Pelajaran 8
Drama
Fokus Pembelajaran
Penguasaan kompetensi mengidentifikasi unsur; menelaah karakteristik unsur dan kaidah
kebahasaan; menginterpretasi (naskah) drama yang dibaca dan ditonton/didengar; serta
menyajikan drama dalam bentuk pentas atau naskah.
Kegiatan 1
Membaca Naskah dan Melisankan Dialog Tokoh dalam Drama
Tujuan akhir memperlajari darama adalah melakukan pementasan naskah drama.
Kegiatan paling awal dalam persiapan pementasan adalah mengenali gambaran umum isi
dan suasana drama, mengucapkan dialog dengan lafal yang jelas, membaca dialog naskah
dengan tekanan yang tepat, mengucapkan dialog naskah dengan memperhatikan kesesuaian
irama dan nada pembacaan dengan tahap perkembangan konflik.
A. Mengenali Gambaran Umum Isi dan Suasana Drama
Mengenali gambaran umum isi dan gambaran umum suasana drama sangat penting
sebelum pementasan drama. Gambaran umum isi naskah drama dapat dipahami melalui
sinopsis, yakni ikhtisar, ringkasan atau abstraksi naskah drama. Gambaran suasana umum
drama dapat dikenali dari narasi yang menggambarkan latar tempat, latar waktu, properti,
dan interaksi antarpelaku. Lazimnya, gambaran umum suasana itu ditempatkan baik
sebelum dialog, dalam dialog, maupun setelah dialog.
Bacalah sinopsis dan kutipan bagian awal naskah drama “Ayahku Pulang” karya Usmar
Ismail berikut ini! Kerjakankanlah berikut ini secara berkelompok!
1. Gambarkanlah watak tokoh, suasana, dan konflik yang mungkin terjadi dalam drama
“Ayahku Pulang” berikut ini!
Sinopsis Drama
AYAHKU PULANG
Drama ini mengisahkan tentang konflik keluarga. Konflik itu disebabkan oleh Raden Saleh yang
menceraikan istrinya (Tina) dan pergi meninggalkan ketiga anaknya (Gunarto, Maimun, dan Mintarsih)
tepat malam takbiran, padahal saat itu keadaan ekonomi keluarga sedang hancur.
Sebagai anak sulung, Gunarto sangat membenci ayahnya yang tidak bertanggung jawab kepada
keluarga. Kebenciannya disebabkan sejak umur delapan tahun dia harus menghidupi keluarga.
Sebaliknya, Ibu (Tina) selalu mengenang suaminya dan tetap mencintainya sekalipun harus
membesarkan ketiga anaknya. Ibu selalu.mengingatkan Gunarto agar tidak membenci Raden Saleh
sebagai Ayah kandungnya.
Setelah 20 tahun, Raden Saleh (ayah) kembali pulang ke rumah. Dia sudah tua renta dan miskin.
Kehadirannya disambut baik oleh Ibu, Maimun, dan Mintarsih. Sebaliknya, Gunarto masih tetap saja
menyimpan rasa kebencian pada ayahnya karena ia merasa selama ini tidak memiliki seorang ayah.
Kebencian Gunarto menimbulkan perasaan yang berkecamuk bagi Raden Saleh (ayah). Akhirnya,
Raden Saleh (ayah) memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak mengusik
lagi kehidupan keluarga kecilnya yang pernah dia tinggalkan: tepat pada malam takbiran.
2. Bacalah Kutipan 1 (bagian awal) naskah drama “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail
berikut ini!
a. Jelaskan fungsi uraian dua paragraf sebelum dialog yang dicetak miring!
b. Jelaskan perbedaan narasi sebelum, dalam, atau sesudah dialog yang tercetak
miring dalam kurung, misalnya, (Memandang Gunarto), dan narasi yang dicetak
1
dengan huruf kapital, misalnya, “SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH
KERAS SEDIKIT”
Kutipan 1
Panggung menggambarkan ruang tamu merangkap ruang keluarga sebuah rumah
yang sangat sederhana dengan dengan perabotan tua (jendela, pintu, meja, kursi tua). Di
atas meja ada teko, gelas, dan kaleng kue. Diperdengarkan suara adzan sebagai latar
waktu yang menunjukkan saat berbuka puasa.
Sesaat setelahnya, diputar suara suara beduk bersahut-sahutan diiringi suara takbir
sebagai malam hari raya idul fitri. Seorang ibu masuk, berdiri sejenak melihat keluar
jendela, lalu duduk.. Gerak tubuh dan ekspresi wajah menampakan kesedihan dan
keharuan mendengar suara beduk dan takbiran yang bersahut-sahutan itu. Sejurus
kemudian masuk Gunarto.
Gunarto : “Ibu masih berfikir lagi…”
Ibu : “Malam Hari Raya Narto. Dengarlah suara bedug itu bersahut-sahutan.”
“Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi dengan tidak
meninggalkan sepatah kata pun.”
Gunarto : “Ayah…”
Ibu : “Keesokan harinya Hari Raya, selesai sholat kuampuni dosanya…”
Gunarto : “Kenapa masih Ibu ingat lagi masa lampau itu? Mengingat orang yang
sudah tidak ingat lagi kepada kita?”
Ibu : (Memandang Gunarto) “Aku merasa bahwa ia masih ingat kepada kita.”
Gunarto : (Bergerak ke meja makan) “Mintarsih ke mana, Bu?”
Ibu : “Mintarsih keluar tadi mengantarkan jahitan, Narto.”
Gunarto : (Heran) “Mintarsih masih juga mengambil upah jahitan, Bu?” “Bukankah
seharusnya ia tidak usah lagi membanting tulang sekarang?”
Ibu : “Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti, kepandaiannya itu
tidak sia-sia nanti.”
Gunarto : (Bergerak mendekati Ibu, lalu bicara dengan lembut) “Sebenarnya Ibu
mau mengatakan kalau penghasilanku tidak cukup untuk membiayai
makan kita sekeluarga kan, Bu?” (Diam sejenak. Pause) “Bagaimana
dengan lamaran itu, Bu?”
Ibu : “Mintarsih nampaknya belum mau bersuami, Narto.. Tapi dari pihak orang
tua anak lelaki itu terus mendesak Ibu saja..”
Gunarto : “Apa salahnya, Bu? Mereka uangnya banyak!”
Ibu : “Ah… uang, Narto?”
Gunarto : (Sadar karena tadi berbicara salah) “Maaf Bu… bukan maksud aku mau
menjual adik sendiri” (lalu bicara dengan dirinya sendiri). “Ah… aku jadi
mata duitan… yah mungkin karena hidup yang penuh penderitaan ini…”
Ibu : (Menerawang) “Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan
kekayaan yang sangat banyak, mewah di waktu kami menikah dulu.
Tetapi kemudian, seperti pokok yang ditiup angin kencang, buahnya
gugur karena…” (suasana sejenak hening, penuh tekanan bathin, suara
ibu lemah tertekan) “Uang Narto! Tidak Narto, tidak… aku tidak mau
terkena dua kali, aku tidak mau adikmu bersuamikan seorang hartawan,
tidak… cukuplah aku saja sendiri. Biarlah ia hidup sederhana, Mintarsih
mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti, mesti…”
Gunarto : (Coba menghibur Ibu) “Tapi kalau bisa kedua-duanya sekaligus Bu? Ada
harta ada budi.”
2
Ibu : :”Di manalah dicari, Narto? Adik kau Mintarsih hanyalah seorang gadis
biasa. Apalagi sekarang ini keadaan kita susah? Kita tidak punya uang di
Gunarto rumah? Sebentar hari lagi uang simpananku yang terakhir pun akan
habis pula.”
Ibu
Gunarto : (Diam berfikir, kemudian kesal) “Semua ini adalah karena ulah Ayah!
Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah
Ibu merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan
ini, Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras
Gunarto lagi berusaha!” (Hening sejenak. Pause. Lalu bicara kepada dirinya
Ibu sendiri) “Kalau saja aku punya uang sejuta…”
Gunarto
: “Buat perkawinan Mintarsih, lima ratus ribu rupiah saja sudah
Ibu cukup,Narto.” (Ibu coba tersenyum) “Sesudah Mintarsih nanti, datanglah
Gunarto
Ibu giliranmu Narto…”
Gunarto : (Kaget) “Aku kawin, Bu? Belum bisa aku memikirkan kesenangan untuk
Ibu
diriku sendiri sekarang ini, Bu. Sebelum saudara-saudaraku senang dan
Gunarto Ibu ikut mengecap kebahagiaan atas jerih payahku nanti Bu.”
SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH KERAS SEDIKIT.
: “Aku sudah merasa bahagia kalau kau bahagia, Narto. Karena nasibku
bersuami tidak baik benar.” (Kembali fikirannya menerawang) “Dan kata
orang bahagia itu akan turun kepada anaknya.” (Pause. Lalu terdengar
suara bedug takbir lebih keras lagi. ibu mulai bicara lagi) “Malam hari raya
sewaktu ia pergi itu, tak tahu aku apa yang mesti aku kerjakan? Tetapi…”
KEMBALI SEDIH DAN HARU
: (Tampak kesal lalu mengalihkan pembicaraan) “Maimun lambat benar
pulang hari ini, Bu?”
: “Barangkali banyak yang harus dikerjakannya? Karena katanya mungkin
bulan depan dia naik gaji.”
: “Betul Bu itu? Maimun memang pintar, otaknya encer. Tapi karena kita
tak punya uang, kita tak bisa membiayai sekolahnya lebih lanjut lagi. Tapi
kalau ia mau bekerja keras, tentu ia akan menjadi orang yang berharga di
masyarakat!”
: (Agak mengoda) “Narto… siapa gadis yang sering ku lihat bersepeda
bersamamu?”
: (Kaget. Gugup) “Ah…dia itu cuma teman sekerja, Bu.”
: “Tapi Ibu rasa pantas sekali dia buat kau, Narto. Meskipun Ibu lihat dia
bukanlah orang yang rendah seperti kita derajatnya. Tapi kalau kau
suka…”
: (Memotong bicara Ibu) “Ah… buat apa memikirkan kawin sekarang, Bu?
Mungkin kalau sepuluh tahun lagi nanti kalau sudah beres.”
: “Tapi kalau Mintarsih nanti sudah kawin, kau mesti juga Narto? Kau kan
lebih tua.” (Diam sebentar lalu terkenang) “Waktu Ayahmu pergi pada
malam hari raya itu, ku peluk kalian anak-anakku semuanya, hilang
akalku…”
: “Sudahlah Bu. Buat apa mengulang kaji lama?” MASUK MAIMUN DIA
TAMPAK KELIHATAN SENANG.
B. Mengucapkan Dialog dengan Lafal yang Jelas
Seorang pemeran tokoh dalam drama harus dapat mengucapkan dialog dengan lafal
yang jelas. Pemeran dikatakan mampu membaca dengan jelas apabila setiap suku kata yang
diucapkan dapat terdengar jelas oleh semua penonton. Selain jelas, pemain harus mampu
3
mengucapkan dialog secara wajar, tidak seperti dibuat-buat. Penghayatan masing-masing
tokoh yang diperankan harus dapat ditangkap dan dimaknai oleh penonton.
Lakukanlah Latihan Berikut secara berkelompok!
1. Ucapkanlah masing-masing tiga kali deretan kata-kata berikut dengan lafal yang tepat!
Mulailah dari kecepatan pelan, kemudian agak cepat, dan cepat!
Mama-papa-baba-wawa-fafa-vava
Dada-tata-nana-data-dana-nata
Kaki-koko-kakaku-luka-kaku-kau
Beras-peras-caci-cicak-cek-cek-cek
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun
karena angina pada kemuning
ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih
kembali menampakkan bia sakti yang jauh
(Dikutip dari Asmaradhana-Gunawan Mohammad)
Beri daku sepucuk gitar bosanova dan terikan gembala
Beri daku ranah tidak berpagar luas tak terkata namanya Sumba
(Dikutip dari Beri Daku Sumba-Taufiq Ismail)
2. Bacalah Kutipan 2 naskah drama “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail berikut ini
dengan lafal yang tepat dan jelas sesuai dengan suasana dan karakter tokohnya!
Kutipan 2
Maimun : (Setelah meletakkan tas kerjanya lalu bicara) ”Lama menunggu, Bu? Bang?”
Gunarto : “Ah tidak…”
Ibu : “Agak lambat hari ini, Mun? Di mana kau berbuka puasa tadi?”
Maimun : “Kerja lembur, Bu. Tadi aku berbuka puasa bersama teman di kantor. Tapi
biarlah, buat perkawinan Mintarsih nanti. Eh, mana dia Bu?”
Ibu : “Mengantarkan jahitan…”
Maimun : (Menghampiri Gunarto lalu duduk di sebelahnya) “Bang, ada kabar aneh,
nih! Tadi pagi aku berjumpa dengan seorang tua yang serupa benar dengan
Gunarto : Ayah?”
Maimun : (Tampak tak terlalu mendengarkan) “Oh, begitu?”
“Waktu Pak Tirto berbelanja di sentral, tiba-tiba ia berhadapan dengan
Gunarto : seorang tua kira-kira berumur enam puluh tahun. Ia kaget juga?! Karena
orang tua itu seperti yang pernah dikenalnya? Katanya orang tua itu serupa
benar dengan Raden Saleh. Tapi kemudian orang itu menyingkirkan diri lalu
menghilang di kerumunan orang banyak!”
“Ah, tidak mungkin dia ada di sini…”
4
Ibu : (Setelah diam sebentar) “Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau ke
luar negeri. Sudah dua puluh tahun semenjak dia pergi pada malam hari
Maimun raya seperti ini.”
Ibu
: “Ada orang mengatakan dia ada Singapur, Bu?”
Gunarto : “Tapi itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu kata orang dia
Ibu
mempunyai toko yang sangat besar di sana. Dan kata orang juga yang
Maimun pernah melihat, hidupnya sangat mewah.”
Ibu : (Kesal) “Ya! Tapi anaknya makan lumpur!”
: (Seperti tidak mendengar Gunarto) “Tapi kemudian tak ada lagi sama sekali
Gunarto kabar apa pun tentang Ayahmu. Apalagi sesudah perang sekarang ini, di
Maimun mana kita dapat bertanya?”
Ibu : “Bagaimana rupa Ayah yang sebenarnya, Bu?”
Gunarto
Maimun : “Waktu ia masih muda, ia tak suka belajar. Tidak seperti kau. Ia lebih suka
Gunarto berfoya-foya. Ayahmu pada masa itu sangat disegani orang. Ia suka
Maimun meminjamkan uang ke sana ke mari. Dan itulah…”
Gunarto
Maimun : (Kesal lalu mengalihkan pembicaraan) “Selama hari raya ini berapa hari kau
Gunarto libur, Mun?”
Maimun
Gunarto : “Dua hari, Bang.”
Maimun : “Oh ya! Hampir lupa masih ada makanan yang belum Ibu Taruh dimeja.”
Ibu IBU LALU MASUK KEDALAM
: (Setelah diam sebentar) “Pak Tirto bertemu dengan orang tua Itu kapan,
Gunarto
Maimun Mun?”
: “Kemarin sore, Bang. Kira-kira jam setengah tujuh.”
Gunarto
: “Bagaimana pakaiannya?”
: “Tak begitu bagus lagi katanya. Pakaiannya sudah compang-camping dan
kopiahnya sudah hampir putih.”
: (Acuh saja) “Oh begitu?”
: “Kau masih ingat rupa Ayah, Bang?”
: (Cepat) “Tidak ingat lagi aku.”
: “Semestinya Abang ingat, karena umur Abang waktu itu sudah delapan
tahun. Sedangkan aku saja masih ingat, walaupun samar-samar.”
: (Agak kesal) “Tidak ingat lagi aku. Sudah lama aku paksa diriku untuk
melupakannya.”
: (Terus bicara) “Pak Tirto banyak cari tanya tentang Ayah.” IBU KELUAR
KEMBALI MEMBAWA MAKANAN LALU BERGABUNG LAGI DENGAN
MEREKA.
: “Ya, kata orang Ayahmu seorang yang baik hati.” (Menerawang) “Jika ia
berada di sini sekarang, di rumah ini, besok hari raya, tentu ia bisa
bersenang-senang dengan anak-anaknya…”
: (Mengalihkan pembicaraan) “Eh, Mintarsih seharusnya sudah pulang
sekarang… jam berapa sekarang ini?”
: “Bang Narto. Ada kabar aneh lagi nih! Tadi pagi aku berkenalan dengan
orang India. Dia mengajarkan aku bahasa Urdu, dan aku memberikan
pelajaran bahasa Indonesia kepada dia!
: “Baguslah itu. Kau memang harus mengumpulkan ilmu sebanyak-
banyaknya. Supaya nanti dapat dibanggakan kalau kau bisa jadi orang yang
sangat berguna bagi masyarakat! Jangan seperti aku ini, hanya lulusan
sekolah rendah. Aku tidak pernah merasakan atau bisa lebih tinggi lagi,
karena aku tidak punya Ayah. Tidak ada orang yang mau membantu aku.
Tapi kau Maimun, yang sekolah cukup tinggi, bekerjalah sekuat tenagamu!
5
Aku percaya kau pasti bisa memenuhi tuntutan zaman sekarang ini!” MASUK
MINTARSIH SEORANG ANAK GADIS YANG TAMPAK RIANG. IA
MEMBAWA SESUATU YANG TAMPAKNYA UNTUK KEPERLUAN HARI
RAYA BESOK.
C. Membaca Dialog Naskah dengan Tekanan yang Tepat
Tekanan menunjukkan kepada penonton bagian-bagian kalimat yang
dipentingkan. Ada tiga macam tekanan pembacaan dialog drama.
1. Tekanan dinamik digunakan untuk mengucapkan kata atau kelompok kata tertentu
dalam kalimat sehingga terdengar lebih menonjol daripada bagian kalimat yang
lain, misalnya, Perjuangan tidak dihitung dengan dengan untung rugi. Bahkan,
perjuangan menuntut kerelaan kita mengabaikan pertalian batin ibu dengan anak,
dan orang-orang yang kita cintai.
2. Tekanan tempo digunakan dengan memberikan tekanan kata atau kelompok kata
dalam kalimat dan memperlambat pengucapannya untuk mendapatkan perhatian
penonton, misalnya, Perjuangan tidak di-hi-tung de-ngan de-ngan un-tung ru-gi.
Bahkan, perjuangan menuntut kerelaan kita mengabaikan pertalian batin ibu
dengan anak, dan orang-orang yang kita cintai.
3. Tekanan nada diucapkan dengan membuat variasi nada sehingga menimbulkan
kesan makna yang berbeda-beda. Kalimat Perjuangan tidak dihitung dengan
untung rugi. Bahkan, perjuangan menuntut kerelaan kita mengabaikan pertalian
batin ibu dengan anak, dan orang-orang yang kita cintai dapat diucapkan dengan
berbagai variasi nada untuk menimbulkan kesan makna nasihat, ungkapan
kemaharan kepada tokoh lain, atau perenungan.
Bacalah Kutipan 3 naskah drama “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail berikut ini
dengan seksama! Selanjutnya, kerjakan tugas berikut ini!
1. Tandailah pembacaan tekanan dalam dialog kutipan naskah drama berikut ini yang
meliputi tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo!
2. Bacalah secara bergantian sesuai dengan karakter dan peran tokohnya!
Kutipan 3
Mintarsih : “Ah…. sudah berbuka puasa semuanya?”
Ibu : “Tadi kami menunggu kau, tapi lama benar?” (Mintarsih bergerak
Mintarsih mendekati jendela lalu melongokkan kepalanya melihat keluar)
Gunarto
Mintarsih “Makanlah… Apa yang kau lihat di luar?”
: “Waktu saya lewat di situ tadi…” (Menoleh melihat gunartoyang tampak
Maimun
Mintarsih acuh saja) “Bang Narto… dengarlah dulu…”
: (Tenang) “Ya, aku dengar.”
Maimun : “Ada orang tua di ujung jalan ini. Dari jembatan sana melihat lihat ke arah
Gunarto rumah kita. Nampaknya seperti seorang pengemis.” (Semua diam) “Yah…
kenapa semua jadi diam?” GUNARTO TERTUNDUK MEMBISU
: (Dengan cepat) “Orang tua? Bagaimana rupanya?”
: “Hari agak gelap. Jadi tidak begitu jelas kelihatannya… tapi orangnya…”
: TINGGI ATAU PENDEK TERGANTUNG PEMERAN, SUARA BEDUG
AGAK KERAS TERDENGAR.
: (Bangkit dari duduknya lalu melihat ke jendela) “Coba ku lihat!”
: KEMUDIAN MAIMUN KELUAR TAK LAMA MASUK KEMBALI, LALU
MELONGOKKAN KEPALANYA KE JENDELA LAGI
: (Menoleh sedikit kepada maimun) “ Siapa Mun?”
6
Maimun : “Tak ada orang kelihatannya?!” (Duduk kembali)
Ibu : (Tampak sedih) “Malam hari raya seperti ini ia berlalu dulu
Gunarto
Ibu itu…” (Terkenang) “Mungkin …”
: (Agak kesal) “Ah Bu, lupakan sajalah apa yang sudah berlalu itu.”
R Saleh : SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN TERDENGAR AGAK JELAS KETIKA
Ibu
SUASANA HENING, SAMBIL MENUNGGU DIALOG.
R Saleh : “Waktu kami masih sama-sama muda, kami sangat berkasih kasihan.
Ibu
R Saleh Sejelek-jelek Ayahmu, banyak juga kenangan-kenangan di masa itu yang
Ibu tak dapat Ibu lupakan. Nak, mungkin ia kembali juga?”
R Saleh SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN MAKIN SAYUP-SAYUP LALU
Ibu TERDENGAR SUARA ORANG MEMBERI SALAM DARI PINTU LUAR.
Maimun : “Assalamualaikum, assalamualaikum… Apa di sini rumahnya Nyonya
R Saleh
Mintarsih Saleh?”
R Saleh : “Astagfirullah! Seperti suara Ayahmu, Nak? Ayahmu pulang, Nak! “
Ibu IBU BERGERAK MENDEKATI PINTU RUMAH LALU MEMBUKA PINTU
R Saleh LEBIH LEBAR. DAN NAMPAK RADEN SALEH BERDIRI DI
Ibu HADAPANNYA. SUASANA JADI HENING TIBA-TIBA. HANYA
TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP
Mintarsih NAMUN JELAS TERDENGAR.
: (Setelah lama berpandangan) “Tina? Engkau Tina?”
: (Agak gugup) “Saleh? Engkau Saleh? Engkau banyak berubah, Saleh.”
: (Tersenyum malu) “Ya aku berubah, Tina. Dua puluh tahun perceraian
merubah wajahku.” (Kemudian memandangi anak-anaknya satu
persatu) “Dan ini tentunya anak-anak kita semua?”
: “Ya, memang ini adalah anak-anakmu semua. Sudah lebih besar dari
Ayahnya. Mari duduk, dan pandangilah mereka.”
: (Ragu) “Apa? Aku boleh duduk, Tina?” MINTARSIH MENARIK KURSI
UNTUK MEMPERSILAHKAN RADEN SALEH DUDUK.
: “Tentu saja boleh. Mari…” (Menuntun raden saleh sampai
ke kursi) “Ayahmu pulang, Nak.”
: (Gembira lalu berlutut di hadapan Raden Saleh) ”Ayah, aku Maimun.”
: “Maimun? Engkau sudah besar sekarang, Nak. Waktu aku pergi dulu,
engkau masih kecil sekali. Kakimu masih lemah, belum dapat
berdiri.” (Diam sebentar lalu melihat Mintarsih) “Dan Nona ini, siapa?”
: “Saya Mintarsih, Ayah.” (Lalu mencium tangan ayahnya)
: “Ya, ya… Mintarsih. Aku dengar dari jauh bahwa aku mendapat seorang
anak lagi. Seorang putri”. (Memandang wajah mintarsih) “Engkau cantik,
Mintarsih. Seperti Ibumu di masa muda.” (Ibu tersipu malu) “Aku senang
sekali. Tak tahu apa yang harus ku lakukan?”
: “Aku sendiri tidak tahu di mana aku harus memulai berbicara? Anak-anak
semuanya sudah besar seperti ini. Aku kira inilah bahagia yang paling
besar.”
: (Tersenyum pahit) “Ya, rupanya anak-anak dapat juga besar walaupun
tidak dengan Ayahnya.”
: “Mereka semua sudah jadi orang pandai sekarang. Gunarto bekerja di
perusahaan tenun. Dan Maimun tak pernah tinggal kelas selama
bersekolah. Tiap kali keluar sebagai yang pertama dalam ujian. Sekarang
mereka sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Dan Mintarsih dia
ini membantu aku menjahit.”
: (Malu) “Ah, Ibu.”
7
R Saleh : (Sambil batuk-batuk) “Sepuluh tahun aku menjadi seorang saudagar besar
di Singapur. Aku menjadi kepala perusahaan dengan pegawai berpuluh-
puluh orang. Tapi malang bagiku, toko itu habis terbakar. Lalu seolah-olah
seperti masih belum puas menyeret aku ke lembah kehancuran, saham-
saham yang ku beli merosot semua nilainya sehabis perang ini. Sesudah
itu semua segala yang kukerjakan tak ada lagi yang sempurna. Sementara
aku sudah mulai tua. Lalu tempat tinggalku, keluargaku, anak isteriku
tergambar kembali di depan mata dan jiwaku. Kalian seperti mengharapkan
kasihku.” (Batuk-batuk. Lalu memandang Gunarto) “Maukah engkau
memberikan air segelas buat ku Gunarto? Hanya engkau yang tidak…”
D. Mengucapkan Dialog Naskah dengan Memperhatikan Kesesuaian Irama dan Nada
Pembacaan dengan Tahap Perkembangan Konflik.
Pemeran harus mempertikan irama dan nada pengucapan dialog seiring dengan
tahapan perkembangan konflik yang dialami tokoh. Pada tahap awal, dialog diucapkan
dengan irama yang pelan dan nada sedang. Ketika konflik yang dialami tokoh meruncing
dan suasana menjadi tegang, irama pengucapan dialog dialami tokoh meruncing dan
suasana menjadi tegang, irama pengucapan dialog berubah secara bertahap menjadi
semakin cepat dan nada pun semakin tinggi. Dengan begitu, pemeran hendaknya mampu
mengatur nafas, sehingga irama pengucapan sesuai dengan isi dialog dan pengaturan
suara pun menjadi teratur.
Bacalah Kutipan 4 naskah drama “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail berikut dengan
seksama! Selanjutnya, kerjakan tugas berikut ini!
1. Bacalah sesuai dengan sesuai dengan perkembangan konflik dalam naskah tersebut!
2. Berlatihlah membaca sesuai dengan peran masing-masing!
3. Lakukan berulang-ulang, sehingga dialog yang kalian ucapkan sesuai dengan watak
tokoh yang kalian perankan!
4. Tingkatkan latihan kalian dengan berusaha menghafal dialog sesuai peran masing-
masing dan tambahkan latihan akting!
5. Berkonsentrasilah dalam latihan! Hayati peran masing-masing!
Kutipan 4
Ibu : (Gelisah serba salah) “Narto, Ayahmu yang berbicara itu. Mestinya engkau
R Saleh gembira, Nak. Sudah semestinya Ayah berjumpa kembali dengan anak-
anaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.”
Maimun : “Kalau Narto tak mau, engkaulah Maimun. Maukah kau memberikan Ayah
air segelas?”
Gunarto : “Baik, Ayah.” MAIMUN BERGERAK HENDAK MENGAMBILKAN AIR
Ibu MINUM, TAPI NIATNYA TERHENTI OLEH TEGURAN KERAS GUNARTO.
Gunarto : “Maimun! Kapan kau mempunyai seorang Ayah!”
: “Gunarto!” (Sedih, gelisah dan mulai menangis)
Ibu : (Bicara perlahan tapi pahit) “Kami tidak mempunyai Ayah, Bu. Kapan kami
Gunarto mempunyai seorang Ayah?”
: (Agak keras tapi tertahan) “Gunarto! Apa katamu itu!”
: “Kami tidak mempunyai seorang Ayah kataku. Kalau kami mempunyai
Ayah, lalu apa perlunya kami membanting tulang selama ini? Jadi budak
orang! Waktu aku berumur delapan tahun, aku dan Ibu hampir saja terjun
ke dalam laut, untung Ibu cepat sadar. Dan jika kami mempunyai Ayah, lalu
apa perlunya aku menjadi anak suruhan waktu aku berumur sepuluh
8
Maimun tahun? Kami tidak mempunyai seorang Ayah. Kami besar dalam keadaan
Gunarto sengsara. Rasa gembira di dalam hati sedikit pun tidak ada. Dan kau
Maimun. Lupakah engkau waktu menangis di sekolah rendah dulu? Karena
Ibu kau tidak bisa membeli kelereng seperti kawan-kawanmu yang lain. Dan
Maimun kau pergi ke sekolah dengan pakaian yang sudah robek dan tambalan
Mintarsih sana-sini? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang Ayah!
Kalau kita punya seorang Ayah, lalu kenapa hidup kita melarat selama ini!”
IBU DAN MINTARSIH MULAI MENANGIS DAN MAIMUN MERASA
SEDIH.
: “Tapi Bang Narto. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?”
: (Sikapnya dingin, namun keras) “Ibu seorang perempuan. Waktu aku kecil
dulu, aku pernah menangis di pangkuan Ibu karena lapar, dingin dan
penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu,
Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan
orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku
berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi
makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh
pertolongan orang lain! Yah.. orang yang meninggalkan anak dan isterinya
dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga,
meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku
berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat di
ruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri
dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya ke dalam lembah
kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada
kewajibannya karena nafsunya telah membawanya ke pintu neraka!
Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-
sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama
Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat
tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah
musuhku yang sebesar-besarnya!”
: “Gunarto!” (Mintarsih dan Ibu menangis)
: “Bang!”
: “Bang!” KALAU MUNGKIN DIALOG MEREKA BERTIGA TADI
DIUCAPKAN BERBARENGAN
Kegiatan 2
Menganalisis Naskah Drama dan Merancang Pementasan
Kegiatan yang sangat penting dalam pementasan drama adalah menganalisis
naskah dan merancang pementasan. Kegiatan utama menganalisis naskah meliputi
analisis tokoh dan penokohan serta penentuan personel pengisi pemeran tokoh.
Kegiatan utama merancang pementasan meliputi rancangan tatapanggung dan
penentuan awak produksi.
A. Menganalisis Tokoh dan Penokohan dalam Naskah Drama
Seorang pemeran dalam pementasan drama harus memahami ciri-ciri tokoh yang akan
diperankannya. Ciri tokoh dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu: (1) ciri-ciri
biologis tokoh, (jenis kelamin, usia, penampilan fisik, dan kondisi kesehatan tokoh), (2)
ciri sosiologis (pekerjaan, suku, kelas sosial, tingkat pendidikan, latar belakang
keluarga), (3) ciri psikologis tokoh (keyakinan, pandangan hidup, cita-cita hidup,
9
motivasi, dan keadaan batin tokoh secara umum). Selain memahami tokoh, seorang
pemeran juga harus memahami tema dan pesan ceritanya.
Bacalah kembali Kutipan 5 naskah Ayahku Pulang berikut dan kerjakan tugas yang
menyertainya!
Kutipan 5
Maimun : (Dengan suara agak sedih) “Tapi, Bang. Lihat Ayah sudah seperti ini
Gunarto sekarang. Ia sudah tua Bang Narto.”
Maimun : “Maimun, sering benar kau ucapkan kalimat “Ayah” kepada orang yang
Gunarto tidak berarti ini? Cuma karena ada seorang tua yang masuk ke rumah ini
Ibu dan ia mengatakan kalau ia Ayah kita, lalu kau sebut pula ia Ayah kita?
Gunarto Padahal dia tidak kita kenal. Sama sekali tidak Maimun. Coba kau
perhatikan apakah kau benar-benar bisa merasakan kalau kau sedang
R Saleh berhadapan dengan Ayahmu?”
Maimun : “Bang Narto, kita adalah darah dagingnya. Bagaimanapun buruknya
Gunarto kelakuan dia kita tetap anaknya yang harus merawatnya.”
Maimun
Gunarto : “Jadi maksudmu ini adalah kewajiban kita? Sesudah melepaskan hawa
nafsunya di mana-mana, lalu sekarang ia kembali lagi ke sini karena sudah
tua dan kita harus memeliharanya? Huh, enak betul!”
: (Bingung, serba-salah) “Gunarto, sampai hati benar kau berkata begitu
terhadap Ayahmu. Ayah kandungmu.
: (Cepat) “Ayah kandung? Memang Gunarto yang dulu pernah punya Ayah,
tapi dia sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu. Dan Gunarto
yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk oleh Gunarto sendiri! Aku
tidak pernah berhutang budi kepada siapa pun di atas dunia ini. Aku
merdeka, semerdeka merdekanya, Bu!” SUARA BEDUG DAN TAKBIR
BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TANGIS IBU DAN MINTARSIH.
: (Di antara batuknya) “Aku memang berdosa dulu itu. Aku mengaku. Dan
itulah sebabnya aku kembali pada hari ini. Pada hari tuaku untuk
memperbaiki kesalahan dan dosaku. Tapi ternyata sekarang…. yah, benar
katamu Narto. Aku seorang tua dan aku tidak bermaksud untuk
mendorong-dorongkan diri agar diterima di mana tempat yang aku tidak
dikehendaki.” (Berfikir, sementara Maimun tertunduk diam dan Mintarsih
menangis di pelukan ibunya) “Baiklah aku akan pergi. Tapi tahukah kau
Narto, bagaimana sedih rasa hatiku. Aku yang pernah dihormati, orang
kaya yang memiliki uang berjuta-juta banyaknya, sekarang diusir sebagai
pengemis oleh seorang anak kandungnya sendiri… tapi biarlah sedalam
apa pun aku terjerumus ke dalam kesengsaraan, aku tidak akan
mengganggu kalian lagi.” (Berdiri hendak pergi, tetap batuk-batuk)
: (Menahan) “Tunggu dulu, Ayah! Jika Bang Narto tidak mau menerima
Ayah, akulah yang menerima Ayah. Aku tidak perduli apa yang terjadi!”
: “Maimun! Apa pernah kau menerima pertolongan dari orang tua seperti
ini? Aku pernah menerima tamparan dan tendangan juga pukulan dari dia
dulu! Tapi sebiji zarah pun, tak pernah aku menerima apa-apa dari dia!”
: “Jangan begitu keras, Bang Narto.”
: (Marah, dengan cepat) “Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang
membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari
penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-
benarnya adalah aku!”
10
Mintarsih : “Engkau menyakiti hati Ibu, Bang.” (Sambil tersedu-sedu)
Gunarto : “Kau ikut pula membela-bela dia! Sedangkan untuk kau, aku juga yang
bertindak menjadi Ayahmu selama ini! Baiklah, peliharalah orang itu jika
memang kalian cinta kepadanya! Mungkin kau tidak merasakan dulu pahit
getirnya hidup karena kita tidak punya seorang Ayah. Tapi sudahlah, demi
kebahagiaan saudara-saudaraku, jangan sampai menderita seperti aku ini.”
IBU DAN MINTARSIH TERUS MENANGIS, SEMENTARA MAIMUN DIAM
KAKU, SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERUS BERSAHUT-SAHUTAN.
LALU TERDENGAR SUARA GEMURUH PETIR DAN HUJAN PUN
TURUN.
1. Lengkapilah kolom peran dengan pilihan: adik laki-laki Gunarto atau anak kedua
Raden Saleh dan Tina, adik perempuan Gunarto dan Maimun atau anak bungsu
Raden Saleh dan Tina, anak laki-laki tertua Raden Saleh dan Tina, ayah, Ibu atau
isteri Raden Saleh.
2. Lengkapilah kolom karakter dengan pilihan (bisa lebih dari satu): berpendirian kuat,
keibuan, keras kepala, mudah putus asa, penyabar, penyayang, penyayang,
penyayang, rapuh, lemah lembut, santun, santun, tenang, tidak setia.
Nama Tokoh Peran Karakter
Raden Saleh
Tina
Gunarto
Maimun
Mintarsih
B. Menentukan Pemeran Tokoh dalam Naskah Drama
Setelah dilakukan analisis tokoh dan penokohan drama, langkah berikutnya adalah
menentukan pemain yang memerankan tokoh sesuai dengan karakter yang telah
dianalisis. Penentuan pemeran didasarkan pada analisis biologis, sosiologis, dan
psikologis tokoh.
Untuk menentukan pemeran tokoh keseluruhan naskah drama Ayahku Pulang, bacalah
kutipan 6 berikut ini dan kerjakan tugas yang menyertainya!
Kutipan 6
R Saleh : “Aku mengerti… bagiku tidak ada jalan untuk kembali. Jika aku kembali
aku hanya mengganggu kedamaian dan kebahagiaan anakku saja. Biarlah
Maimun aku pergi. Inilah jalan yang terbaik. Tidak ada jalan untuk kembali. RADEN
Mintarsih SALEH BERGERAK PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK, SEMENTARA
R Saleh MAIMUN MENGIKUTI DARI BELAKANG.
: “Ayah, apa Ayah punya uang? Ayah sudah makan?”
: (Dengan air mata tangisan) “Ke mana Ayah akan pergi sekarang?”
: “Tepi jalan atau dalam sungai. Aku cuma seorang pengemis sekarang.
Seharusnya memang aku malu untuk masuk ke dalam rumah ini yang
kutinggalkan dulu. Aku sudah tua lemah dan sadar langkahku terayun
11
Ibu kembali. Yah, sudah tiga hari aku berdiri di depan sana, tapi aku malu tak
sanggup sebenarnya untuk masuk ke sini. Aku sudah tua, dan…” RADEN
Mintarsih SALEH MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU LALU
KELUAR DENGAN PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK. BERJALAN
Maimun LEMAH DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP
Mintarsih MASIH TERDENGAR, SEMENTARA HUJAN MULAI TURUN DENGAN
Gunarto DERAS.
: (Sambil menangis) “Malam hari raya dia pergi dan datang untuk pergi
Maimun kembali. Seperti gelombang yang dimainkan oleh angin topan. Demikianlah
nasib Ibu, Nak.”
Gunarto : (Sambil menangis menghampiri Gunarto, lalu bergerak
kedekat jendela) “Bang ... Bagaimanakah Abang? Tidak dapatkah Abang
Mintarsih
Ibu memaafkan Ayah? Besok hari raya, sudah semestinya kita saling
Maimun memaafkan. Abang tidak kasihan? Ke mana dia akan pergi setua itu?”
Gunarto HUJAN SEMAKIN DERAS
Maimun : (Kesal) “Tidak ada rasa belas kasihan. Tidak ada rasa tanggung jawab
Gunarto terhadap adik-adiknya yang tidak berayah lagi.”
Maimun : “Dalam hujan lebat seperti ini, Abang suruh dia pergi. Dia Ayah kita Bang.
Gunarto Ayah kita sendiri!
Ibu : (Memandang adiknya) “Janganlah kalian lihat aku sebagai terdakwa.
Gunarto Mengapa kalian menyalahkan aku saja? Aku sudah hilangkan semua rasa
itu! Sekarang kalian harus pilih, dia atau aku!”
: (Tiba-tiba bangkit marahnya) “Tidak! Aku akan panggil kembali Ayahku
pulang! Aku tidak perduli apa yang Abang mau lakukan? Kalau perlu bunuh
saja aku kalau Abang mau! Aku akan panggil Ayahku! Ayahku pulang!
Ayahku mesti pulang!” MAIMUN LARI KELUAR RUMAH, SEMENTARA
HUJAN MAKIN LEBAT DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN
SAYUP-SAYUP TERDENGAR.
: “Maimun kembali!” GUNARTO CEPAT HENDAK MENYUSUL MAIMUN
TAPI TIDAK JADI LALU PERLAHAN-LAHAN DUDUK KEMBALI. IBU DAN
MINTARSIH MENANGIS. SUASANA HENING SEJENAK HANYA
TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SERTA GEMURUH
HUJAN. TAK BERAPA LAMA TAMPAK MAIMUN MASUK KEMBALI.
NAMUN IA HANYA MEMBAWA PAKAIAN DAN KOPIAH AYAHNYA
SAJA. MAIMUN KELIHATAN MENANGIS.
: “Mana Ayah, Bang?”
: “Mana Ayahmu?”
: “Tidak aku lihat. Hanya kopiah dan bajunya saja yang kudapati …”
: “Maimun, di mana kau dapatkan baju dan kopiah itu?”
: “Di bawah lampu dekat jembatan…”
: “Lalu Ayah? Bagaimana dengan Ayah? Di mana Ayah?”
: “Aku tidak tahu…”
: :(Kaget dan sadar) “Jadi, jadi Ayah meloncat ke dalam sungai!”
: (Menjerit) “Gunarto….!”
: (Berbicara sendiri sambil memeggang pakaian dan kopiah ayahnya.
tampak menyesal) “Dia tak tahan menerima penghinaan dariku. Dia yang
biasa dihormati orang, dan dia yang angkuh, yah, angkuh seperti diriku
juga… Ayahku. Aku telah membunuh Ayahku. Ayahku sendiri. Ayahku
pulang, Ayahku pulang…” GUNARTO BERTERIAK MEMANGGIL-
MANGGIL AYAHNYA LALU LARI KELUAR RUMAH DAN TERUS
12
BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA. IBU MINTARSIH DAN
MAIMUN BERBARENGAN BERTERIAK MEMANGGIL GUNARTO
“GUNARTO….!!” SUARA BEDUG BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI
TAKBIR. SEMENTARA HUJAN MASIH SAJA TURUN DENGAN
DERASNYA. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN MATI
SELESAI
Kutipan 6 naskah drama “Ayahku Pulang” tersebut, merupakan bagian penyelesain
yang berarti gambaran perwatakan tokoh sudah tampak semua. Coba tentukan nama-
nama pemeran yang tepat di antara anggora kelas kalian! Isikan dalam kolom berikut
ini!
Rancangan Pemeran Drama
Raden Saleh :
Tina :
Gunarto :
Maimun :
Mintarsih :
C. Menganalisis dan Merancang Tatapanggung
Mengnalisis dan merancang tatapanggung sangat penting dalam proses pementasan
drama. Setelah diketahui babak dan rentang waktu pementasan, jumlah pemain, dan genre
dramanya, perlu dilakukan rancangan pementasan di panggug, yakni rancangan busana
dan rias para pemain, rancangan iringan musik dan tatalampu, dan rancangan properti
yang diperlukan dan penataannya!
Isilah rancangan busana dan rias para pemain, rancangan iringan musik dan tatalampu,
dan rancangan properti dan penataannya untuk pementasan naskah Ayahku Pulang
dalam kolom berikut ini!
Judul : Ayahku Pulang
Penulis Naskah : Usmar Ismail
: 1 babak
Jumlah Babak : 50 menit
:5
Waktu
dramatik
Jumlah Pemain :
Genre
Rancangan
Busana dan
Rias
Rancangan :
Iringan Musik
Rancangan Tata
Lampu
13
Rancangan :
Properti dan
Tata panggung
D. Menganalisis dan Menentukan Awak Produksi Pementasan
Awak produksi yang berperan dalam pementasan dan harus diisi dengan personel
yang tepat adalah sutradara, asisten sutradara, stage manager, properti dan dekorasi,
penata busana dan rias, dan penata musik dan lampu.
Isilah rancangan personel awak produksi pementasan drama Ayahku Pulang dalam
kolom berikut ini! Pilih teman kalian yang cocok untuk melakukan tugas dan tanggung
jawab tersebut!
Awak Produksi
Sutradara :
Asisten Sutradara :
Stage Manager :
Properti dan Dekorasi :
Penata Busana dan Rias :
Penata Musik dan Lampu :
Kegiatan 3
Mementaskan Drama
Kegiatan puncak produksi drama adalah pementasan drama. Kegiatan pokok yang
harus dilakukan adalah menyiapkan naskah; menentukan pemain dan awak produksi
serta melakukan latihan; merancang panggung, kostum dan rias pemeran, serta
peralatan pentas; dan mementaskan drama.
A. Menyiapkan Naskah
Langkah awal dalam menyiapkan kegiatan pementasan drama adalah memilih
naskah. Pertimbangan pemilihan naskah drama antara lain: naskah mengandung tema
yang menarik, tingkat kesulitan naskah sesuai dengan kemampuan calon pemeran, dan
pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan kemampuan calon pemeran, dan pesan-
pesan yang disampaikan sesuai dengan latar belakang calon penonton.
Penentuan naskah drama yang akan dipentaskan didasarkan pada kriteria berikut
ini.
1. Apa tema yang terkandung dalam naskah tersebut?
2. Bagaimana keadaan latar yang dibutuhkan jika naskah tersebut dipentaskan?
3. Apakah naskah yang dipilih sesuai dengan kemampuan para pemeran?
4. Apakah naskah yang dipilih sesuai dengan latar belakang calon penonton?
5. Manfaat apa yang dapat dipetik oleh penonton jika menyaksikan pementasan itu?
6. Kapan dan di mana sebaiknya pementasan itu dilaksanakan?
Bentuklah kelompok dengan anggota 6-10 orang! Tentukan naskah drama yang akan
dipentaskan!
1. Pilihan pertama, kalian bisa menggunakan naskah drama yang sudah jadi, hasil karya
penulis drama terkenal, misalnya, Ayahku Pulang (Usmar Ismail), Catatan Harian
Seorang Penipu (WS Rendra), atau Domba-Domba Revolusi (B. Soelarto)
14
2. Pilihan kedua adalah membuat sendiri naskah drama, misalnya, dengan menggubah
fabel, legenda, cerpen, atau novel menjadi drama.
B. Menentukan Pemain dan Awak Produksi serta Melakukan Latihan
Dalam persiapan pementasan, setelah memilih naskah, langkah berikutnya adalah
melakukan pembagian tugas, dan berlatih membaca naskah. Kegiatan itu terdiri atas
kegiatan memilih sutradara, memilih pemeran (pemain), menetapkan tim kreatif (penata
panggung, penata kostum, penata suara, dan penata cahaya), dan menetapkan tim
manajemen pementasan.
Lakukan bersama kelompok!
1. Tentukan atau pilihlah sutradara, asisten sutradara, dan pemeran (pemain)!
2. Pilihlah tim kreatif (penata panggung, penata kostum, penata suara, dan penata
cahaya), dan menetapkan tim manajemen pementasan!
3. Susunlah jadwal latihan dengan rentang waktu yang cukup sebelum pementasan!
C. Merancang Panggung, Kostum dan Rias Pemeran, serta Peralatan Pentas
Persiapan selanjutnya adalah menyiapkan kostum yang sesuai untuk pemeran dan
menyiapkan peralatan pentas yang diperlukan. Untuk itu, dapat diciptakan kostum dan
panggung kreatif serta imajinatif dengan meanfaatkan barang-barang yang ada di rumah
atau di sekolah.
Lakukan bersama kelompok!
1. Gambarlah rancangan panggung dan peralatan panggung yang kalian perlukan!
2. Rancangan kostum dan rias pemeran untuk setiap tokoh dalam pementasan!
3. Kalian dapat menggunakan instrument musik, kaset, dan CD untuk memberikan latar
belakang suara pementasan.
D. Mementaskan Drama dan Menilai Pementasan
Tentukanlah jadwal pementasan untuk seluruh kelompok dalam kelas! Perhatikan dan
hargailan setiap pementasan yang dilakukan oleh setiap kelompok! Buatlah catatan atas
pementasan yang kalian saksikan! Laksanakan diskusi untuk membahas pementasan
tersebut! Gunakan rambu-rambu berikut!
1. Bagaimana kemampuan kelompok dalam menulis naskah?
2. Apakah akting dan dialog pemeran sesuai dengna watak tokoh yang diperankan?
3. Apakah pementasan tersebut berhasil menyampaikan pesan yang berguna bagi
penonton?
4. Apakah penggarapan aspek-aspek penunjang dalam pementasan, misalnya, tata
panggung, kosum, tata rias, dan tata suara mendukung pementasan?
15