BAB VII
PENGUATAN MORAL DAN KARAKTER
MELALUI LINGKUNGAN MASYARAKAT
A. KARAKTER DAN NILAI MORAL DALAM
MASYARAKAT
Masyarakat juga memiliki peran yang sama
pentingnya dalam upaya membangun karakter anak
bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan masyarakat
disini adalah orang yang lebih tua yang “tidak dekat”,
“tidak dikenal” “tidak memiliki ikatan keluarga” dengan
anak tetapi pada saat itu berada di lingkungan anak atau
melihat tingkah laku anak. Orang-orang ini dapat
memberi contoh, mengajak, atau melarang anak untuk
melakukan suatu tindakan. Contoh perilaku yang dapat
diterapkan oleh masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Membiasakan gotong royong, misalnya: saling
membersihkan pekarangan, membersihkan saluran
air, menanami pekarangan.
2. Membiasakan anak mulai dari untuk tidak
membuang sampah sembarangan dan meludah di
jalan, merusak atau mencorat-coret fasilitas umum.
3. Tegur anak yang melakukan perbuatan buruk.
Kendala yang dihadapi masyarakat :
1. Jangan khawatir
2. Tidak merasa bertanggung jawab
3. Menganggap tindakan anak adalah hal yang lumrah.
46
Lingkungan masyarakat luas juga memiliki pengaruh
besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika
dan estetika bagi pembentukan suatu karakter. Dari
perspektif Islam, menurut Shihab (1996: 321), situasi
sosial dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi
sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan.
Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas di sini
dan sekarang, maka upaya dan ambisi mereka terbatas di
sini dan sekarang. Partisipasi Masyarakat (PSM) dalam
pendidikan erat kaitannya dengan perubahan cara
pandang masyarakat terhadap pendidikan. Namun, jika
tidak dimulai dan dilakukan mulai sekarang, kapan
tingkat kepemilikan, kepedulian, keterlibatan, dan
partisipasi aktif masyarakat secara maksimal akan
diperoleh dalam dunia pendidikan.
Nilai moral
Nilai moral dapat dikatakan sebagai nilai-nilai yang
mengandung kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh
individu terhadap lingkungannya. Nilai moral adalah
suatu bentuk gambaran objektif tentang kebenaran yang
dilakukan oleh seseorang dalam masyarakat. Jadi dalam
hal ini, nilai moral merupakan gambaran objektif dari
bentuk tindakan sosial manusia dalam menjalankan
rutinitas kehidupan. Nilai moral sering dikaitkan dengan
fitrah dan fitrah manusia yang menginginkan kehidupan
yang aman dan tentram.
47
Berbagai contoh nilai moral yang terdapat dalam
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari antara lain
sebagai berikut;
1. Buanglah sampah pada tempatnya.
2. Membungkuk ketika melewati orang yang lebih tua.
3. Ucapkan terima kasih saat mendapatkan hadiah dari
seseorang.
4. Menyantuni anak yatim dan yatim piatu di panti
asuhan.
5. Memberikan pelajaran bagi anak jalanan berarti
pendidikan tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
6. Melaksanakan ibadah tepat waktu.
7. Menghargai pendapat orang lain saat rapat sedang
berlangsung.
8. Menyediakan tempat duduk saat di angkutan umum
bagi orang tua dan ibu hamil yang tidak
mendapatkan tempat duduk.
9. Mengatakan tolong ketika Anda ingin meminta
bantuan seseorang.
10. Jangan berbicara kasar di rumah, sekolah dan di
masyarakat.
11. Menghindari segala bentuk KKN (Korupsi, Kolusi,
dan Nepotisme) ketika diberikan tanggung jawab
oleh masyarakat.
12. Beri makan kucing dan hewan lain jika mereka ingin
memelihara
Adapun macam – macam peran nilai moral dalam
masyarakat adalah sebagai berikut;
48
1. Religius,yaitu perilaku yang taat pada pelaksanaan
ajaran agama yang dianutnya.
2. Jujur, Perilaku yang dilandasi oleh upaya untuk
selalu dapat dipercaya dalam perkataan dan tindakan
yang dilakukan.
3. Disiplin, Perilaku disiplin menunjukkan perilaku
tertib dalam berbagai aturan. Perilaku disiplin
menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh dalam
mengatasi berbagai hambatan dan menyelesaikan
tugas dengan sebaik-baiknya.
4. Toleransi,Toleransi adalah sikap saling menghargai
perbedaan agama, suku, suku, dan tindakan orang
lain yang berbeda dengan dirinya.
5. Mandiri, sikap yang mencerminkan perilaku tidak
mudah bergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan kewajiban.
6. Kreatif, Kreatif adalah tindakan berpikir dan
melakukan sesuatu untuk menghasilkan sesuatu yang
baru.
7. keras, yaitu perilaku yang menunjukkan usaha yang
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai
masalah.
8. Rasa nasionalisme, yaitu cara berpikir, bersikap,
dan bertindak untuk menunjukkan rasa loyalitas,
kepedulian, dan rasa hormat yang tinggi terhadap
Negara.
9. Keingintahuan adalah tindakan selalu berusaha
mencari tahu lebih banyak tentang sesuatu yang ada.
49
10. Peduli lingkungan, Sikap dan tindakan yang berupaya
mencegah kerusakan lingkungan alam sekitar dan
mengembangkan upaya perbaikan kerusakan alam
yang telah terjadi.
11. Bertanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku
seseorang dalam melaksanakan kewajibannya
terhadap dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan,
negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
B. PENGUATAN MORAL DAN KARAKTER
MELALUI LINGKUNGAN MASYARAKAT
Penguatan nilai-nilai moral Pancasila melalui
pemberdayaan masyarakat antara lain oleh:
a. Mendukung program sekolah khususnya dalam
penerapan nilai-nilai moral Pancasila di tengah-
tengah masyarakat.
b. Mengikuti pembekalan program implementasi nilai
moral Pancasila yang diselenggarakan oleh sekolah.
c. Menindaklanjuti program sekolah berupa penerapan
nilai-nilai moral Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat.
d. Mensosialisasikan nilai-nilai moral Pancasila di
masyarakat.
Keberhasilan pelaksanaan kebijakan penguatan nilai
moral Pancasila perlu diukur dengan indikator
pencapaian tujuan. Beberapa indikator pencapaian
pelaksanaan penguatan nilai dan moral Pancasila di
masyarakat dapat diliha sebagai berikut :
50
Pada sila pertama :
a. Ibadah sesuai dengan keyakinannya.
b. Berdoa sebelum dan melakukan kegiatan.
c. Memanfaatkan nikmat yang diberikan Tuhan untuk
kebaikan.
d. Saling menghargai teman beragama lain yang sedang
beribadah
Pada sila kedua :
a. Menghormati orang tua, menyalami bila ketemu, juga
suka mengucapkan salam dengan perkataan yang
santun.
b. Menghargai lingkungan yang bersih, sehat, dan
kondusif.
c. Membantu teman dalam kesulitan.
d. Menyampaikan informasi dengan benar dan jujur.
Pada sila ketiga :
a. Proaktif dalam bekerja sama dan dalam bergotong
royong.
b. Menghargai dan mendengarkan pendapat orang lain.
c. Bersosialisasi dan berkolaborasi.
Pada sila keempat :
a. Menghargai pendapat teman.
b. Mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan
berbagai persoalan dalam lingkungan masyarakat.
c. Mengemukakan pendapat dengan menggunakan akal
sehat dan hati nurani yang luhur dalam pergaulan.
51
Pada sila kelima :
a. Membiasakan bersikap adil terhadap sesama.
b. Belajar sungguh-sungguh .
c. Suka menabung dan hidup berhemat .
d. Suka bekerja keras.
e. Menghargai hasil karya orang lain.
Penguatan Pendidikan Karakter Pancasila (PPK) telah
menjadi agenda nasional yang digaungkan oleh
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi. Dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018
tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan
Pendidikan Formal disebutkan bahwa PPK pada satuan
pendidikan formal dilaksanakan dengan mengoptimalkan
fungsi kemitraan tripusat dalam pendidikan yang
meliputi sekolah, keluarga, dan masyarakat dan
dilaksanakan dengan pendekatan berbasis kelas, budaya
sekolah, dan Publik. Penguatan pendidikan karakter
berbasis masyarakat adalah penguatan pendidikan
karakter yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk
memberikan karakter kepada peserta didik dengan
melibatkan masyarakat. Penguatan pendidikan karakter
berbasis masyarakat merupakan bagian integral dari
program PPK sekolah yang menitikberatkan pada
kemitraan tri-pusat di bidang pendidikan.
Penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat
dilakukan dengan melibatkan dan memberdayakan
potensi lingkungan sebagai sumber belajar dan
mensinergikan pelaksanaan PPK dengan berbagai
52
program di lingkup akademisi, pegiat pendidikan, LSM,
dan lembaga informasi. Hal ini perlu dilakukan karena
masyarakat memiliki fungsi dan peran untuk membantu
sekolah mewujudkan program pendidikan karakter.
Selain itu, masyarakat dapat menjadi salah satu
kontributor bagi sekolah untuk menyelesaikan
permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Kolaborasi sekolah dengan masyarakat dapat terjadi
ketika sekolah membuka diri kepada pihak luar dalam
rangka menjalankan visi dan misi sekolah.
Ada banyak bentuk kerjasama yang dapat dilakukan
antara sekolah dengan masyarakat. Berikut beberapa
contoh program kerjasama yang dapat dilaksanakan oleh
satuan pendidikan dalam rangka penguatan pendidikan
karakter:
1. Mengajak masyarakat untuk mendukung kegiatan
sekolah secara materil dengan menghimpun dana
kolektif dari masyarakat
2. Mengundang masyarakat untuk menjadi nara sumber
dalam sesi sharing atau lokakarya profesional
3. Merangkul alumni sekolah untuk mendukung
program sekolah seperti pengadaan buku
perpustakaan, pembangunan mushola, atau beasiswa
bagi siswa kurang mampu.
4. Mengundang alumni untuk terlibat dalam
mensosialisasikan kegiatan pemerintahan
5. Mengundang civitas akademika atau mahasiswa
untuk mengadakan pelatihan bagi pelatih bagi guru
pembinaan atlet berbakat dari pelajar.
53
6. Memanfaatkan potensi lingkungan sebagai sarana
pembelajaran, seperti tempat-tempat bersejarah,
cagar alam, sanggar seni, dan museum bersama
masyarakat menggalakkan program pengelolaan
lingkungan, seperti pengelolaan sampah,
pengelolaan sampah, pemeliharaan tanaman,
pembuatan pupuk organik, atau pengelolaan potensi
lokal lainnya.
7. Bekerjasama dengan BNN untuk mensosialisasikan
bahaya narkoba kepada siswa dan guru.
8. Mengundang polisi untuk mensosialisasikan etika
berlalu lintas kepada siswa dan guru.
9. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat
terkait sosialisasi program kesehatan masyarakat.
10. Mengundang Dinas Lingkungan Hidup setempat
untuk melakukan sosialisasi komposter di
lingkungan sekolah.
11. Meluncurkan publikasi semua program kegiatan
sekolah melalui media elektronik.
12. Bersama masyarakat mengadakan kegiatan santunan
kepada panti asuhan di sekitar lingkungan sekolah,
mempersiapkan perayaan hari besar keagamaan, atau
membantu korban bencana alam.
Satuan pendidikan dapat menggali bentuk-bentuk
kegiatan penguatan pendidikan karakter Pancasila
berbasis masyarakat dengan mengkaji berbagai aspek
kehidupan di lingkungan sekolah.
54
BAB VIII
PENGUATAN MORAL DAN KARAKTER
MELALUI KEARIFAN LOKAL
A. KEARIFAN LOKAL BANGSA INDONESIA
Dalam istilah kamus, kearifan lokal terdiri dari dua
kata. Kearifan (wisdom) dan lokal (local). lokal berarti
lokal, tetapi kearifan sama dengan kebijaksanaan. Secara
umum kearifan lokal dapat dipahami daripada ide lokal
yang bijak dan penuh kearifan nilai bagus bahwa setiap
masyarakat tertanam dan diikuti. Kearifan lokal dimiliki
oleh kecerdasan manusia sebuah kelompok etnis tertentu
yang diperoleh melalui pengalaman sosial. Artinya
adalah kearifan lokal disini merupakan hasil dari suatu
komunitas tertentu melalui pengalamannya yang belum
tentu belajar dari komunitas lain. (Affandy S, 2017)
Menurut Apriyanto bahwa kearifan lokal adalah
sejumlah nilai yang diciptakan, dikembangkan dan
dikembangkan pedoman ini dapat dipertahankan oleh
mereka yang menjadi pedoman dalam hidup itu termasuk
dalam jenis aturan sosial, tertulis dan tidak tertulis akan
tapi yang pasti semua masyarakat berusaha untuk
menaatinya.
Kearifan lokal merupakan akumulasi dari
pengetahuan dan kebijakan yang tumbuh dan
berkembang di masyarakat. Komunitas yang
menggabungkan perspektif teologis, kosmologis, dan
sosiologis. Kearifan lokal memanfaatkan filosofi, nilai,
55
etika, dan perilaku tradisional pengelolaan alam dan
sumber daya manusia dirumuskan sebagai pandangan
hidup masyarakat, yaitu rumusan gejala alam dan sosial
yang bersifat tradisional atau tetap di daerah. (Mursalim
A, 2020)
Kearifan lokal dapat dilihat sebagai identitas
nasional yang dilatih dalam konteks Indonesia,
memungkinkan kearifan lokal untuk ditransformasikan
secara lintas budaya dan pada akhirnya lahir nilai budaya
nasional. Kearifan lokal Indonesia adalah berbagai
bidang kehidupan (nilai sosial dan ekonomi, arsitektur,
kesehatan, pengelolaan lingkungan, dll). Kearifan lokal
dapat diturunkan dari budaya masyarakat di suatu lokasi
tertentu. Dari sudut pandang menulis sejarah, kearifan
lokal dapat membentuk sejarah lokal. Karena sejarah
sejarah lokal merupakan kajian masyarakat dari
lingkungan (perempat) tertentu dalam dinamika
kehidupan masyarakat, terutama perkembangannya
dalam berbagai bidang kehidupan.
Dari pemahaman para ahli tentang kearifan daerah di
atas, dapat kita simpulkan bahwa sumber kearifan daerah
dan pembahasannya merupakan salah satu bentuk
kearifan daerah. Oleh karena itu, kearifan lokal dapat
dipahami sebagai gagasan dan pengetahuan lokal yang
arif, bijaksana, bernilai, luhur, dan dimiliki, dibina, dan
dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat. Di era
globalisasi ini, kearifan lokal sangat dibutuhkan. Tidak
hanya untuk tujuan promosi, tetapi juga untuk
memecahkan masalah tertentu yang tidak dapat
56
diselesaikan dengan baik oleh hukum formal kita.
Kearifan lokal juga dapat menyelesaikan sengketa
masalah agama. Faksi-faksi yang bertikai biasanya
berbeda agama, denominasi, dan aliran, namun memiliki
budaya luhur yang sama. Budaya luhur ini berpotensi
menjembatani partai politik yang bertikai. Budaya luhur
ini, sebutan lain dari kearifan lokal, dapat kembali
mencairkan relasi yang lemah satu sama lain.
B. MENANAMKAN NILAI MORAL DAN
KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL
Penanaman nilai moral dan karakter melalui lima
pembinaan nilai-nilai kearifan lokal melalui program
Pinunjour adalah nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, kebangsaan, pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan Perilaku berdasarkan norma
agama, hukum, pemerintahan, tata krama, budaya dan
adat istiadat.
Kearifan lokal yang terdapat pada sebagian
kelompok/masyarakat banyak mengandung nilai-nilai
luhur budaya bangsa yang masih kuat sebagai identitas
karakter bangsa. Di sisi lain, nilai kearifan lokal
seringkali diabaikan atau diabaikan karena dianggap
usang. Padahal, kearifan lokal ini dapat menumbuhkan
nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sebagai model bagi
perkembangan budaya Indonesia. Dalam konteks ini,
nilai-nilai masyarakat yang masih eksis dan
mempertahankan kearifan lokal menjadi bagian integral
dari pembangunan pembentukan karakter. Bahkan hingga
57
saat ini masih banyak yang mempertahankan kearifan
lokal dan terbukti efektif dalam memberikan apa yang
disebut dengan pendidikan tradisional, termasuk
pendidikan kepribadian dan kepribadian yang baik.
Beberapa diantaranya melalui lima pembinaan nilai-nilai
kearifan lokal melalui program Pinunjour diantaranya :
1. Pinunjour Kéwes Gandes (Terpuji atas kebersihan
pakaian dan penampilan)
Indikator :
Bersihkan diri dan tetap sehat
Baju yang rapi
Harap berpakaian pada hari yang ditentukan.
Lima program kearifan daerah Pinunjour pertama
dirancang untuk menekankan kepada siswa bahwa
pakaian dan penampilan mereka terpuji. Semua siswa
harus mematuhi semua peraturan yang diberlakukan oleh
sekolah. Jaga seragam Anda tetap rapi dan simpan
pakaian Anda di saku celana Anda. Tidak hanya itu,
harus bersih dan waras dari kotoran dan hal-hal lain yang
membuat siswa sakit.
2. Pinunjour Tatabasa (Terpuji karena kesantunan
berbahasa)
Indikator :
Jangan menyebutnya kasar
Intonasi hati-hati
Berbahasa dengan baik-baik saja
58
Kearifan lokal termasuk dalam 5 program Pinunjour
berikut pantas dipuji dalam pidato atau pidato. Bahasa
adalah alat komunikasi yang sangat kuat dapat
mempengaruhi penilaiannya sendiri dan
mengkonfirmasinya jika bahasanya buruk siswa-siswa
tersebut tidak mampu mengimplementasikan nilai-nilai
kebaikan yang diajarkan oleh para siswa guru. Siswa
perlu menggunakan bahasa yang sopan dan ramah
budaya lokal dipahami sebagai ajaran kebaikan. Bahasa
yang dituturkan oleh siswa harus menggunakan kata-kata
yang lembut atau ramah Jangan menggunakan kata-kata
kasar apalagi dalam bahasa binatang yang tidak tercermin
seperti anak laki-laki. Siswa juga harus menggunakan
bahasa yang baik atau sopan intonasi pidato harus sopan
atau lembut. Jangan sampai terdengar seperti kemarahan
yang berujung pada reaksi yang salah dari orang yang
diundang.
3. Pinunjour Rengkak Paripolah (dianjurkan untuk
sikap dan perilaku)
Indikator :
Sopan dalam sikap dan perilaku
Rajin dan tidak perlu menunggu pesanan
Ikuti saran guru Anda.
Setelah Anda pandai berbicara dan berbicara,
program berikut adalah suatu keharusan layak dipuji
dalam sikap dan perilaku. Siswa harus berperilaku seperti
itu orang yang sopan dan ramah harus melakukan segala
tindakan dan tindakan sesuai dengan itu norma agama
dan adat istiadat yang diajarkan oleh kedua guru sekolah
59
tersebut di tempat belajar atau di rumah bersama orang
tua masing-masing.
4. Pinunjour Rumawat Lingkungan (terpuji karena
kepeduliannya terhadap lingkungan)
Indikator :
Perhatikan kebersihannya
Rajin merawat tanaman
Jika Anda memiliki pekerjaan yang tidak
menunggu pesanan.
Ketekunan yang terpuji untuk memberikan nilai
kearifan lokal lingkungan. Siswa diajarkan untuk
mencintai, menjaga atau merawat bangsa lingkungan
disekitarnya.
5. Pinunjour Motékar Rancagé (pujian atas kreativitas)
Indikator :
Aktif dalam belajar
Kreatif di tempat kerja
Pembelajaran Bijak
Terakhir, nilai kearifan lokal dalam Pelopor patut
diapresiasi atas kreativitasnya. Siswa membutuhkan
sikap dengan jiwa kreatif. Banyak hal yg mampu
diajarkan misalnya kreatif pada belajar yg nir harus
menunggu & diperintahkan sang pengajar pada sekolah.
Kreatif falam bekerja yg memang terdapat pencerahan &
tindakan baik pada melakukan pekerjaannya baik
disekolah juga pada rumahnya masing-masing. Termasuk
cerdas & aktif pada belajar yang memang sebagai tugas
60
primer menjadi siswa pada sekolah tersebut. Baik belajar
ilmu kepercayaan & ilmu umum, baik belajar yang
dilaksanakan pada sekolah ataupun pada luar sekolah
misalnya pada rumah, pada loka pengajian & lain-lain.
C. MENGUATKAN NILAI MORAL DAN
KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL
Penguatan nilai moral dan karakter melalui kearifan
lokal terkandung dalam setiap sila yang ada di pancasila
mulai dari sila satu sampai dengan sila kelima. Sila satu
perintah Tuhan yakni perintah ini sangat berharga negara
yang mapan merupakan perwujudan dari tujuan manusia
sebagai makhluk Tuhan. Mahakuasa dan karena itu
dengan semua masalah terkait implementasi kita perlu
menanamkan nilai ke dalam administrasi negara, serta
moral negara, undang-undang dan peraturan negara,
kebebasan sipil dan hak asasi manusia iman kepada satu-
satunya Tuhan. Perintah keadilan dan peradaban umat
manusia Dalam perintah-perintah ini di dalamnya
terkandung nilai-nilai yang harus dijunjung bangsa,
harkat dan martabatnya.
Sila kedua yaitu manusia sebagai makhluk yang
beradab. Kemanusiaan yang adil dan beradab termasuk
nilai kesadaran berdasarkan sikap moral dan perilaku
manusia tentang potensi hati nurani bangsa Indonesia
dalam kaitannya dengan norma budaya secara umum
untuk diri sendiri dan untuk orang lain dan orang lain
nilai-nilai kemanusiaan yang beradab terhadap
lingkungan merupakan perwujudan nilai-nilai manusia
sebagai makhluk budaya.
61
Sila ketiga yaitu Nilai yang terkandung dalam nilai
ini adalah keadaan tetap sama. Inkarnasi dari satu
kemanusiaan, yaitu sebagai individu bangsa yang ada
secara sosial baik itu suku, ras, golongan, golongan atau
golongan agama. Semua perbedaan ini hal ini dijelaskan
dengan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".
Sila keempat yaitu Demokrasi yang dipandu oleh
kebijaksanaan. Termasuk dalam perintah-perintah ini
adalah bahwa bangsa adalah manifestasi dari fitrah alam.
Manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Orang
adalah topiknya pendukung utama bangsa Bangsa berasal
dari rakyat. Jadi orang asal usul kekuasaan negara,
sehingga nilai-nilai demokrasi termasuk dalam nilai-nilai
demokrasi, termasuk dalam perintah kedua :
a) Eksistensi kebebasan yang harus berjalan beriringan
dengan tanggung jawab.
b) Perlindungan harkat dan martabat manusia.
c) Untuk memastikan dan memperkuat persatuan dan
kesatuan ketika hidup bersama. Mengenali
perbedaan individu, kelompok, ras, suku, dan agama.
Sila kelima yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam
perintah-perintah tersebut adalah Hidup bersama, dan
dalam perintah-perintah ini nilai keadilan harus
diwujudkan hidup bersama. Keadilan didasarkan pada
dan meresapi esensi keadilan. Umat manusia adalah
hasil dari nilai-nilai keadilan yang diwujudkan dalam
kehidupan bersama-sama, itu termasuk :
62
a) Keadilan distributif berarti hubungan antara suatu
negara dengan warga negaranya.
b) Keadilan hukum, hubungan hukum antara warga
negara dan negara.
c) Pertukaran keadilan, d. H. Hubungan hukum timbal
balik antara warga negara.
Pancasila dianggap sebagai rambu-rambu kehidupan
bermasyarakat, negara dan bangsa harus mampu
mendukung keberadaan kearifan lokal. Hal ini karena
kearifan lokal juga bisa menjadi sarana pengikat,
persatuan dan penghubung persatuan Nasional. Kearifan
lokal dalam bahasa asing sering dikonseptualisasikan
sebagai : politik lokal (local wisdom), kearifan lokal
(local knowledge) atau intelijen lokal. Kearifan lokal
juga bisa diartikan sebagai gagasan kehidupan. Ide ini
didasarkan pada ide yang jelas, kepribadian yang baik,
dan mengandung ide-ide positif. Karya akal, emosi yang
mendalam, kepribadian, perangai, dan sugesti untuk
kemuliaan manusia merupakan terjemahan dari kearifan
lokal. Dengan memperoleh kearifan lokal, jiwanya
menjadi lebih mulia. Haryati Soebadio berpendapat
bahwa kearifan daerah adalah identitas/kepribadian
budaya bangsa yang memungkinkan suatu negara
mengasimilasi dan mengasimilasi budaya asing sesuai
dengan kepribadian dan kemampuannya sendiri.
Anda bisa menggunakan istilah pengetahuan saat ini,
pengetahuan baru, atau pengetahuan modern untuk
membedakan antara pengetahuan lokal yang baru
muncul dan pengetahuan lokal yang sudah lama dikenal
63
masyarakat. Kearifan tradisional dapat disebut juga
dengan kearifan kuno atau kearifan kuno. Menurut
Gobyah, nilai terpenting adalah tradisi atau kebenaran
abadi di suatu daerah. Secara konseptual, kearifan dan
keunggulan daerah adalah kearifan manusia yang
dilandasi oleh nilai-nilai, etika, metode, dan filosofi
tindakan yang terlembagakan secara tradisional.
Upaya penguatan pendidikan kearifan di wilayah
tidak akan terlaksana dengan baik tanpanya. Partisipasi
yang optimal dalam masyarakat. Keterlibatan berbagai
faktor dalam masyarakat mengambil inisiatif dan
menjadi penyelenggara program pendidikan adalah
kontribusi tak ternilai yang patut mendapat perhatian dan
pengakuan berbagai bentuk-bentuk kearifan masyarakat
yang memberikan kelayakan bagi pelaksanaan dan
pengembangan pendidikan masyarakat adalah :
a) Kearifan lokal berupa larangan tertulis terhadap
upaya pembelajaran, seperti kewajiban warga
setempat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran
yang masih buta huruf.
b) Kearifan lokal untuk menjaga keharmonisan
hubungan antar masyarakat melalui kegiatan gotong
royong.
64
BAB IX
PENGUATAN MORAL DAN
KARAKTER MELALUI MEDIA SOSIAL
A. PENGUATAN MORAL DAN KARAKTER
MELALUI MEDIA SOSIAL
Pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia
untuk menjadi manusia yang sempurna. Itulah tujuan
diadakannya pendidikan. Sehingga, seiring dengan
perkembangan teknologi informasi, peran lembaga
pendidikan seringkali tergerus olehnya. Anak-anak
cenderung menggunakan gadget untuk mencari
informasi. Banyak waktu dan konsentrasi yang terbuang
sia-sia karena sibuk bermain gadget. Maka tidak heran
jika anak lebih mudah terpengaruh yang dapat luntur
bahkan kehilangan nilai-nilai karakter bangsa itu sendiri.
Istilah karakter secara harfiah berarti “watak”, yang
antara lain berarti: watak, watak, sifat-sifat kejiwaan,
watak, kepribadian atau moral (Oxford). Sedangkan dari
segi karakter, karakter adalah sifat manusia pada
umumnya dimana manusia memiliki banyak karakteristik
yang tergantung pada faktor kehidupannya sendiri.
Karakter adalah sifat psikologis, moral atau karakter
yang menjadi ciri seseorang atau sekelompok orang.
Akhlak mulia bangsa Indonesia tercermin dari nilai-
nilai luhur Pancasila yang merupakan nilai-nilai luhur
yang diwarisi oleh para founding fathers bagi generasi
penerus. Pancasila adalah falsafah atau pandangan hidup
65
yang menjadi landasan anak bangsa agar dapat terwujud
masyarakat yang bermartabat, yaitu bangsa yang
berbangsa Ketuhanan YME, kemanusiaan yang adil dan
beradab, menjunjung tinggi kebersamaan dalam bingkai
persatuan, mengutamakan musyawarah untuk mufakat ,
dan mengutamakan keadilan bagi semua bangsa.
Pendidikan karakter diartikan sebagai upaya
pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan
nilai-nilai karakter peserta didik dengan mengajarkan
nilai-nilai moral dalam hubungannya dengan sesama
manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter juga
merupakan wadah yang digunakan anak untuk
mengembangkan banyak hal yang berkaitan dengan
akhlak, etika, budi pekerti yang memenuhi indikator
norma sosial. Pendidikan karakter merupakan bagian dari
pendidikan nasional yang bertujuan untuk membentuk
karakter bangsa berdasarkan pancasila.
Masuknya revolusi industri 4.0 memberikan
tantangan baru dalam dunia pendidikan dalam
menyeimbangkan pendidikan karakter dengan perubahan
global. Kita semua tahu bahwa revolusi industri 4.0
sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai
contoh, saat ini setiap orang telah menggunakan gadget.
Sosial media pun beragam mulai dari WhatsApp,
Instagram, Facebook, dan lain sebagainya. Tidak masalah
jika media sosial digunakan untuk hal-hal yang positif,
namun masih banyak orang yang salah dalam
menggunakan media sosial. Apalagi di kalangan
mahasiswa, hal ini sangat mengkhawatirkan. Untuk
66
itulah pendidikan karakter sangat dibutuhkan di era
digital ini. Jika manusia sudah memiliki karakter yang
baik, maka mereka juga akan bijaksana dalam
menggunakan segala sesuatu untuk tujuan yang positif.
Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan
perilaku seseorang melalui upaya pengajaran. Menurut
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan
adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dalam
memperoleh kecerdasan spiritual, berakhlak mulia yang
berguna bagi dirinya, masyarakat dan negara. Pendidikan
adalah suatu proses yang meliputi tiga dimensi, individu,
masyarakat atau komunitas nasional dari individu dan
seluruh isi realitas, baik material maupun spiritual, yang
berperan dalam menentukan sifat, takdir, bentuk manusia
dan masyarakat. Pendidikan lebih dari sekedar
pengajaran, yang dapat dikatakan sebagai proses transfer
pengetahuan, transformasi nilai, dan pembentukan
kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.
Penekanan pendidikan daripada pengajaran terletak pada
pembentukan kesadaran dan kepribadian individu atau
masyarakat di samping transfer pengetahuan dan
keahlian.
Karakter adalah sifat yang dimiliki oleh manusia dan
mempengaruhi perilaku, pikiran, kebiasaan, dan
wataknya. Karakter merupakan sesuatu yang penting
67
untuk mencapai tujuan hidup. Orang yang berkarakter
dan unggul adalah orang yang berusaha melakukan yang
terbaik untuk Tuhan, dirinya sendiri, orang lain,
lingkungan, bangsa dan negara dengan mengoptimalkan
potensi yang ada dalam dirinya.
Pendidikan karakter merupakan upaya
mengembangkan karakter peserta didik dengan
mengajarkan nilai-nilai moral, moral dan etika yang
berlaku di masyarakat. Pendidikan karakter memiliki arti
yang sama dengan pendidikan moral. Pendidikan
karakter dapat membantu individu untuk
mengembangkan sifat-sifat yang dapat diterima oleh
masyarakat. Pendidikan karakter bukanlah proses
memahami dan mengerjakan soal. Namun pendidikan
karakter adalah kebiasaan, yaitu kebiasaan berbuat baik,
jujur, bertanggung jawab, bijaksana dalam mengambil
keputusan, dll. Membiasakan karakter tidak bisa
dilakukan secara instan, tetapi butuh waktu dan latihan
untuk mencapai karakter yang ideal.
Frye berpendapat, pendidikan karakter harus menjadi
gerakan nasional yang menjadikan sekolah sebagai agen
untuk membangun karakter siswa melalui pembelajaran
dan keteladanan. Melalui pendidikan karakter, sekolah
harus membawa peserta didik memiliki akhlak yang
mulia. Di sisi lain, pendidikan karakter juga harus
mampu menjauhkan peserta didik dari sikap dan perilaku
tercela.
68
Tujuan pendidikan karakter seperti yang
diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah
“memahami-merasa-bertindak” (to mewujudkan,
mewujudkan, dan berbuat). Hal ini mengandung
pengertian bahwa pendidikan karakter merupakan suatu
bentuk pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan
pada perilaku dan tindakan siswa dalam menghayati dan
mengimplementasikan nilai-nilai karakter ke dalam
perilaku sehari-hari.
Nilai – Nilai Pancasila
Secara historis dan faktual dewasa ini, ketinggian
peradaban suatu bangsa merupakan potret keberhasilan
pembentukan karakter yang terbentuk melalui proses
pendidikan yang panjang, baik formal maupun
nonformal. Begitu pula sebaliknya, hancurnya peradaban
suatu bangsa merupakan akibat dari gagalnya proses
pendidikan karakter kepada masyarakatnya.
Pancasila sebagaimana tersebut di atas merupakan
falsafah hidup yang mencerminkan watak dan jati diri
bangsa Indonesia. Jadi nilai-nilai Pancasila seharusnya
sudah merambah ke sendi-sendi pendidikan. Pancasila
sebagai nilai luhur bangsa, sudah seharusnya menjadi
acuan utama dalam mendidik anak bangsa. Ketika
Pancasila ditinggalkan dari ranah pendidikan, baik
pendidikan keluarga, pendidikan lingkungan maupun
pendidikan formal, sudah sepantasnya bangsa Indonesia
di masa depan akan kehilangan jati dirinya, dan perlahan-
69
lahan jika dibiarkan akan kehilangan keagungan
peradabannya.
Terkikisnya nilai-nilai ketuhanan, tergerusnya
kemanusiaan yang adil dan beradab, lemahnya rasa
persatuan dan menjamurnya permusuhan seperti yang
kita saksikan akhir-akhir ini, tergerusnya nilai-nilai
musyawarah dan mufakat, serta terpinggirkannya nilai
keadilan. , dan masih banyak kasus lainnya seperti
hilangnya rasa nasionalisme dan lain sebagainya adalah
fakta. bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila telah lama
hilang dalam proses pendidikan anak bangsa kita sendiri.
Dengan demikian, betapa pentingnya memposisikan
Pancasila sebagai landasan dan pijakan dalam proses
pendidikan bagi anak bangsa – tidak hanya sebagai
jargon pelengkap dalam penyelenggaraan pembelajaran
dan penyelenggaraan teknik lainnya. Jika nilai-nilai
Pancasila benar-benar ditanamkan dalam proses
pendidikan, yang terjadi adalah menjadi bangsa yang
memiliki peradaban besar.
Media Sosial
Media sosial adalah media teknologi informasi yang
digunakan sebagai sarana komunikasi antar individu,
individu dengan kelompok, dan kelompok dengan
kelompok. Media sosial merupakan sarana penghubung
tanpa memandang jarak, dapat diakses dimana saja dan
kapan saja. Blog, jejaring sosial, dan wiki mungkin
adalah bentuk media sosial yang paling banyak
70
digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Media
sosial mengajak siapa saja yang berminat untuk
berpartisipasi dengan memberikan kontribusi dan
masukan secara terbuka, memberikan komentar, dan
berbagi informasi dalam waktu yang cepat dan tidak
terbatas.
Sedangkan jejaring sosial adalah situs dimana setiap
orang dapat membuat halaman web pribadi, kemudian
terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi
dan berkomunikasi. Beberapa contoh jejaring sosial yang
banyak digunakan antara lain Facebook, Instagram dan
Twitter. Jika media sosial menggunakan media cetak dan
media penyiaran, maka media sosial menggunakan
internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik
untuk berpartisipasi dengan memberikan kontribusi dan
masukan secara terbuka, berkomentar, dan berbagi
informasi secara cepat dan tanpa batas.
Revolusi Industri 4.0
Kanselir Jerman Angela Merkel (2014) berpendapat
bahwa industri 4.0 merupakan transformasi menyeluruh
dari semua aspek produksi di industri melalui
penggabungan teknologi digital dan internet dengan
industri konvensional. Schlechtendal et al (2015)
menekankan definisi elemen kecepatan ketersediaan
informasi, yaitu lingkungan industri di mana semua
entitas selalu terhubung dan dapat berbagi informasi satu
sama lain.
71
Industri 4.0 menghasilkan "pabrik pintar". Revolusi
industri sedang mencapai puncaknya saat ini dengan
melahirkan teknologi digital yang berdampak besar bagi
kehidupan manusia di seluruh dunia.
Pendidikan di era revolusi 4.0 pada abad ini berbeda
dengan abad sebelumnya. Sekarang dikenal sebagai
komputer super, Internet of Things (IoT), dan Internet of
People (IoP).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa industri 4.0 dapat diartikan sebagai
era industri dimana semua entitas di dalamnya dapat
berkomunikasi secara real time setiap saat berdasarkan
penggunaan teknologi internet.
B. PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI UPAYA
MENUMBUHKAN SIKAP BIJAK
MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL DI ERA
REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Kita hidup di era revolusi industri 4.0 sehingga
aktivitas manusia selalu berkaitan dengan teknologi.
Perkembangan teknologi yang mudah diakses di media
sosial yang seharusnya berdampak positif namun sering
disalahgunakan sehingga berdampak negatif dan
melemahkan karakter anak bangsa. Padahal, pendidikan
karakter merupakan fondasi bangsa dan perlu ditanamkan
pada anak sejak dini. Maraknya informasi yang tersebar
di media sosial dan kemudahan mengakses segala hal
yang ada melalui jejaring sosial yang tidak terbatas
menjadi motivasi perlunya penguatan pendidikan
72
karakter bagi siswa. Tidak jarang kita melihat bahwa
generasi muda saat ini sudah banyak yang memiliki
media sosial mulai dari whatsapp, facebook, twitter,
instagram dan lain-lain. Di media sosial ini semua
informasi belum terfilter, sehingga kemungkinan
mengandung unsur negatif. Generasi muda juga kerap
memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan berita
hoax, komentar kebencian pada pengguna media sosial
lainnya sehingga dapat memicu kesalahpahaman bahkan
tawuran. Dalam penguatan pendidikan karakter terdapat
5 nilai karakter yang bersumber dari Pancasila, yaitu
religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan
gotong royong. Individu yang memiliki karakter baik
juga akan baik di media sosial. Individu dengan karakter
yang baik akan bijaksana dalam berkata-kata dan pandai
berkomunikasi di media sosial.
Penguatan Moral Pancasila
Saat ini, di era belantara era media sosial yang luas,
bangsa Indonesia mendambakan hadirnya nilai-nilai
Pancasila yang merambah seluruh bidang kehidupan
berbangsa dan bernegara. Fakta yang kita lihat adalah
demoralisasi yang sangat luar biasa di segala bidang
kehidupan dan setiap lapisan masyarakat seperti yang
kita lihat di media sosial dimana sedang viral aksi unjuk
rasa yang berujung pada pembakaran aparat kepolisian
oleh oknum mahasiswa yang berdemonstrasi. Hal ini
sangat bertentangan dengan nilai Pancasila yaitu
73
musyawarah untuk mufakat, bahkan yang terjadi adalah
narsis dan arogan dalam menyelesaikan masalah.
Di tengah realitas belantara media sosial tentunya
menjadi PR kita bersama bagaimana membentuk karakter
bangsa yang ramah, saling menghargai, musyawarah
untuk mufakat dan perilaku yang sesuai dengan
kepribadian bangsa yaitu kepribadian yang sesuai dengan
nilai-nilai pancasila. Untuk membentuk karakter seperti
itu, tentunya perlu ada proses.
Dalam hal ini, setidaknya ada tiga hal yang saling
terkait yang perlu dikembangkan, terutama di belantara
media sosial. Pertama, pengetahuan tentang nilai-nilai
luhur Pancasila. Kedua, perasaan tentang nilai-nilai luhur
Pancasila sehingga menginginkan kebaikan dari nilai-
nilai tersebut. Ketiga, perilaku tentang nilai-nilai luhur
Pancasila sehingga mau berbuat berdasarkan nilai-nilai
tersebut. Ketiga hal tersebut tentunya harus mampu
menjadi dominasi di belantara media sosial dengan
pendekatan uswah hasanah atau keteladanan.
Karakter yang baik ialah terdiri dari mengetahui
kebaikan (knowing the good), mencintai atau
menginginkan kebaikan (loving or desiring the good) dan
melakukan kebaikan (acting the good). Membentuk
karakter adalah dengan menumbuhkan yang
merupakan the habits of mind, heart, and action yang
antara ketiganya (pikiran, hati dan perbuatan) adalah
saling terkait.
74
BAB X
IMPLEMENTASI NILAI -NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA PADA KEHIDUPAN
BANGSA
A. IMPLEMENTASI NILAI -NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA DI LINGKUNGAN
KELUARGA.
Implementasi nilai-nilai pancasila pada anak di
lingkungan keluarga sangat penting sekali untuk
ditanamkam dan diterapkan didalam kesehariannya.
Sebab keluarga adalah pendidikan pertama bagi seorang
anak untuk belajar, berkembang dan memahami
lingkungan nya. Pengamalan butir-butir sila ke-1 dapat di
terapkan dimanapun sebagai perwujudan komitmen
terhadap ajaran agama yang dipeluknya, termasuk
didalam lingkungan keluarga.
1. Melakukan ibadah bersama keluarga
2. Menghormati anggota keluarga yang sedang
menjalankan ibadah
3. Melaksanakan ibadah tepat waktu
4. Menjalankan hari-hari besar agama yang dipeluknya
5. Hidup rukun bersama tetangga yang berbeda
agamanya.
Pengamalan sila ke-2 “Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab”Pengamalan pada sila ke-2 dalam kehidupan
juga harus seraya diterapkan oleh masyarakat indonesia
dimanapun mereka berada. Perwujudan sila ke-2 yang
75
dimiliki bangsa indonesia, bahwa manusia merupakan
makhluk yang berbudaya, bermoral, dan beragama.
Hal yang yang harus diterapkan dari sila ke-2 di
lingkungan keluarga adalah sebagai berikut :
1. Menyayangi kedua orang tua dengan sepenuh hati.
2. Saling menghormati antara yang muda dengan orang
yang lebih tua.
3. Berbuat baik, berbagi dan saling membantu kepada
tetangga.
4. Tidak mudah menghakimi orang lain dan tidak
merasa benar sendiri.
5. Memberikan empati dan kasih sayang kepada
saudara dan tetangga yang membutuhkan.
Pengamalan sila ke-3 “Persatuan Indonesia”
dilingkungan keluarga Sila ke-3 dala pancasila yang
berbunyi “Persatuan Indonesia” mengandung butir-butir
pengamalan dan makna yang mendalam. Sila ke-3
merupakan landasan untuk menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa indonesia.Prinsip persatuan indonesia
yang ditanamkan atau yang harus diterapkan kepada anak
didalam keluarga adalah sebagai berikut:
1. Giat belajar agar dapat membanggakan
keluargaBahwa peran orangtua didalam pendidikan
sangat berpengaruh besar dalam mengolah pikiran
dan kepribadian anak. Hal ini juga menjadi salah
satu faktor keberhasilan anak untuk dapat
membanggakan keluarga.
76
2. Tingkatkan rasa hormat kepada anggota keluarga
yang lebih tua dan menghargai anggota keluarga
yang lebih muda.Mengajarkan sopan santun,
tatakrama, dan toleransi kepada anak didalam
keluarga adalah sebuah kewajiban bagi orang tua
agar didalam pergaulan anak dapat
mengimplementasikannya .
3. Membantu berbagai kegiatan dalam keluarga
Mengajarkan tanggung jawab kepada anak dalam
keluarga adalah modal utama seorang anak untuk
selalu berpegang teguh kepada pendiriannya.
Pengamalan sila ke-4 “Kerakyatan Yang Dipimpin
Oleh Hikmat Kebijaksanaan Permusyawarahan /
Perwakilan” dilingkungan keluarga. Setiap anggota
keluarga harus bisa menghormati pendapat yang lebih tua
dan sebaliknya yang tua menghargai pendapat yang lebih
muda agar terciptanya kelancaran dalam bermusyawarah.
Dengan kata lain, pengamalam pancasila ke-4
dikehidupan keluarga adalah sebagai berikut :
1. Setiap masalah keluarga diselesaikan melalui
musyawarah untuk mencapai kata sepakat.
2. Berjiwa besar untuk menerima pendapat sesama
anggota keluarga.
3. Setiap anggota keluarga bertanggung jawab
melaksanakan hasil keputusan.Pengamalan sila ke-5
“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Pengamalan pancasila hendaknya diajarkan sejakdini
kepada anak-anak termasuk sila ke-5 didalam keluarga
77
sebagai pendidikan pertama anak.Butir-butir pengamalan
sila ke-5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat
indonesia diatur dalam Bentuk pengamalan sila ke-5
dalam lingkungan keluarga adalah sebagai berikut :
1. Bergotong royong dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan dalam keluarga.
2. Bersama-sama menyelesaikan setiap ada suatu
permasalahan dalam keluarga.
3. Saling membantu sesama keluarga yang
mendapatkan kesulitan
4. Harus Berprilaku adil dalam pembagian hak dan
kewajiban
5. Tidak membeda-bedakan satu sama lain dalam
keluarga.
B. IMPLEMENTASI NILAI - NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA DI LINGKUNGAN
PENDIDIKAN DAN SEKOLAH
Dalam Pancasila mengandung lima sila, salah
satunya yaitu, ketuhan yang maha esa betap pentingnya
Pancasila dalam penerapannya. Dalam penerapan
Pancasila di rumah maupun Lingkungan sekitar memang
tidak lah gampang, semua orang harus ikut berpartisipasi
dalam penerapannya. Dalam penerapan nilai-nilai pada
Pancasila seluruh masyarakat harus ikut berpartisipasi
dalam penerapannya, seperti di dalam Lingkungan
Sekolah seluruh masyarakat sekolah harus ikut serta
peserta didik, guru, serta staff yang ada di sekolahan pun
harus ikut dalam penerapan nilai-nilai Pancasila.Dalam
penerapan nilai-nilai Pancasila agar peserta didik tidak
78
merasa terbebani, dalam menyampaikan materi serta
dalam mengajarkannya harus menggunakan metode-
metode yang lebih menyenakan lagi bagi peserta didik,
agar anak pun semangat dalam menggali pengetahuannya
serta dapat menambah rasa penasaran peserta didik dalam
nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila. Para guru
juga diharapkan dapat memberi tahu dampak apa saja
yang akan di dapatkan oleh para peserta didik ketika
melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila, guru harus dapat memberikan dampak yang
memang benar benar rill atau kenyataan yang dapat di
rasakannya kepada para peserta didik, supaya peserta
didik lebih mengerti lagi.
C. IMPLEMENTASI NILAI - NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA DI LINGKUNGAN
MASYARAKAT
Nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan kerangka
refleksi jati diri ketika nilai-nilai Pancasila dapat semakin
di percaya. Nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan
dalamkehidupan bermasyarakat dalam berbagai hal,
seperti : Penerapan nilai Pancasila sila pertama dapat
dilakukan dengan cara mengembangkan sikap hormat
menghormati, membina kerukunan hidup antar umat
beragama, tidak memaksakan suatu agama atau
kepercayaan terhadap Tuhan ke orang lain. Melalui nilai-
nilai sila pertama inilah pendekatan nilai-nilai kehidupan
diaktualisasikan. Nilai sila Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab.
79
Penerapan nilai Pancasila sila kedua dapat dilakukan
dengan cara menerapkan rasa toleransi antar sesama,
saling menghormatidan menghargai, dan selalu bersikap
adil kepada semua orang. Nilai sila Persatuan Indonesia
mengandung hubungan hidup bersama yang secara
alamiah manusia sebagai bawaan individu mempunyai
persamaan dan perbedaan dengan manusia lainnya. Sila
persatuan dapat diterapkan dengan cara menghidupkan
perbedaan-perbedaan yang mengandung daya tarik
kearah kerja sama dan saling bantu membantu sehingga
terbangun kerukunan hidup gotong royong. Sebagai
contoh, di Jawa ada “gugur gunung”, diBali dikenal
“Subak” yaitu sistem irigasi perairan demi kepentingan
bersama. Nilai-nilai sila Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmatkebijaksanaan dalam permusyawaratan
/perwakilan.
Kerakyatan Indonesia adalah demokrasi yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan mufakat.
Kerakyatan timbul karena adanya kesadaran bahwa
manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama,
terutama sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam silakeempat, dapat kita terapkan di lingkungan
masyarakat dengan cara saling memuliakan dan
menghargai manusia, tidak saling menghina apalagi
membinasakan, jujur pada saat pemilu. Nilai-nilai sila
kelima yaitu tentang Keadilan. Penerapan nilai sila
kelima ini dapat dilakukan dengan cara mengedepankan
sikap adil terhadap masyarakat keseluruhan, serta taat
80
kepada masyarakat atau negara sesuaidengan hukum
untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
D. IMPLEMENTASI NILAI - NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA MELAUI
KEARIFAN LOKAL
Implementasi Nilai Pancasila Pada Kearifan Lokal
Masyarakat Baduy
1. Pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Menurut Sujana (2020) tentang kepercayaan atau
agama masyarakat Baduy yaitu Sunda Wiwitan yang
salah satunya terdapat kepercayaan kepada Batara
Tunggal/Tuhan Yang Tunggal/Tuhan Yang Esa. Hal ini
merupakan penerapan dari sila pertama Pancasila.
Masyarakat Baduy mempercayai Tuhan Yang Esa,
tercermin pada agama Sunda Wiwitan yang memiliki
kepercayaan kepada Batara Tunggal/Tuhan Yang Esa.
2. Pada sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Penerapan pancasila pada sila ini ialah manusia yang
beradab, artinya manusia yang baik budi pekertinya
kepada sesama manusia maupun lingkungan
disekitarnya. Masyarakat Baduy merupakan salah satu
contoh yang mengimplementasikan sila ini pada kegiatan
bercocok tanam. Menurut Kameswari (2020), masyarakat
Baduy melakukan kegiatan bercocok tanam pada ladang
mereka tetapi memiliki berbagai pantangan. Pantangan
tersebut diantaranya pantang menggunakan bibit padi
modern, pantang menggunakan pupuk yang anorganik,
81
pantang menggunakan pestisida, serta pantang untuk
memperjual-belikan hasil ladangnya. Namun, pantangan
yang mereka lakukan memiliki dampak yang positif bagi
ekosistem lingkungan ladang maupun sawah. Karena
kerusakan pada lingkungan akibat dari pemakaian
pestisida tidak terjadi, sehingga keseimbangan ekosistem
ladang dan sawah tetap terjaga.
3. Pada sila Persatuan Indonesia
Salah satu implementasi sila ini yaitu menjaga
warisan budaya Indonesia. Masyarakat Baduy yang
menjaga adat istiadatnya dalam cara berpakaian
merupakan warisan budaya berpakaian yang terus dijaga.
Menurut Amaliya (2018; Ahmad, 2020) menjelaskan
bahwa cara berpakaian masyarakat Baduy Dalam dan
Luar merupakan kecirikhasan mereka. Masyarakat Baduy
Dalam memiliki cara berpakaian serba putih atau hitam
pekat dengan ikat kepala berwarna putih. Sedangkan,
masyarakat Baduy Luar memiliki cara berpakaian serba
hitam dengan ikat kepala berwarna hitam juga.
4. Pada sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Penerapan dari sila ini salah satunya ialah melakukan
musyawarah untuk mufakat. Menurut Ulum (2014),
masyarakat Baduy dalam melakukan pemilihan pu’un
(orang yang berkuasa pada pemerintahan adat) dilakukan
dengan cara bermusyawarah. Musyawarah tersebut,
82
dihadiri oleh para tokoh adat melalui forum musyawarah
adat. Dari situlah, terpilih seorang pu’un selanjutnya.
5. Pada sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Indonesia Gotong-royong merupakan salah satu
penerapan dari sila kelima Pancasila. Masyarakat Baduy
telah mengimplementasikan nilai dari sila ini, yaitu
kegiatan gotong-royong yang disebut Dugdug rempug.
Contohnya, saat acara kematian dengan membantu segala
hal terkait pengurusan jenazah, upacara, dan penguburan
jenazah. Bantuan tersebut dilakukan secara gotong-
royong untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.
E. IMPLEMENTASI NILAI - NILAI MORAL DAN
KARAKTER PANCASILA MELAUI MEDIA
SOSIAL
Pengamalan pancasila dalam berinteraksi di media
sosial juga wajib dilakukan agar tetap menjaga persatuan
bangsa. Dengan dipahami dan dijalankannya nilai-nilai
luhur pancasila, fenomena hoax, ujaran kebencian, dan
diskriminasi di media sosial pasti dapat diminimalisir.
Mengamalkan nilai-nilai untuk mewujudkan harapan
tersebut tidak hanya berpengaruh pada masyarakat
Indonesia saja, tetapi juga negara asing. Hal tersebut
dapat diwujudkan melalui pengamalan nilai-nilai
Pancasila dalam media sosial sehingga mengubah
pandangan negara asing menjadi lebih baik terhadap
masyarakat Indonesia (Suryatni, 2018).
83
DAFTAR PUSTAKA
Affandy S. 2017. Penanaman Nilai-Nilai Kearifan
Lokal Dalam Meningkatkan Perilaku
Keberagamaan Peserta Didik. Athulab. Vol II.
No. 2
Ahmadi, Abu dan Prasetya Tri Joko, 2005. Strategi
Belajar mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Aristiani, S. P.d. 2022. 4 Dimensi Pendidikan
Karakter. Jawa tengah. Nurul Rahmawati,
S.Pd., Gr., M.Pd.
Chaha.http://Chahafshawaty.blogspot.com/2013/03/manu
sia-nilai-moral-dan-hukum.html.
Dr. Zubaedi, M. Ag., M. Pd. 2011. Desain Pendidikan
Karakter. Bengkulu: Kencana Prenada Media
Group.
Halim A. 2019. Penguatan Moral Pancasila
Dibelantara Medsos (Jawa Tengah: Ma’arif
NU)
Hanifa hanum. 2021. Pendidikan Karakter Pada Anak
Sekolah Dasar Di Era. Prosiding Seminar
Nasional Diesnatalis 41 UTP Surakarta
Hasan Basri, Remaja Berkualitas: Problematika
Remaja dan Solusinya (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1945)
84
Herimanto dan Winarno, Ilmu Sosian dan Budaya
Dasar (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) 127
Inu Al Najm Nisaa'an An, Dinie Anggraeni Dewi.2021.
"Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui
Pendidikan Kewarganegaraan Di Sekolah".
Jurnal.Vol.5.No.1 Hal.264
Kemdiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan
Karakter. Jakarta:Puskurbuk
Kompasiana. 2019.
https://www.kompasiana.com/triwahyuni123/5
dca9e4c097f360f3f355382/pendidikan-
karakter-sebagai-upaya-menumbuhkan-sikap-
bijak-menggunakan-media-sosial-di-era-
revolusi-industri-4-0. Diakses pada tanggal 5
Juni 2022
Malik Abdul.2019. Implementasi Pendidikan Karakter
di Lingkungan Masyarakat Sebauk. Jurnal
Anugrah
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003),312
Mursalim A. 2020. Penanaman Nilai Moral Dan Etika
Melalui Pembelajaran PPKN Berbasis
Kearifan Lokal Di SMA Negeri 9 Enrekang
Kabupaten Enrekang. Skripsi. Universitas
Muhammadiyah Makassar
85
Ni Putu Suwardani. 2020. “QUO VADIS” Pendidikan
Karakter. Denpasar- Bali: Unhi Press.
Nofmiyati. 2019. Nilai Nilai Moral Di Lingkungan
Masyarakat Sosial Dalam Gurindam Dua
Belas Karya Raja Ali Saji. Jurnal Ilmu-Ilmu
Keislaman
Prof. Dr. Wahyu, M. D. (2014). Pendidikan Karakter.
Bandung.
Sakinah Nurul Regina, Dinie Anggraeni . 2021.
"Implementasi Nilai - Nilai Pancasila. Sebagai
Karakter Dasar Para Generasi Muda Dalam
Menghadapi Era Revolusi Industri
4.0".Jurnal.Vol.5.No.1 Hal. 160
Salima Maryam Dinda.2021. "Implementasi Nilai-Nilai
Pancasila Pada Kearifan Lokal Masyarakat
Baduy". Jurnal.Vol.5 No.3.Hal.7161-7162
Samsuri. 1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga
Saputra Rizal.2021. "Implementasi Nilai-Nilai
Pancasila Dalam Lingkungan
Keluarga".Jurnal. Vol.2 No.2 Hal.8-10
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Septianingsih Ayu.2020."Pentingnya Menerapkan
Nilai-Nilai Pancasila Di Lingkungan
Masyarakat". Jurnal.Hal.8-9.
86
Sofyan Mustoip, M. J. (2018). Implementasi Pendidikan
Karakter. Surabaya.
Suprayekti. 2004. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta:
Depdiknas
Sutji Harijanti, S. N. (2021). Penilaian Pendidikan
Karakter Pada Kondisi Khusus Di Sma. Jakarta
Selatan.
Suyahman. 2021. Penguatan Nilai Pancasila Berbasis
Kearifan Lokal Sebagai Modal Dasar
Wujudkan Generasi Emas Tahun 2045.
Seminar Nasional Pembentukan Karakter Dan
Moralitas Bagi Generasi Muda Yang
Berpedoman Pada Nilai-Nilai Pancasila Serta
Kearifan Lokal. 31 Desember 2021
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja (Bandung: RemajaRosdakarya.
2012), 132
Yohana R.U. Sianturi, D. A. (2021). Penerapan Nilai
Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Dan Sebagai Pendidikan Karakter.
KEWARGANEGARAAN, 5 No. 1 Juni 2021.
87
ANGGOTA KELOMPOK
BAB I BAB II BAB III
BAB IV BAB V BAB VI
BAB VII BAB VIII BAB IX
BAB X