BAHASA KALBU Terdiam raga memendam rasa Dalam balutan jiwa yang terpana Hati terasa gundah gulana Diliputi tanya yang bergelora Perih rasa hati yang tak terperi Terdiam terpana dalam bahasa yang tak dimengerti Akankan semua ini tetap menjadi rahasia Ilahi Tak dapat dimengerti dalam bahasa hati Kau yang disana terdiam seribu bahasa Ungkapan kata yang tak berbahasa Sejuta kata kau tungan dalam rahasia Memendam rasa dalam rencana
BENARKAH??? Sejuta tanya menari-nari dalam lubuk hati Menanti jawaban meskipun tak pasti Aku duduk termenung disudut ruangan ini Sendiri…ya..aku sendiri pagi ini… Ku layangkan pandangan mataku pada setumpuk buku-buku dimeja kerjaku Ku ambil salah satu …ahhh…apakah benar aku seorang guru?? Benarkah aku layak dan patut untuk digugu dan ditiru?? Benarkah setiap langkahku dapat dijadikan teladan untuk murid-muridku? Benarkah tutur kataku meneguhkan hati mereka bagaikan tersiram air kalbu?? Benarkah tatapan mataku meneduhkan hati mereka yang sendu?? Wahai Sang Penguasa jagat raya Sadarkanlah diri ini bahwa akulah pengemban amanat mulia Mencerdaskan anak bangsa…meraih masa depan mereka Jangan biarkan mulut ini mengeluh Jangan biarkan raga ini rapuh Demi pendidikan anak-anakku utuh
BIARKAN AKU BERBEDA Aku bukanlah mereka Mereka bukanlah aku Jangan paksakan aku seperti mereka Karena mereka tak biasa menjadi sepertiku Jangan tuntut aku jadi pribadi serba bisa Mungkin aku tak sepandai dirinya Tapi biarkan aku berbeda Menjadi diriku apa adanya Ibu… aku bangga dengan diriku Aku nyaman dengan keadaanku Biarlah aku begini dan terus akan seperti ini Dukung aku dalam pelukmu Rangkul aku dalam doamu sepanjang waktu
BIARKAN AKU BERBEDA Aku bukanlah mereka Mereka bukanlah aku Jangan paksakan aku seperti mereka Karena mereka tak biasa menjadi sepertiku Jangan tuntut aku jadi pribadi serba bisa Mungkin aku tak sepandai dirinya Tapi biarkan aku berbeda Menjadi diriku apa adanya Ibu… aku bangga dengan diriku Aku nyaman dengan keadaanku Biarlah aku begini dan terus akan seperti ini Dukung aku dalam pelukmu Rangkul aku dalam doamu sepanjang waktu
Dilema Hati Tangisanmu memecah keheningan dipagi hari Kau bertanya, kemana ibu kan pergi pagi ini? Kau berdandan rapi sekali Meninggalkanku seorang diri Tak ada yang salah dengan pertanyaanmu Tapi pertanyaanmu membuat galau hatiku Rasa berat langkah kakiku Meninggalkanmu walau sementara waktu Wahai buah hati ibu Izinkan ibu pergi sementara waktu Sore hari kita akan bertemu Bersenda gurau melepas rindu
Dilema Hati Tangisanmu memecah keheningan dipagi hari Kau bertanya, kemana ibu kan pergi pagi ini? Kau berdandan rapi sekali Meninggalkanku seorang diri Tak ada yang salah dengan pertanyaanmu Tapi pertanyaanmu membuat galau hatiku Rasa berat langkah kakiku Meninggalkanmu walau sementara waktu Wahai buah hati ibu Izinkan ibu pergi sementara waktu Sore hari kita akan bertemu Bersenda gurau melepas rindu
JARI KECILMU Langkah-langkah kecilmu tanpa suara Berderap menyapa dalam rasa Kau gapai tanganku dan berkata: Ini tanganku, bantuku meraih asa Tangan mungilmu yang dulu kini telah menjelma Menjadi jemari anak remaja Jari-jari kecilmu yang dulu, sekarang menjadi penuh makna Tak lagi mau ku gengam…malu katanya… Aku rindu jari kecilmu dulu Menggores tinta penuh arti Dan hanya engkau yang mengerti Jari kecilmu merenda kata penuh makna Ibu..besar nanti akan ku gantikan kau berdiri disini Ya Ilahi…kabulkanlah doa si jari kecil ini Suatu saat nanti akan terbukti Ada pengantiku mengajar disini…
JINGGA Merindukan senja berwarna jingga Bertabur rasa dalam asa Dalam kemelut yang tak berasa Terbalut rindu dalam derita Ombak yang bergelora terngiang jelas ditelinga Menghantarkan gelora yang bergejolak dalam jiwa Jawaban hati insan yang menderita Didera rindu yang bergelora Wahai jingga di senja hari Sampaikan salam rinduku yang tak peri Pada dia pujaan hati Akankah ada rindu yang terpatri?
NAKALMU AKALMU Berlarian kian kemari Membuat jengkel setiap hari Berdiri disana sini Tak memperhatikan apa yang ku ajarkan hari ini Kau bilang kau bosan Belajar lagi…lagi dan lagi Protes setiap hari tanpa henti Kau katakan jenuh dengan semua ini Hari ini kau tulis pesan istimewa Ibu..bolehkah aku memanggilmu bunda? Akan kubuktikan kalau aku bisa Menjadi anak yang berguna Esok hari kau kembali Membawa hasil karyamu sendiri Rangkaian karya hasil kecanggihan tehnologi Nakalmu itulah akalmu… Jadilah nakal yang berakal…
PAGIKU Tangisanmu memecah keheningan dipagi hari Kau bertanya, kemana ibu kan pergi pagi ini? Kau berdandan rapi sekali Meninggalkanku seorang diri Tak ada yang salah dengan pertanyaanmu Tapi pertanyaanmu membuat galau hatiku Rasa berat langkah kakiku Meninggalkanmu walau sementara waktu Wahai buah hati ibu Izinkan ibu pergi sementara waktu Sore hari kita akan bertemu Bersenda gurau melepas rindu
PANGGILAN HATI Malam yang mencekam berganti dengan mentari Indahnya mimpi berakhir dengan dini hari Sejuta asa menari-nari dalam balutan hati Wujudkan mimpi dengan asa sejati Ini bukan masalah profesi Tapi ini adalah niat hati Mewujudkan panggilan Ilahi Untuk mencerdaskan anak negeri Wahai Sang khalik Sejati Berkatilah niat hati ini Untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi Demi generasi bangsa yang kukasihi
PEJUANG KABUT PAGI HARI Mentari pagi belum menampakkan wajah Bersama embun pagi yang masih basah Berbekal jaket lusuh tak mewah Kutembus kedinginan walau mentari belum merekah Perjuanganan hari ini akan kuawali Berbekal niat hati yang tulus dan suci Memenuhi panggilan hati Ibu Pertiwi Mencerdaskan dan mewujudkan asa anak negeri Duhai anak negeri Sambutlah niat hati ini milikilah semangat belajar sepanjang hari kan kudampingi kau belajar hari ini
RASA INI BUKAN RASAMU Rasa ini bukan sekedar rasa Sekedar rasa tak akan pernah terasa Terasa tapi tak sama Karena apa yang kurasa berbeda dari yang kau rasa Rasa ini bukan rasamu Rasamu bukan juga rasaku Karena kau tak pernah tau rasaku Akupun tak akan pernah memasakan rasaku padamu Meskipun kau memaksa tapi kau tak akan sanggup merasa Meski sedikit keluh ingin terucap Namun kujaga agar tak terucap Karena rasa ini bukanlah rasamu Dan kau tak akan pernah sanggup merasakan rasaku
SAAT KAU BESAR NANTI Malam merapat perlahan-lahan Meninggalkan terang dalam kegelapan Kupandangi wajah mungil penuh kegembiraan Dalam balutan selimut penuh harapan Wajah mungilmu yang imut Tak banyak harapan ibu menuntut Bisikan kata cinta ibu tak kan redup Saat kau besar nanti tetaplah penurut Tumbuhlah besar anakku sayang Tetaplah kuat dan jangan tumbang Jadilah lelaki yang kuat lagi penyayang Tataplah masa depan yang masih jauh terbayang Wujudkan harapan setinggi impian
SANG TIMUR Mentari menyapa dalam kehangatan Canda dan tawa mereka dalam keceriaan Bukti hati yang ceria dalam kegembiraan Sang timur tiba dalam kehidupan Kulit hitam legam yang kau punya Tak menyurutkan niat untuk berkarya Bertekat baja berhati mulia Kau berjuang menggapai asa Sang timur sejati menyapa hati Bak mutiara hitam dipagi hari Indah berseri bagai mentari Akankah wajahmu terus menari-nari?
SENYUMAN YANG MENGEMBANG Kusambut dirimu di pintu gerbang Kuberikan senyum yang mengembang Kugandeng tanganmu dalam genggaman Kutuntun langkahmu menuju kelas harapan Kulihat wajahmu bermuram durja Seakan menahan amarah yang membara Bolehkan kubantu melepaskannya? Kuingin melihat kau juga tersenyum ceria Kudampingi engkau belajar hari ini Dengan senyum yang tulus dari hati Membawamu menggapai asa sejati Mewujudkan mimpi merajut hari
TAK TERASA Awal bulan Juli kau datang kemari Diantar ayah dan ibumu untuk belajar disini Wajah polos dan lugu menggugah jiwa ini Bertekad mendidikmu sepenuh hati Setengah perjalanan kau belajar disini Kau mulai mengeluh itu ini Menunjukkan kepandaianmu yang salah arti Bahkan mulai belajar tidak menghargai Aku bersabar menanti perubahanmu Ku berikan wejangan dan teladanku Ku buktikan janjiku untuk tetap mendidikmu Walaupun terkadang hati ini bagai disayat sembilu Hari ini…tak terasa Tiga tahun sudah berlalu penuh makna cinta Kau membuktikan bahwa kau bisa Tak terasa selesai sudah kau meraih asa Melanjutkan studi di tempat yang berbeda Sukses terus anakku… Doa ibu menyertaimu…
TENTANG SEBUAH RASA Jeritan hati bagai disayat sembilu Mengharu biru menusuk kalbu Rintihan hati tak mampu terucap karena bibir ini terasa kelu Tentang sebuah rasa dalam dada Tentang apa yang dirasakan dalam raga Tentang apa yang terpikir dalam sukma Tak mampu menyibah misteri dalam dilema Menunggu mengajariku arti sebuah rasa Rasa ketulusan berbalut dalam kesabaran Berkorban dalam hitungan waktu Membayar dengan ketulusan tanpa sungutan