The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2019-07-21 07:07:18

091_B_PANDUAN PRAKTIS HIDROPONIK

091_B_PANDUAN PRAKTIS HIDROPONIK

Ada dua jenis tes dalam menggunakan sistem
drip yaitu:
#3.1 Sistem Drip Putar (Sirkulasi)

berkahkhair.com
Sistem model ini paling banyak diaplikasika di
perumahan. Karena prinsip kerjanya yang
cukup sederhana. Yaitu dengan mengalirkan
air di dalam tandon yang telah dicampurkan
nutrisi untuk membasahi media tanam dan
akar tanaman.

Lalu air yang dialirkan dengan sendirinya akan
turun ke bawah yang mana telah disediakan
bak penampungan (tendon). Nah, sirkulasi
dari proses inilah yang dapat dipakai secara
berulang-ulang sehingga dapat membasahi
setiap tanaman.

Namun kekurangan teknik ini yaitu harus
dilakuakan pengecekan rutin terhadap air
yang digunakan. Karena dengan terlalu
banyaknya sirkulasi air maka akan bisa
mengubah tingkat keasaman (pH) air serta
perubahan warna larutan air.

#3.1 Sistem Drip Habis (non-Sirkulasi)

Kalau sistem drip tetes banyak digunakan di
perumahan yang hanya sekedar hobi. Sistem
ini banyak diterapkan untuk skala komersil dan
cara kerjanya juga sedikit berbeda.

Air nutrisi yang digunakan di dalam tendon
tidak dialirkan lagi melainkan langsung
dibuang apabila ada kelebihan.

Meskipun terbilang boros akan tetapi air yang
dibuang tersebut tidak begitu banyak. Sistem
ini bisa tercapai yakni dengan menggunakan
timer.

Sehingga dengan begitu tetesan air dapat
diatur hingga sampai ke detik berapa. Dan
sistem pengairan ini cukup dengan
meneteskan larutan nutrisi selama berapa
waktu yang dibutuhkan dan cukup membasahi
media tanam saja.

Air tetesan tersebut yang kemudain akan
diserap dan disimpan oleh media tanam yang
mana nantinya akan dapat dimanfaatkan
media tanam.

Dalam berapa hari media tanam yang
digunakan tanaman harus dibersihkan agar
endapan nutrisi tidak mengganggu proses
pertumbuhan tanaman. Lagi pula sistem in
terbilang perawatannya lebih sedikit
dibandingkan sistem sirkulasi.

Karena air tetesan yang telah ditampung
langsung dibuang jadi tidak perlu lagi untuk
selalu mengecek kadar keasamaan air dan
jumlah nutrisi di dalam tendon.

Yang perlu diingat dan dicatat adalah larutan
nutrisi di dalam tendon mesti diaduk agar tidak
terjadi pengendapan mineral yang akan
berdampak pada pertumbuhan tanaman.

#4 Sistem Hidroponik Pasang
Surut (Ebb and Flow System)

berkahkhair.com
Sistem pasang surut adalah sistem bercocok
tanam hidroponik dimana tanaman
mendapatkan air, oksigen serta nutrisi melalui
pemompaan bak penampung yang nantinya
akan membasahi akar atau istilahnya pasang.
Kemudian selang beberapa waktu nutrisi
kembali lagi ke bak penampungan atau
istilahnya surut. Nah, waktu pasang atau
surutnya ini bisa diatur sesuai kebutuhan
tanaman sehingga tidak terjadi genangan
ataupun kekurangan air.

Jadi pompa air ini nantinya akan dibenamkan
ke dalam larutan nutrisi lalu dipasang timer
yang telah diatur waktunya . Dan air yang di
dalam kolam atau bak penampung akan
dipompa dan diteruskan ke penampungan
tanaman (grow tray).

Baru kemudian timer mati dan air secara
otomatis aka turun kembali ke bak
penampungan. Dalam hal ini timer dapat
diatur beberapa kali sesuai kebutuhan. Intinya
nutrisi pada tanaman harus terpenuhi secara
baik.

berkahkhair.com

Dalam aplikasinya sistem hidroponik dengan
teknik ini dapat diterapklan untuk beberapa
media pertumbuhan. Dan media yang lazim
untuk menyimpan air secara baik adalah
rockwool dan vermiculite.

Kelebihan dari teknik ini yaitu tanaman akan
memperoleh nutrisi berupa air dan oksigen
secara periodic. Kedua adalah oksogen yang

dibawa melalui pompa mempunyai kualitas
yang baik. Dan penyiraman yang dilakukan
secara otomatis dapat menghemat tenaga dan
waktu.
Namun kekurangan menggunakan metode ini
yaitu budget yang dikeluarkan cukup mahal.
Tergantung pada posakan listrik, apabila listrik
padam maka tumbuhan bisa mati. Dan
pemberian nutrisi berkali-kali tidak sebaik
pemberian nutrisi di awal.
#5 Hidroponik Sistem Deep Flow
Technique System (DFT)

berkahkhair.com

Sistem DFT secara singkat adalah sistem
hidroponik yang meletakkan akar tanaman
pada lapisan air pada kedalaman air berkisar
4-6 cm.

Sama dengan sistem yang lain, sistem DFT
juga membutuhkan tenaga listrik untuk
mensirkulasikan air ke dalam talang-talang
dengan menggunakan pompa air. Kemudian
untuk menghemat listrik maka dapat
menggunakan timer yang dapat atur waktu
hidup dan mati.



berkahkhair.com

Keunggulan sistem hidroponik daripada sistem
yang lain adalah terletak pada saat listrik
padam namun kebutuhan nutrisi untuk
tanaman tetap tersedia. Karena sistem ini
diatur ke dalam nutrisinya sampai 6 cm.

Akan tetapi kekurangannya adalah
memerlukan kebutuhan nutrisi yang cukup
banyak apabila disbanding dengan sistem
NFT.

#6 Hidroponik Sistem Sumbu (Wicks
System)

berkahkhair.com

Sistem sumbu atau wicks system adalah
sistem hidroponik yang paling sederhana
yakni dengan memanfaatkan sumbu yang
kemudian dihubungkan antara larutan nutrisi
pada bak penampung dengan media tanam.

Dan hal yang laing sederhana lagi yakni
sistem ini bersifat pasif dalam artian tidak ada
bagian yang bergerak.

Jadi larutan nutrisi akan ditarik ke media yang
selanjutnya disalurkan ke media tanam dari
bak atau tangki penampungan melewati
sumbu. Dengan memanfaatkan daya
kapilaritas sumbu maka air dan nutrisi dapat
mencapai akar tanaman.

Sistem sumbu adalah sistem yang sangat
ideal bagi yang sangat menginginkan tanaman
di pekarangan dapur, ruang tamu dan bahkan
di halaman rumah yang luasnya tidak begitu
lebar.

Dalam aplikasinya wick system dapat
dicampurkan media tanam lain seperti perlite,
vermiculite, arang sekam padi dan kerikil
pasir.

Cara menaman dengan sistem sumbu dapat
memanfaatkan sumbu kompor, kapas atau
kain bekas. Intinya media tersebut dapat
menyerap air dengan baik. Boleh media dari
yang kami sebutkan.

berkahkhair.com

Pertama akar tanaman tidak dicelupkan
langsung ke dalam air akan tetapi akar
tersebut tumbuh dalam beberapa bahan
penahan air seperti misaknya rockwool atau
bisa juga sabut kelapa.

Kemudian ujung sumbu ditempatkan di dalam
reservoir yang telah diisi larutan nutrisi.
Kemudian ujung lainnya ditempatkan dalam
media tanam. Dan bahkan lebih dekat ke akar
tanaman.

Karena media ini lebih dominan menggunakan
sumbu maka membutuhkan banyak air dan
nutrisi. Maka sumbu disusun ke media
penahana air sebagai kapiler.

Dengan begitu tanaman akan mengambil
larutan nutrisi melalui ujung sumbu dan
efeknya media tanam yang dilewati sumbu
menjadi lembab.

Teknik sumbu ini udara akan tersedot oleh
akar beriringan dengan larutan nutrisi. Dengan
begitu akan memastikan bahwa tanaman
menerima cukup udara.

Apabila reservoir habis maka dapat diisi
dengan cara manual. Dan ini keunggulannya
karena tidak perlu menggunakan pompa
sebagaimana sistem hidroponik lainnya.

#7 Hidroponik Sistem Rakit
Apung (Water Culture System)

hydroponiccentral.com.au
Sistem hidroponik yang ke tujuh ini merupakan
sistem yang paling sederhana diantara sistem
hidroponik yang aktif.
Karena dengan memanfaatkan platform yang
terbuat dari media tanam yang mengapung

sehingga kebutuhan nutrisinya langsung
didapatkan oleh akar.

Kemudian kebutuhan oksigen yang diperlukan
akar tanaman dapat menggunaka pompa
aquarium yang telah dimasukkan ke dalam
bak penampung nutrisi hidroponik.

Akan tetapi dengan menerapkan sistem ini
tidak dapat bekerja efektif untuk tanaman
dengan ukuran yang besar dan jangka
panjang. Hanya tanaman kecil saja, seperti
seledri, sawi dan lain-lain.

#7.1 Cara Menaman dengan
Sistem Rakit Apung

berkahkhair.com
Pertama pastikan terlebih dahulu tanaman
yang ditanam adalah jenis tanaman yang
relatif singkat. Contohnya kangkung dan sawi.
Kemudian lakukan teknik semai dengan media
tanam aram sekam bakar selama lebih kurang
2-3 hari.

Alat dan bahan yang mesti dipersiapkan
adalah sebagai berikut:

• Bak plastik dengan ukuran 50×30 cm dan
tinggi 20 cm yang berfungsi sebagai
penampung larutan nutrisi.

• Rockwool yang berfungsi sebagai media
tanam.

• Gelas air mineral berfungsi sebagai media
tumbuh tanaman.

• Cutter berfungsi sebagai pemotong
stayrofoam.

• Aluminum foil berfungsi sebagai pelapis
stayrofoam.

• Dan paku yang dapat berfungsi untuk
melubangi bagian dari gelas mineral.

Ingat prinsip utama menggunakan sistem rakit
apung adalah dengan menempatkan tanaman
mengapung di atas caitan nutrisi.

Nah, keunggulan cara ini adalah tanaman
nantinya akan mendapatkan pasokan nutrisi
berupa air dan oksigen secara rutin dan juga
akan memudahkan dalam hal perawatan.

Tahapan sistem rakit apung dapat
digambarkan seperti berikut ini:

• Potong sesuai dengan ukuran bak
penampung/plastik lalu lapisi dengan
aluminium foil.

• Lubangi stayrofoam dengan jarak kira-kira
tidak rapat. Lubang ini nantinya berfungsi
sebagai tempat meletakkan gelas air
mineral. Lalu lubangi juga bagian bawah
gelas air mineral dengan paku.

• Atur net pot ke dalam lubang gabus
tersebut. Dan beri tekanan sedikit hingga
gelas air mineral menyentuh sedikit
permukaan larutan nutrisi. Atau dapat
diatur dengan ukuran rata-rata 5 cm.

• Dan terakhir potong rockwool menyerupai
kubus dengan ukuran 3x3x3 cm. Lalu
gunting agar dapat membentuk celah.
Disinilah nantinya bibit cangkung
diletakkan. Selanjutnya tempatkan bibit
kangkung di dasar pot.



#8 Sistem Fertigasi (Fertilizer and
Drip Irigation System)

Sistem fertigasi adalah sistem hidroponik yang
paling banyak diterapkan di dunia. Karena
sistem ini menggunakan drip irrigation atau
irigasi tetes dimana tanaman akan disiram
dengan cara meneteskan air.

Sistem fertigasi tidak hanya aor saja yang
diteteskan namun air tersebut telah dicampur

larutan nutrisi. Sehingga pertumbuhan
tanaman tetap terjaga.

Artinya dalam satu tetes sudah mengandung
nutrisi yang lengkap. Kemudian
pengoperasiannya juga tergolong mudah.

Kelebihan sistem ini diantaranya: (1) dalam
pemberian nutrisi dapat diatur sesuai dengan
kedewasaan tanaman. (2) Aman dari penyakit
dan dijamin bersih. (3) Mengatasi problem
tanah.

(4) Mampu meningkatkan hasil dari
pendapatan. (5) Kualitas dari hasil tanam jauh
lebih baik. (6) Penggunaan pupuk yang tepat
sasaran dan (7) Mampu menghasilkan
tanaman yang banyak (kuantitas).

Kekurangan sistem ini setidak ada empat
yakni: (1) Modal yang dibutuhkan terlalu tinggi.
(2) Perlu pengetahuan yang cukup untuk
memulai dengan teknik ini. (3) Harus diurus
secara berkala dan berkelanjutan. (4) Apabila
kerusakan dalam sistem pengairan akan
berpengaruh dalam hasil pertanian.

#8.1 Cara Menaman dengan Sistem
Fertigasi

• Siapkan dripper set yaitu dripper, nipper
dan microtube.

• Siapkan bak penampungan nutrisi
semacam tendon dan juga jet pump
(pompa air). Beri lubang untuk aliran air
dan juga untuk sirkulasi udara.

• Kemudian pasanglah pipa nurisi yang
dekat dengan polybag. Panjang dan
kekuatan pipa tergantung kebutuhan.

• Apabila semua telah terpasang dengan
benar. Maka lakukan pengujian dengan
menempatkan gelas plastik di masing-
masing kedua ujung dripper.

• Hidupkan pompa dan ukur air yang keluar
selama 5 menit untuk mendapatkan air
ukuran 100 ml atau bisa juga sesuai
kebutuhan.

• Setrelah itu uji dengan tes waktu. Kapan
dan berapa lama proses penetasannya.

• 39
Shares


Click to View FlipBook Version