LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PKM
EFEKTIVITAS UMPAN GEL INSEKTISIDA UNTUK
MENGENDALIKAN HAMA KECOAK JERMAN DI
PROVINSI JAMBI
BIDANG KEGIATAN: PKM PENELITIAN
DIUSULKAN OLEH:
KETUA PELAKSANA : RICKY PRATAMA (12020611086) 2012
ANGGOTA 1 : IIN HERNI SOFIA (130602011037) 2013
ANGGOTA 2 : AYUNING TRIASIH (130602011011) 2013
ANGGOTA 3 : ENDANG ASPARINA (130602011027) 2013
ANGGOTA 4 : HELEN DWI O.(130602011035) 2013
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN PENDIDIKAN MERANGIN
TAHUN AJARAN 2015/2016
i
PENGESAHAN PROPOSAL PKM-PENELITIAN
1. Judul Kegiatan : Efektivitas Umpan Gel InsektisidaUntuk Mengendalikan
Hama Kecoak Jerman Di Provinsi Jambi
2. Bidang Kegiatan : PKM-P
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ricky Pratama
b. NPM : 120206011086
c. Jurusan/Prodi : P.MIPA/BIOLOGI
d. Universitas/Institut/Politeknik : STKIP YPM BANGKO
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Rantau Panjang/ 082280489551
f. Alamat email : [email protected]
4. Anggota Pelaksana Kegiatan :4 Orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Apriza Hongko Putra, M.Si
b. NIDN : 1022049003
c. Alamat Rumah dan No. HP :Perumahan STKIP YPM Bangko
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp. 6.025.000,00
b. Sumber lain :-
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 Bulan
Dosen Pembimbing
Apriza Hongko Putra, M,Si
NIDN. 1022049003
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
RINGKASAN .......................................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah ..................................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ........................................................................................................... 2
1.3.Tujuan ................................................................................................................................ 2
1.4 Luaran yang Diharapkan .................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kecoak Jerman (B. germanica L.) .......................................................................... 3
2.2.Resistensi .................................................................................................................. 4
2.3.Fipronil ..................................................................................................................... 5
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian...................................................................................................... 6
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................................................... 6
3.3 Prosedur Kerja ........................................................................................................... 7
3.4. Analisis Data ............................................................................................................ 8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Toksisitas .......................................................................................................... 9
LAMPIRAN
iii
4
BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kecoak merupakan serangga hama yang sangat berbahaya bagi manusia. Kecoak berperan
sebagai vektor penyakit yang dapat menularkan penyakit kepada manusia. Dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Baumholtz et al.(2007), bahwa kecoak telah menjadi vektor bagi lebih dari
40 jenis mikroba, beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit diare, infeksi saluran
pencernaan, abses dan lain-lain. Pengendalian terhadap populasi serangga hama ini merupakan
hal yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Berbagai cara telah dilakukan oleh para peneliti
untuk menemukan formula yang ampuh dalam mengendalikan kecoak, baik berupa
pengendalian fisik maupun kimia.
Pengendalian kimia umumnya dilakukan oleh para pengendali hama karena keefektifan
senyawa kimia dalam membunuh dan mengurangi populasi kecoak. Pengendalian secara kimia
ini dapat berupa pengasapan, penyemprotan maupun dengan menggunakan umpan gel. Dari
beberapa teknik aplikasi insektisida untuk mengendalikan kecoak jerman ini, umpan gel dinilai
lebih baik dan lebih aman untuk digunakan karena tidak meninggalkan residu berbahaya bagi
lingkungan (Nalyanya, 2001).
Dalam pembuatan umpan gel insektisida, perlu dipertimbangkan attraktan yang akan
ditambahkan sebagai bahan yang dapat memikat kecoak jerman untuk mengkonsumsi umpan gel
yang dibuat. Sifat kecoak jerman yang omnivore ini membuat banyak peneliti mempelajari jenis
pakan yang paling disukai oleh kecoak jerman, sehingga dapat dijadikan sebagai attraktan dalam
pembuatan umpan gel insektisida. Menurut Lauprasert et al (2011), jenis pakan berupa buah
pisang lebih disukai oleh kecoak jerman daripada jenis pakan yang lain. Penelitian Ahmad et al
(2011), menunjukkan bahwa attraktan berupa perisa pisang yang ditambahkan dalam umpan gel
efektif dalam membunuh kecoak jerman. Selain itu selai nanas juga dapat dijadikan sebagai
attraktan dalam umpan gel insektisida, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putra et al
(2013).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas umpan gel berbasis selai nanas yang
dibuat untuk mengendalikan kecoak jerman. Sebelum diujikan ke lapangan, umpan gel diuji
1
terlebih dahulu dalam skala laboratorium.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana efektivitas umpan gel insektisida pada hama kecoak Jerman di Provinsi Jambi?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas formula umpan gel insektisida dalam
mengendalikan hama kecoak jerman dalam uji skala laboratorium.
1.4 Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu formula umpan gel yang efektif dalam
mengendalikan populasi kecoak jerman, dan data hasil uji formula umpan gel terhadap kecoak
jerman yang dikoleksi dari beberapa tempat di provinsi jambi yang berguna sebagai acuan bagi
peneliti lain dalam upaya pengendalian hama kecoak jerman.
1.5 Manfaat
Dengan adanya pembuatan formula umpan gel insektisida kita dapat mengendalikan
hama kecoak jerman di provinsi jambi dalam uji skala laboratorium.
2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecoak Jerman ( B. germanicaL.)
Kecoak jerman atau German cockroach, termasuk ke dalam famili Blattellidae, ordo
Dictyoptera.Kecoak ini merupakan kecoak paling umum di jumpai di Indonesia seperti halnya
kecoak amerika.Kecoak jerman banyak dijumpai terutama di alat transportasi seperti bus, kereta
api, dapur restoran, rumah sakit, supermarket, gedung-gedung tempat bahan makanan disimpan
atau tempat lainnya yang mempunyai kelembaban tinggi dan hangat (Drlik, 2002).
Jika sanitasi sebuah tempat kurang baik, maka kecoak jerman akan berkembang biak
dengan cepat dan mendiami tempat tersebut jika tersedia pula di tempat itu makanan dan
minuman untuk kelangsungan hidupnya (Mallis, 2004). Kecoak jerman biasanya lebih
menyukai lingkungan yang lembab dengan kondisi yang cukup hangat. Serangga ini umumnya
memungut dan memakan bermacam jenis makanan di pemukiman masyarakat, baik berupa
tepung, makanan yang manis, ataupun produk daging-dagingan. Seperti umumnya spesies
kecoak yang lain, kecoak jerman aktif di malam hari. Di siang hari, serangga ini bersembunyi
pada tempat-tempat yang gelap dan hangat.Tetapi, kecoak ini juga bisa ditemui di siang hari
ketika populasinya tinggi atau ketika ada beberapa kondisi yang membuatnya stress, seperti
kekurangan makanan, minuman, dan penggunaan pestisida (Jacobs, 2007).
Kecoak jerman memiliki ukuran panjang 1/2 sampai 5/8 inchi dan memiliki warna coklat
cerah.Meskipun kecoak memiliki sayap sepenuhnya, tetapi kecoak jerman tidak terbang. Nimfa
kecoak jerman memiliki bentuk yang mirip dengan kecoak dewasa, akan tetapi memiliki ukuran
tubuh yang lebih kecil dan tidak memiliki sayap. Kecoak jerman dapat dikenali dari ukurannya
yang tergolong kecil dibandingkan dengan kecoak Amerika (Jacobs, 2007).Kecoak muda atau
nimfa memiliki warna yang lebih gelap dari pada yang dewasa.Karakter yang paling menonjol
dari nimfa adalah dua garis coklat gelap pada daerah dorsal dada sampai abdomen bagian atas
(Bell et al., 2007).
Kecoak jerman memproduksi telur lebih banyak dalam setiap ootekanya dari pada jenis
kecoak yang lainnya dan periode pradewasanya lebih cepat dibandingkan dengan spesies kecoak
lainnya.Ooteka berwarna coklat terang, dan panjangnya 7-9 mm. Setiap ooteka berisi telur
sebanyak 30-48 buah (Mallis, 2004; Koehler et al., 2003). Kecoak jerman betina membawa
3
ooteka sampai telur-telurnya siap untuk menetas (Bell et al., 2007) dan kemudian ooteka tersebut
akan diletakkan jauh dari kecoak-kecoak lainnya, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi
kemungkinan kanibalisme nimfa yang lebih besar atau kecoak dewasa terhadap nimfa yang baru
menetas (Mallis, 2004). Nimfa yang telah menetas dari telur akan melakukan moulting
(pergantian kulit) sebanyak 6-7 kali selama 60 hari. Setelah melakukan moulting terakhirnya,
kecoak tumbuh dewasa dan matang secara seksual (Ogg et al., 2006). Perilaku kecoak jerman
dipengaruhi oleh feromon, dimana feromon yang dihasilkan dari feses kecoak jerman
mengandung feromon agregasi yang menarik kecoak jerman lainnya untuk mendekat dan
bergabung. Ekstrak maupun senyawa sintetis dari feromon agregasi ini memiliki potensi sebagai
attraktan dalam pengendalian kecoak dengan menggunakan bait (Mallis, 2004).
2.2 Resistensi
Manusia menggunakan insektisida untuk membunuh serangga, akan tetapi tidak ada
insektisida yang 100% efektif untuk membunuh serangga. Dalam penggunaan insektisida untuk
pengendalian kecoak, ada sebuah kasus yang menjadi masalah di lapangan, yaitu kecoak yang
mengembangkan kemampuan resistensinya terhadap insektisida yang digunakan (Lee,1998).
Resistensi merupakan suatu bentuk adaptasi serangga untuk tetap bertahan hidup menghadapi
berbagai tekanan seleksi. Dalam menghadapi tekanan yang luar biasa dari insektisida, individu
yang rentan (tidak mempunyai gen penyebab resisten) akan tereleminasi, sedangkan individu
yang resisten (mempunyai gen resistensi) akan tetap bertahan. Pada awalnya jumlah individu
yang resisten ini sangat sedikit, tetapi setelah melalui beberapa generasi dan selalu mendapatkan
tekanan insektisida maka akan terbentuk sebuah populasi yang resisten terhadap insektisida
tersebut. Pergantian frekuensi gen dalam jangka waktu tertentu seperti yang terjadi pada kasus
resistensi insektisida ini disebut sebagai microevolusi (Ahmad, 2011).
Evolusi dari resistensi insektisida berbeda satu sama lain antara spesies, populasi dan
lokasi yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik, ekologi dan faktor biologi masing-
masing spesies.Beberapa kasus resistensi mungkin berkembang cepat, atau bahkan terjadi
sangat lambat pada kondisi yang lain (Georghiou and Taylor, 1977).
Resistensi terhadap insektisida yang terjadi pada serangga terbagi atas dua kelompok
yaitu resistensi fisiologis dan resistensi tingkah laku.Resistensi fisiologis behubungan dengan
perubahan fisiologi tubuh serangga, sedangkan tingkah laku berhubungan dengan kemampuan
serangga menghindari insektisida (Wang, 2004). Mekanisme resistensi fisiologis pada serangga
4
terbagi atas penebalan kutikula, perubahan metabolisme tubuh dan perubahan reseptor pada
target site (Karunaratne, 1998). Serangga memiliki kemampuan untuk mengubah komposisi
kimia kutikula dan mempertebal kutikula sehingga penetrasi senyawa racun dalam tubuh dapat
direduksi.Mekanisme ini umumnya terjadi pada serangga dengan tingkat resistensi yang rendah
(kurang dari 5 kali) (Scott, 1989 dalam Karunaratne, 1998).
2.3 Fipronil
Fipronil atau senyawa yang disebut sebagai senyawa (5-amino-1-[2,6-dichloro-4-
(trifluromethyl) phenyl]-4-[(trifluromethyl) sulfonyl]-1-H-pyrazole), merupakan senyawa kimia
yang tergolong dalam golongan fenil pirazol. Fipronil digunakan untuk mengendalikan kecoak,
semut, kumbang, kecoak, rayap dan bahkan serangga- serangga yang telah resisten terhadap
insektisida jenis piretroid, organofosfat, dan karbamat (Jackson et al., 2009; Connelly,
2001).).Senyawa ini pertama kali diperkenalkan oleh USA pada tahun 1996 (Jackson et al.,
2009).
5
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Biologi STKIP YPM Bangko
3.2 Alat dan Bahan
Toples plastik 10x10x15 cm, selang air berukuran diameter 3,8 cm, beberapa strain
kecoak jerman jantan dewasa (VCRU-WHO, Sarolangun, Kota Jambi dan Muaro Bungo), tutup
botol plastik , Aluminium Foil, gelas beaker, air, pellet ikan nila merk D792, asam benzoat, dan
insektisida merek Regent 50.
3.3 Prosedur Kerja
1. Pembuatan Umpan Gel
Selai nanas dimasukkan ke dalam gelas beaker, kemudian ditambahkan air, insektisida
merek Regent 50 SC dan asam benzoat sebagai bahan pengawet. Komposisi masing-masing
bahan dapat dilihat pada tabel 3.2. Semua bahan diaduk sampai homogen. Kemudian bahan yang
telah terbentuk menjadi umpan gel disimpan dalam gelas beaker dan ditutup dengan aluminium
foil sebelum diujikan di laboratorium dan lapangan.
Tabel 1.Komposisi umpan gel insektisida. volume (ml)
69,73
Nama bahan 10
Selai nanas 0,20
Karagenan 20
Insektisida Reagen 50 0,07
Air
Asam benzoat
2. Pengujian Umpan Gel Terhadap Kecoak Jerman di Laboratorium
Pengujian umpan di laboratorium dilakukan untuk mengetahui efektivitas umpan terhadap
empat strain kecoak jerman yang diujikan. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan
6
Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu jenis strain yang terdiri dari empat strain kecoak
jerman (VCRU-WHO, Sarolangun, Kota Jambi Muaro Bungo). Penelitian ini menggunakan
empat kali ulangan untuk masing- masing perlakuan.Setiap ulangan terdiri dari 10 ekor kecoak
jerman jantan dewasa dan nimfa besar (instar 4-5). Kecoak yang diujikan dari masing- masing
strain disiapkan di dalam sebuah wadah toples plastik berukuran volume 1 liter selama empat
hari sebelum diperlakukan dengan umpan gel dan diberi air dan makan secara ad libitum untuk
memastikan kondisi kecoak dalam keadaan baik dan siap diujikan. Untuk mencegah kecoak
keluar dari wadah, maka bagian atas kotak diberi vaselin (Ahmad and Suliyat, 2011). Kemudian
makanan berupa pellet dimasukkan ke dalam wadah toples plastik sebanyak 2 g dan kapas basah
dalam tutup botol minuman sebagai sumber makanan dan air. Lalu sebanyak 1 g umpan gel
dimasukkan ke dalam masing-masing wadah. Kemudian kecoak yang sudah dipersiapkan
sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah toples plastik uji, lalu ditutup dengan kain kasa.
Pengamatan kematian (mortalitas) kecoak dihitung setiap 24 jam selama 96 jam.
3. Uji Kualitas Umpan Gel Insektisida
a. Uji mortalitas umpan gel dengan waktu aplikasi selama 8 minggu
Uji ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dari umpan gel dalam jangka waktu
tertentu. Umpan gel yang telah diujikan pada uji toksisitas akan diujikan kembali terhadap empat
strain selang satu minggu selama 8 minggu. Pengamatan dilakukan selama 96 jam di setiap
minggu. Masing-masing perlakuan menggunakan 10 ekor kecoak jantan dewasa.
b. Uji kehilangan kadar air
Uji kadar air ini dilakukan dengan menghitung perubahan bobot umpan gel insektisida setiap
hari selama satu minggu. Sebanyak 1 g umpan gel didedahkan di udara ruangan laboratorium.
Lalu umpan gel ditimbang setiap hari selama satu minggu. Setelah itu umpan diovenkan pada
suhu 55 C sampai beratnya konstan. Untuk menghitung persentase kehilangan kadar air yaitu
menggunakan rumus
Persentase Kehilangan air = ((bobot awalbobot akhir)/bobot kering) x 100% (Appel and
Tanley, 2000).
7
c. Keberadaan jamur
Selama aplikasi dalam skala laboratorium, jumlah umpan yang terkontaminasi jamur dicatat
dengan kategori, yaitu tidak ada (jika tidak terdapat jamur pada umpan), sedikit (jika terdapat
jamur menutupi kurang dari setengah bagian permukaan umpan) dan banyak (jika terdapat
jamur yang menutupi lebih dari setengah bagian permukaan umpan).
3.4 Analisis Data
Data uji preferensi pakan (konsumsi dan kunjungan kecoak) dan data mortalitas kecoak pada uji
efektivitas umpan gel terhadap beberapa strain kecoak jerman di laboratorium dianalisis dengan
ANOVA. Jika hasil ANOVA menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan atau F hitung lebih
besar dari F Tabel, maka akan dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan (Hanafiah,
2010). Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan progam software SPSS 16.
8
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Uji Toksisitas
Hasil uji toksisitas umpan gel dalam skala laboratorium menunjukkan bahwa pada waktu
24 jam setelah pengujian didapatkan kematian kecoak jerman berkisar 50,00-77,50% dengan
persentase kematian terendah pada kecoak jerman strain KTA-JMB dan tertinggi pada kecoak
jerman strain VCRU-WHO seperti terlihat pada Tabel 4.1. Pada waktu 48 jam setelah uji umpan
gel didapatkan hasil kematian 100,00% pada kecoak strain VCRU-WHO, PLZ-BNG, dan strain
PSR-SRG, sedangkan pada strain KTA-JMB total kematian sebesar 85,00%. Pada strain KTA-
JMB, pengamatan dilanjutkan sampai 96 jam, namun persentase kematian hanya mencapai
95,00%.
Tabel 4.1. Persentase kematian kecoak jerman jantan dewasa selama 96 jam pengamatan setelah
diujikan dengan umpan gel insektisida
Strain Persentase Kematian (%)
Kecoak
VCRU-WHO 24 jam 48 jam 72 jam 96 jam
77,50 a 100,00 a
KTA-JMB 100,00 b 100,00 a
50,00 a 95,00 a
PSR-SRG 85,00 a 92,50 a
62,50 a 100,00 a
PLZ-BNG 100,00 b 100,00 a
55,00 a 100,00 a
100,00 b 100,00 a
Keterangan :
Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda dalam kolom yang sama adalah berbeda nyata pada taraf α =
0,05
Hasil pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa formula umpan gel yang dibuat terbukti ampuh
untuk mengendalikan kecoak jerman dalam skala laboratorium. Hal ini terlihat dari total
kematian kecoak jerman yang tinggi, yaitu 100,00% pada pengamatan 48 jam untuk semua
strain kecuali KTA-JMB yaitu 85%. Ini menunjukkan bahwa umpan yang dibuat dimakan oleh
kecoak. Umpan gel yang berbasis selai nanas ini dapat menjadi attraktan yang baik untuk kecoak
jerman. Selai nanas memiliki aroma yang menyengat, sehingga menjadi daya tarik bagi kecoak
untuk mengkonsumsinya. Ketika umpan gel tersebut ditambahkan dengan senyawa insektisida,
9
maka akan sangat efektif dalam mengendalikan hama kecoak, sebagaimana penelitian yang
dilakukan oleh Nasirian (2007) yang menambahkan fipronil dan imidakloprid pada umpan gel.
Pada pengujian umpan gel terhadap nimfa besar (instar 4-5) kecoak jerman, kematian
pada keempat strain setelah 24 jam pengujian mencapai 60,00%, sedangkan untuk rata-rata
kematian mencapai 100,00% terjadi pada 72 jam yaitu pada strain VCRU-WHO, PLZ-BNG, dan
PSR-SRG (Tabel 4.2). Pada strain KTA-JMB rata-rata kematian kecoak mencapai 92,50%.
Pengamatan dilanjutkan sampai 96 jam pada strain KTA-JMB, namun kematian tetap 92,50%.
Tabel 4.2. Persentase kematian nimfa besar (instar 4-5) kecoak jerman selama 96 jam
pengamatan setelah diujikan dengan umpan gel insektisida
Strain Kecoak Persentase Kematian (%)
VCRU-WHO
24 jam 48 jam 72 jam 96 jam
100,00 a
45,00 a 90,00 ab 100,00 a
KTA-JMB 50,00 a 77,50 a 92,50 a 92,50 a
PLZ-BNG 60,00 a 95,00 b 100,00 a 100,00 a
PSR-SRG 60,00 a 92,50 b 100,00 a 100,00 a
Keterangan :
Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda dalam kolom yang sama adalah berbeda nyata pada taraf α =
0,05
Hasil pengujian umpan pada nimfa kecoak jerman memiliki sedikit perbedaan dengan
kecoak jerman jantan dewasa. Pada kecoak jerman jantan, kematian 100,00% sudah terlihat pada
48 jam, sedangkan pada nimfa terlihat pada pengamatan 72 jam. Hal ini diduga karena kecoak
nimfa masih mengalami proses pergantian kulit (moulting), sehingga hal tersebut berpengaruh
kepada prilaku makannya. Kecoak yang akan mengalami moulting mengkonsumsi pakan yang
banyak terutama pakan yang mengandung protein. Lalu ketika beberapa waktu sebelum moulting
terjadi, konsumsi pakan kecoak menurun dan aktivitas kecoak juga sedikit. Perilaku ini diduga
menyebabkan tingkat kematian lebih lambat karena jumlah umpan yang dikonsumsi tidak cukup
untuk membunuh kecoak lebih cepat.
Berdasarkan hasil pengujian umpan gel di atas (Tabel 4.2), dapat dilihat bahwa
persentase kematian kecoak meningkat seiring dengan peningkatan waktu pengujian, kecuali
pada strain KTA-JMB. Persentase kematian kecoak strain KTA-JMB hanya mencapai 92,50%.
Hal ini diduga karena beberapa individu kecoak KTA-JMB memiliki tingkat resistensi yang
10
lebih tinggi dibandingkan dengan kecoak lainnya. Berdasarkan penelitian Rahayu et al. (2012) ,
strain KTA-JMB ini merupakan strain yang telah resisten terhadap insektisida fipronil, sehingga
diduga beberapa individu kecoak KTA-JMB ini masih tetap bertahan hidup walaupun telah
terdedah dengan insektisida fipronil yang ada dalam umpan.
Mekanisme pertahanan tubuh kecoak resisten melibatkan peran enzim detoksifikasi yang
ada dalam tubuh kecoak, salah satunya adalah enzim karboksilesterase. Enzim karboksilesterase
merupakan enzim yang dapat menghidrolisis ikatan ester pada insektisida. Peningkatan kualitas
dan kuantitas enzim ini dapat menyebabkan hidrolisis insektisida lebih maksimal, sehingga racun
yang masuk ke dalam tubuh kecoak dapat dinetralisir. Selain itu mekanisme penebalan kutikula
untuk mengurangi penetrasi senyawa racun, dan perubahan target site yang menjadi sasaran bagi
senyawa insektisida juga dapat terjadi pada serangga resisten (Karunaratne, 1998). Ketika target
site insektisida seperti reseptor GABA (gamma-aminobutyric-acid) berubah, maka insektisida
tidak dapat bekerja untuk mengganggu sistem saraf kecoak dan tidak menyebabkan kematian
pada kecoak.
Reseptor GABA merupakan daerah target fipronil. Akan tetapi, karena fipronil
merupakan insektisida yang baru dipasarkan, kemungkinan resistensi yang terjadi merupakan
resistensi silang dari insektisida yang memiliki daerah target yang sama dan pernah digunakan
sebelumnya, seperti dieldrin (dari golongan siklodien) (Sattelle, 1990: Anthony et al., 1993
dalam Rahayu., 2011).
Fipronil merupakan senyawa kimia beracun generasi kedua yang belum banyak
digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mengendalikan hama perkotaan. Kecoak yang
mengkonsumsi pakan yang mengandung fipronil akan mengalami kematian yang lebih cepat jika
mengkonsumsi dalam jumlah banyak. Selain itu, kematian kecoak juga diduga karena adanya
efek kematian sekunder, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Buczkowski et al.
(2008). Kecoak yang masih sehat jika bersentuhan dengan kecoak yang telah mengkonsumsi
atau menyentuh umpan beracun juga terkena efek racun. Efek kematian sekunder ini telah diteliti
oleh Buczkowski et al. (2008) dengan menggunakan insektisida jenis indoxacarb terhadap
kecoak jerman. Wang et al. (2008) juga melaporkan bahwa kematian sekunder terjadi ketika
kecoak jerman yang sehat memakan bangkai atau feses kecoak lain yang mati karena insektisida
dalam umpan. Efek kematian sekunder ini lebih tinggi pada umpan yang mengandung fipronil,
hydramethilnon, dan indoxacarb dibandingkan acetamiprid.
11
Senyawa kimia lain yang banyak digunakan dalam pembuatan umpan gel beracun, yaitu
permetrin, noviflumuron, sipermetrin, imidakloprid, abamektin, dan avermektin (Nasirian, 2008;
Benson and Appel, 1993; Chapman et al., 1993; Shahi et al., 2008; Wang and Bennet, 2006b).
Sebagai alternatif lain utuk membuat umpan gel beracun, Maketon et al. (2010) menggunakan
cacing patogen Steinernema carpocapsae yang dimasukkan ke dalam umpan untuk
mengendalikan populasi kecoak amerika dan kecoak jerman. Persentase kematian menggunakan
umpan yang mengandung cacing patogen ini mencapai 48,00% pada kecoak amerika dan
86,70% pada kecoak jerman, namun penggunaan umpan gel yang mengandung patogen ini
masih asing di lingkungan masyarakat.
4.3. Uji Kualitas Umpan Gel
4.3.1. Uji toksisitas umpan gel selama 8 minggu
Berdasarkan hasil pengamatan pada uji toksisitas umpan gel selama 8 minggu aplikasi
terlihat bahwa dari minggu pertama sampai minggu ketujuh, umpan gel yang telah didedahkan
dengan udara ruangan masih efektif dalam membunuh kecoak jerman (Gambar 4.4). Umpan gel
masih sangat efektif membunuh setelah terdedah dengan udara selama 5 minggu dengan
kematian mencapai 80,00-100,00% untuk keempat strain. Setelah minggu keenam mulai terlihat
adanya penurunan efektivitas umpan gel dengan persentase kematian menjadi 73,33-96,66%,
sampai pada minggu kedelapan terlihat bahwa persentase kematian hanya berkisar 36,66-
46,66%.
12
Persentase kematian kecoak (%)120
100
Legenda
80
VCRU-WHO
GFA-JKT
60 PLZ-PDG
KRSA-BDG
40
20
0
12345678
Minggu ke-
Gambar 4.4. Persentase kematian kecoak jerman pada aplikasi umpan 1 sampai 8 minggu setelah
96 jam perlakuan
Penurunan efektivitas umpan dalam membunuh kecoak diduga karena kualitas umpan
yang mulai menurun setelah beberapa minggu terdedah dengan udara. Penurunan kadar air
karena penguapan selama umpan terdedah di ruangan diduga menyebabkan umpan tidak lagi
bertekstur kenyal, sehingga kecoak mulai tidak tertarik dengan umpan. Kecoak sangat menyukai
umpan yang memiliki tesktur yang kenyal dan banyak mengandung air. Selain itu, keberadaan
jamur diduga membuat kualitas umpan menurun. Adanya jamur yang menutupi umpan akan
mengurangi aroma umpan yang menarik perhatian kecoak. Jamur juga dapat mengurangi
kandungan nutrisi berupa gula pada umpan yang sangat dibutuhkan kecoak sebagai sumber
energi. Dugaan ini didukung oleh hasil pengukuran terhadap kadar air dan keberadaan jamur
seperti pada Gambar 4.5 dan Tabel 4.4.
4.3.2. Pengukuran Kehilangan Kadar Air Umpan Gel
Pengukuran kehilangan kadar air pada umpan gel telah dilakukan. Pada pengukuran
kehilangan kadar air ini, diketahui bahwa persentase total kadar air awal dalam umpan gel yaitu
sebesar 43,77% (Tabel 4.3) dari berat total umpan sebanyak 1g. Kadar air tersebut jumlahnya
berangsur menurun seiring dengan waktu. Pada hari pertama aplikasi umpan di laboratorium
diketahui bahwa sebanyak 44,83% dari total kadar air awal telah hilang.
13
Tabel 4.3. Persentase total kadar air awal dalam umpan gel
Ulangan ke Persentase kadar air dalam umpan (%)
1 44,50
2 42,10
3 43,90
4 44,60
Rata-rata 43,77
Penurunan kadar air ini disebabkan oleh penguapan air di permukaan umpan yang
terdedah dengan udara ruangan secara langsung, selanjutnya pada hari kedua sampai hari
ketujuh, kehilangan kadar air meningkat dari hari pertama 48,80 menjadi 55,28-65,16% seperti
terlihat pada Gambar 4.5. Dalam pengamatan secara visual, kondisi umpan gel yang kehilangan
kadar air sampai 65% dari total kadar air ini tidak menyebabkan tekstur umpan tampak
mengeras. Tekstur umpan masih tampak kenyal sehingga disukai atau dikonsumsi oleh kecoak
dan masih sangat efektif untuk membunuh kecoak jerman dengan kematian 100% pada minggu
pertama setelah aplikasi umpan
Gambar 4.5. Persentase kehilangan kadar air harian umpan gel selama 1 minggu pengamatan
Penelitian yang dilakukan oleh Appel and Tanley (2000) pada umpan gel yang
mengandung imidakloprid menunjukkan hasil pengurangan kadar air selama satu minggu
terdedah dengan udara mencapai 95,27%. Ini menunjukkan bahwa kehilangan air pada umpan
gel tersebut sangat tinggi, tentunya akan mempengaruhi efektivitas dari umpan gel tersebut
14
dalam menarik perhatian dan membunuh kecoak. Umpan yang baik adalah umpan yang mampu
menyimpan kadar air lebih lama dan dapat mempertahankan teksturnya, sehingga tetap menarik
perhatian kecoak.
4.3.3. Pengamatan Keberadaan Jamur
Pengamatan terhadap 12 umpan dilakukan secara berkelanjutan setelah uji toksisitas.
Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa dalam waktu uji selama empat minggu, umpan gel
belum terkontaminasi oleh jamur (Tabel 4.4). Pada minggu kedelapan, semua umpan gel sudah
terkontaminasi banyak jamur yang menutupi sebagian besar permukaan umpan gel. Setelah
minggu kedelapan, pengujian dihentikan karena melihat kualitas umpan yang kurang baik secara
visual.
Tabel 4.4. Jumlah umpan yang terkontaminasi jamur setelah delapan minggu pengujian
Minggu Ke Jumlah umpan yang terkontaminasi jamur
1 Tidak ada Sedikit Banyak
2
3 12 0 0
4
5 12 0 0
6
7 12 0 0
8
12 0 0
55 2
13 8
01 11
00 12
Pada pengamatan minggu keempat, jamur belum mengkontaminasi umpan gel. Hal ini
diduga karena pengawet berupa asam benzoat yang ditambahkan pada umpan masih mampu
mempertahankan tekstur umpan dan mencegahnya dari kontaminasi jamur. Menurut Friedman
and Greenwald (1994) dalam Wibbertmann et al. (2005), asam benzoat memiliki peran sebagai
senyawa anti jamur. Kebanyakan produk makanan juga menggunakan bahan tambahan asam
benzoat sebagai pengawet dan anti mikroba (Sumaraw et al., 2013; Hayun et al., 2004;
Tisnawati, 2005). Setelah uji minggu kelima mulai terdapat jamur pada permukaan umpan. Hal
diduga karena aktivitas asam benzoat sebagai antimikroba telah menurun.
Jamur yang terdapat pada umpan gel diduga berasal dari udara. Selain itu juga diduga
karena adanya kontak antara umpan gel dengan kecoak jerman yang berperan sebagai pembawa
15
bibit jamur ketika uji toksisitas dilakukan. Roth et al. (1957) dalam Baumholtz et al. (1997)
melaporkan bahwa kecoak jerman merupakan vektor pembawa bibit jamur, seperti Aspergillus
niger dan Aspergillus fumigatus. Fotedar et al. (1991) melaporkan bahwa kecoak jerman menjadi
vektor bagi banyak mikroorganisme, seperti Entamoeba hystolitica, Endolymax nana, Candida
spp, Rhizopus spp, Mucor spp, dan Alternaria spp.
Kebiasaan kecoak yang menyukai tempat kotor atau memungut sampah menjadi salah
satu penyebab kecoak menjadi vektor penyakit maupun vektor pembawa bibit jamur. Bibit-bibit
penyakit atau jamur dapat menempel pada bagian tubuh seperti toraks maupun kaki dari kecoak
jerman maupun organ dalam tubuh kecoak (Baumholtz et al., 1997). Aktivitas kecoak ketika
mengkonsumsi umpan diduga meninggalkan bibit-bibit jamur pada umpan sehingga pada
minggu kedelapan jamur berkembang sangat cepat.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Umpan gel yang dibuat efektif dalam membunuh kecoak dengan persentase kematian
95,00-100,00% pada pengamatan 96 jam setelah uji.
2. Umpan gel masih efektif mengendalikan kecoak jerman sampai minggu ketujuh.
Kontaminasi jamur mulai terlihat pada minggu kelima. Kehilangan kadar air umpan gel
sampai hari ketujuh terdedah dengan udara mencapai 65,16%. Hasil uji simulasi lapangan
di laboratorium menunjukkan bahwa kematian 100,00% untuk semua strain dan stadia
kecoak terjadi pada hari kedelapan.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor penyebab perbedaan kesukaan
pakan antara kecoak jerman yang dikoleksi dari tempat yang berbeda. Selain itu juga untuk
mendapatkan umpan gel yang lebih tahan lama, perlu ditambahkan senyawa kimia lain yang
dapat mempertahankan tekstur dan kualitasnya.
16
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, I., Sriwahjuningsih, S. Astari., R. E. Putra, and A. D. Permana. 2009. Monitoring
Pyrethroid Resistance in Field Collected Blattella germanica Linn. (Dictyoptera: Blattellidae) in
Indonesia.The Entomological Society of Korea dan Blackwell Publishing Asia 39: 114-
118.
Ahmad, I. and Suliyat. 2011. Development of Fipronil Gel Bait Against German Cockroach,
Blattella germanica (Dictyoptera: Blattellidae): Laboratory and Field Perfomance in
Bandung, Indonesia. Journal Of Entomology: 1-5.
Appel, A.G. and M. J. Tanley. 2000. Laboratory and Field Performance of An Imidacloprid Gel
Bait Against German Cockroach (Dyctioptera: Blattellidae). Journal of Economic
Entomology 93(1): 112-118.
Baumholtz, M.A., L.C. Parish, J.A. Witkowski and W.B. Nutting. 1997. The Medical Importance
Of Cockroaches. Blackwell Science Ltd.
Bell, W.J., L. M. Roth, and C. A. Nalepa. 2007. Cockroach: Ecology, Behaviour and Natural
History. The Johns Hopkins University Press. Baltimore.
Benson, E.P., and A.G. Appel. 1993. Performance of Avermectin Bait Formulations Against The
German Cockroach (Dictyoptera: Blattellidae). Proceedingsof the First International
Conference on Urban Pests.285-290.
Buczkowski, G., C.W. Scherer, and G.W. Bennet. 2008. Horizontal Transfer of Bait in The
German Cockroach: Indoxacarb Causes Secondary and Tertiary Mortality.
17
Entomological Society of America 101(03): 894-901.
Chapman, P.A., J. Learmount, and D.B. Pinniger. 1993. Insecticide Resistance in Blattella
germanica (L.) In The United Kingdom. Proceedings of The First International
Conference on Urban Pests. 125-133.
Connelly, P. 2001. Environmental Fate of Fipronil.Environmental Monitoring Branch, Department
of Pesticide Regulation, California Environmental Protection Agency. Sacramento.
Drlik, T. 2002. German Cockroach (Blattella germanica). Marin Model School Integated Pest
Management Project.
Fotedar, R., U. B. Shriniwas, and A. Verma. 1991. Cockroaches (Blattella germanica) As Carriers
of Microorganisms of Medical Importance in Hospitals. Epidemiol. Infect. 107: 181-187.
Georghiou, G.P. and C.E. Taylor. 1997. Operational Influences in The Evolution of Insecticide
Resistance. Journal of Economic Entomology 70(5): 1-5
Jackson, D., Cornell,C.B., Luukinen,B., Buhl, K., Stone, D. 2009. Fipronil Technical factsheet.
National Pesticide Information centre, Oregon State University Extension service.
Jacobs, S.B. 2007. German Cockroach (Blattella germanica L.). Entomological Notes,
Department of Entomology. Pennsylvania State University.
Karunaratne, S.H.P.P. 1998. Insecticide Resistance in Insect: A Review. Cey. J. Science (Bio.
Science) 25: 72-76.
Koehler, P.G., F.M. Oi and D. Brascome. 2003. Cockroach and Their Management. Department
of Entomology and Nematology, Florida Cooperatif Extension Service.Institute of Food
and Agiculture Service.University of Florida.
Lauprasert, P., D. Sitthicharoenchai, K. Tirakhupt, and A.O. Pradatsudarasar. 2006. Food
Preference and Feeding Behavior of the German Cockroach, Blattella germanica.
Journal Science Res. Chula. University, 31(2): 121-125.
Lee, C.Y. 1998. Control of Insecticide-resistant German Cockroach,Blattella germanica (L.)
(Dictyoptera: Blattellidae) In Food-outlets With Hydramethylon-based Bait
Stations.Tropical Biomedicine 15: 45- 51.
Maketon, M., A. Hominchan, And D. Hotaka. 2010. Control of American Cockroach (Periplaneta
americana) and German Cockroach (Blattella germanica) by Entomopathogenic
Nematodes. Ravista Columbiana De Entomologia 36(2): 249253.
Mallis, A. 2004.Handbook of Pest Control (The Behavior, Life History, and Control of Household
Pest). Department of Entomology, The Pennsylvania State University Park.
18
Lampiran 1. Uji Toksisitas Umpan Gel Terhadap Kecoak Jerman selama 96 jam
a. Persentase Kematian Kecoak Jerman Jantan Dewasa Selama 96 Jam Pengujian
Strain Kecoak Waktu Jumlah Kematian untuk setiap Persentase
VCRU-WHO (jam) Kematian (%)
KTA-JMB ulangan (ekor)
PLZ-BNG 24 77,50
PSR-SRG 48 12 34 100,00
72 100,00
96 8 7 88 100,00
24 50,00
48 10 10 10 10 85,00
72 92,50
96 10 10 10 10 95,00
24 62,50
48 10 10 10 10 100,00
72 100,00
96 7 6 43 100,00
24 55,00
48 9 9 97 100,00
72 100,00
96 9 10 10 8 100,00
10 10 10 8
4 8 58
10 10 10 10
10 10 10 10
10 10 10 10
8 5 36
10 10 10 10
10 10 10 10
10 10 10 10
19
b. Persentase Kematian Kecoak Jerman Nimfa (Instar 4-5) Selama 96 Jam Pengujian
Strain Kecoak Waktu Jumlah Kematian untuk setiap Persentase
(jam) Kematian (%)
ulangan (ekor)
45,00
12 34 90,00
100,00
VCRU-WHO 24 5 4 45 100,00
KTA-JMB 48 50,00
PLZ-BNG 72 10 9 9 8 77,50
PSR-SRG 96 92,50
10 10 10 10 92,50
24 60,00
48 10 10 10 10 95,00
72 100,00
96 4 5 56 100,00
60,00
24 8 7 97 92,50
48 100,00
72 9 8 10 10 100,00
96
9 8 10 10
24
48 5 6 76
72
96 9 9 10 10
10 10 10 10
10 10 10 10
7 8 54
10 10 98
10 10 10 10
10 10 10 10
20
Lampiran 2. Uji Toksisitas Umpan Gel Terhadap Kecoak Jerman Setiap Minggu Selama
8 Minggu
Strain Kecoak Minggu ke- Persentase Kematian Setiap Waktu Pengamatan (%)
VCRU-WHO
1 24 jam 48 jam 72 jam 96 jam
KTA-JMB 2
3 50,00 96,00 100,00 100,00
PLZ-BNG 4
5 46,66 86,66 96,66 100,00
PSR-SRG 6
7 30,00 100,00 100,00 100,00
8
1 26,6 96,66 100,00 100,00
2
3 33,33 83,33 96,66 100,00
4
5 23,33 70,00 93,33 96,66
6
7 13,33 66,66 80,00 86,66
8
1 10,00 23,33 36,66 40,00
2
3 26,66 60,00 86,66 90,00
4
5 26,66 83,33 93,00 93,00
6
7 26,66 93,33 96,66 100,00
8
1 36,66 83,33 93,33 93,33
2
3 13,33 66,66 73,33 80,00
13,33 40,00 63,33 73,33
6,66 46,66 63,33 70,00
13,33 23,33 36,66 36,66
50,00 96,00 100,00 100,00
46,66 90,00 100,00 100,00
56,66 100,00 100,00 100,00
50,00 96,66 100,00 100,00
13,33 83,33 93,33 100,00
26,66 66,66 83,33 90,00
10,00 43,33 53,33 73,33
13,33 33,33 43,33 46,66
50,00 90,00 100,00 100,00
56,66 93,00 100,00 100,00
60,00 100,00 100,00 100,00
21
4 43,33 93,33 100,00 100,00
5 13,33 80,00 96,66 100,00
6 30,00 66,66 86,66 93,33
7 13,33 60,00 73,33 83,33
8 16,66 26,66 33,33 43,33
Lampiran 3. Perubahan Kadar Air Umpan Gel
Hari ke Persentase kehilangan Suhu (oC) Kelembaban (%)
kadar air (%)
1 26,00 81
2 44,83 27,50 82
3 27,00 85
4 55,28 28,50 85
5 59,68 28,00 82
6 27,00 82
7 61,73 28,00 85
62,64
62,76
65,16
22
Lampiran 4. Hasil Uji statistik Pengujian Umpan Gel Terhadap Empat Strain Kecoak
Jerman
a. Hasil Uji Statistik Mortalitas Umpan Gel Terhadap Kecoak Jerman Jantan Dewasa
1. Uji Anova dan Uji Lanjut Duncan Terhadap Mortalitas kecoak Pengamatan 48 Jam
Uji Anova
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:jumlah kematian
Source Type III Sum F Sig.
of Squares Df Mean Square
.002
Corrected 675.000a 3 225.000 9.000 .000
Model 148225.000 1 148225.000 5.929E3 .002
Intercept
Strain 675.000 3 225.000 9.000
Error 300.000 12 25.000
Total 149200.000 16
Corrected Total 975.000 15
a. R Squared = .692 (Adjusted R Squared = .615)
Uji Lanjut Duncan
jumlah kematian
Duncana jenis strain N Subset
KTA-JMB 4 12
85.00 a
23
VCRU-WHO 4 100.00 b
PLZ-BNG 4 100.00 b
PSR-SRG 4 100.00 b
Sig. 1.000 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 25.000.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Uji Statistik Mortalitas Umpan Gel Terhadap Nimfa Besar (Instar 4-5) Kecoak
Jerman
Uji Anova dan Uji Lanjut Duncan Terhadap Mortalitas kecoak Pada Pengamatan 48 Jam
Uji Anova
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:jumlah kematian
Source Type III Sum F Sig.
of Squares Df Mean Square
.053
Corrected 725.000a 3 241.667 3.412 .000
Model .053
Intercept 126025.000 1 126025.000 1.779E3
Strain 725.000 3 241.667 3.412
Error 850.000 12 70.833
Total 127600.000 16
Corrected Total 1575.000 15
a. R Squared = .460 (Adjusted R Squared = .325)
Uji Lanjut Duncan jumlah kematian
Duncana
jenis strain N Subset
KTA-JMB 4 12
77.50 a
24
VCRU-WHO 4 90.00 a 90.00 b
PSR-SRG 4 92.50 b
PLZ-BNG 4 95.00 b
Sig. .058 .440
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 70.833.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
Lampiran 5. Gambar Kegiatan
pellet kecoak
a. Layout uji toksisitas umpan b. Layout uji toksisitas umpan gel
c. Insektisida Regent 50 d. Pemeliharaan kecoak jerman
25
Lampiran 6. Rincian Penggunaan Dana
No. Hal Tanggal Pengeluaran Volume Harga satuan Jumlah
I Peralatan 4/4/16 buku folio 1 23000 23.000
spidol 1 40000 40.000
5/4/16 pena 1 30000 30.000
25/5/16 pensil 1 10000 10.000
penggaris 5 5000 25.000
buku tulis 1 40000 40.000
pinset 4 20000 80.000
80.000
8/4/16 cutter 4 20000
toples 16 L 5 23000 115.000
toples 1 L 10 5000 50.000
Subtotal 28/5/16 masker 1 30000 493.000
Bahan habis kertas label 1 10000
20/4/16 selai nanas 2 26000 30.000
II pakai 21/4/16 pellet ikan 4 10000 10.000
10/5/16 karagenan 500 52.000
Regent 50 1 1000 40.000
Tisu gulung 1 50000 500.000
aluminium foil 2 30000 50.000
gelas beker 4 25000 30.000
40000 50.000
160.000
26
4/5/16 asam benzoat 1 50000 50.000
Handscoon
1 100000 100.000
Subtotal 1.072.000
III Perjalanan
10/3/16 survei awal 3 600000 1.800.000
Subtotal 15/3/16 pengambilan
Total sampel 3 600000 1.800.000
3.600.000
Rp.5.260.000
27