The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kelompok 9_Boiremediasi & Revegetasi_Flipbook

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by erinlestari01, 2021-04-26 20:13:29

Kelompok 9_Boiremediasi & Revegetasi_Flipbook

Kelompok 9_Boiremediasi & Revegetasi_Flipbook

Flipbook

Bioremediation
&Revegetation

“Penerapan teknologi bioremediasi dan revegetasi menjadi solusi
dalam penyelamatan lingkungan di tengah laju industri yang
semakin meningkat”

By Rafif Sami Fauzan (85), Fajrin Suci Madyasti (102), Erin Nur Lestari (111)

1. BIOREMEDIASI

Bioremediasi secara harfiah mengandung pengertian “bio”
yang berarti makhluk hidup dan “remediate” yang berarti
pemulihan. dengan demikian, bioremediasi diartikan sebagai
respon biologis menuju perbaikan substrat pada lingkungan yang
telah rusak atau tercemar. Menurut Hamer (1993) dalam Hidayat
dan Siregar (2017), bioremediasi adalah penggunaan organisme
hidup terutama mikroorganisme untuk menguraikan pencemar di
lingkungan menjadi bentuk pencemar yang kurang berbahaya
atau tidak berbahaya.

Berdasarkan uraian yang dijelaksan oleh Malik (2006)
dalam Hidayat dan Siregar (2017), tujuan penting aplikasi
bioremedasi adalah

1) Meningkatkan laju dan tingkat penguraian dari target
kontaminan,

2) Mengaktivasi mikroba yang dapat bertahan (survive) dari
keberadaan kontaminan yang bersifat toksik, dan

3) Memanfaatkan mikroba tersebut untuk mengurai
kontaminan di mana hasil penguraian bukan untuk
mendapatkan senyawa yang lebih toksik dibanding
kontaminan asalnya.

Dengan melihat tujuan ini maka aplikasi bioremediasi bukanlah
sebuah pekerjaan yang mudah, sederhana, dan fiktif. Aplikasi
bioremediasi akan sukses bila penyusunan teknologinya
melibatkan banyak pakar atau profesional dari berbagai disiplin
keilmuan, seperti: mikrobiologi, ilmu lingkungan, kimia analisis,
genetik, tanah, geologi, dan arsitek.

2. PERAN MIKROBA DALAM
BIOREMEDIASI

Proses bioremediasi akan terjadi apabila kondisi lingkungan
mendukung bagi mikroba pengurai tumbuh dan aktif melakukan
proses penguraian. mikroba pengurai akan memanfaatkan proses
metabolisme untuk mengonversi polutan menjadi produk melalui
reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi yang
rendah.

“Proses bioremediasi
sangat tergantung pada

keberadaan mikroba
pengurai. Mikroba

pengurai akan
memanfaatkan proses
metabolisme menjadi
produk intermediate

(enzim).”

❖ Degradasi secara enzimatik
Menurut Chandrakant et al. (2011) dalam Hidayat dan

Siregar (2017), dari 6 kategori enzim terdapat 2 kelompok enzim
yang sangat berperan dalam biodegradasi yaitu oksidoreduktase
dan hidrolase. Oksidoreduktase terlibat dalam memecah ikatan
utama dalam sebuah molekul dan mentransfer elektron dari
senyawa pendonor ke senyawa akseptor. Enzim yang termasuk
dalam kategori oksidoreduksi dan berperan dalam proses
biodegradasi antara lain dioksigenase, monooksigenase, lakase,
lignin peroksidase, manganese peroksidase, dan versatile
peroksidase. Hidrolase terlibat dalam memecah ikatan utama
dalam sebuah molekul dan mengkatalisis beberapa reaksi
termasuk kondensasi dan alkoholisis. Salah satu keuntungan dari
kelompok enzim ini adalah tidak diperlukannya kehadiran
kofaktor yang terlibat selama proses reaksi. Enzim yang termasuk
kategori hidrolase dan berperan dalam proses biodegradasi
adalah lipase, selulase, dan protease.

❖ Faktor Pembatas Degradasi
Beberapa faktor penting dalam proses degradasi yaitu :
1) elektron akseptor
2) pH tempat tumbuh
3) Suhu lingkungan tumbuh
4) Struktur tanah
5) Air dan kelembaban tanah
6) Nutrisi
7) Biovaibilitas
8) Keberadaan senyawa lain yang bersifat toksik

3. STRATEGI BIOREMEDIASI

Berdasarkan tempat pelaksanaan, kegiatan bioremediasi dapat
diklasifikasikan menjadi bioremediasi in-situ dan ek-situ. Bioremediasi
in-situ dipahami sebagai teknik penguraian di mana senyawa berbahaya
diurai secara biologi di lingkungan asalnya. Teknik ini dilakukan di
tempat kejadiannya, apakah di tanah, air, dan atau lapisan bawah
permukaan tanah. Kondisi asli lokasi tercemar biasanya telah mengalami
perubahan dalam sifat fisika dan kimia yang mungkin dapat menghambat
perkembangan mikroba pengurai.

Berdasarkan tempat pelaksanaan, kegiatan bioremediasi dapat
diklasifikasikan menjadi bioremediasi in-situ dan ex-situ.

Bioremediasi ex-situ adalah teknik penguraian senyawa berbahaya
yang didahului dengan upaya pemindahan polutan ke lokasi lain. Teknik
bioremediasi ek-situ akan efektif ketika material terkontaminasi (tanah,
air, dan lain-lain) dengan konsentrasi tinggi dan terjadi secara tiba-tiba,
terjadi akumulasi kontaminan yang terus menerus dan sangat toksik, serta
telah terjadi perubahan struktur tanah sebagai akibat proses konversi,
eksploitasi, dan penambangan, serta agen pengurai berupa mikroba
menjadi benar-benar tidak tersedia.

4. TIPE/TEKNIK BIOREMEDIASI

Tipe atau teknik bioremediasi adalah sebagai berikut:

• Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan
ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat
pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di
dalam air atau tanah tersebut.

• Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan
kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang
tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam
menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada
beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan.
Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar
mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para
ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang

terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang
dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk
beradaptasi.
• Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air
atau tanah yang tercemar.

(Brooker et al., 2008)

5. KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN
BIOREMEDIASI

Pemilihan teknik bioremediasi membutuhkan pertimbangan yang matang. Setiap teknik
memiliki kekurangan dan kelebihan. Beberapa poin penting dari teknik-teknik bioremediasi terlihat
pada tabel berikut ini.

sumber: Vidali (2001) dalam Hidayat & Siregar (2017)

A. KEUNTUNGAN

1) Proses penguraian terjadi secara alami. Populasi mikroba akan
meningkat ketika proses penguraian terjadi dan akan menurun ketika
proses penguraian selesai. Produk akhir penguraian adalah senyawa
yang aman, berupa air dan CO2.

2) Bioremediasi adalah metode sederhana dan mudah diaplikasikan
untuk menguraikan secara permanen berbagai macam tipe
kontaminan. Merubah senyawa berbahaya menjadi senyawa yang
kurang atau tidak berbahaya. Bukan merupakan proses
memindahkan kontaminan dari fase atau matriks.

3) Dapat dilakukan pada lokasi terjadinya pencemaran (in-situ), dan
tidak menyebabkan kerusakan lain yang lebih parah.

4) Teknologi dengan biaya yang sangat murah, 10 kali lebih murah
dibandingkan secara fisika dan kimia.

5) Fleksibel, dan cocok bila dikombinasikan dengan berbagai macam
perlakuan dan teknologi lain.

6) Ramah lingkungan (Environmental friendly) dan diterima secara
luas.

B. KEKURANGAN

1) Sangat dibatasi oleh tipe kontaminan yang sulit terurai dan proses
penguraian terkadang berjalan lambat.

2) Beberapa hasil penguraian menghasilkan bahan dengan toksisitas
yang lebih berbahaya dibanding dengan senyawa awalnya.

3) Memerlukan penanganan yang khusus dan rigid. Beberapa faktor
perlu dipertimbangkan agar proses penguraian benar-benar berjalan
dengan baik. Hasilnya sulit diprediksi atau diinterpolasi. Perlu
monitoring evaluasi yang matang dan reguler yang dapat
dipertanggungjawabkan.

4) Perencanaan yang matang untuk aplikasi bioremediasi dimulai dari
identifikasi tipe kontaminan, lingkungan, ketersediaan mikroba lokal,
bioavailabilitas, dan biodegradabilitas. Perencanaan dibuat
didasarkan dari hasil penelitian awal baik pada skala laboratorium
dan juga projek pilot. Tidak ada konsistensi hasil yang diperoleh dari
uji coba laboratorium, pilot, dan lapangan. Aplikasi di lokasi tertentu
mungkin saja tidak bisa diaplikasikan pada lokasi lain sehingga
membutuhkan kajian ulang.

5) Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama jika dibandingkan
dengan teknologi lain.

6) Belum adanya regulasi yang dapat diterima untuk menetapkan
kriteria bioremediasi secara menyeluruh. Persepsi tentang sebuah

teknologi baru mungkin saja mempengaruhi pemilihan teknik
bioremediasi.

6. CONTOH APLIKASI BIOREMEDIASI DI
INDONESIA (PT. Chevron Pacific
Indonesia

PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) merupakan perusahaan
minyak asing terbesar di Indonesia. Wilayah operasi CPI secara
keseluruhan mencapai 42.000 Km2 , mencakup 4 Provinsi, yaitu Riau,
Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh. Dari wilayah operasi di Sumatera,
CPI mampu memproduksi 50% dari kapasitas produksi minyak mentah
Indonesia. Sebagai perusahan yang bergerak dalam bidang usaha
migas, tidak bisa dihindari bahwa pasti akan menghasilkan limbah
selama proses eksploitasi dan pemurnian yang dilakukan oleh CPI.
Mereka memiliki kewajiban dan tanggung jawab melakukan
pemulihan lahan terkontaminasi sebagaimana tertuang dalam UU No.
32 tahun 2009. Sebenarnya dalam pemulihan lingkungan tercemar, CPI
adalah penggagas dan pionir dalam aplikasi bioremediasi di Indonesia.
Mereka melakukan bioremediasi secara ex-situ di Provinsi Riau,
dengan membangun 9 fasilitas bioremediasi berkapasitas 42.000 m3
tanah/siklus perlakuan. Aplikasi bioremediasi dimulai pada tahun 1994
sampai saat ini. Awalnya bioremediasi hanya dilakukan pada skala
laboratorium, pilot, lapangan dan akhirnya pada tahun 2002
bioremediasi diaplikasikan pada skala besar (full-scale). Sampai
dengan saat ini mereka mengklaim bahwa bioremediasi yang telah
dilakukannya berhasil memulihkan tanah tercemar lebih dari 500.000
m3 , di mana tanah tersebut digunakan untuk proses penghijauan seluas
60 ha.

Teknik bioremediasi yang dilakukan oleh CPI adalah
landfarming secara ex-situ. Tanah yang terkontaminasi dipisahkan,
diangkut dan diolah/dipulihkan ditempat lain. Monitoring proses
bioremediasi dilakukan setiap 2 minggu sampai 8 bulan, seperti yang
dipersyaratkan dalam Kepmen LH No.128/2003. Mereka juga
melanjutkan monitoring tanah hasil olahan (TPH < 1%) setiap 6 bulan
selama 2 tahun untuk mempertegas bahwa tanah hasil olahan aman dan
tidak berbahaya jika dikembalikan ke lingkungan. Hasil pengerjaan
bioremediasi dilaporkan kepada kementerian Lingkungan Hidup, dan
pada akhirnya mereka akan mendapat Surat Status Penyelesaian Lahan
Terkontaminasi (SSPLT). Untuk mengoperasikan proses pemulihan
secara bioremediasi ini, CPI mempekerjakan tidak kurang dari 100
tenaga ahli, peneliti, serta teknisi dengan didukung oleh laboratorium
terakreditasi.

Pada pertengahan tahun 2012, proses bioremediasi yang
dilakukan CPI selama ini di terjang badai kasus bioremediasi fiktif.
Pelaksanaan kegiatan bioremediasi dari tahun 2003 sampai 2011
diduga merugikan negara sebesar Rp200 Miliar dari nilai kegiatan
Rp2,5 Triliun. Pemberitaan mengenai kasus ini mencapai 1511 berita,
baik di media cetak maupun elektronik. Terlepas benar, objektif dan
keilmiahan tidaknya dakwaan yang dituduhkan, pemulihan lahan
tercemar dengan bioremediasi tidak boleh terhenti. Pendekatan
bioremediasi yang dilakukan oleh CPI “biostimulasi” tidak salah,
sesuai dengan Kepmen LH No. 128 tahun 2003.

Kefiktifan ini disinyalir karena adanya dana pemulihan yang
diberikan oleh Negara. Cara, metode, analisis, monitoring, dan evaluasi
yang dilakukan oleh semua pihak harus benar-benar objektif, jujur, dan
berintegritas sesuai dengan apa adanya. Hal ini mungkin juga serupa
dengan skenario DR untuk sektor kehutanan, yaitu apabila reboisasi
kawasan hutan konsesi dilakukan dengan benar maka hutan akan
kembali normal sampai saat ini. Terlepas dari aktivitas lain seperti alih
fungsi hutan, perambahan, illegal logging, dan sebagainya. Jangan
sampai proses bioremediasi bernasib sama dengan upaya reboisasi eks-
hutan konsesi yang pada akhirnya lingkungan rusak dan masyarakat
awam yang tidak berdosa menjadi korban (Hidayat & Siregar, 2017).

REVEGETATION

Revegetasi menurut keputusan menteri kehutanan dan perkebunan
No. 146 tahun 1999 adalah usaha atau kegiatan penanaman kembali

pada lahan bekas tambang.

1. REVEGETASI

Revegetasi adalah usaha penanaman kembali di
lahan bekas tambang untuk perbaikan biodiversitas dan
pemulihan estetika lanskap serta komunitas tumbuhan asli
secara berkelanjutan untuk mengendalikan erosi dan aliran
permukaan (Widiyatmoko et al., 2017).
► Efek katalis revegetasi ini diharapkan melalui perubahan kondisi di
bawah tajuk (meningkatnya lengas tanah, mengurangi temperatur,
dan lain-lain, meningkatkan struktur vegetasi menuju tingkat
klimak, dan menghasilkan lapisan seresah organik dan humus pada
tahun- tahun awal pertumbuhan tanaman. Revegetasi akan
meningkatkan kecepatan perkembangan keragaman genetik dan
biokimia pada lahan terdegradasi, sedangkan proses regenerasi
alami pada lahan terdegradasi biasanya berlangsung sangat lambat

2. TUJUAN REVEGETASI

Tujuan utama revegetasi menurut Rachmawaty
(2002) dalam Agus et al. (2014) adalah menciptakan
percepatan suksesi penutupan lahan oleh vegetasi yang
mapan. Efek katalis revegetasi ini diharapkan melalui
perubahan kondisi tajuk dengan meningkatnya lengas atas
tanah, mengurangi temperatur, meningkatkan struktur
vegetasi menuju tingkat klimak, dan menghasilkan serasah
organik dan humus pada tahun awal pertumbuhan tanaman.

Sumber Gambar: https://www.slideshare.net

“Revegetasi adalah metode yang
cocok digunakan pada tempat
yang telah diubah, seperti
pembukaan lahan, pertanian

ataupun peternakan.” – Land for wildlife, 2019

Lorem ipsum 3. PRINSIP REVEGETASI
suas dolor sit
amet, cu option 3.1 Strategi Revegetasi
tritani ius
possim aperiri. Strategi untuk melakukan revegetasi adalah :

► Memilih tempat yang akan direvegetasi
► Menempatkan tiang kayu di titik strategis
► Memilih jenis tanaman yang tepat untuk ditanamkan di tempat

tersebut
► Mengukur luasan dan bentuk daerah yang akan direvegetasi
► Menentukan jarak antar tanaman sesuai dengan standar

komunitas vegetasi
(SEQ Catchments, 2009).

3.2 Tipe/Teknik Revegetasi

Teknik yang digunakan untuk revegetasi terbagi menjadi
6, yaitu :

a. Soil Replacement
Jika suatu area mengalami erosi atau pencemaran tanah serta
merusak tanaman dan vegetasi, maka areal tersebut harus
dipindahkan, didaur ulang, dan diganti. Proses ini akan
memperbaiki kondisi tanaman baru, memberi mereka ruang
dan makanan yang cukup, karena sering kali tanah baru
dipupuk dan kaya akan kompos organik.

b. Regenerasi Alami
Setelah masalah tanah diperbaiki, terkadang lebih baik
dibiarkan saja tanpa adanya intervensi di masa depan
(pembibitan dan pemupukan), sehingga hal tersebut dapat
teratasi secara alami. Istilah regenerasi alami mengacu pada
proses penanaman kembali ketika benih tanaman disebarkan
secara alami ke tanah oleh air, angin, hewan, atau sisa benih
yang “bertahan” dari proses penyegaran tanah. Ini adalah
revegetasi pasif tetapi terkadang lebih baik membiarkan alam
pulih dengan sendirinya. Terkadang akibatnya adalah
vegetasi yang buruk, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa alam
itu indah dan dapat sembuh lebih cepat dari yang kita
harapkan. Dalam beberapa kasus, orang dapat membantu
dengan membuang benih yang berbeda, tanpa rencana yang
ketat.

c. Penyemaian Langsung
Proses revegetasi ketika benih tanaman yang telah ditentukan
sebelumnya dimasukkan ke dalam tanah, sehingga area
tersebut dapat dipulihkan dengan bantuan manusia.
Kelompok revegetasi perlu memperhatikan semua aspek,
seperti kondisi cuaca dan perubahan musim, sehingga
mereka dapat memutuskan tanaman mana yang akan ditanam
di sana. Terkadang dibutuhkan beberapa tahun sampai
seluruh area sepenuhnya diperbarui dan pulih. Dalam hal ini,
masyarakat memutuskan tanaman mana yang akan tumbuh
di sana dan memantau proses penanaman kembali.

d. Hydroseeding

Proses ketika alat berat (tank atau helikopter) digunakan
untuk menyemprot benih yang dicampur dengan air atau
pupuk cair lainnya sehingga dapat meningkatkan proses
revegetasi di beberapa area, seringkali setelah kebakaran
besar. Tanah perlu disiapkan sebelumnya. Campuran benih
dan pupuk juga mengandung penstabil tanah dan enzim lain
yang akan membantu tanah dan seluruh area pulih dan
menghentikan potensi pertumbuhan tanaman berbahaya.

e. Hydromulching

Proses ini mirip dengan hydroseeding yang mencakup
penyemaian hidraulik. Sementara proses hydroseeding
jarang mencakup pupuk dan enzim, proses hydromulching
selalu menggunakan air, mulsa serat, dan pewarna pelacak.
Campurannya konsisten dan tanah dapat dengan mudah
diperbarui dengan proses ini. Hydromulching menjamin hasil
yang lebih baik daripada hydroseeding.

f. Tubestock

Proses ini digunakan ketika orang tidak menggunakan benih,
tetapi mereka membawa tanaman yang sebelumnya ditanam
dalam tabung dan kemudian dikirim ke area di mana mereka
ditempatkan di tanah yang telah disiapkan sebelumnya.
Proses penanaman kembali ini lebih mahal daripada
pembenihan langsung dan pemulihan alami. Beberapa benih
dapat dirusak oleh serangga, terutama semut yang
menggunakannya sebagai makanan, jadi penanaman tabung
adalah pilihan yang lebih baik. Ini juga dikenal sebagai
penanaman terencana, jadi bila tanaman tumbuh cukup besar

tidak terlihat seperti kawasan alami, karena barisan dan
polanya cukup terlihat

4. KEUNTUNGAN DAN
KEKURANGAN REVEGETASI

Revegetasi adalah proses penanaman dan pembangunan kembali
padan lahan tanah yang terganggu. Kondisi lahan revegetasi yang sedikit
akan kandungan nitrogen yang disebabkan oleh faktor lingkungan
seperti pH tanah, kandungan nutrisi yang rendah, suhu yang terlampau
ekstrim, kelebihan atau kekurangan kandungan air dalam tanah
(“Vissoh, 2005, Widiyatmoko et al., 2017"). Hal tersebut yang menjadi
permasalahan untuk keberhasilan kegiatan revegetasi. Keberhasilan
Revegetasi pada lahan bekas tambang sangat ditentukan oleh banyak hal
diantaranya adalah aspek penataan lansekap, kesuburan media tanam
dan penanaman dan perawatan. kesuburan media sangat ditentukan oleh
sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Iskandar 2012).

Maka dari itu, kegiatan revegetasi memiliki beberapa kelebihan
dan kekurangan. Menurut Land for wildlife Queensland (2011)
keuntungan dan kekurangan dari revegetasi adalah sebagai berikut.

A. KEUNTUNGAN

1) Perbaikan biodiversitas dengan membangun kembali
vegetasi asli di lokasi yang terdegradasi yang tidak akan
beregenerasi secara alami.

2) Pencegahan erosi dan perlindungan kualitas air di daerah
tersebut.

3) Restorasi (pemulihan) koridor alam liar dan sebagai
perluasan atau penyangga sisa flora dan fauna yang ada.

4) Penyediaan naungan, perlindungan dari angin, tempat
berlindung atau persediaan dan perbaikan nilai properti.

5) Pemulihan estetika lanskap serta komunitas tumbuhan
asli secara berkelanjutan untuk mengendalikan erosi dan
aliran permukaan.

B. KEKURANGAN

1) Memiliki biaya yang tinggi dalam baik dalam waktu maupun
uang

2) Pengelolaan berkelanjutan, seperti penyiraman dan
pengendalian gulma

3) Perencanaan buruk, seperti pemilihan spesies tanaman yang
tidak tepat dapat membatasi keberhasilan revegetasi

Area revegetasi yang berbentuk bulat atau bujur sangkar, pada
bidang/lahan yang panjang dan sempit. Teknik ini kurang rentan terhadap

invasi gulma dan lebih terlindungi dari angin dan gangguan lainnya

Situs revegetasi berusia 5 tahun di Reesville, Sunshine Coast. Menanam
Green Wattle (Acacia irrorata) sebagai spesies pionir yang tumbuh cepat

untuk melindungi pepohonan hutan hujan yang tumbuh lambat.

Situs revegetasi berpagar di Gunung Barney.
Sumber gambar: Land for Wildlife Queensland (2011)

5. APLIKASI REVEGETASI DI INDONESIA

Tambang batubara di Indonesia umumnya dilakukan dengan
sistem tambang terbuka (open pit mining) sehingga berdampak terhadap
kerusakan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan antara lain hilangnya
vegetasi hutan, flora dan fauna serta lapisan tanah. Oleh karena itu setiap
perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan wajib melaksanakan
reklamasi lahan bekas pertambangannya (Oktorina, 2018).

Salah satu perusahaan jasa yang bergerak dalam revegetasi adalah
Antares Multi Energi. Antares adalah perusahaan nasional yang memiliki
keahlian pada bidang lingkungan yaitu: jasa konsultan erosion control, jasa
kontraktor reklamasi tambang, revegetasi lahan, hydroseeding, reboisasi
hutan, bioremediasi lahan, rehabilitasi DAS dan water treatment plant.
Beberapa teknik revegetasi yang dilakukan oleh Antares antara lain sebagai
berikut (Antares Energi, 2019).

➢ Reklamasi Tambang & Revegetasi Lahan
oleh Anteres Multi Energi

Untuk pekerjaan revegetasi lahan pertambangan yang dikenal dengan
reklamasi tambang. Metode ini dibagi menjadi 2 area yaitu:

1. Area reklamasi normal, yaitu ada tanah, ada topsoil, lahan relatif
datar dan pH normal (pH 6-7).

2. Area reklamasi abnormal, yaitu area yang sedikit tanah, tidak ada top
soil, lahan miring atau pH asam (pH <6).

Dalam reklamasi normal, hal yang lakukan adalah revegetasi dengan
penanaman bibit berkualitas dan diberikan nutrisi pada tanah sekitar,
sedangkan pada lahan reklamasi abnormal terdapat beberapa penanganan
yaitu:

● Lahan miring/lereng
● Lahan minim tanah dan top soil
● Lahan dengan tingkat keasaman tinggi
● Lahan tergenang/rawa

a) Lahan miring/lereng

Untuk lahan dengan struktur miring, metode yang digunakan yaitu
menggunakan lalampa, hydroseeding dan vegetation mat. Berikut gambaran
tentang ketiga metode tersebut:

● Lalampa

lalampa yaitu media tanam berupa jerami atau serasah yang
dibungkus dengan cocomesh membentuk seperti guling panjang.
Aplikasi ini untuk areal dinding atau potongan bukit yang relatif
terjal.

● Hydroseeding
Hydroseeding yaitu suatu metode penghijauan dengan menggunakan
campuran kental yang terdiri dari bibit dan zat tumbuh. Hydroseeding
umumnya dilakukan pada areal lahan bekas pertambangan yang mempunyai
lapisan top soil yang buruk dengan tidak adanya kandungan unsur hara
sehingga mempengaruhi sedimentasi tanah.

● Vegetation Mat
Vegetation Mat merupakan salah satu metode penanaman yang digunakan
dalam erosion control pada daerah yang memiliki tingkat kemiringan lereng
sangat curam atau dapat digunakan pada tebing-tebing. Vegetation mat
merupakan karpet vegetasi dimana sudah terdapat vegetasi rumput yang telah
tumbuh pada suatu media tanam yang dapat digulung atau dibawa karena
sifatnya portable. Vegetation mat yang telah ditumbuhi pertanaman rumput
hanya perlu ditanam/dipasang pada daerah yang akan menjadi areal
penanaman.

b) Lahan minim tanah dan top soil
Untuk penanganan lahan yang minim dan top soil, terdapat dua metode
penanganan, yaitu Panada dan Bio-mulsa. Sedikit penjelasan untuk kedua
metode tersebut:
● Panada
Panada merupakan media kompos. Menggunakan karung
nilon sebagai reactor sekaligus sebagai pot, tanaman pohon atau
creeper. Bisa ditanam langsung di media kompos dengan
melubanginya dan berfungsi sebagai starter bagi pertumbuhan
tanaman. Aplikasi ini untuk di areal yang minim soil. Panada ini
dapat digunakan pada aplikasi tanaman LCC (Legume Cover Cop).

● Bio mulching atau bio-mulsa
Bio mulching atau bio-mulsa merupakan penebaran serasah

atau dedaunan kering di areal reklamasi yang minim soil. Aplikasi ini
bisa memperbaiki iklim mikro permukaan lahan yang direklamasi
dan direvegetasi sekaligus memungkinkan benih yang ada diantara
serasah tumbuh tanpa ditanam secara manual.

c) Lahan dengan tingkat keasaman tinggi

Penanganan terhadap lahan dengan tingkat keasaman yang tinggi
dapat dilakukan dengan 2 metode yang berbeda. Untuk lahan yang relatif
tergenang, menggunakan batu karang (gabion), sedangkan untuk lahan yang
lebih kering metode yang digunakan dengan penanaman dengan treatment 4
lapis.

● Gabion

Teknik ini menggunakan batu Karang yang mati untuk substitusi
batuan kapur, aplikasi ini bisa menjadi alternatif solusi treatment Air
Asam Tambang (AAT), pemasangannya dengan gabion dan
dikombinasikan dengan penanaman tanaman air yang mampu
beradaptasi dengan kondisi rawa atau wetland.

● Penanaman dengan treatment 4 lapis
Merupakan upaya treatment atau perlakuan 4 lapisan yang

dilakukan dengan maksud zona perakaran tanaman LCC di lahan
dengan kondisi tanah relatif asam; zona tersebut dibuat agar bisa
ditumbuhi oleh tanaman cover crop jenis leguminosa. Ada 2 opsi
untuk teknis Penanaman dengan treatment 4 lapis:
❖ Opsi 1 : dengan mengkombinasikan antara tumpukan

potongan rumput/semak + kapur + material endapan PAF dari
paritan + potongan semak + kapur + jute mesh yang ditahan
dengan lalampa dan karung berisi material endapan PAF dari
parit.

❖ Opsi 2 : dengan mengkombinasikan antara tumpukan
potongan rumput/semak + kapur + material endapan PAF dari
puritan + potongan semak + kapur + jute mesh yang ditahan

dengan lalampa dan karung berisi material endapan PAF dari
parit serta ditambahkan panada yang diberi benih LCC.

Pada dasarnya metode ini merupakan alternatif soil, dimana tanaman tumbuh pada
media yang tidak terpengaruh pada tanah yang asam.

a) Lahan Tergenang/Rawa
Pada tipe permukaan ini menggunakan floating ball yaitu merupakan

aplikasi jerami yang dibentuk bulat dan diberi sesuatu yang mengapung di
dalamnya, kemudian dibungkus dan diperkuat dengan cocomesh. Floating
Ball biasanya dikombinasi dengan tanaman vetiver yang memiliki sistem
perakaran yang panjang dan berperan menangkap partikel solid di badan air.
Aplikasi pada kolam air yang disatukan dengan konsep batu karang,
menghasilkan kualitas air baku. Sehingga dapat digunakan oleh aktivitas
tambang dan masyarakat sekitar tambang.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, C., Eka P., Dewi W., et al. 2014. Peran Revegetasi Terhadap
Restorasi Tanah Pada Lahan Rehabilitasi Tambang Batubara di
Daerah Tropika. Jurnal Manusia dan Lingkungan. 21(1) : 60-66

Antares Multi Energi. (2019). Reklamasi Tambang dan Revegetasi
Lahan. Diakses dari https://www.antaresenergi.com/

Brooker et al. (2008). Biology. McGraw-Hill

Hidayat, A. dan Chairil A. 2017. Telaah Mendalam tentang
Bioremediasi : Teori dan Aplikasinya dalam Upaya Konservasi
Tanah dan Air. IPB Press : Bogor

Iskandar, D. T. Suwardi, Suryaningtyas, 2012. Reklamasi Lahan-lahan
Bekas Tambang : beberapa Permasalahan Terkait Sifat-sifat
Tanah dan Solusinya [terhubung berkala].
Http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/.../62632/1/PRO20
12_ISK.pdf

Malik A. 2006. Environmental microbiology, bioremediation.
[http://nsdl.niscair.res.in/jspui/bitstream/123456789/659/1/
Bioremediation.pdf]

Oktorina, S. (2018). Kebijakan Reklamasi Dan Revegetasi Lahan
Bekas Tambang (Studi Kasus Tambang Batubara Indonesia). Al-
Ard: Jurnal Teknik Lingkungan, 4(1), 16–20.
https://doi.org/10.29080/alard.v4i1.411

SEQ Catchments. 2009. Living in the landscape : the Lockyer Valley
: a guide to property and landscape management. Brisbane :
SEQ Catchments

Vidali M. 2001. Bioremediation. An overview. Pure and Applied
Chemistry. 73: 1163–1172.

Vissoh, P. Manyong, V. M. Carsky, J. R. Oseibonsu, P. Galiba, M.
(2005). Experiences with Mucuna in West Africa. International
Development Research Centre 36.

Widiyatmoko, R., Basuki W., Lilik B. 2017. Analisis Pertumbuhan
Tanaman Revegetasi di Lahan Bekas Tambang Silika Holcim
Educational Forest Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 7(1) : 79-8

FLIPBOOK BIOREMEDIASI & REVEGETASI

Disusun Oleh:

Rafif Sami Fauzan 140410180085

Fajrin Suci Madyasti 140410180102

Erin Nur Lestari 140410180111

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2021


Click to View FlipBook Version