The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jaga Alam dengan Tradisi Nusantara (Rhidani Pangestuti)-ND

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Digital Al-Faqih, 2022-06-14 02:45:24

Jaga Alam dengan Tradisi Nusantara (Rhidani Pangestuti)-ND

Jaga Alam dengan Tradisi Nusantara (Rhidani Pangestuti)-ND

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Ridhani Pangestuti dan M. Ali Sofi

Bacaan untuk Anak
Tingkat SD Kelas 4, 5, dan 6



MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN

Ridhani Pangestuti dan M. Ali Sofi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

JAGA ALAM DENGAN TRADISI NUSANTARA

Penulis : Ridhani Pangestuti

M. Ali Sofi

Penyunting : Setyo Untoro

Ilustrator : M. Ali Sofi

Penata Letak : M. Ali Sofi

Diterbitkan pada tahun 2018 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang
diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari
penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan
penulisan artikel atau karangan ilmiah.

PB Katalog Dalam Terbitan (KDT)
398.209 598 Pangestuti, Ridhani dan M. Ali Sofi
PAN Jagalah Alam dengan Tradisi Nusantara/Ridhani
j Pangestuti dan M. Ali Sofi; Penyunting: Setyo Untoro.
Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
2017
viii; 56 hlm.; 21 cm.
ISBN: 978-602-437-247-7
CERITA RAKYAT-INDONESIA
KESUSASTRAAN ANAK

SAMBUTAN

Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat Indonesia
dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Demikian halnya dengan budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut
memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan
lokal yang santun, ramah, saling menghormati, arif, bijaksana, dan
religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern.
Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, dan
kasar tanpa mampu mengendalikan diri. Fenomena itu dapat menjadi
representasi melemahnya karakter bangsa yang terkenal ramah,
santun, toleran, serta berbudi pekerti luhur dan mulia.

Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang
demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa,
khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas
cendekia, bijak bestari, terampil, berbudi pekerti luhur, berderajat
mulia, berperadaban tinggi, dan senantiasa berbakti kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma pendidikan
karakter bangsa yang tidak sekadar memburu kepentingan
kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi juga memperhatikan dan
mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran budi pekerti. Hal itu
sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu fungsi pendidikan
adalah mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Penguatan pendidikan karakter bangsa dapat diwujudkan
melalui pengoptimalan peran Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang
memumpunkan ketersediaan bahan bacaan berkualitas bagi masyarakat
Indonesia. Bahan bacaan berkualitas itu dapat digali dari lanskap dan
perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan
bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner
Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan yang
digali dari sumber-sumber tersebut mengandung nilai-nilai karakter
bangsa, seperti nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras,
kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,

iii

cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai karakter bangsa itu berkaitan erat dengan hajat hidup dan
kehidupan manusia Indonesia yang tidak hanya mengejar kepentingan
diri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan alam semesta,
kesejahteraan sosial masyarakat, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Apabila jalinan ketiga hal itu terwujud secara harmonis,
terlahirlah bangsa Indonesia yang beradab dan bermartabat mulia.
Salah satu rangkaian dalam pembuatan buku ini adalah proses
penilaian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuaan. Buku
nonteks pelajaran ini telah melalui tahapan tersebut dan ditetapkan
berdasarkan surat keterangan dengan nomor 13986/H3.3/PB/2018
yang dikeluarkan pada tanggal 23 Oktober 2018 mengenai Hasil
Pemeriksaan Buku Terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa.
Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan
terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Kepala Pusat Pembinaan,
Kepala Bidang Pembelajaran, Kepala Subbidang Modul dan Bahan
Ajar beserta staf, penulis buku, juri sayembara penulisan bahan bacaan
Gerakan Literasi Nasional 2018, ilustrator, penyunting, dan penyelaras
akhir atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai
dengan terwujudnya buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat
bagi khalayak untuk menumbuhkan budaya literasi melalui program
Gerakan Literasi Nasional dalam menghadapi era globalisasi, pasar
bebas, dan keberagaman hidup manusia.


Jakarta, November 2018
Salam kami,
ttd
Dadang Sunendar
Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa

iv

SEKAPUR SIRIH

Manusia sangat erat hubungannya dengan alam.
Hubungan yang saling membutuhkan. Segala yang ada di
alam merupakan lingkungan hidup yang begitu penting
bagi kehidupan. Di sana tempat beraktivitas semua
makhluk hidup, seperti mencari makan, berkembang
biak, dan berinteraksi.
Sering tanpa sadar kita melakukan perbuatan
yang dapat merusak lingkungan. Perbuatan itu dianggap
lumrah padahal menimbulkan kerusakan terhadap
lingkungan. Beberapa perilaku manusia tidak diimbangi
dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi
berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia
membawa dampak buruk terhadap kelangsungan
lingkungan hidup.
Semoga buku sederhana ini dapat mendorong
anak-anak muda untuk mencintai tanah air, turut
menjaga dan melestarikan lingkungan alam, serta
melestarikan kehidupan sosial budaya rakyat sekeliling.

Purbalingga, Oktober 2018
Ridhani Pangestuti dan M. Ali Sofi

vii

DAFTAR ISI

Sambutan............................................................ iii
Sekapur Sirih....................................................... vii
Daftar Isi............................................................ viii
Menjunjung Tanah Air.......................................... 1
Alam Sahabat Kita............................................... 2
Lumrah yang Membuat Masalah........................... 20
Bencana Ulah Manusia......................................... 31
Kembali ke Alam dengan Tradisi........................... 37
Tradisi Nusantara, Menciptakan Harmoni............. 43
Anugerah dari Alam............................................. 50
Ayo Cari Tahu...................................................... 51
Daftar Pustaka.................................................... 52
Biodata Penulis.................................................... 53
Biodata Penyunting.............................................. 55
Biodata Penulis dan Ilustrator.............................. 56

viii

MENJUNJUNG TANAH AIR

Dari Sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung-menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Teman-teman pasti sudah tidak asing dengan
lagu itu, bukan? Ya, itulah penggalan lagu karya Bapak
R. Suharjo yang indah untuk dinyanyikan sambil jalan-
jalan melihat indahnya alam Indonesia. Hamparan
pegunungan yang memanjang, pulau-pulau yang
berjajar, dan indahnya lautan pasti membuat kita takjub
akan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Indahnya alam Indonesia ini perlu
kita jaga dengan baik supaya tetap lestari
dan bermanfaat untuk kita semua. Teman-
teman bisa membayangkan jika kita tidak
bersahabat dengan alam. Akan terjadi
hal-hal yang tidak baik yang berasal dari
manusia itu sendiri. Hal tersebut sangat
merugikan kita.

1

ALAM SAHABAT KITA

Teman, rumah kita bernama bumi sedang sakit
dengan usianya yang semakin renta. Banyak kerusakan
yang telah terjadi. Tempat kita tinggal, sungai, laut,
hutan, dan udara yang kita hirup kondisinya sudah
sangat memprihatinkan. Ozon yang melindungi kita dari
sinar ultraviolet semakin hari semakin menipis. Semua
itu terjadi karena perilaku manusia yang tak bersahabat.
Tanpa kita sadari, kita sering melakukan sesuatu
yang merugikan alam. Perbuatan ceroboh merugikan
diri sendiri dan alam sekitar.
Coba ingat-ingat, perbuatan apa yang sering
teman-teman lakukan yang berakibat tidak baik terhadap
alam kita? Pernahkah terpikirkan oleh teman-teman
bahwa apa yang kita lakukan dapat mengakibatkan
banjir, polusi udara, tanah longsor, bahkan pemanasan
global?
Mari kita lihat perjalanan teman-teman kita
menjelajah alam. Ada Tomo, Udin, Kuswara, Tati, dan
Endah. Coba kita lihat, apa yang akan terjadi apabila
kita tidak bersahabat dengan alam.

2

Pagi masih terasa dingin dan sunyi. Ketika
itu, Tomo begitu tergesa-gesa mengayuh sepeda
menembus jalan desa.

Ada janji dengan sahabatnya, Udin. Mereka
bersama dengan Tati, Endah, dan Kuswara akan pergi
menjelajah bukit di perbatasan desa.

3

Sesampainya di rumah Udin, dengan sigap Tomo
memarkir sepedanya dan bergegas menuju pintu rumah
Udin.
“Udin, Udin!” teriak Tomo begitu keras.
“Assalamualaikum.” Suara itu terdengar dari
dalam rumah. Suara yang tak asing bagi Tomo, tetapi
bukan suara Udin. Ya, itu suara Pak Ustaz yang biasa
mengajari dia mengaji tiap sore, bapaknya Udin.
“Wa alaikum salam,” jawab Tomo penuh rasa
malu.
“ Anu Pak, Udin ada?”
tanya Tomo dengan gugup.
“Ada, itu di dalam
sudah siap.” Pak Ustaz pun
memanggil Udin.
Udin keluar dari
rumah. Tomo pun merasa
lega dan sudah tak lagi
gugup. Mereka kemudian
berpamitan dan bergegas
menuju tempat berkumpul
yang sudah disepakati.

4

Jalan yang mereka
lalui lumayan sulit dan
jauh karena melewati bukit
yang jalanannya naik turun.
Tomo tetap mengayuh
sepeda dengan semangat
dan gembira.

Beberapa waktu kemudian Tomo dan Udin
sampai di samping gereja. Kuswara, Endah, dan Tati
sudah di sana. Ibu Tati juga masih menemani mereka
setelah selesai melakukan sembahyang. Mereka berlima
bersalaman mohon izin kepada Ibu Tati dan bersiap
untuk melakukan perjalanan.
Sepeda yang mereka bawa diparkir
di samping gereja karena setelah ini jalanan
sudah tidak bisa dilewati sepeda. Harus
dilalui dengan jalan kaki. Mereka berjalan
riang sambil mengecek
bekal yang mereka bawa.

5

6

Perjalanan tidak mudah. Ranting menghalangi
jalan, dedaunan menumpuk, dan tanah becek. Sesekali
mereka berhenti sejenak memulihkan tenaga dan
menikmati suasana sekitar. Mereka pun tak lupa
berswafoto.
“Wah, bekal cepat habis nih kalau dibawa sama
Tomo,” canda Tati sembari melihat Tomo yang terus
asyik dengan camilan yang dipegangnya.
“Santai saja, teman. Ini di tasku masih banyak
persediaan untuk kita,” jawab Tomo dengan camilan
masih di mulut.
“Soal makanan, Tomo
mah selalu mempersiapkan
dengan baik.” Kuswara
berseloroh dan disahut
tawa oleh teman-teman
yang lain.

7

Tempat istirahat mereka berada di sekitar
sumber air yang mengalir sampai desa. Dari sumber air
itu, warga Desa Brongkol bisa mencukupi kebutuhan air
untuk kehidupan mereka.
Setelah merasa siap, Kuswara mengajak teman-
temannya untuk segera melanjutkan perjalanan. Yang
lain pun bergegas mempersiapkan perjalanan kembali.
Sebelum itu, mereka membersihkan sampah saat
istirahat tadi.
Tomo merasa enggan membawa sampahnya
karena sangat banyak. Tanpa diketahui oleh teman-
temannya, Tomo meninggalkan sampahnya di sekitar
sumber air.


8

Tak disadari, sampah yang ditinggal Tomo
terjatuh dan menyumbat aliran air. Selama perjalanan,
Tomo merasa sedikit gelisah dan terus terbayang akan
sampahnya yang ia tinggalkan di dekat sumber air.

9

10

“Akhirnya sampai!” teriak Tati kegirangan.
Pemandangan di puncak memang menakjubkan.
Dari sana, mereka dapat melihat Desa Brongkol yang
terlihat mungil, sawah dan hutan yang begitu hijau dan
lautan luas yang luar biasa indah.
Mereka menghabiskan beberapa saat di puncak
bukit menikmati pemandangan dari sana. Angin yang
semilir mengobati letih mereka.
“Teman-teman, sudah sangat siang nih, ayo kita
turun,” saran Udin yang sudah kembali bersemangat
setelah beristirahat cukup.
“Ayo!” sahut yang lain bersamaan.

11

Selama perjalanan pulang, mereka masih
bercanda dan bergembira. Perjalanan pulang tak terasa
begitu berat walaupun jalanan menurun.

12

Di tengah perjalanan, mereka beberapa kali
menemukan tumbuhan yang baru pertama kali
dilihat. Udin dengan pengetahuannya yang luas selalu
menjelaskan tumbuhan-tumbuhan tersebut.
“Udin, ini namanya tumbuhan apa ya, kok unik
banget?” tanya Tati penuh rasa ingin tahu.
“Namanya kantong semar, tanaman itu karnivora
lho, ” jawab Udin.
“Wah unik, ya. Serunya belajar langsung di alam
seperti ini,” kata Endah dengan girang.


13

Menyadari badan penuh dengan kotoran yang
menempel, Udin mencari air untuk membersihkan diri.
Aliran air terdekat ada di belakang rumahnya Endah. Di
sana ada kran air yang bersumber dari sungai di bukit
yang mereka lewati tadi.
“Airnya tidak mengalir?” tanya Udin heran.
“Tadi pagi mengalir deras kok,” jawab Endah.
Karena air tak kunjung mengalir, Udin dan teman-
temannya berjalan ke masjid untuk membersihkan
badan mereka.
Belum sampai ke masjid, mereka mendengar
pengumuman yang disampaikan melalui pengeras suara.


14

“Ibu Bapak sekalian, kami beritahukan bahwa
ada longsor di bukit perbatasan desa. Longsornya
kemungkinan karena aliran air sungai di atas bukit
berubah arah. Tidak ada korban jiwa. Semua warga Desa
Brongkol dimohon untuk berhati-hati dan menghindari
tempat longsor untuk sementara waktu.”
Mendengar pengumuman itu Tomo merasa
sangat bersalah. Ia takut sampah yang dibuangnya di
bukit tadi mengakibatkan longsor. Ia sangat menyesal
dan bertekad akan ikut serta memperbaiki saluran
air bersih untuk desa dan membersihkan sisa longsor
bersama warga dan teman-temannya.

15

Dari cerita Tomo dan teman-temannya, kita dapat
mengetahui akibat dari perilaku yang tidak bersahabat
dengan alam. Akibatnya bisa dirasakan langsung.
Selain itu, dari cerita tersebut kita dapat belajar bahwa
manusia harus menjaga kelestarian alam.
Pernahkah terpikirkan oleh teman-teman
seberapa besar alam membutuhkan kita dan seberapa
besar kita membutuhkan alam? Tentu jawabannya
kita lebih banyak membutuhkan alam untuk memenuhi
kebutuhan.
Segala yang ada di alam merupakan lingkungan
hidup yang penting artinya untuk kehidupan. Alam
merupakan tempat beraktivitas seperti mencari makan
dan berinteraksi.

16

Lingkungan merupakan penyedia unsur-unsur
penting, seperti oksigen, air, dan mineral. Ketiga
unsur tersebut dibutuhkan makhluk hidup untuk
melangsungkan kehidupan. Oksigen digunakan untuk
bernapas. Air digunakan hampir di seluruh kegiatan
makhluk hidup. Mineral digunakan untuk proses tumbuh
dan berkembang manusia.
Lingkungan juga merupakan pemenuh kebutuhan
kehidupan. Lingkungan menyediakan berbagai sumber
makanan. Untuk hewan, lingkungan menyediakan
tumbuhan untuk dimakan. Untuk tumbuhan, lingkungan
menyediakan karbon dioksida, air, dan zat hara untuk
kelangsungan hidup tumbuhan. Sementara itu, untuk
manusia, lingkungan menyediakan berbagai hal, seperti
protein, vitamin, dan mineral yang disediakan oleh alam
melalui berbagai bahan makanan.

Zat hara adalah
sumber nutrisi
atau makanan yang
dibutuhkan tanaman.

17

Lingkungan juga berfungsi sebagai tempat
rekreasi. Kita tidak hanya membutuhkan makanan,
pakaian, dan tempat tinggal. Kita juga memerlukan
hiburan agar terhindar dari rasa jenuh. Sudah tersedia
gunung, danau, taman, pantai, dan lain-lain guna
mencukupi kebutuhan akan hiburan.
Lingkungan juga merupakan sarana pembelajaran
bagi kita. Wawasan kita bertambah dengan mengadakan
pengamatan atau penelitian terhadap lingkungan.
Selain itu, lingkungan merupakan sumber
kebudayaan. Lingkungan mempunyai peran penting
dalam perkembangan seni budaya. Lingkungan sangat
berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dan
menjadi salah satu unsur pembentuk budaya. Lewat
budaya, manusia belajar berinteraksi dan berkompetisi.

18

Simpulannya, lingkungan penting artinya bagi kita
sebagai:
1. tempat beraktivitas,
2. penyedia unsur-unsur penting, seperti oksigen,
air, dan mineral,
3. penyedia sumber makanan,
4. tempat rekreasi,
5. sarana pembelajaran, dan
6. sumber kebudayaan.
Nah, sekarang kita jadi tahu arti pentingnya
lingkungan. Dari sana, kita mendapatkan sumber-
sumber penghidupan. Lingkungan memengaruhi sikap
dan perilaku manusia. Demikian pula kehidupan kita
akan memengaruhi lingkungan tempat kita hidup.
Dengan demikian, manusia berperan besar dalam

menentukan kelestarian lingkungan hidup di
bumi ini.

19

LUMRAH YANG MEMBUAT MASALAH

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang

berakal budi. Manusia mampu mengubah wajah dunia

dari kehidupan sederhana menjadi modern seperti

sekarang. Peranan manusia bagi lingkungan bisa

bersifat positif atau negatif. Kerugian yang timbul

akibat kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhannya

merupakan peranan negatif manusia.

Tanpa disadari kita sering melakukan hal yang

dapat merusak lingkungan, seperti berikut ini.

Membuang Sampah Sembarangan

Membuang sampah tidak pada

tempatnya menimbulkan banyak

permasalahan seperti merusak keindahan,

tersumbatnya saluran air, timbulnya

penyakit, merusak habitat ikan,

mengganggu sirkulasi udara dalam tanah,

pendangkalan sungai dan banjir.

20

Penggunaan Kemasan Plastik Berlebihan
Berapa banyak kalian menggunakan plastik dalam
sehari? Satu, dua, tiga, atau bahkan lebih? Tahukah
teman-teman, plastik termasuk bahan yang sangat
lambat hancur dan sulit terurai? Butuh waktu lima ratus
sampai seribu tahun agar plastik bisa terurai di alam.
Penggunaan plastik secara berlebihan akan menambah
jumlah sampah yang tidak terdaur ulang secara alami.

21

Penggunaan Mobil Pribadi
Apakah kamu sering mengalami macet di jalanan
kotamu? Tentu tidak nyaman rasanya. Perhatikan
seberapa banyak orang-orang menggunakan kendaraan
pribadi. Jika setiap orang menggunakan mobil pribadi
maka bukan hanya kemacetan saja yang terjadi, tapi
juga pemborosan penggunaan bahan bakar.
Mulai sekarang cobalah ajak ayah dan ibu untuk
lebih efisien menggunakan kendaraan dan mulailah
menggunakan kendaraan umum.

22

Televisi Dinyalakan Tetapi Tidak Ditonton
Membiarkan televisi menyala tanpa ditonton
merupakan pemborosan penggunaan listrik. Padahal,
listrik berasal dari alam yang seharusnya dimanfaatkan
sesuai kebutuhan.
Selain itu, pemborosan yang dianggap lumrah
adalah menghidupkan AC di ruangan tanpa ada orang di
dalamnya dan membiarkan lampu menyala pada siang
hari.

23

Penggunaan Tisu Berlebihan
Tisu terbuat dari kertas dan berasal dari kayu.
Penggunaan yang berlebihan mendorong meningkatnya
produksi tisu dan meningkatnya penebangan pohon.
Sementara itu, peremajaan dan penghijauan tidak bisa
berjalan cepat.
Sama halnya seperti tisu, mencetak di kertas pada
satu sisi saja mengakibatkan meningkatnya penebangan
pohon karena bahan baku kertas berasal dari pohon.

24

Lupa Menutup Kran Air
Setiap hari teman-teman membutuhkan air.
Tentu sayang jika air yang sangat penting itu kita buang
sia-sia.
Membiarkan air terbuang sama halnya membuang
hal yang berharga. Padahal air bersih adalah kebutuhan
utama bagi makhluk hidup. Air bersih terbentuk dan
diperoleh dari proses yang panjang. Apabila tidak
digunakan tutuplah kran air. Mari kita biasakan hemat
air.

25

Membakar Sampah
Teman-teman pernah melihat tumpukan sampah
dibakar? Sebagian orang beranggapan bahwa membakar
sampah adalah salah satu cara mengurangi banyaknya
sampah. Padahal, cara tersebut justru tidak baik untuk
alam kita. Sisa pembakaran tidak akan terurai dengan
tuntas.
Membakar sampah dapat meracuni orang yang
ada di sekitarnya. Karena pada setiap pembakaran
sampah dihasilkan dioxin. Selain itu, membakar sampah
membuat udara tercemar.
Kita perlu mengurangi sampah yang sulit terurai,
misalnya mengurangi konsumsinya. Selain itu, kita
maksimalkan produk yang bisa digunakan berkali-kali
daripada yang sekali pakai.

Dioxin merupakan senyawa yang tidak
dapat terurai di alam maupun tubuh

manusia.

26

Menggunakan Pestisida Berlebihan
Pestisida berfungsi mengendalikan hama pada
tanaman pertanian atau perkebunan. Penggunaan
pestisida yang berlebihan mengakibatkan pencemaran
terhadap ekosistem lahan pertanian, pencemaran
terhadap kesehatan manusia, dan pemanasan global.

Daun pepaya merupakan pestisida alami
yang mengandung bahan aktif papain

sehingga efektif untuk mengendalikan ulat
dan hama pengisap.

Papain adalah cairan putih kental seperti
susu yang terdapat pada bagian batang,

buah, maupun daun pepaya.

27

Terlalu Sering Membuka Kulkas
Di dalam kulkas biasanya terdapat CFC (Chloro
Fluoro Carbon) yang menyebabkan pemanasan global.
Membuka-tutup kulkas terlalu sering akan meningkatkan
konsumsi energi refrigerator. Ketika kulkas dibuka,
udara hangat dan lembap dari luar akan bercampur
dengan udara dingin di dalam kulkas. Udara hangat
kemudian akan turun suhunya hingga mencapai suhu
refrigerator. Hal ini menyebabkan kulkas membutuhkan
energi ekstra untuk melakukan proses pendinginan.
Dengan mengurangi membuka-tutup kulkas berarti kita
sudah berkontribusi dalam aksi hemat energi.

28

Membuang Makanan
Membuang makanan sama halnya dengan
membuang sumber daya dan energi serta mencemari
lingkungan. Makanan rusak akan menghasilkan
gas metan yang merupakan penyebab paling besar
terbentuknya emisi gas rumah kaca. Efek rumah kaca
telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1--5o C.

Gas metan adalah gas
yang dihasilkan dari proses
pembusukan sampah secara

alamiah.

29

30

BENCANA ULAH MANUSIA

Kerusakan lingkungan menjadi hal yang tidak
dapat dihindarkan akibat interaksi antara manusia
dan alam. Sering kali apa yang dilakukan manusia
tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan
kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang
diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap
kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa kegiatan
manusia yang berdampak buruk terhadap lingkungan
antara lain seperti berikut ini.
Pembakaran Hutan
Akhir-akhir ini manusia banyak melakukan
pembakaran hutan untuk dijadikan ladang pertanian,
permukiman penduduk, dan untuk industri. Kawasan
hutan yang dijadikan ladang pertanian biasanya berubah
menjadi tanah tandus dan gersang. Hal ini karena
setelah panen biasanya ladang akan ditinggalkan.
Sistem perladangan seperti ini disebut perladangan
berpindah. Akhirnya, hutan yang dahulu hijau menjadi
tanah tandus dan gersang.

31

Pembakaran hutan menghasilkan asap yang
sangat banyak yang dapat mencemari udara. Membakar
hutan berarti membakar tumbuhan dan makhluk yang
ada di dalamnya. Padahal, semua makhluk saling hidup
berdampingan dan saling membutuhkan.
Manusia hidup berdampingan dengan tumbuhan.
Dalam kehidupan, tumbuhan berfungsi sebagai sumber
pangan yang utama karena merupakan satu-satunya
makhluk yang dapat berfotosintesis. Tumbuh-tumbuhan
merupakan sumber oksigen yang kita perlukan untuk
bernapas. Tumbuh-tumbuhan merupakan pelindung
dari teriknya panas matahari karena dapat membantu
mengurangi pantulan sinar matahari. Di samping itu,
tumbuh-tumbuhan merupakan sumber keindahan.
Bayangkan bila dunia ini tanpa tumbuhan, tentu akan
panas dan gersang.
Dengan mengingat begitu pentingnya fungsi
tumbuhan bagi kehidupan, sudah sewajarnya kita
membina hubungan yang baik dengan tumbuhan
dengan cara memelihara dan melestarikannya. Jangan
membakar hutan karena hutan adalah paru-paru dunia.

32 Hutan yang gundul dapat memicu terjadinya bencana.

Pembalakan atau Penebangan Hutan secara Liar
Kegiatan manusia yang menimbulkan bahaya jauh
lebih besar terhadap hutan adalah pembalakan atau
penebangan hutan secara liar. Penebangan pohon di
hutan-hutan secara liar menyebabkan tanah tidak bisa
menyerap air sehingga terjadi banjir, tanah longsor,
dan erosi.
Hutan merupakan sumber pemenuhan kebutuhan
akan kayu. Akibatnya, penebangan pohon sering
dilakukan secara tidak terbatas. Penebangan hutan
mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Hilangnya
habitat dan makhluk hidup serta musnahnya spesies
hewan dan tumbuhan dapat terjadi akibat penebangan
pohon yang tidak terkendali.

33

Penambangan
Pengambilan bahan tambang dilakukan dengan
cara digali atau ditambang. Dampak negatif akibat
penambangan yang tidak terkendali antara lain sebagai
berikut:
a. kerusakan lahan bekas tambang,
b. kerusakan lahan perkebunan dan pertanian,
c. kerusakan kawasan hutan,
d. terjadinya lahan kritis yang susah dikembalikan

lagi sesuai fungsi awalnya,
e. pencemaran tanah, air, maupun udara, misalnya

debu, gas beracun, dan bunyi,
f. kerusakan tambak dan terumbu karang di pesisir,
g. banjir, longsor, dan lenyapnya keanekaragaman

hayati,
h. air tambang yang beracun yang jika mengalir ke

sungai dan laut akan merusak ekosistem
dan sumber daya pesisir dan laut,
i. timbulnya berbagai penyakit dan gangguan
kesehatan, dan
j. kerusakan sarana dan prasarana, misalnya jalan raya.

34

Penggunaan Bahan Peledak untuk Menangkap Ikan
Penggunaan bahan peledak untuk menangkap
ikan menyebabkan kerusakan terumbu karang. Ledakan
yang dihasilkan dapat mematikan ikan yang berada
di dalam radius sekitarnya. Selain itu, ledakan dapat
menciptakan lubang pada terumbu karang yang
merupakan tempat tinggal dan berkembang biaknya
ikan-ikan.
Terumbu karang yang telah mati tidak lagi
menarik bagi ikan dewasa yang berpindah dan mencari
tempat tinggal untuk membesarkan anaknya. Hal itu
dapat menurunkan populasi ikan di masa datang. Ketika
terumbu karang hilang, ikan pun hilang.

35

Limbah Pabrik yang Tidak Terurus
Indonesia dipenuhi dengan ratusan ribu industri
penghasil limbah. Pabrik-pabrik yang beroperasi
sering tidak memperhatikan kesehatan lingkungan di
sekitarnya. Sisa produksi yang bermuatan zat kimia
adalah pencemar air sungai nomor satu, di samping
beragam limbah padat lainnya.
Pembuangan limbah pabrik ke sungai-sungai
tanpa adanya pengolahan limbah mengakibatkan
rusaknya ekosistem di sungai. Air yang tercemar tentu
membawa dampak buruk bagi makhluk hidup. Apabila
air tercemar maka kita akan kesulitan memperoleh
air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Limbah dapat
mengganggu keseimbangan ekosistem di dalam air,
misalnya berkurangnya populasi ikan di sungai atau
laut.

36

KEMBALI KE ALAM DENGAN TRADISI


Pernahkah teman-teman mendengar tentang
kearifan lokal melestarikan lingkungan di Indonesia?
Kearifan lokal adalah tata nilai atau perilaku
hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan
lingkungan tempat hidupnya secara arif. Kearifan
lokal dibangun sebagai pedoman, pengendali, aturan,
dan rambu-rambu untuk berperilaku antarmanusia
ataupun dengan alam. Di dalamnya terkandung nilai-
nilai luhur masyarakat untuk melindungi dan mengelola
lingkungan hidup secara lestari. Nilai-nilai luhur itu
diyakini kebenarannya oleh masyarakat dan menjadi
acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari.

37

Masyarakat Jawa mempunyai cara tersendiri
untuk menjaga lingkungannya. Dalam menjaga
lingkungannya masyarakat Jawa melakukan norma-
norma, nilai-nilai, atau aturan-aturan yang telah
berlaku turun-temurun.
Teman-teman pasti ingin tahu bagaimana praktik
kearifan lokal masyarakat Jawa untuk melestarikan
lingkungan, bukan? Berikut ini adalah beberapa contoh
kearifan lokal yang ada pada masyarakat Jawa.

Pranata Mangsa
Pranata mangsa (penentuan musim) merupakan
waktu musim yang digunakan oleh para petani sebagai
patokan untuk mengolah lahan pertanian. Pranata
mangsa mengikuti tanda-tanda alam dalam musim
bercocok tanam. Petani akan memulai pertanian dengan
menggunakan hitungan kalender Jawa dan melihat
tanda-tanda alam. Oleh karena itu, tanah tidak jenuh
dan memberi waktu kepada tanah untuk mengumpulkan
unsur hara. Melalui perhitungan tersebut alam dapat
menjaga keseimbangannya.

38

Nyabuk Gunung
Nyabuk gunung dapat dikatakan memberi
sabuk pada gunung. Pada dasarnya, Nyabuk gunung
merupakan cara bercocok tanam dengan membuat
teras sawah yang dibentuk mengikuti garis kontur
gunung. Cara ini banyak dilakukan di lahan pertanian
atau perkebunan di lereng-lereng pegunungan, seperti
di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro. Di Jawa Barat
terdapat cara pertanian serupa yang disebut ngais
gunung, sedangkan di Bali disebut sengkedan.

Teras sawah berfungsi
mempertahankan posisi tanah

agar tidak mudah longsor.

39

Merti Desa (Desa Brongkol, Jawa Tengah)
Merti Desa dilaksanakan masyarakat Desa
Brongkol sampai sekarang. Kegiatan dilakukan setiap
tahun pada hari Selasa Wage bulan Safar. Masyarakat
secara berkelompok membersihkan lingkungan masing-
masing, seperti jalan, makam, selokan umum, daerah
sekitar sumber mata air dan sungai. Setelah selesai
melaksanakan Merti Desa secara berkelompok, mereka
menyelenggarakan upacara semacam “sedekah bumi”
dengan sajian satu buah buceng besar, sayur, daging,
dan berbagai macam hasil bumi yang disebut pala
kependhem dan pala gumantung.
Ritual Merti Desa sebagai wujud dari rasa syukur
kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan merupakan
sebuah nilai yang mengajarkan masyarakat akan
pentingnya menjaga alam.
Mitos yang Berkembang di Masyarakat
Di kalangan masyarakat Jawa berkembang mitos
tentang tanaman dan hewan yang dianggap keramat.
Misalnya, pohon beringin besar. Pada umumnya
dipercaya bahwa di dalam pohon beringin ada makhluk
yang menjaganya sehingga orang segan untuk mendekat
apalagi menebang pohon beringin. Hal ini sebenarnya
merupakan bentuk konservasi.

40

Mitos juga berlaku pada hewan-hewan tertentu
yang dianggap keramat, seperti ular, kucing, burung
gagak, dan burung hantu. Hewan adalah bagian dari
jaringan ekosistem yang turut berperan menjaga
keseimbangan ekosistem. Contohnya, mitos Dewi
Sri yang menjelma sebagai ular sawah. Masyarakat
petani mengeramatkan ular sawah karena dianggap
sebagai jelmaan dari Dewi Sri yang merupakan simbol
bidadari kesuburan atau rezeki dalam kepercayaan
masyarakat Jawa. Dilihat dari segi pengetahuan, ular
sawah membantu petani dalam mengendalikan hama,
terutama tikus sawah. Kotorannya juga dapat menjadi
pupuk yang menjaga kesuburan tanah.

41

Menganggap suatu tempat keramat dan
menakutkan akan membuat orang enggan untuk masuk
dan merusak tempat tersebut. Bahkan, mereka akan
menjaga, memelihara, dan tidak berbuat sembarangan
di tempat tersebut. Misalnya, mitos yang berkembang di
lingkungan Gunung Merapi. Penduduk percaya, Gunung
Merapi memiliki tempat-tempat sakral yang dipercaya
dijaga oleh makhluk halus sehingga harus dihormati.
Penduduk berpantang melakukan penebangan pohon,
merumput, atau memindahkan benda-benda yang ada di
wilayah tersebut. Selain itu, ada pantangan untuk tidak
buang air besar sembarangan, buang air kecil, bahkan
berbicara kotor karena akan mengakibatkan penunggu
gunung tersinggung.
Memang, tidak ada yang mewajibkan teman-
teman untuk mempercayai sebuah mitos. Namun,
dengan mengetahui mitos, kita akan lebih menghargai
dan memahami bahwa kita harus berselaras dengan
alam.

42


Click to View FlipBook Version