BUKU AJAR
PEMULIAAN TERNAK
UNTUK
PROGRAM STUDI S1
FAKULTAS PETERNAKAN
(BERFORMAT FLIP_BOOK_PDF)
BAB I PENDAHULUAN
OLEH
SOEDITO ADJISOEDARMO
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
PRAKATA
Buku Ajar Pemuliaan Ternak, unt2uk0p1ro2gramtudi S1 Fakultas Peternakan adalah
edisi Lecturenote yang ditulis Soedito Adjisoedarmo tahun 2001. Sesuai dengan
5
perkembangan proses pembelajaran yang berbasis Multimedia maka, Buku Ajar
Pemuliaan Ternak edisi 2012 disajikan dengan format Flip_Book_Pdf
Diharapkan dengan format Flip_Book Mahasiswa dan atau pembaca yang
berminat akan lebih dimudahkan dan nyaman menggunakannya.
Bagai pengajar yang menggunakaanya sebagai Acuan, dengan format
Flip_Book_Pdf, teks dapat dibersarkan seseuai dengan kebutuhan.
Selamat memanfaatkan ( ingat password yang dibutuhkan : 23123709)
Purwokerto , September 2012
Penulis
tt
soedito adjisoedarmo
6
7
8
9
10
11
12
BAB I
PENDAHULUAN
Sejalan dengan tingkat kemajuan pembangunan maka kebutuhan
manusia terus meningkat. Pemenuhan kebutuhan pangan meliputi karbohidrat,
lemak, protein, mineral, vitamin dan hormon. Penelitian dan penerapan
hasil penelitian di berbagai bidang ilmu dan teknologi terus diupayakan dan
dikembangkan agar pemenuhan kebutuhan terwujud.
Di pihak lain manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya
berusaha memanfaatkan segala sistem yang ada di sekitarnya. Salah satu
sistem yang sangat penting adalah Sistem Bio-Sosio-Ekonomi yang
bernama peternakan. Sistem ini sangat penting karena menghasilkan bahan
pangan manusia yang bergizi tinggi, yaitu protein hewani. Oleh karena itu
melalui peternakan manusia tidak henti-hentinya mengusahakan peningkatan
produksi ternak yang berupa protein hewani, baik berupa daging, susu dan
telur. Usaha-usaha tersebut antara lain melalui penerapan ilmu dan teknologi
beternak yang disebut pemuliaan ternak. Setelah komputer diciptakan maka
perkembangan dan penerapan pemuliaan ternak makin maju dengan pesat.
Komputer adalah suatu alat elektronika yang dikembangkan untuk
membantu menyelesaikan pekerjaan dan memecahkan persoalan yang
dihadapi oleh manusia dalam mencoba mengikuti perkembangan, kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer mempunyai bagian utama
perangkat keras dan perangkat lunak yang berupa paket program, namun
yang paling penting adalah ketrampilan manusia, pemakai komputer tersebut.
Karena alat ciptaan manusia maka komputer dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia
yang makin lama semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Oleh karena itu komputer harus dapat memenuhi syarat dari sudut
kemampuan menyelesaikan pekerjaan ditinjau dari kuantitas dan kualitasnya.
Pemanfaatan sistem komputer di berbagai bidang kehidupan manusia
sudah sejak lama dimulai. Pemanfaatan tersebut antara lain untuk,
memecahkan masalah, analisis data dan simulasi. Khusus di bidang pemuliaan
ternak manfaatan komputer di gunakan dalam program pencatatan produksi,
penaksir hasil seleksi, analisis data untuk penaksiran parameter genetik untuk
tujuan peningkatan produksi melalui peningkatan mutu genetik.
Bab Pendahuluan akan disampaikan dengan sistematik, 1) Peranan
dan Pemanfaatan Pemuliaan Ternak; 2) Pemanfaatan Sistem Komputer di
bidang Pemuliaan Ternak; 3) Harapan untuk Masa Depan.
Peranan dan Manfaat Pemuliaan Ternak
Sejarah Singkat Perkembangan Pemuliaan Ternak
Dalam berbagai kepustakaan dapat ditelusuri bahwa pemuliaan ternak
dikembangkan mulai tahun 1760 dan dilaksanakan oleh Robert Bakewell di
Inggris. Pengembangan dimulai dengan ternak kuda, domba dan sapi.
Keberhasilannya terletak pada tiga hal, yaitu pertama, dia telah menetapkan
sasaran yang dia inginkan misal mendapatkan sapi potong yang berbentuk
pendek dan cepat dewasa yang waktu itu belum ada. Kedua, dia tidak menjual
ternak jantan tetapi meminjamkannya kepada peternak lain dan peminjam
mengembalikannya apabila pejantan tersebut mewariskan mutu genetik yang
baik. Ketiga, membiakkan ternak yang baik dengan yang baik, tanpa
menghiraukan hubungan kekerabatan yang ada. Sebagai akibatnya sering
dilak-sanakan perkawinan silang dalam yakni perkawinan antar saudara.
Silang dalam tersebut mengarah dihasilkannya trah yang relatif murni,
meskipun tanpa diikuti pencatatan.
14
Metode Backewell ditiru secara luas dan mulai ditetapkan syarat-syarat
trah. Trah yang relatip murni tersebut dibawa ke Amerika, kemudian
dibiakkan murni dan disilangkan dengan rumpun lokal.
Asosiasi trah mulai dibentuk pada periode 1870 - 1900, mempunyai
andil besar dalam pengembangan pemuliaan ternak atau perbaikan genetik
ternak. Periode ini ditandai dengan pengembangan buku registrasi untuk
menjamin kemurnian trah diikuti dengan semangat kompetitif oleh berbagai
asosiasi trah. Terjadilah penyisihan ternak berdasar kemurnian trah sesuai
dengan syarat yang ditetapkan oleh asosiasi meskipun belum berdasar
pada keunggulan genetik. Namun tetap diakui bahwa sumbangan asosiasi
tersebut sangat besar terhadap perkembangan peternakan di Amerika.
Periode setelah asosiasi trah adalah pengembangan inseminasi buatan
(IB). Spallanzani pada tahun 1780 melaksanakan IB pada anjing, kemudian
pada 1899 di Rusia dikembangkan pada ternak dan mulai 1930 di coba di
Eropa. Inseminasi buatan pada sapi perah di mulai 1938 oleh Perry di New
Jersey Dairy Extension Service. Ide lB menyebar ibarat seganas api dan
banyak dibentuk organisasi atau kelompok IB (Warwick dan Legates, 1979)
Periode setelah 1971 keberhasilan IB mulai dilaporkan oleh
Departemen Pertanian Amerika. Dilaporkan bahwa IB telah digunakan pada
8643.089 ekor sapi, 3620 pejantan digunakan untuk menginseminasi rata-rata
3620 ekor sapi betina (7 juta lebih sapi perah dan 1 juta lebih sapi pedaging).
Pada tahun 1971 penggunaan semen beku mulai didaftar. Sampai 1987
Program lB telah dilaporkan dapat membantu meningkatkan efektivitas
penerapan pemuliaan ternak dengan seleksi dan sistem perkawinan.
Pengertian Pemuliaan Ternak
Berdasar denotasi dan konotasi ilmu, pemuliaan ternak adalah suatu
cabang ilmu biologi, genetika terapan dan metode untuk peningkatan atau
perbaikan genetik ternak. Pemuliaan ternak diartikan sebagai suatu teknologi
15
beternak yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik. Mutu genetik
adalah kemampuan warisan yang berasal dari tetua dan moyang individu.
Kemampuan ini akan dimunculkan setelah bekerja sama dengan pengaruh
faktor lingkungan di tempat ternak tersebut dipelihara.
Pemunculannya disebut performans atau sehari-hari disebut sebagai
produksi dan reproduksi ternak, contohnya antara lain produksi susu, telur,
daging, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih dan jumlah anak
sepelahiran.
Kemampuan genetik ternak, dapat juga disebut kemampuan
bereproduksi dan berproduksi, tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditaksir.
Prinsip dasar pemuliaan ternak mengajarkan bahwa kemampuan genetik di
wariskan dari tetua ke anak, secara acak. Diartikan bahwa tidak ada dua anak,
apa lagi lebih yang memiliki kemampuan yang persis sama kecuali pada kasus
monozygote identical twin (dua anak berasal dari satu sel telur). Kemampuan
tersebut selanjutnya akan dimunculkan dalam bentuk produksi yang terukur di
bawah faktor lingkungan yang tertentu.
Kemampuan genetik tersebut secara sederhana dapat digambarkan
sebagai lingkaran kecil yang terletak di dalam lingkaran yang lebih besar.
Lingkaran yang lebih besar adalah gambaran pemunculan kemampuan genetik
di bawah lingkungan seluas daerah antara dua lingkaran tersebut. Apabila
lingkaran lingkungan kita perbesar pemunculan kemampuan genetik tidak
akan dapat melampaui batas lingkaran besar. Hal ini disebabkan pemunculan
kemampuan genetik itu ada batasnya, yang dikontrol oleh banyak faktor.
Setiap individu memiliki gambaran lingkaran kecil dan besar yang berbeda.
Kalau faktor kontrol tersebut tidak ada maka seekor kelinci akan dapat
dibesarkan menjadi seekor sapi. Tidak demikian yang dimaksud dengan
kemampuan genetik. Kalau lingkaran lingkaràn kita kecilkan, maka
pemunculan kemampuan genetik akan ikut mengecil.
16
Pada penerapan pemuliaan ternak hal yang pertama dikatakan
pemborosan sedang peristiwa kedua dikatakan kebodohan. Masalah yang
dihadapi dalam penerapan pemuliaan ternak, bagaimana dapat mengurangi
pemborosan dan tidak menjalankan kebodohan. Masalah selanjutnya, apa yang
dapat dan tidak dapat dilakukan untuk memunculkan kemampuan genetik
tersebut ?
Apa yang dapat dilakukan ada dua hal, yakni mengontrol pewarisan
kemampuan genetik melalui seleksi dan sistem perkawinan. Selanjutnya
diikuti dengan penyediaan faktor lingkungan yang sesuai sampai tingkat yang
sebaik mungkin dan masih menguntungkan secara ekonomis. Apa yang tidak
mungkin dilakukan adalah memunculkan kemampuan genetik di luar batas
yang dimungkinkan.
Pemuliaan ternak dapat ditinjau sebagai suatu metode, maka dalam
mencapai tujuan memerlukan unsur-unsur pengamatan, percobaan, definisi,
penggolongan, pengukuran, generalisasi, serta tindakan lainnya. Selanjutnya
metode tersebut juga membutuhkan langkah-langkah penentuan masalah,
perumusan hipotesis, pengumpulan data, penurunan kesimpulan dan
pengujian hasil (Gie, 1984). Oleh karena itu pengembangan pemuliaan ternak
memerlukan penelitian dan penerapan hasil penelitian yang berkelanjutan.
Siapapun yang tertarik akan meningkatkan peranan dan pemanfaatan
pemuliaan ternak harus mulai dengan mendalami dasar dan prinsip teori
genetika terapan dan melanjutkan dengan penelitian serta penerapan hasil
penelitiannya (Adjisoedarmo, 1977 –1991)
Peranan Pemuliaan Ternak
Dua tugas atau peran utama pemuliaan ternak di bidang genetika adalah
untuk mengetahui kemampuan genetik ternak dengan menggunakan catatan
produksi. Kedua, meningkatkan potensi efisiensi gunakan seleksi dan sistem
perkawinan. Peran tersebut tidak akan dapat berjalan sendirinya tanpa di
17
dahului atau secara bersamaan usaha perbaikan faktor lingkungan di tempat
ternak dipelihara.
Peranan yang menonjol pemuliaan ternak dalam penyusunan kombinasi
genetik adalah peningkatan rerata produksi populasi dan generasi ke generasi
berikutnya. Peningkatan tersebut misal berupa peningkatan produksi susu per
laktasi, kadar lemak susu, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih,
berat umur tertentu, jumlah anak sepelahiran, berat karkas, kualitas daging,
berat wol, diameter wol, ketebalan lemak, produksi telur, daya tetas serta
ketahanan terhadap penyakit.
Berdasar pengembangan dan penerapan pemuliaan ternak maka
peningkatan produksi ternak dilaksanakan lewat tiga strategi dan bermacam
taktik. Tiga strategi tersebut adalah peningkatan populasi, peningkatan
produksi per individu atau rataan populasi dan stratifikasi penggunaan tanah
yang meliputi ekstensifikasi, intensifikasi dan diversifikasi vertikal dan
horizontal, serta rehabili tasi. Berbagai macam taktik digunakan, antara lain
perbaikan tatalaksana, program pencatatan produksi, penggunaan perkawinan
silang, kawin tatar, penggunaan metode seleksi, teknik inseminasi buatan,
penyerempakan birahi, alih janin dan yang paling mutakhir adalah rekayasa
genetika.
Ternak di daerah tropik berbeda dengan di daerah subtropik, umumnya
berbentuk lebih kecil dan produksinya lebih rendah (Mason dan
Buvanendran, 1982). Pertanyaan yang dapat diajukan adalah - Apakah
perbedaan tersebut karena faktor iklim apakah keadaan tersebut dapat diubah
dengan pergantian ternak, atau pergantian cara pemeliharaan ?. Untuk dapat
menjawab pertanyaan tersebut maka diperlukan bantuan pemuliaan
ternak lewat penelitian dan penerapan hasilnya.
Penelitian pemuliaan ternak khususnya seleksi, pada dasarnya
mempunyai tiga tujuan. Pertama, untuk menguji teori seleksi, kedua
18
mengumpulkan data parameter genetik, respons fisiologik yang selanjutnya
digunakan untuk me nyempurnakan metode seleksi. Ketiga, digunakan untuk
membandingkan kriteria seleksi atau sistem perkawinan yang digunakan
(Adjisoedarmo, 1976; Adjisoedarmo, 1989).
Contoh penerapan hasil penelitian dari Fakultas Peternakan Unsoed
yang telah disebar luaskan penggunaannya di pedesaan adalah Kalender
Reproduski domba dan kambing (Adjisoedarmo dan Amsar , 1983).
Kalender ini sudah digunakan di 300 kelompok peternak domba dan kambing
PPWP (Program Pengembangan Wilayah Propinsi) Jawa Tengah, yang
tersebar di 145 desa, di 40 Kecamatan dan 7 Kabupaten (Demak, Jepara,
Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Grobogan) dan telah disebarkan juga di
empat kabupaten di Propinsi Bengkulu (Adjisoedarmo, 1989; Padmowiyoto,
1988). Hasil penelitian metode pengujian pejantan kambing untuk
membandingkan keunggulan genetiknya, di bawah kondisi pedesaan telah
dilaporkan (Adjisoedarmo, 1991).
Manfaat Pemuliaan Ternak
Pemanfaatan pemuliaan ternak dapat memberikan gambaran tingkat
produksi yang diperoleh. Di Amerika, pada waktu dilaporkan bahwa rata-rata
produksi susu per ekor sebesar 4500 kg per tahun, produksi tersebut ditaksir
masih berada 500 – 1000 kg di bawah kemampuan berproduksi yang dapat
dimunculkan di bawah kondisi lingkungan yang lebih baik, masih jauh dari
produksi di bawah kondisi lingkungan yang terbaik (Warwick dan Legates,
1979). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemuliaan ternak memberikan
informasi apa yang masih dapat dan perlu dilakukan untuk meningatkan
produksi.
Pemunculan kemampuan produksi secara maksimum atau tidak
bergantung pada para peternak, lembaga, organisasi dan pemerintah.
19
Keputusan yang diambil harus ditinjau dari berbagai faktor, terutama faktor
keuntungan yang akan diperoleh peternak. Kalau produksi ditingkatkan
menjadi maksimal tetapi harga pasar rendah maka akan merugikan (contoh.
kasus pembuangan susu, pemusnahan ribuan domba di Australia ).
Oleh karena itu perlu dicatat bahwa tidak akan muncul keajaiban dan
penerapan pemuliaan ternak (Warwick dkk., 1983) tetapi lebih cenderung
merupakan tampilan dan harapan dan kekecewaan (Lush, 1963). Pemuliaan
ternak dapat memberikan informasi apa yang mungkin dapat dilakukan dan
hasil yang kemungkinan besar dapat diperoleh. Hasil yang muncul di lapangan
itulah yang benar dan merupakan informasi dan materi yang dapat kita
gunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Namun demikian yang sudah
dapat dibuktikan kepastiannya adalah bahwa peningkatan genetik hasil
penerapan pemuliaan ternak tidak akan hilang selama penerapan seleksi
dan sistem perkawinan tidak dihentikan.
Metode Seleksi
Metode seleksi dan penggunaannya untuk meningkatkan produksi telah
banyak digunakan untuk ternak domba yang mungkin dapat diadopsi di
Indonesia.
Seleksi dibedakan untuk antar trah atau rumpun dan dalam bangsa.
Seleksi dalam bangsa dibedakan untuk satu karakteristik dan banyak
karakteristik. Untuk meningkatkan satu karakteristik digunakan seleksi
individu dan famili. Untuk perbaikan lebih dan satu :karakteristik digunakan
metode 1) seleksi berurutan (Tandem selection), 2) seleksi penyisihan bebas
bertingkat (Independent Culling Level) dan 3) seleksi dengan indeks
(Warwick dkk., 1983; Adjisoedarmo, 1989).
20
Sistem perkawinan
Sistem perkawinan yang paling banyak digunakan dalam penerapan
pemuliaan ternak adalah perkawinan silang. Alasan menggunakan sistem ini
ialah karena dapat digunakan untuk menghasilkan efek heterosis. Kalau efek
ini muncul maka produksi rata-rata anak akan melebihi produksi rata-rata
tetuanya. Heterosis dapat menyebabkan ternak silangan memiliki produksi 1 -
17% di atas produksi rata-rata tetuanya (Lasley, 1972). Sistem ini sudah
lama di gunakan di Indonesia sehingga sekarang kita memiliki sapi P0, domba
Sufeg, kambing PE, Jawa Randu, Kelinci Rexlok, dan hasil lain yang belum
berhasil diteliti
. Apabila perbaikan genetik telah diperoleh, masalah yang dihadapi
adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan hasil perbaikan
tersebut. Mereka yang telah meyakini peranan dan kemanfaatan pemuliaan
ternak akan meneruskan usaha perbaikan genetik karena akhirnya waktu
tenaga dan dana yang telah dikeluarkan akan diganti dengan keuntungan hasil
penjualan produksi yang makin meningkat. Beberapa contoh keberhasilan
pada ternak Domba dan Sapi diuraikan di bawah ini.
Domba
Sebagai contoh misal perkembangan peternakan domba di New
Zealand. Pada tahun 1948 mulai dilakukan penelitian menggunakan Domba
Romney New Zealand yang memiliki rataan cempe sepelahiran per tahun
1,13 ekor. Pada tahun 1972 rataan tersebut berhasil diperbaiki menjadi 1,75
ekor cempe sepelahiran per tahun (176 cempe per 100 ekor induk yg
dikawinkan ). Dilaporkan pula bahwa penerapan pemuliaan ternak
menghasilkan domba Romney New Zealand yang memiliki berat lahir rata-
rata 4.3 - 4,9 kg dan berat sapih umur 4-5 bulan adalah 25 - 30 kg untuk
kelahiran tunggal, 3,9 -4,5 kg dan 23 kg untuk cempe kelahiran ganda ( Dalton
dan Rae, 1978).
21
Domba ekor tipis di Jawa Tengah yang belum pernah merasakan
manfaat penerapan pemuliaan ternak, dibawah kondisi penelitian mampu
menghasilkan 1,6 ekor cempe per induk per kelahiran dan berat 16 - 17 kg
pada umur penyapihan 100 hari (Adjisoedarmo, 1977; Adjisoedarmo,1979).
Sapi Perah
Manfaat penerapan pemuliaan ternak di negara subtropik pada sapi
perah telah dilaporkan di Denmark, Swedia, Firlandia dan Norwegia dalam
periode 1960 - 1972. Manfaat yang diperoleh tersebut berupa kenaikan
produksi susu dan 3000 kg pada 1950 menjadi 5500 kg di tahun 1972. Hasil
ini masih jauh di atas yang dapat dicapai di Indonesia, seperti. yang
dilaporkan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sapi perah di BPT Baturaden,
Jawa Tengah, dari tahun 1979 sampai 1984 dilaporkan mencapai produksi
rata-rata per lataktasi (305 hari 2 x ME) 2492 - 2945 liter atau 8 -9,7 liter
per hari (Anonimus, 1984).
Hasil penggunaan frozen semen pejantan yang telah diuji dengan uji
keturunan dilaporkan dapat menghasilkan induk bibit yang berproduksi di atas
4000-liter per laktasi di daerah Jawa Barat (Anonimus,1986). Hasil ini
memberikan petunjuk bahwa IB merupakan tehnik untuk menyebarkan mutu
genetik unggul. Sedangkan mutu genetik yang unggul tersebut diwariskan
sehingga keturunan pejantan tersebut memiliki mutu genetik rata-rata lebih
tinggi dibanding sebelum penggunaan pejantan unggul tersebut.
Penerapan seleksi dan sistem perkawinan untuk ternak ruminansia di
daerah tropik telah diuraikan oleh Mason dan Buvanendran (1982) dan
diterbitkan oleh FAO. Penerapan ini meliputi untuk ternak sapi perah, potong,
domba dan kambing. Secara teoritik kenaikan produksi susu dapat dinaikkan
sebesar dua persen per tahun.
22
Sapi Pedaging
Contoh manfaat penerapan pemuliaan ternak pada sapi pedaging telah
diuraikan oleh Adjisoedarmo (1976). Seleksi untuk sapi potong mempunyai
dua tujuan pokok. Pertama memilih pejantan untuk menghasilkan keturunan
yang langsung dijual atau dipotong dan kedua memilih pejantan untuk
menghasilkan keturunan yang akan dipakai sebagai bibit. Untuk tujuan
pertama peningkatan mutu genetik didasarkan pada laju pertumbuhan harian
rata-rata (0,3 - 1 k~ per ban).
Jenjang keunggulan trah sapi (diantara 280 trah sapi di dunia), berdasar
kriteria pertambahan berat badan dan penggunaannya dalam perkawinan
silang telah dilaporkan Preston (1973), berturut-turut, dari tinggi ke rendah,
Charolais, Simmental, German Gelbief. Rogrnanola, Marchigiana, Chianina,
Lomousin, Blond d’aquitame, Mame Anjou, Brown Swiss, Friesien, South
Devon, Santa Gretudis, Danish Red, Devon, Brahman, Hereford, Angus,
Shorton.
Pemerintah Indonesia mulai Pelita II telah berketetapan mengadakan
kawin tatar dengan American Brahaman. Didukung dengan pengembangan
teknik IB, maka hasilnya telah dapat dirasakan terutama oleh peternak di
Jawa Tengah. Angka tinggi domba, lingkar dada dan panjang badan pedet
hasil persilangan P0 dengan American Brahman, yang dilaporkan Munadi
(1975) dan Kabupaten Rembang dengan mudah sekarang dapat dilampaui
(Adjisoedarmo, 1990a).
Produktifitas sapi Ongole dan persilangannya telah dilaporkan Hardjo
subroto (1988). Dilaporkan bahwa pertambahan berat harian Brahman x P0
dan Ongole x P0 pada tingkat pra sapih adalah 0,64 kg/hr dan 0,62 kg/hr
sedangkan pada lepas sapih 0,25 kg dan 0,25 kg/hr.
Gambaran mengenai mutu genetik sapi Bali telah dilaporkan oleh
Martoyo (1988). Dilaporkan bahwa dalam segi ketahanan penyakit khas sapi
23
Bali diperkirakan terdapat perbedaan genetik yang cukup besar. Peningkatan
mutu genetik serta pelestarian sapi Bali perlu mendapat perhatian terus-
menerus.
Keberhasilan penerapan pemuliaan juga dapat diukur dengan munculnya trah
ternak, sapi perah, sapi pedaging, domba, babi dan ayam ras serta kelinci.
Trah tertentu tersebut mampu beradaptasi di bawah kondisi lingkungan
tertentu baik iklim sub tropik dan tropik serta mampu berproduksi secara
efisien. Trah Sapi perah yang terkenal antara lain Friesien, Jersey, Australian
Milking Zebu dll; trah sapi pedaging antara lain Angus, Heford, Simental,
Charolais, Brahman; seratus lebih trah domba, berpuluh trah babi, dan kelinci.
Trah unggul dan baru dari negeri asalnya kemudian disebar luaskan ke
negara-negera yang berusaha membangun peternakan dengan penggunakan
materi genetik import. Importasi dapat berupa ternak atau berupa mani
beku, atau embrio beku.
Dalam buku ajar yang ditulis Rice tahun 1926 dinyatakan bahwa
Breeding is an art to be leamed only by practice, but knowledge of principles
supplies the only firm foundation for its practice. Superior animals will be
more numerous when breeders know why as well as how” ( Warwick dan
Legates, 1979).
Berdasar uraian tersebut maka peran pemuliaan ternak dalam
pembangunan peternakan merupakan peran yang mendasar, karena
menyangkut sumber genetik dan pewarisan, perbaikannya, penyebarannya,
pengukuran hasilnya, dan pengujian hasilnya. Apabila peran tersebut berjalan
dengan sempurna maka pengujian ternak akan memberi mánfaat berupa
produk ternak yang berkualitas seperti yang dipersyaratkan manusia sesuai
dengan perkembangan kualitas hidupnya dan juga berkecukupan dalam
jumlahnya. Secara sederhana pemuliaan ternak akan memberi manfaat dalam
bentuk meningkatkan gizi manusia khususnya protein hewani.
24
Banyak bukti telah dilaporkan bahwa dengan pemuliaan ternak maka
produk ternak dapat dilipat gandakan. Warwick dan Legate (1982)
melaporkan
bahwa produksi susu dapat dilipat duakan, produksi daging ditingkatkan 50%,
produksi wol lipat empat kali.
Pembangunan Peternakan
Dalam uraian dan rumusan landasan, arah, tujuan dan sasaran
pembangunan peternakan, tidak diperoleh informasi yang cukup rinci
mengenai peranan pemuliaan ternak. Namun demikian secara jelas telah
direncanakan bahwa dalam arahan GBHN 1988 pembangunan peternakan juga
dilaksanakan dengan peningkatan populasi dan peningkatan mutu genetik.
Untuk peningkatan mutu genetik diperlukan peningkatan peranan dan
penerapan pemulian ternak.
Kebijakan Pembangunan Peternakan (Pelita VII)
Kebijakan pembangunan peternakan tidak lepas dari pembangunan
pertanian dan merupakan bagian integral dari pembangunan Nasional.
Peternakan Rakyat masih akan menjadi tulang punggung dan basis
peningkatan produksi komoditi peternakan. Sistem usaha tani akan bergeser
dari sistem pastoral (tradisional) ke semi intensif, sesuai dengan tuntutan
pasar, oleh karena itu harus berkembang ke arah industrialized livestock
production system.
Pokok-pokok pikiran aspek kebijakan umum dan operasional
(Soedjasmiran, 1997. Seminar Kajian kebijaksanaan Pembangunan
Peternakan. Cisarua-Bogor, 24 Maret 1997)
Pengertian
25
Pembangunan peternakan bermakna pengembangan usahatani
peternakan untuk menghasilkan produk yang diperlukan pasar.
Bentuk usahatani, pelaksana dan peranan masing- masing
Usahatani peternakan berbentuk sebagai usaha peternakan rakyat dan
perusahaan peternakan.
(1) Peternakan rakyat adalah usahatani dengan skala usaha yang dapat
dikelola oleh petani ternak dengan tenaga kerja di lingkungan keluarganya
(usaha keluarga). Informasi yang telah dilaporkan sebagai berikut.
1. • Sapi potong (95%) 2.976.000 Rumah Tangga Peternak
2. • Sapi perah (98%)
3. • Kerbau (100%) 98.000
4. • Kambing (100%)
5. • Domba (100%) 489.000
6. • Babi (80%)
7. • Kuda (90%) 397.000
8. • Ayam Buras (100%)
9. • Ayam Ras (75%) 184.000
10. • Itik (100%)
633.000
1993)
73.000
430.000
39.000
285.000 (Sensus Pertanian,
(2) Perusahaan peternakan. Sapi potong (Feedlotters dan Ranchers),
Sapi perah, Perusahaan susu (daerah sekitar kota), Perusahaan babi di
beberapa wilayah (a.l. pulau Bulan) dan Perusahaan ayam ras, pedaging
,petelur , pembibit.
Untuk optimalisasi potensi serta dalam rangka pelaksanaan
kebijaksanaan (budidaya seyogyanya ditangan peternak kecil), maka
dikembangkan pola kemitraan usaha antara peternak kecil dengan peternak
besar / perusahaan peternakan.
26
Usahatani peternakan rakyat umumnya merupakan bagian dan usahatani
tanaman pangan, bermaksud mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk
memaksimumkan penerimaan atau meminimkan resiko
Berbagai penelitian dan observasi empiris mengungkapkan, bahwa pada
perubahan / dinamika sistem usahatani terjadi pula perubahan pangsa
penggunaan sumberdaya dasar peternakan: lahan, tenaga kerja dan modal
Sistem usahatani peternakan dalam kaitan dengan penggunaan
sumberdaya dasar - lahan, tenaga kerja dan modal - dapat dikelompokkan
sebagai berikut
1. Usahatani tradisional ( Pastoral System)
sangat mengandalkan lahan sebagai basis produksi (lebih land-base)
dengan sedikit tenaga kerja (keluarga)
modal minimal
2. Usahatani menengah -semi komersial (semi intensif-mixed system)
lebih bersifat intensif
dengan lahan yang lebih sempit
tenaga kerja terampil (keluarga ,kadang-kadang + tenaga kerja
upahan)
pemanfaatan modal yang lebih kompetitif
3. Usahatani yang berbasis dan berorientasi pasar (Industrialized
system)
sangat mengandalkan kekuatan modal untuk memanfaatkan
lahan yang sangat terbatas
tenaga kerja profesional
mengharapkan keuntungan maksimal
Di negara yang peternakannya telah jauh berkembang, hasil yang
diperoleh telah dilaporkan merupakan hasil yang didukung penelitian,
pengembangan dan penerapan hasil-hasil penelitian di bidang pemuliaan
ternak (Adjisoedarmo, 1989). Penerapan pemuliaan ternak umumnya berupa
penggunaan metode seleksi dan sistem perkawinan yang tepat untuk
27
komoditi ternak yang dikembangkan. Di pihak lain peningkatan produksi
tersebut dapat dicapai karena dengan penerapan pemuliaan ternak dihasilkan
pula ternak unggul yang memiliki kemampuan berproduksi yang disesuaikan
dengan tujuan usaha peternakan di suatu daerah atau di bawah pengaruh
faktor lingkungan tertentu.
Perkembangan teknologi di bidang peternakan yang berupa inseminasi
buatan dan alih janin memungkinkan penyebaran materi genetik unggul dan
ternak jantan dan betina berjalan cepat. Peningkatan peranan dan penerapan
pemuliaan ternak tersebut menyebabkan negara maju dapat menghasilkan
ternak unggul dan trah unggul yang selanjutnya dipasarkan dengan harga
tinggi di negara berkembang termasuk Indonesia (termasuk memasarkan
kelemahan ternak tersebut).
Berdasar laporan di atas berarti masih terbuka peluang yang sangat luas
untuk usaha meningkatkan produksi ternak baik yang berupa daging, telur
dan susu. Usaha peningkatan produksi pada dasarnya dapat lewat
perbaikan tata laksana dan program pemuliaan ternak yakni peningkatan mutu
genetik (Adjisoedarmo, 1977-1989). peningkatan mutu genetik
dilaksanakan dengan penggunaan sistem perkawinan dan seleksi. Sebelum
program peningkatan mutu genetik dilaksanakan maka prasyaratnya harus
dilaksanakan ialah program pencatatan produksi.
Produksi suatu ternak juga sering disebut performans, adalah
pemunculan pengaruh efek gen terhadap karakteristik kuantitatif di bawah
pengaruh faktor lingkungan tertentu. Ternak (Sapi, Kerbau, Kambing, Domba,
Babi, Kelinci) dan unggas memiliki karakteristik kuantitatif dengan Relative
Economic Value (REV) yang berbeda. REV tersebut adalah jumlah
keuntungan bersih (rupiah) yang akan diterima kalau karakteristik dinaikkan
satu unit pengukuran lewat seleksi. Sebagai contoh berat sapih REV-nya
28
2000, artinya kalau berat sapih dinaikkan satu kilogram maka petani akan
mendapat tambahan keuntungan bersih sebesar 2000 rupiah.
Contoh lain, produksi susu dalam satuan liter di Indonesia memiliki REV
lebih tinggi dari produksi susu dalam satuan berat lemak susu, demikian
karena di Indonesia susu dijual dalam satuan liter bukan kg lemak susu. Makin
tinggi REV suatu karakteristik makin besar peluang karakteristik tersebut
untuk di perbaiki karena adanya jaminan keuntungan bagi peternak.
Dalam suatu populasi maka produksi individu akan berbeda karena
adanya perbedaan pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Apabila jumlah
ternak sedikit maka peternak dengan mudah dapat mengingat dan
membedakan ternak mana yang berproduksi tinggi dan rendah. keadaan akan
berbeda apabila ternak makin banyak sedang produksi yang dicatat makin
sering misalnya produksi susu dan telur maka peternak tidak mungkin lagi
untuk mengingatnya.
Dalam keadaan seperti itu pencatatan produksi perlu dilaksanakan.
Program pencatatan produksi bukan program peningkatan mutu genetik
tetapi merupakan persyaratan yang harus ada. Pemanfaatan sistem komputer
akan meningkatkan kemanfaatan program pencatatan produksi.
Pemanfaatan Sistem Komputer di Bidang Pemuliaan Ternak
Komputer adalah suatu alat elektronik, batasan lebih lengkap yang
diberikan oleh Malone (1983) adalah -Computers are automatic electronic
machme that solves complicated problems with great speed in just one
second, computers can do a million logical operations-.
Pada 1642 Blaise Pascal membuat mechanical computer yang pertama,
pada 1882 diciptakan cash register, pada tahun 1940 mulai dikembangkan
Electronic Computer, - yang dibuat pertama kali oleh Eckert dan Mauchley
29
(Anonimus, 1974). Pada waktu itu kemudian dikembangkan cabang ilmu baru
yang disebut Electronic Data Processing, EDP (Malone, 1983).
Komputer pada 1950 sudah menggunakan transistor dan IC (Integrated
Circuit) sehingga komputer dapat bekerja lebih cepat. Komputer modern
dapat menghitung dengan kecepatan ¼ kecepatan cahaya (299728
km/detik). Komputer dapat mengerjakan pekerjaan dalam satu jam sebanding
yang dikerjakan oleh ribuan sarjana dalam seumur hidupnya.
Komputer itu bodoh tidak dapat berfikir, dapat mengerjakan sesuatu
setelah diberi tahu, kapan mengerjakannya dan bagaimana cara
mengerjakannya. Kumpulan perintah yang dapat memberi tahu tersebut
disebut program atau software. Komputer dapat dinyalakan tetapi tanpa
program tidak dapat bekerja.
Perangkat keras komputer terdiri dan mesin, kawat, chip silicon, dan
bagian lain dalam komputer. Berbagai macam komputer yang dibuat
kemampuan kerjanya berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada kemampuan
menyimpan data dan kecepatan bekerja. Pada masa sekarang telah dikenal
komputer mikro, mini, midi, besar dan super besar. Pembagian menurut
generasinya dikenal: 1) generasi pertama, 2) kedua, dan 3) ketiga. Makin
tiriggi generasinya makin kecil ukurannya ( Widodo, 1984).
Segala macam data dapat digunakan sebagai masukan. Data masukan
dapat dimasukkan dengan berbagai cara, menggunakan piranti masukan,
berupa keyboard, mouse atau bentuk lain. Data masukan selanjutnya oleh
komputer diubah menjadi bahasa mesin komputer. Setelah komputer
diperintah untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan maka data masukan akan
diproses sesuai dengan perintah. Hasil yang diperoleh kemudian akan
disimpan atau dicetak tergantung perintah pemakai komputer. Hasil dapat
ditampilkan pada layar monitor atau diketik pada mesin cetak.
30
Program komputer ditulis menggunakan bahasa program, contohnya
FORTRAN, PASCAL dan BASIC. Penulisan progam harus menurut aturan
khusus bahasa program yang digunakan. Pembuatan program umumnya
bertujuan untuk memecahkan persoalan.
Pemecahan persoalan dengan bantuan komputer dilaksanakan dalam
beberapa tahap, 1) memformulasikan persoalan secara rinci, 2) menyusun
metode penyelesaian persoalan secara bertahap (algorithma), 3) menyusun
peta alir, atau peta penyelesaian secara grafik dan terakhir 4) menterjemahkan
dalam bahasa program (Djojodiharjo, 1983).
Pemanfaatan sistem komputer dapat menggunakan herbagai macam
bahasa program yakni, bahasa mesin, bahasa assembler dan bahasa kompailer.
Bahasa mesin adalah bahasa yang primitif, instruksi ditulis dengan
menggunakan tanda numerik. Bahasa mesin dimengerti oleh komputer tanpa
perlu diterjemahkan lebih dahulu. Bahasa assembler ditulis menggunakan
abjad dan tanda numerik, komputer mengerti setelah diterjemahkan ke dalam
bahasa mesin. Bahasa kompailer ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris,
dikombinasikan dengan titik koma dan operator matematik. Contoh bahasa
kompailer adalah FORTRAN, COBOL, ALGOL, PASCAL dan BASIC.
Komputer harus menterjemahkan lebih dahulu ke bahasa mesin untuk
mengerti bahasa kompailer (Djojodihardjo, 1984).
Uraian singkat tersebut memberikan informasi bahwa sistem komputer dapat
dimanfaatkan juga untuk memecahkan persoalan di bidang pemuliaan ternak.
Pemanfaatan sistem komputer di Amerika untuk bidang pertanian,
secara nasional, mulai dikembangkan pada tahun 1970 oleh dua orang
profesor dari Universitas Nebraska, sistem tersebut dikenal dengan nama
AGNET (Agriculture Computer Network). AGNET merupakan alat
manajemen untuk pertanian, diciptakan untuk keperluan petani dan peternak.
AGNET memiliki jaringan sampai ke Pusat Penyuluhan Pertanian di country.
31
Staf kantor tersebut dilatih mengoperasikan terminal yang dikontrol dari pusat
AGNET di Negara Bagian. AGNET merupakan service-oriented
computer center. Pada tahun 1983 dilaporkan memiliki 200 macam program
untuk membantu membuat keputusan menejerial yang lebih baik untuk
peningkatan manajemen finansial. Pada waktu itu diramalkan bahwa yang
memanfaatkan sistem komputer akan dapat mempertahankan
keuntungannya sampai tahun 1990.
Pemanfaatan sistem komputer melalui AGNET terutama untuk 1)
Busmess Accountirig, 2) Herd Performance Reportirig, 3) Financial
Management. Paket Program kelompok Livestock Production Models yang
disediakan AGNET antara lain, BEEF (simulasi analisis ekonomi),
COWCULL ( culling sapi perah), WEAN (uji kemampuan produksi berat
sapih), CROSSBREED (evaluasi hasil persilangan), COWGAME (
simulasi genetik) (Hughes, 1983).
Penggunaan komputer dalam genetika dan pemuliaan ternak dapat
dikelompokkan dalam empat kategori yaitu yang pertama untuk penyusunan
rancangan penelitian sehingga diperoleh alternatif pencapaian tujuan, kedua
untuk analisis data, ketiga untuk pemecahan masalah dalam formulasi
matematik dan akhirnya yang keempat untuk simulasi model biologik
(Secheinberg, 1968).
Selain itu adalah penggunaan dalam kaitannya dengan pengkajian
seleksi yakni untuk tujuan penyelesaian masalah yang kompleks dan realistik
mengenai pewarisan kuantitatif (Robertson, 1980). Sebagai contohnya adalah
bahwa perhitungan indeks dapat dibantu dengan penggunaan program
komputer yang disebut SELIND (Cuningham, 1970).
European Association for Animal Production (EEAP) telah melaporkan
pemanfaatan sistem komputer dalam program pencatatan produksi di dua
puluh
32
negara Eropa. Di dua belas negara diantaranya (Bulgaria, Cekoslowakia,
Irlandia, Perancis, Finlandia, Inggris, Hunggaria, Islandia, Norwegia,
Swedia, Spanyol dan Switserlandia) komputerisasi program pencatatan
produksi dimanfaatkan untuk seleksi.
Program pencatatan produksi pada dasarnya adalah kegiatan rutin
mencatat produksi. Pencatatan ini dilakukan menurut aturan tertentu. Aturan
tersebut mengatur macam produksi yang harus dicatat, cara mencatat, waktu
mencatat, blangko pencatatan dan pemanfaatan catatan produksi tersebut.
Program pencatatan produksi merupakan kegiatan penting dalam penyediaan
informasi untuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan efisiensi
dan keuntungan usaha. Selain itu informasi tersebut juga sangat diperlukan
untuk melaksanakan seleksi.
Simulasi pada akhir-akhir ini makin meningkat kegunaannya dalam
pengembangan model di bidang pemuliaan ternak. Peningkatan ini mungkin
disebabkan karena penyediaan sistem komputer makin mudah dan murah
sedangkan kebutuhan pemecahan masalah dengan model semakin
dibutuhkan, sehingga hasil simulasi makin banyak dilaporkan. Beberapa
contoh hasil simulasi, untuk seleksi unggas dilaporkan Astuti (1978)-, untuk
domba oleh Blackburn dan Cartwrigt (1987), untuk mengevaluasi hasil
perkawinan silang pada ternak babi oleh NcLaren dkk., (1987), untuk seleksi
domba di Indonesia
khususnya di Jawa Tengah oleh Adjisoedarmo (1989), untuk menaksir
variansi genetik oleh Werf dan Hoer (1990).
Berdasar perkembangan sistem komputer dan pemanfaatannya di bidang
pemuliaan ternak, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan tersebut umumnya
ditujukan untuk peningkatkan efisiensi reproduksi dan produksi. Peningkatan
itu disebabkan karena pengambilan keputusan yang lebih cermat dan tepat.
33
Kecermatan dan ketepatan pengambilan. keputusan disebabkan karena
informasi yang benar telah direkam dalam komputer. Informasi yang direkam
pada umumnya adalah produksi ternak misal produksi susu, kadar lemak
susu, berat lahir, pertambahan berat badan, dan berat sapih. Oleh karena itu
pemanfaatan sistem komputer yang paling awal umumnya dalam program
pencatatan produksi.
Peluang Pemanfaatan Sistem Komputer Di Indonesia
Di bawah ini akan diuraikan secara singkat langkah awal yang
disiapkan penulis dalam pemanfaatan sistem komputer untuk peningkatan
produksi susu sapi perah di Indonesia.
Dasar Pemikiran
Apabila jumlah ternak yang dilibatkan makin banyak, khususnya sapi
perah, maka produksi sapi yang dicatat makin banyak, frekuensi pencatatan
makin meningkat. Akibat lainnya ialah makin banyak pula pengaruh faktor
lingkungan terlibat, misal umur yang berbeda jumlah hari pemerahan yang
berbeda, ransum yang berbeda. Akibatnya makin rumit pula cara penaksiran
efeknya. Persoalan tersebut dapat dipecahkan dengan pemanfaatan sistem
komputer untuk pembuatan program untuk koreksi produksi terhadap
pengaruh lingkungan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaporkan khususnya tentang
koreksi produksi susu sapi perah, penulis berpendapat bahwa proses koreksi
produksi susu di Indonesia pada waktu sekarang sudah seharusnya dimulai
dengan bantuan komputer. Oleh karena itu maka telah dibuat oleh penulis
paket program komputer dengan menggunakan bahasa FORTRAN 77,
diberi nama KOREKSI. Paket tersebut mulai diinformasikan pada bulan
November 1990 pada Seminar
34
Peningkatan Efisiensi. Usaha Peternakan Sapi perah di Malang, Jawa
Timur dan bentuk gagasan atau model Menuju Komputerisasi Pencatatan
Produksi sapi Perah di Indonesia (Adjisoedarmo, 1991). uji coba program ini
telah dimulai di BPT Baturaden, Purwokerto. Langkah selanjutnya uji coba
program dilanjutkan di tingkat Kabupaten. Hasil uji coba kemudian akan
dikembangkan lebih lanjut bekerja sama dengan AHI (Asosiasi Holstein
Indonesia) dan Laboratorium Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Gajah Mada dan IPB. Hasil kerja sama tersebut digunakan untuk
penyempurnaan program sehingga dapat dipakai di tingkat Kecamatan,
Desa dan Kelompok Peternak Sapi Perah. Tujuan akhir adalah pembuatan
program untuk tingkat Propinsi sehingga program dapat digunakan di Seluruh
Indonesia.
Blangko pencatat produksi yang sederhana telah disiapkan untuk
mempermudah para peternak mencatat produksi susu di tingkat kelompok
peternak. Penggunaan model ini memungkinkan pencatatan produksi tidak
perlu dilakukan setiap hari tetapi cukup satu bulan sekali. Blangko ini sudah
dicoba digunakan oleh mahasiswa PTUP/D3 Fapet Unsoed dan hasilnya telah
dilaporkan oleh Adjisoedarmo (1987.). Hasil pencatatan tersebut kemudian
dijadikan data masukan untuk program KOREKSI. Progam secara otomatis
mengoreksi data tersebut terhadap umur dan jumlah hari pemerahan yang
berbeda. Akhirnya progam akan menampilkan tabel jenjang taksiran
kemampuan genetik sapi perah. hasil dan program ini selanjutnya digunakan
untuk menetapkan sapi yang akan tetap dipertahankan dan yang akan
dikeluarkan untuk peningkatan efisiensi produksi dan perusahaan.
Pemanfaatan sistem komputer membutuhkan tenaga trampil dalam
pengoperasian komputer. Pemenuhan tenaga tersebut di BPT Baturaden akan
dilaksanakan melalui kerja sama dengan Fapet Unsoed khususnya
Laboratorium Pemuliaan Ternak, sedangkan untuk peningkatan pemanfaatan
35
sistem komputer di bidang pemuliaan ternak seorang staf Lab., Ir. Bambang
Purnomo SU mulai tanggal 3 sampai 31 Maret 1991 mengikuti kursus
komputer khusus untuk genetika dan pemuliaan ternak di IPB Bogor.
Demikianlah secara ringkas telah diuraikan peran dan manfaat
pemuliaan ternak serta pemanfaatan sistem komputer dilengkapi dengan
gagasan Menuju Komputerisasi Pencatatan Produksi Sapi Perah di
Indonesia.
Harapan untuk Masa Depan
Pengembangan penelitian dan penerapan pemuliaan ternak diharapakan
dapat membantu mempercepat swasembada pangan khususnya kebutuhan
akan protein hewani. Harapan ini akan dapat dicapai apabila dan penerapan
pemuliaan ternak dapat diciptakan trah atau rumpun unggul lokal. Trah
tersebut diharapkan akan mampu beradaptasi dengan lingkungan pedesaan
Indonesia khususnya kondisi pakan ternak dan kesehatan ternak.
Pemerintah, pihak swasta dan atau lembaga yang menangani
peternakan, juga perorangan tidak perlu lagi menyangsikan kemanfaatan dan
peranan pemuliaan ternak. Bukti telah banyak diberikan bahkan pemerintah
Indonesia Juga telah membeli hasil penerapan pemuliaan ternak dengan
pemanfaatan sistem komputer diharapkan akan lebih mempercepat dalam
mencapai tujuan. Hasil yang ingin dicapai atau apa yang mungkin diperoleh
dapat ditaksir, dapat pula diciptakan model yang digunakan untuk menguji
teori baru yang dikembangkan khususnya dalam rekayasa genetika.
Selanjutnya pemanfaatkan komputer diharapkan dapat membantu penerapan
pemuliaan ternak lebih cermat. Khusus untuk Sapi Perah, Munuju
Komputerisasi Pencatatan Produksi. Sehingga akhirnya efisiensi usaha
peternakan dan keuntungan yang diperoleh serta kesejahteraan peternak dapat
dinaikkan.
36
37