The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hajaramanda, 2022-09-25 21:59:13

Biografi Tokoh

media flipbook

Biografi Tokoh

Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teks biografi
merupakan riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain.
Teks biografi merupakan teks berisi ulasan kisah atau cerita kehidupan
tokoh tertentu. Dalam teks biografi ditulis berdasarkan pengalaman
selama tokoh hidup dengan segala keistimewaan dan permasalahan yang
dihadapi sebagai teladan pembaca.

Ciri-Ciri Teks Biografi
Berikut merupakan ciri-ciri dari teks biografi, di antaranya:
a. Berisi fakta kisah hidup tokoh yang ditulis.
b. Berbentuk narasi yang ditulis dengan gaya penulisan yang semenarik
mungkin.
c. Bersifat inspiratif sehingga dapat mempengaruhi pembaca.
d. Berisi motivasi sehingga dapat dicontoh pembaca.
e. Memiliki kesan dan pesan dari tokoh yang ditulis.
f. Memiliki struktur baku yang meliputi orientasi, peristiwa penting, dan
reorientasi.

Struktur Teks Biografi
1. Orientasi

Orientasi merupakan bagian dimana menjelaskan tentang pengenalan
tokoh, berisi gambaran awal tentang tokoh yang diceritakan dalam
biografi tersebut.

2. Peristiwa dan Masalah
Bagian peristiwa atau kejadian merupakan bagian yang berisi tentang
sebuah peristiwa atau kejadian yang pernah dialami, termasuk
didalamnya memuat tentang masalah yang pernah dihadapinya dalam
mencapai tujuan serta cita-citanya. Hal-hal yang menarik,
mengagumkan, mengesankan, dan mengharukan yang pernah dialami
tokoh juga diuraikan dalam bagian ini.

3. Reorientasi
Reorientasi merupakan bagian penutup. Bagian ini berisi tentang
pandangan penulis terhadap tokoh yang diceritakan tersebut. Reorientasi
bersifat opsional, yang artinya pada bagian ini boleh ada atau tidak.

Hal-Hal yang Dimuat dalam Teks Biografi
Ada beberapa poin penting yang umumnya dibahas pada struktur teks
biografi, antara lain:

a. Latar belakang keluarga atau struktur keturunan tokoh

b. Tempat dan tanggal lahir tokoh

c. Sifat-sifat atau karakter yang melekat pada tokoh

d. Riwayat pendidikan tokoh

e. Riwayat pekerjaan atau karir tokoh

f. Prestasi tokoh

g. Informasi lain yang mendukung biografi tokoh

Manfaat Menulis Teks Biografi

a. Mengenal secara mendalam tentang tokoh

b. Menjadi teladan bagi pembaca

c. Memberikan motivasi dan semangat bagi pembaca

d. Menghargai dan menghormati tokoh sesuai dengan perjuangannya

Contoh Teks Biografi Tokoh

1. Daeng Pamatte’ (Pencipta Aksara Lontara)

Daeng Pamatte’ lahir di Kampung Lakiung (Gowa). Beliau adalah salah
seorang tokoh sejarah Kerajaan Gowa, kerajaan suku Makassar, yang
tidak dapat dilupakan karena karya besar yang ditinggalkannya. Bagi
masyarakat Sulawesi Selatan, menyebut nama Daeng Pamatte’, orang
lantas mengingat karyanya yaitu huruf Lontara. Dia dikenal sebagai
pencipta huruf Lontara Makassar dan pengarang buku Lontara Bilang
Gowa Tallo.

Pada masa Kerajaan Gowa diperintah Raja Gowa ke IX Karaeng
Tumapakrisi Kallonna, tersebutlah Daeng Pamatte’ sebagai seorang
pejabat yang dikenal karena kepandaiannya. Tidak heran apabila ia
dipercaya oleh Baginda untuk memegang dua jabatan penting sekaligus
dalam pemerintahan yaitu sebagai “sabannara” (syahbandar) merangkap
“Tumailalang” (Menteri Urusan Istana Dalam dan Luar Negeri) yang
bertanggung jawab mengurus kemakmuran dan pemerintahan Gowa.

Lahirnya Aksara Lontara lahirnya karya bersejarah yang dibuat “Daeng
Pamatte” bermula karena ia diperintah oleh Karaeng Tumapakrisi
Kallonna untuk mencipta huruf Makassar. Hal ini mungkin didasari
kebutuhan dan kesadaran dari Baginda waktu itu, agar pemerintah
kerajaan dapat berkomunikasi secara tulis-menulis, dan agar peristiwa-
peristiwa kerajaan dapat dicatat secara tertulis. Maka Daeng Pamatte’
pun melaksanakan dan berhasil memenuhinya. Dimana ia berhasil
mengarang Aksara Lontara yang terdiri dari 18 huruf . Lontara ciptaan
Daeng Pamatte ini dikenal dengan istilah Lontara Toa (het oude
Makassarche letters chrif) atau Lontara Jangang-Jangang (burung)
karena bentuknya seperti burung. Juga ada pendapat yang mengatakan
dasar pembentukan aksara Lontara dipengaruhi oleh huruf Sangsekerta.

Kemudian Lontara ciptaan Daeng Pamatte’ ini, mengalami perkembangan

dan perubahan secara terus menerus sampai pada abad ke XIX.
Perubahan huruf tersebut baik dari segi bentuknya maupun jumlahnya
yakni 18 menjadi 19 dengan ditambahkannya satu huruf yakni “ha”
sebagai pengaruh masuknya Islam. (Monografi Kebudayaan Makassar di
Sulawesi Selatan 1984 : 11).

Dari Lontara Jangang-Jangan ke Belah Ketupat
Jenis aksara Lontara yang pertama sebagaimana disebutkan diatas
adalah Lontara Jangang-Jangang atau Lontara Toa. Aksara itu tercipta
dengan memperhatikan bentuk burung dari berbagai gaya, seperti
burung yang sedang terbang dengan huruf “Ka” burung hendak turun ke
tanah dengan huruf “Nga”, bentuk burung dari ekor, badan dan leher
dengan lambang huruf “Nga”. Lontara Jangang-Jangan ini digunakan
untuk menulis naskah perjanjian Bungaya.

Kemudian akibat dari pengaruh Agama Islam sebagai agama Kerajaan
Gowa, maka bentuk huruf pun berubah mengikuti simbol angka dan
huruf Arab, seperti huruf Arab nomor 2 diberi makna huruf “ka” angka
Arab nomor 2 dan titik dibawak diberi makna “Ga” angka tujuh dengan
titik diatas diberi makna “Nga”, juga bilangan arab lainnya yang
jumlahnya 18 huruf . Aksara Lontara ini disebut juga Lontara Bilang-
Bilang (Bilang-Bilang = Hitungan). Lontara Bilang-Bilang ini diperkirakan
muncul pada abad 16 yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV
Sultan Alauddin (1593-1639).

Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi lagi perubahan
(penyederhanaan) dengan mengambil bentuk huruf dari Belah
Ketupat.Siapa yang melaksanakan penyederhanaan Aksara Makassar itu
menurut HD Mangemba, tidaklah diketahui tetapi berdasarkan jumlah
aksara yang semula 18 huruf dan kini menjadi 19 huruf, dapat
dinyatakan bahwa penyederhanaan itu dilakukan setelah masuknya
Islam. Huruf tambahan akibat pengaruh Islam dari bahasa arab tersebut,
huruf “Ha”.Dalam pada itu.

Dalam versi lain Mattulada berpendapat bahwa justeru Daeng Pamatte’
jugalah yang menyederhanakan dan melengkapi lontara Makassar itu,
menjadi sebagaimana adanya sekarang. Dari ke-19 huruf Lontara
Makassar itulah, kemudian dalam perkembangannya untuk keperluan
bahasa Bugis ditambahkan empat huruf, yaitu ngka, mpa, nra dan nca
sehingga menjadi menjadi 23 huruf sebagaimana yang dikenal sekarang
ini dengan nama Aksara Lontara Bugis- Makassar

2. BJ. Habibie




Click to View FlipBook Version