The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini menjelaskan tentang sejarah Hindu Budha di Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alianahn00, 2020-12-07 00:00:40

Modul Bahan ajar SMA/MA/MK

E-Book ini menjelaskan tentang sejarah Hindu Budha di Indonesia

Keywords: #Ebook #ModulSejarahSMA #Sejarah

Kurikulum
2013

Modul
Sejarah Indonesia

Semester 1

SMA/MA Kelas XI

Naila Yulianti
Pendidikan Sejarah

FKIP UNJA

Bab 1
Sejarah Hindu Budha Di Indonesia

Kompetensi Isi

 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,

peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif,
dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar

 Menganalisis Sejarah Hindu Budha di Nusantara
 Menyajikan hasil kajian tentang keterkaitan Sejarah Hindu Budha di

Nusantara dalam bentuk tulisan dan/atau media lain

1

Petunjuk Bagi Siswa
Untuk mendapatkan hasil maksimal saat belajar menggunakan bahan ajar ini,
maka disediakan beberapa petunjuk penggunaan bahan ajar antara lain:
 Bacalah dan pahami dengan baik uraian materu yang disajikan pada masng-

masing kegiatan pembelajaran apabila terdapat materi yang kurang jelas
segera tanyakan kepada guru
 Kerjakan soal latihan dengan baik untuk melatih kemampuan penguasaan
pengetahuan konseptual dan literasi lingkunganmu
 Untuk kegiatan “kegiatan diskusi” yang berisi kegiatan praktik, perhatikanlah
hal-hal “Keselamatan Kerja” yang berisi petunjuk melakukan praktikum dan
diskusi.

Tujuan Pembelajaran

 Melalui diskusi dan presentasi peserta didik dapat menjelaskan tentang
peristiwa sejarah

 Dengan membaca buku peserta didik memiliki rasa ingin tahu tentang
Sejarah Hindu Budha Di Indonesia Melalui diskusi peserta didik dapat
menjelaskan keterkaitan sejarah hindu budha di Nusantara

 Dengan mencari informasi dari berbagai sumber perserta didik dapat
membuat kesimpulan hasil kajian dalam bentuk tulisan tentang analisis
keterkaitan konsep sejarah hindu budha di Nusantara dalam bentuk makalah.

2

Materi Pembelajaran

A. Sejarah Hindu Budha Di Indonesia
Seperti yang diketahui bersama sebenarnya agama Hindhu dan Budha adalah

duaagama besar dan muncul hampir bersamaan pada abad ke-6 SM. Dan pertama kali
keduaagama ini muncul di India. Jika dilihat dari banyak aspek, sebenarnya ada
beberapa perbedaan antara agama Hindu dan Budha. Beberapa perbedaannya bisa
dilihat dari bentuk pengakuannya, aal-usulnya, keyakinan akan dewa, kepercayaannya
pada rei karnasi, sistemkasta dan juga proses dalam pelaksanaan korbannya yang juga
cukup berbeda.

Gambar 01 Candi Perambanan Gambar 02 Candi Borobudur

B. Perkembangan Agama Hindu
Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan

besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah
ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa. Pengembang dua
pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1500 SM,
datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya
datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga
kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang
setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Lahirnya agama Hindu ini
merupakan bentuk percampuran kepercayaan antara bangsa Arya dengan bangsa
Dravida. Agama Hindu bersifat politeisme, yaitu percaya kepada beberapa dewa. Tiga
dewa utama yang dipuja oleh masyarakat Hindu adalah Dewa Brahmana (dewa
pencipta), Dewa Wisnu (dewa pelindung), dan Dewa Syiwa (dewa pembinasa).
Ketiga dewa itu dikenal dengan sebutan Trimurti. Kitab suci agama Hindu adalah
Weda. Kitab Weda ini terdiri atas empat bagian, yaitu;

1. Reg-Weda, berisi puji-pujian terhadap dewa;

3

2. Sama-Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci;
3. Yazur-Weda, berisi mantra-mantra; dan
4. Atharwa-Weda, berisi doa-doa untuk pengobatan.

Gambar 04 Kitab Hindu

Masyarakat Hindu terbagi dalam empat golongan yang disebut kasta. Kasta-
kasta tersebut adalah kasta Brahmana, kasta Ksatria, kasta Waisya, dan kasta Sudra.
Di luar itu masih ada golongan masyarakat yang tidak termasuk dalam kasta, yaitu
mereka yang masuk dalam kelompok Paria. Kasta Brahmana merupakan kasta
tertinggi.

Kaum Brahmana bertugas menjalankan upacara-upacara keagamaan. Kasta
Ksatria merupakan kasta yang bertugas menjalankan pemerintahan. Golongan raja,
bangsawan dan prajurit masuk dalam kelompok kasta Kstaria ini. Kasta Waisya
merupakan kasta dari rakyat biasa, yaitu para petani dan pedagang. Adapun kasta
Sudra adalah kasta dari golongan hamba sahaya atau para budak. Sementara itu,
golongan Paria merupakan golongan yang tidak diterima dalam kasta masyarakat
Hindu.
C. Sejarah Agama Buddha

Gambar 05 Agama Budha

Agama Budha muncul sekitar tahun 500 SM. Pada masa tersebut di India
berkembang kerajaan-kerajaan Hindu yang sangat besar, salah satunya dinasti
Maurya. Dinasti ini mempunyai raja yang sangat terkenal yakni Raja Ashoka
Kemunculan agama Budhha tidak dapat dilepaskan dari tokoh Sidharta Gautama.

4

Sidharta adalah putra raja Suddhodana dari Kerajaan Kapilawastu. Ajaran Budhha
memang diajarkan oleh Sidhrata Gautama, sehingga beliau lebih dikenal dengan
Budhha Gautama.

Kitab Suci agama Buddha adalah Tripitaka, yang artinya tiga keranjang. Kitab
ini terdiri atas;

1. Vinayapitaka yang berisi aturan-aturan hidup,
2. Suttapitaka yang berisi pokok-pokok atau dasar memberi pelajaran, dan
3. Abdidharmapitaka yang berisi falsafah agama.
Setiap penganut budha diyuntut menjalankan Tridarma(tiga kebaktian):
1. Saya berlindung terhadap Budha
2. Saya belndung terhadapDharma
3. Saya berlindung terhadap Sanggha
Terdapat empat tempat utama yang dianggap suci oleh umat Buddha. Tempat-
tempat suci tersebut memiliki hubungan dengan Sidharta. Keempat tempat tersebut
adalah Taman Lumbini, Bodh Gaya, Benares, dan Kusinegara. Taman Lumbini
terletak di daerah Kapilawastu, yaitu tempat kelahiran Sidharta. Bodh Gaya adalah
tempat Shidarta menerima penerangan agung. Benares, adalah tempat Sidharta
pertama kali menyampaikan ajarannya. Kusinegara, adalah tempat wafatnya Sidharta.
Hari Raya Umat Buddha adalah hari raya Waisyak. Hari raya ini dimeriahkan
untuk memperingati Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung, dan kematian
Sidharta yang terjadi pada tanggal yang bersamaan, yaitu waktu bulan purnama di
bulan Mei.
D. Persebaran Pengaruh Agama Hindu Buddha ke Indonesia
Masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia secara pasti belum diketahui.
Tetapi pada tahun 400 M dipastikan agama Hindu Budha telah berkembang di
Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan prasasti pada Yupa di Kalimantan
Timur. Prasasti tersebut menunjukkan bahwa telah berkembang kerajaan Kutai di
Kalimantan Timur. Dengan adanya kerajaan pada tahun 400 M, berarti agama Hindu
Budha masuk ke Indonesia sebelum tahun tersebut.

5

Gambar 06 Prasati Yupa

Siapa yang membawa kedua agama tersebut ke Indonesia? Terdapat beberapa
pendapat atau teori tentang pembawa agama Hindu Budha ke Indonesia. Teori-teori
itu adalah sebagai berikut.
a. Teori Brahmana

Van Leur

Disampaikan oleh Van Leur, yang menyatakan bahwa Agama Hindu Buddha
yang berkembang di Kepulauan Nusantara disebarkan langsung oleh para pendeta
yang datang langsung dari India guna melakukan perjalanan suci menyebarkan
agamanya. Pendapat van Leur didasarkan atas temuan-temuan prasasti yang
menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Bahasa dan huruf tersebut
hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu adanya kepentingan dari para
penguasa untuk mengundang para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia
Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara
inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka menjadi golongan
ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul
Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan
dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka. F.D.K Bosch
sependapat dengan Van Leur bahwa hanya golongan cendekiawanlah yang dapat
menyampaikan unsur-unsur Budaya India kepada bangsa Indonesia. Golongan ini
oleh Bosch disebut dengan “Clerks”dan proses yang terjadi anatar budaya

6

Indonesia dan India diistilahkan dengan “”penyuburan”. Akan tetapi teori ini
memiliki kelemahan seperti dalam tradisi Hindu-Budha kaum Brahmana pantang
menyeberang lautan.
b. Teori Waisya

Gambar 07 N.J.Krom

Teori Waisya disampaikan oleh N. J Krom yang menyatakan bahwa Agama
dan Kebudayaan Hindu dan Buddha yang berkembang di Kepulauan Nusantara di
bawa oleh kaum pedagang yang aktif melakukan kontak dengan masyarakat
lokal. Teori ini didukung oleh data arkeologi maupun sejarah yang
mengindikasikan pesatnya arus pelayaran-perdagangan antara Kawasan India-
Nusantara-Cina pada tarikh permulaan abad Masehi. Pada masa tersebut terdapat
dua jalur utama pelayaran-perdagangan, yaitu; jalur sutra yang melewati daratan
Asia Tengah dan jalur laut yang melewati perairan Asia Tenggara Kepulauan
(Soepomo, 1995: 291-292). Pada mulanya para pedagang India berlayar untuk
berdagang. Pada saat itu jalur perdagangan ditempuh melalui lautan yang
menyebabkan mereka tergantung pada musim angin dan kondisi alam. Bila
musim angin tidak memungkinkan maka mereka akan menetap lebih lama untuk
menunggu musim baik. Para pedagang India pun melakukan perkawinan dengan
penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut mereka mengembangkan
kebudayaan India. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India
untuk datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang
tambang terutama emas dan hasil hutan. Teori ini diperkuat dengan Banyaknya
sumber daya alam di Indonesia membuat para Waisya (kelompok pedagang)
tertarik untuk bertransaksi jual beli di Indonesia, dan pada saat itu, kebanyakan
pedagang yang datang ke Indonesia berasal dari India yang merupakan pusat
agama hindu, sehingga ketika mereka berdagang, mereka juga menyebarkan
ajaran agama Hindu dan Buddha. Tetapi teori ini juga memiliki kelemahan seperti
para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa

7

Sanskerta dan huruf Pallawa yang kaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk
menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu
adalah Brahmana dan para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran
agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai
pedoman untuk membaca kitab suci Weda.umumnya hanya dikuasai oleh kasta
Brahmana.
c. Teori Ksatria

Gambar 08 R.C. Majundar

Teori ini juga disebut teori prajurit atau kolonisasi yang dikemukakan R.C.
Majundar, CC. Berg dan FDK. Bosch. FDK. Bosch menggunakan istilah hipotesa
ksatria. Menurut teori ini, peran utama masuknya budaya India ke Indonesia
adalah ksatria. Hal ini disebabkan di India terjadi kekacauan politik yaitu perang
brahmana dengan ksatria, para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia.
Mereka mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu. Pendukung teori ini
kebanyakan sejarawan India, terutama Majumdar dan Nehru. Hipotesis ksatria
banyak mengandung kelemahan yaitu tidak adanya bukti kolonisasi baik di India
maupun di Indonesia. Kedudukan kaum ksatria dalam struktur masyarakat Hindu
tidak memungkinkan menguasai masalah agama Hindu dan tidak nampak
pemindahan unsur masyarakat India (sistem kasta, bentuk rumah, pergaulan dan
sebagainya). Tidak mungkin para pelarian mendapat kedudukan sebagai raja di
tempat yang baru. Akan tetapi teori ini diperkuat dengan bukti bahwa semangat
berpetualang dan menaklukan daerah lain, pada saat itu umumnya dimiliki oleh
para Ksatria (keluarga kerajaan).

8

d. Teori Sudra

Gambar 09 Van vaber

menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha dibawa masuk
ke Nusantara oleh golongan sudra atau para budak. Seperti yang kita ketahui,
sudra merupakan kasta paling rendah dalam agama Hindu. Teori ini dikemukakan
oleh Van Vaber. Teori sudra memiliki banyak sekali kelemahan, sehingga
argumentasi ini menuai banyak bantahan. Beberapa kelemahan teori sudra antara
lain : tujuan mereka meninggalkan India bukanlah untuk menyebarkan agama,
melainkan untuk memperoleh kehidupan dan kedudukan yang lebih layak,
Golongan sudra tidak mengetahui seluk beluk ajaran agama Hindu apalagi
menguasai bahasa Sanskerta yang digunakan di dalam kitab suci agama Hindu
yakni Weda, kelemahan ketiga yaitu dalam sistem kasta agama Hindu, kaum
sudra adalah yang paling rendah, sehingga tidak mungkin mereka menyebarkan
agama Hindu yang hanya dikuasai oleh golongan Brahmana. Namun teori Sudra
juga memiliki kelebihan diantaranya: dilihat dari sudut pandang mengenai
kepergian mereka dari India untuk memperoleh kehidupan yang layak. Hal ini
karena kasta sudra merupakan golongan tersisih, sehingga kepergian merupakan
hal yang nyata, dan jika kita analisis, kaum sudra bisa saja pergi dengan
mengikuti para kaum kesatria yang kalah dalam peperangan di India dan memilih
meninggalkan wilayah India untuk membentuk kerajaan baru.
e. Teori Arus Balik

Gambar 10 F.D.K.Bosch

9

Teori Arus Balik lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri
dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya,
orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para tokohnya yang pergi ke India.
Di India mereka belajar hal ihwal agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah
kembali mereka mengajarkandan menyebarkan ajaran agama itu kepada
masyarakatnya. Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch
yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan
oleh kelompok tertentu, mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai
semangat untuk menyebarkan agama Buddha. Kedatangan mereka disambut baik
oleh tokoh masyarakat.Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha
mereka pergi ke India untuk memperdalam ajaran itu. Lebih lanjut Bosch
mengemukakan bahwa proses Indianisasi adalah suatu pengaruh yang kuat
terhadap kebudayaan lokal. Teori ini didukung oleh catatan perjalanan I-Tsing
pendeta Buddha dari Cina (abad VII M) yang merantau ke India via Sriwijaya
guna mempelajari Agama Buddha di tanah kelahirannya. Teori ini juga didukung
oleh pernyataan Prasasti Nalanda (abad X M) yang memperingati anugerah Raja
Dewapaladewa dari Benggala atas permintaan Raja Balaputradewa dari
Suwarnadwipa yang menhadiahkan sebidang tanah untuk mendirikan wihara di
Nalanda bagi para pelajar yang datang dari Suwarnadwipa guna mempelajari
Agama Buddha (Bosch, 1961: 1-22). Sama seperti teori lainnya, teori Arus Balik
juga memiliki kelemahan yaitu kemungkinan orang Indonesia untuk belejar
agama Hindu-Budha ke india sulit, karena pada masa itu orang indonesia masih
bersifat pasif.
E. Sejarah kearifan Lokal

Di Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan
Islam Melayu Jambi (1500-1901). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara
langsung dengan 2 kerajaan Hindu-Budha pra-Islam. Sekitar Abad 6 - awal 7 M
berdiri KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk
wilayah Batanghari, Jambi). Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awal Abad 7
M. dan lagi pada abad 9 M Jambi mengirim duta / Utusan ke Empayar China (Wang
Gungwu 1958; 74). Kerajaan ini bersaing dengan SRI WIJAYA untuk menjadi pusat
perdagangan. Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka
menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu sehingga
akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya.

10

Berdasarkan sedikit data sejarah yang tersedia, Jambi menikmati masa bebas
dari pengaruh kerajaan lain hanya di masa Kerajaan Melayu Kuno. Selanjutnya, when
Sriwijaya berdiri, Jambi menjadi daerah taklukan Sriwijaya, bahkan, menurut
beberapa sumber yang, tentu saja masih diperdebatkan, Jambi pernah menjadi pusat
pemerintahan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya runtuh dan muncul kekuatan Singosari di
Jawa, Jambi menjadi daerah taklukan Singosari. Ketika Singosari runtuh dan muncul
kemudian Majapahit, Jambi menjadi wilayah taklukan Majapahit.

Dalam perkembangan selanjutnya, Jambi menjadi pusat Kerajaan
Swarnabhumi yang didirikan Aditywarman. Ketika pusat kerajaan Adityawarman
berpindah ke Pagaruyung, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Minangkabau di
Pagaruyung. Ketika Malaka muncul sebagai sebuah kekuatan baru di Selat Malaka,
Jambi menjadi bagian dari wilayah Malaka. Malaka runtuh, kemudian muncul Johor.
Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Johor. Demikianlah, Jambi telah
menjadi target ekspansi kerajaan besar yang berdiri di Nusantara ini.

Beberapa benda arkeologis yang ditemukan di daerah Jambi menunjukkan
bahwa, di daerah ini telah berlangsung suatu aktifitas ekonomi yang berpusat di
daerah Sungai Batang Hari. Temuan benda-benda keramik juga membuktikan bahwa,
di daerah ini, penduduknya telah hidup dengan tingkat budaya yang tinggi. Temuan
arca-arca Budha dan candi juga menunjukkan bahwa, orang-orang Jambi merupakan
masyarakat yang religius. . Muaro jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi
mungkin dulu bekas pusat belajar agama Budha entri pendeta Cina I-Tsing yang
berlayar dari India pada tahun 671. Ia belajar di Sriwijaya selama 4 tahun dan kembali
pada tahun 689 bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah
Budha.

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks
agama percandian Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang kemungkinan besar
merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks
percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi,
Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi.
Candi tersebut diperkirakn berasal dari abad ke-11 M. Candi Muaro Jambi merupakan
kompleks candi yang terbesar dan paling terawat di pulau Sumatera. Dan sejak tahun
2009 Kopleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs
Warisan Dunia.

11

F. Peninggalan Hindu Budha Kearifan Lokal
1. Muaro

Gambar 11 Candi Muaro Jambi

Kompleks percandian agama Hindu - Buddha terluas di Indonesia yang
kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan
Melayu . Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo ,
Kabupaten Muaro Jambi , Jambi , Indonesia , tepatnya di tepi Batang Hari ,
sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi . Koordinat Selatan 01 * 28'32 "Timur
103 * 40'04". Candi tersebut diperkirakakn Berasal Dari Abad ke-11 M .

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824
oleh seorang letnan Inggris bernama SCKrooke yang melakukan pemetaan daerah
aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia
mulai melakukan pemugaran yang serius. Berdasarkan aksara jawa kuno pada
beberapa lembpeng ditemukan, pakar epigrafi Boekhari menyimpulkan
peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini baru Sembilan
bangunan yang telah di pugar, dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme.
2. Candi Kedaton

Gambar 12 Candi Kedaton jambi

Candi Kedaton merupakan bagian dari kawasan percandian Muara Jambi,
yang merupakan salah satu kompleks percandian terbesar se-Asia Tenggara. Pada
jalan masuk menuju candi ini, terdapat sebuah parit besar yang sedang direklamasi
oleh pemda Jambi untuk dijadikan lokasi wisata Air.

Keunikan Candi Kedaton dari candi-candi lainnya adalah strukturnya. Candi
Kedaton memiliki muatan batuan kerikil dengan ukuran besar. Padahal, seluruh

12

bangunan di kompleks Candi Muara Jambi memiliki struktur yang berisi tanah
atau bata. Diperkirakan, kerikil-kerikil ini berasa dari daerah hulu Sungai
Batanghari.
3. Candi Gumpung

Gambar 13 Candi Gumpung

Bangunan Candi Gumpung merupakan salah satu kawasan candi yang cukup
luas dan besar yang ada di Kawasan Kompleks percandian Muara Jambi. Candi
Gumpung ini memiliki halaman yang membangun dengan pagar keliling
berbentuk bujur sangkar yang berukuran 150 meter X 155 meter, sedangkan
bangunan induk yang ada di dalam pagar ini berukuran 17,9 meter X 17,3 meter
dan menghadap ke arah timur.

Di Candi Gumpung ini, ditemukan prasasti-prasasti emas yang berisi data-data
mengenai asal-muasal candi ini. Dalam prasasti tersebut terisi bahwa candi ini
merupakan Candi Umat Budha yang dibangun pada pertengahan abad ke-9 hingga
permulaan abad ke-10 masehi.

13

EVALUASI

Latihan Soal!

A. Pilihan Ganda
Pilih Jawaban Yang Tempat!
1. Agama Hindu di India muncul sebagai akibat adanya perpaduan antara

kepercayaan bangsa arya dan bangsa dravida. Agama Hindu bukan agama yang
demokratis, karena….
A. Kaum brahmana memberikan kesempatan kepada golongan lain untuk

mengajarkan agama
B. Kaum brahmana yang mengetahui urusan hubungan antara manusia dan Tuhan
C. Urusan agama diserahkan kepada masing-masing umat
D. Urusan agama dimonopoli kaum brahmana
E. Urusan agama dimonopoli oleh kaum raja
2. Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta, putra Raja Suddhodana dari Kerajaan
Kapilawastu. Sidharta juga disebut Buddha Gautama yang berti…..
A. Orang yang mencapai tujuannya
B. Orang yang menerima bodhi
C. Orang bijaksana
D. Keturunan suku bangsa Cakya
E. Putra Raja Suddhodana
3. Pernyataan yang tepat mengenai kondisi masyarakat Indonesia sebelum masuknya
pengaruh Hindu-Buddha adalah….
A. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha masyarakat Indonesia belum

mengenal peradaban
B. Tulisan yang berkembang di Indonesia sebelum masuknya pengaruh India

adalah tulisan Pallawa
C. Sebelum masuknya Hindu-Buddha di Indonesia sudah memiliki sistem

pemerintahan yang berbentuk kesukuan
D. Sebelum masuknya Hindu-Buddha di Indonesia sudah berkembang sistem

pemerintahan kerajaan
E. Sebelum masuknya Hindu-Buddha di Indonesia masih hidup secara nomaden

14

4. Masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha membawa banyak
pengaruh atau perubahan bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh yang
terbesar terhadap peradaban bangsa Indonesia adalah dikenalnya…..
A. Tradisi aksara/tulisan
B. Sistem pembuatan relief candi
C. Arsitektur bangunan candi
D. Sistem kepercayaan
E. Sistem pelapisan sosial

5. Salah satu pengaruh masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke
Indonesia adalah munculnya bangunan Candi. Jika diamati dari letak candi Hindu
dan Buddha di sekitar Yogyakarta sangat berdekatan. Hal ini menjadi petunjuk
bahwa…..
A. kondisi tanahnya sangat cocok untuk pembangunan candi
B. Para arsitek dan tenaga kerja gak jauh dari lokasi candi
C. Telah tercipta sikap toleransi dalam kehidupan beragama
D. Peninggalan Hindu Buddha hanya terdapat di Yogyakarta
E. Rakyat saat itu bisa menyembah dewa Hindu atau Buddha

6. Menurut J.C. Van Leur agama dan kebudayaan Hindu-Buddha masuk ke
Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana. Dasar pendukung kebenaran teori ini
masih bisa dilihat hingga sekarang yaitu…..
A. Para Brahmana merupakan golongan yang berperan penting dalam soal
keagamaan
B. Kaum Brahmana sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu
C. Kaum Brahmana selalu mendapat undangan penguasa setempat
D. Kaum Brahmana diutus oleh raja di India untuk ke Indonesia
E. Golongan Brahmana adalah golongan terbanyak di Indonesia

7. Teori Waisya menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu-Buddha masuk ke
Indonesia dibawa oleh kaum pedagang. Berikut kelemahan dari teori waisya
adalah…..
A. Kaum waisya adalah golongan terbanyak dalam kasta
B. Kaum waisya pantang menyebrangi lautan

15

C. Pengaruh kebudayaaan Hindu-Buddha banyak terdapat di wilayah pedalaman
bukan di pusat kota dan pelabuhan

D. Tidak adanya bukti kolonisasi India di Indonesia

E. Kaum waisya menguasai isi ajaran agama Hindu-Buddha

8. Perhatikan Pernyataan berikut! Isi Teori
No. Tokoh Pengemuka
1 N.J.Krom Agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha masuk ke Indonesia dibawa
oleh kaum Brahmana

2 F.D.K.Bosh Agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha masuk ke Indonesia dibawa
oleh kaum pedagang

3 Van Leur Agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha masuk ke Indonesia dibawa
oleh kaum prajurit

4 Van Faber Agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha masuk ke Indonesia dibawa
oleh kaum prajurit

5 R.C.Majundar Agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha masuk ke Indonesia dibawa
oleh orang Indonesia sendiri

A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5
9. Teori Ksatria memiliki kelebihan dalam menjelaskan proses masuknya agama dan
kebudayaan Hindu-Buddha, akan tetapi ada juga sisi kelemahannya sehingga teori
Ksatria masih diragukan kebenarannya. Alasan mengapa teori kesatria banyak
diragukan oleh para ahli adalah…..
A. Karena kurangnya bukti adanya kolonialisasi di Indonesia oleh prajurit India

B. Karena menghindari perbudakan

C. Karena hanya kaum Brahmana yang menyebarkan agama Hindu

D. Karena raja tidak bertugas untuk menyebarkan agama

E. Karena kaum bangsawan tidak melakukan dagang di Indonesia

16

10. Perhatikan gambar tokoh berikut!

Gambar diatas adalah tokoh pengemuka teori tentang proses masuknya agama dan
kebudayaan Hindu dan Buddha ke Indonesia yaitu teori…..dengan bukti penguat
berupa ditemukannya…..
A. Teori Brahmana - Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa
B. Teori Waisya – Prasasti Tugu
C. Teori Ksatria - Kerajaan
D. Teori Sudra – Prasasti Yupa
E. Teori Arus Balik – Prasasti Nalanda
B. Essay!
1. Apakah yang dimaksud dengan Waprakeswara dan upacara Aswameda?
2. Jelaskan tentang lahirnya agama Buddha!
3. Apa isi Prasasti Yupa?
4. Tunjukkan bukti bahwa kaum Brahmana dalam kehidupan sosial masyarakat
Kutai memiliki kedudukan yang istimewa!
5. jelaskan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat Indonesia!

17

Satuan Pendidikan LEBAR PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran PENILAIAN DIRI
Kelas/Semester
Tahun Pelajaran : SMA
: Sejarah Wajib
: XI/1
: 20

Kompetensi Inti :
 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli

(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar :

 Melalui diskusi dan presentasi peserta didik dapat menjelaskan tentang peristiwa
sejarah

 Dengan membaca buku peserta didik memiliki rasa ingin tahu tentang Sejarah
Hindu Budha Di Indonesia Melalui diskusi peserta didik dapat menjelaskan
keterkaitan sejarah hindu budha di Nusantara

 Dengan mencari informasi dari berbagai sumber perserta didik dapat membuat
kesimpulan hasil kajian dalam bentuk tulisan tentang analisis keterkaitan konsep
sejarah hindu budha di Nusantara dalam bentuk makalah.

18

PENILAIAN DIRI

Nama :

Kelas :

Kelompok :

Untuk pertanyaan 1 sampai dengan 5, tulis masing-masing huruf sesuai pendapatmu!

A = Selalu B = Sering C = Jarang D = Tidak Pernah

1 Saya memiliki motivasi dalam diri saya sendiri selama proses pembelajaran

2 Saya bekerjasama dalam mengerjakan kelompok

3 Saya menunjukkan sikap ilmiah saat melakukan studi literature ilmiah sejarah

4 Saya konsisten dalam proses pembelajaran

5 Saya percaya diri saat mengemukakan gagasan saat pendapat,diskusi dan
kelompok

6 Selama kegiatan pembelajaran, tugas apa yang kamu lakukan?

Pedoman Penskoran: Skor 4, jika A = Selalu
Skor 3, jika B = Sering
Skor 2, jika C = Jarang
Skor 1, jika D = Tidak Pernah

Skor Perolehan = Jumlah Skor Perolehan
24

Mengetahui Mengetahui
Guru Sejarah Siswa

__________________ ________________
NIP:

19

DAFTAR PUSTAKA
Sartono Kartodirdjo, dkk., 1977, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai Pustaka
Tanudirjo, Daud Aris..2012. Indonesia dalam arus sejarah Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
Sudrajat.2012. Sejarah Indonesia masa Hindu Budha. Yogyakarta.
Misati, Wari.2011. Kerajaan-kerajaan di Nusantara. Jakarta:Be Champion.
R. Soekmono, Dr., 1995, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Penerbit
Kanisius
Nasaruddin, A. Mukiy.1989. Jambi dalam Sejarah Nusantara (692-1949 M). FISH
publishing: Bukit Tinggi.
Poesponegoro, Marwati Djoned, dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional
Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Purwanti, Retno. 2012. “Situs Muara Jambi Menuju Warisan Dunia”. Jurnal Arkeologi
Siddhayatra. Vol. 17 No.1 (30-42).

20


Click to View FlipBook Version