The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ade82suprihatin, 2022-10-11 02:27:11

Jurnal DWI MINGGUAN

MODUL 1.1.









Jurnal DWI









MINGGUAN







































































































A D E S U P R I H A T I N

ADE SUPRIHATIN




CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6




SDN SUKMAJU 10 KOTA DEPOK





KELAS




06.69.JABAR.MUHAMMAD_RIDHO_MUTTAQIN











Secara umum, jurnal adalah sebuah tulisan yang dibuat




oleh orang-orang yang ahli dalam suatu bidang.




Sementara itu, Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia




kata ‘refleksi’ masuk dalam dalam kategori kelas kata





benda, dan memiliki makna gerakan atau pantulan di




luar kesadaran sebagai reaksi atas suatu hal atau




kegiatan yang datang dari luar. Dengan demikian maka





bisa dikatakan bahwa jurnal refleksi dwimingguan




adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah




mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill)




yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Dan ini





sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh




para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya.




Jadi kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya





mengenai kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah




kami lalui, khususnya pada modul 1.1 Tentang Filosofi




Pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dalam menulis jurnal




refleksi ini saya berpedoman pada model 4F, yang





diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yang mencakup:




1) Fact; 2) Feeling; 3) Findings; dan 4) Future.

Fact






Secara bahasa fact bermakna fakta. Jadi pada sub bagian ini




penulis akan menceritakan secara objektif tentang rangkaian



peristiwa yang telah dialami selama kurang lebih dua minggu



ini. Adapun beberapa rangkaian peristiwa yang menulis alami




selama rentang waktu 2 minggu ini adalah:



1. Bahwa daerah saya, yakni Kota Depok adalah baru pada




kesempatan Angkatan 6 ini menjadi daerah sasaran PPGP ini.



Dan saya, alhamdulillah berkesempatan untuk menjadi bagian




dari pada kegiatan ini. Pada tanggal 23 Agustus 2022 seluruh



peserta CGP dimasukan ke dalam group masing-masing sesuai




dengan jadwal yang ada di laman guru penggerak, A



Alhamdulillah saya masuk kelas




06.69.JABAR.MUHAMMAD_RIDHO_MUTTAQIN dengan



fasilitator yang hebat Bapak Muhammad Ridho Muttaqin dan



pengajar praktik Ibu Sari Ummu Lintang Kegiatan ini diawali




dengan pembukaan yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal



24 Agustus 2022 melalui secara daring melalaui




https://bit.ly/Peserta_A6. Turut hadir pada event pembukaan



secara nasional ini adalah Bapak Menteri Pendidikan,




Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Bapak Nadiem Makarim, B.A.,



M.B.A., Bapak Direktur KSPSTK (Kepala Sekolah, Pengawas



Sekolah, dan Tenaga Kependidikan), Bapak Dr. Praptono, M.Ed,




Bapak Dirjend GTK Bapak Dr. Iwan Syahril, Ph.D, seluruh



penyelenggara/BBGP/BGP, Calon Pengajar Praktik, Calon Guru




Penggerak seluruh Indonesia yang tergabung di PGP Angkatan 6.



Pada kesempatan sambutan dalam pembukaan ini, Bapak Dirjen




GTK menyampaikan ‘Apapaun yang dilakukan dari hati, akan



diterima pula oleh hati”. Dengan ini beliau berharap bahwa



semua elemen PGP ini akan melakukan semua programnya dari




hati sehingga semuanya juga akan diterima dengan setulus hati.



Kemudian dilanjutkan dengan orientasi program LMS melalui




link zoom https://zoom.us/j/97271691878?



pwd=U0wxRFl0MXBrbHFEeVJzUFhvYUUyUT09 Kemudian




tanggal 26 Agustus 2022 kami mengikuti koordinasi Fasilitator,



PP dan CGP melalaui http://meet.google.com/bpz-zvkk-ian

2. Agenda selanjutnya adalah pre-test yang




dilaksanakan secara online, dan dikuti oleh semua




calon peserta PPGP. Kegiatan ini dilaksanakan pada





tanggal 29 Agustus 2022.




3. Berikutnya, pada tanggal 30 Agustus 2022, kegiatan




dilanjutkan dengan materi ‘Mulai dari Diri & Eksplorasi





Konsep - Mandiri. Pada bagian ini, kami sudah




4. mulai mengerjakan tugas dengan mengisi LMS yang




disediakan oleh penyelenggara PPGP. Disini kami




menjawab pertanyaan-pertanyaan refleksi kritis,





diantaranya: (1) Apa yang ada Anda ketahui tentang




pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai




pendidikan dan pengajaran?; (2) Apa relevansi





pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia




saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara




khusus?; (3) Apakah Anda merasa sudah melaksanakan




pemikiran KHD?. Dan juga pertanyaan mengenai





‘Harapan dan Ekspektasi’ kami sebagai calon guru




penggerak.




5. On the next day, kami sudah mulai bergelut dengan





materi 1.1.a.4. Eksplorasi Konsep. Yakni konsep-konsep




pemikiran Ki Hajar Dewantara. Kami disajikan video,




tulisan-tulisan dan juga manuskrip pidato KHD pada




saat penganugerahan honoris causanya di Universitas





Gajah Mada. Kami membaca, memahami dan




menganalisis semua konsep-konsep pemikiran KHD




khususnya dalam hal pendidikan. Kegiatan pendalaman





materi ini juga merupakan sesi persiapan agar kita




sudah cukup punya pemahaman untuk melaksanakan




rangkaian kegiatan berikutnya.

6. Rangkaian kegiatan berikutnya adalah Forum diskusi.




Pada kesempatan ini kami mengikuti sesi diskusi seru




sesama semua CGP Angkatan 6 yang dipandu oleh Ibu




Fasilitator yang hebat, yakni Ibu Syahruni Ningsih.





Kami mendiskusikan tentang konsep pemikiran KHD




yang sebelumnya kami pelajari.




7. Tepat pada hari Kamis, tanggal 1 September kami




mengikuti RuKol 1 (Ruang Kolaborasi) 1. Sesi ini





dijalankan dengan diskusi dalam kelompok-kelompok




kecil antara 5 - 6 orang peserta tiap kelompok. Kami




berdiskusi mengenai implementasi konsep pemikiran





KHD dalam mengangkat tema-tema kedaerahan




(budaya lokal). Saya, pada kesempatan ini, tergabung di




kelompok 2 dan mengangkat tema tentang ‘Sayyang




patudu’ salah satu budaya tanah Mandar yang syarat





dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Sementara




itu, kelompok 1, membahas tentang budaya ‘tabe’.




8. Hari berikutnya, Jum’at tanggal 2 September adalah





tugas kami untuk mengikuti RuKol (Ruang Kolaborasi)




2, yang akan diisi dengan presentasi masing-masing




kelompok mengenai hasil diskusi kelompok sehari




sebelumnya. Pada kesempatan ini, kami masing-





masing, antara kelompok, saling mengkritisi. Masing




keompok saling mengajukan pertanyaan-pertanyaan,




ide-ide dan lain sebagainya. Dengan kegiatan ini kami





menemukan apa-apa dan bagaimana kita akan bisa




mengimplementasikan ‘sayang patudu’ dan ‘tabe’ ke




dalam kelas pembelajaran kita.




9. Selanjutnya tibalah hari Sabtu, tanggal 3 September





2022, yang merupakan agenda dilaksanakannya




Lokakarya Orientasi. Kami mendapatkan penjelasan




panjang lebar mengenai PGP, mengenai LMS dan lain





sebagainya.

Pada kesempatan ini, alhamdulillah, juga dihadiri oleh




Bapak Kepala BGP (Balai Guru Penggerak) Provinsi




Sulawesi barat. Beliau berpesan bahwa untuk





meningkatkan daya kritis kita terhadap fenomena di




sekeliling kita maka kita butuh referensi yang jelas dan




valid, sehingga tidak bisa tidak bahwa kita harus sering





baca buku. Ketika kita ingin membangun kebiasaan




membaca pada siswa, agar mereka juga memiliki daya




critical thinking maka sebagai ing ngarsa sung




tuladhanya kita sebagai guru juga harus hobi dan sering





membaca buku. Bahkan beliau mengajukan challenge




bahwa dalam satu bulan, kita (para guru) harus khatam




satu buku, lalu merefleksikan tulisannya dalam bentuk





jurnal refleksi, sehingga ketika PGP usai maka kita




akan mempunyai 6 buku refleksi. Sesi berikutnya dari




kegiatan lokakarya ini dihandle oleh para bapak




Pengajar praktik hebat, dan kebetulan kami dibawah





bimbingan Bapak PP (Pengajar Praktik) Abdur Rahman,




S.Pd, M.Pd. Kegiatan ini berlangsung sampai sore hari.




Kami juga membahas tentang pembuatan dan





pengumpulan beberapa LK dan tata cara pembuatan




jurnal refleksi digital.




10. Lalu hari-hari berikutnya adalah hari-hari




menuntaskan tagihan-tagihan tugas mengisi LMS,





seperti: 1) Tugas demonstrasi kontekstual; 2) Tugas




elaborasi pemahaman/koneksi antar materi, yang kami




tuangkan dalam bentuk artikel blok sederhana, ; 3)





Aksi nyata, dan; 4) Jurnal refleksi dua mingguan yang




ini.

Feeling






Feeling secara harfiah bermakna perasaan. Jadi selama




kurang lebih dua minggu mengikuti program PGP ini,





banyak sekali hal yang saya rasakan. Haru, senang,




galau, bahagia, semua bercampur baur menjadi satu




dan konvergen dengan keinginan dan tekad yang kuat





untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak




ini. Dengan kegiatan ini kami dipertemukan dengan




orang-orang hebat dan pilihan, karena untuk menjadi




bagian dari PGP ini orang harus melewati serangkaian





kegiatan, ujian dan lain sebagainya yang tidak cukup




mudah. Mereka para orang hebat tersebut adalah, para




fasilitator, pengajar praktik dan juga semua rekan-





rekan CGP.




Dari keseluruhan rangkaian modul, tagihan dan tugas-




tugas yang ada di dalam LMS ini membuat saya




menyadari bahwa apa yang saya miliki dan pahami





tentang Pendidikan ini masih sangat jauh dari apa yang




diharapkan dengan tujuan konsep pemikiran Ki Hajar




Dewantara.





Betapa KHD menerangkan bahwa kita harus




memanusiakan manusia, memerdekakan manusia, kita




harus menuntun sehingga murid dapat bertumbuh dan




berkembang secara optimal dengan segala kodratnya





(baik kodrat alam, maupun kodrat zamannya) sehingga




para siswa kelak dapat mencapai kebahagiaan yang




setinggi-tinggi nya, baik sebagai pribadi maupun





sebagai anggota masyarakat.

Finding






Banyak hal yang saya temukan dalam modul 1.1 ini,




utamanya mengenai konsep konsep pemikiran KHD





dalam dunia pendidikan. Diantaranya adalah sebagai




berikut:




Syarat-Syarat Pengetahuan





Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang




berdasarkan pada pengetahuan, yang dinamakan “Ilmu




Pendidikan”. Ilmu ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi




masih berhubungan ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan





ilmu syarat-syarat pendidikan (hulpwetenschappen),




yang terbagi menjajdi 5 jenis, yaitu: 1. Ilmu hidup batin




manusia (ilmu jiwa, psychologie); 2. Ilmu hidup jasmani





manusia (fysiologie); 3. Ilmu keadaan atau kesopanan




(etika atau moral); 4. Ilmu keindahan atau ketertiban-




lahir (estetika); 5. Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar




cara-cara Pendidikan).





Peralatan Pendidikan




Yang dimaksud dengan ‘peralatan’ adalah alat-alat




pokok, yakni caracara mendidik. Perlu diketahui bahwa





cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi




pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti




berikut: 1. Memberi contoh (voorbeld); 2. Pembiasaan




(pakulinan, gewoontervorming) 3. Pengajaran (wulang-





wuruk, leering) 4. Perintah, paksaan dan hukuman




(regearing en tucht); 5. Tindakan (laku,




zelfberheersching, zelfdiscipline); 6. Pengalaman lahir





dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving).

Tentang Akulturasi





Soal akulturasi yang telah kita masukan dalam






rangkain asas-asas ke-Tamansiswaan-an.





Yaitu “Asas Tri-con” yang mengajarkan,





bahwa di dalam pertukaran kebudayaan






dengan dunia luar harus kontinuitet dengan





alam kebudayaannya sendiri, lalu konvergensi





dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada,





dan akhirnya jika kita sudah bersatu dalam






alam universal, kita bersama mewujudkan





persatuan dunia dan manusia yang konsentris.





Konsentris berarti bertitik pusat satu dengan






alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi masih





memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri. Inilah





suatu bentuk dari sifat “Bhineka Tunggal Ika”.






Dan tentu saja, yang paling fenomenal adalah





reaktualisasi konsep “Ing ngarsa sung tuladha,





Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri






handayani”. Yang memiliki makna: Di depan





atau sebagai guru mampu memberikan contoh





dan teladan yang baik, di tengah-tengah murid






mampu membangun kehendak, keinginan, dan





atau ide, serta jika dibelakang mereka (para





murid) maka kita bisa memberikan tenaga dan






dorongan kepada kemajuan mereka

Future






Dalam bahasa inggris, future bermakna masa






yang akan datang. Jadi ini terkait planning atau





rencana kedepan bagaimana supaya lebih baik





dengan berpijak pada pengalaman-pengalaman






dan hasil refleksi ini. Kedepannya, saya akan





berusaha untuk mengaplikasikannya konsep-





konsep KHD ini secara langsung. Mulai dari diri,






kemudian ke kelas-kelas yang saya ajar, dan





lebih lanjut, kepada keseluruhan murid di





sekolah saya. Dan tentu tidak lupa kepada






seluruh warga dan masyarakat. Yakni





konkritnya saya akan 1) selalu refleksi dan





intropeksi diri sebagai pendidik; 2)





melaksanakan pembelajaran yang berpihak






pada siswa; 3) berperan sebagai pamong yang





siap ngemong dalam pembelajaran; dan 4)





membuat suasana pembelajaran yang






menyenangkan.


Click to View FlipBook Version