Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Media Usaha Kecil Menengah Makanan Berbasis Terigu 0807-1800-888 Lagansa (Layanan Pelanggan Bogasari) [email protected] www.bogasari.com @KreasiBogasari Majalah ini gratis bagi anggota BMC WACANA "Mesin Pengering Kerupuk dan mie" Mesin Pengering Kerupuk dan Mie Kolaborasi ITS-Bogasari Senin - Jumat Pukul 08.00 - 17.00 WIB
2 Dari KAMI Wacana Mitra * Edisi 234/ Tahun XIX / 2020
Kupon bisa di-scan melalui mobile apps Bogasari (download di Playstore) atau kumpulkan pada staf/ Sales Bogasari setempat. Dari KAMI................... 3 Sajian Utama............. 4-11 Kisah Sukses.............. 12-15 Info Paguyuban......... 16-18 Info BMC ................... 19 Resep.......................... 20 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 3 Daftar Sajian Dari KAMI Untuk meningkatkan pelayanan dan mempercepat pengiriman, WACANA MITRA juga diterbitkan dalam format PDF (digital). Sehingga, secara bertahap edisi cetak akan dikurangi. Selanjutnya WACANA MITRA versi digital bisa diakses dan diunduh di website Bogasari, www. bogasari.com, mobile apps Bogasari, atau dikirim ke e-mail masing-masing UKM. Oleh karena itu, jika UKM menginginkan WACANA MITRA dikirim via e-mail, silakan memberikan alamat e-mail kepada [email protected]. *Info Kontak Sales Bisa Hubungi Lagansa (0807-1800-888) PENERBIT: PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills. ISSN: 1412-2170 - TERBIT SEJAK: 24 Oktober 2001. PENASIHAT: Franciscus Welirang, Herman Djuhar, Erwin Sudharma. PEMBINA: Anwar Agus, Iwan Santosa, Ivo Ariawan. PENANGGUNGJAWAB: Rudianto Pangaribuan REDAKSI: Egi Gias Purnama KONTRIBUTOR: Beatrix P. Soedibyo, Umi Wulandari, Suyatno, Triana M, Tim Customer Relations. DESAIN & LAYOUT: Egi Gias Purnama SEKRETARIS REDAKSI: Reni Dasmaniar SEKRETARIAT & DISTRIBUSI: PR & Communication Bogasari ALAMAT REDAKSI: PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills, Jln. Raya Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta - 14110 TELP: (021) 29263800 atau ext 63717, FAX: (021) 4392-009 EMAIL: [email protected]; [email protected]; http//www.bogasari.com DISTRIBUSI TERBATAS UNTUK KALANGAN SENDIRI, TIDAK DIPERJUALBELIKAN Sekitar 9 bulan sudah kita berjuang bersama dalam menjalani usaha di tengah pandemi Covid-19. Belum ada kepastian kapan pandemi berakhir. Bisa 1 tahun lagi atau 2 tahun lagi. Tapi kita bersyukur karena program vaksinasi sudah hampir pasti dan di depan mata. Kita berdoa kiranya vaksinasi di tahun ini bisa berlangsung dan berjalan lancar. Di tengah ketidakpastian akhir dari pandemi ini, Bogasari tetap dan pasti peduli dengan perkembangan usaha para pelanggannya, khususnya UKM yang merupakan pelanggan mayoritas. Tidak hanya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan produk, tapi juga ikut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan usaha para UKM. Dua hal yang pasti dilakukan Bogasari di tahun pandemi ini adalah pembuatan mesin pengering untuk UKM mie dan kerupuk, serta pembuatan sertifikat halal untuk 50 UKM. Pembuatan mesin pengering yang merupakan buah kerja sama Bogasari dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk membantu mengatasi ketergantungan UKM terhadap panas matahari, apalagi di musim penghujan. Pun halnya sertifikat halal yang akan membantu meningkatkan kepercayaan para pelanggan UKM. Lebih lengkap tentang 2 kepedulian ini kami sajikan dalam sajian utama edisi 235. Plus pemberitaan seputar Forum Komunikasi Paguyuban Nasional, kisah sukses, dan info penting lainnya. Semoga Wacana Mitra edisi akhir tahun ini bisa menginspirasi dan menyemangati usaha mitra sekalian. Akhir kata, kiranya kita tetap sehat, tetap semangat dan tetap tumbuh bersama Bogasari! (EGI/RAP) Bogasari Peduli
4 Sajian Utama Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Bogasari-ITS Bikin Mesin Pengering Kerupuk dan Mie B anyak UKM mitra binaan Bogasari di sektor usaha mie kering dan kerupuk yang masih menggunakan panas matahari untuk proses pengeringannya. Akibatnya di musim penghujan produksi pastinya terganggu dan penjualan juga menurun. Itulah yang melatarbelakangi ide Bogasari mengajak Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk menciptakan mesin pengering mie dan kerupuk khusus UKM. “Apalagi di musim penghujan, pastinya sulit dapat sinar matahari. Karena itulah kita membuat mesin ini untuk membantu kesulitan UKM dalam hal pengeringan yang merupakan tahapan utama dalam produksi mie kering dan kerupuk. Dan sudah menjadi komitmen Bogasari untuk terus membantu mencarikan solusi guna peningkatan usaha UKM,” kata Erwin Sudharma, Wakil Kepala Divisi Bogasari dalam webinar “Uji Komersial Mesin Pengering Mie dan Kerupuk Buat UKM” melalui aplikasi zoom meeting, Jumat (27/11/2020). Erwin mencontohkan salah satu jenis mie kering yang terkenal di Sumatera Barat yakni Mie Sanggul, yang sampai sekarang para UKM di sana mengandalkan panas matahari saat pengeringan. Disebut Mie Sanggul karena bentuknya seperti sanggul perempuan. Mie ini termasuk makanan utama masyarakat Sumatera Barat atau Minang karena sehari-hari dipakai sebagai bahan tambahan untuk makanan lainnya seperti, lontong, ketupat, lotek, dan lain-lain. Tak jarang juga Mie kering ini dijadikan buah tangan atau oleh-oleh khas dari Minang.
5 Sajian Utama Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Bogasari-ITS Bikin Mesin Pengering Kerupuk dan Mie Mie Kering Sanggul ini dipasarkan ke seluruh area Sumatera Barat yang terdiri dari 19 Kabupaten/kota dan ke sejumlah provinsi yang merupakan daerah perantauan orang Minang. Contohnya Pekanbaru, Riau Kepulauan, Batam, Jambi, Palembang, dan Lampung. “Bahkan konsumsi tepung terigu untuk usaha mie kering di Padang bisa mencapai sekitar 900 ton per bulannya. Tapi sampai sekarang semua UKM yang memproduksinya hanya mengandalkan panas matahari untuk pengeringan,” ungkap Erwin Sudharma. Ia yakin, penggunaan mesin pengering mie dan kerupuk ini akan sangat bermanfaat bagi UKM. Selain jadi tidak bergantung pada matahari, juga bisa meningkatkan kapasitas produksi karena hemat tenaga dan waktu pengeringan. Sebagai contoh, untuk pengeringan mie kerupuk dengan matahari butuh waktu 2 hari dari pagi sampai sore. “Sedangkan dengan mesin oven hanya butuh 3-5 jam. Pun halnya untuk pengeringan mie dengan matahari paling cepat 5-7 jam, sedangkan dengan mesin hanya 1,5 jam,” jelasnya. Untuk membuktikan maksud dan tujuan dari pembuatan mesin oven dan steamer ini, Bogasari sengaja melakukan uji komersial terlebih dahulu di lapangan kepada 5 UKM. Uji komersial ini ditandai dengan penyerahan secara simbolis mesin pengering kerupuk dan mie oleh Umi Wulandari, Asisten Manajer SME Bogasari dan Nur Husodo, Koordinator Tim Penggerak Teknologi tepat guna Departemen Teknik Mesin Industri-Fakultas Vokasi ITS kepada Suhadi, pemilik Kerupuk Suhadi, Tuban yang hadir langsung di Kampus ITS, Surabaya. Penyerahan secara simbolis dalam rangka uji komerisial yang juga diliput sejumlah awak media ini, disaksikan Wakadiv Bogasari Erwin Sudharma, Ivo Ariawan (SVP Marketing Bogasari), dan sejumlah Manager di unit Commercial Bogasari. Bahkan Wakil Rektor IV ITS, Bambang Pramujati ST MScEng PhD dan M. Jaelani ST MSc PhD, Kepala Sub Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat ITS juga hadir, serta menyambut UKM Mie Tani Mulya Padang yang masih melakukan pengeringan menggunakan sinar matahari. Proses penimbangan krupuk saat Uji Komersial Mesin Pengering Kerupuk dan Mie untuk UKM.
6 Sajian Utama Wacana Mitra * Edisi 234/ Tahun XIX / 2020 positif kerja sama Bogasari dengan ITS ini. “Uji komersial ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana dampak secara bisnis kepada UKM. Makanya selama 3 bulan ke depan setelah semua mesin diterima UKM, Bogasari akan memonitor secara khusus mulai dari dampak terhadap proses dan biaya produksi, penggunaan tenaga kerja, volume produksi, dan aspek lainnya. Kita ingin memastikan bagaimana nilai bisnisnya untuk usaha UKM,” kata Erwin dalam sambutannya. Selain Suhadi, 4 UKM lain yang akan mendapatkan mesin untuk melakukan uji komersial ini adalah Sugianto( UKM Mie Kering Iso Murni – Surabaya), Suranto (UKM Rambak-Klaten) Yusral Jinis (Mie Kuning Tani Mulya-Padang) dan Wahyu Indra (Mie Gerobakan – Depok). Dua dari 4 UKM ini ikut dalam acara uji komersial yakni Iso Murni dan Tani Mulya. Saat sesi tanya jawab, 2 UKM ini berharap uji komersial berjalan lancar dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas. Terlebih di musim hujan yang sudah mulai datang. Sementara itu, Wakil Rektor IV ITS Surabaya dalam sambutannya juga berharap konsep teknologi tepat guna dalam mesin oven dan steamer ini berhasil. “Dan ini merupakan wujud kolaborasi dunia usaha dunia industri (DuDi) yakni Bogasari, UKM, dengan institusi pendidikan. Kami pastinya sangat mendukung pembuatan mesin ini dan siap untuk proyek teknologi berikutnya, apalagi yang berkaitan dengan kebutuhan UKM,” ucap Wakil Rektor IV ITS, Bambang Pramujati. (EGI/RAP) Info Seputar BMC Serah terima mesin pengering kerupuk dan mie untuk UKM disaksikan oleh manajeman Bogasari, ITS, dan beberapa awak media melalui aplikasi Zoom Meeting Clouds.
Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 7 Sajian Utama S esuai dengan latar belakang ide pembuatannya, konsep mesin pengering mie dan kerupuk ini tentulah harus sesuai dengan kebutuhan UKM serta mampu meningkatkan usahanya. Karena itulah perancangan mesin ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi tidak sampai setahun hanya kurang lebih 5 bulan. Terhitung sejak Februari 2020 dan sempat berhenti sekitar 5 bulan karena pandemi, akhirnya November lalu mesin oven dan steamer yang diinisiasi Bogasari dan Departemen Teknik Mesin Industri-Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini selesai juga. Selain mesin ini bisa menjamin kelancaran produksi di musim penghujan, cara kerjanya juga dirancang dengan konsep hemat energi. Karena saat produk dikukus atau direbus, hawa panas yang dihasilkan dari burner mesin steamer dialirkan juga ke oven untuk proses pengeringan. “Ini adalah bentuk kepedulian Bogasari kepada para UKM dan dengan sengaja melibatkan perguruan tinggi dalam hal ini ITS, khususnya jurusan Vokasi karena sekaligus dukungan kami kepada program vokasi dunia pendidikan yang sedang digalakkan Pemerintah,” ucap Ivo Ariawan, Senior Vice President Marketing Bogasari, terkait acara “Uji Komersial Mesin Pengering Mie dan Kerupuk Buat UKM” melalui aplikasi zoom meeting, Jumat (27/11/2020). Secara garis besar, mesin ini terbagi menjadi 2 bagian. Yakni mesin steamer atau mesin pengukus dan mesin pengering atau oven. Untuk mesin steamer tersedia 2 pilihan, ada yang berbentuk tabung dan ada yang berbentuk kabinet (gabungan balok dan prisma). Tentu kapasitasnya berbeda. Dalam sekali pengukusan untuk yang berbentuk tabung mampu mengukus sekitar 10 kg adonan kerupuk atau 15-20 kg mie mentah. Sedangkan untuk yang berbentuk kabinet mampu mengukus 30 kg adonan kerupuk dan 30 kg mie mentah. Dengan waktu kukus sekitar 1 jam untuk kerupuk dan 30 menit Menguji Langsung di UKM Nur Husodo, menjelaskan cara kerja mesin pengering kerupuk dan mie kepada tim Bogasari sebelum dilakukan uji komersial oleh UKM. Mesin pengering kerupuk dan mie hasil kolaborasi Bogasari dan ITS.
8 Sajian Utama Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 untuk mie, tergantung kebutuhan UKM. Untuk mesin pengering, saat ini tersedia dalam bentuk kabinet yang terdiri dari 15 tray (rak) yang mampu mengeringkan 10 kg adonan kerupuk yang sudah dipotong-potong atau 30 kg mie matang dalam sekali pengeringan. Untuk proses pengeringannya sendiri memakan waktu 4-5 jam untuk kerupuk dan 1-2 jam untuk mie tergantung tebal dan tipisnya kerupuk dan mie. “Mesin ini sudah mengalami 3 perbaikan, hingga jadi mesin pengering yang panasnya merata. Dimensi atau ukuran mesin ini memiliki panjang 160 cm, lebar 60 cm dan tinggi 173 cm, jadi tidak memerlukan tempat yang begitu luas untuk penempatannya,” papar Nur Husodo, Koordinator Tim Penggerak Teknologi tepat guna Departemen Teknik Mesin Industri (DTMI)-Fakultas Vokasi ITS Dan yang pasti untuk pengeringan dengan mesin oven ini hanya membutuhkan lahan kecil. Tidak harus seluas lahan pengeringan yang masih memakai panas matahari. Jumlah sumber daya manusia juga bisa sedikit dihemat. “Dan saat produksi harus ditingkatkan tinggal menambah jam lembur. Tidak perlu menunggu mataheri terbit besok. Belum lagi kalau musim hujan malah tidak bisa produksi,” tambah Ivo. Untuk itu, sebelum mesin ini diproduksi secara massal agar bisa dipakai UKM maka perlu dilakukan pengujian secara bisnis dalam usaha para UKM itu sendiri atau biasa disebut uji komersial. Target uji komersial ini minimal 3 bulan dan Bogasari akan melakukan evaluasi bersama UKM dan DTMI Fakultas Vokasi ITS. Termasuk rencana produksi ke depannya. “Yang pasti, Bogasari berharap, produksi massal mesin ini ke depannya tidak hanya dilakukan ITS tapi juga kesempatan baru untuk para UKM yang bergerak di produksi peralatan. Jadi kembali kepada konsep dasar yakni kolaborasi dunia usaha dunia industri dengan dunia pendidikan dan UKM, “ kata Ivo. Secara garis besar, untuk UKM kerupuk mesin ini dapat meningkatkan produktivitasnya hingga 2 kali lipat atau 100%, dibandingkan dengan pengeringan menggunakan matahari. Sedangkan untuk UKM mie kering bisa meningkatkan produktivitasnya hingga 17% lebih tinggi. Apabila matahari bersinar terik, UKM butuh 5 -7 jam untuk menjemur mie mentah. Namun jika mengunakan mesin penggering ini hanya butuh waktu 1,5 jam. “Intinya dari hasil uji komersial ini kita bisa melakukan perbaikan agar semakin bernilai tinggi dan makin sesuai fungsinya,” ujar Ivo. (EGI/RAP) Uji coba 15 tray / rak pada mesin pengering (Oven).
9 Sajian Utama Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 K urang dari seminggu setelah resmi diluncurkan 27 November 2020 di Surabaya, mesin pengering mie dan kerupuk hasil kolaborasi Bogasari dan ITS langsung diperkenalkan kepada UKM di acara Forum Komunikasi Online ke-2 Mitra Paguyuban Bogasari se-Nusantara, Rabu (2/12/2020). Dalam forum komunikasi secara virtual dengan aplikasi zoom meeting ini, video profil mesin pengering mie dan kerupuk ditayangkan. Nur Husodo, Koordinator Tim Penggerak Teknologi tepat guna Departemen Teknik Mesin Industri-Fakultas Vokasi (DTMI-FV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pun menjelaskan lebih detail mesin oven dan steamer tersebut. Mulai dari hal teknis sampai harga mesin yang tidak akan lebih dari Rp 20 juta. “Mesin ini menggunakan konsep konveksi paksa. Untuk 1 paket mesin ini kami tawarkan dengan harga Rp 19.500.000 untuk mesin dengan steamer kabinet, dan Rp 14.900.000 untuk mesin dengan steamer tabung,” jelasnya. Perancang mesin pengering mie dan kerupuk ini menegaskan, jika uji komersial yang ditargetkan paling cepat 3 bulan sudah selesai, pihak ITS siap menerima pesanan dari mitra UKM Bogasari. Bahkan diperkirakan mesin bisa dikirim ke UKM sekitar 3 minggu sejak pemesanan. Kabar ini tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kerupuk dan mie kering di berbagai daerah. Termasuk Ebit dari Paguyuban Angso Duo Jambi dan Ria dari Paguyuban Thalisa Jombang yang bertanya soal harga mesin dan kapasitas. “Jujur saya sangat tertarik dengan mesin ini. Tolong infokan saya jika nanti sudah selesai uji komersialnya. Atau nanti saya bisa menghubungi siapa jika ingin memesannya? Mohon infonya,” ucap Ebit antusias saat sesi tanya jawab. Sedangkan Ria menanyakan apakah mesin ini bisa dibuat portable (mudah dibawa) dan bisa dibuat ukuran yang lebih kecil. Pasalnya di Paguyuban Thalisa, Jombang mayoritas kapasitas usaha mie kering dan kerupuk belum begitu besar. Senior Vice President (SVP) Marketing Bogasari Ivo Ariawan menyambut baik antusiasme anggota paguyuban. Ia juga menegaskan, kalau ke depannya pemesanan bisa dilakukan melalui tim SME dan atau perwakilan sales Bogasari di lapangan. “Bapak, Ibu tidak usah bingung dan repot. Kalau memang berminat bisa langsung menghubungi kami. Biar nanti kami rekap dan kami pesankan ke ITS. Kita hanya merekap saja, nanti bayarnya tetap ke ITS langsung. Dan kami berharap ke depannya pembuatan mesin ini bisa menciptakan UKM baru,” jelasnya. (EGI) Langsung Dilirik Anggota Paguyuban
10 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Sajian Utama Begitulah kira-kira ucapan Franciscus Welirang, Kepala Divisi Bogasari dalam acara Forum Komunikasi Online ke-2 Mitra Paguyuban Bogasari seNusantara, Rabu 2 Desember 2020. Pada kesempatan ini, pimpinan tertinggi Bogasari yang akrab disapa Pak Franky ini juga berpesan kepada seluruh mitra paguyuban agar senantiasa menjaga kesehatan dan tetap menjalankan protokol kesehatan dalam setiap aktivitas, terlebih saat produksi dan penjualan. “Saya sangat sedih, saat mengetahui bahwa yang menjadi korban utama saat pandemi ini adalah UKM. Walau usaha kita terkena dampak pandemi, tapi sebisa mungkin kita tetap sehat dan tidak terinfeksi Covid-19,” ucap Franky Welirang yang juga Direktur Indofood ini. Ia berharap dengan adanya forum komunikasi (Forkom) ini, hubungan antara Bogasari dan UKM bisa semakin erat dan bisa terus bersinergi. Selain dihadiri Franky Welirang, manajeman Bogasari yang hadir ada Erwin Sudharma dan Herman Djuhar selaku Wakil Kepala Divisi, Senior Vice President Marketing Ivo Ariawan, dan para manajer serta tim perwakilan dari SME dan sales Bogasari di berbagai daerah. Acara yang berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 12 Sinergi Paguyuban UKM dan Bogasari di “Kotak Ajaib” S ekarang zamannya sudah berubah, tantangannya berbeda dengan zaman saya 20 tahun lalu. Pemanfaatan teknologi menjadi tantangan yang harus kita jawab semua. Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19, kita harus benar-benar bisa memanfaatkan teknologi yang ada termasuk seperti yang sedang kita lakukan sekarang. Bertemu dan berkumpul dalam satu aplikasi zoom yang biasa saya sebut sebagai “kotak ajaib”.
Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XVIII / 2020 11 Sajian Utama Sinergi Paguyuban UKM dan Bogasari di “Kotak Ajaib” siang ini diikuti 87 partisipan dan 60 di antaranya perwakilan dari 44 paguyuban ukm mitra Bogasari yang tersebar di berbagai daerah. Ada Angso Duo Jambi, Tunggal Rasa Tegal, Pamas Surabaya, Parimas Solo, Sekkar Potte Sampang-Madura, Baking Lovers Community Samarinda, Media Kupang-NTT, dari Mataram, Balikpapan, dan masih banyak lagi. Sama seperti pertemuan forkom online pertama di awal Juni lalu, acara kali ini juga diisi dengan sharing bersama paguyuban, baik terkait program kemitraan 2021 dan perkembangan usaha para paguyuban. Beberapa UKM mitra Bogasari dari paguyuban di daerah ini mengaku kalau usaha mulai berangsur pulih. Termasuk yang sempat merosot sampai 60 bahkan 80 persen, kini mulai pulih mendekati normal. Bahkan, Ebit UKM Mie asal Jambi dan Sukirno pemilik Mie Soker Palembang berhasil menciptakan pelanggan baru. “Alhamdulillah,, karena pandemi ini banyak warga Palembang yang beralih menjadi pengusaha, kami jaring mereka untuk berjualan mie ayam. Kami turut prihatin dengan rekanrekan yang mengalami penurunan produksi. Semoga dengan apa yang saya sampaikan bisa menginspirasi untuk meningkatkan produksi di tengah pandemi,” jelas pria yang akrab disapa Pak Kirno ini. Terkait program kemitraan Bogasari 2021 yang dipaparkan Beatrix Soedibyo, Manajer SME dan BBC Development, hampir semua pengurus dan anggota paguyuban berharap bisa direalisasikan di tahun 2021. “Tentu kita harus membuat kegiatan dengan tetap menyesuaikan protokol karena sampai tahun depan pastinya virus Corona masih belum hilang dari Indonesia. Kita harus terus membiasakan diri dengan kenormalan baru ini,” ucap Erwin Sudharma yang di awal sambutan mewakili manajemen Bogasari sudah menegaskannya. (EGI/RAP) Pabrik Bogasari Jakarta
Kisah Sukses 12 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Berani Usaha Sejak Usia 22 Memasuki tahun 2015, akhirnya ia berani membuka outlet pertama di Multatuli, Medan. Dia beri nama “Angliss Bakehouse” sesuai tempatnya belajar ilmu roti di Australia dengan harapan bisa mendongkrak penjualan di awal usaha. Tentu ia sudah meminta ijin ke pihak kampus di Australia. Frans pun memilih usaha jenis pastry karena belum banyak yang buka di Medan. Awal usaha, pemuda yang ramah ini dibantu 3 orang chef, 4 orang stock helper, dan 3 orang bagian dapur. Dengan waktu eksperimen yang cukup dan tim kerja yang mumpuni, wajar ia optimis. Tapi Merintis usaha tak cukup hanya bermodalkan uang. Tapi juga butuh tekad dan keberanian. Kedua hal Inilah yang dimiliki Frans Lay, pria kelahiran 13 Juni 1993 yang berani membuka usaha roti sejak usia 22 tahun. Alhasil, hanya dalam 5 tahun usahanya berkembang pesat dari 1 outlet (gerai) menjadi 4 dan jumlah karyawan mencapai 60 orang. Pemuda asal Medan ini lahir di tengah keluarga yang sama sekali tak memiliki latar belakang usaha di bidang roti. Tapi tahun 2010 selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk kuliah di bidang bakery. Tepatnya di William Angliss Intitute Melbourne, Australia. Di sana, pria berkulit putih ini fokus mempelajari kue, roti, dan dessert. Setelah 2 tahun menyelami dunia roti di Negeri Kangguru, Frans terbang ke Singapura untuk mempelajari ilmu keuangan. Dua tahun belajar keuangan, ia memutuskan balik ke Medan. “Pulang ke Medan tahun 2014, saya diberi modal oleh orang tua untuk membuka usaha. tapi saya tidak langsung buka usaha. Saya bersama 3 orang chef, selama kurang lebih 6 bulan mencari resep dan konsep yang pas,” ungkap Frans. Angliss Bakehouse
Kisah Sukses Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 13 yang namanya usaha tentu tidak selamanya lancar. Ia pun sempat kaget karena dengan segala persiapan yang sudah matang ternyata usahanya sepi pembeli. Padahal jumlah produknya tidak terlalu banyak. Dalam sehari paling hanya memakai maksimal 18 kg terigu Cakra Kembar untuk menghasilkan 40 varian produk roti. Dan harga pun relatif terjangkau, di kisaran Rp 3 ribu – 8 ribu per roti. “Melihat situasi ini, awalnya saya down. Tapi karena saya didukung penuh oleh orang tua, jadi saya harus optimis. Akhirnya bisa bangkit kembali. Selama masih muda, kita harus terus berusaha, pantang menyerah,” kenangnya. Seraya membangkitkan semangat menjalani usaha, Frans beralih ke tepung terigu produk Bogasari yang lebih spesial untuk roti yakni terigu Cakra Kembar Emas khusus Roti Oriental. Karena memiliki protein yang tinggi, adonannya menjadi lebih elastis, kenyal dan mampu menyerap air lebih banyak. Roti buatannya menjadi lebih lembut dan bisa tahan lebih lama. Melihat peningkatan yang cukup pesat, tahun 2017 Frans memberanikan diri membuka cabang baru di Jalan Krakatau, Medan. Karena nama Angliss Bakehouse sudah mulai berkibar di Kota Medan, gerai barunya tidak mengalami kendala berarti. Kapasitas produksinya mampu menghabiskan sekitar 10 kantong tepung terigu Cakra Kembar Emas roti Oriental kemasan 5 kg atau setara 50 kg per harinya. Setiap tahun Angliss Bakehouse buka gerai baru dan saat ini sudah ada 4. Jumlah karyawan yang semula 10 orang berkembang jadi 60 karyawan. Meski berkembang pesat, harga roti Angliss Bakehouse hanya naik menjadi kisaran Rp 3.500 – 10 ribu. Selain di outlet, Angliss Bakehouse juga menjual produknya secara online di Instagram @anglissbakehouse, Facebook: Angliss Bakehouse dan line official account Angliss Bake House. Ditambah dengan pemanfaatan aplikasi pesan antar Go-Food dan Grabfood. “Setiap bulannya kami anggarkan beberapa juta untuk melakukan Ads di FB, maupun di IG, Paid Promote, dan Paid Endorse. Sebenarnya ini lebih efektif dan bisa memangkas biaya marketing kita,” ulas Frans. Berkat digital marketing ini, nama Angliss Bakehouse menyebar hingga ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya dan Kalimantan. Omsetnya pun bertambah 20-30%. Melihat pasar yang semakin luas, Angliss Bakehouse berencana buka outlet di luar Kota Medan. Semoga makin sukses yah Frans. (EGI)
Kisah Sukses 14 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 “Saya anak sulung dari 7 bersaudara, makanya punya kewajiban untuk membantu meringankan beban orangtua khususnya dalam menyekolahkan adik-adik saya. Puji Tuhan minimal sampai SMA,” ucap wanita berusia 50 tahun yang akrab disapa Rina ini. Modal untuk membantu biaya pendidikan adik-adiknya bersumber dari hasil usaha Roti Manis Manggarai yang dirintisnya sejak tahun 1996, yang diawali dari membuat dan menjual kue pisang, kuping gajah, kacang telur, dan berbagai makanan ringan lainnya. Semua produk itu dibuatnya sendiri dari hasil membaca buku-buku resep dan menonton acara di televisi. “Kemampuan saya membuat kue dan roti, alami atau otodidak. Tidak kursus apalagi sekolah khusus, karena hanya SMEA,” ujarnya. Jauh sebelum sukses menjadi pengusaha roti, Katarina yang termasuk siswa berprestasi lulusan SMEA tahun 1991 langsung dapat kesempatan kerja di kantor pemerintah bidang transmigrasi. Namun sebelum diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tahun 1993 ia menikah dengan Donatus Djanggu dan memutuskan untuk mengurus keluarga. Namun seiring waktu berjalan kebutuhan ekonomi keluarga semakin terasa. Termasuk pendidikan adik-adiknya. Tahun 1996 Rina pun mulai berjualan. Mulai dari jualan sayur, aneka makanan ringan ke sejumlah kios hingga akhirnya melirik usaha roti secara serius. Bermacam makanan ia buat dan jual. Saat usaha jualan makanan masih kecil-kecilan dan hanya berupa kios, tahun 2008 suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Tapi situasi ini justru membuat ibu dari 3 anak ini semakin gigih menekuni usahanya. Hanya beratap dahan pohon nira dan dinding dari seng bekas, ia membuka toko kecil di pinggir jalan. Produk yang dulunya pie pisang, diganti dengan Roti Kompiang (roti khas Manggarai) yang sudah dia modifikasi. “Awalnya saya pake tepung terigu merek lain, tapi sering ada kekurangan stok di pabrik dan sering ada keluhan. Lalu saya dikenalkan tepung terigu Lencana Merah, hasilnya pas dan cocok seperti yang saya inginkan. Jarang ada kendala kekurangan Buah Ketekunan Wanita Lulusan SMEA Roti Manis Manggarai Adalah Katarina Lamur, yang terlahir di tengah keluarga yang pas-pasan di salah satu perkampungan di timur Indonesia, Manggarai, 29 September 1970. Ia memang hanya lulusan SMEA, tapi ketekunannya dalam menjalankan usaha membuahkan hasil yang gemilang. Bukan hanya untuk dinikmati dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga untuk 6 adiknya serta sejumlah sanak saudara dari tanah kelahirannya.
Kisah Sukses Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 15 stok terigu, makanya saya gunakan sampai sekarang,” ungkap Rina. Waktu terus berjalan dan usaha Rina pun mulai berkembang. Ia pun mulai memiliki karyawan, namun lebih memilih memberdayakan sanak saudaranya dari kampung agar bisa sambil kerja dan sekolah. Terutama yang dari Manggarai yang sudah yatim piatu. “Mulai ada karyawan itu tahun 2014. Tahun 2015 itu saya bisa beli ruko (rumah toko), berkembang dan mulai terkumpul untuk beli rumah yang lebih besar,” ungkapnya. Sebenarnya dalam ijin usaha, tokonya terdaftar dengan nama Idola Bakery. Nama itu merupakan usulan dari pihak dinas perindustrian karena dinilai rotinya digemari banyak kelompok usia. Rotinya yang dibuat dari terigu Lencana Merah diidolakan banyak orang. “Saat bikin ijin dulu, nggak tahu dan belum tren nama Roti Manis Manggarai. Baru belakangan, dan sebagian pelanggan lebih mengenal produk kami dengan nama itu. Makanya plang nama usaha di rumah saya Roti Manis Manggarai,” ucap Rina. Tahun demi tahun usahanya makin laris. Sehari bisa menghabiskan 10-12 sak terigu Lencana Merah atau 360 sak per bulan. Berat 1 sak tepung terigu Bogasari sama dengan 25 kg, jadi minimal 9 ton terigu dalam sebulan. Dari 1 sak terigu Lencana Merah bisa menghasilkan 1.200 roti, maka dalam sehari usaha Rina bisa menghasilkan 12 ribu roti manis manggarai. “Harga jualnya murah, hanya Rp 500 per roti atau Rp 10 ribu per bungkus isi 20. Dan untuk mengerjakan produksi dan penjualan, Rina mempekerjakan 14 karyawan. Tapi selama pandemi ini usaha kami merosot sedikit, sekitar 25%,” katanya. Dari usaha roti ini, Rina dan suami mampu membiayai pendidikan 3 anaknya. Anak pertama dan kedua lulusan S-1, yakni Serilus Darman Djanggu dan Cornelia Dewi Djanggu. Bahkan anak ke-2 sedang melanjutkan studi S-2 di Surabaya. Anak nomor 3, Mario Fernando Djanggu masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Dari anak pertamanya, Rina sudah mendapatkan 3 cucu. “Saya ucapkan terima kasih kepada Bogasari, karena dari usaha roti dengan terigu Lencana Merah ini saya bisa membangun rumah dua lantai, bisa beli ruko, dan beli mobil. Saya juga bisa ziarah rohani ke Yerussalem,” ucap Rina dengan haru. Selain menggunakan terigu Lencana Merah, sesekali Rina memakai Segitiga Biru untuk pesanan kue saat acara atau momen tertentu. Misalnya acara ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, Natal dan Idul Fitri. Salah satu kue yang buatnya adalah Bolu Wonder dengan beragam varian. “Rencananya kami akan menambah varian rasa lainnya seperti cokelat, dan tiramisu,” tambahnya. Rumah tinggal Rina dan keluarga, sekaligus lokasi produksi dan penjualan berada di Jalan Fetor Foenay, Maulafa, Kupang. Ia juga membuka gerai penjualan di Ruko Lontar Permai, Oebobo, Kupang. Bahkan rencananya Maret ini akan diresmikan satu ruko lagi di dekat kampus Unika Widya Mandira, Politeknik Negeri dan Politani Kupang, di daerah Penfui. Yang menariknya, anak ke-2 yang sedang kuliah S-2 di Surabaya namun karena masih online, maka memanfaatkan waktu membuat jenis makanan lain dari terigu dan dijual secara online. “Memang ketiga anak saya dari kecil sudah biasa bantu produksi sebelum ada karyawan. Nah yang nomor 2 ini sepertinya tertarik bisnis, makanya kuliah jurusan manajemen dan mulai usaha kecilkecilan. Dia bikin Lapis Surabaya, Brownies, Roti Gulung dan macam-macamlah sesuai selera anak millennial katanya,” ucap Rina tertawa bangga. (EGI/REM/RAP)
Info Paguyuban 16 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Saat Pandemi Bogasari Urus Halal 50 UKM Untuk yang kedua kalinya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari berhasil membantu pengurusan sertifikat halal UKM mie ayam mitra binaannya. Bahkan jumlah UKM yang meraih sertifikat halal tahun 2020 ini sebanyak 50 UKM atau 2 kali lipat dibanding tahap pertama tahun 2019 yakni 20 UKM. Para UKM mie ayam ini merupakan anggota Paguyuban Mie Tunggalrasa dan Paguyuban Mie Ayam Surabaya (PAMAS). “Sudah menjadi komitmen Bogasari, apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, untuk menjaga keberlangsungan dan peningkatan usaha para UKM. Termasuk dalam hal membantu pengurusan kehalalan produk para mitra UKM yang sudah kami lakukan sejak 2019 lalu,” ucap Erwin Sudharma, Wakil Kepala Divisi (Wakadiv) Bogasari dalam acara Penyerahan Sertifikat Ketetapan Halal (SKH) dan Sertifkat Jaminan Halal (SJH) untuk 50 UKM, Rabu (23/12/2020) yang diliput wartawan dari beberapa media nasional secara virtual. Wakadiv Bogasari mengungkapkan, jumlah konsumsi tepung terigu dari masing-masing usaha 50 UKM mie penerima sertifikat ini beragam. Mulai dari 8 sak atau 200 kg per bulan hingga ada yang 75 ton per bulan. Sehingga kalau ditotalkan jumlah pemakaian terigu 50 UKM ini bisa mencapai 600 ton per bulannya. Sementara serapan tenaga kerja dari 50 UKM ini bisa mencapai 5.300 pekerja. Sama dengan 2019 lalu, ada 2 sertifikat yang didapat para UKM di tahun 2020 ini, SKH dan SJH dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dengan masa berlaku 4 November 2020 sampai 3 November 2022. Penyerahan sertifikat digelar secara virtual melalui aplikasi zoom meeting yang diikuti 50 UKM penerima sertifikat, Ketua Tim Pelaksana Sertifikasi Halal LPPOM MUI DKI Jakarta Dr Ir Aji Jumiono MSi, Kepala Koordinator Auditor LPPOM MUI DKI Jakarta Dasa Pratiwi, dan perwakilan tim Kemitraan UKM Bogasari. Secara simbolis Sertifikat Ketetapan Halal dan Sertifkat Jaminan Halal untuk 50 UKM Mie Mitra Erwin Sudharma (Kanan) menyerahkan Sertifikat Halal kepada Atok Sudirman (Kiri) di tempat produksi Mie Ayam Atok, Cilincing Jakarta Utara.
Info Paguyuban Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 17 Bogasari diserahkan langsung Wakadiv Bogasari kepada Atok Sudirman, pemilik usaha Mie Ayam Atok Sudirman di lokasi usahanya di Cilincing, Jakarta Utara. Usai penyerahan, para UKM yang menyaksikan melalui zoom meeting langsung bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi. Apalagi tidak sedikit dari UKM ini sudah menjalankan usaha puluhan tahun tapi baru punya sertifikasi halal. Makanya sejumlah wartawan sempat menanyakan tanggapan dari para UKM penerima sertifikat. Pandiono selaku Ketua Paguyuban Mie Tunggalrasa dan Parmu Ketua Paguyuban Mie Ayam Surabaya mengapresiasi komitmen kemitraan Bogasari yang terus terjalin apalagi di tengah pandemi ini. Bahkan Parmu pemilik usaha Mie Ayam Jago yang sudah berusaha sejak 23 tahun lalu sangat terharu karena akhirnya punya sertfikat halal. “Kami bangga dan senang terus bisa bertumbuh bersama Bogasari karena selalu didukung dan diperhatikan. Mungkin sedikit perusahaan yang mau bantu para UKM sampai ke soal urusan perijinan usaha. Ya Alhamdulillah.. semoga Bogasari dan usaha kami para UKM terus sukses dan barokah,” ucap Parmu yang dalam sebulan bisa menghabiskan 33 ton tepung terigu serta mempekerjakan kurang lebih 30 karyawan. Ungkapan syukur dan terima kasih disampaikan Asih dan Karnen, penerus usaha Mie Parmin dan pemilik Mie Karnen Jakarta. Mereka juga berharap bisa dibantu pengurusan ijin yang lainnya. “Terima kasih sekali Bogasari, karena kalau kami ngurus sendiri bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mohon kalau bisa ijin yang lain seperti PIRT dan lain sebagainya, juga tolong dibantu pengurusannya,” harap Karnen. Program pengurusan halal UKM ini diluncurkan Bogasari tahun 2019 yang diawali dengan 20 UKM mie anggota Paguyuban Mie Tunggalrasa yang berlokasi di Jakarta. Kali ini jumlah UKM yang dibantu pengurusan halalnya lebih banyak yakni 50 UKM atau 2 kali lipat. Sebaran lokasi usaha para UKM penerima SKH ini juga lebih luas, yakni 22 UKM asal Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jatabek) dan 28 UKM lainnya dari beberapa kota di Jawa Timur yakni Surabaya, Malang, Kediri, Sidoarjo, Banyuwangi, Pasuruan, Ponorogo, Madiun, dan kota lainnya. Para UKM dari wilayah Jatabek antara lain Mie Ayam Atok Sudirman, Mie Dinu, Jono Mie Keriting, Mie Katijo, Mier Berkah YR, Bakmi Karya Abadi, Mie Ayam Fajar, Mie Sunter, dan masih banyak lagi. Sedangan UKM mie dari wilayah Jawa Timur antara lain Mie Jago, Mie SMG, Mie Mentari, Mie Ayam dan Bakso Putra Solo, Kita Jaya Noodle Factory, Mie Barokah, Mie Calista Mul Pangsit 88, Mie Segar Mekar Sari, Mie Koe, Mie Harapan, Panut Mie Ayam Solo, dan belasan UKM mie lainnya. Beda dengan tahun 2019, proses pengurusan halal 50 UKM ini digelar secara virtual, baik saat pelatihan jaminan halal dan audit oleh tim auditor dari LPPOM MUI. “Seluruh biaya pengurusan halal yang dibutuhkan dengan angka sekitar Rp 135 juta ditanggung Bogasari. Dan kami bersyukur kali ini bisa bisa bantu sampai 50 UKM. Rencananya tahun 2021 nanti Bogasari akan kembali bantu sertifikasi halal 50 UKM ,” ucap Erwin. (RAP/EGI)
18 Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 Info Paguyuban Demi membangkitkan kembali iklim usaha di Sampang, Madura, Paguyuban Makanan dan Minuman (Mamin) Sekkar Potte mengadakan pelatihan membuat mie ayam, Minggu (22/11/2020). Pelatihan gratis ini digelar di tempat usaha salah satu anggota paguyuban, yakni Mekar Catering. Tepatnya di Jalan Kenanga 8, Kelurahan Dalpenang, Sampang, Madura. “Setelah tidak ada kegiatan selama kurang lebih 8 bulan, akhirnya kami bisa melaksanakan kegiatan ini atas dukungan Bogasari. Sebagai lembaga swadaya, kami perlu dukungan berbagai pihak dalam melaksanakan setiap kegiatannya. Terima kasih Bogasari telah mau mendukung kami selama ini,” ucap Anis Syafitrie, Ketua Paguyuban Sekkar Potte Paguyuban ini mengundang Pramu, Ketua Paguyuban Mie Ayam Surabaya sekaligus pemilik Mie Ayam Jago sebagai pemateri. “Selain karena kami sudah kenal sebagai sesama pengurus paguyuban binaan Bogasari, kami percaya dan yakin dengan keilmuan dan pengalaman beliau di bidang mie. Beliau juga terbuka dan tidak pelit ilmu,” ujar Anis. Selama 6 jam, sejak pukul 9 pagi Parmu berbagi ilmu membuat mie ayam Solo, mie ayam Jakarta, dan mie ayam geprek. “Walau digelar cukup lama, peserta yang hadir nampak antusias sekali mengikuti pelatihan ini dari awal sampai akhir. Terlihat dari banyaknya yang bertanya selama pelatihan,” tambah Anis. Peserta yang hadir 30 orang atau 50% dari kapasitas tempat. Mereka berasal dari 5 kecamatan, yakni Kecamatan Sampang, Torjun, Pengarengan, Ketapang, dan Omben. Acara ini sengaja dibuka untuk umum, karenanya tidak semua peserta adalah anggota paguyuban Sekkar Potte. Ada pelaku wirausaha baru, pengusaha katering, dan pedagang mie yang sudah eksis. “Untuk anggota paguyuban pun, kami pilih lagi khusus yang bergerak di bidang katering. Karena kami berharap peserta bisa mengimplemantasikan ilmu ini dalam usahanya. Sayang ilmunya kalau tidak diimplemantasikan,” jawabnya. Karena masih dalam masa pandemi, selama pelatihan baik panitia maupun peserta wajib mematuhi protokol kesehatan. Peserta juga bisa mencicipi langsung mie yang dibuatnya. Anis berharap dengan adanya pelatihan ini lahir pengusaha baru dan bisa meningkatkan kembali semangat anggota paguyuban Sekkar Potte untuk mengembangkan usahanya. Rencananya kegiatan serupa akan digelar lagi tahun depan dengan skala yang lebih besar. Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu agar kegiatan bisa terlaksana. (EGI) 6 Jam Berguru Sama Pedagang Mie Ayam Jago
Wacana Mitra * Edisi 235/ Tahun XIX / 2020 19 Info BMC Penyerahan Hadiah Utama Gelegar Hadiah BMC 2019 Tahap II K arena pandemi yang tak kunjung usai, rencana pemberangkatan Umrah dan Wisata Rohani 10 pemenang hadiah utama Gelegar hadiah BMC 2019 tahap 2 digantikan dengan hadiah uang tunai senilai perjalanan. Penyerahan dilakukan mulai 28 November –3 Desember 2020. Semoga bisa bermanfaat dalam pengembangan usahanya! (EGI/TIM CR) 1 2 3 4 7 5 6 8 9 10 1. Donat Saimin 4. Bolang-baling Pak Yusuf 7. Mie Sinar Surya jaya 10. Lupy Bakery 2. Benson Bakery 5. Tawon Biscuit 8. Mie Sudio Mampir 3. Aroma Dewi 6. Mie Arema Roso 9. Wati Bakery Keterangan: SELAMAT