MENGATASI KECEMASAN PADA WARGA (WBS) DI PTSW KHUSNUL KHOTIMAH PEKANBARU Intervensi menggunakan konseling kelompok di PSTW Khusnul Khotimah yang diberikan oleh CP mampu menurunkan tingkat kecemasan yang dialami dengan meningkatkan kondisi mental positif diri kesepuluh subyek. CP berusaha untuk mengatasi gejala kecemasan yang muncul agar masing- masing subyek dapat lebih mampu mengatasi dan menyelesaikan permasalahan yang dialami selama tinggal di Panti. Kecemasan adalah perasaan saat menghadapi masalah atas tekanan antaralain seperti dalam kasus ini adalah meningkatnya beban psikologis WBS di PSTW Khusnul Khotimah Pekanbaru . Pada saat WBS sudah tidak memiliki keluarga atau keluarga tidak mampu mengurus mereka, maka tentunya akan dibawa ke Panti. Selama tinggal di Panti, para WBS akan mendapatkan pembinaan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak WBS yang menunjukkan gejala-gejala kecemasan. Banyak WBS yang tidak memahami bahwa apa yang mereka rasakan dan alami merupakan gejala kecemasan yang tidak boleh diabaikan. NANDA SAKINAH, S.PSI Prodi Magister Profesi Fakultas Psikolog UPI Y.A.I. CONTACT PHONE: 0812- WEBSITE: …………………………………….. EMAIL: --------------------------------------------
1 MENGATASI KECEMASAN PADA WARGA (WBS) DI PTSW KHUSNUL KHOTIMAH PEKANBARU Oleh : Nanda Sakinah, S.Psi PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI (PSMPP) FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I JAKARTA 2023
2
3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Hurlock (1986) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Orang dewasa awal termasuk masa transisi secara fisik, intelektual serta transisi peran sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa (Santrock, 1999). Hurlock (1986) menjelaskan bahwa karakteristik dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Tugas perkembangan yang harus dijalankan individu pada rentang usia ini adalah memilih seorang teman hidup, membentuk suatu keluarga, memiliki Pendidikan dan pekerjaan yang stabil. Tingkat penguasaan tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan di usia madya dan juga akan menentukan kebahagiaan individu pada saat itu maupun selama tahun-tahun akhir kehidupan individu. Akan tetapi apabila individu gagal akan menimbulkan perasaan cemas, rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya (Hurlock, 2006). Ketika menghadapi suatu keadaan yang menekan, menegangkan, ataupun mengancam, seseorang seringkali merasa cemas atau tegang, perasaan itu merupakan suatu reaksi yang normal terhadap stres. Kecemasan dianggap gangguan apabila terjadi pada situasi yang tidak dapat ditangani dan terjadi secara terus menerus. Gangguan kecemasan merupakan suatu bagian gangguan psikologis yang berasal dari keadaan emosional seseorang, dimana menyebabkan penderitanya mengalami rasa cemas, khawatir, gelisah, takut yang berlebihan dan sering terjadi secara terus menerus dan biasana dialami tanpa alasan yang kuat disertai beberapa tanda dan gejala tertentu sehingga menganggu rutinitas penderitanya. Faktor yang mempengaruhi kecemasan faktor internal yang mencakup jenis kelamin, usia, dan kepribadian. Dan faktor eksternal mencakup keluarga biasanya gen dan sosial. Dampak gangguan kecemasan bisa menjadi sesuatu yang dapat mengganggu rutinitas seseorang dan juga dapat menyebabkan munculnya gejala fisik dan gejala mental lainnya. Gejala fisik yang dapat muncul yaitu jantung berdebar, diare, pusing,
4 berkeringat dingin, dan lain-lain. Sementara gejala mental mencakup perasaan ketakutan, mimpi buruk, depresi, insomnia serta gangguan kecemasan juga sangat mengganggu homeostasis sehingga mengganggu kehidupan pribadi maupun sosial pada seseorang. Selain dewasa awal, para lansia merupakan kelompok individu yang tidak kebal terhadap perkembangan gejala kecemasan dan gangguan kecemasan. Vanin (2008) menyatakan banyak lansia yang hidup sendiri merasa khawatir tentang kondisi keuangan, keselamatan pribadi, dan kemandirian. WHO (2013) menambahkan, lansia yang mengalami kecemasan sebanyak 3,8% dari jumlah populasi, dimana kecemasan ini disebabkan oleh penggunaan zat sebesar 1% dan sekitar ¼ disebabkan oleh kematian. Kecemasan juga disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan atau ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya terutama pasangan hidup, kecemasan terhadap penyakit yang diderita terutama penyakit kronis, lansia yang merasa diri tidak berguna, dan lain-lain (Tamher & Noorkasiani, 2012) Penelitian lain juga menambahkan mengenai “Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta” oleh Wreksoatmodjo pada 2013 menunjukan adanya pengaruh social engagement terhadap fungsi kognitif lansia, terutama yang tinggal di panti werdha. Lansia yang tinggal di panti werdha memiliki social engagement yang lebih buruk sebesar 66,7%, sedangkan lansia yang tinggal dengan keluarga sebesar 33,3%. Komponen social engagement yang paling berperan terhadap fungsi kognitif para lansia adalah jaringan sosial dan aktivitas sosial. Selain perubahan fisiologi seperti demensia, lansia juga mengalami perubahan psikologi salah satunya adalah kecemasan (Maryam, 2008). Perilaku negatif lainnya yang ditunjukkan oleh WBS yaitu mudah tersinggung dan marah dengan perkataan sesama WBS, sehingga seringkali terjadi pertengkaran antara WBS. WBS di Panti bertemu dengan banyak teman yang berasal dari berbagai budaya yang berbeda. Hal tersebut tentu memengaruhi bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan sesama WBS dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pendapat dan cara mengekspresikan emosi seringkali membuat WBS lain menjadi salah paham, tersinggung, dan mudah marah, sehingga mengakibatkan perkelahian sesama WBS.
5 Fenomena perilaku di atas sesuai dengan pendapat Kring et al (2010) kecemasan dirasakan sulit untuk dikendalikan dan berhubungan dengan gejalagejala somatik seperti jantung berdebar-debar, denyut nadi dan pernapasan cepat, berkeringat, memerah, nyeri otot, benjolan di tenggorokan, dan saluran pencernaan yang terganggu. Gejala lainnya termasuk kesulitan berkonsentrasi, mudah lelah, gelisah, lekas marah, dan ketegangan otot. Kekhawatiran yang berlebihan tentang hubungan, kesehatan, keuangan, dan kerepotan sehari-hari, dan terjadi terusmenerus ini mengganggu kehidupan sehari-hari. Kecemasan juga didefinisikan sebagai kekhawatiran atas masalah yang diantisipasi, sehingga kecemasan cenderung tentang ancaman di masa depan. Pada akhirnya, individu yang mengalami kecemasan mungkin merasakan kegelisahan dan ketegangan fisiologis. Kecemasan bersifat adaptif dalam membantu individu menghadapi ancaman di masa depan, yaitu untuk meningkatkan kesiagaan individu dan membantu menghindari situasi yang berpotensi berbahaya. Pendapat diatas secara rinci diperkuat oleh Semiun (2006) bahwa kecemasan memiliki beberapa simtom, yaitu simtom suasana hati, simtom kognitif, simtom somatik, dan simtom motor. Simtom suasana hati dalam kecemasan adalah perasaan cemas, tegang, panik, khawatir, depresi, dan mudah marah. Individu yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah. Simtom kognitif dalam kecemasan menunjukkan kekhawatiran dan keprihatinan mengenai bencana yang diantisipasi oleh individu. Sebagai akibatnya,
6 individu menjadi tidak bisa bekerja atau belajar secara efektif dan akhirnya akan menjadi lebih cemas. Sedangkan simtom somatik terbagi menjadi dua kelompok. Pertama yaitu berkeringat, mulut kering, bernafas pendek, denyut nadi cepat, tekanan darah meningkat, kepala terasa berdenyut, dan otot terasa tegang. Kedua yaitu tekanan darah meningkat secara kronis, sakit kepala, otot melemah, dan gangguan pencernaan. Simtom motor yaitu menjadi tidak tenang, gugup, kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. WBS di PTSW Khusnul Khotimah perlu mendapat ketenangan untuk mengurangi kecemasan sehingga perlu dilakukan konseling kelompok dengan teknik direktif untuk proses mengurangi kecemasan tersebut. Menurut Prayitno (2004) layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal dua orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut. Menurut Gunarsa (2000) teknik direktif digunakan untuk menunjukkan bahwa dalam proses konseling, konselor lebih banyak berperan untuk menentukan sesuatu. Bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien, sehingga yang menjadi fokus perhatian dari terapis/konselor adalah masalahnya, bukan orang yang menghadapi masalah. Untuk membantu mengatasi kecemasan dari WBS di Panti Sosial Khusnul Khotimah maka Calon Psikolog (CP) tertarik untuk meneliti penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif dan teknik relaksasi untuk mengatasi kecemasan pada WBS di PTSW Khusnul Khotimah. B. Pertanyaan Penelitian Apakah konseling kelompok dengan teknik direktif dapat mengatasi kecemasan pada WBS di PTSW khusnul Khotimah? C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan yang ada sebagai berikut:
7 1. Bagaimana gambaran klinis kecemasan WBS di Panti Sosial Khusnul Khotimah ? 2. Bagaimana hasil penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif untuk mengatasi kecemasan pada WBS di Panti Sosial Khusnul Khotimah Peknabaru? D. Tujuan Atas dasar permasalahan diatas, tujuan dalam penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif adalah: a. Untuk mengetahui gambaran klinis kecemasan WBS di Panti Sosial Khusnul Khotimah. b. Mendapatkan hasil penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif dalam upaya mengatasi kecemasan WBS di Panti Sosial Khusnul Khotimah. E. Manfaat Manfaat dalam penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif ini terbagi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis, keduanya akan dijelaskan sebagai berikut: a. Manfaat Teoritis Penerapan ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan psikologi terutama psikologi klinis, khususnya yang berkaitan dengan konseling kelompok dengan teknik direktif untuk PTSW mengatasi kecemasan pada WBS di Khusnul Khotimah. b. Manfaat Praktis Hasil penerapan konseling kelompok dengan teknik direktif ini diharapkan dapat memberikan masukan dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi berbagai pihak yang ingin melaksanakan konseling kelompok dengan teknik direktif untuk mengatasi kecemasan pada WBS di PTSW Khusnul Khotimah.
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini akan dipaparkan mengenai teori-teori yang mendasar tentang gambaran klinis kecemasan WBS, etiologi kecemasan, gejala klinis kecemasan, konseling kelompok, teknik direktif, dan langkah-langkah penerapan konseling kelompok, serta kerangka berfikir. A. Gambaran Klinis Kecemasan WBS di PTSW Khusnul Khotimah 1. Pengertian Kecemasan Istilah kecemasan pertama kali diperkenalkan oleh Freud (dalam Feist & Feist, 2006) dan merupakan konsep yang sangat sukar dalam psikologi karena dinilai rumit dan sangat banyak menyangkutkan konsep daripada bukti nyata. Kecemasan adalah kondisi yang tidak menyenangkan, bersifat emosional dansangat terasa kekuatannya, disertai sebuah sensasi fisik yang memperingatkan seseorang terhadap bahaya yang sedang mendekat. Dijelaskan pula oleh Rollo May (dalam Feist & Feist, 2006) bahwaindividu mengalami kecemasan ketika mereka sadar bahwa eksistensi mereka ataubeberapa nilai yang diidentifikasi dengannya bisa saja hancur. Kecemasan adalah kondisi subjektif individu yang semakin menyadari bahwa eksistensinya tidak bisa dihancurkan, tetapi juga bahwa dia bisa saja jadi tidak mengada. Kecemasan tumbuh dari kesadaran dari ketidakmengadaan atau dari ancaman terhadap sejumlah nilai yang esensial bagi eksistensi. Dia hadir ketika manusia berkonfrontasi dengan potensi pemenuhan dirinya. Konfrontasi ini dapat mengarah kepada stagnasi dan kemerosotan, namun bisa juga menghasilkan pertumbuhan dan perubahan. Pendapat diatas secara rinci diperkuat oleh Sullivan (dalam Feist & Feist,2006) bahwa kecemasan seperti sebuah ledakan di kepala. Kecemasan membuat manusia tidak sanggup belajar, memperbaiki ingatan, memfokuskan persepsi, bahkan mungkin bisa terjerumus ke dalam amnesia total. Rasa cemas adalah keunikan di antara segala pengalaman. Yaitu bahwa pengalaman-pengalaman ini sungguhsungguh tidak diinginkan dan diharapkan. Karena rasa cemas begitumenyakitkan, manusia memiliki kecenderungan secara alamiah untuk menghindarinya, secara inheren menyukai kondisi euphoria, atau penghilangan tegangan secara total. Rasa cemas biasanya berasal dari situasi-situasi hubungan antarpribadi yang kompleks,
9 dan hadir dalam kesadaran hanya secara samar-samar. Szkodny & Newman (2013) juga mendefinisikan kekhawatiran sebagai rantai pemikiran dan gambar, yang berdampak negatif dan relatif tidak terkendali, mewakili upaya dalam pemecahan masalah mental pada suatu masalah yang hasilnya tidak pasti tetapi mengandung satu atau lebih banyak kemungkinan hasil negatif, akibatnya kekhawatiran berhubungan erat dengan proses ketakutan. Individu umumnya khawatir tentang terjadinya hasil negatif di masa depan terkait masalah hidup utama (misalnya, hubungan keluarga dan interpersonal, keuangan, kesehatan, pengejaran pekerjaan dan akademik) dan masalah kecil (misalnya,perbaikan atau tugas rumah tangga). Kekhawatiran patologis terdiri dari rantai spiral peristiwa kognitif, perilaku, dan fisiologis yang dipicu oleh stresor yang dirasakan, terutama yang ditandai dengan ambiguitas atau ketidakpastian. Sebagai ilustrasi, sebagai tanggapan atas komentar ambigu yang dibuat oleh pasangan romantis, seorang individu dengan GAD kemungkinan akan mengalami pemikiran cemas (misalnya,“ia marah dengan saya”), dan respons fisiologis terkait (misalnya, peningkatan ketegangan, yang mungkin mengganggu waktu tidur), diikuti oleh pemikiran mengkhawatirkan lainnya (misalnya, “dia akan memutuskan hubungan dengan saya”), sehingga menimbulkan emosi negatif (misalnya, kecemasan dan putusasa), yang mungkin mengaktifkan lebih banyak pikiran cemas terkait dengan keyakinan negatif inti (misalnya, ‘‘saya tidak dicintai dan akan sendirian selamanya"). Siklus ini seringkali sulit dipatahkan, sehingga satu kekhawatiran akan mengarah ke yang lain dan seterusnya sampai menjadi cacat dan merupakan sumber ketidaknyamanan emosional yang ekstrim. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan akan mengalami ketidakmampuan menghadapi perasaan cemas yang berlebihan dan terus-menerus, perasaan tersebut sangat kuat sehingga mereka tidak mampu berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan yang dialami oleh WBS di panti khusnul khotimah diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan para WBS. WBS di khusnul khotimah mendapatkan pembinaan, yaitu berupa kegiatankegiatan yang bermanfaat dan mengisi waktu luang mereka. Namun seiring berjalannya proses pembinaan, banyak WBS yang tidak mau mengikuti
10 berbagai kegiatan yang diadakan setiap minggunya. WBS yang tidak mau mengikuti kegiatan biasanya lebih senang menyendiri di kamar. WBS yang tinggal di Panti bertemu dengan banyak teman yang berasal dari berbagai budaya yang berbeda. Hal tersebut tentu memengaruhi bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan sesama WBS dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pendapat dan cara mengekspresikan emosi seringkali membuat WBS lain menjadi salah paham, tersinggung, dan mudah marah, sehingga mengakibatkan perkelahian sesama WBS. Selain itu, WBS yang masih memiliki anggota keluarga, seperti anak, suami/istri, menantu, cucu, dan lain-lain seringkali mempertanyakan mengapa anggota keluarga tidak mau merawat mereka dan tidak mau menjenguk di Panti. WBS di Panti seringkali mengeluh dan menangis, karena merindukan anggota keluarga. Sebagai akibat dari perasaan cemas yang terjadi terus-menerus, WBS juga mengalami kesulitan tidur pada saat malam hari dan menderita penyakit, seperti sakit kepala, darah tinggi, maag, dan sebagainya. Gambaran klinis bervariasi, diagnosis gangguan cemas ditegakkan karena dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada hal-hal yang sepele dan tidak utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya sehingga pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. 2. Etiologi Kecemasan Kring et al (2010) percaya bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perasaan cemas yang berlebihan, yaitu: a. Defisit dalam fungsi sistem GABA yang penting bagi banyak gangguan kecemasan. b. Faktor kognitif dapat membantu menjawab mengapa beberapa orang lebih khawatir daripada yang lain. Tom Borkovec dan rekannya fokus pada perasaan khawatir, dalam model kognitif mereka. Khawatir akan tampak sangat tidak menyenangkan sehingga orang mungkin bertanya mengapaada orang yang sangat khawatir. Borkovec dan rekannya telah menyusun bukti bahwa kekhawatiran sebenarnya menguat karena mengalihkan perhatian orang dari emosi dan citra negatif yang lebih kuat.Kunci untuk memahami argumen ini adalah menyadari bahwa kekhawatiran tidak melibatkan gambar visual yang kuat dan tidak menghasilkan perubahan fisiologis yang biasanya menyertai emosi. Memang, khawatir sebenarnya tampaknya
11 mengurangi tanda-tanda gairah psikologis. Jadi, orang-orang mungkin menghindari emosi yang tidak menyenangkan yang akan lebih kuat daripada khawatir. c. Adanya trauma masa lalu yang melibatkan kematian, cedera, atau penyakit. Mungkin, kekhawatiran mengalihkan perhatian orang-orang dari kesulitan mengingat trauma masa lalu ini. Orang dengan perasaan cemas berlebihan melaporkan bahwa lebih sulit untuk memahami dan memberi label perasaan mereka, sehingga kesulitan mereka dalam mengatasi perasaan negatif dapat membuat mereka lebih termotivasi untuk mencoba menghindari emosi mereka. d. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami kesulitan menerima ambiguitas, yaitu merasa tidak dapat ditoleransi untuk berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi di masa depan, lebih cenderung khawatir. 3. Gejala Kecemasan Berdasarkan DSM IV-TR (American Psychiatric Assosiation, 2000), gangguan kepribadian paranoid memiliki gejala sebagai berikut: a. Kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran pada hampir setiap hari selama masa 6 bulan atau lebih, tentang sejumlah peristiwa atau kegiatan (seperti pekerjaan atau kinerja sekolah). b. Orang merasa kesulitan dalam mengendalikan perasaan khawatir. c. Kecemasan dan kekhawatiran diasosiasikan dengan 3 (atau lebih) dari enam gejala (setidaknya beberapa gejala hadir pada hampir setiap hari selama masa 6 bulan terakhir). Catatan: hanya diperlukan satu item pada anak-anak. 1) Mengalami kegelisahan atau perasaan tegang. 2) Menjadi mudah lelah. 3) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi atau memiliki pikiranyang kosong. 4) Perasaan mudah marah atau tersinggung. 5) Mengalami ketegangan otot. 6) Gangguan tidur (mengalami kesulitan untuk tidur atau tetap tertidur atau mengalami tidur yang gelisah dan tidak memuaskan). Upaya untuk mereduksi atau mengatasi kecemasan yang terjadi pada WBS di PTSW Khusnul Khotimah dilakukan dengan menerapkan konseling kelompok
12 dengan teknik direktif agar dapat membantu menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan para WBS dalam menghadapi dan mengatasi kecemasan dengan upaya memberikan dukungan, pengobatan, perawatan, sehingga mereka dapat mengembangkan pemahaman, sikap, keyakinan, dan perilaku yang tepat. B. Konseling Kelompok dengan Teknik Direktif 1. Pengertian Konseling Kelompok Konseling adalah upaya membantu mengatasi permasalahan orang lain sedangkan konseling kelompok membantu mengatasi masalah sekelompok orang yang memiliki permasalahan yang sama. Menurut Gladding (2012) kelompok digambarkan sebagai dua atau beberapa orang yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan demi keuntungan bersama. Pada umumnya setiap orang menggunakan sebagian waktunya dalam aktivitas berkelompok setiap harinya contohnya dengan teman sekolah atau rekan bisnis. Bergaul adalah bagian dari sifat alami manusia dan banyak keahlian pribadi ataupun profesional yang dipelajari melalui interaksi kelompok. Sebagian besar konselor berhadapan dengan keharusan untuk mengambil sebuah keputusan besar mengenai kapan, dimana, dan dengan siapa bisa menggunakan kelompok. Kelompok bisa menjadi pertolongan yang ideal untuk orang yang tidak terlalu disruptif atau yang statusnya tidak sama, dan mereka yang memiliki kekhawatiran umum. Konselor umumnya menjadwalkan waktu pertemuan secara berkala agar orang-orang dapat berjumpa dalam lingkungan yang tenang, tidak terganggu serta dapat saling berinteraksi. Pendapat di atas secara rinci dijelaskan oleh Rogers (dalam Gunarsa, 2000) bahwa konseling merupakan suatu hubungan yang bebas dan berstruktur yang membiarkan klien memperoleh pengertian sendiri yang membimbingnya untuk menentukan langkah-langkah positif ke arah orientasi baru. Sedangkan menurut Lewis (dalam Gunarsa, 2000), konseling adalah proses di mana seseorang atau klien yang mengalami kesulitan dibantu untuk merasakan dan selanjutnya bertindak dengan cara yang lebih memuaskan dirinya melalui interaksi dengan seseorang yang tidak terlibat yakni konselor. Konselor akanmemberikan informasi dan reaksi untuk mendorong klien mengembangkan perilaku untuk berhubungan secara lebih efektif dengan diri sendiri danlingkungan. Sesuai dengan pendapat Prayitno (2004) layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang
13 jumlahnya minimal dua orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut. Dijelaskan juga oleh Corey (2005) bahwa seseorang ahli dalam konseling kelompok mencoba membantu peserta untuk menyelesaikan kembali permasalahan hidup yang umum dan sulit seperti permasalahan pribadi, sosial, belajar atau akademik, dan karir. Konseling kelompok lebih memberikan perhatian secara umum pada permasalahan-permasalahan jangka pendek dan tidak terlalu memberikan perhatian pada treatmen gangguan perilaku dan psikologis. Konseling kelompok memfokuskan diri pada proses interpersonal dan strategi penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pemikiran, perasaan, dan perilaku yang disadari. Metode yang digunakan adalah dukungan dan umpan balik interaktif dalam sebuah kerangka berpikir here and now (di sini dan saat ini). Konseling kelompok kadang-kadang dikenal sebagai kelompok pemecahan masalah antarpribadi, berusaha menolong peserta kelompok untuk memecahkan kehidupan yang umum, namun seringkali sulit, melalui dukungan antarpribadi danpemecahan masalah. Tujuan yang lain adalah membantu peserta mengembangkan kemampuan yang sudah ada dalam memecahkan masalah antarpribadi sehingga mereka akan lebih mampu menangani masalah yang ada dikemudian hari. Tujuan lain dari konseling kelompok juga dijelaskan oleh George &Cristiani (dalam Gunarsa, 2000), yaitu: a. Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku b. Meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu c. Meningkatkan kemampuan dalam menentukan keputusanMeningkatkan dalam hubungan antar perorangan d. Menyediakan fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien. 2. Teknik Direktif Menurut Corey (2005) teknik atau metode pendekatan konseling sangat banyak macamnya sesuai dengan jenis aliran atau
14 konsep teori yang dikemukakan para ahli. Ada teknik psikoanalisis/psikodinamik, Rogerian, eksistensialisme, Gestalt, realitas, rational emotif, behaviorisme, analisis transaksional dan lain-lain. Dalam kasus ini teknik yang digunakan adalah direktif. Diperjelas oleh Gunarsa (2000) bahwa teknik direktif disebut juga sebagai pendekatan terpusat pada konselor untuk menunjukkan bahwa dalam interaksi ini, konselor lebih banyak berperan untuk menentukan sesuatu. Sebagai kegiatan bantuan melalui proses konseling, sedikit banyak bersifat klinis dan melakukan pendekatan dari sudut dinamika-dinamika perkembangan psikis (psikodinamik) klien dan dengan sendirinya ada kaitannya dengan orientasi faktor bakat atau ciri kepribadian dasar yang dimiliki seseorang (trait factor theory). Teknik direktif bisa diberikan secara langsung dalam berbagai cara setelah konselor atau terapis yakin ada dasar teorinya yang mantap untuk memberikan sesuatu seketika, sehingga dalam hal seperti ini menyerupai suatu kegiatan dengan dasar atau pendekatan untuk segera melakukan tindakan, sesuatu yang justru menjadi ciri khas pada pendekatan simtomatis atau behavioristik pada umumnya. Teknik direktif karena itu bisa diberikan kepada klien yang mungkin membutuhkan waktu, tetapi biasanya tidak lama atau bisa dilakukan seketika. Tujuan dari teknik direktif adalah jelas, yakni untuk membantu orang lain mengaktualisasikan potensi yang baik yang dimiliki, terutama membantu klien yang kurang memperoleh pengalaman dari lingkungan untuk memenuhi tujuandan keinginannya. Konselor atau terapis dengan semua pengetahuan danpengalaman yang dimiliki memahami keadaan klien dan membantunya mengatasi masalah dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Untukbisa melakukan kegiatan bantuan ini, konselor atau terapis harus melakukan analisis, menentukan suatu gejala, memberikan penerangan dan memperjelas keadaan, maka konselor atau terapis bertindak aktif dalam mengajarkan sesuatu atau menanamkan pengertian baru kepada klien. Konselor atau terapis berperan secara aktif dan mendominasi seluruh interaksinya dengan klien, sebaliknya peranklien adalah sangat pasif dan cenderung menerima dan tentunya diharapkan akan menyetujui dan melaksanakan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh konselor atau terapisnya. Paham dasar dari teknik direktif pada konselor adalah bahwa pada hakikatnya seseorang harus membuat banyak dan bermacam-macam keputusan yang acap kali membutuhkan kecakapan dan keterampilan yang harus dimilikiatau
15 yang cukup dialami, namun ia tidak memperoleh kesempatan untuk mengalaminya. Karena itu, klien membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan penjelasan teknis yang dapat diperoleh dari konselor atau terapis sebagai seseorang yang sudah terlatih dan berpengalaman untuk membantunya. Hal ini sering menimbulkan kritik karena bisa dan mudah terjadi ketergantungan pada klien terhadap konselor atau terapisnya. Teknik direktif sangat bermanfaat dan praktis dipakai kalau kebutuhan utama klien adalah untuk memperoleh informasi dan keyakinan kembali ataukarena keterbatasan waktu namun memaksanya untuk mengambil keputusan segera, di mana klien tidak cukup matang atau terlalu terpengaruh kehidupan esmosinya. Teknik direktif pada umumnya mengambil peran penasihat, namun juga untuk meyakinkan kembali untuk berkomunikasi, meredakan emosi dan dalam batas tertentu juga untuk memperjelas proses berpikirnya. 3. Teknik Relaksasi Teknik relaksasi (Erford, 2017) diciptakan oleh Jacobson pada tahun1934 sebagai suatu metoda fisiologis untuk melawan ketegangan atau kecemasan. Jika seseorang mengalami ketegangan akibat adanya kecemasan maka akan terjadi pengkerutan serabut-serabut otot. Jacobson menemukan bahwa denganmenegangkan dan merelaksasikan atau melemaskan bermacam-macam kelompok otot secara sistematis dan dengan belajar memperhatikan serta membedakan rasa atau sensation yang dihasilkan oleh ketegangan dan relaksasi seseorang secara hampir sempurna dapat menghilangkan pengkerutan otot dan mengalami suatu perasaan relaksasi yang mendalam. Teknik relaksasi efektif dalam menangani beragam keluhan fisik dan psikologis. Selain itu, juga digunakan untukmengurangi beragam masalah klinis termasuk kecemasan, stres, tekanan darah tinggi, dan masalah-masalah kardiovaskular lain, seperti sakit kepala migren, asma, dan insomnia. 4. Langkah-langkah dalam Konseling Kelompok Ada beberapa langkah dalam melakukan konseling kelompok denganteknik direktif, yaitu: a. Langkah pertama Pembentukan hubungan antara CP dengan kelompok melalui relasi interpersonal yang khas. Menumbuhkan kehangatan serta pengertian merupakan hal yang penting dalam relasi konseling kelompok. b. Langkah kedua
16 Setelah relasi terbentuk, kemudian terjadi proses mengekspresikan perasaan dan penelusuran problem masing-masing subyek dalam kelompok. Peran CP adalah memberi support agar mereka berani dan bebas menyatakan perasaannya. c. Langkah ketiga CP menggali lebih jauh konflik-konflik yang dialami kelompok serta menganalisanya secara bersama dengan kelompok. d. Langkah keempat CP berusaha mengembangkan kesadaran subyek akan masalah yang dihadapi dan membantu untuk memperoleh insight dari masing-masing anggota, sehingga mereka dapat saling bertukar informasi, pengetahuan, dan memberikan dukungan untuk mengatasi kecemasan yang dialami selama tinggal di PTSW Khusnul Khotimah
17 BAB III ASSESMEN Pada bab ini akan dibahas mengenai metode assesmen yang digunakan, pihak lembaga institusi yang memberi tugas kepada Calon Psikolog (CP), hasil intervensi dan menetapkan intervensi yang cocok berdasarkan hasil assesmen dan prosedur evaluasi dalam proses assesmen. A. Metode Assesmen yang Digunakan Dalam penerapan konseling kelompok, data-data diperoleh dengan melakukan serangkaian pemeriksaan psikologis yang didalamnya terdapat proses wawancara, observasi, beberapa tes psikologi dan pemberian skala kecemasan. 1. Wawancara Wawancara dilakukan untuk autoanamnesa dan alloanamnesa sehingga informasi yang didapat lebih lengkap seperti informasi tentang identitas subyek, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, hubungan dengan keluarga, hubungan dengan teman di panti khusnul khotimah, hubungan dengan pengurus Panti, serta hubungan dengan lingkungan dan informasi lainnya yang terkait dengan masalah subyek. 2. Observasi Observasi dalam kasus ini mencakup observasi umum dan observasikhusus yaitu observasi subyek saat berada di Panti Khusnul Khotimah. Dalam observasi umum ada tiga aspek yang harus diperhatikan dengan seksama, yaitu: a. Penampilan subyek Pengamatan terhadap penampilan fisik, cara berpakaian atau gaya kesehariannya. b. Reaksi emosi Pengamatan suasana saat melakukan wawancara, suasana hati subyekdan pembawaan dirinya sehari-hari. c. Gaya bicara Pengamatan terhadap gaya bicara, tata bahasa yang digunakan dan cara penyampaiannya. Sedangkan dalam observasi khusus yang diamati adalah bagaimana perilaku subyek saat sedang melaksanakan tes psikologi yang diberikan oleh CP.
18 3. Tes Psikologi Alat tes Psikologi yang digunakan adalah: a) Progressive Matrix Test (SPM) digunakan untukmengukur tingkat kecerdasan masing-masing anggota kelompok. b) Draw a Person (DAP) digunakan untuk mengevaluasi kepribadianmasingmasing anggota kelompok. c) Tree Test (BAUM) digunakan untuk mengevaluasi kepribadian masingmasing anggota kelompok. d) House Tree Person (HTP) digunakan untuk menganalisis hubungan atau interaksi masing-masing anggota kelompok dengan keluarga mereka. e) Sixteen Personality Factors Questionaire (16PF) digunakan untuk mengukur kepribadian masing-masing anggota kelompok dalam bekerja. 4. Skala Kecemasan Skala kecemasan yang digunakan dalam kasus ini untuk Pre-test dan Posttest mengukur kondisi kecemasan dengan menggunakan skala kecemasan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya gejala pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 gejala yang nampakpada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (tidak ada) sampai 4 (berat sekali). Berikut ini kategori dalam skala HARS: a. 0 – 18 = kecemasan ringan b. 19 – 37 = kecemasan sedang c. 38 – 56 = kecemasan berat
19 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini dibahas mengenai kesimpulan, pembahasan hasil intervensi dan saran untuk penanganan kasus kelompok yang lain. A. Kesimpulan Pembahasan Intervensi menggunakan konseling kelompok di PSTW Khusnul Khotimah yang diberikan oleh CP mampu menurunkan tingkat kecemasan yang dialami dengan meningkatkan kondisi mental positif diri kesepuluh subyek. CP berusaha untuk mengatasi gejala kecemasan yang muncul agar masing- masing subyek dapat lebih mampu mengatasi dan menyelesaikan permasalahan yang dialami selama tinggal di Panti. Kecemasan adalah perasaan saat menghadapi masalah atas tekanan antaralain seperti dalam kasus ini adalah meningkatnya beban psikologis WBS di PSTW Khusnul Khotimah Pekanbaru . Pada saat WBS sudah tidak memiliki keluarga atau keluarga tidak mampu mengurus mereka, maka tentunya akan dibawa ke Panti. Selama tinggal di Panti, para WBS akan mendapatkan pembinaan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak WBS yang menunjukkan gejala-gejala kecemasan. Banyak WBS yang tidak memahami bahwa apa yang mereka rasakan dan alami merupakan gejala kecemasan yang tidak boleh diabaikan.
20 B. Saran 1. Saran Teoritis Bagi peneliti yang tertarik untuk meneliti tentang penerapan konseling kelompok untuk mengurangi kecemasan pada WBS di PSTW Khusnul Khotimah perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan terhadap keadaan subyek, sehingga hasil yang dicapai dapat optimal dan disarankan agar dapat mengontrol faktor-faktor ini. Dengan demikian, diharapkan hasil intervensi dengan menerapkan konseling kelompok dapat lebih mendalam, sehingga dapat mengatasi gangguan klinis yang muncul pada pikiran, emosi dan perilaku dan dapat disarankan juga untuk memilih intervensi atau terapiyang lain 2. Saran Praktis Subyek sebaiknya dilakukan intervensi lanjutan dengan konseling individu menggunakan teknik direktif dan relaksasi untuk mengatasi kecemasannya. Selain itu, subyek diharapkan dapat lebih aktif dan rajin dalam mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan di Panti untuk mengasah kemampuannya.
21 DAFTAR PUSTAKA TR. American Psychiatric Assosiation. (2000). Diagnostic Criteria from DSM-IVWashington DC: APA. Cicih, L. H. (2019). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana. RetrievedJanuari 15, 2020, from https://www.bkkbn.go.id/ Corey, G. (2005). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PTRefika Aditama. Feist, J., & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality. Yogyakarta: PustakaBelajar. Gladding, S. T. (2012). Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: PT. Indeks. Gunarsa, S. D. (2000). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Kring, N. A., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Naele, J. M. (2010). AbnormalPsychology. United Kingdom: John Wiley & Sons Inc. Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human Development Edisi10 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika. Prayitno. (2004). Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok. Padang: Universitas Negeri Padang. Szkodny, L. E., & Newman, M. G. (2013). The Wiley Handbook of Cognitive Behavioral Therapy: Vol. III. CBT for specific disorders. United States: Wiley. Undang-Undang Dasar 1945. (1998). Badan Pembinaan Hukum Nasional. Retrieved Januari 15, 2020, from http://www.bphn.go.id/