The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2021-06-02 10:00:10

BABA I PENDAHULUAN_37

BABA I PENDAHULUAN_37

BUKU AJAR
PEMULIAAN TERNAK

UNTUK
PROGRAM STUDI S1
FAKULTAS PETERNAKAN

(BERFORMAT FLIP_BOOK_PDF)

BAB I PENDAHULUAN

OLEH
SOEDITO ADJISOEDARMO
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

PRAKATA

Buku Ajar Pemuliaan Ternak, unt2uk0p1ro2gramtudi S1 Fakultas Peternakan adalah

edisi Lecturenote yang ditulis Soedito Adjisoedarmo tahun 2001. Sesuai dengan

5

perkembangan proses pembelajaran yang berbasis Multimedia maka, Buku Ajar
Pemuliaan Ternak edisi 2012 disajikan dengan format Flip_Book_Pdf
Diharapkan dengan format Flip_Book Mahasiswa dan atau pembaca yang
berminat akan lebih dimudahkan dan nyaman menggunakannya.
Bagai pengajar yang menggunakaanya sebagai Acuan, dengan format
Flip_Book_Pdf, teks dapat dibersarkan seseuai dengan kebutuhan.
Selamat memanfaatkan ( ingat password yang dibutuhkan : 23123709)

Purwokerto , September 2012
Penulis
tt

soedito adjisoedarmo

6

7

8

9

10

11

12

BAB I
PENDAHULUAN

Sejalan dengan tingkat kemajuan pembangunan maka kebutuhan

manusia terus meningkat. Pemenuhan kebutuhan pangan meliputi karbohidrat,

lemak, protein, mineral, vitamin dan hormon. Penelitian dan penerapan

hasil penelitian di berbagai bidang ilmu dan teknologi terus diupayakan dan

dikembangkan agar pemenuhan kebutuhan terwujud.

Di pihak lain manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya

berusaha memanfaatkan segala sistem yang ada di sekitarnya. Salah satu

sistem yang sangat penting adalah Sistem Bio-Sosio-Ekonomi yang

bernama peternakan. Sistem ini sangat penting karena menghasilkan bahan

pangan manusia yang bergizi tinggi, yaitu protein hewani. Oleh karena itu

melalui peternakan manusia tidak henti-hentinya mengusahakan peningkatan

produksi ternak yang berupa protein hewani, baik berupa daging, susu dan

telur. Usaha-usaha tersebut antara lain melalui penerapan ilmu dan teknologi

beternak yang disebut pemuliaan ternak. Setelah komputer diciptakan maka

perkembangan dan penerapan pemuliaan ternak makin maju dengan pesat.

Komputer adalah suatu alat elektronika yang dikembangkan untuk

membantu menyelesaikan pekerjaan dan memecahkan persoalan yang

dihadapi oleh manusia dalam mencoba mengikuti perkembangan, kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer mempunyai bagian utama

perangkat keras dan perangkat lunak yang berupa paket program, namun

yang paling penting adalah ketrampilan manusia, pemakai komputer tersebut.

Karena alat ciptaan manusia maka komputer dibuat sedemikian rupa

sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia

yang makin lama semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Oleh karena itu komputer harus dapat memenuhi syarat dari sudut
kemampuan menyelesaikan pekerjaan ditinjau dari kuantitas dan kualitasnya.

Pemanfaatan sistem komputer di berbagai bidang kehidupan manusia
sudah sejak lama dimulai. Pemanfaatan tersebut antara lain untuk,
memecahkan masalah, analisis data dan simulasi. Khusus di bidang pemuliaan
ternak manfaatan komputer di gunakan dalam program pencatatan produksi,
penaksir hasil seleksi, analisis data untuk penaksiran parameter genetik untuk
tujuan peningkatan produksi melalui peningkatan mutu genetik.

Bab Pendahuluan akan disampaikan dengan sistematik, 1) Peranan
dan Pemanfaatan Pemuliaan Ternak; 2) Pemanfaatan Sistem Komputer di
bidang Pemuliaan Ternak; 3) Harapan untuk Masa Depan.

Peranan dan Manfaat Pemuliaan Ternak

Sejarah Singkat Perkembangan Pemuliaan Ternak

Dalam berbagai kepustakaan dapat ditelusuri bahwa pemuliaan ternak

dikembangkan mulai tahun 1760 dan dilaksanakan oleh Robert Bakewell di

Inggris. Pengembangan dimulai dengan ternak kuda, domba dan sapi.

Keberhasilannya terletak pada tiga hal, yaitu pertama, dia telah menetapkan

sasaran yang dia inginkan misal mendapatkan sapi potong yang berbentuk

pendek dan cepat dewasa yang waktu itu belum ada. Kedua, dia tidak menjual

ternak jantan tetapi meminjamkannya kepada peternak lain dan peminjam

mengembalikannya apabila pejantan tersebut mewariskan mutu genetik yang

baik. Ketiga, membiakkan ternak yang baik dengan yang baik, tanpa

menghiraukan hubungan kekerabatan yang ada. Sebagai akibatnya sering

dilak-sanakan perkawinan silang dalam yakni perkawinan antar saudara.

Silang dalam tersebut mengarah dihasilkannya trah yang relatif murni,

meskipun tanpa diikuti pencatatan.

14

Metode Backewell ditiru secara luas dan mulai ditetapkan syarat-syarat
trah. Trah yang relatip murni tersebut dibawa ke Amerika, kemudian
dibiakkan murni dan disilangkan dengan rumpun lokal.

Asosiasi trah mulai dibentuk pada periode 1870 - 1900, mempunyai
andil besar dalam pengembangan pemuliaan ternak atau perbaikan genetik
ternak. Periode ini ditandai dengan pengembangan buku registrasi untuk
menjamin kemurnian trah diikuti dengan semangat kompetitif oleh berbagai
asosiasi trah. Terjadilah penyisihan ternak berdasar kemurnian trah sesuai
dengan syarat yang ditetapkan oleh asosiasi meskipun belum berdasar
pada keunggulan genetik. Namun tetap diakui bahwa sumbangan asosiasi
tersebut sangat besar terhadap perkembangan peternakan di Amerika.

Periode setelah asosiasi trah adalah pengembangan inseminasi buatan
(IB). Spallanzani pada tahun 1780 melaksanakan IB pada anjing, kemudian
pada 1899 di Rusia dikembangkan pada ternak dan mulai 1930 di coba di
Eropa. Inseminasi buatan pada sapi perah di mulai 1938 oleh Perry di New
Jersey Dairy Extension Service. Ide lB menyebar ibarat seganas api dan
banyak dibentuk organisasi atau kelompok IB (Warwick dan Legates, 1979)

Periode setelah 1971 keberhasilan IB mulai dilaporkan oleh
Departemen Pertanian Amerika. Dilaporkan bahwa IB telah digunakan pada
8643.089 ekor sapi, 3620 pejantan digunakan untuk menginseminasi rata-rata
3620 ekor sapi betina (7 juta lebih sapi perah dan 1 juta lebih sapi pedaging).
Pada tahun 1971 penggunaan semen beku mulai didaftar. Sampai 1987
Program lB telah dilaporkan dapat membantu meningkatkan efektivitas
penerapan pemuliaan ternak dengan seleksi dan sistem perkawinan.
Pengertian Pemuliaan Ternak

Berdasar denotasi dan konotasi ilmu, pemuliaan ternak adalah suatu
cabang ilmu biologi, genetika terapan dan metode untuk peningkatan atau
perbaikan genetik ternak. Pemuliaan ternak diartikan sebagai suatu teknologi

15

beternak yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik. Mutu genetik
adalah kemampuan warisan yang berasal dari tetua dan moyang individu.
Kemampuan ini akan dimunculkan setelah bekerja sama dengan pengaruh
faktor lingkungan di tempat ternak tersebut dipelihara.

Pemunculannya disebut performans atau sehari-hari disebut sebagai
produksi dan reproduksi ternak, contohnya antara lain produksi susu, telur,
daging, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih dan jumlah anak
sepelahiran.

Kemampuan genetik ternak, dapat juga disebut kemampuan
bereproduksi dan berproduksi, tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditaksir.
Prinsip dasar pemuliaan ternak mengajarkan bahwa kemampuan genetik di
wariskan dari tetua ke anak, secara acak. Diartikan bahwa tidak ada dua anak,
apa lagi lebih yang memiliki kemampuan yang persis sama kecuali pada kasus
monozygote identical twin (dua anak berasal dari satu sel telur). Kemampuan
tersebut selanjutnya akan dimunculkan dalam bentuk produksi yang terukur di
bawah faktor lingkungan yang tertentu.

Kemampuan genetik tersebut secara sederhana dapat digambarkan
sebagai lingkaran kecil yang terletak di dalam lingkaran yang lebih besar.
Lingkaran yang lebih besar adalah gambaran pemunculan kemampuan genetik
di bawah lingkungan seluas daerah antara dua lingkaran tersebut. Apabila
lingkaran lingkungan kita perbesar pemunculan kemampuan genetik tidak
akan dapat melampaui batas lingkaran besar. Hal ini disebabkan pemunculan
kemampuan genetik itu ada batasnya, yang dikontrol oleh banyak faktor.
Setiap individu memiliki gambaran lingkaran kecil dan besar yang berbeda.
Kalau faktor kontrol tersebut tidak ada maka seekor kelinci akan dapat
dibesarkan menjadi seekor sapi. Tidak demikian yang dimaksud dengan
kemampuan genetik. Kalau lingkaran lingkaràn kita kecilkan, maka
pemunculan kemampuan genetik akan ikut mengecil.

16

Pada penerapan pemuliaan ternak hal yang pertama dikatakan
pemborosan sedang peristiwa kedua dikatakan kebodohan. Masalah yang
dihadapi dalam penerapan pemuliaan ternak, bagaimana dapat mengurangi
pemborosan dan tidak menjalankan kebodohan. Masalah selanjutnya, apa yang
dapat dan tidak dapat dilakukan untuk memunculkan kemampuan genetik
tersebut ?

Apa yang dapat dilakukan ada dua hal, yakni mengontrol pewarisan
kemampuan genetik melalui seleksi dan sistem perkawinan. Selanjutnya
diikuti dengan penyediaan faktor lingkungan yang sesuai sampai tingkat yang
sebaik mungkin dan masih menguntungkan secara ekonomis. Apa yang tidak
mungkin dilakukan adalah memunculkan kemampuan genetik di luar batas
yang dimungkinkan.

Pemuliaan ternak dapat ditinjau sebagai suatu metode, maka dalam
mencapai tujuan memerlukan unsur-unsur pengamatan, percobaan, definisi,
penggolongan, pengukuran, generalisasi, serta tindakan lainnya. Selanjutnya
metode tersebut juga membutuhkan langkah-langkah penentuan masalah,
perumusan hipotesis, pengumpulan data, penurunan kesimpulan dan
pengujian hasil (Gie, 1984). Oleh karena itu pengembangan pemuliaan ternak
memerlukan penelitian dan penerapan hasil penelitian yang berkelanjutan.
Siapapun yang tertarik akan meningkatkan peranan dan pemanfaatan
pemuliaan ternak harus mulai dengan mendalami dasar dan prinsip teori
genetika terapan dan melanjutkan dengan penelitian serta penerapan hasil
penelitiannya (Adjisoedarmo, 1977 –1991)

Peranan Pemuliaan Ternak
Dua tugas atau peran utama pemuliaan ternak di bidang genetika adalah

untuk mengetahui kemampuan genetik ternak dengan menggunakan catatan
produksi. Kedua, meningkatkan potensi efisiensi gunakan seleksi dan sistem
perkawinan. Peran tersebut tidak akan dapat berjalan sendirinya tanpa di

17

dahului atau secara bersamaan usaha perbaikan faktor lingkungan di tempat

ternak dipelihara.

Peranan yang menonjol pemuliaan ternak dalam penyusunan kombinasi

genetik adalah peningkatan rerata produksi populasi dan generasi ke generasi

berikutnya. Peningkatan tersebut misal berupa peningkatan produksi susu per

laktasi, kadar lemak susu, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih,

berat umur tertentu, jumlah anak sepelahiran, berat karkas, kualitas daging,

berat wol, diameter wol, ketebalan lemak, produksi telur, daya tetas serta

ketahanan terhadap penyakit.

Berdasar pengembangan dan penerapan pemuliaan ternak maka

peningkatan produksi ternak dilaksanakan lewat tiga strategi dan bermacam

taktik. Tiga strategi tersebut adalah peningkatan populasi, peningkatan

produksi per individu atau rataan populasi dan stratifikasi penggunaan tanah

yang meliputi ekstensifikasi, intensifikasi dan diversifikasi vertikal dan

horizontal, serta rehabili tasi. Berbagai macam taktik digunakan, antara lain

perbaikan tatalaksana, program pencatatan produksi, penggunaan perkawinan

silang, kawin tatar, penggunaan metode seleksi, teknik inseminasi buatan,

penyerempakan birahi, alih janin dan yang paling mutakhir adalah rekayasa

genetika.

Ternak di daerah tropik berbeda dengan di daerah subtropik, umumnya

berbentuk lebih kecil dan produksinya lebih rendah (Mason dan

Buvanendran, 1982). Pertanyaan yang dapat diajukan adalah - Apakah

perbedaan tersebut karena faktor iklim apakah keadaan tersebut dapat diubah

dengan pergantian ternak, atau pergantian cara pemeliharaan ?. Untuk dapat

menjawab pertanyaan tersebut maka diperlukan bantuan pemuliaan

ternak lewat penelitian dan penerapan hasilnya.

Penelitian pemuliaan ternak khususnya seleksi, pada dasarnya

mempunyai tiga tujuan. Pertama, untuk menguji teori seleksi, kedua

18

mengumpulkan data parameter genetik, respons fisiologik yang selanjutnya
digunakan untuk me nyempurnakan metode seleksi. Ketiga, digunakan untuk
membandingkan kriteria seleksi atau sistem perkawinan yang digunakan
(Adjisoedarmo, 1976; Adjisoedarmo, 1989).

Contoh penerapan hasil penelitian dari Fakultas Peternakan Unsoed
yang telah disebar luaskan penggunaannya di pedesaan adalah Kalender
Reproduski domba dan kambing (Adjisoedarmo dan Amsar , 1983).
Kalender ini sudah digunakan di 300 kelompok peternak domba dan kambing
PPWP (Program Pengembangan Wilayah Propinsi) Jawa Tengah, yang
tersebar di 145 desa, di 40 Kecamatan dan 7 Kabupaten (Demak, Jepara,
Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Grobogan) dan telah disebarkan juga di
empat kabupaten di Propinsi Bengkulu (Adjisoedarmo, 1989; Padmowiyoto,
1988). Hasil penelitian metode pengujian pejantan kambing untuk
membandingkan keunggulan genetiknya, di bawah kondisi pedesaan telah
dilaporkan (Adjisoedarmo, 1991).

Manfaat Pemuliaan Ternak
Pemanfaatan pemuliaan ternak dapat memberikan gambaran tingkat

produksi yang diperoleh. Di Amerika, pada waktu dilaporkan bahwa rata-rata
produksi susu per ekor sebesar 4500 kg per tahun, produksi tersebut ditaksir
masih berada 500 – 1000 kg di bawah kemampuan berproduksi yang dapat
dimunculkan di bawah kondisi lingkungan yang lebih baik, masih jauh dari
produksi di bawah kondisi lingkungan yang terbaik (Warwick dan Legates,
1979). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemuliaan ternak memberikan
informasi apa yang masih dapat dan perlu dilakukan untuk meningatkan
produksi.

Pemunculan kemampuan produksi secara maksimum atau tidak
bergantung pada para peternak, lembaga, organisasi dan pemerintah.

19

Keputusan yang diambil harus ditinjau dari berbagai faktor, terutama faktor

keuntungan yang akan diperoleh peternak. Kalau produksi ditingkatkan

menjadi maksimal tetapi harga pasar rendah maka akan merugikan (contoh.

kasus pembuangan susu, pemusnahan ribuan domba di Australia ).

Oleh karena itu perlu dicatat bahwa tidak akan muncul keajaiban dan

penerapan pemuliaan ternak (Warwick dkk., 1983) tetapi lebih cenderung

merupakan tampilan dan harapan dan kekecewaan (Lush, 1963). Pemuliaan

ternak dapat memberikan informasi apa yang mungkin dapat dilakukan dan

hasil yang kemungkinan besar dapat diperoleh. Hasil yang muncul di lapangan

itulah yang benar dan merupakan informasi dan materi yang dapat kita

gunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Namun demikian yang sudah

dapat dibuktikan kepastiannya adalah bahwa peningkatan genetik hasil

penerapan pemuliaan ternak tidak akan hilang selama penerapan seleksi

dan sistem perkawinan tidak dihentikan.

Metode Seleksi

Metode seleksi dan penggunaannya untuk meningkatkan produksi telah

banyak digunakan untuk ternak domba yang mungkin dapat diadopsi di

Indonesia.

Seleksi dibedakan untuk antar trah atau rumpun dan dalam bangsa.

Seleksi dalam bangsa dibedakan untuk satu karakteristik dan banyak

karakteristik. Untuk meningkatkan satu karakteristik digunakan seleksi

individu dan famili. Untuk perbaikan lebih dan satu :karakteristik digunakan

metode 1) seleksi berurutan (Tandem selection), 2) seleksi penyisihan bebas

bertingkat (Independent Culling Level) dan 3) seleksi dengan indeks

(Warwick dkk., 1983; Adjisoedarmo, 1989).

20

Sistem perkawinan
Sistem perkawinan yang paling banyak digunakan dalam penerapan

pemuliaan ternak adalah perkawinan silang. Alasan menggunakan sistem ini
ialah karena dapat digunakan untuk menghasilkan efek heterosis. Kalau efek
ini muncul maka produksi rata-rata anak akan melebihi produksi rata-rata
tetuanya. Heterosis dapat menyebabkan ternak silangan memiliki produksi 1 -
17% di atas produksi rata-rata tetuanya (Lasley, 1972). Sistem ini sudah
lama di gunakan di Indonesia sehingga sekarang kita memiliki sapi P0, domba
Sufeg, kambing PE, Jawa Randu, Kelinci Rexlok, dan hasil lain yang belum
berhasil diteliti
. Apabila perbaikan genetik telah diperoleh, masalah yang dihadapi
adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan hasil perbaikan
tersebut. Mereka yang telah meyakini peranan dan kemanfaatan pemuliaan
ternak akan meneruskan usaha perbaikan genetik karena akhirnya waktu
tenaga dan dana yang telah dikeluarkan akan diganti dengan keuntungan hasil
penjualan produksi yang makin meningkat. Beberapa contoh keberhasilan
pada ternak Domba dan Sapi diuraikan di bawah ini.

Domba
Sebagai contoh misal perkembangan peternakan domba di New
Zealand. Pada tahun 1948 mulai dilakukan penelitian menggunakan Domba
Romney New Zealand yang memiliki rataan cempe sepelahiran per tahun
1,13 ekor. Pada tahun 1972 rataan tersebut berhasil diperbaiki menjadi 1,75
ekor cempe sepelahiran per tahun (176 cempe per 100 ekor induk yg
dikawinkan ). Dilaporkan pula bahwa penerapan pemuliaan ternak
menghasilkan domba Romney New Zealand yang memiliki berat lahir rata-
rata 4.3 - 4,9 kg dan berat sapih umur 4-5 bulan adalah 25 - 30 kg untuk
kelahiran tunggal, 3,9 -4,5 kg dan 23 kg untuk cempe kelahiran ganda ( Dalton
dan Rae, 1978).

21

Domba ekor tipis di Jawa Tengah yang belum pernah merasakan
manfaat penerapan pemuliaan ternak, dibawah kondisi penelitian mampu
menghasilkan 1,6 ekor cempe per induk per kelahiran dan berat 16 - 17 kg
pada umur penyapihan 100 hari (Adjisoedarmo, 1977; Adjisoedarmo,1979).

Sapi Perah
Manfaat penerapan pemuliaan ternak di negara subtropik pada sapi
perah telah dilaporkan di Denmark, Swedia, Firlandia dan Norwegia dalam
periode 1960 - 1972. Manfaat yang diperoleh tersebut berupa kenaikan
produksi susu dan 3000 kg pada 1950 menjadi 5500 kg di tahun 1972. Hasil
ini masih jauh di atas yang dapat dicapai di Indonesia, seperti. yang
dilaporkan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sapi perah di BPT Baturaden,
Jawa Tengah, dari tahun 1979 sampai 1984 dilaporkan mencapai produksi
rata-rata per lataktasi (305 hari 2 x ME) 2492 - 2945 liter atau 8 -9,7 liter
per hari (Anonimus, 1984).
Hasil penggunaan frozen semen pejantan yang telah diuji dengan uji
keturunan dilaporkan dapat menghasilkan induk bibit yang berproduksi di atas
4000-liter per laktasi di daerah Jawa Barat (Anonimus,1986). Hasil ini
memberikan petunjuk bahwa IB merupakan tehnik untuk menyebarkan mutu
genetik unggul. Sedangkan mutu genetik yang unggul tersebut diwariskan
sehingga keturunan pejantan tersebut memiliki mutu genetik rata-rata lebih
tinggi dibanding sebelum penggunaan pejantan unggul tersebut.
Penerapan seleksi dan sistem perkawinan untuk ternak ruminansia di
daerah tropik telah diuraikan oleh Mason dan Buvanendran (1982) dan
diterbitkan oleh FAO. Penerapan ini meliputi untuk ternak sapi perah, potong,
domba dan kambing. Secara teoritik kenaikan produksi susu dapat dinaikkan
sebesar dua persen per tahun.

22

Sapi Pedaging
Contoh manfaat penerapan pemuliaan ternak pada sapi pedaging telah
diuraikan oleh Adjisoedarmo (1976). Seleksi untuk sapi potong mempunyai
dua tujuan pokok. Pertama memilih pejantan untuk menghasilkan keturunan
yang langsung dijual atau dipotong dan kedua memilih pejantan untuk
menghasilkan keturunan yang akan dipakai sebagai bibit. Untuk tujuan
pertama peningkatan mutu genetik didasarkan pada laju pertumbuhan harian
rata-rata (0,3 - 1 k~ per ban).
Jenjang keunggulan trah sapi (diantara 280 trah sapi di dunia), berdasar
kriteria pertambahan berat badan dan penggunaannya dalam perkawinan
silang telah dilaporkan Preston (1973), berturut-turut, dari tinggi ke rendah,
Charolais, Simmental, German Gelbief. Rogrnanola, Marchigiana, Chianina,
Lomousin, Blond d’aquitame, Mame Anjou, Brown Swiss, Friesien, South
Devon, Santa Gretudis, Danish Red, Devon, Brahman, Hereford, Angus,
Shorton.
Pemerintah Indonesia mulai Pelita II telah berketetapan mengadakan
kawin tatar dengan American Brahaman. Didukung dengan pengembangan
teknik IB, maka hasilnya telah dapat dirasakan terutama oleh peternak di
Jawa Tengah. Angka tinggi domba, lingkar dada dan panjang badan pedet
hasil persilangan P0 dengan American Brahman, yang dilaporkan Munadi
(1975) dan Kabupaten Rembang dengan mudah sekarang dapat dilampaui
(Adjisoedarmo, 1990a).
Produktifitas sapi Ongole dan persilangannya telah dilaporkan Hardjo
subroto (1988). Dilaporkan bahwa pertambahan berat harian Brahman x P0
dan Ongole x P0 pada tingkat pra sapih adalah 0,64 kg/hr dan 0,62 kg/hr
sedangkan pada lepas sapih 0,25 kg dan 0,25 kg/hr.
Gambaran mengenai mutu genetik sapi Bali telah dilaporkan oleh
Martoyo (1988). Dilaporkan bahwa dalam segi ketahanan penyakit khas sapi

23

Bali diperkirakan terdapat perbedaan genetik yang cukup besar. Peningkatan

mutu genetik serta pelestarian sapi Bali perlu mendapat perhatian terus-

menerus.

Keberhasilan penerapan pemuliaan juga dapat diukur dengan munculnya trah

ternak, sapi perah, sapi pedaging, domba, babi dan ayam ras serta kelinci.

Trah tertentu tersebut mampu beradaptasi di bawah kondisi lingkungan

tertentu baik iklim sub tropik dan tropik serta mampu berproduksi secara

efisien. Trah Sapi perah yang terkenal antara lain Friesien, Jersey, Australian

Milking Zebu dll; trah sapi pedaging antara lain Angus, Heford, Simental,

Charolais, Brahman; seratus lebih trah domba, berpuluh trah babi, dan kelinci.

Trah unggul dan baru dari negeri asalnya kemudian disebar luaskan ke

negara-negera yang berusaha membangun peternakan dengan penggunakan

materi genetik import. Importasi dapat berupa ternak atau berupa mani

beku, atau embrio beku.

Dalam buku ajar yang ditulis Rice tahun 1926 dinyatakan bahwa

Breeding is an art to be leamed only by practice, but knowledge of principles

supplies the only firm foundation for its practice. Superior animals will be

more numerous when breeders know why as well as how” ( Warwick dan

Legates, 1979).

Berdasar uraian tersebut maka peran pemuliaan ternak dalam

pembangunan peternakan merupakan peran yang mendasar, karena

menyangkut sumber genetik dan pewarisan, perbaikannya, penyebarannya,

pengukuran hasilnya, dan pengujian hasilnya. Apabila peran tersebut berjalan

dengan sempurna maka pengujian ternak akan memberi mánfaat berupa

produk ternak yang berkualitas seperti yang dipersyaratkan manusia sesuai

dengan perkembangan kualitas hidupnya dan juga berkecukupan dalam

jumlahnya. Secara sederhana pemuliaan ternak akan memberi manfaat dalam

bentuk meningkatkan gizi manusia khususnya protein hewani.

24

Banyak bukti telah dilaporkan bahwa dengan pemuliaan ternak maka
produk ternak dapat dilipat gandakan. Warwick dan Legate (1982)
melaporkan
bahwa produksi susu dapat dilipat duakan, produksi daging ditingkatkan 50%,
produksi wol lipat empat kali.

Pembangunan Peternakan
Dalam uraian dan rumusan landasan, arah, tujuan dan sasaran

pembangunan peternakan, tidak diperoleh informasi yang cukup rinci
mengenai peranan pemuliaan ternak. Namun demikian secara jelas telah
direncanakan bahwa dalam arahan GBHN 1988 pembangunan peternakan juga
dilaksanakan dengan peningkatan populasi dan peningkatan mutu genetik.
Untuk peningkatan mutu genetik diperlukan peningkatan peranan dan
penerapan pemulian ternak.

Kebijakan Pembangunan Peternakan (Pelita VII)
Kebijakan pembangunan peternakan tidak lepas dari pembangunan

pertanian dan merupakan bagian integral dari pembangunan Nasional.
Peternakan Rakyat masih akan menjadi tulang punggung dan basis
peningkatan produksi komoditi peternakan. Sistem usaha tani akan bergeser
dari sistem pastoral (tradisional) ke semi intensif, sesuai dengan tuntutan
pasar, oleh karena itu harus berkembang ke arah industrialized livestock
production system.

Pokok-pokok pikiran aspek kebijakan umum dan operasional
(Soedjasmiran, 1997. Seminar Kajian kebijaksanaan Pembangunan
Peternakan. Cisarua-Bogor, 24 Maret 1997)

Pengertian

25

Pembangunan peternakan bermakna pengembangan usahatani
peternakan untuk menghasilkan produk yang diperlukan pasar.

Bentuk usahatani, pelaksana dan peranan masing- masing
Usahatani peternakan berbentuk sebagai usaha peternakan rakyat dan
perusahaan peternakan.
(1) Peternakan rakyat adalah usahatani dengan skala usaha yang dapat
dikelola oleh petani ternak dengan tenaga kerja di lingkungan keluarganya
(usaha keluarga). Informasi yang telah dilaporkan sebagai berikut.

1. • Sapi potong (95%) 2.976.000 Rumah Tangga Peternak
2. • Sapi perah (98%)
3. • Kerbau (100%) 98.000
4. • Kambing (100%)
5. • Domba (100%) 489.000
6. • Babi (80%)
7. • Kuda (90%) 397.000
8. • Ayam Buras (100%)
9. • Ayam Ras (75%) 184.000
10. • Itik (100%)
633.000
1993)
73.000

430.000

39.000

285.000 (Sensus Pertanian,

(2) Perusahaan peternakan. Sapi potong (Feedlotters dan Ranchers),
Sapi perah, Perusahaan susu (daerah sekitar kota), Perusahaan babi di
beberapa wilayah (a.l. pulau Bulan) dan Perusahaan ayam ras, pedaging
,petelur , pembibit.

Untuk optimalisasi potensi serta dalam rangka pelaksanaan
kebijaksanaan (budidaya seyogyanya ditangan peternak kecil), maka
dikembangkan pola kemitraan usaha antara peternak kecil dengan peternak
besar / perusahaan peternakan.

26

Usahatani peternakan rakyat umumnya merupakan bagian dan usahatani
tanaman pangan, bermaksud mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk
memaksimumkan penerimaan atau meminimkan resiko

Berbagai penelitian dan observasi empiris mengungkapkan, bahwa pada
perubahan / dinamika sistem usahatani terjadi pula perubahan pangsa
penggunaan sumberdaya dasar peternakan: lahan, tenaga kerja dan modal

Sistem usahatani peternakan dalam kaitan dengan penggunaan
sumberdaya dasar - lahan, tenaga kerja dan modal - dapat dikelompokkan
sebagai berikut

1. Usahatani tradisional ( Pastoral System)
 sangat mengandalkan lahan sebagai basis produksi (lebih land-base)
 dengan sedikit tenaga kerja (keluarga)
 modal minimal

2. Usahatani menengah -semi komersial (semi intensif-mixed system)
 lebih bersifat intensif
 dengan lahan yang lebih sempit
 tenaga kerja terampil (keluarga ,kadang-kadang + tenaga kerja
upahan)
 pemanfaatan modal yang lebih kompetitif

3. Usahatani yang berbasis dan berorientasi pasar (Industrialized
system)

 sangat mengandalkan kekuatan modal untuk memanfaatkan
 lahan yang sangat terbatas
 tenaga kerja profesional
 mengharapkan keuntungan maksimal

Di negara yang peternakannya telah jauh berkembang, hasil yang
diperoleh telah dilaporkan merupakan hasil yang didukung penelitian,
pengembangan dan penerapan hasil-hasil penelitian di bidang pemuliaan
ternak (Adjisoedarmo, 1989). Penerapan pemuliaan ternak umumnya berupa
penggunaan metode seleksi dan sistem perkawinan yang tepat untuk

27

komoditi ternak yang dikembangkan. Di pihak lain peningkatan produksi

tersebut dapat dicapai karena dengan penerapan pemuliaan ternak dihasilkan

pula ternak unggul yang memiliki kemampuan berproduksi yang disesuaikan

dengan tujuan usaha peternakan di suatu daerah atau di bawah pengaruh

faktor lingkungan tertentu.

Perkembangan teknologi di bidang peternakan yang berupa inseminasi

buatan dan alih janin memungkinkan penyebaran materi genetik unggul dan

ternak jantan dan betina berjalan cepat. Peningkatan peranan dan penerapan

pemuliaan ternak tersebut menyebabkan negara maju dapat menghasilkan

ternak unggul dan trah unggul yang selanjutnya dipasarkan dengan harga

tinggi di negara berkembang termasuk Indonesia (termasuk memasarkan

kelemahan ternak tersebut).

Berdasar laporan di atas berarti masih terbuka peluang yang sangat luas

untuk usaha meningkatkan produksi ternak baik yang berupa daging, telur

dan susu. Usaha peningkatan produksi pada dasarnya dapat lewat

perbaikan tata laksana dan program pemuliaan ternak yakni peningkatan mutu

genetik (Adjisoedarmo, 1977-1989). peningkatan mutu genetik

dilaksanakan dengan penggunaan sistem perkawinan dan seleksi. Sebelum

program peningkatan mutu genetik dilaksanakan maka prasyaratnya harus

dilaksanakan ialah program pencatatan produksi.

Produksi suatu ternak juga sering disebut performans, adalah

pemunculan pengaruh efek gen terhadap karakteristik kuantitatif di bawah

pengaruh faktor lingkungan tertentu. Ternak (Sapi, Kerbau, Kambing, Domba,

Babi, Kelinci) dan unggas memiliki karakteristik kuantitatif dengan Relative

Economic Value (REV) yang berbeda. REV tersebut adalah jumlah

keuntungan bersih (rupiah) yang akan diterima kalau karakteristik dinaikkan

satu unit pengukuran lewat seleksi. Sebagai contoh berat sapih REV-nya

28

2000, artinya kalau berat sapih dinaikkan satu kilogram maka petani akan
mendapat tambahan keuntungan bersih sebesar 2000 rupiah.

Contoh lain, produksi susu dalam satuan liter di Indonesia memiliki REV
lebih tinggi dari produksi susu dalam satuan berat lemak susu, demikian
karena di Indonesia susu dijual dalam satuan liter bukan kg lemak susu. Makin
tinggi REV suatu karakteristik makin besar peluang karakteristik tersebut
untuk di perbaiki karena adanya jaminan keuntungan bagi peternak.

Dalam suatu populasi maka produksi individu akan berbeda karena
adanya perbedaan pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Apabila jumlah
ternak sedikit maka peternak dengan mudah dapat mengingat dan
membedakan ternak mana yang berproduksi tinggi dan rendah. keadaan akan
berbeda apabila ternak makin banyak sedang produksi yang dicatat makin
sering misalnya produksi susu dan telur maka peternak tidak mungkin lagi
untuk mengingatnya.

Dalam keadaan seperti itu pencatatan produksi perlu dilaksanakan.
Program pencatatan produksi bukan program peningkatan mutu genetik
tetapi merupakan persyaratan yang harus ada. Pemanfaatan sistem komputer
akan meningkatkan kemanfaatan program pencatatan produksi.

Pemanfaatan Sistem Komputer di Bidang Pemuliaan Ternak
Komputer adalah suatu alat elektronik, batasan lebih lengkap yang

diberikan oleh Malone (1983) adalah -Computers are automatic electronic
machme that solves complicated problems with great speed in just one
second, computers can do a million logical operations-.

Pada 1642 Blaise Pascal membuat mechanical computer yang pertama,
pada 1882 diciptakan cash register, pada tahun 1940 mulai dikembangkan
Electronic Computer, - yang dibuat pertama kali oleh Eckert dan Mauchley

29

(Anonimus, 1974). Pada waktu itu kemudian dikembangkan cabang ilmu baru

yang disebut Electronic Data Processing, EDP (Malone, 1983).

Komputer pada 1950 sudah menggunakan transistor dan IC (Integrated

Circuit) sehingga komputer dapat bekerja lebih cepat. Komputer modern

dapat menghitung dengan kecepatan ¼ kecepatan cahaya (299728

km/detik). Komputer dapat mengerjakan pekerjaan dalam satu jam sebanding

yang dikerjakan oleh ribuan sarjana dalam seumur hidupnya.

Komputer itu bodoh tidak dapat berfikir, dapat mengerjakan sesuatu

setelah diberi tahu, kapan mengerjakannya dan bagaimana cara

mengerjakannya. Kumpulan perintah yang dapat memberi tahu tersebut

disebut program atau software. Komputer dapat dinyalakan tetapi tanpa

program tidak dapat bekerja.

Perangkat keras komputer terdiri dan mesin, kawat, chip silicon, dan

bagian lain dalam komputer. Berbagai macam komputer yang dibuat

kemampuan kerjanya berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada kemampuan

menyimpan data dan kecepatan bekerja. Pada masa sekarang telah dikenal

komputer mikro, mini, midi, besar dan super besar. Pembagian menurut

generasinya dikenal: 1) generasi pertama, 2) kedua, dan 3) ketiga. Makin

tiriggi generasinya makin kecil ukurannya ( Widodo, 1984).

Segala macam data dapat digunakan sebagai masukan. Data masukan

dapat dimasukkan dengan berbagai cara, menggunakan piranti masukan,

berupa keyboard, mouse atau bentuk lain. Data masukan selanjutnya oleh

komputer diubah menjadi bahasa mesin komputer. Setelah komputer

diperintah untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan maka data masukan akan

diproses sesuai dengan perintah. Hasil yang diperoleh kemudian akan

disimpan atau dicetak tergantung perintah pemakai komputer. Hasil dapat

ditampilkan pada layar monitor atau diketik pada mesin cetak.

30

Program komputer ditulis menggunakan bahasa program, contohnya
FORTRAN, PASCAL dan BASIC. Penulisan progam harus menurut aturan
khusus bahasa program yang digunakan. Pembuatan program umumnya
bertujuan untuk memecahkan persoalan.

Pemecahan persoalan dengan bantuan komputer dilaksanakan dalam
beberapa tahap, 1) memformulasikan persoalan secara rinci, 2) menyusun
metode penyelesaian persoalan secara bertahap (algorithma), 3) menyusun
peta alir, atau peta penyelesaian secara grafik dan terakhir 4) menterjemahkan
dalam bahasa program (Djojodiharjo, 1983).

Pemanfaatan sistem komputer dapat menggunakan herbagai macam
bahasa program yakni, bahasa mesin, bahasa assembler dan bahasa kompailer.
Bahasa mesin adalah bahasa yang primitif, instruksi ditulis dengan
menggunakan tanda numerik. Bahasa mesin dimengerti oleh komputer tanpa
perlu diterjemahkan lebih dahulu. Bahasa assembler ditulis menggunakan
abjad dan tanda numerik, komputer mengerti setelah diterjemahkan ke dalam
bahasa mesin. Bahasa kompailer ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris,
dikombinasikan dengan titik koma dan operator matematik. Contoh bahasa
kompailer adalah FORTRAN, COBOL, ALGOL, PASCAL dan BASIC.
Komputer harus menterjemahkan lebih dahulu ke bahasa mesin untuk
mengerti bahasa kompailer (Djojodihardjo, 1984).
Uraian singkat tersebut memberikan informasi bahwa sistem komputer dapat
dimanfaatkan juga untuk memecahkan persoalan di bidang pemuliaan ternak.

Pemanfaatan sistem komputer di Amerika untuk bidang pertanian,
secara nasional, mulai dikembangkan pada tahun 1970 oleh dua orang
profesor dari Universitas Nebraska, sistem tersebut dikenal dengan nama
AGNET (Agriculture Computer Network). AGNET merupakan alat
manajemen untuk pertanian, diciptakan untuk keperluan petani dan peternak.
AGNET memiliki jaringan sampai ke Pusat Penyuluhan Pertanian di country.

31

Staf kantor tersebut dilatih mengoperasikan terminal yang dikontrol dari pusat

AGNET di Negara Bagian. AGNET merupakan service-oriented

computer center. Pada tahun 1983 dilaporkan memiliki 200 macam program

untuk membantu membuat keputusan menejerial yang lebih baik untuk

peningkatan manajemen finansial. Pada waktu itu diramalkan bahwa yang

memanfaatkan sistem komputer akan dapat mempertahankan

keuntungannya sampai tahun 1990.

Pemanfaatan sistem komputer melalui AGNET terutama untuk 1)

Busmess Accountirig, 2) Herd Performance Reportirig, 3) Financial

Management. Paket Program kelompok Livestock Production Models yang

disediakan AGNET antara lain, BEEF (simulasi analisis ekonomi),

COWCULL ( culling sapi perah), WEAN (uji kemampuan produksi berat

sapih), CROSSBREED (evaluasi hasil persilangan), COWGAME (

simulasi genetik) (Hughes, 1983).

Penggunaan komputer dalam genetika dan pemuliaan ternak dapat

dikelompokkan dalam empat kategori yaitu yang pertama untuk penyusunan

rancangan penelitian sehingga diperoleh alternatif pencapaian tujuan, kedua

untuk analisis data, ketiga untuk pemecahan masalah dalam formulasi

matematik dan akhirnya yang keempat untuk simulasi model biologik

(Secheinberg, 1968).

Selain itu adalah penggunaan dalam kaitannya dengan pengkajian

seleksi yakni untuk tujuan penyelesaian masalah yang kompleks dan realistik

mengenai pewarisan kuantitatif (Robertson, 1980). Sebagai contohnya adalah

bahwa perhitungan indeks dapat dibantu dengan penggunaan program

komputer yang disebut SELIND (Cuningham, 1970).

European Association for Animal Production (EEAP) telah melaporkan

pemanfaatan sistem komputer dalam program pencatatan produksi di dua

puluh

32

negara Eropa. Di dua belas negara diantaranya (Bulgaria, Cekoslowakia,

Irlandia, Perancis, Finlandia, Inggris, Hunggaria, Islandia, Norwegia,

Swedia, Spanyol dan Switserlandia) komputerisasi program pencatatan

produksi dimanfaatkan untuk seleksi.

Program pencatatan produksi pada dasarnya adalah kegiatan rutin

mencatat produksi. Pencatatan ini dilakukan menurut aturan tertentu. Aturan

tersebut mengatur macam produksi yang harus dicatat, cara mencatat, waktu

mencatat, blangko pencatatan dan pemanfaatan catatan produksi tersebut.

Program pencatatan produksi merupakan kegiatan penting dalam penyediaan

informasi untuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan efisiensi

dan keuntungan usaha. Selain itu informasi tersebut juga sangat diperlukan

untuk melaksanakan seleksi.

Simulasi pada akhir-akhir ini makin meningkat kegunaannya dalam

pengembangan model di bidang pemuliaan ternak. Peningkatan ini mungkin

disebabkan karena penyediaan sistem komputer makin mudah dan murah

sedangkan kebutuhan pemecahan masalah dengan model semakin

dibutuhkan, sehingga hasil simulasi makin banyak dilaporkan. Beberapa

contoh hasil simulasi, untuk seleksi unggas dilaporkan Astuti (1978)-, untuk

domba oleh Blackburn dan Cartwrigt (1987), untuk mengevaluasi hasil

perkawinan silang pada ternak babi oleh NcLaren dkk., (1987), untuk seleksi

domba di Indonesia

khususnya di Jawa Tengah oleh Adjisoedarmo (1989), untuk menaksir

variansi genetik oleh Werf dan Hoer (1990).

Berdasar perkembangan sistem komputer dan pemanfaatannya di bidang

pemuliaan ternak, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan tersebut umumnya

ditujukan untuk peningkatkan efisiensi reproduksi dan produksi. Peningkatan

itu disebabkan karena pengambilan keputusan yang lebih cermat dan tepat.

33

Kecermatan dan ketepatan pengambilan. keputusan disebabkan karena
informasi yang benar telah direkam dalam komputer. Informasi yang direkam
pada umumnya adalah produksi ternak misal produksi susu, kadar lemak
susu, berat lahir, pertambahan berat badan, dan berat sapih. Oleh karena itu
pemanfaatan sistem komputer yang paling awal umumnya dalam program
pencatatan produksi.

Peluang Pemanfaatan Sistem Komputer Di Indonesia
Di bawah ini akan diuraikan secara singkat langkah awal yang

disiapkan penulis dalam pemanfaatan sistem komputer untuk peningkatan
produksi susu sapi perah di Indonesia.

Dasar Pemikiran
Apabila jumlah ternak yang dilibatkan makin banyak, khususnya sapi
perah, maka produksi sapi yang dicatat makin banyak, frekuensi pencatatan
makin meningkat. Akibat lainnya ialah makin banyak pula pengaruh faktor
lingkungan terlibat, misal umur yang berbeda jumlah hari pemerahan yang
berbeda, ransum yang berbeda. Akibatnya makin rumit pula cara penaksiran
efeknya. Persoalan tersebut dapat dipecahkan dengan pemanfaatan sistem
komputer untuk pembuatan program untuk koreksi produksi terhadap
pengaruh lingkungan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaporkan khususnya tentang
koreksi produksi susu sapi perah, penulis berpendapat bahwa proses koreksi
produksi susu di Indonesia pada waktu sekarang sudah seharusnya dimulai
dengan bantuan komputer. Oleh karena itu maka telah dibuat oleh penulis
paket program komputer dengan menggunakan bahasa FORTRAN 77,
diberi nama KOREKSI. Paket tersebut mulai diinformasikan pada bulan
November 1990 pada Seminar

34

Peningkatan Efisiensi. Usaha Peternakan Sapi perah di Malang, Jawa

Timur dan bentuk gagasan atau model Menuju Komputerisasi Pencatatan

Produksi sapi Perah di Indonesia (Adjisoedarmo, 1991). uji coba program ini

telah dimulai di BPT Baturaden, Purwokerto. Langkah selanjutnya uji coba

program dilanjutkan di tingkat Kabupaten. Hasil uji coba kemudian akan

dikembangkan lebih lanjut bekerja sama dengan AHI (Asosiasi Holstein

Indonesia) dan Laboratorium Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Gajah Mada dan IPB. Hasil kerja sama tersebut digunakan untuk

penyempurnaan program sehingga dapat dipakai di tingkat Kecamatan,

Desa dan Kelompok Peternak Sapi Perah. Tujuan akhir adalah pembuatan

program untuk tingkat Propinsi sehingga program dapat digunakan di Seluruh

Indonesia.

Blangko pencatat produksi yang sederhana telah disiapkan untuk

mempermudah para peternak mencatat produksi susu di tingkat kelompok

peternak. Penggunaan model ini memungkinkan pencatatan produksi tidak

perlu dilakukan setiap hari tetapi cukup satu bulan sekali. Blangko ini sudah

dicoba digunakan oleh mahasiswa PTUP/D3 Fapet Unsoed dan hasilnya telah

dilaporkan oleh Adjisoedarmo (1987.). Hasil pencatatan tersebut kemudian

dijadikan data masukan untuk program KOREKSI. Progam secara otomatis

mengoreksi data tersebut terhadap umur dan jumlah hari pemerahan yang

berbeda. Akhirnya progam akan menampilkan tabel jenjang taksiran

kemampuan genetik sapi perah. hasil dan program ini selanjutnya digunakan

untuk menetapkan sapi yang akan tetap dipertahankan dan yang akan

dikeluarkan untuk peningkatan efisiensi produksi dan perusahaan.

Pemanfaatan sistem komputer membutuhkan tenaga trampil dalam

pengoperasian komputer. Pemenuhan tenaga tersebut di BPT Baturaden akan

dilaksanakan melalui kerja sama dengan Fapet Unsoed khususnya

Laboratorium Pemuliaan Ternak, sedangkan untuk peningkatan pemanfaatan

35

sistem komputer di bidang pemuliaan ternak seorang staf Lab., Ir. Bambang

Purnomo SU mulai tanggal 3 sampai 31 Maret 1991 mengikuti kursus

komputer khusus untuk genetika dan pemuliaan ternak di IPB Bogor.

Demikianlah secara ringkas telah diuraikan peran dan manfaat

pemuliaan ternak serta pemanfaatan sistem komputer dilengkapi dengan

gagasan Menuju Komputerisasi Pencatatan Produksi Sapi Perah di

Indonesia.

Harapan untuk Masa Depan
Pengembangan penelitian dan penerapan pemuliaan ternak diharapakan

dapat membantu mempercepat swasembada pangan khususnya kebutuhan
akan protein hewani. Harapan ini akan dapat dicapai apabila dan penerapan
pemuliaan ternak dapat diciptakan trah atau rumpun unggul lokal. Trah
tersebut diharapkan akan mampu beradaptasi dengan lingkungan pedesaan
Indonesia khususnya kondisi pakan ternak dan kesehatan ternak.

Pemerintah, pihak swasta dan atau lembaga yang menangani
peternakan, juga perorangan tidak perlu lagi menyangsikan kemanfaatan dan
peranan pemuliaan ternak. Bukti telah banyak diberikan bahkan pemerintah
Indonesia Juga telah membeli hasil penerapan pemuliaan ternak dengan
pemanfaatan sistem komputer diharapkan akan lebih mempercepat dalam
mencapai tujuan. Hasil yang ingin dicapai atau apa yang mungkin diperoleh
dapat ditaksir, dapat pula diciptakan model yang digunakan untuk menguji
teori baru yang dikembangkan khususnya dalam rekayasa genetika.
Selanjutnya pemanfaatkan komputer diharapkan dapat membantu penerapan
pemuliaan ternak lebih cermat. Khusus untuk Sapi Perah, Munuju
Komputerisasi Pencatatan Produksi. Sehingga akhirnya efisiensi usaha
peternakan dan keuntungan yang diperoleh serta kesejahteraan peternak dapat
dinaikkan.

36

37


Click to View FlipBook Version