LIMITED EDITION! LIMITED EDITION! THEULTIMATE LIVE IN EXPERIENCE THEULTIMATE LIVE IN EXPERIENCE Ngargomulyo, Magelang, JawaTengah, Indonesia SMPSantaUrsulajakarta PPrreettiiuummLIVE IN - KELOMPOK8 - ANDREA/4 - CAROLINE/10 - KIMORA/25 - MAIMA/27 SSiimmpplleexxEDISI 2024
SSSiiimmpplleeexxPPrreettiiuummNAMA KELAS/NO. SMP SANTA URSULA JAKARTA CAROLINE SSSiiimmpplleeexx PPrreettiiuumm NAMA KELAS/NO. SMP SANTA URSULA JAKARTA ANDREA VIII-2 /04 SSSiiimmpplleeexx PPrreettiiuumm NAMA KELAS/NO. SMP SANTA URSULA JAKARTA KIMORA VIII-2 / 25 SSSiiimmpplleeexxPPrreettiiuummNAMA KELAS/NO. SMP SANTA URSULA JAKARTA MAIMA VIII-2 / 27 VIII-2 / 10 Meet the crew !
Hai hai kawan! Kami adalah tim redaksi dari majalah 'Simplex Pretium '. Tim kami beranggotakan Andrea, Caroline, Kimora dan Maima. Judul majalah kami merupakan rangkuman dari seluruh artikel yang akan kamu baca pada majalah ini! Simplex Pretium diambil dari bahasa Latin yang berarti Wisata Sederhana. Judul ini mengartikan kami, yang berwisata untuk program live-in kelas 8. Wisata kami sederhana tetapi bermakna dan membawa pulang berbagai kenangan darinya. Kami berharap bahwa kawan-kawan yang membaca majalah ini dapat belajar sekaligus merasakan pengalaman live-in kami. Sekian dari kami, terima kasih atas kesediaannya untuk meluangkan waktu anda dan selamat membaca! Salam Redaksi! 3
Daftar isi Salam redaksi Meet the team ............................................................ page 2 ............................................................. page 3 4 ............................... ARTIKEL KELOMPOK Tantangan dan Potensi desa Ngargomulyo (IPS) page 6 - 8 Reflecting our jouney of serice in Ngargomulyo (English) page 9 - 10 Kesehatan di dusun Ngandong dan Bojong (PJOK) .................................................... ................................................ ......................................... page 11 - 12 ARTIKEL PRIBADI AGAMA Ibu Lusia yang berbaik hati Pak Darjo, sosok inspirasi dusun bojong Sosok inspiratif yang tangguh ..................................... page 13 page 14 ................................ page 15 ............... ENGLISH Unforgettable experience Making a difference: Journey of social service Connecting through social service Harmonious Hues page 17 - 19 page 21 - 22 page 23 - 24 page 25 - 26 .................................... ................................................... ....................... .... PPKN Tradisi tarian soreng Tarian Cakalele Jimpitan di desa Ngargomulyu Berbagi di tengah modernisasi ................................................ ........................................................ ................................. page 28 page 29 page 30 - 31 page 32 - 33 Daftar pustaka ............................................................. page 34
""LLuuppaakkaannsseemmuuaammaassaallaahhmmuuddaann nniikkmmaattiillaahhiinnddaahhnnyyaaaallaammiinnii.. "" 5
Kabupaten Magelang merupakan wilayah yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Wilayah ini memiliki 21 kecamatan, salah satunya Kecamatan Dukun. Dalam kecamatan ini, terdapat desa yang akan kita dalami yaitu Desa Ngargomulyo. Desa Ngargomulyo merupakan destinasi yang terpilih untuk pelaksanaan live-in kelas 8 tahun 2024. Desa ini berlokasi di dekat Lereng Gunung Merapi sehingga rawan akan bahaya. Selain itu, dua sungai yang mengapit desa ini adalah Sungai Lamat dan Blongkeng. Pada bagian timur, desa ini berbatasan dengan Taman Nasional 6 TTaannttaannggaannddaannPPootteennssii DDeessaaNNggaarrggoommuullyyoo Gunung Merapi, sebelah utara dengan Desa Keningar, pada bagian Selatan dengan Desa Argosuko, dan sebelah Barat dengan Desa Kalibening. Luas wilayahnya sekitar 946.828 dan terdiri 11 dusun dengan penduduk kurang lebih 2.451 jiwa. Dengan lahan yang luas, sebagian besar lahan tersebut digunakan sebagai lahan pertanian sehingga mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah petani dan peternak. Warga Desa Ngargomulyo sering sekali mengungsi karena terkadang terjadinya erupsi gunung merapi. Salah satu contoh kasus adalah pada 1 Desember 2020 masyarakat mengungsi karena adanya aktivitas vulkanik gunung.
Sebelumnya, terdapat satu angkatan yang hampir tidak melaksanakan kegiatan live-in karena tanggal yang dipilih sama dengan tanggal yang terjadinya erupsi gunung tersebut. 7 Desa Ngargomulyo memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan untuk wisata di desa Ngargomulyo juga ada berbagai macam tumbuhan khas. Desa Ngargomulyo juga memiliki tanah yang subur terutama karena letaknya di dekat Lereng Gunung Merapi. Tanah vulkanik merupakan tanah yang sangat cocok bagi pertanian. Ketika abu dan batuan vulkanik lapuk, berbagai unsur yang terlepas kemudian terserap oleh tanah sehingga tanahnya menjadi subur. Lapisan tipis abu ini bermanfaat sebagai pupuk alami tanaman agar hasil pertanian mengalami peningkatan. Kedua sungai yang mengapit Desa Ngargomulyo juga membantu dalam irigasi pertanian yang ada. Menurut penduduk-penduduk desa di sana, sekitar 50% warga desa bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, banyak masyarakat sekitar yang memiliki mata pencaharian sebagai petani dan peternak karena alam dan cuaca di sekitarnya mendukung. Namun, ada juga yang bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga, guru, tentara, dan pekerjaan lainnya yang tersedia di luar desa tersebut. Masalah-masalah yang ditemukan dari warga-warga sekitar adalah inflasi dan terbatasnya lapangan kerja bagi warga desa. Sebagian besar warga yang bermata pencaharian sebagai seorang petani merasakan dampak inflasi setiap harinya. Harga benih, pupuk, dan bahan-bahan untuk pertanian semakin hari semakin mahal. Namun, gaji mereka tidak sebesar usaha yang mereka berikan. Penghasilan dari lahan pertanian mereka tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan seharihari karena tidak cukup dan pertanian sendiri juga membutuhkan biaya yang besar untuk proses perawatan tanaman hingga bisa berkualitas tinggi. Masalah ini sudah berusaha diatasi dengan mendapatkan penghasilan dari kegiatan program live-in. Para warga yang menjadikan rumahnya untuk tempat live-in pastinya dapat mendapat tambahan penghasilan. Begitu pula bagi para petugas ETM (Edukasi Tuk Mancur) atau para pendamping siswa selama masa live-in di desa tersebut.
8 Masalah-masalah yang ditemukan dari warga-warga sekitar adalah inflasi dan terbatasnya lapangan kerja bagi warga desa. Sebagian besar warga yang bermata pencaharian sebagai seorang petani merasakan dampak inflasi setiap harinya. Harga benih, pupuk, dan bahan-bahan untuk pertanian semakin hari semakin mahal. Namun, gaji mereka tidak sebesar usaha yang mereka berikan. Penghasilan dari lahan pertanian mereka tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan sehari-hari karena tidak cukup dan pertanian sendiri juga membutuhkan biaya yang besar untuk proses perawatan tanaman hingga bisa berkualitas tinggi. Masalah ini sudah berusaha diatasi dengan mendapatkan penghasilan dari kegiatan program live-in. Para warga yang menjadikan rumahnya untuk tempat live-in pastinya dapat mendapat tambahan penghasilan. Begitu pula bagi para petugas ETM (Edukasi Tuk Mancur) atau para pendamping siswa selama masa livein di desa tersebut. Terbatasnya lapangan kerja yang ada di desa tersebut juga merupakan salah satu faktor mengapa banyak warga desa yang merasakan dampak yang lebih besar dari inflasi. Penghasilan petani sangatlah kurang karena harga beras dan tanaman-tanaman lainnya dijual dengan murah pada pasarpasar di perkotaan karena merupakan kebutuhan sehari-hari kita. Namun, para petani sehingga tidak mendapatkan penghasilan yang pantas dari kerja keras mereka selama proses perawatan tanaman. Selain menjadi petani, pilihan lain biasanya menjadi peternak atau guru di sekolah yang ada di desa tersebut sehingga jika ingin mendapatkan pekerjaan lain para warga harus bekerja di luar desa. Kekurangan dari hal ini adalah bagi yang kurang mampu untuk membayar biaya transportasi ataupun biaya lainnya, mereka harus bekerja di dalam desa karena kurangnya penghasilan yang didapatkan. Walaupun kaya akan sumber daya alam, desa ini masih menghadapi berbagai tantangan terutama seiring berkembangnya zaman teknologi juga menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Permasalahan ini tentunya masih banyak wilayah lain yang juga merasakan dan sebaiknya segera diatasi agar tidak berdampak hingga terjadi kemiskinan.
Reflecting Our Journey of Service in Ngargomulyo Reflecting Our Journey of Service in Ngargomulyo On the evening of 18th of March, the 8th graders had departed to Magelang for a live-in program in Ngargomulyo village. We arrived the next morning around 9 AM and quickly went to our assigned hamlets. Our group members were separated into two different hamlets, Andrea and Kimora lived in Ngandong while the rest, Caroline and Maima, lived in Bojong. One of the activities that we did during our time in live-in was social service. We already planned the activities for our social service long before the live-in. We had been adjusting to the changes that had to be made. So, we were able to successfully carry out different plans and collaborate with other classmates. For the Ngandong hamlets, we taught them English, playing a whispering game, painting a tote bag, and making a bracelet. The In Bojong, the activities are divided into opening, main activity and closing. For the opening, we first introduced the team members and started with an ice breaking game to introduce themselves and mention their hobbies in English. The kids had finished introducing themselves in English before the next activity at that time. The activity that we're talking about is the whispering game. How the game works is that the first person in the line is going to get a word and the kids have to use body movement to deliver the message to the last person in the line. The kid that is in back has to guess the word before the timer runs out. The next activity was painting a tote bag. In this activity the kids can paint anything on the tote bag with all of the colors that we prepared. Then the last activity is making a bracelet. first activity was teaching them English because the English that we taught them was just the basics. We taught them how to 9
and due to the children who grew up talking with Javanese in their everyday life. Meanwhile, the people in Ngandong said it was a fun and memorable The Bojong group had been asking some questions to the children and their temporary guardian, Mr. Supri, about their feedback in the social service activity before they left. Most of the reviews were positive. The children were very enthusiastic and had been learning about the importance of teamwork and socializing more with each other throughout the activities. Some children said they had not been having fun during the mosaic activity and would rather color pictures normally with colored pencils. Excluding the main activity, the other games seemed to entertain the children more because they enjoyed expressing themselves through physical activities. However, some feedback from Mr Supri were, the method to deliver the message to someone younger also needed some improvements in using more simple words due to the language barrier Meanwhile, the people in Ngandong said it was a fun and memorable experience for them. They complimented us for asking permission from all of the kids' parents to invite them to the social service. For the activity that we did they said that it was very motivating, gave a result and fun. The reason they said it was fun it’s because it teaches them to be more creative from painting the tote bag. They made art on the tote bag and they made a bracelet they said it gave a result to keep all the memories. Other than that we asked the kids about the social service and they said it was fun too but mostly because they still got a prize even though they failed. Some kids were very proud and happy about the results. They even brought the items to school. In conclusion, the activity was very fun and memorable to both helmets. 10
Kondisi fisik, mental dan sosial yang sejahtera dan bebas dari penyakit/disabilitas adalah kesehatan. Menjaga kesehatan sangatlah penting untuk kehidupan sehari-hari. Namun, pada awal tahun 2020 dunia menghadapi krisis kesehatan global akibat COVID-19. Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis coronavirus. Beberapa gejala paling umum saat terkena virus ini adalah demam, batuk kering, dan kelelahan. Selama masa pandemi, menjaga kesehatan menjadi semakin penting. Berbagai hal dilakukan sebagai upaya pencegahan dari virus yang berbahaya ini karena setiap harinya banyak nyawa yang hilang setelah terkena virus tersebut. Namun, masyarakat di wilayah pedesaan menghadapi tantangan yang lebih berat karena akses layanan kesehatan yang lebih terbatas daripada di perkotaan. Selama masa live-in, kami menggunakan waktu kami untuk menanyakan warga sekitar mengenai keadaan mereka pada masa pandemi. Menurut semua data dan informasi yang telah kami kumpulkan dari berbagai narasumber, ternyata karena mayoritas dari penduduk di daerah ngargomulyo bekerja sebagai petani dan pekebun maka mereka memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa. Dengan itu banyaknya orang yang terkena oleh virus ini sangat sedikit hampir tidak ada. Berdasarkan dari hasil wawancara beberapa orang dikatakan bahwa hanya 1 yang pernah meninggal di karena ini tetapi orang tersebut juga memiliki penyakit bawaan. Pada saat covid-19 ini ada para penduduk melakukan kegiatan mereka seperti biasa hanya saja lebih menjaga kebersihan dan mengikuti protokol kesehatan seperti menggunakan masker. Kesehatan dusun Ngandong & Bojong selama masa pandemi COVID - 19 11
Jika seseorang telah mengalami beberapa gejala-gejala yang dikatakan sebelumnya maka orang tersebut dengan kesadaran sendiri akan berisolasi sendiri di dalam rumah sampai orang tersebut sembuh. Dengan itu pastinya saat covid-19 keadaan di desa dengan yang ada di kota sangatlah berbeda. Tau gak sih? Selain dari penduduknya kondisi desanya sangat lah berhubungan dengan kesehatan mereka. Beberapa contohnya adalah udara yang bersih karena mereka lebih banyak berjalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor dan sungai dengan air yang bersih karena mereka tidak membuang sampah ke dalam air sungai. Dengan lingkungan yang bersih dan nyaman ini pasti nya kesehatan mereka lebih kuat dibandingkan kesehataan orangorang yang tinggal di tempat yang kurang bagus. 12 Kesehatan dusun ngandong & bojong selama masa pandemi COVID - 19
BBuuLLuussiayangBerbaikHati iayangBerbaikHati ziarah, dan gereja. Dalam kehidupannya ia memiliki sebuah motto hidup yaitu hidup harus bekerja eras biar bisa hidup dengan nyaman. kalau pernah berkata bahwa ia sangatlah senang dan banga menjadi orang katolik dikarenakan ajarannya yang seru. Biasanya dalam kehidupannya tidak terdapat hal-hal yang menarik. Tetapi ia memiliki satu cerita menarik yang pernah terjadi padanya yaitu pada hari itu ia sedang menyalakan keran di kamar mandi tetapi ternyata terdapat salah satu pipanya bocor dan air tersebut tertumpah kemana-mana. Lusia Partini dipanggil Lusia, merupakan salah satu wanita yang tinggal di dusun ngandong, desa ngargomulyo. Ia merupakan orang yang beriman katolik. Sudah dibaptis dan memiliki nama baptis Partini. Ia sudah menjadi umat katolik sejak kecil dan dibaptis menjadi katolik saat bayi. Ia dibaptis di paroki sumber. sebagai umat katolik terdapat beberapa hal yang ia lakukan untuk menerapkan ajaran iman adalah Berdoa lingkungan, 13 Andrea/04
PakDarjo,SosokInspirasiDusunBojong Nama: Darjo Usia: 75 tahun Profesi: petani Pak Darjo adalah salah satu orang tua asuh yang merawat kami selama kegiatan live-in. Beliau berumur 75 tahun dan bekerja sebagai seorang petani. Pak Darjo merupakan petani cabai tetapi, tanamannya tidak berbuah. Bapak ini tinggal di Dusun Bojong bersama dengan istrinya, Katarina serta cucu-cucunya yang bernama Nesya dan Wahyu. Para warga sekitar mengenal beliau sebagai ketua kesenian pada dusun tersebut sehingga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Selain itu, rumah beliau juga digunakan sebagai salah satu tempat tinggal murid-murid program live-in. Sudah sekitar 20 tahun Pak Darjo menerima murid di rumahnya untuk program kegiatan live-in di Desa Ngargomulyo. Salah satu pengalaman menarik yang diceritakannya adalah ketika ada murid universitas yang tinggal di rumah Pak Darjo lebih dari sebulan. Pak Darjo merupakan seorang yang beragama Katolik. Beliau percaya kepada Tuhan dan merasakan keberadaan-Nya ketika Pak Darjo dan keluarganya diberikan kekuatan, kesehatan serta rezeki terutama ketika masa pandemi COVID-19. 14 Caroline82/10 & Maima82/27
Sosok inpiratif yang tangguh Sosok inpiratif yang tangguh Pada saat saya live in hal yang dilakukan bapak dan Ibu pada saat di kebun adalah memanen singkong yang sudah matang dan mengambil rumput untuk diberikan kepada sapi. Pada saat waktu pulang Oliv, pada siang hari Bapak menjemput Oliv dari sekolah. Bapak dan Ibu memilih menjadi seorang buruh karena mereka memanfaat lingkungan sekitar pedesaan. Ibu termotivasi untuk melakukan pekerjaan ini karena anaknya, karena ibu harus membiayai sekolah dan kebutuhan anaknya. Ibu memiliki kebutuhan yang harus dilengkapi makan ibu termotivasi dan semangat melakukan pekerjaan ini. Ibu dan Bapak mulai bekerja sebagai buruh pada saat mereka menyelesaikan sekolah karena pada di pedesaan fasilitas pendidikan pada masa itu belum selengkap sekarang maka langsung mulai bekerja agar bisa menghasilkan upah. Bapak dan Ibu ini menginspirasi saya karena walaupun pekerjaan mereka berat tetapi mereka masih memiliki daya semangat yang tinggi. Bu Yuliana dan Pak Isityo merupakan seorang buruh. Ibu Christina Yuliana berumur 34 dan Bapak Vincentius Istiyo berumur 35. Ibu dan Bapak ini memiliki anak yang bernama Oliv yang berumur 13 tahun. bu dan bapak juga memelihara 1 sapi, sapi itu akan dirawat sampai layak dijual (penggemukkan). Lalu uang hasil jual sapi tersebut nantinya bisa menjadi biaya kuliah Oliv. Ibu dan Bapak setiap hari mengatur waktunya untuk bisa bekerja sambil mengurus Oliv. Cara Ibu bisa menyelesaikan pekerjaan dan tepat waktu adalah dengan membagi waktu dengan baik. Ibu bangun subuh dan pada pukul 05.15 Ibu sudah selesai memasak sarapan. Pada pukul 05.30 Oliv sudah selesai makan serapan. Pada saat bapak mengantar Oliv ke sekolah, Ibu pergi ke sawah. Setiap pagi sebelum pergi ke sawah ibu memberikan minum kepada sapi. Pada tanggal 19 Maret 2024, Saya mewawancarai bapak dan ibu asuh saya yang bernama Ibu Yuliana dan Pak Isityo untuk lebih mengenal tentang mereka. 15 Kimora 82/25
“Ambil resiko, lewati batasmu, dan berani bermimpi. ” “Ambil resiko, lewati batasmu, dan berani bermimpi. ” 16
that we could use. Finally, after some discussion we decided that we were going to be teaching them English, playing a whispering game, painting a tote bag, and making bracelets. On the next day or the second day, we started to execute the plan. We started by gathering all the kids that we got permission from the parents. We had asked the parents before we invited them to join the social service. Then we gathered at Kathleen's house to start because her house was owned by one of the ETMs and also her house was in the middle. We started the social service by On the first day in the village, we asked the teacher about how the social service was supposed to work. As it turns out everyone (from Sanur) will be in the same team. But that decision was not accepted by some people but they ended up agreeing anyway. At first, we didn’t have any tools to do anything and we were confused about what we could do. We had been thinking about what to do before the afternoon. After that in the afternoon, the plan was made. All of that happened because someone asked everyone if they brought anything, and it turns out we had some stuff Unforgettable experience Social service was one of the activities that I did when I was at live in. Social services are a range of public services intended to provide support and assistance to particular groups, which commonly include the disadvantaged. Social service can be in different forms, such as teaching them and playing with them. But for my social services, it was doing DIY. The activities that we did were teaching them English, playing a whispering game, painting a tote bag, and making a bracelet. 17 By Andrea /04
introducing ourselves using Bahasa Indonesia then we taught them how to introduce themselves using English. It was funny listening to their hobby because most of them have the same hobby as we did. After that, we teach them how to count in English. They had finished counting before the next activity started. The whispering game was the second activity. For this activity, it was a bit hard to control. The kids had been moving a lot before the game even began at that time. But this game didn’t take long because only the big kids were playing. The little kids didn’t know how to play so we didn’t include them but we let them watch it. For this game, we did about 5 rounds and they had to guess the word but it’s in English. In one of the rounds, the kids weren’t able to guess the word because it was too hard for them. It was funny watching them make the moves. While this activity was occurring some stayed with the kids to watch them and some started to prepare the area. Then the next activity was painting a tote bag. The activity started shortly after the others finished preparing the area. this activity started with giving them the tool for it. Some kids started immediately after the bag was given to them but some were still thinking about what they should paint. Everyone kinda picks a kid to watch over and encourage them while painting the bag. Most of the kids wrote their names on the bag and painted scenery below it. after they were finished the bag needed some time to dry so one of us had to hold every bag. After they were done, they took a foto of them with the bag and they played a bit around the area. One of the kids there had not finished painting the bag before the next activity started. The kid that I was watching over was very confused about what to draw so I gave her some ideas on what to draw I think the idea was a bit too basic because she added it only a little bit. In the end, she ends up running out of time so she just let us draw for her. 18
In conclusion, this activity was a once-in-a-lifetime experience. I liked it because we all had a good time doing it and watching the kids have fun just melted my heart. From doing social service I got some lessons such as hard work, togetherness, and kindness. The lesson hard work is from how all of us need hard work to prepare for social service to ensure the process is a success. Then, togetherness was because doing the activity together needed to happen without any conflict. Last but not least kindness, this lesson was very important because as I said before this activity needed to go without any conflict, and how not to have conflict is by having kindness. I hope in the future I can do this again. The last activity was making friendship bracelets. This was one of my favorite activity from the other activity. All of the kids made a bracelet except one kid.That one kid made a headband with the help of one of my friends. For the most part, we were just there to help them get the beads and tie the bracelets. But I accidentally dropped the bracelet and the beads went everywhere. To fix it, I put it all together again for her. Because I didn’t know the placement of the bead she told me how she wanted the placement of the bead. After that, all of us took a foto together with all of the kids and the creations. We finish up the social service by playing volleyball. We had been finishing up the area before a kid asked us to play volleyball with him. 19
I once submitted 10 puns to a joke competition. I really thought with that many, one was sure to be a winner. Sadly, no pun in ten did. Why did the old man fall down the well? He couldn ’t see that well. I tried to make up a joke about ghost but I couldn 't. It had plenty of spirit but no body. why do fathers bring an extra pairs of socks when they go golfing? in case they get a hole in one. what did one wall say to the other? I’ll meet you in the corner. I don ’t trust those trees. they seem kinda shady. I feel sorry for the calender. its days are number what is the loudest pet you can get? a trumpet. JOKESTIME ! 20
Making a Difference: Journey of Social Service Making a Difference: Journey of Social Service A few months ago me and my group have made social service ideas before we went to Magelang. We had a few difficulties in deciding what to do but we managed to figure it out. Our first plan was to do the recycling activity and guess the word game. We think with these two activities the kids in the village will learn while playing, so it's educational but also fun. Because we don’t know what is the condition in the village we made a backup plan, that is, a whispering game and red light and green light game. Time passed by and it's already the week we have to go to live in. The first day after we did some activities, in the afternoon we talked about this social service. Turns out we have to do the social service with the same village because all of us are from different groups. We have to gather our ideas to make one social service, but it’s a bit difficult to gather all of our ideas because one group with complete members doesn’t want to gather and wants to do their own social service. 21 On day two all of us have gathered together and finally everyone agreed to do the social service together before we searched for the childrens in the village. We gather to talk about the activities that we’re going to do in the social service. In conclusion, we want to teach the kids basic english, how to introduce themselves in english, painting on a tote bag because one of our friends brought a tote bag and a fabric paint, and the last activity is making a bracelet. It was finally time to do the social service. First we gathered to find some kids in the neighborhood, then we have gone out to a few houses and we managed to gather all of the kids for social service. The social service started and we started our activity as planned. Kimora 82/25
We explained to them how to introduce ourselves in english, then they introduced themselves in english. It was a little bit hectic because it's hard to make them concentrate on the topic, they were talking with each other and not listening. But as time goes on they can learn to hear and respect the other kids that’s talking. Every kid that was brave enough to introduce themselves gets a candy and a sticker. We also taught them to count, we have been teaching them to count when they actually knew a few numbers in english. Then after all of them introduced themselves and counting we hopped on to the next activity. Then we did a little icebreaker activity, that is to guess the move. So, the person in the back got the word and had to impersonate it in moves. The person in the very front has to guess what they're impersonating. The next activity is painting on a tote bag. It's actually fun to see the kids pouring their creativity into their tote bags. With this activity the kids can learn about colors and explore their creativity, they can express their feelings through painting on this tote bag. I think this activity is also fun and useful, not only can they paint it but they can also use the tote bag everyday. But this activity actually gets a bit messy because of the paint and we have to clean the area immediately. They have been painting for about 30 minutes when the time is almost up. After they painted, we did the next activity. The next activity was making bracelets, so the kids made a bracelet with their own creativity and they loved it. There is this one kid named Kinanthi. She had been making her bracelet when the beads from her bracelet started to fall because she didn't hold it properly. After the activity was done we took a few photos with the kids for documentation. They really enjoy the activities that we did. After the activity is done we take the children's back to their houses. Personally I think with this activity we can bond with each other and work as a team. We also can socialize with the people around the village and the kids. This is a new experience for me that I 22 will never forget.
realized our ideas were quite different. The kids arrived at the appointed hour, and they waited quietly while we got ready. Thanks in part to Mr. Supri, a large number of kids had participated. We began by playing an ice-breaking game to lighten up the mood. In the game known as "Guess the move," one player would whisper a word or words, and the other players would respond by adjusting their bodies to match. Next, we continued onto the main activity for social service in which they colored a picture received in groups using cut-up origami. The project is called Mosaic, which describes a way of making art that is more than just using paint and colored pencils. By gluing torn origami paper to add color to the drawings, kids can showcase their coloring skills. Before the kids moved on to other things for the remainder of the day, we had On the 18th of March 2024, the 8th grader students of Saint Ursula Junior Highschool went to Ngargomulyo village in Magelang for the Live In program. It is a village located on the caldera of Merapi and the people mostly worked as farmers. This village did not have a cultural heritage to be conserved, but it offered a specific type of tourism that was called the livein program, active in the last five years. This program, organized by the school, aimed to provide us with a taste of simple village life. I lived in a small village called Bojong along with a dozen of my classmates. We met for our social service project at Mrs. Rini's house in the evening of the 19th. But as soon as we realized our ideas were quite different, we knew that we should follow the previous strategy that the integrated learning team and I had created. We had been debating for a while before deciding to do three tasks once we Connecting through Social Service 23 By: Maima82/27
been exercising for the final twenty minutes of the social service session with a jumping game. Next, we asked about the children's and Mr. Supri's opinions regarding the social service project. As a temporary guardian, Mr. Supri had been providing us with encouraging feedback, stating that the children who had taken part in the activity found it to be both enjoyable and beneficial. The kids who were all fired up could learn the value of cooperation and become more social with one another. But we also discovered that in order to lighten up the mood and keep the kids keep the kids entertained, we needed to be more outgoing and upbeat. The way the message was conveyed to a younger audience also needed some work because of the language barrier resulting from the kids who were raised speaking Javanese in daily conversation. However, one of the kids we spoke with claimed he didn't enjoy the mosaic project and would rather prefer to use colored pencils to draw pictures. The kids seemed to appreciate the other games more since they were more into using their bodies as a means of expression. 24
Last Monday on 18th of March 2024, the 8th graders had gone to live in a village in Magelang. My classmates and I from 82 went to Ngargomulyo village by bus. The village was on the slopes of Mount Merapi hence most of the villagers were farmers. Despite the lack of cultural heritage, the village had been engaging in natural wisdom tourism for 5 years, which had been the live-in program. The program has been helping those who want to gain experience of living in simplicity. I lived in Bojong Hamlet together with 12 other classmates of mine. We had spent the first day getting along with each of our assigned foster parents there. On the 19th at evening, we gathered in Mrs. Rini’s house for our social service activity. However, we realized that we had different ideas on what HARMONIOUSHUES to do because it’s based on the plan we made before with the integrated learning team. After a few discussions, we finally decided to do three activities. At the time that we had scheduled, the children came in and waited patiently as we prepared ourselves. He had been informing the parents about our social service activity before we gathered together. Many children were able to participate with Mr. Supri’s help. We first started with an ice breaking game to bring the mood up. The game was called guess the move where one person whispered a word(s) and they told the others by moving their body accordingly. We then proceeded to the main part of the activity where they teamed up with others and used the cut up By:Caroline82/10 25
origami to color a picture given to them. This activity is called mosaic which is a technique used to make art using other things than just color pencils or paints. The children can express their talents in coloring a picture by sticking cut up origami papers bringing color to the pictures. After we checked on each of their results, we had been spending the last twenty minutes of the social service session on a jumping game as an exercise before they continued the rest of the day with other activities. We then asked some questions about the children’s and Mr. Supri’s feedback about the social service activity. As a temporary guardian, Mr. Supri gave us positive feedback that not only was the activity fun but also gave a positive impact for the children who participated. The children who were very enthusiastic had been learning about the importance of teamwork and communication with other people. However we also learned that we needed to be more expressive and cheerful in order to bring the mood up and entertain the children. The method to deliver the message to someone younger also needed some improvements on using more simple words due to the language barrier due to the children who grew up talking with Javanese in their everyday life. However, one of the children we interviewed said he didn’t have fun during the mosaic activity and would rather color pictures normally with colored pencils. The other games seemed to entertain the children more because they enjoyed expressing themselves through physical activities. Throughout the social service activity, I enjoyed being able to interact with the children and also learning on how to entertain them. I learned to work together with other people to solve problems. 26 By:Caroline82/10
""KKeebbaahhaaggi iaaaanni ittuubbuukkaannssuuaattuu kkeebbeettuul laannttaappi ippi il li ihhaann"" 27
TTrraaddisiTarianSoreng isiTarianSoreng Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia. Daerah ini memiliki beragam kebudayaan yang terkenal. Salah satunya adalah Tari Soreng. Tari Soreng merupakan tarian yang berupa tari keprajuritan. Tarian ini melukis salah satu peperangan legendaris pada akhir kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro. Tari keprajuritan ini sangat populer di daerah Kabupaten Magelang, khususnya di Kecamatan Ngablak yang terletak di punggung utara Gunung Merbabu. Tari Soreng Bandungrejo didirikan Bapak Taryono, sampai saat ini perkembangan Soreng Bandungrejo sudah mencapai empat generasi. Untuk kostum Tari Soreng dominan memiliki warna merah dan hitam. Selain itu baju yang di gunakan adalah baju kebaya berlengan pendek, kain batik panjang dan selendang. Akhirnya untuk pelengkapnya terdapat penutup kepala dari kain batik. Gerakan dari tari Soreng begitu khas, melambangkan visualisasi kekuatan para petani saat di ladang. Para penari kebanyakan memiliki ekspresi dan energi tinggi, memposisikan diri sebagai petarung masyarakat gunung dalam menghadapi tantangan alam. Gerakan kaki dan tangannya melambangkan usaha mereka mengolah pertanian aneka sayuran di kawasan lerenglereng gunung dengan cara mengatasi hambatan yang ada. Tari Soreng merupakan salah satu tarian yang pernah mendapatkan rekor MURI dalam ajang 10 ribu penari Soreng. Kemeriahannya terlihat dalam pagelaran ini. Secara kompak bersama membawakan tarian khas daerah mereka. 28 Andrea 82/94
Tarian cakalele Tarian cakalele Tarian cakalele merupakan tarian khas Nusantara, tarian ini berasal dari Maluku. Tarian cakalele ini ditunjukkan saat ada festival, penyambutan tamu maupun acara adat. Tarian Cakalele merupakan simbol bagi masyarakat Maluku bahwa manusia harus menjaga martabat dan harga dirinya. Tarian ini memiliki pesan - pesan tersirat yaitu bagaimana manusia harus memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia, Tuhan dan alam. Tarian ini biasa juga disebut sebagai tarian perang karena saat menari cakalele penari agak bergerak dengan semangat , melotot, dan berteriak untuk mengekspresikan sedang berperang. Karena dahulu di Kepulauan Banda mengalami perang antar luar desa. Tarian ini menunjukkan keberanian dan semangat untuk mengusir penjajah. Kostum tari Cakalele ini menggunakan kostum perang / bangsawan Banda, dengan pakaian variasi warna yang berbeda, penutup kepala. Kostum master di dalam atian cakalele akan memakai pakaian berwarna yang berbeda dari penari yang lainnya agar menunjukan bahwa Ia kapitan. Tarian cakalele ini dilakukan berkelompok 30 orang untuk menggambarkan semangat juang mereka. Pola lantai yang digunakan pada tarian cakalele adalah pola garis horizontal, tetapi ada beberapa variasi pola lantai yang digunakan agar tari cakalele lebih menarik. Biasanya tarian cakalele ini biasa diiringi dengan alat musik gong dan tifa. Tarian cakalele ini saya tampilkan bersama teman - teman satu desa. Meskipun kita hanya latihan 2 hari dan waktunya sudah terpotong, tetapi kami bisa menghafal dan mengikuti gerakannya dengan baik. Sebelum pentas seni kita mengenakan kostum yaitu kain panjang yang diikat di pinggang, ikatan kepala dengan aksesoris, dan baju serta aksesoris yang diikat di sekitar leher. 29 Kimora 82/25
Jimpitan diDesaNgargomulyo Jimpitan diDesaNgargomulyo Sesuai pendapat kepala desa, kebiasaan jimpitan ini diperkirakan terjadi sejak zaman penjajahan Belanda, terutama di daerah pedesaan. Bahan pangan pokok jimpitan diperkirakan dikumpulkan untuk stok bahan pangan yang akan digunakan sebelumnya dengan cara ini. Kegiatan jimpitan ini membantu warga desa dalam mengatasi masalah keuangan desanya pada saat itu. Namun, dalam keadaan dan zaman seperti saat ini, munculnya zaman yang dapat memenuhi banyak kebutuhan ini dengan mudah. Akibatnya, masyarakat saat ini bersedia melakukan jimpitan, yang sebenarnya maksud dan tujuannya adalah untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam bentuk bahan pangan pokok ataupun uang. Tradisi di pedesaan biasanya merupakan aspek yang sangat dijaga di tengah kerusakan warisan budaya lainnya. Ketika saya sedang mengikuti acara livein di Desa Ngargomulyo, saya menerima penjelasan tentang kebiasaan unik yang disebut jimpitan. Istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa Jawa; secara harfiah, jimpitan berarti “ambil sedikit”. Jimpitan adalah tradisi di mana setiap warga desa diperintahkan untuk memberikan sumbangan, entah berupa uang, barang, dll., terlebih dahulu diterima oleh panitia desa dan kemudian diberikan kepada warga desa yang kurang beruntung. Ini menarik karena efek sukarela pemberian itu bisa jadi adalah salah satu fenomena terkuat; itu benar-benar menunjukkan bahwa di desa, semangat gotong royong masih nyata dan merata. 30 Maima82/27
Sebelum pergi ke rumah berikutnya, jangan lupa untuk berterima kasih kembali kepada mereka atas sukarela mereka. Selanjutnya, data dikumpulkan dengan koordinator kegiatan untuk menentukan pembagian kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, ada manfaat yang dirasakan oleh saya dan orang-orang di sekitar saya, terutama mereka yang berpartisipasi dalam kegiatan jimpitan. Tradisi ini memungkinkan kita untuk lebih dekat dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar kita dengan berbicara dengan mereka lebih banyak. Jika Anda tinggal di pedesaan, Anda mungkin lebih banyak berkomunikasi dengan tetangga dan orang-orang di dusun yang sama, sehingga Anda pasti lebih mengenal satu sama lain daripada orang-orang yang tinggal di kota. Desa ini dapat terus berkembang dengan kerja sama warganya yang lebih kuat. Menurut pengalaman saya selama melakukan aktivitas ini di dusun saya, tradisi ini memiliki efek yang sangat baik. Melalui kegiatan ini, saya dapat belajar bahasa Jawa sehingga saya dapat meminta jimpitan dari orang-orang di sekitar saya. Ketika Anda berada di depan rumah seseorang yang ingin diminta, langkah pertama yang dilakukan adalah mengetuk pintunya dan mengatakan, "kulo nuwun, kulo ajeng mendet jimpitan." Selanjutnya, orang yang tinggal di rumah akan memberikan barang yang akan disumbangkan untuk dimasukkan ke dalam tas yang akan digunakan untuk mengumpulkan hasilnya. Setiap individu memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan mereka. 31
BBeerbagidi rbagidi Tengah Modernisasi Tengah Modernisasi Pelestarian sebuah tradisi cenderung dijalankan pada wilayah pedesaan. Berbagai tradisi dipertahankan untuk menjaga warisan budaya yang ada di tengah perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Melalui kegiatan live-in kemarin, saya menemukan tradisi baru yang dijalankan di Desa Ngargomulyo yaitu, jimpitan. Kata jimpitan berasal dari bahasa Jawa yang berarti mengambil sedikit. Tradisi ini sendiri merupakan tabungan dari semua hasil sumbangan warga sebuah wilayah yang dikumpulkan untuk diberikan kepada warga lainnya yang membutuhkan. Uang atau bahan-bahan yang terkumpul tersebut diberikan secara sukarela oleh para warga. Pelestarian sebuah tradisi cenderung dijalankan pada wilayah pedesaan. Berbagai tradisi dipertahankan untuk menjaga warisan budaya yang ada di tengah perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Melalui kegiatan live-in kemarin, saya menemukan tradisi baru yang dijalankan di Desa Ngargomulyo yaitu, jimpitan. Kata jimpitan berasal dari bahasa Jawa yang berarti mengambil sedikit. Tradisi ini sendiri merupakan tabungan dari semua hasil sumbangan warga sebuah wilayah yang dikumpulkan untuk diberikan kepada warga lainnya yang membutuhkan. Uang atau bahan-bahan yang terkumpul tersebut diberikan secara sukarela oleh para warga. Tradisi jimpitan ini diperkirakan sudah berkembang sejak masa penjajahan Belanda terutama di wilayah pedesaan. Dulunya, pengumpulan makanan pokok untuk stok bahan pangan dilakukan melalui jimpitan. Kegiatan ini membantu para warga dalam menghadapi kesulitan ekonomi yang ada pada saat itu. Namun sekarang banyak kebutuhan mudah terpenuhi dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, tradisi ini sekarang bertujuan untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan bantuan untuk bahan makanan pokok atau uang. 32 By:Caroline82/10
29Berdasarkan pengalaman saya ketika melakukan kegiatan ini di dusun saya, tradisi ini memberikan banyak dampak positif. Melalui kegiatan ini, saya bisa mempelajari bahasa Jawa untuk meminta jimpitan dari warga sekitar. Langkah pertama yang dilakukan ketika sudah berada di depan rumah seseorang yang ingin diminta adalah mengetuk pintu rumahnya dan mengatakan “kulo nuwun, kulo ajeng mendet jimpitan.” Setelah itu, orang yang tinggal di rumah tersebut akan memberikan barang yang disumbangkan untuk dimasukkan ke dalam sebuah tas yang mengumpulkan hasilnya. Setiap orang pastinya memberikan sumbangan sesuai dengan kesanggupannya. Sebelum berlanjut ke rumah lainnya, tidak lupa untuk tetap berterima kasih kembali atas sukarela mereka. Kemudian, hasilnya dikumpulkan kepada koordinator kegiatan untuk ditentukan pembagian kepada para masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, ada juga manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh saya sendiri tetapi juga oleh para warga sekitar terutama yang berpartisipasi dalam kegiatan jimpitan. Tradisi ini memperbanyak komunikasi dengan warga yang tinggal pada lingkungan sekitar kita agar bisa mengenalnya lebih dalam. Ketika tinggal di pedesaan, komunikasi dengan tetangga dan para penduduk di dusun yang sama lebih banyak sehingga pastinya lebih mengenal satu sama lain dibandingkan penduduk di kota. Dengan semakin eratnya hubungan antarwarga, desa ini dapat terus berkembang dengan kerja sama dari setiap orang. Menurut saya, tradisi ini patut dilestarikan dan mulai dijalankan di perkotaan. Walaupun ibu kota kita sudah sangat padat dan maju, tetap ada masyarakat yang kesulitan. Oleh karena itu, melalui tradisi ini kita bisa membantu orangorang tersebut dengan memberikan bantuan pangan atau uang. Selain itu, persatuan antar masyarakat semakin erat sehingga membantu dalam kemajuan negara kita. Tradisi ini pernah dihidupkan kembali pada masa pandemi. Hal ini karena kebutuhan makanan pokok sehari-hari yang kurang terpenuhi pada masa krisis tersebut. Tradisi ini sangatlah bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari. 33 By:Caroline82/10
Daftar Pustaka https://regional.kompas.com/read/ 2022/11/05/150927078/taricakalele-asal-cerita-fungsi-dankostum?page=all https://news.detik.com/berita/d7091600/jadi-simbol-perjuanganwarga-halut-ini-makna-keindahantarian-cakalele https://kumparan.com/beritaterkini/asal-tari-cakalele-gerakandan-maknanya-bagi-masyarakat20sJ66osK8V/full https://www.gramedia.com/literasi /tari-cakalele/ https://id.wikipedia.org/wiki/Jim pitan https://kumparan.com/beritahari-ini/mengenal-jimpitantradisi-yang-masih-dipeliharamasyarakat-pedesaan1zlLDsK1ZJB/2 https://regional.kompas.com/rea d/2022/02/16/134720678/tradisijimpitan-berawal-dari-budayagotong-royongmerbabu.html#:~:text=Kostum% 20Tari%20Soreng%20didominasi %20warna,terkenal%20dengan% 20tanahnya%20yang%20subur. https://www.detik.com/jateng/bud aya/d-7059057/kesenian-sorengtarian-khas-dari-lereng-gunungmerbabu-dan-andong-magelang https://www.merdeka.com/jateng/ keunikan-tari-soreng-magelangcitra-diri-masyarakat-lerengmerbabu.html#:~:text=Kostum%20 Tari%20Soreng%20didominasi%20 warna,terkenal%20dengan%20tan ahnya%20yang%20subur. https://id.weatherspark.com/y/123105/C uaca-Rata-rata-pada-bulan-inNgargomulyo-Indonesia-SepanjangTahun https://www.kompas.com/skola/read/20 20/01/08/150000469/jumlahkabupaten-dan-provinsi-diindonesia#:~:text=Pulau%20Jawa%20ter diri%20dari%206,85%20kabupaten%20d an%2034%20kota.&text=Banten%3A%20 jumlah%20kabupaten%20dan%20kota,1 %20kabupaten%20dan%205%20kota. https://desangargomulyo.magelan gkab.go.id/first/artikel/59#:~:text= Luas%20wilayah%20Desa%20Ngar gomulyo%20sekitar,21%20RT%20 dan%203%20RW. https://www.gramedia.com/literasi /permasalahan-keberagamanekonomi/ https://desangargomulyo.magelan gkab.go.id/First/statistik/1 34
Terima kasih telah membaca !