"Saya mengenal keburukan tidak untuk melakukan keburukan yang sama
Tapi untuk menjaga din darinya
Karena siapa yang tak kenal keburukan manusia
Past/ ia terjerumus ke dalamnya."
Demikianlah keadaan orang beriman. Dia cerdas, jenius, paling tahu tentang
kejahatan, tapi paling jauh darinya. Jika dia berbicara tentang kejahatan dan sebab-
sebabnya, kamu sampai mengira dia orang yang paling jahat. Tapi jika kamu bergaul
dengannya dan kamu tahu perangainya, kamu akan melihat dia adalah orang yang
paling baik dan berbudi.
Yang ingin dijelaskan di sini bahwa orang yang diuji dengan ditimpa celaka atau
cacat, dia menjadi orang yang paling tahu akan sebab-sebabnya dan dapat mencegah
agar tidak menimpa dirinya atau orang lain, baik yang meminta nasihat kepadanya
maupun tidak.
Hikmah Keduapuluh Lima. Allah SWT memberi kesempatan kepada hamba-
Nya untuk merasakan pahitnya terhijab dan jauh dari-Nya. la juga memberi
kesempatan untuk merasakan hilangnya keindahan berdekatan dengan-Nya. Semua
ini untuk menguji manusia. Jika seorang hamba ridha dengan keadaan itu dan jiwanya
tidak menuntut untuk mendapatkan keadaannya semula bersama Allah SWT,
kemudian dia senang bersama selain Dia, maka Allah pun tahu kalau orang tersebut
tidak layak—maka Dia pun meletakkan orang itu pada martabatnya yang cocok.
Tapi jika dia berdoa dan cemas seperti orang yang tertimpa musibah, dan tahu
bahwa dia benar-benar telah kehilangan hidupnya sehingga memohon kepada Tuhan
agar mengembalikan kehidupannya, mengembalikan apa yang dia tidak bisa hidup
tanpanya, maka Dia tahu bahwa orang ini memang layak mendapat martabatnya—
dan Dia pun mengembalikan apa yang sangat dibutuhkan orang itu sehingga dia
merasa sangat gembira. Kenikmatannya benar-benar lengkap. Kegembiraannya tidak
terputus. Dia mengetahui harga dirinya, sehingga menggenggamnya kuat-kuat.
Keadaannya seperti keadaan orang yang kehilangan unta yang membawa makanan
dan minumannya di tengah padang pasir nan tandus, lalu dia menemukannya lagi
setelah putus asa mencari-cari dan sudah yakin akan mati. Penemuan itu tentu sangat
berbekas di dalam hatinya. Allah SWT memiliki rahasia, hikmah, dan sindiran-sindiran
yang tidak tersentuh oleh akal manusia.
Apabila seseorang yang sebelumnya mencintai diuji dengan kesepian, atau yang
sebelumnya dekat diuji dengan kejauhan, maka jiwa orang ini merindukan nikmatnnya
pertemuan itu. Jiwanya rindu, merintih, dan akhirnya mendapatkan rahmat dari zat
yang tidak bisa digantikan oleh sesuatu pun di dunia ini. Apalagi jika jiwa itu mengingat
kebaikan, kasih sayang, dan kedekatan-Nya. Ingatan itu membuatnya tidak tenang,
dan segera membangkitkan kegelisahan.
Namun, jika jiwa terus berpaling dari Tuhan dan tidak merindukan keadaan
yang dahulu pernah dirasakannya, juga tidak merasakan kesengsaraan yang sangat
dan kebutuhannya untuk mengembalikan kedekatannya dengan Tuhan, berarti dia
496 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
termasuk orang yang tidak dicari bila tidak ada dan tidak dapat dikembalikan bila lari
serta tidak dicaci bila melakukan kesalahan. Inilah jiwa-jiwa yang tidak layak untuk
mendapatkan posisi di dekat-Nya. Dan bagi orang yang berpaling, sudah pantas
dihukum tidak mendapat kedekatan dengan-Nya.
Hikmah Keduapuluh Enam. Di antara hikmah Tuhan pada diri manusia adalah
ditanamkannya dua kekuatan yaitu syahwat dan ghadhab (amarah). Kedua kekuatan
ini pada diri manusia mempunyai kedudukan yang sama dengan sifat-sifat pribadinya
yang tidak terpisah. Dengan dua kekuatan itu, manusia mendapat ujian dan musibah.
Dengan keduanya, dia mendapat derajat tinggi di sisi Tuhan, tapi juga karena keduanya
pula dia turun ke derajat yang paling rendah. Kedua kekuatan itu tidak akan
meninggalkan seorang hamba sampai mengantarkannya menggapai kedudukan
orang-orang mulia atau meletakkannya di bawah telapak kaki orang-orang durjana.
Tentu saja Allah SWT tidak akan menjadikan syahwat itu tertuju kepada apa
yang disiapkan untuk para hamba di surga, dan yang ghadhab-nya untuk membela
Allah SWT, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan agama-Nya. Ini tidak sama dengan orang yang
menjadikan syahwatnya tertuju ke hawa nafsu dan angan-angan sesaat yang
menjadikan ghadhab-nya terbatas untuk membela kepentingan pribadi meskipun
dia melihat larangan Allah SWT dilanggar dan syariat-Nya tidak diberlakukan selama
dirinya dihormati, dimuliakan dan kata-katanya didengar orang. Inilah kondisi
kebanyakan pemimpin. Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat-sifat mereka.
Tentu saja Allah SWT tidak akan menempatkan kedua jenis manusia ini di satu
tempat di akhirat kelak. Karena, orang pertama—dengan syahwat dan ghadhab-
nya—menanjak ke derajat tertinggi, sedang yang kedua anjlok ke derajat terendah.
Yang ingin kami kemukakan di sini adalah, adanya kepastian hikmah dari efek
masing-masing kekuatan tersebut. Maka, mau tidak mau pasti terjadi dosa,
penyelewengan, dan maksiat. Dan, dampak yang timbul dari adanya dua kekuatan
ini menjadi suatu keharusan. Seandainya kedua kekuatan ini tidak diciptakan pada
diri manusia, tentu dia bukan manusia tapi malaikat.
Kesimpulannya adalah bahwa timbulnya dampak dari dua kekuatan itu (yang
berupa kesalahan dan dosa) merupakan konsekuensi dari sifat kemanusiaan, seperti
sabda Rasulullah saw,
"Semua anak Adam itu berbuat salah. Dan sebaik-baik yang berbuat salah
adalah orang yang bertobat."(HR Ahmad)
Adapun orang yang punya 'ishmah dan dirinya dipagari oleh benteng penjagaan
sehingga tidak berdosa, mereka tergolong jenis yang paling sedikit. dan mereka
adalah intisari jenis manusia. Mereka hanyalah para nabi dan rasul.
Hikmah Keduapuluh Tujuh. Jika Allah SWT menghendaki kebaikan untuk
hamba-Nya, Dia membuat hamba itu lupa akan ibadah yang telah dikerjakannya.
Tuhan akan menghapus ingatan tentang itu dari hati dan lidahnya. Apabila dia diuji
dengan dosa, dia meletakkan dosa itu di depan matanya. Dia mengingatnya terus-
menerus. Dia lupa akan ibadah-ibadahnya, dan seluruh pikirannya dipenuhi ingatan
llmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 497
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
akan dosa-dosanya. Dosanya terus di depan mata saat duduk, berdiri, dan ke mana
pun dia pergi.
Ini merupakan bentuk rahmat-Nya kepada hamba tersebut, seperti yang
disinggung oleh seorang ulama salaf, "Seorang hamba melakukan dosa tapi
menyebabkannya masuk surga, dan melakukan kebaikan tapi malah menyebabkannya
masuk neraka." la ditanya, "Apa maksud Anda?" Jawabnya, "Dia melakukan
kesalahan, lalu terus diingatnya. Setiap kali dia mengingatnya dia menangis,
menyesal, tobat, istighfar, dan merendahkan diri di hadapan-Nya, lalu dia melakukan
kebaikan-kebaikan untuk menebusnya. Sehingga, kesalahan itu menjadi sebab
datangnya rahmat baginya. Tapi orang yang lain melakukan kebaikan, lalu terus
diingatnya. Dia membanggakannya di hadapan Tuhan dan makhluk, dan dia heran
bagaimana orang seperti dia yang banyak kebaikannya tidak dimuliakan dan dihormati
manusia. Hal-hal itu terus menguat pada dirinya sehingga mengantarkan orang itu
masuk ke neraka."
Jadi, tanda kebahagiaan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan di
belakang punggungnya, dan meletakkan keburukan di depan matanya. Dan, tanda
kesengsaraan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan-kebaikannya di
pelupuk mata dan keburukannya di belakang punggung. Wallahul musta'an.
Hikmah Keduapuluh Delapan. Seorang hamba yang sadar akan dosa-dosanya
menyebabkan dia tidak memandang diri punya kelebihan/jasa atas orang lain; sebab
dia tahu aib dan dosanya sendiri. Dia tidak merasa lebih baik dari mukmin lain yang
beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang mengharamkan apa yang
diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Apabila ia menyadari dosa-dosa dirinya itu,
maka dia tidak akan memandang dirinya berhak mendapat penghormatan dari
manusia. Dia tidak akan menuntut mereka memuliakannya, dan tidak akan
menyalahkan mereka bila tidak menghormatinya. Di matanya, ia terlalu rendah dan
hina untuk dimuliakan hamba-hamba Allah SWT, sampai-sampai dia memandang
bahwa orang yang menyalaminya atau dijumpainya dengan wajah tersenyum ramah
telah berbuat baik kepadanya dan memberikan apa yang tidak berhak diperolehnya.
Sehingga dengan perasaan seperti ini, jiwanya lega, juga membuat orang lain lepas
dan aman dari keluhan-keluhannya serta amarahnya kepada sesama.
Lihatlah, betapa nikmat hidupnya, betapa tenang batinnya, dan betapa tenteram
jiwanya! Alangkah bedanya dia dengan orang yang senantiasa mencela orang lain,
mengeluh kenapa mereka tidak memberikan haknya, tidak menghormatinya. Dia
marah, tapi mereka lebih marah lagi kepadanya.
Hikmah Keduapuluh Sembilan. Dosa menyebabkan seseorang tidak melihat
aib orang lain dan tidak memikirkannya. Sebab, dia sendiri sibuk dengan aib dan
kekurangan dirinya. Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sehingga
tidak memikirkan aib orang lain. Sebaliknya, celakalah orang yang melupakan aib
dirinya dan mengungkit-ungkit aib orang lain. Ini adalah alamat kesengsaraan.
Sedangkan, yang pertama adalah alamat kebahagiaan.
498 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
Hikmah Ketigapuluh. Apabila terjatuh ke dalam dosa, ia mengakui dirinya
sama dengan rekan-rekannya yang berdosa. Ia sadar bahwa musibah mereka sama
dan bahwa semua butuh kepada ampunan dan rahmat Allah SWT. Sebagaimana ia
bahagia kalau saudaranya sesama muslim mendoakannya, ia juga seharusnya
mendoakan saudaranya. Ia selalu berdoa,
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, ibu bapakku, dosa-dosa kaum muslimin dan
muslimat dan kaum mukminin dan mukminat!"
Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa setiap orang dianjurkan membaca doa
ini tujuh puluh kali setiap hari, menjadikannya wirid yang tidak dilewatkannya. Saya
juga pernah mendengar syeikh saya menyebutkan doa ini. Katanya doa ini punya
keutamaan yang besar, cuma saya tidak mengingatnya. Bisa jadi doa ini adalah salah
satu dari wiridnya yang tak pernah ditinggalkan. Saya pernah mendengarnya berkata,
"Membaca doa ini (ketika duduk) di antara dua sujud boleh."
Apabila seorang hamba mengakui bahwa rekan-rekannya tertimpa musibah yang
sama dengan musibah yang menimpanya, membutuhkan apa yang dibutuhkannya,
maka dia tidak akan enggan membantu mereka, kecuali jika dia teramat bodoh
sehingga tidak tahu kebutuhannya akan ampunan dan karunia Tuhan. Orang seperti
ini pantas kalau tidak mendapat pertolongan-Nya, sebab ganjaran sepadan dengan
amal. Seorang salaf berkata bahwa Allah SWT menyalahkan malaikat akibat mereka
mengatakan,
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (al-Baqarah: 30)
Maka, Dia menguji Harut dan Marut dengan dosa118, setelah itu malaikat
beristighfar untuk anak cucu Adam dan mendoakan mereka.
Hikmah Ketigapuluh Satu. Kalau dia melihat dirinya bersalah dan durhaka,
padahal Tuhannya sangat baik, terus membelanya, dan juga dia amat membutuhkan-
Nya, bagaimana orang itu mengharap agar manusia berlaku sesuai dengan
keinginannya dan berinteraksi dengan perangai yang baik terus—padahal terhadap
Tuhan, ia tidak berperilaku seperti yang diharapkan. Bagaimana dia ingin budaknya,
anak, dan istrinya mematuhi segala kehendaknya dan tidak melalaikan kewajiban
mereka kepadanya sementara dia tidak seperti itu dalam berhubungan dengan
Tuhannya? Hal ini mendorongnya untuk memintakan ampunan buat mereka yang
berbuat salah, toleran kepadanya, dan tidak terlalu mempersulit dalam menuntut
118 Kisah Harut dan Marut di antaranya dicantumkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi dalam
kitab-kitab mereka dengan sanad dhaif. Ringkasnya cerita itu, "Ketika mereka berkata seperti itu kepada
Allah, Dia menyuruh mereka memilih dua orang di antara mereka untuk turun ke bumi. Mereka memilih
Harut dan Marut. Setelah keduanya turun ke dunia, mereka ternyata tidak dapat menahan diri dan jatuh ke
dalam dosa: minum arak, berzina, dan membunuh anak kecil."
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 499
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
haknya dari mereka. Buah-buah yang dipetik seorang hamba dari dosa ini merupakan
bentuk rahmat baginya.
Adapun orang yang memetik kebalikan dari yang kami sebutkan, itu berarti
tanda celakanya. Juga jadi bukti bahwa karena begitu hina dinanya dia di mata Allah
SWT, maka Dia membiarkannya berbuat dosa agar nanti dia membeberkan hujah
keadilan-Nya lalu menghukum orang ini sesuai dengan haknya. Bagi orang seperti
ini, satu keburukan mendorong timbulnya yang lain sehingga dari satu dosa timbul
berbagai bencana yang tidak terbayangkan. Dan yang benar-benar musibah besar
adalah dosa yang melahirkan dosa, lalu dari dua dosa itu lahir pula dosa ketiga.
Kemudian ketiganya saling menguatkan dan akhirnya menimbulkan dosa keempat,
dan begitu seterusnya. Orang yang tidak memiliki kesadaran jiwa (diri) dalam masalah
ini akan binasa tanpa disadari.
Jadi, kebaikan mendorong timbulnya kebaikan yang lain, begitu pula keburukan
melahirkan keburukan lainnya. Seorang salaf pernah berkata, "Di antara pahala
kebaikan adalah timbulnya kebaikan setelahnya, dan di antara hukuman keburukan
adalah timbulnya keburukan setelahnya." Hal ini sangat jelas dan mudah dipahami
sehingga tidak perlu diperpanjang lebar memaparkan argumen. Wallahul musta'an.
***
B. Belajar dari Cobaan
Kamu renungkan hikmah-Nya yang terkandung dalam ujian yang ditimpakan
Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang terbaik, yang mengantarkan mereka ke
tujuan dan terminal paling mulia dan sempurna, yang tidak mungkin mereka capai
kecuali melalui jembatan ujian dan cobaan! Ujian-ujian itu mengandung nilai
kemuliaan mereka. Bentuknya memang musibah dan cobaan, tapi di baliknya
tersimpan rahmat dan nikmat. Alangkah banyak nikmat dan karunia Allah yang
besarnya tak terkira yang dipetik dari ujian dan musibah!
Perhatikanlah kondisi bapak kita, Adam a.s., dan akibat terakhir dari musibah
yang menimpanya. Di mana akhirnya dia dipilih Allah SWT, mendapat taobat, hidayah,
dan kedudukan yang tinggi. Seandainya tidak ada cobaan yang menimpanya itu, yakni
dia dikeluarkan dari surga, pasti dia tidak mendapatkan hal di atas. Lihatlah betapa
jauh bedanya antara keadaannya yang pertama dengan keadaannya yang kedua!
Perhatikan pula keadaan bapak kedua kita, yakni Nuh a.s119! Perhatikan hasil
yang didapat dari ujian dan kesabarannya dalam menghadapi kaumnya selama
berabad-abad. Pada akhirnya Allah menyenangkan hatinya dan menenggelamkan
penghuni bumi dengan doanya. Dia menjadikan penghuni dunia ini terdiri dari anak
119 Nuh disebut sebagai bapak manusia yang kedua sebab Allah SWT membinasakan manusia pada
zamannya dengan air bah, kecuali orang-orang beriman yang naik perahu bersamanya. Dari mereka itulah
berkembang manusia hingga sekarang.
500 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
cucunya, menjadikannya salah satu dari Rasul Ulul Azmi yang merupakan Rasul-
Rasul paling utama, memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. untuk bersabar
seperti sabarnya mereka. Juga Dia memuji kesyukurannya dengan firman-Nya,
"Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur."(al-lsraas: 3)
Lalu perhatikan keadaan bapak ketiga kita, Ibrahim a.s., imam agama yang hanif
dan kakek para nabi, serta khalil (kekasih) Allah SWT! Perhatikan akhir dari ujian
atas diri, kesabaran dan pengorbanan nyawanya untuk Allah SWT! Lihat, karena dia
mengorbankan jiwanya untuk Allah SWT dan membela agama-Nya, maka Dia
menjadikannya sebagai kekasih dan memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw.
agar mengikuti agamanya.
Saya ingatkan Anda kepada satu saja dari keistimewaan-keistimewaan yang
diberikan Allah SWT kepadanya setelah dia diuji dengan perintah menyembelih
anaknya. Sebagai ganjaran atasnya ketika dia merelakan anaknya disembelih untuk
melaksanakan perintah-Nya, maka Allah SWT memberkahi keturunannya,
membanyakkannya sampai tersebar ke penjuru dunia. Sesungguhnya Allah SWT
tidak membutuhkan karunia atau pemberian dari siapa pun karena Dialah Akramul
Akramiin, Yang Maha Pemberi karunia. Maka, siapa saja yang melakukan suatu
perbuatan atau meninggalkan suatu pekerjaan karena mengharap ridha-Nya, maka
Dia akan memberinya ganjaran yang berlipat ganda, jauh lebih banyak dari yang
diperbuat atau ditinggalkannya itu.
Ketika Ibrahim diperintah untuk menyembelih anaknya lalu cepat dia melak-
sanakannya, dan sang anak pun setuju dengan penuh kerelaan dan penyerahan diri
kepada-Nya, dan Allah SWT pun mengetahui kesungguhan dan loyalitas mereka
berdua, maka Dia mengganti sembelihan itu dengan seekor kambing yang gemuk
dan memberikan karunia yang tak terkira kepada mereka berdua. Di antara karunia-
Nya itu adalah, Dia memberikannya keturunan yang banyak sampai memenuhi bumi.
Sebab, yang diinginkan dari anak adalah memperbanyak keturunan, dan karena itulah
Ibrahim berkata dalam doanya,
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-
orang yang saleh." (ash-Shaaffaat: 100)
Juga doanya,
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap
mendirikan shalat." (Ibrahim: 40)
Jadi, yang paling dikhawatirkan dan ditakuti Ibrahim akibat menyembelih
puteranya adalah kalau dia tidak punya keturunan lagi. Ketika dia menyerahkan
anaknya kepada Allah SWT dan sang anak merelakan nyawanya, maka Allah SWT
melipatgandakan dan membanyakkan keturunannya sampai memenuhi dunia,
memberikan kenabian dan kitab khusus untuk anak cucunya, dan dari mereka, Allah
mengutus Nabi Muhammad saw.
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 501
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
Dikisahkan bahwa Daud a.s. pernah ingin tahu jumlah Bani Israel. la menyuruh
menghadirkan mereka semua. Untuk itu dia mengutus para pembantunya yang dia
perintahkan untuk menghitung dan melapor kepadanya berapa jumlah mereka.
Setelah berusaha beberapa lama, mereka tidak berhasil. Akhirnya, Allah SWT
berfirman kepada Daud, "Kamu sudah tahu bahwa Aku telah menjanjikan kakekmu,
Ibrahim, ketika aku perintah dia untuk menyembelih anaknya dan dia cepat menaati
perintah-Ku, aku janjikan dia untuk memberkahi anak keturunannya sampai jadi
banyak seperti bintang dan Aku jadikan mereka amat banyak sampai tidak terhitung
jumlahnya."
Dan di antara keturunan Ibrahim itu adalah dua umat besar yang tidak terhitung
jumlahnya kecuali oleh Allah SWT, pencipta dan pemberi rezeki mereka, yakni Bani
Israil dan Bani Ismail. Ini masih ditambah dengan yang disebutkan dan dipuji oleh
seluruh bangsa, juga di langit oleh para malaikat. Ini sebagian dari buah perbuatannya.
Celakalah orang yang sudah tahu hal ini lalu enggan melakukannya. Sungguh rugi dia.
***
C. Belajar dari Para Nabi
Sekarang mari kita perhatikan kisah Nabi Musa, sang Kaliimurrahmaan!
Lihatlah bagaimana akhir ujian dan cobaan yang menimpanya semenjak lahir, sampai
akhirnya Allah SWT berbicara secara langsung dengan dia, mendekatkannya kepada
diri-Nya, menuliskan Taurat dengan tangan-Nya, dan mengangkatnya ke langit
tertinggi, Selain itu Dia sabar (menahan diri) atas perbuatannya yang tidak patut di
mana Musa membanting papan kayu yang berisi kalam Allah SWT ke tanah sampai
pecah berantakan, menjambak jenggot Nabi Harun, menampar wajah malaikat maut
sampai matanya tercongkel, dan menyanggah Tuhannya pada malam Isra Mi'raj
tentang diri Rasulullah, Muhammad saw.
Meskipun banyak perbuatan Musa yang tidak layak, tapi Tuhannya masih
mencintainya. Martabat Musa di sisi Tuhannya sama sekali tidak turun. Dia tetap
mulia dan dekat di sisi-Nya. Seandainya bukan karena amalan-amalannya terdahulu,
seandainya bukan karena kesabaran dan keteguhan saat menanggung ujian yang
berat dalam mendakwahkan agama Allah SWT, menghadapi Fir'aun dan kaumnya
yang kejam, dan setelah itu merasakan gangguan dari kaumnya sendiri, dan sabar
atas kelancangan mereka demi ridha Allah SWT, tentu martabat di sisi Tuhannya itu
tidak mungkin diperolehnya.
Lalu perhatikan keadaan Almasih Isa, kesabarannya dalam menghadapi kaumnya.
Juga penderitaannya akibat ulah mereka ketika mendakwahkan agama-Nya, sampai
Allah SWT mengangkat ia ke sisi-Nya dan mensucikannya dari orang-orang kafir.
Lalu membalas musuh-musuhnya, mencerai-beraikan mereka, merebut kekuasaan
dan kebanggaan mereka sampai kiamat.
***
502 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
D. Belajar dari Sirah Nabi Muhammad saw.
Jika kamu tengok sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. bersama kaumnya,
dan kau renungkan kesabaran beliau atas penderitaan dari kaumnya yang belum
pernah dirasakan seorang nabi pun sebelum beliau, berbagai situasi yang beliau
hadapi mulai dari perang, damai, kaya, miskin, aman, cemas, tinggal di negerinya
dan meninggalkannya untuk menyebarkan agama-Nya, pembunuhan orang-orang
terdekatnya di depan matanya, serta gangguan orang-orang kafir terhadapnya dengan
bermacam cara: perkataan, perbuatan, sihir, gosip. Meski demikian, beliau sabar
dalam menjalankan perintah Allah SWT. Beliau teguh menyeru manusia ke jalan-
Nya. Tidak ada nabi yang merasakan penderitaan seperti yang beliau alami. Dan,
tidak ada nabi yang diberi karunia Allah SWT seperti yang diberikan kepada beliau.
Allah SWT mengangkat namanya, menyandingkan nama beliau dengan nama-
Nya120, menjadikan beliau sebagai tuan seluruh manusia, menjadikannya sebagai
orang yang paling dekat wasilahnya kepada Tuhan, paling mulia kedudukannya, dan
paling didengar (mudah diterima) syafaatnya. Cobaan-cobaan itu justru merupakan
bagian dari kemuliaan beliau. Ujian-ujian itu adalah salah satu sebab yang membuat
Allah SWT menambah kemuliaan dan keutamaan beliau dan mengantarkan beliau
mencapai kedudukan tertinggi.
Demikian pula keadaan ahli waris beliau (para ulama). Setiap mereka punya
bagian dari ujian dan cobaan tertentu sesuai dengan derajat keteguhannya dalam
mengikuti beliau. Orang yang tidak mendapat bagian ujian dan cobaan seperti beliau,
berarti dia adalah orang yang diciptakati untuk dunia dan dunia diciptakan untuknya.
Jatah orang-orang seperti ini diberikan kepada mereka di dunia. Dia makan dan
bersenang-senang di sana sampai tiba ajalnya yang telah tertulis. Ketika para wali
Allah SWT mendapat cobaan, orang-orang ini dalam keadaan tenteram dan makmur.
Ketika para wali Allah berada dalam ketakutan, mereka aman. Ketika para wali Allah
sedih, dia gembira di tengah keluarganya.
Orang-orang yang mendapat bagian dunia punya nilai yang berbeda dengan para
wali Tuhan. Yang dipikirkan adalah apa yang dapat mengokohkan kedudukannya,
menyelamatkan hartanya, dan membuat kata-katanya didengar dan dipatuhi orang.
Dan, dari sana dia melakukan, mencintai, dan membenci sejalan dengan yang
diinginkannya itu. Sedang, mereka (para wali Allah SWT yang mendapat cobaan-
cobaan) yang jadi keinginan mereka adalah menegakkan agama Allah SWT,
meninggikan kalimat-Nya, memuliakan para pembela agama-Nya, dan
memperjuangkan agar hanya Allahlah yang disembah dan hanya Rasul-Nya yang
ditaati.
Jadi, ada hikmahnya Allah SWT di balik ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada
para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Hanya saja hikmah itu tidak
120 Misalnya dalam kalimah syahadat, orang yang mengakui keesaan Allah SWT harus juga mengakui
kerasulan Muhammad saw.
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 503
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
terjangkau oleh akal manusia. Bukankah orang-orang yang mencapai kedudukan
(maqam) tinggi dan cita-cita yang mulia hanya mencapai itu semua melalui jembatan
ujian dan cobaan?
"Demikianlah ketinggian itu. Jika kamu ingin mendapatkannya, maka
menyeberanglah ke sana melalui jembatan kesusahan."
Akhirnya, segala puji hanya bagi Allah SWT. Shalawat serta salam semoga
tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat beliau sampai
kiamat. Juga semoga Allah SWT meridhai para sahabat Rasulullah saw. semua.
***
E. Merenungi Agama Islam
Coba kamu renungkan hikmah yang mencengangkan dalam agama lurus yang
dibawa oleh Muhammad saw. ini. Kesempurnaannya tidak dapat diungkap dengan
kata-kata. Meski seluruh manusia bersatu, tidak dapat mengusulkan syariat yang
lebih baik darinya. Akal manusia hanya cukup mengetahui dan mengakui kebaikan
serta keutamaan syariat ini. Juga mengakui bahwa di alam ini tidak ada syariat yang
lebih sempurna, lebih agung dan mulia darinya. Syariat ini sendiri saksi dan sekaligus
hal yang dipersaksikan. Dia adalah klaim dan sekaligus bukti kebenaran klaim itu
sendiri.
Sekiranya Rasulullah saw. tidak mendatangkan bukti kebenaran syariah ini, tentu
tidak ada masalah. Sebab, syariah ini sendiri sudah cukup jadi bukti bahwa dia datang
dari Allah SWT. Semua isi syariat ini menjadi bukti kesempurnaan ilmu dan hikmah-
Nya, bukti luasnya rahmat dan ihsan-Nya. Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang
nyata, Maha Mengetahui sebab dan akibat.
Syariat ini adalah salah satu nikmat Allah SWT yang paling besar kepada
hamba-hamba-Nya. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada Dia menunjukkan
kepada manusia akan syariat ini, menjadikan mereka sebagai pemeluknya, dan
memilih mereka sebagai para pejuangnya. Oleh karena itu, Dia memberi karunia
kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka hidayah syariat ini. Dia
berfirman,
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
(Ali Imran: 164)
Dia berfirman untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang betapa besar
nikmat-Nya kepada mereka. Juga menyeru mereka untuk mensyukurinya karena
Dia menjadikan mereka sebagai pemeluk syariat ini,
504 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmat-Ku." (al-Maaidah: 3)
Lihatlah bagaimana Dia mensifati agama yang Dia pilih untuk mereka dengan
kesempurnaan, dan menyebutnya sebagai nikmat yang Dia cukupkan kepada mereka.
Hal itu mengisyaratkan bahwa agama ini tidak mengandung kekurangan, aib, cacat,
atau satu bagian yang tidak mengandung hikmah. Dia mensifati nikmat dengan
kecukupan (dalam wa atmamtu 'alaikum ni'mati) untuk memberitahukan bahwa
nikmat itu langgeng, terus-menerus, dan tidak terputus. Dia tidak mencabut nikmat
itu dari mereka setelah diberikan-Nya, melainkan Dia melengkapkan nikmat itu
atas mereka dengan berkelanjutan dari dunia ini sampai akhirat nanti.
Perhatikanlah keserasian disebutkannya tamaam (kecukupan) dengan nikmat,
dan keserasian kamaal (kesempurnaan) dengan diin (agama), serta disandarkannya
diin kepada mereka sebab merekalah yang menjalankan dan menegakkannya.
Sedangkan Dia menyandarkan nikmat kepada diri-Nya sebab Dialah pemiliknya dan
Dialah yang mengaruniakannya kepada mereka. Sungguh benar, itu adalah nikmat-
Nya dan mereka hanyalah menerima dari Dia.
Dia mengungkapkan kamaal itu dengan huruf laam (dalam akmaltu lakum)
yang mengandung arti kekhususan, yakni bahwa kesempurnaan agama itu
dikhususkan-Nya buat mereka, tidak diberikan kepada umat-umat yang lain.
Sedangkan, tentang nikmat Dia mengungkapkannya dengan 'alaa (ni'mati alaikum)
yang mengandung arti isti'laa" (tinggi), isytimaal, dan ihaathah (menyeluruh). Jadi
di sini kita punya atmamtu bersama akmaltu, alaikum bersama lakum, dan ni'mati
bersama diinikum. Hal itu diperkuat dan dipertegas lagi dengan firman-Nya,
"Dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu." (al-Maaidah: 3)
Dahulu sebagian salaf berkata,
"Luar biasa agama ini, sekiranya ada orang-orang yang menegakkannya."
***
F. Bukti Keesaan Tuhan
Kami telah menyebutkan sebuah pembahasan ringkas tentang bukti ciptaan
Tuhan atas keesaan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, serta nama-
nama-Nya (asmaaul husna). Kami ingin menutup bagian pertama dari kitab ini
dengannya. Kemudian kami memandang perlu menyebutkan setelah itu sebuah
pembahasan tentang dalalah agama dan syariat-Nya atas keesaan, ilmu, hikmah,
dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang lain. Sebab, ini adalah ilmu paling mulia yang
diperoleh seorang hamba di dunia ini dan yang akan dibawanya ke negeri akhirat.
Sebenarnya kami tidak layak melakukannya. Sebab, ilmu tentang hal ini yang
digambarkan orang-orang dan terjangkau oleh pengetahuan mereka hanyalah seperti
seorang yang mencelupkan jarinya ke laut lalu mencabutnya lagi. Lalu dia mengatakan
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 505
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
bahwa laut adalah sekedar air yang membasahi jarinya tersebut—padahal betapa
jauh setetes air di jarinya itu jika dibanding dengan luasnya laut. Sehingga, orang
yang mendengar mengira bahwa perkataannya itu tentang keseluruhan laut, padahal
cuma tentang setetes air yang menempel di jarinya.
Sesungguhnya ilmu tentang hal ini sangat agung dan luas. Akal manusia tidak
sanggup mencakup satu bagian terkecil pun darinya. Bagaimana orang yang
memandang ke bola matahari dengan sinarnya, ukurannya, keindahannya, dan
keajaiban kreasi Allah SWT akan bisa menggambarkan keberadaan-Nya? Namun,
Allah SWT meridhai seorang hamba bila mereka memuji-Nya, mengingat karunia,
nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hikmah dan keagungan-Nya, padahal tidak ada pujian
yang mencukupi untuk segala karunia-Nya. Tidak ada makhluk yang dapat memuji-
Nya secara pas dengan yang seharusnya, atau menggambarkan kitab dan agama-
Nya selayaknya. Bahkan, tidak ada seorang pun yang dapat memuji Rasul-Nya dengan
pujian yang seharusnya dilekatkan pada beliau. Keutamaan beliau jauh melebihi pujian
mereka. Meski demikian, Allah SWT suka hamba-Nya memuji-Nya, memuji kitab,
agama, dan Rasul-Nya.
Ini adalah pendahuluan i'tidzar (permohonan maaf) atas kekurangan saya yang
sedang mengarungi laut yang maha luas ini. Allah SWT Maha Mengetahui maksud
hamba-hamba-Nya. Dan, Dia sangat patut memafkan.
***
G. Tiga Bashirah Manusia
Bashirah manusia dalam cahaya yang cemerlang ini terbagi ke dalam tiga bagian.
Pertama: orang yang tidak memiliki bashirah iman sama sekali. Dia hanya melihat
kegelapan, guntur, dan kilat. Dia meletakkan dua jarinya di telinganya karena takut
kepada suara petir, dan meletakkan tangan di matanya karena takut melihat kilat,
khawatir akan membutakan mata. Pandangannya tidak menjangkau apa yang ada di
balik itu semua, seperti rahmat dan sebab-sebab kehidupan yang abadi. Orang seperti
kelompok pertama ini adalah orang yang menutup mata terhadap agama. Dia tidak
menerima agama Allah SWT yang diturunkan untuk hamba-hamba-Nya meskipun dia
telah menyaksikan semua ayat-Nya. Itu karena ia termasuk orang yang telah diputuskan
agar sengsara dan celaka. Faedah peringatan (indzaar) bagi orang seperti ini adalah
mendirikan hujah atas dirinya, agar dia disiksa dengan dosanya sendiri, bukan semata-
mata dengan pengetahuan Allah SWT bahwa dia memang harus menerima siksa.
Kedua: para pemilik bashirah yang lemah, yang pandangan mereka kepada cahaya
ini seperti pandangan kelelawar ke bola matahari. Mereka mengikuti nenek moyang
mereka. Agamanya adalah agama adat dan lingkungan tempat mereka berada. Mereka
inilah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dengan ucapannya,
"Atau orang yang tunduk kepada kebenaran, tapi tidak punya bashirah untuk
memilih kebenaran itu."
506 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
Jika mereka ini tunduk kepada para pemilik bashirah tanpa ragu sama sekali,
maka mereka ada di jalan keselamatan.
Ketiga: yakni intisari alam, manusia istimewa. Mereka adalah para pemilik
bashirah tajam yang menyaksikan nur (cahaya) yang terang ini. Mereka punya
keyakinan dan bashirah terhadap keindahan dan kesempurnaan nur ini. Seandainya
lawan dari nur ini dipaparkan ke akal mereka, pasti mereka melihatnya seperti malam
yang gelap gulita, hitam. Inilah inti perbedaan antara mereka dengan kelompok
sebelumnya. Orang-orang (dari golongan kedua) itu mengikuti orang yang memimpin
dan menemani mereka saja, seperti kata Ali bin Abi Thalib
"Mereka mengikuti setiap suara panggilan, menuruti semua teriakan orang. Mereka
tidak bersuluh dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar ke tiang yang kokoh."
Ini tanda orang yang tidak punya bashirah. Anda lihat dia menyukai sesuatu,
juga menyukai lawannya. Dia memuji sesuatu, tapi juga memakinya, jika dibungkus
kulit yang tidak dikenalnya. Dia mengagungkan ketaatan kepada Rasul saw. dan
memandang pelanggaran ajaran beliau sebagai dosa besar, tapi dia sendiri tergolong
orang yang paling membangkang terhadap ajaran tersebut, paling keras memusuhi
orang yang mengamalkan sunnahnya. Ini karena dia tidak punya bashirah.
Adapun orang dari kelompok ketiga ini, amal mereka berlandaskan bashirah.
Dengan perbedaan bashirah itulah kemuliaan mereka bertingkat-tingkat, seperti
kata seorang salaf ketika menyinggung generasi silam, "Itu hanya karena mereka
beramal dengan dasar bashirah." Seseorang tidak pernah mendapat karunia lebih
afdhal dari bashirah (pengetahuan yang dalam) tentang agama Allah SWT, meski dia
beramal sekedarnya. Allah SWT berfirman,
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishakdan Ya'qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi." (Shaad: 45)
Ibnu Abbas berkata, "(Artinya ulil aydy) adalah punya kekuatan dalam ketaatan
kepada Allah SWT, dan (arti ulil abshaar) adalah punya pengetahuan tentang perintah
Allah SWT." Qatadah dan Mujahid berkata, "Mereka diberi kekuatan dalam ibadah
dan pandangan yang tajam tentang agama."
Orang yang paling alim (berilmu) adalah yang paling tahu tentang kebenaran
ketika orang-orang lain berbeda pendapat, meski amalannya sederhana saja. Masing-
masing dari ketiga kelompok ini punya bagian-bagian lagi yang hanya Allah SWT
yang dapat menghitung kadar derajat perbedaannya.
Jika hal ini sudah diketahui, maka kelompok pertama tidak dapat mengambil
manfaat dari bab ini, bahkan hanya makin menambahnya sesat saja. Kelompok kedua
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 507
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
mengambil faedah sebatas pemahaman dan potensi yang dimilikinya. Sedang kelompok
ketiga, untuk merekalah pembahasan ini diungkap. Merekalah ulul albab yang
dikhususkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan khithab tanbih dan irsyad.
Dan, kepada merekalah sebenarnya tadzkirah ditujukan. Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran
(tadzkirah)." (az-Zumar: 9)
***
H. Persaksian Fitrah dan Akal
Fitrah dan akal telah mengakui dan bersaksi bahwa alam mempunyai Tuhan
(rabb) Yang Maha Kuasa, Maha Penyantun, Maha Tahu, Maha Pengasih, zat dan
sifat-Nya Maha Sempurna, hanya menghendaki kebaikan untuk hamba-hamba-Nya.
Dia menurunkan untuk mereka syariat yang sesuai dengan nilai baik dan buruk
yang tertanam di dalam pikiran mereka. Juga sesuai dengan tabiat mereka yang
memilih sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan yang berbahaya dan merusak.
Dan, syariat ini menjadi saksi atau bukti bahwa Dia adalah zat yang paling bijak
(paling banyak hikmah-Nya), pengasih, dan bahwa Dia mengetahui segala hal.
Jika ini telah dipahami, maka ketahuilah bahwa bukanlah hikmah ilahi, dan bahkan
bukan hikmah raja-raja di dunia ini kalau mereka memberitahu rakyat apa yang
diketahui dan mengungkapkan politik yang diterapkan dalam mengurus kehidupan.
Sampai dalam masalah tinggal, mereka memberitahu rakyat tentang sebab dan tujuan
mereka tinggal di sebuah daerah tertentu. Kalau mereka memerintah rakyat atau
mengutus utusan kepada mereka atau mengatur urusannya, mereka harus
memberitahu rakyat tentang sebab, tujuan, atau temponya. Juga pengaturan urusan
makan, pakaian, atau kendaraan, tujuannya harus diberitahukan kepada rakyat.
Tidak syak lagi bahwa hal ini tidak sejalan dengan hikmah dan maslahat di tengah
makhluk. Apalagi bagi Tuhan Seru Sekalian Alam dan zat Yang Paling Berhikmah,
yang selamanya tidak ada seorang pun yang menyamainya dalam ilmu atau hikmah!!
Jadi, cukuplah bagi akal yang sempurna untuk menjadikan hikmah yang telah
diketahuinya sebagai dalil atas hikmah terselubung.
Cukuplah akal yang sempurna tahu bahwa Dia punya hikmah dalam segala
ciptaan dan syariat-Nya. Apakah yang namanya hikmah mengharuskan Allah SWT
memberitahu setiap hamba-Nya tentang segala yang diperbuat dan sekaligus
memberitahu hikmah dari perbuatan itu? Apakah di kalangan makhluk hal seperti
itu dipandang perlu?! Bahkan, sebaliknya Allah SWT menyembunyikan banyak
ciptaan dan perintah-Nya dari seluruh makhluk-Nya, tidak diungkap kepada malaikat
atau Nabi.
Seorang manusia (pemimpin) yang bijak, jika telah diakui hikmah dan
kebijakannya serta keinginannya untuk mewujudkan kebaikan bagi rakyat, maka itu
sudah cukup dengan menilai tujuannya dalam mengangkat dan memecat pegawai.
508 Kunci Kebahagiaan
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
Juga dalam masalah yang diperintahkan dan dilarangnya, serta dalam siasat
pengaturannya untuk rakyat, tanpa perlu meneliti detail setiap perbuatannya. Kecuali
kalau perbuatannya itu sudah sampai dianggap tidak mengandung maslahat sama
sekali. Kalau sudah seperti itu, dia sudah tidak berhak mendapat sebutan al-hakiim
(orang yang bijak). Dan, tidak ada seorang pun yang menjumpai hal semacam ini
dalam ciptaan atau syariat Allah SWT.
Jika ini sudah dipahami, berarti telah dipahami bahwa Tuhan Seru Sekalian Alam
adalah yang paling berhikmah (ahkamul haakimiiri), Maha Tahu atas segala sesuatu,
paling kaya, tidak butuh kepada selain-Nya, Maha Kuasa atas segala hal. Begitulah
Dia. Perbuatan-perbuatan-Nya dan perintah-perintah-Nya sama sekali tidak kosong
dari hikmah, rahmat, dan maslahat. Kalaupun sebagian hikmah-Nya dalam ciptaan
dan syariat-Nya masih tidak diketahui manusia, cukup bagi mereka mengetahuinya
secara global. Yakni bahwa hal itu pasti mengandung hikmah meskipun mereka tidak
mengetahui detailnya, dan bahwa itu termasuk ilmu gaib yang hanya dikuasai Allah
SWT. Jadi, dalam masalah seperti itu, cukup bagi mereka mengatakan bahwa segala
sesuatu punya hikmah yang luar biasa dan komprehensif, baik hikmah tampak
maupun hikmah yang tersembunyi.
Demikianlah, Allah SWT hanya mengungkapkan kepada hamba-hamba-Nya
tentang hikmah agung dari ciptaan dan syariat-Nya, tidak yang detail dan rumit. Hal
ini berlaku secara menyeluruh, baik dalam masalah ushul maupun furu'. Coba
perhatikan! Jika kamu melihat dua orang, misalnya yang satu rambutnya lebih tebal
dari temannya, atau lebih putih kulitnya, atau lebih jenius, tentu secara sunatullah
kamu akan dapat mengetahui mengapa salah seorang dari mereka punya
keistimewaan seperti itu. Demikian pula dalam perbedaan bentuk dan rupa.
Akan tetapi, jika kamu ingin tahu apakah rambut orang ini lebih banyak dari
rambut orang lain dengan jumlah tertentu misalnya, atau kamu ingin tahu tentang
nilai kelebihan seseorang dengan kadar dan bentuk khusus, atau mengetahui selisih
antara keduanya, tentu hal itu tidak mungkin dilakukan sama sekali. Kiaskanlah
semua makhluk kepada hal ini, dari pasir, gunung, pepohonan, ukuran dan berat
bintang-bintang, dst. Kalau tidak ada jalan untuk mengetahui hal ini dalam masalah
ciptaan-Nya, yakni hanya cukup dengan mengakui adanya hikmah yang komprehensif,
maka demikian pula dalam syariat-Nya. Kita tahu bahwa semua yang diperintahkan-
Nya mengandung hikmah yang luar biasa.
Adapun detail rahasia dan hikmah dari perintah dan larangan-Nya tidak dapat
dijangkau oleh ilmu manusia. Akan tetapi, Allah SWT mengungkapkan hikmah yang
dikehendaki-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki. Peganglah baik-baik prinsip
dasar ini!
***
Ilmu Pengetahuan Sangat Bermanfaat bagi Manusia 509
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin