INGKE
Mata Kuliah: Kerajinan Tangan Bali
Dosen pengampu:
(Anak Agung Dewi Sutyaningsih, S.Pd., M.Pd.)
Oleh:
Nama : Ni Komang Lita Arianti
NIM : 2011031139
Kelas : I/4
No.Absen : 05
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
TAHUN AJARAN 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya
sehingga tugas penyusunan makalah “ Ingka” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Tugas menyusun makalah ini dapat diselesaikan berkat bimbingan dosen pembina mata kuliah
“Kerajinan Tangan Bali” dan juga bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang
terhormat:
1. Anak Agung Dewi Sutyaningsih, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembina mata kuliah
Kerajinan Tangan Bali, atas bimbingan yang diberikan sehingga penulis memiliki
pemahaman yang relatif cukup memadai dalam menyelesaikan makalah ini sesuai
dengan kemampuan dan keterbatasan penulis.
2. Teman-teman mahasiswa program studi PGSD, atas masukan-masukannya selama
diskusi dalam kelas, sehingga membantu menambah wawasan penulis dalam proses
penyusunan makalah ini.
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak sisi keterbatasan
dan kelemahan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang
bersifat konstruktif untuk penyempurnaannya. Sebagai akhir kata, penulis berharap semoga
makalah ini dapat memberi manfaat bagi kasanah supervisi pendidikan/pengajaran, dan juga
bermanfaat untuk para pembaca.
Badung, 25 Februari 2022
Penulis,
ii
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii
Daftar Isi .................................................................................................................................. iii
BAB I .........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN .....................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah..............................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah.....................................................................................................1
1.3 Tujuan ..............................................................................................................................1
BAB II........................................................................................................................................2
PEMBAHASAN ........................................................................................................................2
2.1 Pengertian Seni Rupa, Kerajinan Tangan dan Ingka...............................................2
2.2 Sejarah awal mula adanya ingke (piring lidi) ..........................................................3
2.3 Alat dan bahan untuk pembuatan ingke ..................................................................5
Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan ingke yaitu: ........................................5
2.4 Cara pembuatan ingke .............................................................................................5
BAB III ......................................................................................................................................8
PENUTUP..................................................................................................................................8
3.1 Simpulan......................................................................................................................8
3.2 Saran............................................................................................................................8
Daftar Pustaka............................................................................................................................9
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Seni rupa terapan adalah hasil karya seni rupa yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari dan mempunyai fungsi atau manfaat. Fungsi karya seni rupa dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi estetis dan fungsi praktis.Fungsi estetis adalah
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tentang rasa keindahan. Misalnya lukisan,
patung, dan benda hias. Fungsi praktis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia akan benda pakai. Misalnya vas bunga, kursi ukir, dan bingkai foto.
Ingka adalah salah satu karya seni terapan berupa anyaman. Anyaman yang satu
ini berbeda dengan anyaman yang lain. Biasanya anyaman terbuat dari rotan, tetapi itu
terbuat dari lidi aren. Lidi aren atau dalam Bahasa Sunda itu lidi kawung merupakan
bahan yang elastis/lentur dan mudah untuk diatur atau dibuat pola.Kegunaan dari ingka
ini yaitu untuk tempat makanan di rumah-rumah makan, bisa juga dipergunakan untuk
hiasan ataupun pajangan, selain itupun bisa dipergunakan dalam prosesi-prosesi sakral
seperti prosesi upacara-upacara adat di daerah-daerah yang masih kental dengan adat
istiadatnya. Ingke Bali adalah jenis kerajinan Bali yang digunakan oleh masyarakat bali
sebagai alas makanan (Piring) disaat upacara adat makan bersama. Penggunaan Ingke
ini disertai dengan memberikan alas kertas minyak atau bisa juga dengan daun pisang
di tempatkan diatas piring/ingke tersebut sebelum ditaruh makanan.
1.2 Perumusan Masalah
2. Apa Pengertian dari seni rupa, kerajinan tangan, dan ingka?
3. Bagaimana sejarah awal mula adanya ingke??
4. Apa saja alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat ingka?
5. Bagaima cara pembuatan ingka?
1.3 Tujuan
Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan, tujuan yang ingin dicapai dalam
makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian dari seni rupa, kerajinan tangan dan mengetahui
pengertian ingka.
2. Untuk mengetahui sejarah asal mula adanya ingke.
3. Untuk mengetahui alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat ingka.
4. Untuk mengetahui cara pembuatan ingka.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Seni Rupa, Kerajinan Tangan dan Ingka
a. Pengertian Seni Rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa
ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan
mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan
dengan acuan estetika. Bentuk karya merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa
yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur
rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak
bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makanya bentuk karya
seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang
membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas
keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya. Karya
seni rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu : karya seni rupa dua dimensi dan karya
seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang
hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari
satu arah pandang saja.
Berikut ini terdapat pendapat dari para ahli mengenai seni rupa, yakni
sebagai berikut:
1. Menurut La Mery
Menurut pendapat dari La Mery, Seni rupa merupakan suatu penglihatan
ekspresi secara simbolis dalam bentuk yang jelas dan detail dengan lebih
indah yang dinetralisir menjadi sebuah bentuk ataupun wujud indah yang
merupakan bentuk pengekspresian perasaan.
2. Menurut Alexander Baum Garton
Menurut pendapat dari Alexander Baum Garton, Seni rupa
merupakan sebuah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif, serta
menjadikan setiap orang yang meilhat atau mendengarnya merasa bahagia.
3. Menurut Emmanuel Kant
Menurut pendapat dari Emmanuel Kant, Seni rupa merupakan suatu
impian yang tidak dapat direalisasikan dengan rumus-rumus tertentu.
b. Pengertian Kerajinan Tangan
Kusnadi (1986:11) kerajinan yaitu kata rajin yang merupakan sifat rajin dari
manusia itu sendiri. dikatakan pula bahwa titik berat penghasilan atau pembuatan
seni kerajinan bukan di karenakan oleh sifat rajin,tetapi lahir dari sifat terampil
seseorang dalam menghasilkan suatu produk kerajinan.Keterampilan di peroleh
dari pengalaman dan ketekunan dalam bekerja,sehingga dapat meningkatkan
teknik penggarapan suatu produk,kualitas kerja seseorang yang akhirnya
mempunyai keahlian bahkan kemahiran dalam profesi tertentu.
2
Wiyadi(1991:915)kerajinan adalah kegiatan dalam bidang industri atau
pembuatan barang sepenuhnya di kerjakan oleh sifat rajin,terampil,ulet,serta
kreatif dalam upaya pencapaiannya.
Soeprapto(1985:16)Kerajinan merupakan keterampilan tangan yang
menghasilkan barang yang bermutu seni,maka dalam prosesnya di buat dengan
rasa keindahan dan dengan ide ide yang murni sehingga menghasilkan produk yang
berkualitas mempunyai bentuk yang indah dan menarik.
c. Pengertian Ingka
Indonesia merupakan negara tropis. Hampir di seluruh wilayah Indonesia
mememiliki jenis tanaman yang satu ini. Yah.. kelapa, siapa yang tidak tahu
tanaman ini. Mulai dari akar, batang daun apalagi buah sering dimanfaatkan oleh
manusia. Ingka merupakan piring yang terbuat dari anyaman lidi.
Bila anda pernah makan di warung makan di Bali, tidak sulit anda menemukan
piring ini. Seiring perkembangannya ingka mengalami banyak perubahan bentuk,
Mulai dari berbentuk bundar hingga berbentuk segi empat.
Selain sebagai piring. Perkembangan ingka juga banyak kini digunakan sebagai
tempat untuk menyajikan makanan atau tapat bahan sesajen dalam upacara agama
di Bali.Ingka termasuk sebuah seni atau kerajinan tradisional berbahan dasar lidi
yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk piring. Prosesnya
pembuatannya sendiri sedikit rumit. Dia membutuhkan kesabaran dari mulai
membersihkan lidi, penjemuran, hingga penganyaman.
Ingke Bali adalah jenis kerajinan Bali yang digunakan oleh masyarakat bali
sebagai alas makanan (Piring) disaat upacara adat makan bersama. Penggunaan
Ingke ini disertai dengan memberikan alas kertas minyak atau bisa juga dengan
daun pisang di tempatkan diatas piring/ingke tersebut sebelum ditaruh makanan.
2.2 Sejarah awal mula adanya ingke (piring lidi)
Pada tahun 1964 terjadi peristiwa bersejarah buat masyarakat Bali dan
Banyuwangi yaitu dengan meletusnya gunung Agung, dengan meletusnya gunung
Agung ini memberi dampak negatif juga berdampak positif. Dari segi negatif di mana
debu abu vulkanik gunung Agung yang hampir menyelimuti pulau Bali serta Jawa
Timur (Banyuwangi) selama berhari bahkan berminggu minggu dampak akibat letusan
gunung ini, perekonomian tidak bisa berjalan dengan baik(orang akan malas untuk
keluar rumah untuk beraktifitas tiap harinya). Di desa Gintangan juga kena dampak nya
di mana masyarakatnya di setiap rumah juga terganggu aktifitasnya, malas keluar
rumah, ternaknya di taruh di kandang, cari makanan ternak juga susah rumput jadi kotor
dan lain lain sebagainya. Hidup di pedesaan memang sangatlah enak dan di depan
rumah pasti ada pohon kelapa, Pohon Kelapa Ini digunakan untuk hiasan semata,
Karena rerumputan susah maka daun kelapa ini ini tiap sore daunnya diambil untuk
bahan pangan ternak sebagai pengganti alternatif dari rumput. Selama pengambilan
3
daun Kelapa ini juga untuk menghindari penumpukan abu Vulkanik yang menempel
pada daun kelapa( takut patah dan jatuh kena pekarangan rumah).
Hari demi hari daun kelapa ini di serut untuk diambil daun dan meninggalkan
lidi dan lidi ini digunakan untuk sapu korek juga di gunakan untuk bahan bakar (
memasak). Selama menunggu berhentinya abu vulkanik reda maka warga setempat
berpikir bagaimana Lidi ini digunakan sebagai apa, maka percobaan lidi ini dibuat
anyaman sebisa mungkin dengan ditata dan dirapikan sedemikian rupa maka
terbentuklah namanya Piring Lidi ( tapi waktu itu piringnya masih kasar dan bentuknya
masih tidak rapi serta bulatnya tidak merata). Selama berhari-hari tiap harinya
diperbaiki terus supaya lebih enak dipandang. Setelah 1 minggu jadi piring lidi agak
rapi maka banyak sekali warga di sekitar mulai mencoba untuk membuat piring dari
lidi ( dulu dikerjakan secara berkelompok) 1 kelompok ada 6 orang sambil ngerumpi.
Setelah mereda abu vulkanik maka ibu-ibu yang sibuknya Cuma di rumah mau belajar
buat piring yang bahannya dari Lidi. Ternyata kreatifitasnya membuahkan hasil yang
positif.
Jadi ada yang buat tiap hari untuk sekedar mencari kesibukan saja atau piring
Lidi nya digunakan sebagai hiasan rumah. Sejalan perkembangan waktu maka Piring
lidi ini mulai dikerjakan dan dikumpulkan oleh Pengepul untuk dijual di luar desa atau
kota. Lambat laut piring lidi ini mulai tahun 70 an mulai di kirim ke Bali (dikirim 1 truk
1 bulan lagi pulang 1 truk) tidak laku sama sekali karna masih ngetrands piring
berbahan kaca. Jadi piring lidi nya hanya dijual di sekitar Banyuwangi saja. Sejalan
dengan perkembangan waktu maka pada 80 an terjadi pertukaran pemuda antar kota(
waktu itu jarang sekali pelajar) pemuda dari Jogja, Semarang, Jepara, Bandung,
Tasikmalaya, Garut, dll. Pemuda dari jepara mengajarkan cara buat ukiran ke pemuda
buat ukiran kayu, yang dari Jogja mengajarkan cara buat anyaman dari bambu ( besek)
yang dari Garut mengajarkan cara membuat lampu dari bambu, sedang pemuda dari
desa kami mengajarkan cara buat Piring Lidi . (dari pertukaran Ilmu ini maka di desa
kami mengapdopsi berbagai macam kerajinan sampai sekarang) .
Pada tahun 90 an piring lidi mulai banyak dikenal di kalangan kota-kota besar
disekitar Pulau Jawa juga Pulau Bali pun mulai tertarik dengan piring lidi dan pada
tahun itu pula piring lidi mulai dikirim dalam sekala kecil sampai sekala besar, tapi
waktu itu pakai sistem cara lama( barang dikirim dulu kalau laku baru dibayar)
akibatnya dari modal uang yang di gunakan untuk pembelian bahan Lidi jadi tersendat.
Selama beberapa tahun perkembangan piring lidi tidak begitu pesat. Pada tahun 1997
terjadi krisis moneter di mana krisis ini mematikan perekonomian seluruh indonesia .
Dari krisis ini rupanya berdampak positif terutama pembelinya dari kalangan yang
mempunyai usaha rumah makan, lesehan, warung, atau pembisnis makanan yang
menyajikan dengan piring( alasannya Piring lidi harganya tidak naik karena produk
lokal). Sehabis krisis moneter piring lidi banyak sekali dikirim ke Jakarta, Batam,
Makasar,Surabaya, Jogja , Bandung, Bali, serta kota kota lainnya. Peminatnya naik
menjadi 1000% . Waktu itu peminat paling banyak berasal dari Bali karena banyak
sekali restoran yang mengadopsi Bentuk tradisional dan alami.
4
2.3 Alat dan bahan untuk pembuatan ingke
Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan ingke yaitu:
1. Lidi dari daun kelapa
2. Cutter
3. Lakban putih
2.4 Cara pembuatan ingke
Cara pembuatan ingke yaitu:
1. Siapkan lidi.
2. Bentuk lingkaran dari lidi sekitar 10-12 cm.
3. Siapkan lidi berjumlah 72 helai lidi.
4. Kemudian bagi 6 kelompok lidi yang masing-masing kelompok berisi 12 helai lidi.
5. Selanjutnya kita masukan 3 kelompok lidi ke lingkaran yang sudah disiapkan.
Seperti contoh foto berikut:
6. Selesai memasukan 3 kelompok lidi tersebut, Kita masukan lagi tiga kelompok helai
lidi yang berisi 12helai tersebut.
Seperti contoh foto:
7. Selanjutnya kita membagi lagi menjadi 4 kelompok dimana masing-masing
kelompok berisi 3 helai lidi (1 kelompok 3 helai lidi).
8. Setelah membagi menjadi 4 kelompok selanjutnya yaitu teknik menganyam.
5
Seperti contoh foto berikut:
9. Setelah ke-6 kelompok lidi tersebut selesai dianyam maka selanjutnya kita akan
menganyam bagian atas dimana caranya yaitu, dari bawah melewati 2 kelompok
lidiselanjutnya melewati 2 kelompok lidi bagia atas lakukan berulang-ulang sampai
ujung kelompok lidi pertama yang dianyam, berhenti dikelompok lidi yang ke-4.
Seperti contoh foto berikut:
10. Selanjutnya yaitu meng-eratkan setiap anyaman agar berbentuk rapi sesuai ukuran
yang kita inginkan.
11. Caranya yaitu menarik setiap ujung lidi, agar anyamannya menjadi rapat.
Seperti contoh foto berikut:
6
12. Lalu rapikan lidi-lidi yang masih lewat batas dengan gunting atau cutter.
13. Kemudian vernis ingke tersebut lalu jemur.
14. Ingke siap digunakan.
7
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan dari hasil pembahasan diatas, maka penulis dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
1. Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang
bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan
mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur,
dan pencahayaan dengan acuan estetika. Kerajinan Tangan adalah menciptakan
suatu produk atau barang yang dilakukan oleh tangan dan memiliki fungsi
pakai atau keindahan sehingga memiliki nilai jual. Ingke Bali adalah jenis
kerajinan Bali yang digunakan oleh masyarakat bali sebagai alas makanan
(Piring) disaat upacara adat makan bersama. Penggunaan Ingke ini disertai
dengan memberikan alas kertas minyak atau bisa juga dengan daun pisang di
tempatkan diatas piring/ingke tersebut sebelum ditaruh makanan.
2. Pada tahun 1964 terjadi peristiwa bersejarah buat masyarakat Bali dan
Banyuwangi Yaitu dengan meletusnya Gunung Agung, Dengan meletusnya
gunung agung ini memberi dampak negatif juga berdampak positif. Selama
menunggu berhentinya abu vulkanik reda maka warga setempat berpikir
bagaimana Lidi ini digunakan sebagai apa, maka percobaan lidi ini dibuat
anyaman sebisa mungkin dengan ditata dan dirapikan sedemikian rupa maka
terbentuklah namanya Piring Lidi ( tapi waktu itu piringnya masih kasar dan
bentuknya masih tidak rapi serta bulatnya tidak merata). Pada tahun 90 an
piring lidi mulai banyak dikenal di kalangan kota-kota besar disekitar Pulau
Jawa juga Pulau Bali pun mulai tertarik dengan piring lidi dan pada tahun itu
pula piring lidi mulai dikirim dalam sekala kecil sampai sekala besar.
3. Bahan yang digunakan: lidi, cutter, lakban bening.
4. Karya seni terapan dapat dipergunakan sebagai alat rumah tangga sehari-hari
atau di rumah-rumah makan. Contohnya piring lidi yang kita observasi. Piring
lidi memiliki nilai estetika tersendiri sehingga dapat diterima di masyarakat
banyak.
3.2 Saran
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis menyarankan Sebaiknya piring lidi
ini lebih dijadikan komoditas utama produk karya seni terapan, agar
nantinya daerah-daerah pengrajin anyaman piring lidi di Indonesia dapat dikenal
karena kekreatifannya dalam membuat suatu karya seni terapan.
8
Daftar Pustaka
AMRULLOH, M. S. (2021). KERAJINAN TANGAN, KESENIAN DAN
BUDAYA (KERTAKESBUD).
Azzahra, F., & Hasan, Y. (2018). Meningkatkan Keterampilan membuat Piring
Anyaman Lidi melalui Strategi Joyful Learning bagi Anak Tunagrahita
Ringan. Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus, 6(2), 200-205.
Budiywono, E., & Rahman, A. (2018). Pemanfaatan Lidi Daun Kelapa Menjadi
Handycraft Dalam Bentuk Anyaman Piring Lidi di Desa Purwoasri Kecamatan
Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. LOYALITAS, Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 1(1), 11-20.
Fahirah, F., Maricar, S., & Asnudin, A. (2019, July). PEMANFAATAN LIDI
DAUN KELAPA DALAM MENINGKATKAN PENGHASILAN IBU-IBU
BURUH TANI KELAPA. In Seminar Nasional Hasil Penelitian & Pengabdian
Kepada Masyarakat (SNP2M) (pp. 46-50).
Felix, J. (2012). Pengertian seni sebagai pengantar kuliah Sejarah Seni
Rupa. Humaniora, 3(2), 614-621.
Yusron Zohdi, M. (2022). PERAN MODAL SOSIAL PENGRAJIN INGKE DALAM
PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAJINAN RUMAHAN DI DESA
MONTONG BAAN SELATAN, KABUPATEN LOMBOK TIMUR (Doctoral
dissertation, Universitas Mataram).
9