatkan oleh pamannya.
Akhirnya, suatu hari dia jatuh sakit. Sakit apakah
dia? Apakah perilakunya akan berubah?


Click to View FlipBook Version