The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nasril aril, 2023-04-17 23:49:54

Ranji_dt_bandaro_tinggi_final

Ranji_dt_bandaro_tinggi_final

4/17/2023 Ranji Dibawah Payuang Dt. Bandaro Tinggi Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran Editor NASRIL, ST. RAJO MUDO VOLUME : 1


1 | P a g e KATA PENGANTAR Alhamdulillah bersyukur kita kepada Allah S.W.T., karena berkat hidayah dan inayahNya kita dapat menjalankan kehidupan kita didunia ini yang diikat dalam tali tiga sapilin yakni syarat, adat dan undang undang sehingga kita tumbuh dalam satu ikatan keluarga yang saling menghargai dan memuliakan aamiin ya rabbal alamin. Dalam kehidupan bersanak famili baik sebagai mamak, sebagai keponakan, sebagai ipar dan bisan maupun sebagai anak pihak dalam masyarakat adat yang terhimpun dalam keluarga besar didalam satu ikatan yang dipimpin oleh seorang Datuak yang pada hakikatnya Datuak itu gadangnyo (besarnya) karena anak kemenakan dan mengabdi untuk menjalankan amanah melindungi dan memelihara adat yang tumbuh didalam kaum, Pasukuan dan dalam nagari, yang pada bathinnya tunduk kepada kemenakan dan pada zahirnya anak kemenakan tunduk pada mamak atau Datuak dalam lingkaran dan kehidupan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, artinya seorang Datuak itu harus mengerti tentang syariat karena itulah rujukan terakhirnya. Sehingga dia bisa memaknai kehidupan dalam tatanan masyarakat adat yang lahir dari kelompok kecil sanenek, sakaum dan sasuku yang melahirkan persaudaraan sasuku. Oleh karena itu ikatan dalam adat sepersukuan kadangkala lebih erat hubungannya dibanding dengan ikatan karena hubungan tali darah sehingga kita yang merasa satu suku merasa seperti bersaudara kandung apa lagi kalau satu payung (keluarga satu Datuak). Kebiasaan seperti inilah yang diikuti dari dahulu sampai sekarang yang dikenal dengan pepatah “dari niniak turun kamamak dari mamak turun kakamanakan” yang terus mengalir seperti itu sampai kepada kita saat ini. Dengan memposisikan diri kita sebagai masyarakat adat tentu ada hak dan kewajiban kita masing masing dalam adat itu yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Diantara haknya adalah adanya pengakuan dari segi adat sebagai anak kamanakan baik menurut keturunan secara matrilineal atau keturunan secara patrilineal yang dalam waktu tertentu bisa sangat dibutuhkan. Sebaliknya kewajiban dari seseorang yang telah menggabungkan dirinya kepada masyarakat adat harus memenuhi kewajibannya untuk memelihara dan melestarikan adat yang diperturun dan dipernaik yang tersirat dalam budaya hidup masyarakat adat, hal itu tercermin ketika adanya kegiatan sosial atau musibah dalam satu kaum tersentak hatinya tanpa diundang untuk berbuat sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya bak pepatah” barek samo dipikua ringan samo dijenjeng “ Selain dari pada itu harus pandai hiup beradat dengan memakainya kato (kata) nan ampek (empat) yaitu: 1. Kato mendaki yaitu bagaimana berbicara dan bertingkah dengan orang yang tua dari kita dengan pribahasa na tuo dihormati. 2. Kato mendatang yaitu bagaimana berbicara dan bertingkah laku dengan teman seangkatan. 3. Kato malereng yaitu bagaimana berbicara dan bertingkat laku dengan ipar atau besar. 4. Kalo menurun yaitu bagaimana orang yang tua berbicara dan bertingkat kepada yang lebih muda sesuai dengan pepatah nan ketek dituliskan. Jakarta, 15 April 2023 Dt. Bandaro Tinggi


2 | P a g e Daftar Isi KATA PENGANTAR.................................................................................................................................0 Definisi Umum.............................................................................................................................................3 Etika Hidup Urang Minangkabau.............................................................................................................3 Bentuk Etika Didalam Masyarakat Minangkabau .........................................................................................4 Ninik Mamak................................................................................................................................................6 a. Sistem kekerabatan matrilineal: ciri khas suku Minangkabau ..................................................................6 b. Ninik Mamak dalam unsur Tungku Tigo Sajarangan.............................................................................7 Panghulu/ Datuak di Minangkabau..........................................................................................................9 Mekanisme pendirian panghulu/Datuak ................................................................................................10 Lapehnya gelar Panghulu/ Datuak..........................................................................................................11 Sistem sapaan diMinangkabau/Kekerabatan ........................................................................................12 Mekanisme penyebutan basanak, ba famili ...........................................................................................13 Nagari sarik...............................................................................................................................................15 Pepatah Minang ........................................................................................................................................16 RANJI KELUARGA BESAR Angk Datuak Bandaro Tinggi ..............................................................23


3 | P a g e Definisi Umum Minangkabau, daerah yang memiliki keunikan, ciri khas dan memiliki daya tarik tersendiri. Filosofi hidup yang tergambar dari pepatah urang Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai, alam takambang jadi guru, dan syarak nan kawi adat nan lazim” yang artinya “adat bersandarkan kepada syariat (agama), syariat bersandarkan kepada kitab Allah (Al-qur’an) menjadi pedoman yang kuat bagi masyarakat Minangkabau dalam menjalankan kehidupan seharihari yang sesuai dengan syariat agama Islam yang merupakan rahmatan lil alamin. Landasan falsafah hidup “Alam Takambang Jadi Guru, Dima Bumi Dipijak, Disinan Langik Dijunjuang” membuat masyarakat Minangkabau mempunyai prinsip “menjadi orang” di mana pun berada, di ranah Minang ataupun di rantau Etika kehidupan orang Minangkabau juga disangkutkan dengan kegiatan rohaniah yang disebut raso jo pareso (rasa dengan periksa), yang menjadi sumber dari tahu nan ampek (memahami empat perkara), yaitu tahu di diri (memahami diri sendiri), tahu di urang (memahami orang lain), tahu di alam (memahami alam), tahu di Tuhan (menyadari adanya Tuhan). Etika Hidup Urang Minangkabau Etika hidup urang Minangkabau pada dasarnya sama seperti etika suku-suku lain, tetapi ada beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya, kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minangkabau menganut sistem garis keturunan Ibu, matrilinial. Orang Minangkabau memahami ajaran adatnya akan memandang bahasa dan budi itu berada pada derajat yang sama. Dalam mamangan (ungkapan-ungkapan berisi kearifan) adat Minangkabau dikatakan bahwa yang baik adalah budi, yang indah adalah bahasa atau ucapan (nan kuriak kundi, nan merah sago/ nan baiak budi, nan indah bahaso). Etika atau adat merupakan aturan hidup sehari-hari, dan hidup yang tak beraturan bagi masyarakat adalah hidup yang tidak beradat. Jadi, aturan itulah etika, etika itulah yang menjadi pakaian sehari-sehari. Bagi orang Minang, duduk tagak beretika, makan minum beretika, berbicara beretika, berjalan beretika, menguap beretika, dan bahkan untuk batuk saja beretika. Aturan-aturan itu biasanya disebutkan dalam bentuk pepatah-petitih, serta pantun, seperti: “Batanyo salapeh panek, barundiang sasudah makan.” Makna dari pepatah tersebut ialah, jika hendak bertanya kepada sesorang tunggulah terlebih dahulu sampai yang bersangkutan hilang lelahnya, kepada tamu biasanya langsung menyuguhkan minuman. Setelah lelah dan haus dahaga hilang, barulah bertanya maksud kedatangannya.


4 | P a g e Kalau dilihat dari pengertian etika menurut kaidah Minangkabau, maka dapat disimpulkan dari kaidah adat yang berbunyi: “Sawah diagiah bapamatang, Ladang diagiah bamintalak, Rimbo diagiah bajiluang, Hutan diagiah bakaratau, Babedo tapuang jo sadah, Babiteh minyak jo aia, Balain kundua jo bubua.” Maksud dari kaidah etika Minangkabau di atas ini adalah ketentuan-ketentuan hidup bermasyarakat orang Minangkabau yang didasarkan pada budi pekerti yang tinggi guna terciptanya keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan ditengah-tengah masyarakat. Jadi, fungsi etika Minangkabau tersebut adalah agar masyarakat dapat merasakan hidup aman, tertib, damai, bahagia. Hal inilah yang terkandung dalam kaedah etika yang berbunyi “Hiduik dikanduang adat, mati dikanduang tanah”. Tegasnya, bahwa seluruh aspek kehidupan telah diatur oleh etika Etika atau adat juga menghendaki setiap orang yang berada dalam kaum dan Nagari berprilaku sesuai dengan ketentuan etika di mana mereka berada, biasanya dalam etika diistilahkan dengan “Perangai Ninik Mamak” perilaku inilah yang mencerminkan tipe orang yang berperilaku ideal bagi orang Minang; “Tahu dek duri kamuncucuak, tahu dek dahan nan kamahimpok, mangarati hereang jo gendeng, takilek ikan dalam aia jaleh jantan batinonyo, pai tampek batanya dan pulang tampek babarito, alamnyo lapang pandangnyo lapang, batangnyo tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang, daunnyo tampek bataduah, muluik manih kacindan murah, dibucuik ndak mati diasak tak layua. Bentuk Etika Didalam Masyarakat Minangkabau 1. Adat nan Sabana Adat (Etika Yang Sebenarnya) Etika di Minangkabau adalah etika yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan yaitu adat ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah adat Minangkabau “ikan adatnya berair, air adatnya membasahi, pisau adatnya melukai” arti etika yang dimaksud disini adalah perilaku alamiah yang hidup ditengah-tengah masyarakat sehingga menjadi ketetapan yang tidak berubah. 2. Adat nan Diadatkan (Etika Nenek Moyang) Adat nan diadatkan adalah etika buatan yang direncanakan, dirancang, dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan seharihari. Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam pepatah dan petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias.


5 | P a g e Untuk etika yang diadatkan ini sebuah pepatah-petitih Minangkabau mengatakan: “Adaik nan diadaikkan Kok dicabuik mati Kok diasak layua.” (Adat yang diadatkan Kalau dicabut akan mati Kalau digeser akan layu). Artinya, apabila ada pihak-pihak mana saja yang mencoba menghapus atau mengubah adat yang diadatkan ini maka akan menimbulkan kerusakan, kemudaratan kepada orang tersebut. Begitupun jika ada pihak-pihak yang menghapus atau bahkan melakukan perubahan adat yang diadatkan maka hal tersebut akan menghancurkan adat Minangkabau 3. Adat nan Taradat (Etika Hasil Musyawarah) Adat nan Taradat atau Adat yang teradat ialah aturan-aturan etika yang disusun dengan hasil musyawarah mufakat Panghulu-Panghulu ninik mamak di tiap-tiap nagari di Minangkabau. sebagaimana yang diungkapkan dalam pepatah yang berbunyi “lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain hilalangnyo, lain nagari lain adatnyo” artinya, aturan pelaksanaan etika di setiap Nagari akan berbeda antara satu dengan yang lain. Walaupun berbeda dalam aturan pelaksanaannya, namun tidak berbeda tentang dasar hukumnya, yakni sama-sama berdasarkan adat nan didatkan oleh nenek moyang yang menciptakannya. Adat yang teradat merupakan etika yang dipakai dalam seluhak, senagari, selaras. Di sini terpakainya: “Cupak sapanjang batuang. Adaik nan sapanjang jalan.” Cupak sepanjang bambu. Adat sepanjang jalan. Pepatah orang tua-tua Minangkabau juga mengatakan: Dima sumua digali, di situ rantiang dipatah. Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Dima nagari dihuni, di situ adaik dipakai.” Di mana sumur digali, di situ ranting dipatah Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung Di mana nagari dihuni, di sana adat dipakai. 4. Adat Istiadat (Etika Kaum/Nagari) Setiap kumpulan individu dalam sebuah daerah atau tempat yang sering kita sebut dengan istilah masyarakat tentu memiliki kebiasaan dan hal-hal yang turun temurun diajarkan kepada anak-anak, cucu keturunannya, sampai kepada yang paling kecil untuk nanti diajarkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam sebuah daerah, hal tersebut dikembangkan dari orang-orang tertua pada masa dahulunya yang merangkak dari satu ke satu lainnya, kelompok kepada kelompok-kelompok lainnya hingga menjadi hal yang dibiasakan dalam sebuah tempat tersebut. Seperti dalam sebuah pepatah Minang: Sakali aia gadang sakali tapian baranjak Sakali musim bertukar sakali caro baganti Hukum biaso dibanding Undang biaso


6 | P a g e dikarasi Limbago biaso dituangi Cupak bakaadaan. (Sekali air besar sekali tepian beranjak Sekali musim bertukar sekali cara berganti Hukum biasa dibanding Undang biasa dikarasi Lembaga biasa dituangi Cupak berkeadaan.) Ninik Mamak a. Sistem kekerabatan matrilineal: ciri khas suku Minangkabau Dilihat dari perkembangan sejarah, masyarakat Minangkabau memakai prinsip keturunan ibu atau Matrilineal. Dalam sistem ini anak-anak masuk ke dalam suku ibunya dan bukan suku pihak ayah. Demikian juga kaum laki-laki dalamhal ini tidak termasuk ke dalam keluarga istrinya. Ia merupakan orang asing dan di Minangkabau istilahnya disebut “urang sumando”. Walaupun organisasi masyarakat Minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu, namun yang berkuasa di dalam kesatuan-kesatuan tersebut selalu orang laki-laki dari garis ibu, hanyasaja kekuasaan selalu didasarkan atas azas mufakat seperti bunyi pepatah Minang, “kemenakan beraja ke mamak, mamak beraja ke mufakat”. Dalam struktur kebudayaan Minangkabau ada 4 jenis kemenakan yakni: 1. Kemenakan di bawah dagu, maksudnya kemenakan yang ada hubungan darah, baik yang dekat maupunyang jauh; 2. Kemenakan di bawah dada, yakni kemenakan yang adahubungannya karena suku sama, tetapi Panghulunya beda; 3. Kemenakan di bawah pusat, yakni kemenakan yangada hubungannya karena bersuku sama, tetapi bedanagarinya, dan 4. Kemenakan dibawah lutut, yakni kemenakan yang berbeda suku dan nagari tetapi meminta perlindungan ditempatnya. Mamak merupakan pemimpin, oleh sebab itu pengertian mamak pada setiaplaki-lakiyang lebih tua juga berarti pernyataan yang muda memandang yang lebih tua menjadi pemimpinnya. Dimanapun juga di Minangkabau, anak kemenakan amat segan kepada mamaknya, bahkan dia akan lebih patuh kepada mamaknya dari pada kepada perangkat pemerintah di desanya. Sesuai dengan fungsi dan tugasnya dalam kekerabatan garisketurunan ibu, maka yang disebut mamak dapat diklasifikasikan atas tiga jenis yakni: 1. Mamak rumah,


7 | P a g e 2. Mamak kaum (Panghulu), dan 3. Mamak suku. Mamak rumah adalah saudara sekandung laki-laki ibu atau garis ibu yang serumah gadang yang dipilih menjadi wakilpembimbing/pembina anggota garis ibu yang terdekat. Oleh karena itu ia menguasai sejumlah potensi produktif keluarga, yang dikerjakan keluarga (paruik) termasuk harta pusaka keluarga. Mamak rumah ini disebut juga tungganai. Mamak kaum (Panghulu) adalah seseorang yang dipilihdi antara beberapa mamak rumah atau tungganai yang terikat dalam hubungan darah yang disebut kaum,sehingga mamakkaum disampingberfungsisebagaimamak bagikeluarga (paruik)juga bertugas mengurus kepentingankepentingan kaum. Mamak suku yaitu, yang menjadi pimpinan suku. Apabila sebuah paruik anggota-anggotanya telah berkembang begitu banyaknya sehingga timbullah cabang dari paruik-paruikitu sebagai kesatuan baru, dan apabila itu terus berkembanglebih jauh lagi sepanjang perjalanan masa, maka akhirnya kita menjumpai suatu lingkungan yang anggota-anggotanya satu sama lain diikat oleh pertalian darah menurut garis ibu, maka lingkungan ini dipimpim oleh mamak suku. b. Ninik Mamak dalam unsur Tungku Tigo Sajarangan Tungku Tigo Sajarangan di Minangkabau pada awalnya tidak dikenal dinagari, yang ada adalah istilah limbago (institusi) yang dikenal dengan sebutan limbago ninik mamak yang mengatur kehidupan masyarakat nagari di segala bidang seperti adat, ekonomi, sosial, dan lain-lain. Istilah tali tigo sapilin ini baru dikenal setelah terjadinya perubahan nagari menjadi desa selama Orde Baru dengan acuan tali tigo sapilin / tungku tigo sajarangan (adat, agama, hukum negara). kepemimpinan para ninik mamak merupakan salah satu unsur kepemimpinan “tungku tigo sajarangan” yang terdiri dari para ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai. Peran ninik mamak berkaitan dengan adat dan hubungan ke dalam kaum dan suku, jika keluar akan berhubungan dengan nagari dan antar nagari.


8 | P a g e Istilah kepemimpinan tungku tigo sajarangan atau Tali Tigo Sapilin diibaratkan dengan bejana di atas tungku. Jika bejana dalam posisi seimbang di atas tungku, bejana tidak akan jatuh ke api. Artinya pemerintah berjalan dengan posisi dan kedudukan masing-masing, maka masyarakat akan terhindar dari permasalahan. Pemecahan masalah di Minang sangat unik yaitu dengan musyawarah dan mufakat. Seperti petatah petitih di bawah ini : Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi. Adat juga mengatakan bahwa ninik mamak tersebut ibarat“kayu gadang ureknyo tampek bagantuang, batangnyo tampekbasanda” (kayu besar, akarnya tempat bersila, dahannya tempat berlindung, batangnya tempat bersandar). Artinya adalah ninik mamak merupakan pemimpin dalam kaumnya, pimpinan dalam nagari yang mengayomi anak kemenakan yang dibawah perintahnya. Segala perbuatan yang hendak dilakukan yang akan membawa akibat-akibat tertentu, terlebih dahulu harus diberitahukan kepada mamak dan sekaligus minta restu, izin, bila telah selesai melakukan satu perbuatan tersebut diberitahukan pula hasilnya.


9 | P a g e Panghulu/ Datuak di Minangkabau Panghulu / Datuak, merupakan pemimpin diMinangkabau dinyatakan sebagai urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang, tumbuh dek ditanam, tinggi dek dianjuang, gadang dek diambik/dilambuak. Datuak di Minangkabau adalah gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepakatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah Minangkabau (provinsi Sumatra Barat sekarang) dan selanjutnya disetujui sampai ke tingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat (Kerapatan Adat Nagari biasa disingkat dengan KAN). Gelar ini sangat dihormati dan hanya dipakai oleh kaum lelaki Minang yang akan atau telah menjadi pemangku adat/tokoh pemuka adat atau Panghulu (nama lain dari Datuak) bagi suatu suku atau kaum tertentu di Minangkabau. Sebelum gelar ini disandang seseorang, mesti dilakukan suatu upacara adat atau malewakan gala (Bahasa Minang), dengan sekurangnya memotong seekor kerbau dan kemudian diadakan jamuan makan. Dan jika calon Datuak tersebut tidak mampu untuk mengadakan acara tersebut, maka dia tidak berhak untuk menyandang gelar Datuak tersebut. Seseorang yang bergelar Datuak dapat juga disamakan dengan pemimpin suatu kaum atau suku dan gelar tersebut juga khusus untuk kaum atau suku tersebut, tetapi kadang kala ada juga gelar Datuak diberikan kepada seseorang (lelaki) hanya sebagai gelar kehormatan saja. Seseorang yang telah menyandang gelar Datuak dan di-lewa-kan, maka masyarakat setempat tidak diperkenankan lagi memanggil nama sebelumnya tetapi mesti memanggil dengan nama kebesarannya itu, jika ada masyarakat setempat yang diketahui menghina dan merendahkan seseorang yang bergelar Datuak, maka orang tersebut akan dikenai sanksi adat. Kepemimpinan yang dikembangkan dalam masyarakat di Minangkabau adalah kepemimpinan kolektif, pola kepemimpinan ini yang merupakan sinergi tiga kekuatan. Dengan asas yang hidup dan berlaku dalam masyarakat Minangkabau yang akan menciptakan masyarakat yang seperti tersebut dalam pepatah: Sahino Samalu, Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Kaba baiak baimbauan, kaba buruak baambauan. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun. Tuah dek sakato, hino dek silang sangketo artinya Sama-sama hina, sama-sama malu. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kabar baik diberitakan, kabar buruk disingkirkan. Ke bukit sama mendaki, ke lembah sama menurun.


10 | P a g e Telungkup sama-sama makan tanah, Menelentang sama-sama minum embun. Bertuah karena sekata, hina karena bersengketa. Atau Kaluak paku kacang balimbiang, Tampuruang lenggang-lenggangkan, Baok menurun ka saruaso, Tanamlah siriah jo ureknyo maksudnya Anak dipangku kamanakan dibimbiang Urang kampuang dipatenggangkan Tenggang Nagari jan binaso Tenggang sarato adatnyo. Mekanisme pendirian panghulu/Datuak Dalam budaya Minangkabau pendirian Panghulu baru dikenal dengan nama Batagak Panghulu (mendirikan Panghulu), dengan beberapa macam mekanisme sebagai berikut: a. Mati batungkek budi, mendirikan Panghulu/Datuak baru karena Panghulu/ Datuak yang lama meninggal dunia. b. Mambangkik batang tarandam, mendirikan Panghulu/ Datuak baru setelah bertahuntahun tidak dapat dilaksanakan karena belum adanya biaya yang cukup untuk mengadakan Malewa gala (perjamuaan). c. Mangambangkan nan talipek, mendirikan Panghulu/ Datuak baru karena sebelumnya tertunda karena belum adanya kesepakatan dalam kaum tersebut. d. Manurunkan nan tagantuang, mendirikan Panghulu/ Datuak baru karena calon sebelumnya belum cukup umur. e. Baju sahalai dibagi duo, mendirikan Panghulu/ Datuak baru karena pembelahan suku akibat perkembangan warganya sehingga diperlukan seorang Panghulu/ Datuak lain disamping Panghulu/ Datuak yang telah ada. f. Mangguntiang siba baju, mendirikan Panghulu/ Datuak baru karena terjadinya persengketaan dalam suku tersebut sehingga suku tersebut dibelah dan mempunyai Panghulu/ Datuak masing-masing. g. Gadang mayimpang, mendirikan Panghulu/ Datuak baru oleh suatu kaum yang ingin memisahkan diri dari pimpinan Panghulu/ Datuak yang telah ada. h. Bungo bakarang, pemberian status Panghulu yang membawa gelaran Datuak kepada seseorang oleh kesepakatan para Panghulu yang ada di nagari tempat dia tinggal. Gelar ini tidak dapat diwariskan karena gelar ini semacam pemberian gelar kehormatan kepada yang bersangkutan saja.


11 | P a g e Lapehnya gelar Panghulu/ Datuak Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan lepasnya gelar Panghulu yang telah diberikan oleh kaum, adapun beberapa penyebabnya diantaranya : 1. Tapijak dibenang arang, Panghulu melakukan kesalahan yang menimbulkan malu yang berhubungan dengan agama dan moral seperti melakukan syirik, murtad dari agama Islam, melawan orang tua. 2. Tatarung digalah panjang, Panghulu melakukan kesalahan yang menimbulkan malu yang berhubungan dengan manusia dan norma masyarakat dan hukum Negara, seperti berzina, merampok, berjudi, mabuk-mabukan, meremehkan/menodai kehormatan wanita, korupsi, fitnah, tidak adil, menikahi/melarikan istri orang, kemenakan kawin sesuku. 3. Takurung dibilik dalam, Panghulu dihukum penjara karena perbuatan criminal dan melanggar dua point diatas. 4. Tamandi sipincuan godang, Panghulu mengalami stresss, gila atau gangguan jiwa yang istilahnya disebut juga: Tapasontiong bungo nan kombang, tapanjiek lansek nan masak.


12 | P a g e Sistem sapaan diMinangkabau/Kekerabatan Dunsanak (Bahasa Indonesia: saudara) merupakan istilah kekerabatan di Minangkabau. Seseorang dapat dikatakan badunsanak apabila dia mempunyai satu garis keturunan dengan orang tersebut. Di Minangkabau dunsanak ada dua kategori. Pertama, dunsanak saparuik (seperut) yaitu dunsanak menurut garis keturunan ibu yang diurutkan dari nenek perempuan. Mereka yang dikatakan dunsanak saparuik ini bukan saja yang perempuan, tapi juga termasuk yang lakilaki. Garis keturunan yang seperti ini disusun dalam suatu daftar yang dinamakan ranji yang memuat asal usul keturunan seseorang. Dalam ranji tersebut dicantumkan nama nenek tanpa mencantumkan nama kakek, seterusnya nama anak perempuan dan anak laki-laki tanpa menulis nama ayahnya, ranji tersebut hanya mencantumkan keturunan dari perempuan saja, sedangkan keturunan laki-laki terputus hanya sampai ayahnya saja. Kelompok yang segaris keturunan seperti ini di Minangkabau dinamakan sekaum (satu kaum), dan setiap orang sekaum pasti sesuku (satu suku). Semua anggota kaum yang termuat dalam ranji tersebut berhak atas semua harta pusaka yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, baik dalam pengelolaan, hasil maupun pemeliharaannya. Semua harta pusaka yang diwariskan secara turun temurun ini tidak boleh diperjualbelikan, kecuali memenuhi syarat yang telah ditentukan secara adat dan tuntunan agama Islam. Inilah yang dikatakan sebagai sistem matrilineal ala Minangkabau. Kedua, dunsanak batali darah (bertali darah) yaitu dunsanak menurut garis keturunan ayah, baik laki-laki maupun perempuan. Dunsanak batali darah ini tidak banyak di bicarakan karena sistem yang berlaku di Minangkabau adalah matrilineal, sedangkan dunsanak batali darah mengarah kepada sistem patrilineal. Namun demikian dunsanak saparuik ataupun dunsanak batali darah tidaklah sama kedudukanya secara adat karena tidak termasuk dalam anggota kaum yang termuat dalam ranji, dan tidak mendapat hak untuk mewarisi harta pusaka turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Dunsanak batali darah yang terdekat dinamakan dunsanak sabako. Dunsanak sabako ini belum tentu sesuku, bisa jadi terdiri dari beberapa suku dan terdiri dari beberapa kaum. Dunsanak batali darah ini di Minangkabau disebut kaum famili yang tersusun dalam suatu kekerabatan sesuai dengan yang dianjurkan oleh agama Islam.


13 | P a g e Mekanisme penyebutan basanak, ba famili No Penyebutan Panggilan terhadap ibu kandung 1 Biai 2 Amai 3 Ibu 4 Bundo 5 Amak Panggilan terhadap kakak peempuan ibu 1 mak tuo 2 Mak angah 3 Etek 4 Mak odang Panggilan terhadap adik perempuan ibu 1 Etek 2 Aciak 3 Tante Panggilan terhadap kakak dan adik laki-laki Ibu 1 Angku 2 Mamak Panggilan terhadap ibu kandung ibu 1 Tuo 2 Inyiek 3 Nenek 4 Iyak / anduang Panggilan untuk kakak laki-laki kandung 1 Uda 2 Kakak 3 Abang Panggilan terhadap saudara laki-laki sepupu yang sebaya 1 Sebut nama/ gelar 2 (wa)ang 3 (a)mbo Panggilan untuk adik laki-laki kandung 1 Sebut nama / atau gelar 2 (wa) ang 3 (a) diak 4 Buyuang Panggilan untuk kakak perempuan 1 (Ka) kak 2 (u)ni Panggilan terhadap anak kandung perempuan 1 Sebut nama 2 (u)pik 3 (ga)dih Panggilan terhadap ayah kandung 1 (a)pak


14 | P a g e 2 (a)yah 3 (a)bak 4 (bu)ya Panggilan terhadap kakak laki-laki ayah 1 Tuo 2 Adang Panggilan terhadap adik laki-laki ayah 1 Etek 2 (a)pak unco Panggilan terhadap kakak dan adik laki-laki ibunya istri dan kakak serta adik lakilaki suami 1 (ma)mak 2 Mak adang 3 Mak aciak 4 Angku kaciak Panggilan terhadap ayah kandung dari ibu dan ayah kandung dari ayah 1 (i)yiak 2 Angku 3 Tan tuo 4 Gaek 5 Pak gaek Panggilan sapaan adat 1 Datuak 2 Inyiak 3 Angku 4 Sutan 5 Katik 6 Malin 7 Pakiah 8 Kari 9 labai


15 | P a g e Nagari sarik Sarik merupakan salah satu nigari yang terdapat dalam kecamatan Sungai Pua, kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat. Nagari Sarik terdiri dari delapan jorong atau dusun atau Rt jika dalam wilyah administrasi kota. Adapun 8 jorong tersebut dianataranya : 1. Pasa Kubang 2. Tabek Sarik 3. Dadok 4. Suntiang 5. Mudiak 6. Baruah Mudik 7. Sarik Ateh 8. Pandam


16 | P a g e Pepatah Minang 1. Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek. Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat. 2. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi. Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik. 3. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. 4. Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana 5. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik. Suatu persoalan yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan. 6. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo. Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang lebih penting tertinggal karenanya. 7. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan. Sifat seseorang yang tidak suka berterus terang dan tidak suka ketegasan dalam sesuatu. 8. Alua samo dituruik, limbago samo dituang. Seorang yang mentaati perbuatan bersama dan dipatuhi bersama.


17 | P a g e 9. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku. Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak. 10 Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang arih binaso tubuah. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku. Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak. 11. Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak. Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas. 12. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang. Yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan. 13. Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari. Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan. 14. Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyam buik, pumpun kuku patah pauahnyo. Seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas. 15. Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli. Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi.


18 | P a g e 16. Atah taserak dinan kalam, intan tasisiah dalam lunau, inyo tabang uleklah tingga, nak umpamo langgau hijau. Seseorang yang menceraikan istrinya yang sedang hamil, adalah perbuatan tidak baik. 17. Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam. Seseorang yang sedang menanggung penderitaan bathin. 18. Adaik rang mudo manangguang rindu, adaik tuo manahan ragam. Sudah lumrah seorang pemuda mempunyai suatu idaman, dan lumrah seorang yang telah tua menahan banyak karena umurnya. 19. Alah limau dek mindalu, hilang pusako dek pancarian. Kebudayaan asli suatu bangsa dikalahkan oleh kebudayaan lain. 20. Adat dipakai baru, jikok kain dipakai usang. Adat Minangkabau kalau selalu diamalkan dia merupakan ajaran yang bisa berguna sepanjang zaman. 21. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak. Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat. 22. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang. Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun. 23. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah. Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya. 24. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah. Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.


19 | P a g e 25. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama. 26. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi. Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan. 27. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula. Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya. 28. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham. Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya. 29. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek. Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki. 30. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato. Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat. 31. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh. Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan. 32. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili. Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut. 33. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah. Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.


20 | P a g e 34. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai. Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya. 35. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran. Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya. 36. Basasok bajarami, bapandam pakuburan. Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau 37. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang. Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya. 38. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik. Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat. 39. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan. Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri. 40. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.


21 | P a g e Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian. 41. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai. Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah. 42. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan. Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan. 43. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso. Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. 44. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu. Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing. 45. Buruak muko camin dibalah. Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan. 46. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan. Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi. 47. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.


22 | P a g e Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya. 48. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang. Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru. 49. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek. Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya. 50. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh. Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.


23 | P a g e RANJI KELUARGA BESAR Angk Datuak Bandaro Tinggi


A1 Banda Biyai Banda B1 Tjanti B2 Kitjut DT. Bandaro Tinggi C1 Djangga C2 Sangat D1 Ungkit D2 Cani D3 Suman D4 Bani E1 Damin E2 Simin E3 Tinap E4 Djuna F1 Lina F2 Amir F3 Asna F4 Asmi


B3 Geboh B4 Randuk A2 Banda DT. Bandaro Tinggi D5 Busao D6 Talib E5 Djaliah E6 Daimah E7 Boteh E8 Dingin F5 Linan F6 Mali F7 Agus F8 Kitjik F9 Nurbaya F10 Inas F11 Uli B3 B4


C3 Gando B3 D7 Calau D8 Sanurai D9 Birai D10 Amat E9 Jusuf E10 Djamin E11 Basan E12 Ilah E13 Unan E14 Jusuf E15 Jusuf E16 Jusuf E17 Sidin E18 Durin F12 Maria F13 Wawan F14 xxxx F15 xxx F16 xxx F17 xxx F18 xxx F19 xxx F20 xxx F21 xxx F22 xxx F x


C4 Bukit C6 Banisam C5 Bujung D11 Djalil D12 Lea D13 Kimin E19 Saonah E20 Adjis E21 Tiawai E22 Binu E23 Sabiah E24 Barisah F23 xxx F24 Djony F25 Emly F26 Djusna F28 Sjamsu F27 Uli E23 E24


E23 F29 Idjas F30 Nursian F31 Sima F32 xxx


F33 Rosna


E24 F34 Munir F35 Bujung F36 Marlis F37 Marni G1 Zulkarnain G2 Feriyanto G3 Yulimar H1 M. Alf


F38 Saparudin G4 Lusiani G5 Nasril 1 fian H2 Naesy Septiani H3 Aqila Mulya Ramadhani


B4 C7 Kidan C8 Tjanca C9 Itan DT.Bandaro Tinggi C10 Galenjang C11 Luma D14 Rasad D15 Timah D16 Iti C12 Canti E25 Mulut E26 Itjat E27 Bidah E28 Djube E29 Lusi E30 Katar E31 Marok


D17 Bungo D18 Taib E32 Awan E33 Darusam E34 Kasuma E35 Ambia E36 Nawas E37 Cambun E38 Raima D19 Kamaludin DT. Bandaro Tinggi


24 | P a g e Daftar Pustaka Etika Minangkabau (Telaah terhadap tungku tigo sajarangan), Dyan Chlaudina, Juli 2021 Revitalisasi peran ninik mamak dalam pemerintahan nigari, Betty Sumarty,Agustus 2007 Sistem sapaan Bahasa Minangkabau, Asni Ayub dkk, Januari 1984 Pantun adat Minangkabau, N.M. Rangkoto, Februari 1982


Click to View FlipBook Version