The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

jurnal dwi mingguan modul 1.1 Nunung Fika deal

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Nunung Fika Herawati Efendi, S.Pd, 2023-09-19 22:35:19

jurnal dwi mingguan modul 1.1 Nunung Fika deal

jurnal dwi mingguan modul 1.1 Nunung Fika deal

"Jurnal Refleksi Dwi Mingguan CGP Angkatan 9 Model Description, Examination, and Articulation (Deal)", Dibuat oleh Nunung Fika Herawati Efendi S.Pd. Guru SD Negeri 01 Doplang Calon Guru penggerak Angkatan 9 Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah Pada kesempatan ini saya akan menuliskan Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Jurnal refleksi Dwi Mingguan adalah sebuah tulisan tentang Refleksi diri setelah saya mengikuti kegiatan Pendidikan di guru penggerak secara daring yang telah saya laksanakan dua minggu ini dan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Jurnal Refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru dalam menerapkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain, dkk.: 1999). Setiap hari atau bahkan setiap akan melakukan aktivitas tertentu kita selalu melihat diri melalui cermin. Hal ini bertujuan untuk mengetahui keadaan kita. Kegiatan bercermin hampir sama dengan dengan kegiatan berefleksi. Refleksi merupakan salah satu cara kita untuk mengetahui dan memahami diri kita sendiri. Hal ini seakan kita berdialog dengan diri kita sendiri dalam memaknai peristiwa yang telah kita alami. Kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan diri kita dan melakukan perbaikan sehingga mampu berubah menjadi lebih baik. Tentu saja perubahan diri kita menjadi lebih baik akan berpengaruh pada lingkungan sekitar kita. Sama halnya dengan salah satu kegiatan dalam CGP yaitu menulis jurnal refleksi dwi mingguan. Kegiatan ini merupakan tantangan bagi para CGP untuk berusaha berubah menjadi lebih baik dan membawa perubahan positif di sekolah masing-masing. Para CGP berusaha memahami hal-hal yang sudah dilalui dalam kurun wakt tersebut, merasakan perubahan pola pikir dan emosional serta memotivasi untuk menerapkan belajar sepanjang hayat. Hal tersebut sesuai dengan ajaran dari KHD yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Penulis membuat refleksi dwi mingguan menggunakan model Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL). Model ini dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009). Model berefleksi dengan struktur description, examination dan articulating of leraning. Pada bagian description, penulis menggambarkan atau mendeskripsikan pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana). Pada bagian examination, melakukan analisis pengalaman dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah dibuat sebelumnya. Yang terakhir bagian articulation of


Learning, menjelaskan hal yang dipelajari dan rencana untuk perbaikan di masa mendatang. Descriptions Program guru penggerak merupakan salah satu program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Harapannya guru penggerak mampu memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Oleh karena itu, guru penggerak merupakan pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan bagi calon Guru Penggerak. Pada saat pelaksanaan program ini, guru tetap melaksanakan tugas pokoknya yaitu mengajar. Saat ini, penulis sedang melaksanakan pelatihan guru penggerak angkatan kesembilan yang sudah berjalan kurang lebih dua minggu. Selama itu juga calon guru penggerak angkatan sembilan sudah melakukan pelatihan secara mandiri yang di didampingi oleh Pengajar Praktik dan seorang fasilitator. Pada hari Rabu tanggal 16 Agustus 2023 Program Guru Penggerak Jawa Tengah dibuka oleh Kepala Balai Besar Guru Penggerak Jawa tengah, Bapak Darmadi, S.Pd., M.Pd secara daring. Acara tersebut dihadiri juga oleh Kapokja Transformasi Kepemimpinan Sekolah, Koordinator Fasilitator Angkatan 9, Koordinator Admin PPGP angkatan 9 dan aktor pendukung PGP Jateng. Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 akan dilaksanakan selama enam bulan yaitu terhitung sejak 16 Agustus 2023 sampai dengan 28 April 2024. Selanjutnya, pembelajaran dimulai tanggal 21 Agustus 2023. Pada tanggal 21 Agustus 2023 pada program pendidikan guru penggerak angkatan ke-9 melaksanakan pengenalan LMS. Pada tanggal 22 Agustus 2023 pukul 15.30 WIB mulai eksplorasi konsep. Selanjutnya pada tanggal 23 Agustus 2023 dan 24 Agustus 2023 kolaborasi penugasan kelompok dan dilanjutkan pada tanggal 24 Agustus 2023 kolaborasi pemahaman berupa presentasi kelompok. Rangkaian kegiatan tersebut dilakukan secara daring (online). Beberapa kegiatan di LMS setelah kolaborasi pemahaman adalah demontrasi kontekstual. Setelah beberapa kegiatan, lokakarya orientasi dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2023 mulai pukul 07.30 WIB sampai dengan 15. 15 WIB dan dilanjutkan elaborasi pemahaman pada sesi kedua yaitu 15.30 WIB sampai dengan 17.00 WIB melalui Gmeet di LMS. Pada modul 1.1. Pendahuluan, CGP diminta untuk menyaksikan video yang berisi Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara. Dimana pada modul tersebut membahas konsep pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dan


relevansinya terhadap penerapan pendidikan abad 21. Pada modul 1.1.a.3 Mulai dari Diri, dengan membuat refleksi diri berkaitan pehamaman mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD). Selanjutnya pada Eksplorasi konsep, CGP diharapkan memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai tujuan dan asas pendidikan;menganalisis konsep-konsep pemikiran KHD berdasarkan pengalaman pembelajaran yang berpihak pada murid. Pada demonstrasi Kontekstual berupa mendesain sebuah strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' - dalam sebuah karya (video pendek, komik, lagu, puisi, dll) dan mempublikasikan sebagai wujud pemahaman, pemaknaan dan penghayatan yang di praktekkan dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Penulis membuat demontrasi konstektual yang merupakan pemaparan kegiatan ekstrakurikuler pembibingan BTA, menulis kaligrafi, pembiasaan apel di pagi hari,kegiatan pelaksanaan diluar kelas, menyenangkan ada, pembiasaan 5 S,guru memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran, metode pembelajaran yang bervariatif, memberikan contoh yang baik kepada murid, dalam hal tutur kata, perilaku, selain itu guru mengikuti berbagai pelatihan dalam yang dibagikan melalui youtobe (https://youtu.be/w0_D1apA0Ss?si=wcFdsJCoNnSIE5cj). Hal yang paling menarik pada saat kegiatan ruang kolaborasi kelompok. Para CGP berdiskusi di ruang virtual tentang budaya daerah yang mengandung konsep-konsep pemikiran Kihajar Dewantara. Fasilitator membuka Forum Diskusi dengan menegaskan tujuan pembelajaran, yaitu CGP mampu memberikan perspektif refleksi kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi'. Fasilitator Ibu Sudarsi, S.Pd., M.Pd menegaskan dalam Forum Diskusi, CGP saling membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi praktik baik untuk lebih kritis dan reflektif dalam memaknai dan menghayati pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Dan Setiap CGP menyampaikan memberikan perspektif reflektif kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara.


Penulis dan rekan kelompok mengambil tema Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro “gotong royong” yang dilaksanakan di Kecamatan Jatinom. Hal ini dilakukan karena para murid masih antusias terhadap budaya tersebut. Kue apem yang biasa disajikan dalam upacara kebudayaan tersebut masih dilestarikan walaupun dengan rasa dan kemasan yang berbeda. Gotong-royong adalah salah satu budaya khas Indonesia hasil warisan masa lalu yang mengedepankan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi. dan merupakan salah satu dimensi profil pelajar pancasila. Implementasi: Kerja bakti, bersih desa .Penghormatan terhadap Leluhur Penghormatan orang yang telah meninggal atau generasi orang yang telah meninggal, termasuk pada leluhur, didasarkan kecintaan dan rasa hormatkepada orang yang telah meninggal dunia. Implementasi: Nyadran, Nyewu, Kegiatan Kekerabatan Agenda yang dilakukan bersama dengan elemen masyarakat dalam lingkup keluarga atau kekerabatan, khususnya yang berada di lingkungan sekitar. Kegiatan yang dilakukan karena ingin mencapai tujuan bersama. Implementasi: Rewang, Punjungan. Saling Berbagi Adalah memberi atau menerima sesuatu dari barang, cerita, kisah, uang,makanan, dan segala hal yang penting bagi hidup kita, berbagi juga bisa kepada . sesama, alam, dan setiap hal di bumi ini. Implementasi: Weweh,tali asih,ta’jil dan fitrah. Pemikiran KHD yangDikontekstualkan, yang Sesuai dengan Nilai Luhur KearifanBudaya yang Relevan dengan Karakter penguatan Murid. Nilai Budi Pekerti Perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga, lebih dikenal dengan cipta, rasa, karya dan karsa. Implementasinya KegiatanBerbagiBudaya berbagi menumbuhkan empati dan peduli kepada sesama, selalu bersyukur, berbudaya ikhlas, dan jauh dari sifat tamak. Penanaman di lingkungan kelas/sekolah: Jumat berkah, berbagi jajan, sisa uang jajan, bumbung kemanusiaan, dll. Falsafah Jawa yang Sesuai"Pager mangkok luwih kuat ketimbang pager tembok." Nilai Budi Pekerti Perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga, lebih dikenal dengan cipta (kognitif), rasa dan karsa. Implementasinya Menikmati Proses Berangkat dari falsafah "Alon-alon waton kelakon" yang sering dimaknaiharfiah: "Pelan tidak apa yang penting tercapai", sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam, yaitu kemauan seseorang untuk melalui proses dengan sabar, alon tidak berarti ‘lambat’ tetapi lebih dimaknai sebagai menjalani tahapan dengan sabar sampai tujuan tercapai. Penanaman di lingkungan sekolah/kelas: Mengerjakan proyek bersama, menghias kelas dantaman, mengerjakantugas yang menuntut ketelitian, dll. Falsafah Jawa yang Sesuai"Alon-alon waton kelak. Kekuatan Pemikiran KHD yang Menebalkan Laku Murid di Kelas atau Sekolah yang Sesuai dengan Konteks LokalSosial BudayaKekuatan pemikiran KHD salahsatunya adalah terkait dengan nilai kebhinekaan yaitu saling toleransi saling menghargai meskipun berbeda ras suku agama. Penerapan 5 S di Sekolah


Tantangan Kurangnya fokus seluruh civitas akademika sekolah pada program penanaman karakter anak dalam pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).Pengaruh budaya luar (barat, Jepang, Korea, dll.) yang melunturkan adat istiadat asli daerahnya (rewang, nyadran, bersih dusun). Sekolah merencanakan melaksanakan program pumbudayaan 5S sebagai bagian pembinaan karakter siswa di sekolah dan melaluisinergi dengan keluarga dan lingkungan masyarakat.Sekolah merancang program mengenalkan kembali budaya lokal sejak dini di lingkungan masyarakat,serta menanamkan nilai keluhuran budaya-budaya tersebut Setiap hari atau bahkan setiap akan melakukan aktivitas tertentu kita selalu melihat diri melalui cermin. Hal ini bertujuan untuk mengetahui keadaan kita. Kegiatan bercermin hampir sama dengan dengan kegiatan berefleksi. Refleksi merupakan salah satu cara kita untuk mengetahui dan memahami diri kita sendiri. Hal ini seakan kita berdialog dengan diri kita sendiri dalam memaknai peristiwa yang telah kita alami. Kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan diri kita dan melakukan perbaikan sehingga mampu berubah menjadi lebih baik. Tentu saja perubahan diri kita menjadi lebih baik akan berpengaruh pada lingkungan sekitar kita. Hal ini memberikan gambaran konsep – konsep KHD tentang kodrat alam dan kodrat zaman. Setelah kolaborasi kelompok, esok harinya penulis melakukan kolaborasi presentasi. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya mengenai eksplorasi nilai-nilai luhur sosial-budaya. Kegiatan ini memberikan gambaran betapa luhurnya nilai-nilai budaya negeri ini. Sama halnya dengan salah satu kegiatan dalam CGP yaitu menulis jurnal refleksi dwi mingguan. Kegiatan ini merupakan tantangan bagi para CGP untuk berusaha berubah menjadi lebih baik dan membawa perubahan positif di sekolah masing-masing. Para CGP berusaha memahami hal-hal yang sudah dilalui dalam kurun wakt tersebut, merasakan perubahan pola pikir dan emosional serta memotivasi untuk menerapkan belajar sepanjang hayat. Hal tersebut sesuai dengan ajaran dari KHD yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Examination Perjalanan dua minggu dalam mengikuti pelatihan sebagai calon guru penggerak angkatan ke-9 (Sembilan) telah membuka wawasan dan memberikan pengalaman konsep pendidikan yang diterapkan di sekolah. Pada kegiatan di ruang kolaborasi dilanjutkan dengan mempresentasi yang di dampingi oleh fasilitator yaitu Ibu Sudarsi, S.Pd., M.Pd dan pengajar praktik Bapak Hendro Murwoto, S.Pd semakin menambah pemahaman dan wawasan terhadap filosofi dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Pada tujuan dan rencana pembelajaran di kelas, sebelumnya banyak demontrasi dan tema yang diangkat dari materi sama dalam kelas. Sama halnya produk atau penugasan yang dikerjakan murid belum berpusat pada murid. Setelah


memahami konsep KHD, penulis berusaha menyesuaikan dengan minat bakat murid dan belajar bersama dengan murid dalam mengikuti kodrat zaman. Hal yang paling terlihat jelas pada kelas 1 biasanya hanya ceramah dirubah menjadi sering dilaksanakan diskusi. Pembelajaran yang biasanya didalam kelas dirubah menjadi diluar kelas sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan,dan membuat anak menjadi lebih nyaman, guru juga menjadi contoh yang baik dalam hal bertutur kata, perilaku karena kelas 1 anak biasa meniru apa yang dia lihat. Berdasarkan pengalaman pelatihan sebagai calon guru penggerak selama dua minggu ini, ada beberapa hal yang dapat kita analisis dan bandingkan berkaitan dengan tujuan/rencana yang telah dibuat sebelumnya dan beberapa hal yang sebaiknya dipelajari dan diperbaiki pada masa mendatang. Adapun Kegiatan yang telah dilakukan selama kurang lebih dua minggu mengikuti pelatihan Calon Guru Penggerak diantaranya adalah Mulai dari diri sendiri : Memahami konsep pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya terhadap penerapan pendidikan pada abad 21. Hal ini berkaitan dengan konsep pendidikan kodrat alam dan kodrat zaman. Ekplorasi Konsep : memberikan tanggapan terkait Kerangka pemikiran KHD, Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Dasar Dasar Pendidikan yang Menuntun, Kodrat Alam dan Kodrat Zaman, Budi Pekerti, Interpretasi Pemikiran Ki Hadjar DewantaraRuang Kolaborasi : melalui ruang virtual, penulis bersama rekan CGP yang lain melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran tentang pemahaman pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Kami mencoba mengidentifikasi budaya daerah setempat yang sarat dengan pemikiran KHD dan berada di sekitar lingkungan murid. Demonstrasi Kontekstual : Penulis menulis sebuah karya puisi untuk menggambarkan pemikiran filosofis KHD sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh Elaborasi : melalui elaborasi para CGP mendapatkan penguatan pemahaman konsep pemikiran filosofis KHD dari instruktur. Para CGP juga dimotivasi untuk memaknai dan menghayati pemikiran KHD dan bagaimana penerapannya pada konteks lokal sosial budaya di daerah. Penulis membuat koneksi antar materi kesimpulan dan refleksi : https://youtu.be/X0OqG-K2C5g?si=uncIhuqlfoxn-TEB https://www.youtube.com/watch?v=X0OqG-K2C5g&t=270s


Articulation of learning Adapun rencana untuk memperbaiki proses pembelajaran dimasa mendatang antara lain: Pembelajaran demokratis dan berpusat pada murid, yang awalnya hanya pembelajaran ceramah menjadi diskusi, Trilogi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Madyo Mangun Karso, Ing Ngarso Sung Tulodo dan Tutu Wuri Handayani berusaha untuk diterapkan, bukan hanya slogan saja. Salah satunya berawal dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, memberikan contoh yang baik untuk anak-anak dalam hal tutur kata dan perilaku. Berusaha menggali potensi murid dan mengarahkan mereka sesuai dengan kodratnya, baik kodrat alam maupun zaman. Harapannya mereka mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat, berawal ingin membuat madding di dalam kelas. Mengangkat budaya lokal dalam pembelajaran sebagai salah satu cara pendekatan dan penggalian potensi murid budaya infak dihari jumat dari menyisihkan uang saku, menjenguk teman, pagar mangkok lebih baik dari pada pagar tembok dengan kadang berbagi dengan tetangga sekolah, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar sekolah, taziyah tetangga yang meninggal. Menerapkan profil pelajar pencasila pada kelas 1 pembiasaan apel pagi dan membaca juzama dalam usaha memupuk atau pembentukan karakter murid, Berusaha melakukan kolaborasi dengan teman sejawat untuk mengurangi beban tugas murid dan materi bahan ajar betul-betul sesuai dengan kebutuhan murid. Kesimpulan Pemikiran KHD yang dikontekstualkan, yang sesuai dengan nilai luhur kearifan budaya yang relevan dengan penguatan karakter murid yang kami praktikkan di sekolah adalah budaya berbagi dan penanaman peduli atau menikmati proses. Kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid di kelas atau sekolah yang sesuai dengan konteks lokal sosial budaya yang menjadi fokus kelompok kami adalah menuntun anak sesuai dengan bakat dan minatnya penanaman budi pekerti pembudayaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun, berpihak pada murid melatih murid mandiri, dan perpihak pada murid.


Click to View FlipBook Version