CULTUURSTELSEL
DI INDONESIA
PROFIL PENULIS
Nama saya Vivi Sandra Mauritania.
Saya lahir di Jember, 5 Maret 2001.
Saat ini saya sedang menempuh
pendidikan S1 Program Studi
Pendidikan Sejarah Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan di
Universitas Jember.
Dengan buku berjudul
Cultuurstelsel ini Saya berharap
pembaca nantinya bisa mengenal
dan memahami lebih dalam
mengenai kebijakan Cultuurstelsel.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan
buku E-modul tentang Cultuurstelsel di Indonesia. Buku E-modul
ini disusun berdasarkan standar isi kurikulum 2013 yang lebih
menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar
(Student center). Buku E- modul ini juga dilengkapi dengan
latihan soal untuk menguji pemahaman peserta didik terkait
dengan materi yang terdapat pada modul.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
buku E-modul ini. Oleh karena itu, kamisangat mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan dalam pembuatan
modul kedepan nya. Kami mengucapkan terimakasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu proses penyelesaian buku E-
modul ini, terutama dosen pengampu matakuliah media
pembelajaran bidang studi, Dr. Nurul Umamah, M.Pd dan Rully
Putri Nirmala Puji, S.Pd., M.Ed yang telah membimbing dalam
penyusunan pembuatan E-modul ini. Semoga buku E-modul ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik.
Penulis
Kompetensi Dasar
3.3 Menganalisis dampak politik, budaya, sosial,
ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan
bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, inggris)
dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini
Indikator
Menganalisis dampak ekonomi pada masa
penjajahan Bangsa Belanda di Indonesia
PETA KONSEP
2 PROFIL PENULIS FO ELBAT CONTENTS
3 KATA PENGANTAR
4 KOMPETENSI DASAR
DAN INDIKATOR
5 PETA KONSEP
6 DAFTAR ISI
7-12 MATERI CULTUURSTELSEL
13 LATIHAN SOAL
14 DAFTAR PUSTAKA
CULTUURSTELSEL
Gambar 1.1 proses penyortiran biji kopi
source: https://images.app.goo.gl/mwMyV26wVUDcuPv46
Setelah sebelumnya VOC yang merupakan suatu kongsi Jika ditinjau secara mendalam mengenai mekanisme
dagang terbesar milik pemerintah Kolonial resmi pelaksanaan Cultuurstelsel ini, maka kita akan
dibubarkan, maka selanjutnya untuk tetap bisa menopang menjumpai adanya aspek politik yang cukup menonjol di
perekonomiannya, antara tahun 1830 hingga memasuki dalamnya.
pertengahan abad ke-19 Pemerintah Kolonial mulai berfikir
dan memutuskan untuk menerapkan suatu sistem Jika berbicara mengenai mekanisme pelaksanaan
perekonomian baru yang dianggap mampu memberikan Cultuurstelsel, tentu tidak akan terlepas dari
sumbangsih besar bagi kehidupan pemerintah kolonial. keterkaitannya dengan Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan
Sistem tersebut kemudian dikenal luas dengan nama Pulau Jawa dulunya banyak dicari dan menjadi incaran
Cultuurstelsel yang diartikan sebagai “tanam paksa”. bangsa – bangsa barat, Sebab kondisi tanah – tanah di
Adapun penggagas yang mengusulkan ide mengenai Pulau Jawa sangat subur sehingga memudahkan
Cultuurstelsel sendiri tidak lain adalah Van Den Bosch. penduduknya untuk bisa menanam apa saja. Adapun
tanaman – tanaman yang dulu dijadikan sebagai
Hakikat dari Cultuurstelsel adalah, bahwa penduduk komodoitas di kalangan penduduk Jawa diantaranya
sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus harus adalah tanaman perkebunan semusim seperti tembakau,
menyediakan sejumlah hasil bumi yang nilainya sama tebu, dan indigo yang dapat diusahakan di lembah
dengan pajak tanah itu. (Sartono Kartodirjo, 2015: 15). sepanjang pantai utara Jawa. (Hisyam, M. dan Ardhana,
Penerapan Cultuurstelsesl disini dimaksudkan dalam rangka IK.,2012: 194). Melihat kondisi geografis pulau Jawa
untuk mewujudkan suatu pembangunan ekonomi yang yang sedemikian rupa kemudian menjadikan Bangsa
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Pemerintah Belanda semakin berhasrat tinggi untuk menguasai pulau
Kolonial. jawa.
07
CULTUURSTELSEL
Gambar 1.3 Aktivitas di
perkebunan kopi
source ;
https://images.app.goo.gl/JH3CQ1
8mhpDJqwbS6
Gambar 1.2 Van Den Bosch Gambar 1.4 penduduk pribumi
source : bekerja di ladang tebu diawasi
https://images.app.goo.gl/X9kD6 pemerintah kolonial
aoohJ6ifJ1T9 source :
https://images.app.goo.gl/TxwUz3g
V4PW3BjC36
Sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel sendiri mulai diberlakukan di Pulau Jawa pada tahun 1836,
dengan berada di bawah pengawasan langsung Van Den Bosch yang dianggap cukup berpengalaman
dalam mengelola perkebunan milik pemerintah belanda yang terdapat di kepuluan Keribia.(R.Z. Leirissa,
dkk. 1996: 54). Adapun tujuan Van Den Bosch menetapkan kebijakan Cultuurstelsel di pulau Jawa adalah
untuk mentransformasi Pulau Jawa menjadi exportir besar – besaran dari produk – produk Agraria, dengan
keuntungan dari penjualannya mengalir ke dalam keuangan Belanda. (R.Z. Leirissa, dkk. 1996: 54).
Penerapan Cultuurstelsel di pulau jawa tidak hanya untuk menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah
Exportir saja, melainkan Van Den Bosch juga menginginkan agar Pulau Jawa dapat memproduksi
berbagai komoditi yang memiliki nilai jual serta permintaan yang tinggi di pasaran dunia.
Pada sistem Cultuurstelsel, menurut perkiraan penduduk harus menyerahkan 2/5 dari hasil panen
utamanya atau sebagai penggantinya 1/5 dari waktu kerjanya selama setahun. (Sartono Kartodirjo, 2015:
15). Dengan ditetapkan nya ketentuan yang sedemikian rupa hal ini akan membantu menunjang berbagai
kebutuhan di pasaran Eropa. Adanya kemampuan untuk bisa memenuhi kebutuhan pasaran di Eropa
menjadikan pemerintah Kolonial semakin berantusias dan yakin bisa mendapatkan keuntungan yang
sebesar – besarnya dari hasil kegiatan ekspor yang dilakukan. Dalam rangka mewujudkan keinginan
pemerintah kolonial untuk mendapat keuntungan yang besar di pasaran, maka rakyat pribumi diminta
untuk mulai menanam dan membudidayakan produk tanaman yang mempunyai daya minat tinggi, seperti
misalnya kopi, gula, indigo, tembakau, teh, lada, kayumanis dan lain sebagainya. Diperkirakan jenis –
jenis tanaman tersebut mempunyai daya jual yang cukup tinggi di pasaran Eropa. Namun sangat
disayangkan karena berbagai proses penanaman yang dilakukan oleh kalangan pribumi merupakan suatu
bentuk paksaan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial dalam rangka memenuhi hasrat untuk
mendapatkan keuntungan semata tanpa memperdulikan bagaimana kondisi masyarakat pribumi saat itu.
08
CULTUURSTELSEL
Gambar 1.5 Peta Perekebunan Cultuurstelsel
source: https://images.app.goo.gl/YkJeQwicREQtKkbq5
Dengan adanya penerapan sistem Cultuurstelsel tersebut Dalam rangka mengikat kalangan bangsawan pribumi,
menandakan bahwa Nusantara saat itu telah memasuki era Pemerintah Belanda juga memberikan suatu prestise
politik baru yang disebut dengan politik kolonial. Sistem dengan menggaji mereka berupa tanah yang di dalamnya
tersebut akan lebih disesuaikan dengan adat kebiasaan akan memberikan mereka sebuah tenaga kerja dan
pribumi yang telah ada. Sehingga dengan demikian posisi penghasilan lainnya. (Sartono Kartodirjo, 2015: 16).
yang dimiliki oleh Kaum bangsawan feodal juga
dikembalikan pada posisi semula, sehingga pengaruh Berdasarkan data hasil observasi yang dikembangkan
mereka dapat dipergunakan untuk menggerakkan rakyat. oleh Prof. Fasseur yang berasal dari Universitas Leiden,
(Sartono Kartodirjo, 2015: 15). Meskipun kekuasaan kaum jumlah penduduk jawa yang dikerahkan untuk terlibat
bangsawan feodal dikembalikan, namun mereka disini tetap langsung di dalam Cultuurstelsel pada tahun 1840 adalah
harus berada dibawah pengawasan langsung dari pegawai– sekitar 75,5% dari keseluruhan jumlah populasi
pegawai Belanda. penduduk di Pulau Jawa. Namun jumlah ini selanjutnya
mengalami penurunan drastis di tahun 1850 menjadi
Secara tidak langsung di dalam sistem Cultuurstelsel ini 46%, dan di tahun 1860 pengerahan jumlah penduduk
kita akan menjumpai adanya sistem pemerintahan yang mengalami peningkatan sebanyak 54,5%, meskipun
dijalankan secara tidak langsung melalui adanya kepala – dapat dikatakan bahwa jumlah peningkatan ini masih
kepala pribumi. Sistem politik ini dapat pula disamakan sangat jauh apabila dibandingkan dengan pengerahan
dengan prinsip nonakulturasi yang dijalankan hingga penduduk di tahun 1840.
berakhirnya kepemerintahan Belanda. Bagi kalangan
bangsa Belanda, kaum bangsawan pribumi tidaklah lebih Berbicara mengenai pengerahan penduduk sebagai
hanya sebagai pelaksana – pelaksana yang akan membantu tenaga kerja, luas tanah garapan yang harus mereka
mensukseskan pemerintah kolonial dalam mencapai tujuan kerjakan dalam program Cultuurstelsel pada tahun 1840
awalnya. adalah sekitar 6% saja dari keseluruhan luas tanah yang
ada di Jawa.
09
CULTUURSTELSEL
Gambar 1.6 Proses pengangkutan hasil
panen tebu secara tradisional
source :
https://images.app.goo.gl/n4HGr8Q3TcZG
Cekf9
Kemudian selanjutnya di tahun 1850 mengalami penurunan menjadi 4%, dan di tahun 1860luas tanah garapan
yang harus dikerjakan mengalami sedikit kenaikan. Karena komoditi tanaman yang akan di budidayakan beragam,
maka hal ini juga berpengaruh terhadap jenis – jenis tanah yang juga akan digunakan untuk menanam. Dengan
adanya kebutuhan jenis tanah yang beragam ini kemudian berpengaruh menimbulkan adanya suatu perubahan
terhadap sistem kepemilikan tanah di Jawa. Karena penyelenggaraannya dilakukan per desa, maka tanah – tanah
juga dianggap milik desa, bukan milik perorangan. (Fassuer, 1992:28, 29 dalam R.Z. leirissa, dkk. 1996: 55).
Tugas petani di dalam Cultuurstelsel tidak hanya difokuskan untuk melakukan penanaman saja, melainkan petani
disini juga berperan cukup penting untuk memproses hasil panen nya dan diserahkan ke gudang – gudang milik
pemerintah. (R.Z. Leirissa, dkk. 1996: 56). Selain diharuskan memproses hasil panen, para petani pribumi juga
harus bekerja keras untuk melakukan pengangkutan hasil panen untuk dibawa ke gudang – gudang milik
pemerintah. Dapat dibayangkan jika dalam Cultuurstelsel ini rakyat pribumi harus benar – benar bekerja keras
mengerahkan segala tenaga dan kemampuan nya.
Bagi bangsa Belanda, hasil – hasil konkret dari adanya penerapan sistem Cultuurstelsesl ini adalah mereka
mendapatkan keuntungan yang sangat memuaskan. Antara tahun 1831 – 1877 Negara menerima dari daerah –
daerah jajahan kekayaan sebesar 823.000.000 gulden. (Sartono Kartodirjo, 2015:16). Cultuurstelsel tidak hanya
memberikan sumbangsih kekayaan bagi pemerintah, melainkan adanya Cultuurstelsel nyatanya juga membantu
mendorong jalannya perdagangan dan pelayaran Bangsa Belanda. Bahkan bangsa Belanda kembali mendapatkan
kedudukan nya sebagai suatu bangsa yang memiliki pusat penjualan bahan mentah terbesar di dunia. Tidak hanya
itu saja, bangsa belanda pun juga mendapatkan predikat armada dagang nomor tiga diseluruh penjuru dunia.
Segala kesuksesan dan kejayaan yang diperoleh oleh Bangsa Belanda juga tidak lepas dari adanya pengerahan
tenaga kerja pribumi yang dilakukan secara paksa. Sebagai motor penggerak dari adanya kebijakan Cultuurstelsel,
Penduduk pribumi pun kemudian diberikan bayaran atas hasil kerjanya. Namun sejauh ini para ahli sejarah masih
belum bisa memperkirakan atau menentukan tinggi rendahnya upah yang diterima oleh kalangan pribumi saat itu.
10
CULTUURSTELSEL
Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pemberian upah Bagi Pemerintah Kolonial sendiri, Cultuurstelsel
terhadap masyarakat pribumi saat itu adalah dalam kondisi merupakan penyelamat atas segala permasalahan
yang beragam sesuai dengan karesidenan – karesidenan. ekonomi yang dialami oleh Bangsa Belanda. Bahkan
setelah diberlakukan nya Cultuurstelsel mereka dapat
Salah satu dampak dari adanya Cultuurstelsel adalah mengatasi dengan baik berbagai permasalahan terkait
masuknya ekonomi uang di kalangan pedesaan. Penduduk dengan kondisi keuangan yang sempat mengalami
membayar pajak tanah (land rent) yang di Introduksi oleh penurunan secara drastis. Dengan demikian maka
Raffles dengan menggunakan uang. Bahkan untuk membeli Cultuurstelsel dapat dikatakan berhasil mencapai tujuan
berbagai macam kebutuhan pun juga dilakukan dengan yang telah dikemukakan oleh Van Den Bosch di awal
uang. (R.Z. Leirissa, dkk. 1996: 58). Dengan masuknya ketika ia menyampaikan gagasan nya mengenai
ekonomi uang di kalangan masyarakat pedesaan saat itu, hal Cultuurstelsel ini.
ini menandakan bahwa Cultuurstelsel telah memberikan
perubahan di dalam kehidupan masyarakat Dengan berhasilnya tujuan bangsa Belanda melalui
pedesaan. Cultuurstelsel ini, maka tidak mengherankan jika
kemudian muncul berbagai tuntutan – tuntutan sejak
Dampak Cultuurstelsel yang juga tidak kalah pentingnya pertengahan abad ke-19 terutama dari kalangan liberal,
yaitu dengan adanya sistem Cultuurstelsel ini juga yang menuntut dihapuskannya sistem itu, dan kemudian
memperkaya pengusaha – pengusaha pabrik, pedagang – menggantinya dengan modal swasta dan kerja bebas
pedagang, dan lain – lain yang mengakibatkan mulai (Free Labor). (R.Z. Leirissa, dkk. 1996:61).
tumbuhnya modal perdagangan dan modal industri
partikelir. (Sartono Kartodirjo, 2015: 17).
11
CULTUURSTELSEL
Pada tahun 1860, desakan terhadap pemerintah kolonial mengenai perubahan Cultuurstelsel pun semakin kuat.
Hingga pada akhirnya terjadi perubahan ketika kalangan pemerintah Konservatif mulai jatuh di tahun 1860-an.
Kalangan pemerintah konservatif sendiri merupakan kalangan yang dulunya memberikan dukungan secara penuh
terhadap penerapan kebijakan Cultuurstelsel. Jatuhnya pemerintah konservatif ini secara tidak langsung juga
memberikan isyarat mengenai kemunduran dari Cultuurstelsel. Kemunduran ini pun kemudian juga semakin
diperkuat dengan adanya pembentukan Pemerintahan baru oleh golongan liberal yang dimulai sejak tahun 1962.
Pemerintah baru ini pun juga mengadakan perubahan – perubahan yang bersifat mendasar, hingga akhirnya
menjelang abad ke – 20seluruh sistem Cultuurstelsel pun mulai lenyap dan kemudian digantikan dengan sistem
lain.
12
LINK VIDEO YOUTUBE
https://www.youtube.com/watch?v=-
KovPv2wbh4&t=467s
https://www.youtube.com/watch?
v=_2DVctaz9EQ&t=249s
latihan soal
1. Jika ditinjau dari segi ekonomi, pada abad ke –18 Pemerintah VOC sudah berhasil mengadakan kerjasama dengan
para bupati untuk mengerahkan penduduk menanam kopi dan dijual pada VOC. Meskipun VOC kemudian
dibubarkan, namun di dalam kebijakan Cultuurstelsel salah satu komoditi tanaman yang juga harus tersedia dan
dikerjakan oleh masyarakat pribumi adalah kopi. Bagaimanakah pengaruh kesitimewaan penanaman kopi tersebut
di dalam sektor perekonomian bagi bangsa Belanda?
2. Jawa sebagai salah satu pulau di kawasan Asia Tenggara memang menjadi incaran bangsa – bangsa barat. Hal ini
dikarenakan pulau Jawa memiliki kondisi tanah yang subur. Sehingga hal ini memungkinkan penduduknya untuk
bisa menanam berbagai macam tanaman, terutamanya yang dibutuhkan di dalam pasaran dunia. Tidak heran jika
bangsa Belanda sangat berhasrat untuk menguasai pulau Jawa saat itu dengan mengenalkan adanya sistem
Cultuurstelsel. Bagaimanakah mekanisme pengelolaan kebijakan Cultuurstelsel di Pulau Jawa?
3. Dengan dijalankannya kebijakan Cultuurstelsel maka hal ini menandakan bahwa kita memasuki periode baru
dalam politik kolonial. Penerapan sistem cultuurstelsel disini juga disesuaikan dengan adat kebiasaan pribumi yang
telah ada. Bahkan posisi kaum bangsawan feodal pun juga dikembalikan. Namun mereka dalam hal ini berada di
bawah pengawasan langsung Pemerintah Belanda. Bagaimanakah tindak kontrolir atau pengawasan yang dilakukan
oleh Pemerintah Belanda terhadap kaum bangsawan Feodal?
4. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Fasseur dari Universitas Leiden, jumlah penduduk jawa
yang dikerahkan dalam pelaksanaan Cultuurstelsel di tahun 1840 adalah sekitar 15,5% dan mengalami penaikan di
tahun 1860 menjadi 54,5% penduduk. Jika meninjau data hasil penelitian tersebut, secara tidak langsung
pemerintah kolonial juga memperhitungkan pertumbuhan demografi penduduk di Pulau Jawa. Bagaimanakah
pengaruh jumlah penduduk di Pulau Jawa terhadap mekanisme pelaksanaan kebijakan Cultuurstelsel?
5. Sebagai penggagas kebijakan Cultuurstelsel, Van Den Bosch dapat dikatakan telah berhasil mengatasi masalah
ekonomi yang dihadapi oleh Bangsa Belanda saat itu. Bahkan bangsa Belanda berhasil kembali menempati
posisinya sebagai pusat penjualan bahan mentah. Dengan jumlah kekayaan yang diperolehnya dari daerah jajahan.
Bagaimanakah kondisi perekonomian masyarakat di Jawa saat itu dengan adanya keberhasilan pencapaian tujuan
Cultuurstelsel bagi bangsa Belanda?
6. Salah satu dampak yang dirasakan dari adanya kebijakan Cultuurstelsel ini adalah masuknya ekonomi uang di
Pulau Jawa. Dengan adanya ekonomi uang, masyarakat di Pulau jawa dapat memenuhi dan membeli berbagai
kebutuhan nya dengan menggunakan uang. Bahkan Van Den Bosch sendiri menginginkan semula agar upah yang
diterima petani harus memungkinkan agar mereka bisa menikmatinya. Namun dalam kenyataan nya keinginan Van
Den Bosch tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik. Bagaimanakah faktor yang mengakibatkan tujuan tersebut
tidak tercapai?
7. Di dalam pelaksanaan Cultuurstelsel terdapat sebuah istilah yang disebut dengan Cultuur procent. adapun yang
dimakus dengan cultuur procent sendiri merupakan jumlah presentasi yang diterima oleh para pejabat Belanda
sesuai dengan produksi - produksi yang diserahkan pada gudang - gudang pemerintah. tidak jarang jumlah itu jauh
lebih besar dari gaji yang diterima. bagaimanakah dampak yang ditimbulkan dari adanya pemberian cultuur
procent tersebut terhadap kinerja para pejabat Belanda ?
8. Analisislah berbagai pengaruh yang ditimbulkan dari adanya penerapan kebijakan Cultuurstelsel terhadap
perkembangan perekonomian di Indonesia saat itu khususnya di pulau Jawa!
9. Berdasarkan gambaran yang dikemukanan Fasseur, keuntungan terbesar yang didapatkan oleh Pemerintah Belanda
dari hasil penerapan Cultuurstelsel adalah berasal dari kopi. bagaimana kedudukan kopi diantara tanaman -
tanaman yang lain dalam hal penjualan?
10. Setelah membaca materi mengenai kebijakan Cultuurstelsel, dampak yang ditimbulkan tidaklah selalu bersifat
negatif, melainkan juga terdapat dampak positif. analisislah dampak positif yang ditimbulkan dari adanya
kebijakan Cultuurstelsel!
DAFTAR PUSTAKA
Hisyam, M. dan Ardhana, IK., 2012, Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 5: Masa Pergerakan Kebangsaan, Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve
Kartodirjo, Sartono. 2015. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme
sampai Nasionalisme. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Leirissa, R.Z., Ohorella,G.A., Tangkilisan, Yuda B. 1996. Sejarah Perekonomian Indonesia. Jakarta: Proyek
Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.