PENERAPAN LANGUAGE EXPERIENCE
APPROACH UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENULIS SISWA KELAS II
SD NEGERI SIEM
Proposal
diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh:
Siti Zahara
1711080065
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BINA BANGSA GETSEMPENA
BANDA ACEH
2020
1
DAFTAR ISI
HALAMAN
DAFTAR ISI .......................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................. 6
1.5 Definisi Operasional........................................................... 7
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Language Experience Approach ......................................... 9
1. Pengertian LEA……………………………………………. 9
2. Karakteristik dan Prosedur Pembelajaran LEA……………..10
3. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pengalaman
Berbahasa…………………………………………………..13
2.2 Hakikat Keterampilan Menulis Permulaan......................... 15
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian ......................................................... 18
3.2 Subjek Penelitian ............................................................... 20
3.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................. 21
3.4 Instrumen Penelitian........................................................... 22
3.5 Teknik Analisis Data.......................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 26
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengajaran bahasa Indonesia selalu diberikan dalam tiap jenjang
pendidikan, dimulai dari tingkatan pendidikan usia dini hingga peguruan tinggi,
dan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar,baik secara lisan
maupun tulisan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pengajaran
bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu,
pengajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk membina kemampuan siswa yaitu
berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan. Hal
tersebut sesuai dengan Depdiknas pada kurikulum KTSP (2006) yang menyatakan
bahwa kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia untuk bidang studi bahasa
terdiri atas empat aspek, yaitu keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan
berbicara. Aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan dilaksanakan secara terpadu
dengan porsi pengajaran yang seimbang dibandingkan dengan keterampilan
bahasa lain.
Selanjutnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun
2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan menyebutkan kompetensi yang
diharapkan dari pembelajaran pada aspek menulis pada siswa sekolah
dasar yaitu siswa dapat melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk
3
mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan
sederhana, perunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan,
ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita,
puisi, dan pantun (Depdiknas, 2006:235).
Menulis merupakan tuntutan penting bagi peserta didik. Dengan menulis
memudahkan siswa untuk berpikir kreatif dan aktif, serta mampu memberikan
reaksi positif terhadap perkembangan di lingkungan sekitar yang. selalu dinamis.
Melalui kegiatan menulis, siswa dapat melatih kemampuan mengorganisasikan
dan menjernihkan berbagai konsep atau ide, dengan menulis siswa dapat
memunculkan ide baru, dan dengan menulis siswa dapat terbantu untuk menyerap
dan memproses informasi dan membantu untuk berpikir aktif. Dengan
pemunculan ide baru dalam menulis, siswa dapat mengekspresikan perasaan
dalam sebuah paragraf yang akan dapat dijadikan sebuah karangan.
Mengingat pentingnya peranan menulis bagi siswa, maka selayaknya
menulis dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah mulai sekolah dasar (SD)
sampai perguruan tinggi (PT). Pada pembelajaran menulis di kelas rendah, tujuan
diarahkan pada kepemilikan terhadap kegemaran dan keterampilan menulis untuk
meningkatkan pengetahuan dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Depdiknas menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis
di kelas dua dan tiga didasarkan pada kompetensi sebagaimana tertuang
dalam kurikulum KTSP 2006 sebagai berikut:
1. Menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.
Menulis kalimat sederhana yang didektekan guru dengan
4
menggunakan huruf tegak bersambung dan memperhatikan
penggunaan huruf capital dan tanda titik. (untuk kelas dua).
2. Menulis mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam
bentuk paragraf dan puisi. Menyusun paragraph berdasarkan bahan
yang tersedia dengan memperhatikan penggunaan ejaan. (untuk kelas
tiga)
Dengan karakteristik tersebut, siswa SD dituntut untuk mempunyai
kemampuan menulis dengan memperhatikan berbagai aspek yang cukup
kompleks. Misalnya pilihan kata, penguasaan kalimat dan paragraf. Hal ini berarti
perkembangan menulis siswa SD masih perlu diperhatikan. Mengingat pentingnya
aktivitas menulis tersebut, keterampilan menulis itu sangat perlu ditingkatkan agar
siswa menjadi terampil menulis. Peningkatan keterampilan menulis siswa diyakini
dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan kurikuler dan pada akhirnya mencapai
tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan.
Pembelajaran menulis dapat diciptakan dengan melibatkan siswa
sebanyak- banyaknya untuk mengungkapkan pengalaman bahasa mereka. Melalui
pengalaman bahasanya, siswa dapat mengawali kegiatan menulisnya dengan rasa
senang. Mereka menulis apa yang dirasakan dan dipikirkannya kemudian mereka
membaca apa yang dirasakan dan dipikirkannya.
Kegiatan menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses
pembelajaran. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis dan
mengungkapkannya dalami bentuk tulisan. Tarigan mengatakan kegiatan menulis
sangat penting bagi pendidikan, karena memudahkan para pelajar berpikir secara
5
kritis. Jika dilihat sepintas, kegiatan menulis sama kegiatan bebicara, yaitu untuk
menyampaikan informasi kepada orang lain (Pramitha, 2017:36).
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II banyak materi yang
harus dipelajari oleh siswa, salah satunya adalah menulis permulaan. Tahap
keterampilan menulis permulaan umumnya diajarkan pada saat anak-anak duduk
di kelas satu dan dua. Dalam keterampilan menulis permulaan mencakup dengan
menulis dengan tangan, mengeja, menulis kalimat sederhana dan mengarang.
Menurut Suparno dan Yunus dalam Dalman (2011:4) menulis merupakan
suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa
tulis sebagai alat atau media yang digunakan dalam penyampaikan pesan. Menulis
merupakan kegiatan yang kompleks karena penulis dituntut untuk mampu
menyusun dan mengorganisasika ide atau gagasannya ke dalam ragam bahasa
tulis. Di sisi lain dari kerumitannya, menulis bermanfaat bagi pengembangan
mental, intelektual, dan sosial siswa. Melalui kegiatan menulis siswa dapat
menuangkan ide atau gagasannya.
Pembelajaran menulis permulaan pada observasi yang telah dilakukan di
kelas II SD Negeri Siem, ditemukan permasalahan siswa kesulitan dalam
mengikuti pembelajaran menulis permulaan. Keterampilan berbahasa yang lain,
seperti keterampilan membaca sebagian besar siswa sudah dapat membaca dengan
lancar. Kemudian untuk keterampilan berbicara juga sudah tergolong bagus
karena siswa berani jika diminta guru untuk bercerita di depan kelas. Selain itu,
kemampuan menyimak juga sudah bagus sedangkan keterampilan menulis
permulaan sangat rendah. Oleh karena itu, pada penelitian ini lebih difokuskan
6
pada keterampilan menulis permulaan karena masih cenderung rendah.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kemampuan membaca dan menulis permulaan adalah dengan metode Language
Experience Approach (LEA) karena pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan
yang tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis permulaan bagi siswa kelas
II SD Negeri Siem.
Metode ini dipilih karena peneliti ingin mengetahui sejauh mana siswa
mampu menulis permulaan berdasarkan pengalaman bahasa siswa. Melaluii
metode ini siswa dapat berlatih dalam melaksanakan pembelajaran menulis yang
diarahkan pada pemahaman membaca, kosakata, pembacaan pesan, dan ejaan.
Mengingat pentingnya pemahaman tentang menulis untuk meningkatkan
keterampilan menulis permulaan siswa, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul “Penerapan Language Experience Approach untuk
Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Kelas II SD Negeri Siem”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan siswa dalam menulis permulaan
di Kelas II SD Negeri Siem melalui penerapan metode pembelajaran
Language Experience Approach (LEA) ?
2. Bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran melalui
metode pembelajaran Language Experience Approach (LEA) di Kelas II
7
SD Negeri Siem?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Meningkatkan keterampilan menulis dengan metode pembelajaran
Language Experience Approach (LEA)
2. Tujuan Khusus
Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan khusus dalam
penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis pada siswa
kelas II SD Negeri Siem melalui metode pembelajaran Language
Experience Approach (LEA).
1.4 Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan, maka penelitian ini diharapkan memiliki manfaat
sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatka kemampuan
membaca dan menulis permulaan.
b. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan keaktifan, motivasi,
minat dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2. Bagi Guru
a. Hasil penelitian dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan
metode LEA.
b. Hasil penelitian dapat menjadi bahan inspirasi untuk menentukan
8
metode lain dalam menggunakan kegiatan belajar mengajar.
3. Bagi Sekolah
Bagi sekolah diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi
sekolah secara keseluruhan.
1.5 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap istilah yang digunakan,
dalam penelitian ini diberikan batasan istilah sebagai berikut:
1. LEA ( Language Experience Approach)
Metode Pembelajaran LEA atau Pendekatan Pengalaman Bahasa ini adalah
kegiatan membaca / menulis berdasarkan pengalaman bersama. Biasanya ini
tentang sesuatu seperti kunjungan lapangan ataupun outing class). Kemudian
kegiatan ini digunakan sebagai kegiatan membaca / menulis / tata bahasa.
Language Experience Approach (LEA) adalah salah satu cara yang efektif
untuk memulai menulis. Di mana kegiatan ini berpusat pada anak dan
menunjukkan bahwa pikiran dan bahasa anak dihargai. Anak-anak akan belajar
menulis dari pengalaman mereka sendiri,karena LEA menggunakan kata-kata dari
anak itu sendiri sebagai dasar untuk memulai menulis.
2. Keterampilan Menulis
Zaki (2018) mengatakan bahwa kemampuan seseorang dalam menuangkan
gagasan atau ide sangat berpengaruh terhadap informasi yang diterima oleh
pembaca. Dengan demikian, guru atau tenaga pengajar wajib memberikan
perhatian lebih pada aspek keterampilan menulis siswanya.
Selain itu, Kubiznova (2009) juga mengatakan menulis adalah salah satu
9
produk dari keterampilan berbahasa. Artinya jika dibandingkan dengan
keterampilan bahasa yang sifatnya respetif seperti menyimak dan membaca, siswa
dituntut untuk lebih fokus pada hal-hal yang bersifat produk atau hasil dalam
keterampilan berbahasa, salah satunya menulis.
10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Language Experience Approach (LEA)
1. Pengertian LEA
LEA adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran Bahasa. Pendekatan
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih umum. Oleh karenanya strategi dan metode
pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan
tertentu (Wina Sanjaya: 2008: 126-127).
LEA (Language Experience Approach) adalah pendekatan alamiah yang
berpangkal dari wawasan whole language dan teori pengalaman bahasa Whole
language merupakan suatu pandangan tentang hakekat proses belajar bahasa yang
dikembangkan dari berbagai wawasan dan hasil penelitian dari berbagai disiplin
ilmu dan dikembangkan dari pengalaman praktis para guru.
Metode Pembelajaran LEA atau Pendekatan Pengalaman Bahasa ini adalah
kegiatan membaca / menulis berdasarkan pengalaman bersama. Biasanya ini
tentang sesuatu seperti kunjungan lapangan ataupun outing class. Kemudian
kegiatan ini digunakan sebagai kegiatan membaca / menulis / tata bahasa.
LEA merupakan salah satu cara yang efektif untuk memulai menulis.
Dimana kegiatan ini berpusat pada anak dan menunjukkan bahwa pikiran dan
bahasa anak dihargai. Anak-anak akan belajar menulis dari pengalaman mereka
11
sendiri, karena LEA menggunakan kata-kata dari anak itu senidri sebagai dasar
untuk memulai menulis.
2. Karakteristik dan Prosedur Pembelajaran LEA
Pada hakikatnya pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan
kompetensi komunikatif yakni kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan
bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis (Depdikbud, 2004). Aspek-
aspek yang tercakup dalam pembelajaran bahasa ialah menyimak, membaca,
berbicara, dan menulis. Keempat aspek tersebut dikembangkan bersama-sama
sejak kelas I SD dan penekanan pada kemampuan baca-tulis.
Pembelajaran baca-tulis dengan LEA menekankan pada komunikasi serta
menggabungkan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Anak-
anak berpikir, berbicara, menuliskan, kemudian membacanya. Bahasa dan
pemikiran mereka digunakan sebagai dasar untuk belajar baca-tulis.
Belajar menulis dengan LEA didasarkan pada asumsi bahwa minat,
pengalaman, dan pengetahuan tentang nilai pribadi akan menciptakan motivasi
dalam belajar menulis. Menulis akan lebih mudah dan menyenangkan jika bahasa
yang digunakan sesuai dengan bahasa pembaca (Nessel & Jones dalam Combs,
1996:216). Karena materi belajar berasal dari mereka maka variasi-variasi
kegiatan belajar akan lebih menarik untuk diajarkan, berguna, dan tepat sasaran.
Langkah pembelajaran baca-tulis dengan LEA meliputi kegiatan: (1)
penjajakan, (2) pembahasan, (3) penulisan, (4) penyempurnaan, dan (5)
pemanfaatan (Dixon & Nessel 1983). Berikut ini dipaparkan 5 (lima) tahapan
pembelajaran baca-tulis dengan LEA.
12
(1) Penjajakan
Sebelum pembelajaran (kegiatan inti) dimulai, guru menjajaki latar
belakang pengetahuan dan pengalaman bahasa siswa. Guru
mengidentifikasi kebutuhan dan minat siswa. Guru memotivasi siswa untuk
berpikir dan berbicara. Hal itu dapat dilakukan dengan menunjukkan
gambar atau melalui pengalaman langsung dan atau melalui penjelasan
verbal, serta bertanya jawab.
(2) Pembahasan
Siswa bersama-sama guru mendikusikan pengalaman mereka. Guru
mengarahkan para siswa untuk berinteraksi. Apabila sisiwa kesulitan
mengungkapkan hal yang mereka pikirkan, guru memancing dengan
pertanyaan-pertanyaan. Guru membimbing siswa dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan penuntun. Pembahasan dapat dilakukan secara
kelompok atau klasikal dengan bimbingan guru.
(3) Penulisan
Menuliskan pengalaman sendiri merupakan hal yang sangat
menyenangkan. Jika siswa belum dapat menulis, guru dapat menuliskan
kata dan kalimat yang dituturkan oleh para siswa. Guru mengarahkan agar
kalimat-kalimat yang dibuat oleh siswa dapat tersusun menjadi suatu cerita.
Penulisan dapat dilakukan secara klasikal, dalam kelompok kecil, atau
individual. Hal itu terutama bertujuan untuk menjadikan baca-tulis sebagai
keterampilan yang bermakna dan mudah dimengerti oleh siswa.
Penyempurnaan
13
Ketika menuliskan kata dan kalimat di papan tulis, guru tidak mengubah
bahasa siswa meskipun terdapat kesalahan. Para siswa diberi kesempatan
untuk membaca bacaan yang telah dibuat bersama-sama. Pembetulan
dilakukan pada tahap penyempurnaan ini. Guru bersama siswa
menyempurnakan bahasa dan struktur kalimat yang kurang tepat.
(4) Pemanfaatan
Menghasilkan suatu tulisan merupakan kebanggaan tesendiri bagi para
siswa terutama bagi siswa yang belum lancar baca-tulis. Pembelajaran
baca-tulis berdasarkan pengalaman bahasa mereka akan lebih menarik.
Bacaan yang telah disempurnakan dapat digunakan untuk melatih
keterampilan baca-tulis. Misalnya membaca dengan lafal dan intonasi
yang benar, membaca kelompok kata, membaca kalimat, membaca
paragraf, serta menambah kosakata siswa melalui pencarian sinonim atau
antonim. Kelas akan mempunyai banyak bacaan apabila penulisan
dilakukan secara berkelompok atau individual. Untuk melatihkan
keterampilan membaca, guru dapat memilih cerita sebagai bahan
pembelajaran membaca sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai pada saat
itu.
Menurut Harjasujana (1997:197), hal-hal yang harus diperhatikan dalam
Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB) adalah :
a. PBB merupakan suatu pendekatan pengajaran.
b. Materi ajar digali dari pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si
pembelajar itu sendiri.
14
c. Pelaksanaan pembelajarannya melibatkan seluruh aspek keterampilan
berbahasa siswa secara integratif.
3. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa
1. Keunggulan Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai
berikut.
a. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa dimulai dengan soal
perkembangan bahasa anak. Maksudnya, materi bahan ajar yang
digunakan untuk pengajaran berbicara sesuai dengan tingkat
penguasaan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok
menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan
sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak.
b. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa mengintegrasikan semua
kegiatan kebahasaan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, anak-
anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan terkadang menuliskan
wacana yang tengah dikembangkan.
c. Pendekatan Pengalaman Berbahasa mempunyai sifat wajar.
d. Pendekatan Pengalaman Berbahasa tidak memerlukan banyak
biaya.
2. Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai
berikut.
a. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa hanya digunakan pada
pengajaran penguasaan ketrampilan berbahasa tingkat awal.
15
Selanjutnya, Pendekatan Pengalaman Berbahasa dapat
dikembangkan pada pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa
yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis untuk tingkat
lanjut. Hal ini dapat dikembangkan karena ada anak-anak yang
duduk di kelas atas namun kemampuan penguasaan keterampilan
berbahasanya masih berada pada peringkat permulaan.
b. PBB menuntut waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan
pendekatan yang lain.
c. PBB menuntut agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan
dan sejumlah kosakata sehingga guru harus mengetahui apa yang
akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
d. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan
pengajaran kemampuan berbahasa dengan menggunakan pendekatan
pengalaman berbahasa ada beberapa keunggulan dan kelemahan di
dalamnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kelemahan-
kelemahan tersebut diatasi terlebih dahulu.
3. Cara mengatasi kelemahan tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Guru terlebih dahulu harus mengetahui taraf keterampilan berbahasa
siswa. Setelah itu guru dapat menerapkan Pendekatan Pengalaman
Berbahasa dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
b. Karena Pendekatan Pengalaman Berbahasa menuntut waktu yang
lebih banyak dari metode yang lain, maka guru terlebh dahulu
membuat metode yang tepat dalam pembelajran berbicara denga
16
Pendekatan Pengalaman Berbahasa, sehingga dalam waktu yang
relatif singkat tujuan pembelajaran dapat tercapai.
c. Karena dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Pengalaman
Berbahasa melibatkan semua keterampilan berbahasa seperti
menyimak, membaca, dan menulis, serta sejumlah kosakata, maka
guru harus dapat memilih tema-temayang sesuai dengan kemampuan
berpikir anak, dan kapan harus mengajarkannya kepada siswa.
2.2 Hakikat Keterampilan Menulis Permulaan
1. Pengertian Keterampilan Menulis Permulaan di Kelas II SD
Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan
sebuah tulisan. Menulis dapat diartikan sebagai suatu proses atau hasil (Suparno,
dkk: 2010). Kegiatan menulis permulaan ini biasa disebut dengan hand writing,
yaitu cara merealisasikan simbol-simbol bunyi dan cara menulisnya dengan baik
dan benar. Tingkatan ini terkait dengan strategi atau cara mewujudkan simbol-
simbol bunyi bahasa menjadi huruf-huruf yang dapat dikenali secara konkret.
Lebih lanjut Suparno mengatakan “kemampuan menulis merupakan salah satu
jenis kemampuan yang bersifat produktif. Artinya kemampuan menulis
merupakan kemampuan yang menghasilkan tulisan”.
Salah satu keterampilan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran adalah
keterampilan menulis. Menulis yang dimaksud di sini adalah mengekspresikan
pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan, salah satunya yaitu siswa mampu
menyalin kalimat/teks cerita yang diberikan oleh guru dengan jelas dan rapi.
17
2. Tujuan Menulis Permulaan di Kelas II SD
Tujuan pengajaran menulis pada dasarnya ialah memberikan bekal
pengetahuan dan kemampuan kepada siswa untuk menguasai teknik-teknik
menulis dengan baik dan benar.
Secara rinci tujuan pembelajaran menulis di SD/MI yaitu :
a. Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami dan
melaksanakan cara membaca dan menulis dengan baik dan benar.
b. Melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal dan
menulis huruf-huruf (abjad) sebagai tanda bunyi atau suara.
c. Melatih dan mengembangkan kemampuan siswa agar terampil
mengubah tulisan menjadi suara dan terampil menulis bunyi/suara yang
didengarnya.
d. Mengenalkan dan melatih siswa untuk mampu membaca dan menulis
sesuai dengan teknik-teknik tertentu.
e. Melatih keterampilan siswa untuk memahami kata-kata yang dibaca atau
ditulis dan mengingat artinya dengan baik.
f. Melatih keterampilan siswa untuk dapat menetapkan arti tertentu dari
sebuah kata dalam konteks kalimat.
g. Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami,
menuliskan, menggunakan dan menikmati keindahan cerita bahasa
Indonesia.
h. Mengungkapkan ide/pesan sederhana secara lisan atau tertulis.
18
3. Materi Keterampilan Menulis Permulaan di Kelas II SD
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ditegaskan bahwa siswa
sekolah dasar perlu belajar untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi
dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan.
Keterampilan membaca permulaan ditekankan pada membaca lancar. Sedangkan
dalam menulis permulaan ditekankan pada menyalin kalimat/teks cerita yang
diberikan oleh guru dengan jelas dan rapi.
Salah satu keterampilan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia adalah keterampilan menulis. Menulis permulaan diadakan untuk dapat
memperoleh informasi tentang kemampuan siswa dalam lambang- lambang bunyi
dalam hubungan kalimat, sesuai dengan aturan ejaan yang sudah diajarkan.
Pelaksanaan penilaian menulis permulaan dapat dilakukan dalam proses latihan
siswa salah satunya menyalin kalimat/teks cerita yang diberikan oleh guru dengan
tulisan yang jelas dan rapi.
19
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas. Menurut E. Mulyasa (2012 :11), penelitian Tindakan Kelas merupakan
suatu upaya untuk mencermati kegiatan belajar sekelompok peserta didik dengan
memberikan sebuah tindakan (treatment) yang sengaja dimunculkan. Tindakan
tersebut dilakukan oleh guru, oleh guru bersama-sama dengan peserta didik, atau
oleh peserta didik di bawah bimbingan dan arahan guru, dengan maksud untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian Langkah-langkah rencana penelitian Tindakan Kelas Berikut ini
akan dijelaskan langkah-langkah PTK yang diadaptasi dari Kunandar, (2011:31),
yaitu sebagai berikut:
1) Pra-refleksi
Pra-refleksi adalah mencari data sebelum dilakukannya tindakan, PTK
adalah sebenarnya mempromosikan perubahan, dan untuk melaporkan
adanya perubahan perlu merekam situasi dan keadaan sebelum dan
sesudah tindakan. Teknik observasi dapat digunakan sebelum dan
sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan
tersebut.
2) Perencanaan (Planing)
Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan adalah rencana rinci
mengenai tindakan yang ingin dikerjakan atau perubahan yang
20
dilakukan. Pada tahap ini dilakukan persiapan pembelajaran seperti
identifikasi awal, membentuk skenario pembelajaran, menyiapkan alat
evaluasi dan sebagainya.
3) Tindakan (Acting)
Pelaksanaan tindakan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dalam
skenario pembelajaran atau merupakan realisasi dari tindakan yang
sudah direncanakan sebelumnya. Tindakan berupa proses belajar
mengajar yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan
faktor utama guru dan peserta didik.
4) Pengamatan (Observation) /Evaluasi
Pengamatan adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan
atau kegiatan pengamatan untuk memotret sejauh mana efek tindakan
telah mencapai sasaran. Setiap perilaku peserta didik dan guru yang
terjadi dalam proses belajar mengajar yang menuju pada tercapainya
tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. Tahap pengamatan
pada peneilitian dilaksanakan berdasarkan lembar observasi yang
terdiri dari lembar observasi guru dan siswa yang talah disusun untuk
melihat aktivitas guru dan siswa serta proses pembeajaran berlangsung
serta kemampuan siswa memecahkan masalah yang diberikan. Objek
observasi adalah seluruh proses tindakan terkait, pengaruhnya (yang
disengaja maupun tidak disengaja), keadaan dan kendala tindakan yang
direncanakan dan pengaruhnya, serta persoalan yang timbul dalam
konteks terkait. Pada tahap ini juga diamati perubahan-perubahan yang
21
terjadi pada proses pembelajaran.
5) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan dan
mempertimbangkan hasil analisis hambatan yang muncul dan dampak
saat kegiatan tindakan. Informasi yang diperoleh kemudian dievauasi
dan dipertimbangan kembali tindakan yang telah diakukan dan yang
telah dicatat pada saat pengamatan untuk memperbaiki hal-hal yang
kurang. Pada tahap ini dilakukann analisis terhadap hasil observasi dan
hasil tes siswa. Hasil analisis pada tahap refleksi ini akan digunakan
sebagai pertimbangan perbaikan dalam melaksanakan siklus
selanjutnya serta sebagai bahan berbandingan pada siklus kedua.
mempertimbangkan hasil analisis hambatan yang muncul dan dampak
saat kegiatan tindakan. Informasi yang diperoleh kemudian dievauasi
dan dipertimbangan kembali tindakan yang telah diakukan dan yang
telah dicatat pada saat pengamatan untuk memperbaiki hal-hal yang
kurang46. Pada tahap ini dilakun anaisis terhadap hasil observasi dan
hasil tes siswa. Hasil analisis pada tahap refleksi ini akan digunakan
sebagai pertimbangan perbaikan dalam melaksanakan siklus
selanjutnya serta sebagai bahan berbandingan pada siklus kedua.
Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Mulyasa, 2009:11)
3.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas II SD Negeri Siem yang berjumlah 21
22
siswa. Siswa laki-laki berjumlah 11 orang dan siswa perempuan berjumlah 10
orang. Adapun yang diamati adalah keseluruhan proses dan hasil pelaksanaan
pembelajaran pada siswa kelas II SD Negeri Siem melalui Penerapan Language
Experience Approach (LEA).
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dilapangan dalam melakukan penelitian ini, maka
peneliti melakukan kegiatan untuk mengumpulkan data, antara lain:
1. Observasi
Menurut Anas Sudijono (2009:76), “observasi adalah cara
memperoleh bahan-bahan keterangan atau data yang dilakukan dengan
mengadakan pengamatan”. Observasi atau pengamatan sebagai alat
penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun
proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya atau situasi buatan. Observasi ini di gunakan untuk mengetahui
tingkah laku dan aktivitas siswa selama pengajaran berlangsung,
Dalam hal ini penulis melakukan observasi untuk dapat mengukur
atau menilai proses belajar, tingkah laku siswa pada waktu belajar, kegiatan
kelompok siswa dan partisipasi siswa dalam pendekatan yang diterapkan.
2. Tes
Suharsimi Arikunto (2011: 53) mengatakan “Tes merupakan alat
atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu
dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”.
Dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa, tes yang diberikan
23
kepada siswa yaitu tes keterampilan menulis. Tes keterampilan menulis
adalah bentuk tes yang menggunakan bahasa secara tertulis. Tes tersebut
diberikan dalam bentuk essay. Tes ini cocok untuk menilai kemampuan
menulis siswa.
3. Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini, penulis menggunakan wawancara
tidak berstruktur, yaitu wawancara yang tidak membutuhkan pedoman
wawancara yang sistematis, melainkan dapat dilakukan dengan mengajak
berinteraksi atau berbicara selayaknya komunikasi sehari-hari dan bersifat
terbuka (open-ended).
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu perangkat yang digunakan dalam
mencari sebuah jawaban pada suatu penelitian. Adapun yang menjadi instrumen
utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dan yang menjadi instrumen-
instrumen pendukung lainnya yaitu:
1. Lembar Pengamatan (Observasi)
Observasi adalah kegiatan pengamatan pengambilan data untuk
memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Pengamatan
partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses
pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan pedoman
pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, observasi aktivitas di
kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, dan alat perekam elektronik.
Kunandar (2008:143) mengatakan “Pengamatan sangat cocok untuk
24
merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya”.
Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas siswa.
2. Tes
Kunandar (2008:186) juga mengatakan bahwa Tes adalah sejumlah
pertanyaan yang disampaikan pada seseorang atau sejumlah orang untuk
mengungkapkan keadaan atau tingkat perkembangan salah satu atau
beberapa aspek psikologis di dalam dirinya. Aspek psikologis itu dapat
berupa prestasi atau hasil belajar, minat, bakat, sikap, kecerdasan, reaksi
motorik, dan berbagai aspek kepribadian lainnya.. Tes ini digunakan untuk
mengetahui seberapa jauh kemampuan siswa dalam menulis permulaan
dengan menggunakan metode LEA.
3.5 Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data untuk masing-masing data dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Data Observasi
Data observasi aktivitas guru dan siswa diperoleh dari lembar
pengamatan yang diisi selama proses pembelajaran berlangsung. Lembar
observasi ini disesuaikan dengan langkah kegiatan yang terdapat dalam
RPP. Aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dianalisis
menggunakan statististik deskriptif dengan skor rata-rata Tingkat
Kemampuan Siswa sebagai berikut:
P = x 100%
25
Keterangan:
P = Angka presentase
F = Jumlah skor yang diperoleh
N = Skor maksimum untuk semua aspek
Tabel 3.1 Kategori Kriteria Penilaian Hasil Pengamatan Siswa
(Anas Sudijono, 2008:43)
Nilai % Kategori
Penilaian
80-100 Baik Sekali
66-79
56-65 Baik
40-55 Cukup
30-39 Kurang
Gagal
2. Analisis Tes Hasil Belajar Siswa
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar
siswa kelas II SD Negeri Siem melalui penerapan motode Language
Experience Approach dalam pembelajaran menulis. Untuk menentukan
ketuntasan belajar siswa, digunakan rumus persentase sebagai berikut:
= ℎ x 100 %
ℎ ℎ
Keterangan:
P = Angka persentase yang dicari
100% = Bilangan Tetap
26
Dengan Ketentuan:
a. Siswa dinyatakan tuntas belajar apabila mencapai daya serap
70% atau mendapatkan nilai KKM yaitu 70.
b. Ketuntasan klasikal tercapai apabila paling sedikit 80% dalam
kelas tersebut telah tuntas belajar.
27
DAFTAR PUSTAKA
Al Fuad, Z. (2018). Language Experience Approach Sebuah Pendekatan
Dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Sekolah Dasar.
Tunas Bangsa Journal, 5(2), 164-174.
Anas.2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Dalman, H. 2011. Keterampilan Menulis. Jakarta: Rajawali Pers.
Depdikbud. 2006. Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan
Pengembangan. Jakarta: Depdikbud.
Dixon, Carol N. and Nessel, Denise. 1983. Language Experience Approach
to Reading and Writing: Language-Experience Reading for Second
Language Learners. Englewood Cliffs: Prentice Hall.
Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja.2008. Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia. Jakata: Difa Publisher.
E. Mulyasa. 2012. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Kubiznová, M.2009.Using Language Experience Approach in English
Language Learning. Masaryk University BrnoFaculty of Education
Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Masnur Muslich. 2013. Melaksanakan PTK itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara.
Pramitha, P. A 2017. Tingkatkan keterampilan Menulis Siswa Sekolah Dasar
MelaluiAsessmen Portofolio. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Ganesha
Suharsimi Arikunto. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Team Pustaka Phoenix. 2007. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer.
Jakarta: Pustaka Phoenix. Strategi Pembelajaran Berorientasis
Winci Firdaus,dkk. 2008. Bahasa Indonesia, Banda Aceh:Pusat Bahasa dan
Pengembangan Tenaga Pengajar.
28