LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
No. Masalah yang telah Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab
diidentifikasi masalah
1 Penyusunan Hasil kajian literatur
Perangkat 1. Muthoharoh, M., Kirna, I. M., & Indrawati, G. ayu. (2017). Penerapan Lembar Kerja Peserta Didik Perangkat pembelajaran guru masih
Pembelajaran (RPP, (LKPD) Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Kimia. Jurnal banyak copy paste dari internet atau
Media Asesmen, sumber lain, sehingga tidak menguasai
Pendidikan Kimia Indonesia, 1(1), 13–22.
Bahan Ajar, LKPD Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan LKPD berbasis multimedia dapat meningkatkan ketika pelaksanaan di kelas.
dan lainnya) motivasi dan hasil belajar kimia siswa kelas X MIA 3 SMAN 4 Singaraja tahun pelajaran 2016/2017.
▪ Guru belum 2. Rusman. 2012 Model–Model Pembelajaran. Depok: PT. Rajagrafindo Persada Guru belum memahami cara
menyusun Perangkat pembelajaran adalah hal-hal yang harus dipantau sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih penyusunan perangkat pembelajaran
perangkat yang baik, Guru membuat perangkat
terarah untuk mencapai kompetensi yang diharapkan
pembelajaran 3. Andi Prastowo. 2014. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press pembelajaran yang sekedar
yang disesuaikan Pannen mendefinisikan bahan ajar sebagaimana dikutip oleh Andi Prastowo, bahan ajar adalah bahan- administratif dan belum teraplikasi di
dengan materi bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan untuk peserta didik dalam kelas.
yang akan
dipelajari siswa, dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dibuat
karakteristik Hasil Wawancara guru belum lengkap dan sistematis.
siswa, sumber 1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
daya sekolah, Perencanaan pembelajaran yang belum
sejak tahun 99
serta alokasi Perangkat pembelajaran difungsikan untuk kebutuhan guru, dianalogikan dengan rekam medik dokter, sesuai karakter dan kebutuhan kelas.
waktu yang
guru harus selalu mencatat administrasi yang ada dengan tujuan menuntun guru untuk melakukan
tersedia. proses pembelajaran yang sistematis. Guru harus siap mengajar dan membuat perangkat pembelajaran. Bahan ajar lebih banyak bersumber
▪ Pembuatan bahan Perangkat pembelajaran yang baik disusun secara urut dimulai dari program tahunan, program pada buku teks, bukan pada masalah
ajar dan media semester, rencana pelaksanaan pembelajaran (tidak harus detail berisi tujuan, kegiatan pokok da kontekstual yang sedang terjadi.
pembelajaran
yang masih evaluasi), dan penilaian (bukan untuk menilai raport namun mengukur seberapa tercapainya tujuan
pembelajaran), kemudian analisis hasil penilaian (untuk memperbaiki proses pembelajaran). Guru
monoton bagaikan insinyur yang merancang proses pembelajaran mulai dari awal perkenalan hingga akhir.
▪ Guru belum Guru yang bisa merancang pembelajaran secara mandiri (membuat sendiri), maka akan berhasil dalam
memanfaatkan melakukan proses pembelajaran.
LKPD dalam
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
proses 2. Ida Riyanti,S.Pd. (Guru Kimia)
pembelajaran Selama beberapa kali mengalami pergantian kurikulum, namun sebnarnya untuk peragkat tidak ada
▪ Miskonsepsi perubahan yang signifikan, yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah kemauan guru untuk
dimungkinan berubah. Peragkat pembelajaran adalah pedoman kegiatan kta sehingga wajib untuk dibuat, agar gruu
karena kurangnya bisa berjalan sesuai jalannya. Peragkat pembelajaran yang lengkap da runtut akan juga menghasilkan
alokasi waktu dan keberhasilan proses pembelajaran.
guru melewatkan 3.Beny Sukandari, M.Pd. (Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Magelang)
materi yang belum Perangkat pembelajaran diibaratkan seperti orangtua berjalan butuh tongkat, seperti itulah kebutuhan
benar-benar guru akan perangkat pembelajaran, yang semestinya dimiliki. Tugas pokok guru adalah yang pertama
dipahami merencanakanan pembelajaran, mulai dari membuat perangkat seperti RPP atau modul ajar, asesmenn
dan penilaian direncanakan, dan melaksanakan perencanaan. Perencanaan yang baik akan
menghasilkan pelaksanaan yang baik.
Perangkat pembelajaran harus dibuat, dan tidak boleh copy paste, karena kan karakter harus
disesuaikan dengan kelas yang dihadapi. Perangkat pembelajaran dibawa masuk ke kelas. Dalam
perangkat pembelajaran sebenarnya kita sambil membayangkan, apa yang akan kita lakukan kepada
siswa. Fakta di lapangan banyak guru yang masih copy paste dalam membuat perangkat pembelajaran
sehingga tidak menguasai ketika pelaksaanaan, selain itu pembelajaran hanya seperti itu saja, ceramah.
2 Profil atau Hasil kajian literatur
Karakteristik Siswa 1. Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang menimbulkan Guru belum melakukan pemetaan gaya
seperti Kemampuan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah kegiatan belajar, belajar siswa
Awal, Minat atau sehingga kegiatan yang dikehendaki tercapai (Sardiman, 2011). SARDIMAN, INTERAKSI DAN
Gaya Belajar. MOTIVASI BELAJAR MENGAJAR, PT. RAJA GRAFINDO PERSADA, JAKARTA, 2012, HLM. 14 2 Guru tidak mengenali semua siswa di
▪ Peserta didik kelasnya
kurang 2. Sudaryono. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Graha Ilmu. Faktor-faktor
bersemangat ketika yang mempengaruhi motivasi belajar adalah cita-cita atau aspirasi siswa, kondisi jasmani dan rohani Pembelajaran yang dilakukan guru
proses belum disesuaikan dengan kebutuha
pembelajaran siswa, unsur-unsur dinamis belajar, dan upaya guru dalam membelajarkan siswa siswa
▪ Peserta didik tidak Guru belum menjalin komunikasi yang
mau bertanya dan
kurang merespon baik dengan siswa
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
saat proses 3. Hamzah B. Uno. (2011). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan.
pembelajaran Jakarta: Bumi aksara
▪ Guru belum
mengidentifikasi Menurut Uno (2011: 38), “tugas utama guru adalah menciptakan suasana kelas sedemikian rupa agar
profil atau terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan
karakteristik siswa sungguh-sungguh”.
saat awal
pembelajaran. 4. SIMATUPANG, A. . (2021). HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR
▪ siswa belum SISWA PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 2 KOTA JAMBI. SECONDARY: Jurnal
memahami gaya Inovasi Pendidikan Menengah , 1(3), 199-205.
belajarnya (tipe
gaya belajar Visual, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar pada mata pelajaran kimia
auditori, atau dengan hasil belajar kimia siswa.
kinestetik.)
Hasil Wawancara
▪ Beberapa siswa 1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
tidak bersungguh- sejak tahun 99
sungguh dalam Sebelum memulai proses pembelajaran, sekolah seharusnya melakukan placement test untuk
belajar di kelas da memetakan kemampuan awal dan gaya belajar masing-masing peserta didik sehingga memudahkan
mempengaruhi guru untuk merancang pembelajaran di setiap kelas.
temannya Kesulitan belajar siswa dapat diselesaikan dengan tiga cara, yaitu bertanya pada teman, lewat sumber
belajar (bahan ajar) dan media pembelajaran. Sehingga guru bukan lah satu-satunya sumber belajar
▪ Peserta didik untuk siswa.
merasa tidak Seorang guru harus mengetahui gaya belajar dan karakter siswa di kelasnya, karena hal itu menjadi
nyaman atau akrab salah satu pertimbangan guru untuk menentukan model pembelajaran yang akan digunakan. Bisa jadi
dengan guru atau di sekolah tertentu metode ceramah akan efektif, namun di sekolah yang lain, tidak. Untuk anak-anak
temannya dengan gaya belajar auditori, maka akan lebih paham jika model pembelajarannya ceramah, namun
untuk siswa yang gaya belajarnya adalah visual makan model ceramah tidak akan efektif, begitu pula
dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Selain itu, guru juga harus bisa memanfaatkn tutor sebaya (siswa yang pintar) untuk menjadi anggota
setiap kelompok sehingga bisa membantu siswa lain yang belum paham. Tutor sebaya ini akan
mendukung pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
2. Ibu Herni Mastuti, S. Pd. (Guru BK)
Pemetaan karakteristik siswa dilakukan setiap kali siswa masuk ke sekolah, dengan adanya tes
diagnostik, dengan hasil data macam-macam gaya belajar siswa, dan karakteristik yang lainnya. Pada
proses PPDB, ada tahap wawancara siswa dan orangtua, bertujuan untuk mengetahui selain data yang
sudah ada seperti hubungan keharmonisan orang tua, dukungan orang tua, atau komitmen antara anak
dengan orang tua itu bagaimana masuk ke SMA 1 Sleman dengan harapan disini sudah merupakan
komitmen dari orang tua dan anak untuk masuk ke SMA 1 Sleman.
Diadakan placement test untuk siswa yag baru masuk karena kita ketahui masing-masing anak sagat
bervariasi kemampuannya.
Ada beberapa indikator motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran termasuk motivasi, disiplin
untuk tidak terlambat merupakan motivasi. Program peningkatan motivasi siswa ini ada kegaiatan AMT
da juga kegiatan lainnya.
3 Penerapan Model, Hasil kajian literatur
Pendekatan, Metode, 1. From the journal of Chemical Education
Teknik, Strategi Stina Jansson,*,† Hanna Sö derströ m,† Patrik L. Andersson,† and Malin L. Nording† (2015) Guru masih cenderung berceramah di
Pembelajaran kelas (Pembelajaran masih lebih
Inovatif berfokus ke guru)
Student-centered learning involves teaching methodologies that focus mainly on the learning
▪ Proses processes of students instead of the more traditional emphasis on the teacher’s teaching efforts
pembelajaran https://pubs.acs.org/journal/jceda8 Mindset guru yang belum yakin jika
yang monoton, 2. Duch, 1995 dalam buku Problem Based Learning dalam Kurikulum 2013 oleh Herminarto Sofyan,
masih searah siswa akan memahami materi kalau
(berpusat pada dkk guru tidak ceramah
guru) dan selalu
duduk di dalam Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris problem based learning adalah suatu Pengetahuan guru akan model-model
kelas pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk pembelajaran masih minim, sehingga
menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat dalam pelaksanaannya kurang variatif
menyelesaikannya.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
▪ Guru belum Adapun kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam Pembelajaran Berbasis Masalah, antara lain sebagai Guru belum memahami secara baik
menerapkan berikut: bagaimana penerapan berbagai macam
model, 1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu tentang konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari model pembelajaran inovatif
pendekatan, berita, rekaman video dan yang lainnya.
metode, teknik, 2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat Guru belum bisa menyesuaikan jenis
strategi mengikutinya dengan baik. model pembeljaran yang cocok untuk
pembelajaran 3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak materi tertentu
inovatif yang (universal), sehingga terasa manfaatnya.
variatif dan 4. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki Bahan pembelajaran masih bersumber
disesuaikan oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku. dari textbook, da belum mengandung
dengan materi 5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk masalah yang bersumber dari berita
yang akan mempelajarinya. atau materi yang kontekstual.
dipelajari siswa, Sofyan Herminarto, dkk. 2017. Problem Based Learning dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: UNY
karakteristik
Press
siswa, sumber
daya sekolah, 3. Karakteristik problem based learning menurut Herminarto Sofyan (2015: 121) adalah sebagai berikut:
serta alokasi
waktu yang 1. Aktivitas didasarkan pada pernyataan umum
tersedia. 2. Belajar berpusat pada peserta didik (student center learning), guru sebagai fasilitator
▪ Guru kurang bisa 3. Peserta didik bekerja kolaboratif
memanfaatkan 4. Belajar digerakan oleh konteks masalah
model 5. Belajar interdisipliner
pembelajaran
inovatif Herminarto Sofyan. (2015). Metodologi Pembelajaran Kejuruan. Yogyakarta: UNY Press
berdasarkan
karakteristik 4. Susi, S., & Yenti, E. (2020). EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP
materi dan siswa. KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA KELAS XI PADA MATERI KESETIMBANGAN
KIMIA. JEDCHEM (JOURNAL EDUCATION AND CHEMISTRY), 2(2), 48-56.
Problem Based Learning model was effective to be used toward student science process skill
on Chemical Equilibrium lesson, and the effectiveness percentage score was 75%.
Hasil Wawancara
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
sejak tahun 99
Guru seharusnya bertindak sebagai motivator dan fasilitator, bukan lagi penceramah saja, sehingga
seharusnya pembelajaran tidak dilakukan dalma bentuk ceramah terus menerus.
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang membuat peserta didik senang. Model pembelajaran
bisa bermacam-macam dan variatif, seperti tanya jawab, diskusi, project based learning, inquiry dan
masih banyak lainnya, menyesuaikan materi yang akan diajarkan. Pada dasarnya, tidak ada satu strategi
pun yang paling hebat, hal itu sangat bergantung pada materi yang diajarkan.
Guru harus menguasai berbagai macam metode dan model pembelajaran variatif dan sesuai materi
yang diajarkan, agar siswa tidak merasa bosan jika proses pembelajaran itu-itu terus.
Salah satu metode pembelajaran yang baik adalah problem based learning. Problem based learning ini
bisa membuat proses pembelajaran menjadi sangat menarik. Yang terpenting adalah, bagaimana
memilih materi yang cocok untuk metode PBL. Contohnya di mapel kimia: materi pH berbagai macam
larutan yang ada di sekitar rumah, dan manakah yang layak dikonsumsi (sample: air sungai, air sumur,
dll)
Model PBL ini akan berdampak baik pada siswa, dimana siswa akan menemukan materinya sendiir,
sehingga ketika siswa dapat menemukan sendiri maka siswa akan semakin percaya diri, yang kedua
akan ingat terus dan yang ketiga akan bisa bermanfaat memberikan solusi untuk orang lain. Karena
siswa akan mengetahui penyebab suatu masalah dan akibatnya.
Hal yang bisa menyebabkan kurang berhasilnya penerapan model PBL adalah cenderung ke tingkat
kompetensi guru, misal guru belum menguasai metode tersebut dengan baik, namun mencoba untuk
menerapkan metode PBL. Sehingga, sebelum menerapkan metode ini, guru harus benar-benar
memahami dan menguasai konsep masing-masing metode yang akan diajarkan, agar jika menemukan
masalah, guru dapat mengatasinya.
Problem based learning tidak bisa diterapkan pada semua siswa, jadi metode pembelajarn harus benar-
benar menyesuaikan karakter siswa yang terdapat di kelas itu.
2. Dr. Antuni Wiyarsi, M. Sc (Dosen UNY)
Inovatif artinya adanya perbaikan dari sesuatu yang sudah ada. Media pembelajaran inovatif adalah
media pembelajaran yang memanfaatkan, mengembangkan, dan memperbaiki model-model yang
sudah ada ada (tidak harus menemukan hal baru). Scientific approach sebagai mandatory kurikulum
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
sebelumnya, di kurikulum merdeka tidak banyak membahas pendekatan, malah dibebaskan. Nah
ternyata scientific approach yang biasa tidak cukup mampu membuat anak-anak tertarik, pembelajaran
kimia menjadi tidak menarik., maka harus diinovasi, da inovasi tidak harus di semuaya, tapi bisa di fase
tertentu. Misalnya selama ini fase mengamati itu tidak tertarik, kemudian guru membuat video yang
menarik dan siswa tertarik, nah itu sudah inovasi. Misalkan lagi, selama ini ketika mengumpulkan data
anak-anak selalu di lab, kemudian strateginya saya ganti menjadi anak-anak dibawa untuk studi
lapangan.
Model pemeblajaran yang bersifat active learning – student centered, sudah termasuk pembelajaran
inovatif, contoh pembelajaran inovatif seperti menggunakan metode Project Based Learning, Student
Centre, Learning Cycle, Socio-scientific Issues, menggunakan Augmented Reality(AR). Dasar
pembelajaran tetaplah teori belajar.
Problem based learning sebenarnya adalah integrated learning, jadi sebenarnya tidak bisa diterapkan
dengan hanya satu KD tertentu itu akan sulit, masalah yang dihadapi anak-anak yang kompleks dan
kontekstual. Dengan kurikulum merdeka menjadikan PBL lenih fleksibel. Karena untuk benar-benar
memecahkan masalah itu, dibutuhkan beberapa konsep. Di problem based learning ini solusinya boleh
dalam bentuk teori, sedangkan untuk project based lebih ke produk.
Selama ini masih terjaid miskonsepsi pada guru mengenai inquiry based learning, problem based
learning dan project based learning. PBL da PJBL di SMK bisa lebih fleksible karena bisa
dikolaborasikan dengan mapel jurusan.
3. Ida Riyanti,S.Pd. (Guru Kimia)
Metode pembelajaran kimia yang bisa digunakan mulai dari ceramah, LKPD, kemudain praktikum sesuai
bahan yang ada di laboratorium. Proporsi proses pemeblajaran juga disesuaikan dengan jenjang
mengajar, anatra kelas X, XI da XII akan berbeda, Jadi tergantung kebutuhan siswa.
Pembelajaran yang inovatif itu tergantung kelasnya membutuhkan apa da guru mau bagaimaa, jadi ada
saja yang baru. Jadi walaupu materinya sama kalau kelasnya berbeda, kita harus bisa menginovasi
kelas itu. Jadi bukan metode baru, atau model pembelajaran abru dan harus IT tinggi.
Faktor pemilihan model pembelajaran di kelas menyesuaikan gaya belajar kelas, misal kelas yang aktif
bisa dengan diskusi.
Tidak semua materi bisa di-PBL-kan sehingga harus pandai mencari materi yang bisa di PBLkan,
kemudian butuh alokasi waktu lebih. Jadi tidak sepajang tahun kita melakukan PBL, namun berganti-
ganti, harus variatif agar tidak bosan.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
4. Beny Sukandari, M.Pd. (Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Magelang)
Pembelajaran diferensiasi bagus dilakukan, karena kita menghadapi siswa ada karakternya yang unik,
dengan karakteristik bermavcam-macam, passion bermacam-macam, keinginan dan kebutuhna belajar
yang bermacam-macam. Melihat dari konteks tersebut maka pembeljaran berfdiferensiasi sagat
dibutuhkan. Dalam pembelajarn berdiferensiasi, memungkinkan berdiferensi untuk konten (misal saat
pembelajaran kontennya berbeda-beda), proses (misal saat pembelajaran prosesnya berbeda-beda),
atau produk (misal saat pembelajaran produknya berbeda-beda). Misalnya, denga konten dan proses
yang sama, kemudian karena ada anak yang suka bermain musik, ada anak yang suka teater,
menggambar, jadi satu materi konten yang sama produknya bermacam-macam.
Guru harus kreatif untuk bisa memfasilitasi siswa melakukan pembelajaran diferensiasi. Dalam
kurikulum merdeka ada pe,beljaran diferensiasi kalau guru benar-benar paham nkebutuhan siswa, dan
dilaksanakan, maka pembelajaran akan menjadi bermakna dan dapat menggali potensi siswa.
Semua model pembelajarn yang mengacu pada student centered learning itu baik. Jadi tidak ada model
yang paling baik, karena semua model bisa baik digunakan dengan catatan menggali potensi siswa,
melibatkan keaktifan siswa, da harus variatif agar siswa tidak bosan da jenuh. Misal menggunakan
game, maka game yang bermakna menggali potensi mereka. Menemukan model sendiripun boleh,
sejauh itu bisa menarik, menantang, bermakna dan memungkinkan anak berpikir kritis.
4 Penggunaan Media Hasil kajian literatur
Pembelajaran 1.Septi Aprilia, Pembelajaran Kimia Berbasis Masalah (problem Based Learning) Dengan Media pembelajaran yang dibuat guru
▪ Guru belum Menggunakan Laboratorium Real Dan Virtual Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa di SMAN 1 Boja belum mempertimbangkan teori
membuat beberapa tahun pelajaran 2010/2011. (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah, Volume 2 pemrosesan informasi.
media pembelajaran Nomor 2, November 2015
yang mengakomodir Berdasarkan hasil penelitian sebaiknya guru melakukan pembelajaran dengan penggunaan media Guru belum membuat emdia
kebutuhan peserta laboratorium real dan virtual dalam upaya memberikan variasi pembelajaran dan memperbaiki prestasi pembelajarannya sendiri, masih copy
didik dengan gaya belajar siswa, khususnya pada materi kelarutan da hasil kelarutan. Selain itu, gaya belajar siswa paste atau hasil unduhan dari internet
belajar auditori, hendaknya diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran, karena dengan mengetahui gaya
visual dan belajar siswa guru lebih memahami dalam pemilihan model da media yang tepat agar prestasi belajar Media yang dibuat guru masih monoton
kinestetik. kurang variatif dan belum
siswa menjadi lebih baik.
mengakomodir kebutuhan peserta didik
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
▪ Pemanfaatan LMS, 2. Menurut I Wayan Santyasa (2007: 3), proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, Guru dalam zona nyaman dan kurang
social media dan yakni guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan mau mencari tahu hal baru media
platform lainnya pembelajaran pembelajaran yang menunjang proses
sebagai sumber pembelajaran siswa
belajar dan media 3. Ainun Mardhiah, Said Ali Akbar. EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL
pembelajaran yang BELAJAR KIMIA SISWA SMA NEGERI 16 BANDA ACEH. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/. vol6, No 1 Media pembelajaran yang dipakai guru
masih kurang, (2018) masih kurang menarik siswa, dan kurag
padahal beberapa The observations result of the students of SMA Negeri 16 Banda Aceh, showing that the student were menjembatani penyampaian informasi
hal itu lebih dekat less motivated in learning process, they prefer to play and engrossed by their own activities, there were
familiar untuk only several students whose really enthusiastic about the material being studied. The results showed
peserta didik that there was no significant difference to the learning outcomes of students who were taught using
domino card media and TTS media. It can be concluded that the domino card media and TTS media
▪ Media pembelajaran are very effective in improving the learning outcomes of the students of SMA Negeri 16 Banda Aceh.
yang dibuat masih
monoton dan 4. Arifin Harianto, Suryati Suryati, Yusran Khery. Pengembangan Media Pembelajaran Kimia
kurang menarik Berbasis Android Untuk Penumbuhan Literasi Sains Siswa Pada Materi Reaksi Redoks Dan
minat siswa Elektrokimia http://e-journal.undikma.ac.id/ Vol 5, No 2 (2017)
The aims of this study were to produce android base chemistry learning media prototype and evaluate
its elibibility and effectiveness on student science literacy growing on redox reaction and
electrochemistry subject material. And the result that android base chemistry learning media that
developed was very eligible for chemisty learning application and grow student science literacy on
redox reaction and electrochemistry subject material effectively.
Hasil Wawancara
1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
sejak tahun 99
Guru harus terus belajar dan berpikir kreatif, sehingga bisa menghasilkan media pembelajaran yang
menarik. Media pembelajaran dan bahan ajar yang dibuat guru sendiri akan lebih membuat siswanya
respect dan semakin bersemangat. Karena semangat guru untuk terus belajar aka membuat siswa juga
bersemangat untuk mau belajar.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
2. Dr. Antuni Wiyarsi, M. Sc (Dosen UNY)
Kriteria media yang baik tergantung pada jenis media. Setiap media punya karakter masing-masing.
Kualitas media yang baik, yang penting kontennya harus benar, dan bagaimana dia membangun
komunikasi dengan peserta didik. Nah masalah yang terjadi dalam pembelajaran itu ada 3:
-guru dengan siswa
-Siswa dengan siswa
-Siswa dengan materi pembelajaran
Fungsi media: menjembatani siswa untuk memahami materi
Sehingga tidak boleh salah konsep, tidak Boleh konstruksi melanggar kaidah, ada unsur: pedagogik,
konten dan penyajian.
Media pembelajaran juga harus disesuaikan dengan gaya belajar siswa di kelas.
Miskonsepsi yang paling sering terjadi pada anak adalah dari buku (sumber belajar), karena buku tidak
bisa menjelaskan dengan clear, sedagkan gurunay tidak bisa meluruskan.
3. Ida Riyanti,S.Pd. (Guru Kimia)
Banyak media yang bisa digunakan sehingga variatif, seperti powerpoint, video pembelajaran, aplikasi
laboratiroum maya, praktikum di laboratorium.
5 Penggunaan LKPD Hasil kajian literatur
▪ Guru belum 1. Andi Prastowo. (2012). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press. LKPD yang disusun guru belum kreatif,
menggunakan Menurut Andi Prastowo LKPD atau sering disebut LKS merupakan suatu bahan ajar cetak berupa menarik dan menunjang proses
LKPD yang dibuat lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan dan petunjuk-peunjuk pelaksanaan tugas pemvelajaran yang inovatif
sendiri pada saat pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar dan
pembuatan tujuan yang harus dicapai
perangkat Tujuan penyusunan LKPD menurut Andi Prastowo (2012:206) antara lain sebagai berikut:
pembelajaran. 1.Menyajikan bahan ajar yang memudahkan siswa untuk memahami materi yang diberikan
▪ LKPD yang dibuat 2. Menyajikan tugas-tugas guna penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan
guru cenderung 3. Melatih kemandirian belajar
monoton belum 4. Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas
memperhatikan Langkah-langkah membuat LKPD antara lain:
1. Melakukan analisis kurikulum
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
model pembelajaran 2. Menyusun peta kebutuhan LKPD
inovatif 3. Menentukan judul LKPD
▪ Desain LKPD yang 4. Penulisan LKPD
dibuat guru masih 2. Trianto (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana
kurang menarik. lembar kerja siswa berfungsi sebagai panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun
semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan percobaan atau demonstrasi.
3. Sukamto, Rosa Ariani. 2009. Langkah-langkah Pengujian Perangkat dan Evaluasi Piranti
LuPiranti Lunak
LKPD juga memiliki manfaat antara lain sebagai berikut, a) Memberikan pengalaman konkrit pada siswa,
b) Membantu dalam variasi belajar di kelas, c) Membangkitkan minat siswa, d) Meningkatkan potensi
belajar mengajar, e)Memanfaatkan waktu secara efektif. Peran LKPD dalam proses pembelajaran
menjadi sangat penting karena bantuan LKPD, siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi
yang disampaikan.
4. Susanti Susanti, Ardian Asyhari, Rijal Firdaos. Efektivitas LKPD Terintegrasi Nilai Islami pada
Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Sains.
http://www.ejournal.radenintan.ac.id/ Vol 2, No 1 (2019)
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan LKPD terintegrasi nilai Islami dalam pembelajaran
berbasis masalah mampu meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik pada aspek kompetensi
dan pengetahuan pada materi pencemaran lingkungan di SMP Negeri 1 Kotaagung Tiimur.
5 Muthoharoh, M., Kirna, I. M., & Indrawati, G. ayu. (2017). Penerapan Lembar Kerja Peserta Didik
(LKPD) Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Kimia. Jurnal
Pendidikan Kimia Indonesia, 1(1), 13–22.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan LKPD berbasis multimedia dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar kimia siswa kelas X MIA 3 SMAN 4 Singaraja tahun pelajaran 2016/2017.
Hasil Wawancara
1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
sejak tahun 99
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Guru harus terus belajar dan berpikir kreatif, sehingga bisa menghasilkan media pembelajaran yang
menarik. Media pembelajaran dan bahan ajar yang dibuat guru sendiri akan lebih membuat siswanya
respect dan semakin bersemangat. Karena semangat guru untuk terus belajar aka membuat siswa juga
bersemangat untuk mau belajar.
6 Teknik dan Strategi Hasil kajian literatur
Asesmen 1. Rosnaeni. Karakteristik dan Asesmen Pembelajaran Abad 21. https://www.jbasic.org/Vol 5, No Guru belum merencanakan dengan
Pemahaman Siswa 5 (2021)
▪ Guru belum https://www.jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1548 matang teknis asesmen yang akan
membuat beberapa Asesmen atau penilaian pembelajaran pada abad 21 yaitu penilaian autentik. Penilaian autentik
digunakan
teknik dan strategi merupakan pembelajaran penilaian yang melibatkan peserta didik untuk berperan dalam aktivitas Belum adanya keterlibatan siswa dalam
asesmen yang lebih pembelajaran secara nyata, selanjutnya peserta didik dapat melakukan penyelidikan, menuntut peserta
fleksibel sesuai didik berperan aktif membangun pengetahuan dari lingkungan sekitarnya. menentukan evaluasi da asesmen
karakteristik siswa pada proses pembelajaran mereka.
yang berbeda- 2. Elisa Okaviani, Noor Fadiawati, Nina Kadaritna. PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN Pemilihan jenis asesmen yang ebum
beda. BERBASIS KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA MATERI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA. diseuaikan dengan minat da gaya
▪ Adanya http://jurnal.fkip.unila.ac.id/ Vol 4, No 1 (2015) belajar peserta didik.
kesalahpahaman Penelitian dan pengembangan ini didasarkan pada kebutuhan asesmen dalam melakukan evaluasi
antar guru bahwa
literasi numerasi pembelajaran di sekolah, agar dapat mengukur keterampilan proses sains. Penelitian ini bertujuan untuk Guru masih sering mengabaikan
mengembangkan instrumen asesmen berbasis keterampilan proses sains pada materi hukum-hukum
adalah tanggung dasar kimia dan mendeskripsikan hasil tanggapan guru serta karakteristik terhadap instrumen asesmen refleksi sehingga proses pembelajaran
jawab guru yang dikembangkan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D) tidak berkembang dengan baik da
matematika. menurut Borg dan Gall. Instrumen asesmen yang dikembangkan memiliki karakteristik jenis tes tertulis kurag memfasilitasi kebutuhan siswa.
Padahal semua
yang terdiri dari 10 soal pilihan jamak dan 10 soal uraian yang mengukur ranah kognitif KPS. Hasil
guru pengampu penelitian berdasarkan tanggapan dari guru, instrumen asesmen yang dikembangkan memiliki kriteria
setiap mapel sangat tinggi dengan tingkat keterbacaan 80,08%, tingkat konstruksi 88,67% dan tingkat kesesuain isi
bertanggung jawab materi 87,08%.
terhadap latihan
soal terkait soal
3. Noly Shofiyah, M.Pd., M.Sc. Septi Budi Sartika, M.Pd. 2018. BUKU AJAR MATA KULIAH
numerasi dan soal ASESMEN PEMBELAJARAN. Sidoarjo: UMSIDA PRESS
HOTS.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
▪ Siswa belum diberi Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi
kesempatan untuk adalah kualitas daripada sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai maupun arti. Sedangkan kegiatan
mengembangkan untuk sampai kepada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi
berbagai keunikan Sedangkan assesmen, asesmen tidak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu
dan keunggulan saja, tetapi bersifat menyeluruh yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai.
masing-masing saat Sementara itu, Murray Print (1993 : 195) menjelaskan “assessment is broader in scope than
mengerjakan tugas. measurement in that involves the interpretation and representation of measurment data”
(Misalkan ada siswa
yang suka melukis, Hasil Wawancara
ada siswa yang 1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
suka tampil di sejak tahun 99
depan banyak Fungsi penilaian buka hanya untuk mendapatkan nilai raport namun untuk mengukur ketercapaian
orang, ada siswa tujuan pembelajaran.
yang pemalu tapi Fungsi analisis penilaian adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Menurut Prof. Djemari, sekolah dikatakan baik jika penilainya baik. Penilai disini bukan nilainya baik,
pandai menulis, namun proses penilaian mulai dari membuat kisi-kisi, mengadakan penilain, sampai pada analisis dan
dsb.) program perbaikan dan pengayaan,
▪ Siswa merasakan 2. Beny Sukandari, M.Pd. (Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Magelang)
bosan dan kurang Evaluasi atau asesmen dapat digunakan untuk kepentingan bagi guru dan juga siswa. Bagi siswa, kita
bersemangat mengetahui sejauh mana siswa mengetahui materi, bagi guru apakah guru sudah berhasil mencapai
apabila penilaian tujuan pembelajarannya. Setelah mengambil manfaat dari evaluasi maka bisa digunakan untuk
dilaksanakan mengadakan RTL. Misalnya setelah diadakan evaluasi, ternyata ketika guru mengajar dengan metode
dengan dengan X pada materi Y, siswa belum berhasil,, maka harus ada refleksi, Jika tidak ada refleksi maka
cara menulis tangan pembelajran akan seperti itu-itu saja da tidka berkembang. Dengan refleksi bisa dicari solusi yang tepat
jawaban saja. apa.
7 Penerapan Hasil kajian literatur
Pembelajaran dan 1. Abdul Halim Abdullah , Nur Liyana Zainal Abidin & Marlina Ali. Analysis of Students’ Errors in Guru berada pada zona nyaman, dan
Asesmen berbasis Solving Higher Order Thinking Skills (HOTS) Problems for the Topic of Fraction. Asian Social masih kurang mau untuk membaca,
HOTS Science; Vol. 11, No. 21; 2015. Published by Canadian Center of Science and Education sehingga guru menjadi kurang literat
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
▪ Guru belum terbiasa Problem-solving is an activity that can generate Higher Order Thinking Skills (HOTS) among students. dan berpengaruh dalam proses
merancang However, only some of the students are capable of solving problems and some are having difficulties. pembelajarannya.
pembelajaran yang The difficulties have caused students to make various kinds of errors. Hence, this study conducted is to
bermuatan HOTS identify and analyze students’ errors in solving problems that involve HOTS in the topic of Fraction. The Mindset guru yang masih kurang tepat
yang mendukung findings showed that students faced problems to correlate the information and implementation of tentang pembelajaran bermuatan
peningkatan strategies used in solving mathematical problems involving HOTS. HOTS bahwa pembelajaran HOTS
pembiasaan literasi adalah tentang soal yang mempunyai
peserta didik. 2.MertaDhewa,Kusuma and Rosidin,Undang and Abdurrahman, Abdurrahman and Suyatna, tingkat kesulitan tinggi
Agus (2017) The Development of Higher Order Thinking Skill (Hots) Instrument Assessment In
▪ Guru belum Physics Study. IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSR-JRME), 7 (1). pp. 26-32. Guru belum memahami bagaimana
menerapkan ISSN 2320–7388 penerapan pembelajaran berbasis
pembelajaran dan TIMMS and PISA survey results illustrate that the indonesian student’s ability to think scientifically is low. HOTS
asesment yang It is because of students are less trained in solving HOTS. Then, lack or unavailability the assessment
berbasis HOTS instrument designed to train HOTS, so it is necessary to develop the assessment instrument of HOTS. Guru kurang mau belajar dan mencari
dengan Model adapt the model development of Borg & Gall. The purpose of this researchare to determine the tahu bagaimana penerapan
indicators and the effectiveness of the HOTS assessment instrument as assessment for learning for a pembelajaran berbasis HOTS
menerapkan high school students. The assessment instrument was developed based on HOTS indicators include the
teknologi da ability to analyze (C4), evaluate (C5), and create (C6). Guru belum mengintegrasikan kegiatan
informasi The results of the research are: (1) indicator of the ability to analyze (C4) which has been developed are penunjang HOTS dalam proses
▪ Banyak siswa ability to analysis of factual, conceptual, procedural, and metacognitive knowledge; (2) indicator of the pembelajaran.
kesulitan ability to evaluate (C5) which has been developed are ability to evaluate of factual, conceptual,
mengerjakan soal procedural, and metacognitive knowledge; (3) Indicator of the ability to create (C6) that has been
HOTS. developed are ability to create of conceptual, procedural, and metacognitive knowledge; (4) the HOTS
▪ Siswa belum assessment instrument as assessment for learning is effective to train student’s HOTS and effective
terbiasa measure student's thinking skills in accordance with the level of each student's thinking.
mengerjakan soal
HOTS yang 3. Jailani Jailani, Sugiman Sugiman, Ezi Apino. Implementing the problem-based learning in order to
membutuhkan improve the students’ HOTS and characters. https://journal.uny.ac.id/ Vol 4, No 2
berpikir secara logis The study was to describe the implementation of Problem-Based Learning (PBL) toward the
dan kritis. improvement of students’ Higher Order Thinking Skill (HOTS) and characters and to describe the
obstacles that had been encountered within the implementation.
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
The results of the study showed that: (1) the implementation of PBL had been more effective in
comparison to the expository one in terms improving the students’ HOTS; (2) the implementation of PBL
had not been more effective in comparison to the expository one in terms of improving the students’
characters; and (3) in overall the obstacles that had been encountered within the implementation of PBL
process were related to the teachers’ unpreparedness, the time allocation, the unequal students’ input,
the students’ learning habits and the difficult assessment.
Hasil Wawancara
1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
sejak tahun 99
Anak milenial (target sasaran pendidikan saat ini: peserta didik) lebih menyukai membaca gadget atau
handphone daripada membaca buku tradisional. Sehingga jika seorang guru mengajar tanpa
menggunakan IT, maka mereka akan menganggap gurunya jadul dan cenderung tidak respect. Tapi
kalau guru menggunakan handphone untuk pembelajaran, maka anak-anak akan senang.
Sesuai pesan Ali bin Abi Thalib, ”ajarlah anakmu sesuai zamannya”. Zaman sekarang adalah zaman
digital, zaman teknologi, zaman milenial, zaman IT, maka bagaimana seorang guru mengikuti pola pikir
anak. Jadi, kalau nanti bapak ibu guru memberikan tugas, sebaiknya via internet atau lewat social media.
Sehingga menjadi guru tidak boleh gaptek.
2. Ida Riyanti,S.Pd. (Guru Kimia)
Guru IPA mempunyai keuntunga untuk mengintegrasikan pembelajaran HOTS, karena tinggal di-HOTS-
kan saja kegiatannya, maksudnya karena sudah terbiasa, misal dengan PBL dan praktikum dimana
anak-anak diminta membuat petunjuk praktikum sedniri. Untuk literasi da numerasi anak-anak diminta
membuat data tabel.
3. Beny Sukandari, M.Pd. (Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Magelang)
Pembelajaran HOTS kan guru-guru tahunya adalah membuat soal yang HOTS, padahal bukan
sesederhana itu, untuk bisa menjawab soal HOTS ini dimulai dari kelas yang diampu guru di smeua
pelajaran. Guru mengajak siswa untuk melakukan analisis terhadap sesuatu masalah, kemudian
mengajak mereka menyimpulkan, Bukan hanya diberi pemahaman-pemahaman saja. Nah misal anak
diberi kesempatan untuk menganalisis video, maka mereka akan berpikir. Di sa terjadi proses
pembelajaran, bukan hanya soal saja. Kalau pembeljaran biasa namun soal dibuat HOTS maka tidak
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
akan sinkron. Dalam proses pembeljaraan, bagaimana kita bisa mengajak anak anak mengevaluasi,
menganalisis, menyimpulkan (kompetensi C4 ke atas). Jika hal itu sudah dilakukan maka siswa pun
akan bisa mengerjakan soal HOTS. Jadi guru tidak boleh ceramah terus. Mengubah mindset guru untuk
merubah kebiasaan pembelajaran di kelas karena semua berawal di kelas.
Pelibatan siswa dalam pembelajaran seharusnya sejak awal, jadi ada kesepakatan kelas, dimana anak-
anak dilibatkan untuk meracang pembelajaran ke depan akan seperti apa, terkait produk kegiatan
pembelajaran juga bisa disepakati bersama. Sejauh ini pembelajaran belum melibatkan peserta didik
dalam perancangan, bahkan untuk evaluasi juga bisa didiskusikan agar bisa sesuai dengan kemauan
siswa.
Integrasi Literasi dan Hasil kajian literatur Guru belum menyiapkan berbagai
Numerasi, HOTS dan 1. Ariyana, Yoki. 2018. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir konten materi literasi yang bisa
Kecakapan Hidup tIngkat Tinggi. Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian meningkatkan kemampuan literasi
Abad 21 (4C) dalam
Pembelajaran Pendidikan dan Kebudayaan Pembelajaran hanya berakhir di kelas,
▪ kurangnya minat tanpa ada aplikasi dalam kehidupan
Menurut beberapa ahli, definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi salah satunya dari Resnick (1987) sehari-hari.
siswa untuk yang dikutip Yoki ariyana (2018) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat
membaca buku, kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan Guru masih bersifat sebagai sumber
majalah, novel, aktivitas mental yang paling dasar. Keterampilan ini juga digunakan untuk menggarisbawahi berbagai belajar, apdahal guru seharusnya
bahan belajar proses tingkat tinggi menurut jenjang taksonomi Bloom. Menurut Bloom, keterampilan dibagi menjadi adalah ebagai motivator atau fasilitator
ataupun artikel, dua bagian. Pertama adalah keterampilan tingkat rendah yang penting dalam proses pembelajaran,
terlihat yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), dan menerapkan (applying), dan kedua
diperpustakaan adalah yang diklasifikasikan ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi berupa keterampilan
sepi. menganalisis (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).
2. https://ditsmp.kemdikbud.go.id/6-literasi-dasar-yang-wajib-dimiliki-pelajar-smp/
▪ Dalam Terdapat 6 (enam) jenis literasi dasar yang wajib pelajar, yaitu:
pembelajaran di
kelas, terkadang - Literasi baca tulis
guru belum - Literasi Numerasi
menyiapkan - Literasi Sains
berbagai materi - Literasi Finansial
literasi numerasi - Literasi Kebudayaan dan Kewargaan
- Literasi Digital
erdap
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
yang bisa 3. Ida Zulaeha. Tuntutan Kompetensi 4C Abad 21 dalam Pendidikan di Perguruan Tinggi untuk
meningkatkan Menghadapi Era Society 5.0 Vol. 4 No. 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
kemampuan literasi
maupun numerasi Kompetensi abad 21 tersebut disebut 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir
siswa. kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication),
▪ Guru belum dan berkolaborasi (collaboration).
mengintegrasikan
literasi dan 4. www.kemdikbud.go.id
numerasi, HOTS Penguatan pendidikan karakter di sekolah harus dapat menumbuhkan karakter siswa untuk
dan 4C dalam dapat berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi, yang mampu bersaing di abad
pembelajaran. 21. Hal itu sesuai dengan empat kompetensi yang harus dimiliki siswa di abad 21 yang disebut 4C,
▪ Siswa tidak mampu yaitu Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan
menerapkan konsep masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to
materi kedalam soal Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).
yang tersedia, misal Hasil Wawancara
penyelesaian soal 1. Agus Priyantoro, M. Pd. (Pengawas SMA N 1 SLEMAN, BALDIK SLEMAN) – menjadi pengawas
perhitungan pH, sejak tahun 99
siswa tahu Pembelajaran HOTS tidak identik dengan pembelajaran yang sulit. Pembelajaran HOTS adalah
rumusnya, namun bagaimana siswa berpikir kritis dan berani mengeluarkan pendapat, dan mencari solusi berdasarkan
bingung apa yang teori yang ada (mereka baca). Di sini guru bisa bermanfaat sebagai motivator atau fasilitator, bukan lagi
harus d kerjakan. sumber belajar. Hal penting disini adalah bagaimana guru menentukan materi yang akan didiskusikan
▪ Siswa lebih dalam proses pembelajaran. Nah ini kuncinya adalah bagaimana pembelajaran yang dilakukan di
menyukai bacaan sekolah akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Jadi nanti diharapkan bukan hanya teori atau
yang pendek da pengetahuan saja belum sampai pada pemakaian fungsi untuk apa da belum semua memiliki kesadaran
kurang menyukai untuk melakukannya, contoh sederhananya adalah ketika menyeberang jalan.
bacaan yang 2. Dr. Antuni Wiyarsi, M. Sc (Dosen UNY)
panjang
▪ Siswa sulit
menyelesaikan
soal-soal hitungan
kimia dan kurang
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
termotivasi untuk Pembelajaran HOTS dan pengembangan literasi sagat erat dengan pembelajaran inovatif. HOTSnya
melatih kemampuan dari menganaliss masalah.
numerasi. Mengubah mindset guru, bahwa guru sebagai fasilitator dan buka penceramah.
▪ Guru kurang 3. Ida Riyanti,S.Pd. (Guru Kimia)
memberikan latihan Guru IPA mempunyai keuntunga untuk mengintegrasikan pembelajaran HOTS, karena tinggal di-HOTS-
soal atau kan saja kegiatannya, maksudnya karena sudah terbiasa, misal dengan PBL dan praktikum dimana
kesempatan untuk anak-anak diminta membuat petunjuk praktikum sedniri. Untuk literasi da numerasi anak-anak diminta
meningkatkan membuat data tabel.
kemampuan literasi 4. Beny Sukandari, M.Pd. (Kepala Sekolah Penggerak Kabupaten Magelang)
dan numerasi. Guru harus banyak mencari referensi dan banyak membaca, dan berliterasi. Guru yang tidak literat akan
ketinggalan jaman dan berbagai macam informasi. Jika guru bisa meluangkan waktu untuk emmikirkan
kebutuhan siswa, maka pembelajaran akan menjadi bermakna, da hal itu akan menciptakan anak-anak
yang mau belajar sepanjang hayat.
Guru yang berhenti belajar sebaiknya mundur menjadi guru.
Secara umum, kemampuan literasi siswa belum mencapai harapan pemerintah, sehingga perlu adanya
kegiatan-kegiatan pemeblajaran yang mendukung gerakan literasi dan bermuatan HOTS. Apa yang
dipelajari siswa itu seharusnya dimulai dair apa yang terjadi di kelas.