The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tsanianadiya461, 2023-06-20 04:24:10

18-Article Text-74-2-10-20191107

18-Article Text-74-2-10-20191107

JURNAL SUNDERMANN pISSN : 1979-3588 | eISSN : xxxx-xxxx https://jurnal.sttsundermann.ac.id Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 Education in the Fourth Industrial Revolustion Age Delipiter Lase STT Banua Niha Keriso Proestan Sundermann Nias [email protected] ARTICLE INFO A B S T R A C T Submitted : October 9, 2019 Review : October 9, 2019 Accepted : November 6, 2019 Published : November 7, 2019 The Industrial Revolution 4.0 has brought changes in various aspects of human life. Among these is the education system. The question is, what components of education are affected, and how to respond to these implications? This paper aims to explain the changes that must be made in schools so that human resources produced by various educational institutions can compete and contribute globally. Through literature review and content analysis, the discussion shows that current and future curriculum development must complement students' abilities in the academic dimension, life skills, live together, and think critically and creatively. Other invisible skills like interpersonal skills, global-minded citizens, and literacy of the media and information available. The curriculum must also be able to shape students with an emphasis on the STEM field, referring to ICT-based learning, the internet of things, big data and computers, as well as entrepreneurship and internships. The competencies that must be possessed by teachers are educational competence, competence for technological commercialization, competence in globalization, competence in future strategies, and competence counselor. In addition to these competencies, teachers also need to have a friendly attitude with technology, collaboration, be creative and take risks, have a good sense of humor, and teach holistically. Schools and teachers must consider the open learning platform in deciding how to organizing education and learning. KEYWORDS Education 4.0, Industry 4.0, Blended learning, Teacher competence, 21st Century skills CORRESPONDENCE Phone : E-mail : [email protected] A B S T R A K Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan yang harus dilakukan di sekolah sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan oleh berbagai lembaga pendidikan dapat bersaing dan berkontribusi secara global. Melalui kajian literatur dan analisis isi, penulis menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum saat ini dan di masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi akademik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama dan berpikir secara kritis dan kreatif. Keterampilan tak kasat mata seperti keterampilan interpersonal, berpikir global, dan literasi media dan informasi. Kurikulum juga harus dapat membentuk siswa dengan penekanan pada bidang STEM, merujuk pada pembelajaran berbasis TIK, internet of things, big data dan komputer, serta kewirausahaan dan magang. Selain guru memiliki kompetensi mengajar dan mendidik, literasi media, competence in globalization, competence in future strategies, dan konseling, juga perlu memiliki sikap ramah teknologi, kolaborasi, menjadi kreatif dan mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, serta mengajar secara holistik. Sekolah dan guru perlu mempertimbangkan pembelajaran terbuka dan daring dalam memutuskan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran. Kata kunci: Pendidikan 4.0, Industri 4.0, Kompetensi guru, Pembelajaran, Kemampuan Siswa


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 29 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 PENDAHULUAN aat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan era ini tidak dapat dihindari oleh siapapun sehingga dibutuhkan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai agar siap menyesuaikan dan mampu bersaing dalam skala global. Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan mulai dari pendidikan dasar dan menengah hingga ke perguruan tinggi adalah kunci untuk mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0. Keberhasilan suatu Negara dalam menghadapi revolusi rndustri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter. 12 Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta 1 Joseph E Aoun, “Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence,” Journal of Education for Teaching (2018). 2 Brian Sudlow, “Review of Joseph E. Aoun (2017). Robot Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence,” Postdigital Science and Education (2018). kompetitif. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali, Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Pendidikan 4.0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0 di mana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. Fisk (2017) menjelaskan “that the new vision of learning promotes learners to learn not only skills and knowledge that are needed but also to identify the source to learn these skills and knowledge.”3 Masih menurut Fisk (2017) sebagaimana dikutip oleh Aziz Hussin, ada sembilan tren atau kecenderungan terkait dengan pendidikan 4.0, yakni sebagai berikut. 4 Pertama, belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. Siswa akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. E-learning memfasilitasi kesempatan untuk pembelajaran jarak jauh dan mandiri. Kedua, pembelajaran individual. Siswa akan belajar dengan peralatan belajar yang adaptif dengan kemampuannya. Ini menunjukkan bahwa siswa pada level yang lebih tinggi ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih sulit ketika setelah melewati derajat kompetensi tertentu. Siswa yang mengalami kesulitan dengan mata pelajaran akan mendapatkan kesempatan untuk berlatih lebih banyak sampai mereka mencapai tingkat yang diperlukan. Siswa akan diperkuat secara positif selama proses belajar individu mereka. Ini dapat menghasilkan pengalaman belajar yang positif dan akan mengurangi jumlah siswa yang kehilangan kepercayaan tentang kemampuan akademik mereka. Di sini, 3 Peter Fisk, “Education 4.0 … the Future of Learning Will Be Dramatically Different, in School and throughout Life,” last modified 2017, accessed May 11, 2019, http://www.thegeniusworks.com/2017/01/futureeducation-young-everyone-taught-together/. 4 Anealka Aziz Hussin, “Education 4.0 Made Simple: Ideas For Teaching,” International Journal of Education and Literacy Studies (2018). S


30 JCTES 1(1): 28-43 guru akan dapat melihat dengan jelas siswa mana yang membutuhkan bantuan di bidang mana. Ketiga, siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar. Meskipun setiap mata pelajaran yang diajarkan bertujuan untuk tujuan yang sama, cara menuju tujuan itu dapat bervariasi bagi setiap siswa. Demikian pula dengan pengalaman belajar yang berorientasi individual, siswa akan dapat memodifikasi proses belajar mereka dengan alat yang mereka rasa perlu bagi mereka. Siswa akan belajar dengan perangkat, program dan teknik yang berbeda berdasarkan preferensi mereka sendiri. Pada tataran ini, kombinasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh (blended learning), membalikkan ruang kelas dan membawa alat belajar sendiri (bring your own device) membentuk terminologi penting dalam perubahan ini. Empat, pembelajaran berbasis proyek. Siswa saat ini harus sudah dapat beradaptasi dengan pembelajaran berbasis proyek, demikian juga dalam hal bekerja. Ini menunjukkan bahwa mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilan mereka dalam jangka pendek ke berbagai situasi. Siswa sudah harus berkenalan dengan pembelajaran berbasis proyek di sekolah menengah. Inilah saatnya keterampilan mengorganisasi, kolaborasi, dan manajemen waktu diajarkan kepada peserta didik untuk kemudian dapat digunakan setiap siswa dalam karir akademik mereka selanjutnya. Lima, pengalaman lapangan. Kemajuan teknologi memungkinkan pembelajaran domain tertentu secara efektif, sehingga memberi lebih banyak ruang untuk memperoleh keterampilan yang melibatkan pengetahuan siswa dan interaksi tatap muka. Dengan demikian, pengalaman lapangan akan diperdalam melalui kursus atau latihan-latihan. Sekolah akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk memperoleh keterampilan dunia nyata yang mewakili pekerjaan mereka. Ini menunjukkan disain kurikulum perlu memberi lebih banyak ruang bagi siswa untuk lebih banyak belajar secara langsung melalui pengalaman lapangan seperti magang, proyek dengan bimbingan dan proyek kolaborasi. Enam, interpretasi data. Perkembangan teknologi komputer pada akhirnya mengambil alih tugas-tugas analisis yang dilakukan secara manual (matematik), dan segera menangani setiap analisis statistik, mendeskripsikan dan menganalisis data serta memprediksi tren masa depan. Oleh karena itu, interpretasi siswa terhadap data ini akan menjadi bagian yang jauh lebih penting dari kurikulum masa depan. Siswa dituntut memiliki kecakapan untuk menerapkan pengetahuan teoretis ke angkaangka, dan menggunakan keterampilan mereka untuk membuat kesimpulan berdasarkan logika dan tren data. Tujuh, penilaian beragam. Mengukur kemampuan siswa melalui teknik penilaian konvensional seperti tanya jawab akan menjadi tidak relevan lagi atau tidak cukup. Penilaian harus berubah, pengetahuan faktual siswa dapat dinilai selama proses pembelajaran, dan penerapan pengetahuan dapat diuji saat siswa mengerjakan proyek mereka di lapangan. Delapan, keterlibatan siswa. Keterlibatan siswa dalam menentukan materi pembelajaran atau kurikulum menjadi sangat penting. Pendapat siswa dipertimbangkan dalam mendesain dan memperbarui kurikulum. Masukan mereka membantu perancang kurikulum menghasilkan kurikulum kontemporer, mutakhir dan bernilai guna tinggi. Terakhir, mentoring. Pendampingan atau pemberian bimbingan kepada peserta didik menjadi sangat penting untuk membangun kemandiran belajar siswa. Pendampingan menjadi dasar bagi keberhasilan siswa, sehingga menuntut guru untuk menjadi fasilitator yang akan membimbing siswa menjalani proses belajar mereka. Sembilan pergeseran tren pendidikan 4.0 di atas menjadi tanggung jawab utama guru kepada peserta didik. Pendidik harus memainkan peran untuk mendukung transisi dan tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi pengajaran konvensional. Ini merupakan tantangan yang menggairahkan, merangsang untuk bertindak, dan masif. Adaptasi terhadap tren pendidikan ini memberi garansi bagi individu dan masyarakat untuk mengembangkan serangkaian kompetensi, keterampilan, dan pengetahuan yang lebih lengkap dan mengeluarkan seluruh potensi kreatif mereka. Berdasarkan uraian di atas, revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan disrupsi


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 31 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 teknologi memiliki implikasi yang signifikan terhadap sistem pendidikan. Pertanyaannya, apa komponen pendidikan yang terdampak dan bagaimana merespon implikasi ini. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan dan penyesuaian penting yang perlu dilakukan dalam sistem pendidikan untuk mersepon revolusi digital, sehingga output pendidikan dapat bersaing dan berkontribusi secara global. METODE Untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini, penulis menggunakan studi kepustakaan. Yakni, teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatancatatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. 56 Upaya mengumpulkan informasi dimaksud dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain. Lebih lanjut, bahwa untuk mendapatkan karakteristik yang jelas dari wacana berupa teori dan konsep yang dikaji, penulis menggunakan metode content analysis, yakni suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi yang dapat direplikasi (ditiru) dan sahih datanya dengan memerhatikan konteksnya.78 HASIL & PEMBAHASAN Revolusi Industri 4.0 Konsep revolusi industri 4.0 ini merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Beliau merupakan ekonom terkenal asal Jerman sekaligus penggagas World Economic Forum (WEF) yang melalui bukunya, The Fourth Industrial 5 M. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988). 6 Suharsimi Arikunto, “PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS,” Bumi Aksara (2006). 7 Klaus Krippendorff, Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (Second Edition), SAGE Publications, 2004. 8 Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, 6th ed. (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012), 232–233. Revolution, menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain.9 Richard Mengko, yang mengutip dari A.T. Kearney dalam Stevani Halim (Medium, 2018),10 menggambarkan empat tahap evolusi industri. Pertama, Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Hal ini ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Kedua, Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Ketiga, Awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0 yang dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Terakhir, 2018 hingga sekaranglah zaman revolusi industri 4.0. Industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Pada era ini, industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana, atau mengenalnya dengan istilah Internet of Things (IoT). Gambar 1: The Dawn of 4IR11 9 Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution: What It Means and How to Respond, World Economic Forum, 2016, https://www.weforum.org/agenda/2016/01/thefourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-torespond/. 10 Stevani Halim, “Revolusi Industri 4.0 Di Indonesia,” Medium.Com, last modified 2018, https://medium.com/@stevanihalim/revolusi-industri4-0-di-indonesia-c32ea95033da. 11 Schwab, The Fourth Industrial Revolution: What It Means and How to Respond.


32 JCTES 1(1): 28-43 Industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur. 121314 Lee, Lapira, Bagheri, & Kao menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing. Prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri. 15 Herman (2016) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP).16 Industri 4.0 telah memperkenalkan teknologi produksi massal yang fleksibel. 17 Mesin akan beroperasi secara independen atau berkoordinasi dengan manusia. 18 Mengontrol proses produksi dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan dan 12 Mario Hermann, Tobias Pentek, and Boris Otto, “Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios,” in Proceedings of the Annual Hawaii International Conference on System Sciences, 2016. 13 D Irianto, “Industry 4.0: The Chalenges of Tomorrow,” Seminar Nasional Teknik Industri 2017 (2017). 14 Jay Lee et al., “Recent Advances and Trends in Predictive Manufacturing Systems in Big Data Environment,” Manufacturing Letters (2013). 15 Markus Liffler and Andreas Tschiesner, “The Internet of Things and the Future of Manufacturing| McKinsey & Company,” Mckinsey. com (2013). 16 Hermann et al (2016) 17 Henning Kagermann, Wolfgang Wahlster, and Johannes Helbig, Recommendations for Implementing the Strategic Initiative INDUSTRIE 4.0: Final Report of the Industrie 4.0 Working Group, Final Report of the Industrie 4.0 WG, 2013. 18 Tae Kyung Sung, “Industry 4.0: A Korea Perspective,” Technological Forecasting and Social Change 132, no. July 2018 (2018): 40–45, https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0 040162517313720. penyesuaian produksi. 19 Selanjutnya, Zesulka et al (2016) menambahkan, industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yang saling terkait yaitu; 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks; 2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru. Baur & Wee (2015) memetakan industri 4.0 dengan istilah “kompas digital.”20 Salah satu karakteristik unik dari industri 4.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence. 21 Pendidikan 4.0 Pendidikan 4.0 adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0. Pendidikan 3.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan lunak. 22 Pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern. Dunwill (2016) mengatakan bahwa akan banyak perubahan di masa depan, dan memperkirakan bagaimana kecederungan kelas (classroom) akan terlihat dalam 5-7 tahun ke depan, yakni (a) perubahan besar dalam tata ruang kelas, (b) virtual dan augmented reality akan mengubah lanskap pendidikan, (c) Tugas yang fleksibel yang mengakomodasi banyak gaya (preferensi) belajar, dan (d) MOOC dan 19 J.D Kohler, D, & Weisz, “Industry 4.0: The Challenges of the Transforming Manufacturing” (2016). 20 D Baur, C., Wee, “Manufacturing’s Next Act,” last modified 2015, www.mckinsey.com/businessfunctions/operations/our-insights/manufacturingsnext-act. 21 Raymond R Tjandrawinata, “Industri 4.0: Revolusi Industri Abad Ini Dan Pengaruhnya Pada Bidang Kesehatan Dan Bioteknologi,” Seminar dan Konferensi Nasional IDEC (2017). 22 Fehmida Hussain, “E-Learning 3.0 = E-Learning 2.0 + Web 3.0?,” IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSRJRME) (2013).


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 33 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 opsi pembelajaran online lainnya akan berdampak pada pendidikan menengah. 23 Di Indonesia, Massive Open Online Course (MOOC) dikenal dengan Pembelajaran Daring Terbuka dan Terpadu (PDTT/PDITT). Selain Universitas Terbuka, beberapa perguruan tinggi di Indonesia menyelenggarakan model pembelajaran ini, di antaranya Focus Fisipol UGM, InodonesiaX yang didukung oleh ITB, ITS, dan UI, UCEO Universitas Ciputra, dll. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, Kemendikbud RI mengembangkan fasilitas pembelajaran melalui TIK lewat portal Rumah Belajar yang dapat diakses dengan mudah oleh guru maupun siswa. Dengan berbagai fitur yang ada, Rumah Belajar memudahkan siswa maupun guru dalam memeroleh sumber belajar selain lewat buku. Keberadaan Rumah Belajar diharapkan mampu memenuhi kebutuhan untuk pembelajaran yang dapat diakses di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Abad ke-21 sebagai abad keterbukaan atau globalisasi. Karena itu, muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi 21st century skills, yakni 1) pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi, 2) keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT, 3) karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab. 24 Saat ini, individu yang berusia 18 dan 23 tahun dikenal dengan Generasi Z (Gen Z) telah berubah oleh karena kemajuan teknologi. Generasi ini memiliki preferensi belajar yang mana, mereka sepenuhnya terlibat dalam proses belajar. Mereka menyambut tantangan dan menikmati diskusi kelompok dan lingkungan belajar yang sangat interaktif. Bagi mereka, 23 E. Dunwill, “4 Changes That Will Shape the Classroom of the Future: Making Education Fully Technological” (2016), https://elearningindustry.com/4-changes-will-shapeclassroom-of-the-future-making-education-fullytechnological. 24 Charles Fadel and Bernie Trilling, 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times (Jossey-Bass, 2009). belajar adalah tanpa batas; mereka dapat belajar di mana saja dan kapan saja dan memiliki akses tak terbatas ke informasi baru. Mereka memberi perhatian pada pembelajaran yang melibatkan kolaborasi aktif dengan anggota tim dan belajar di tempat lain selain kelas. Selain itu, penggunaan alat digital dan forum online menjadi lebih disukai, mereka lebih suka terintegrasi dalam proses pembelajaran mereka. Karena siswa Gen Z sangat menyukai alat digital, mereka berharap alat tersebut tersedia kapan pun mereka membutuhkannya dengan hambatan akses yang rendah. Siswa Gen Z ini perlu bersiap untuk berkembang dalam Revolusi Industri 4.0.25 Dalam pidatonya Mendikbud RI Muhadjir Effendy pada kegiatan Hardiknas 02 Mei 2018 di Universitas Negeri Yogyakarta, menyampaikan bahwa hadirnya revolusi industri 4.0 membuat dunia kini mengalami perubahan yang semakin cepat dan kompetitif. Untuk menghadapi itu, Mendikbud menilai perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi. Yakni, Pertama diharapkan peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis. Kedua, diharapkan peserta didik memiliki kreatifitas dan memiliki kemampuan yang inovatif. Ketiga, kemampuan dan keterampilan berkomunikasi. Keempat, kemampuan bekerjasama dan berkolaborasi, dan terakhir, diharapkan peserta didik memiliki kepercayaan diri. 26 Selain program pendidikan vokasi, kurikulum harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif. Peserta didik disiapkan dengan kurikulum yang memiliki muatan artifisial intelligent, 27 internet of things (IoT), wearable (augmented reality and virtual reality), advance robotic, dan 3D printing. Singkatnya, kurikulum wajib link and match 25 Sieva Kozinski, “How Generation Z Is Shaping The Change In Education,” Forbes, 2017. 26 M. Hafil, “Mendikbud Ungkap Cara Hadapi Revolusi 4.0 Di Pendidikan,” REPUBLIKA.Co.Id, May 2, 2018, https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/edua ction/18/05/02/p8388c430-mendikbud-ungkap-carahadapi-revolusi-40-di-pendidikan. 27 Yunhe Pan, “Heading toward Artificial Intelligence 2.0,” Engineering 2, no. 4 (December 2016): 409–413, https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S2095809 917300772.


34 JCTES 1(1): 28-43 antara sekolah dengan dunia usaha dan industri. Forum Ekonomi Dunia (2016) telah memperkirakan 10 keterampilan terbaik untuk masa depan. Kreativitas akan menjadi salah satu dari tiga keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerja. Dengan pergerakan besar-besaran dari produk baru, teknologi baru dan cara kerja baru, pekerja harus menjadi lebih kreatif untuk mendapatkan manfaat dari perubahan ini. Meskipun robot dapat membantu untuk mencapai tempat dan tujuan yang inginkan dengan lebih cepat, namun robot belum bisa sekreatif manusia. Kemampuan negosiasi (membuat kesepakatan) dan kecerdasan dalam berpikir dan bertindak (coqnitive flexibility) turun urutannya dan digantikan dengan pembuatan keputasan berbasis data (big data). Gambar 2: Top 10 Skill in 2015 & 2020 (Alex Gray, 2016) Sebuah survei yang dilakukan oleh Dewan Agenda Global Forum Ekonomi Dunia tentang Masa Depan Perangkat Lunak dan Masyarakat menunjukkan bahwa orang-orang mengharapkan mesin kecerdasan buatan menjadi bagian dari dewan direksi perusahaan pada tahun 2026. Demikian pula, mendengarkan secara aktif, yang dianggap sebagai keterampilan inti hari ini, akan hilang sepenuhnya dari 10 besar. Kecerdasan emosional, yang tidak masuk dalam 10 besar hari ini, akan menjadi salah satu keterampilan teratas yang dibutuhkan oleh semua.28 28 Alex Gray, “The 10 Skills You Need to Thrive in the Fourth Industrial Revolution | World Economic Forum,” The World Economic Forum, last modified 2016, accessed May 30, 2019, https://www.weforum.org/ Qusthalani dalam laman rumah belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagaimana dikutip oleh Dinar Wahyuni menyebutkan lima kompetensi yang harus dipersiapkan guru memasuki era Revolusi Industri 4.0, yaitu, pertama, educational competence. Kedua, competence for technological commercialization, Ketiga, competence in globalization, Keempat, competence in future strategies, dan kelima, counselor competence. 29 Sementara itu, Latip (2018) mengemukakan bahwa setidaknya ada 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era revolusi industri 4.0 ini, yakni 1) guru harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif; 2) Guru harus memiliki kompetensi abad 21: karakter, akhlak dan literasi; 3) Guru harus mampu menyajikan modul sesuai passion siswa; dan 4) Guru harus mampu melakukan autentic learning yang inovatif. 30 Untuk mencapai keterampilan abad 21, trend pembelajaran dan best practices juga harus disesuaikan, salah satunya adalah melalui pembelajaran terpadu atau secara blended learning. 31 Blended learning adalah cara mengintegrasikan penggunaan teknologi dalam pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran yang sesuai bagi masing-masing siswa dalam kelas. "Blended learning memungkinkan terjadinya refleksi terhadap pembelajaran.”32 agenda/2016/01/the-10-skills-you-need-to-thrive-inthe-fourth-industrial-revolution/. 29 Dinar Wahyuni, “PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MENUJU ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0,” Info Singkat (Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis) Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI 2018 X, no. 24/II/Puslit/Desember/2018 (2018): 13– 18. 30 Abdul Latip, “4 Kompetensi Guru Di Era Revolusi Industri 4.0,” Kompasiana, last modified 2018, accessed June 1, 2019, https://www.kompasiana.com/ altip/5bfcab25aeebe161c772f98f/4-kompetensi-guru-diera-revolusi-industri-4-0?page=all. 31 Charles Graham and Chuck Dziuban, “Blended Learning Environments,” Handbook of Research on Educational Communications and Technology: A Project of the Association for Educational Communications and Technology 2 (2007), https://www.researchgate.net/publication/- 267774009_Blended_Learning_Environments. 32 Sutrisna Wibawa, Pendidikan Dalam Era Revolusi Industri 4.0, 2018.


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 35 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 Blended learning merupakan salah solusi pembelajaran di era revolusi 4.0. Menurut para ahli, Blended learning merupakan kombinasi antara pembelajaran berbasis online dengan pembelajaran melalui tatap muka di kelas.3334 Merupakan perpaduan antara pembelajaran fisik di kelas dengan lingkungan virtual35. Definisi-definisi menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis blended learning merupakan gabungan dari literasi lama dan literasi baru (literasi manusia, literasi teknologi dan data). Kurikulum Pendidikan 4.0 Revolusi Industri 4.0 yang sarat akan teknologi yang super cepat akan membawa perubahan yang cukup signifikan, salah satunya terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan dalam sistem pendidikan tentunya akan berdampak pula pada rekonstruksi kurikulum, peran guru sebagai tenaga pendidik dan pengembangan teknologi pendidikan yang berbasis ICT. Ini adalah tantangan baru untuk merevitalisasi pendidikan, guna menghasilkan orang-orang cerdas, yang kreatif dan inovatif serta mampu berkompetisi secara global. Banyak kajian mengemukakan bahwa implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian, namun hanya berkisar pada target pencapaian kompetensi peserta didik yang digambarkan pada nilai-nilai akademik semata. 33 Jamey Fitzpatrick, “Planning Guide for Creating New Models for Student Success Online and Blended Learning,” Michiganvirtual.Org, last modified 2012, accessed May 31, 2019, https://michiganvirtual.org/wpcontent/uploads/2017/03/PlanningGuide-2012.pdf. 34 Christi Wilson, “6 Ways Teachers Are Using Blended Learning,” Teachthought.Com, last modified 2019, accessed June 1, 2019, https://www.teachthought.com/ learning/6-blendedlearning-models-platforms/. 35 Amrien Hamila Maarop and Mohamed Amin Embi, “Implementation of Blended Learning in Higher Learning Institutions: A Review of Literature,” International Education Studies 9, no. 3 (February 21, 2016): 41, http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ies/- article/view/51751. Penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum menjadi fokus pertama penyelesaian ‘pekerjaan rumah dalam bidang pendidikan. Kebijakan Kurikulum harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Mengedepankan ‘soft skills’ dan ‘transversal skills’, keterampilan hidup, dan keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademis tertentu. Namun, bermanfaat luas pada banyak situasi pekerjaan layaknya kemampuan berpikir kritis dan inovatif, keterampilan interpersonal, warga negara yang berwawasan global, dan literasi terhadap media dan informasi yang ada. Sudah waktuya kurikulum direviu dan secara bertahap mengembangkan kurikulum pendidikan yang mampu mengarahkan dan membentuk anak didik siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Sains, Technology, Engineering and Mathematic atau STEM. 36 Kurikulum sudah harus mengacu pada pembelajaran dalam teknologi informasi, internet of things, big data dan komputerisasi, serta entrepreneurship dan internship. Ini perlu menjadi kurikulum wajib guna menghasilkan lulusan terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Kompetensi dan Skill Guru di Era Revolusi 4.0 Revolusi industri 4.0 memberikan pengaruh yang besar pada berbagai bidang, namun tidak untuk tiga bidang profesi berikut, yaitu bidang pendidikan (guru), bidang kesehatan (dokter, perawat) dan kesenian (seniman). Peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, "orang tua" di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi. 36 Hays Blaine Lantz, “Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education What Form? What Function?,” last modified 2009, accessed June 17, 2019, https://dornsife.usc.edu/assets/sites/ 1/docs/jep/STEMEducationArticle.pdf.


36 JCTES 1(1): 28-43 Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Karena itu, selain pendapat Wahyuni (2018) dan Latip (2018) sebagaimana dijelaskan sebelumnya, menurut hemat penulis sikap atau skill lainnya yang perlu dimiliki guru dalam menghadapi era Industri 4.0, adalah antara lain: 1. Bersahabat dengan Teknologi Dunia selalu berubah dan berkembang ke level yang lebih tinggi, salah satu perubahannya ditandai oleh kemajuan teknologi. Setiap orang tidak akan mampu melawan kemajuan teknologi, karena itu agar tidak tergilas olehnya, guru wajib memiliki kemauan untuk belajar terusmenerus. Perubahan dunia oleh kemajuan teknologi tidak perlu dijadikan sebagai ancaman, namun dihadapi dengan positif, belajar dan beradaptasi, serta mau berbagi dengan teman sejawat atau kolega baik kesuksesan maupun kegagalan. 2. Kerjasama (Kolaborasi) Hasil yang maksimum akan sulit dicapai bila dikerjakan secara individu tanpa kerjasama atau berkolabrasi dengan orang lain. Karena itu, guru harus memiliki kemauan yang kuat untuk berkolaborasi dan belajar dengan dan atau dari yang lain. Sikap ini sangat diperlukan sekarang dan di masa yang akan datang. Melakukannya pun tidak terlalu sulit, karena dunia sudah saling terhubung, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berkolaborasi dengan yang lain. 3. Kreatif dan Mengambil Risiko Kreativitas adalah salah satu skill yang diperlukan pada Top 10 Skill 2020, kreativitas akan menghasilkan sebuah struktur, pendekatan atau metode untuk menyelesaikan masalah dan menjawab kebutuhan. Guru perlu memodelkan kreativitas ini dan berupaya lebih cerdas bagaimana kreativitas ini diintegrasikan ke dalam tugas-tugas kesehariannya. Para pendidik juga tidak perlu terlalu takut salah, namun selalu siap menghadapi risiko yang muncul. Kesalahan adalah langkah awal dalam belajar, dan tidak perlu menjadi faktor penghambat untuk terus maju, kesalahan adalah untuk diperbaiki. 4. Memiliki selera Humor yang Baik Guru yang humoris biasanya guru yang paling sering diingat oleh murid. Tertawa dan humor dapat menjadi skill penting untuk membantu dalam membangun hubungan dan relaksasi dalam kehidupan. Ini akan mengurangi stress dan rasa frustasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat kehidupan dari sisi lain. 5. Mengajar secara Utuh (Holistik) Dalam berbagai teori belajar dan pembelajaran kita mengenal pembelajaran individual dan kelompok. Dan, akhir-akhir ini, gaya belajar dan pembelajaran yang bersifat individu, semakin meningkat. Karena itu, guru jaman now perlu mengenali siswa secara individu, termasuk keluarganya dan cara mereka belajar (mengenalnya secara utuh, termasuk kendala-kendala yang dialaminya baik secara pribadi maupun di dalam keluarganya). Open Learning Platform Mengutip laporan Laporan World Ekonomic Forum Tahun 2015, terdapat 16 keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk abad 21, yakni sebagai berikut. Gambar 3: 21st Century Skills (World Economic Forum, 2016) Gambar di atas menunjukan bahwa untuk menuju abad ke-21, siswa membutuhkan pembelajaran yang tidak lagi sekedar pembelajaran akademis tradisional. Melainkan pendidikan yang menawarkan layanan pembelajaran yang memahirkan mereka


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 37 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 berkolaborasi, komunikasi dan memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Kemampuan atau keterampilan tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang tidak lagi hanya mengandalkan pembelajaran tatap muka, melainkan kombinasi pembelajaran daring (e-learning) dan tatap muka (face to face), atau dikenal dengan istilah Blended Learning. 37 Model pembelajaran ini menuntut optimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis teknologi (ICT) atau elearning tidak lagi sekedar wacana atau sebatas visi, melainkan sudah harus menjadi aksi nyata pada semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Yang menjadi persoalan ialah rendahnya kuantitas lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komputer. Sekolah-sekolah kita utamanya di daerahdaerah masih sangat sulit keluar dari pola-pola pembelajaran konvensional. Memang bukan juga tanpa alasan, di antaranya menyangkut sumber daya manusia dan infrastruktur pendidikan yang terbatas. Keadaan ini, pada akhirnya sudah tidak bisa dipertahankan, sistem serta model pendidikan pun harus ditransformasi melalui pemanfaatan teknologi pendidikan, perluasan proses pembelajaran yang melampaui batas-batas ruang kelas dengan cara memperbanyak interaksi siswa dengan lingkungan sekitarnya. Dan, ini hanya bisa diwujudkan bila terjadi pergeseran pola pikir dan pola tindak dalam berbagai konteks penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan 37 Andi Kristanto, Mustaji Mustaji, and Andi Mariono, “The Development of Instructional Materials E-Learning Based On Blended Learning,” International Education Studies 10, no. 7 (June 27, 2017): 10, http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ies/article /view/66040. komunikasi,38 termasuk di dalamnya para pendidik (guru/dosen). Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung Industri 4.0 dan disrupsi inovasi teknologi merupakan keharusan dengan model resource sharing dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan lab dengan augmented dengan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap. Salah satu perkembangan tekonologi di bidang pendidikan saat ini adalah teknologi augmented dan virtual reality (AR/VR), telah mulai diadopsi sebagai media pembelajaran di ruang kelas dan juga alat bantu penelitian di laboratorium. 39 Teknologi AR/VR ini dapat digunakan untuk menunjang pendidikan serta meningkatkan efektivitas belajar siswa. Misalnya dalam proses belajar matematika yang berkaitan dengan topik pembahasan geometri, materi belajar biologi dengan topik sistem penencernaan manusia, proses pembelahan sel, kegiatan belajar (eksperimen) menirukan berbagai objek yang ada di sekitar, dan untuk pembelajaran lain yang kompleks dan sulit untuk dilakukan secara nyata. Media pembelajaran yang menggunakan teknologi ini dapat dengan mudah meningkatkan pemahaman siswa karena objek 3D, teks, gambar, video, audio dapat ditampilkan kepada siswa secara nyata. Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan siswa terhadap pengalaman belajar individual, di sini siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar. Siswa berpotensi akan memodifikasi sendiri proses belajar mereka dengan alat yang mereka rasa perlu. Siswa akan belajar dengan perangkat, program dan teknik yang berbeda berdasarkan preferensi mereka sendiri. Pada tataran ini, sekolah dan guru sudah harus terbuka dengan konsep flipped clasroom dan siswa membawa alat belajar sendiri (bring your own device/BYOD). 38 Mark Frydenberg and Diana Andone, “Learning for 21 St Century Skills,” in IEEE’s International Conference on Information Society (Scientific Research an Academic Publisher, 2011), https://www.researchgate.net/ publication/261431775_Learning_for_21_st_Century_Ski lls. 39 Kening Zhu, “Virtual Reality and Augmented Reality for Education” (Association for Computing Machinery (ACM), 2016), 1–2.


38 JCTES 1(1): 28-43 Keterlibatan masyarakat (orangtua) dalam konteks BYOD ini akan mengisi kekurangan sekolah (lembaga pendidikan) dalam hal penyediaan infrastruktur ICT di dunia pendidikan. Pergeseran paradigma dan pola tindakan dalam berbagai konteks penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Konsekuensi logis dari inovasi teknologi yang terus berkembang ini menuntut adanya modifikasi konsep pengelolaan kelas dan metode pembelajaran, agar sesuai harapan, gaya belajar dan minat peserta didik. Saat ini, penerapan blended learning dalam pembelajaran telah menjadi strategi pembelajaran yang disukai untuk semua tingkatan kelas. Dan, semakin populer karena secara efektif menggabungkan manfaat pengajaran tradisional dengan pembelajaran daring. Baru-baru ini sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Rogers (Associate Professor) dari Universitas Iowa (AS), menemukan bukti bahwa proses pembelajaran yang menerapkan blended learning lebih efektif daripada kuliah (tatap muka) di kelas dan/atau pembelajaran online saja. Roger menjelaskan bahwa … more than 95% of students enrolled in the blended course section earned a grade of C- or more compared to 82% in the lecture classroom sections and 81% enrolled online only. 40 Selain itu, blended learning juga menciptakan kemandirian belajar dan tanggung jawab akademis peserta didik; menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang berpusat pada teknologi, menghemat biaya belajar daring, meningkatkan kemampuan kolaboratif, menarik dan menyenangkan serta memicu keterlibatan secara penuh (fisik dan sosio-emosional) peserta didik dalam proses pembelajaran. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa menghafal bukanlah strategi pembelajaran yang efektif, juga bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru sudah bukan sebuah struktur atau pendekatan paling efisien untuk keterlibatan siswa. Namun, terlepas dari belajar tentang keterampilan yang siswa dibutuhkan untuk menjadi sukses di abad 40 Brandon Jarman, “6 Reasons Why Classrooms Need To Implement Blended Learning,” EmergingEdTech, January 17, 2019, https://www.emergingedtech.com/ 2019/01/6- reasons-teachers-need-to-implement-blended-learning/. ke-21, sekolah dan guru perlu mencari tahu peran seperti apa yang dibutuhkan untuk berada dalam pendidikan abad ke-21. Sebagaimana dipahami lebih awal, peran pendidikan adalah mempersiapkan siswa untuk menjadi anggota masyarakat yang aktif, sukses, dan berkontribusi. Namun, ada perubahan penting yang harus diperhatikan, masyarakat telah berubah. Tanggung jawab sekolah dan pendidik adalah menyiapkan peserta didik agar mampu berkompetisi dan memainkan peran mereka di tengah-tengah komunitas global. Berikut, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran diselenggarakan. 1. Pembelajaran Berpusat kepada Siswa (Student-Centered Learning) Pembelajaran yang berpusat pada siswa mengandung makna bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber utama pengetahuan di kelas. Agar mampu berkompetisi dan berkontribusi pada masyarakat global di masa yang akan datang, siswa harus dapat memperoleh informasi baru ketika masalah muncul (learning how to learn). Kemudian, mereka perlu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki dan menerapkannya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Dalam model kelas ini, guru akan bertindak sebagai fasilitator bagi siswa, siswa akan mengumpulkan informasi sendiri, di bawah bimbingan guru. Guru sudah harus mengakomodasi gaya belajar siswa, karena melalui itu, motivasi belajar dan tanggung jawab siswa dapat ditingkatkan. Mereka terlibat dalam berbagai jenis kegiatan langsung, serta menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara. Belajar adalah tentang penemuan, bukan menghafal fakta. 2. Kolaborasi Siswa harus didorong untuk bekerja bersama untuk menemukan informasi, mengumpulkannya, dan membangun makna. Bagaimana mengenali kekuatan dan talenta yang berbeda yang dimiliki dan dibawa oleh setiap orang ke proyek (ProjectBased Learning), dan mengubah peran sangat tergantung pada sejauh mana sekolah, guru dan siswa mengembangkan pembelajaran yang kolaboratif.


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 39 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 Siswa harus belajar cara berkolaborasi dengan orang lain. Masyarakat saat ini memiliki orang-orang yang berkolaborasi di seluruh dunia. Bagaimana siswa dapat diharapkan untuk bekerja dengan orangorang dari budaya lain, dengan nilai-nilai yang berbeda dari mereka sendiri, jika mereka tidak dapat bekerja dengan orangorang yang mereka lihat setiap hari di kelas mereka? Sekolah juga harus berkolaborasi dengan lembaga pendidikan lain di seluruh dunia untuk berbagi informasi dan belajar tentang berbagai praktik atau metode yang telah dikembangkan. Mereka harus bersedia mengubah metode pengajaran mereka mengingat kemajuan baru. 3. Meaningful Learning Berpusat pada siswa tidak berarti bahwa guru menyerahkan semua kendali atas kelas. Sementara siswa didorong untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya, guru masih memberikan bimbingan mengenai keterampilan yang perlu diperoleh. Guru dapat membuat poin penting untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. Siswa akan jauh lebih termotivasi untuk mempelajari sesuatu yang dapat mereka lihat manfaat dan nilainya. Guru perlu mengajar dan melatih siswa keterampilan yang berguna dalam situasi apa pun. Pelajaran tidak memiliki makna dan tujuan jika tidak berdampak pada kehidupan siswa di luar sekolah. 4. Sekolah terintegrasi dengan Masyarakat Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini dapat melakukan banyak hal. Komunitas sekolah tidak lagi hanya mencakup area yang terletak di lingkungan sekolah, tetapi menjangkau seluruh dan menyelimuti dunia. Pendidikan perlu membantu siswa mengambil bagian dalam komunitas global ini dan menemukan cara agar yang berdampak lebih dari sekadar lingkungan mereka berada. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak perlu belajar nilai membantu orang lain di sekitar mereka dan melindungi lingkungan terdekat mereka, tetapi mereka juga harus belajar tentang bagaimana mereka dapat membantu dan melindungi dunia yang jauh dari mereka. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah perlu mendidik siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan komunitas sekolah, siswa didorong untuk mengambil bagian dalam kegiatan atau proyek tersebut, dan sesekali membantu masyarakat di sekitar mereka dengan kegiatan sosial yang beragam. Mendasari pendapat Fisk (2017), tentang tren pendidikan 4.0, salah satunya adalah hadirnya kegiatan belajar pada waktu dan tempat yang berbeda, yang didukung oleh teknologi pembelajaran daring (online).41 Beberapa cara sederhana berikut dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran campuran (blending learning), antara lain: 1. Flipped Classroom Flipped classroom adalah model pembelajaran yang “membalik” metode tradisional, di mana biasanya materi diberikan di kelas dan siswa mengerjakan tugas di rumah. Konsep flipped classroom mencakup active learning, keterlibatan siswa, dan podcasting. Dalam flipped classroom, materi terlebih dahulu diberikan melalui video pembelajaran yang harus ditonton siswa di rumah masingmasing. Sebaliknya, sesi belajar di kelas digunakan untuk diskusi kelompok dan mengerjakan tugas. Di sini, guru berperan sebagai pembina atau pemberi saran.42 2. Mengintegrasikan Media Sosial Ada banyak cara untuk mengintegrasikan media sosial ke dalam ruang kelas. Dengan mengintegrasikan media sosial, siswa dapat menunjukkan penguasaan konten melalui berbagai alat digital seperti blogging, Facebook, Skype, YouTube atau video konferensi. Teman sekelas memiliki opsi untuk terus berbagi pengetahuan dan berinteraksi satu sama lain jauh melebihi jam yang dihabiskan di kelas dan diskusi online dapat menjadi menarik. 43 41 Fisk, “Education 4.0 … the Future of Learning Will Be Dramatically Different, in School and throughout Life.” 42 Jacob Lowell Bishop and Matthew Verleger, “The Flipped Classroom : A Survey of the Research,” American Society for Engineering Education (2013): 6219, http://www.asee.org/public/conferences/20/papers/6 219/view. 43 Michelle Mei Ling Yeo, “Social Media and Social Networking Applications for Teaching and Learning,”


40 JCTES 1(1): 28-43 3. Khan Academy Khan Academy adalah situs web gratis di mana siswa dapat mengakses ribuan video tutorial, bersama dengan latihan praktik interaktif, di hampir semua mata pelajaran. Merupakan situs yang baik untuk digunakan di dalam kelas untuk siswa yang membutuhkan perbaikan atau percepatan. Guru memiliki opsi untuk membuat akun kelas dan guru dapat memantau kemajuan setiap siswa dengan mengakses data pada latihan yang diselesaikan. Dari data tersebut akan diketahui yang menjadi bidang kekuatan atau kelebihan serta bidang yang bermasalah dari siswa. 4445 4. Project-Based Learning (PBL) Pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran yang melaksanakan pembelajaran dengan proyek. Proyek dimaksud adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan data, pengorganisasian, evaluasi, hingga penyajian data (presentasi). Aktivitas inkuiri berbasis proyek ini dapat dilakukan olehh siswa di sekolah setelah siswa. Sehingga sebagian besar waktu kelas dapat mereka habiskan untuk bekerja secara kolaboratif dengan tim mereka di sekolah. 46 5. Moodle Moodle adalah sistem manajemen kursus yang memberikan opsi kepada guru untuk mengirim tugas, kuliah, video, dan banyak lagi. Siswa dapat berinteraksi satu sama lain melalui forum diskusi, pesan pribadi, dan ruang obrolan. Siswa memiliki kemampuan untuk mengunggah tugas yang diselesaikan dengan melampirkan file. Nilai ditambahkan ke buku kelas di situs yang sama dan siswa juga dapat melihat umpan balik yang European Journal of Science and Mathematics Education (2014). 44 David Free, “Environmental Scan of OERs, MOOCs, and Libraries,” College & Research Libraries News 75, no. 4 (2014): 166, http://www.ala.org/acrl/sites/ ala.org.acrl/files/content/publications/whitepapers/E nvironmental Scan and Assessment.pdf. 45 Robert Murphy et al., “Research on the Use of Khan Academy in Schools,” SRI Education (2014). 46 Stephanie Bell, “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future,” The Clearing House: A Journal of Educational Strategies, Issues and Ideas (2010). diberikan oleh guru. Moodle berkinerja baik saat digunakan selain untuk pertemuan tatap muka.4748 6. Schoology Schoology adalah layanan jejaring sosial dan lingkungan belajar virtual untuk sekolah K12 dan lembaga pendidikan tinggi yang memungkinkan pengguna untuk membuat, mengelola, dan berbagi konten akademik. 495051 Kemajuan di bidang teknologi juga bukan tidak berdampak negatif pada perubahan sikap, perilaku dan karakter peserta didik. Di antaranya kecanduan internet dan malas belajar akibat game oline dan menonton, kehilangan waktu bermain dengan anak seusia karena lebih fokus dengan perangkat digitalnya, menjadikan kurangnya keseimbangan kehidupan sosial anak, bahkan berpotensi menurunkan prestasi akademik. Di sinilah guru memegang peranan penting dalam membentuk karakter siswa. Guru diharapkan tidak hanya transfer pengetahuan tetapi lebih dari itu pengembangan sikap dan spiritual sehingga akan tercipta keseimbangan antara kompetensi intelektual dengan kompetensi sikap dan spiritual. KESIMPULAN Era revolusi industri 4.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dibuat bukan hanya cara mengajar, tetapi jauh lebih penting adalah perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum saat ini 47 Jason Cole and Helen Foster, “Using Moodle: Teaching with the Popular Open Source Course Management System,” O’Reilly Community Press (2007). 48 Setiyorini Setiyorini, Siti Patonah, and Ngurah Ayu Nyoman Murniati, “Pengembangan Media Pembelajaran Moodle,” Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika (2017). 49 Vincentius Tjandra Irawan, Eddy Sutadji, and Widiyanti, “Blended Learning Based on Schoology: Effort of Improvement Learning Outcome and Practicum Chance in Vocational High School,” Cogent Education (2017). 50 Shampa Biswas, “Schoology-Supported Classroom Management: A Curriculum Review,” Northwest Journal of Teacher Education (2018). 51 Tigowati, Agus Efendi, and Cucuk W. Budiyanto, “E-Learning Berbasis Schoology Dan Edmodo: Ditinjau Dari Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa SMK,” Elinvo (Electronics, Informatics, and Vocational Education) 21, no. 1 (2017): 49–58.


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 41 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 dan masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi pedagogik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama (kolaborasi) dan berpikir kritis dan kreatif. Mengembangkan soft skill dan transversal skill, serta keterampilan tidak terlihat yang tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademik tertentu. Namun, berguna dalam banyak situasi kerja seperti keterampilan interpersonal, hidup bersama, kemampuan menjadi warga negara yang berpikiran global, dan literasi media dan informasi. Pengembangan kurikulum harus mampu mengarahkan dan membentuk siswa yang siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM), serta berkarakter. Reorientasi kurikulum yang mengacu pada pembelajaran berbasis TIK, internet of things, big data dan komputerisasi, serta kewirausahaan dan magang, perlu menjadi kurikulum wajib untuk menghasilkan lulusan yang terampil di bidang literasi infromasi, literasi teknologi, dan literasi manusia. Untuk memastikan kurikulum yang disesuaikan dilaksanakan secara optimal, kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah educational competence, competence for technological commercialization, competence in globalization, competence in future strategies serta counselor competence. Guru juga perlu memiliki sikap yang bersahabat dengan teknologi, kolaboratif, kreatif dan mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, serta mengajar secara menyeluruh (holistik). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran diselenggarakan, yakni pembelajaran berpusat kepada siswa (student-centered learning), kolaborasi (collaborative learning), penuh makna, serta terintegrasi dengan masyarakat. Untuk mendukung proses pendidikan dan pembelajaran dimaksud, cara seperti (1) flipped classroom, (2) mengintegrasikan media sosial, (3) Khan Academy, (4) project-based learning, (5) moodle, dan (6) schoology, dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. REFERENCES Aoun, Joseph E. “Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence.” Journal of Education for Teaching (2018). Arikunto, Suharsimi. “PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS.” Bumi Aksara (2006). Aziz Hussin, Anealka. “Education 4.0 Made Simple: Ideas For Teaching.” International Journal of Education and Literacy Studies (2018). Baur, C., Wee, D. “Manufacturing’s Next Act.” Last modified 2015. www.mckinsey.com/businessfunctions/operations/ourinsights/manufacturings-next-act. Bell, Stephanie. “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future.” The Clearing House: A Journal of Educational Strategies, Issues and Ideas (2010). Biswas, Shampa. “Schoology-Supported Classroom Management: A Curriculum Review.” Northwest Journal of Teacher Education (2018). Cole, Jason, and Helen Foster. “Using Moodle: Teaching with the Popular Open Source Course Management System.” O’Reilly Community Press (2007). Dunwill, E. “4 Changes That Will Shape the Classroom of the Future: Making Education Fully Technological” (2016). https://elearningindustry.com/4-changeswill-shape-classroom-of-the-future-makingeducation-fully-technological. Fadel, Charles, and Bernie Trilling. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. JosseyBass, 2009. Fisk, Peter. “Education 4.0 … the Future of Learning Will Be Dramatically Different, in School and throughout Life.” Last modified 2017. Accessed May 11, 2019. http://www.thegeniusworks.com/2017/01/ future-education-young-everyone-taughttogether/. Fitzpatrick, Jamey. “Planning Guide for Creating New Models for Student Success Online and Blended Learning.” Michiganvirtual.Org. Last modified 2012. Accessed May 31, 2019. https://michiganvirtual.org/wpcontent/uploads/2017/03/PlanningGuide2012.pdf. Free, David. “Environmental Scan of OERs, MOOCs, and Libraries.” College & Research Libraries News 75, no. 4 (2014): 166. http://www.ala.org/acrl/sites/ala.org.acrl/ files/content/publications/whitepapers/Env ironmental Scan and Assessment.pdf.


42 JCTES 1(1): 28-43 Frydenberg, Mark, and Diana Andone. “Learning for 21 St Century Skills.” In IEEE’s International Conference on Information Society. Scientific Research an Academic Publisher, 2011. https://www.researchgate.net/publication/ 261431775_Learning_for_21_st_Century_Skill s. Graham, Charles, and Chuck Dziuban. “Blended Learning Environments.” Handbook of Research on Educational Communications and Technology: A Project of the Association for Educational Communications and Technology 2 (2007). https://www.researchgate.net/publication/ 267774009_Blended_Learning_Environments. Gray, Alex. “The 10 Skills You Need to Thrive in the Fourth Industrial Revolution | World Economic Forum.” The World Economic Forum. Last modified 2016. Accessed May 30, 2019. https://www.weforum.org/agenda/2016/0 1/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-thefourth-industrial-revolution/. Hafil, M. “Mendikbud Ungkap Cara Hadapi Revolusi 4.0 Di Pendidikan.” REPUBLIKA.Co.Id, May 2, 2018. https://www.republika.co.id/berita/pendid ikan/eduaction/18/05/02/p8388c430- mendikbud-ungkap-cara-hadapi-revolusi-40- di-pendidikan. Halim, Stevani. “Revolusi Industri 4.0 Di Indonesia.” Medium.Com. Last modified 2018. https://medium.com/@stevanihalim/revolu si-industri-4-0-di-indonesia-c32ea95033da. Hermann, Mario, Tobias Pentek, and Boris Otto. “Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios.” In Proceedings of the Annual Hawaii International Conference on System Sciences, 2016. Hussain, Fehmida. “E-Learning 3.0 = E-Learning 2.0 + Web 3.0?” IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSRJRME) (2013). Irawan, Vincentius Tjandra, Eddy Sutadji, and Widiyanti. “Blended Learning Based on Schoology: Effort of Improvement Learning Outcome and Practicum Chance in Vocational High School.” Cogent Education (2017). Irianto, D. “Industry 4.0: The Chalenges of Tomorrow.” Seminar Nasional Teknik Industri 2017 (2017). Jarman, Brandon. “6 Reasons Why Classrooms Need To Implement Blended Learning.” EmergingEdTech, January 17, 2019. https://www.emergingedtech.com/2019/01 /6-reasons-teachers-need-to-implementblended-learning/. Kagermann, Henning, Wolfgang Wahlster, and Johannes Helbig. Recommendations for Implementing the Strategic Initiative INDUSTRIE 4.0: Final Report of the Industrie 4.0 Working Group. Final Report of the Industrie 4.0 WG, 2013. Kohler, D, & Weisz, J.D. “Industry 4.0: The Challenges of the Transforming Manufacturing” (2016). Kozinski, Sieva. “How Generation Z Is Shaping The Change In Education.” Forbes, 2017. Krippendorff, Klaus. Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (Second Edition). SAGE Publications, 2004. Kristanto, Andi, Mustaji Mustaji, and Andi Mariono. “The Development of Instructional Materials E-Learning Based On Blended Learning.” International Education Studies 10, no. 7 (June 27, 2017): 10. http://www.ccsenet.org/journal/index.php /ies/article/view/66040. Kriyantono, Rachmat. Teknik Praktis Riset Komunikasi. 6th ed. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012. Lantz, Hays Blaine. “Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education What Form? What Function?” Last modified 2009. Accessed June 17, 2019. https://dornsife.usc.edu/assets/sites/1/doc s/jep/STEMEducationArticle.pdf. Latip, Abdul. “4 Kompetensi Guru Di Era Revolusi Industri 4.0.” Kompasiana. Last modified 2018. Accessed June 1, 2019. https://www.kompasiana.com/altip/5bfcab 25aeebe161c772f98f/4-kompetensi-guru-diera-revolusi-industri-4-0?page=all. Lee, Jay, Edzel Lapira, Behrad Bagheri, and Hung an Kao. “Recent Advances and Trends in Predictive Manufacturing Systems in Big Data Environment.” Manufacturing Letters (2013). Liffler, Markus, and Andreas Tschiesner. “The Internet of Things and the Future of Manufacturing| McKinsey & Company.” Mckinsey. com (2013). Lowell Bishop, Jacob, and Matthew Verleger. “The Flipped Classroom : A Survey of the Research.” American Society for Engineering Education (2013): 6219. http://www.asee.org/public/conferences/2 0/papers/6219/view. Maarop, Amrien Hamila, and Mohamed Amin Embi. “Implementation of Blended Learning in Higher Learning Institutions: A Review of


Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 43 Delipiter Lase https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 Literature.” International Education Studies 9, no. 3 (February 21, 2016): 41. http://www.ccsenet.org/journal/index.php /ies/article/view/51751. Murphy, Robert, Lawrence Gallagher, Andrew Krumm, Jessica Mislevy, and Amy Hafter. “Research on the Use of Khan Academy in Schools.” SRI Education (2014). Nazir, M. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988. Pan, Yunhe. “Heading toward Artificial Intelligence 2.0.” Engineering 2, no. 4 (December 2016): 409–413. https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii /S2095809917300772. Schwab, Klaus. The Fourth Industrial Revolution: What It Means and How to Respond. World Economic Forum, 2016. https://www.weforum.org/agenda/2016/0 1/the-fourth-industrial-revolution-what-itmeans-and-how-to-respond/. Setiyorini, Setiyorini, Siti Patonah, and Ngurah Ayu Nyoman Murniati. “Pengembangan Media Pembelajaran Moodle.” Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika (2017). Sudlow, Brian. “Review of Joseph E. Aoun (2017). Robot Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence.” Postdigital Science and Education (2018). Sung, Tae Kyung. “Industry 4.0: A Korea Perspective.” Technological Forecasting and Social Change 132, no. July 2018 (2018): 40–45. https://www.sciencedirect.com/science/arti cle/pii/S0040162517313720. Tigowati, Agus Efendi, and Cucuk W. Budiyanto. “E-Learning Berbasis Schoology Dan Edmodo: Ditinjau Dari Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa SMK.” Elinvo (Electronics, Informatics, and Vocational Education) 21, no. 1 (2017): 49–58. Tjandrawinata, Raymond R. “Industri 4.0: Revolusi Industri Abad Ini Dan Pengaruhnya Pada Bidang Kesehatan Dan Bioteknologi.” Seminar dan Konferensi Nasional IDEC (2017). Wahyuni, Dinar. “PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MENUJU ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0.” Info Singkat (Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis) Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI 2018 X, no. 24/II/Puslit/Desember/2018 (2018): 13–18. Wibawa, Sutrisna. Pendidikan Dalam Era Revolusi Industri 4.0, 2018. Wilson, Christi. “6 Ways Teachers Are Using Blended Learning.” Teachthought.Com. Last modified 2019. Accessed June 1, 2019. https://www.teachthought.com/learning/6- blended-learning-models-platforms/. Yeo, Michelle Mei Ling. “Social Media and Social Networking Applications for Teaching and Learning.” European Journal of Science and Mathematics Education (2014). Zhu, Kening. “Virtual Reality and Augmented Reality for Education.” 1–2. Association for Computing Machinery (ACM), 2016.


Click to View FlipBook Version