Muhammad Sang yatim
Teruntuk Baginda Nabi
Wahai Rasulullah, engkau telah harum sebelum diciptakan di bumi, dan Ketika engkau berada dalam
tulang rusuk Adam, ketika ia dan Hawwa menempelkan dedaunan surga ke tubuh mereka. Engkau harum
ketika Adam turun ke bumi engkau berada dalam tulang rusuknya, ketika engkau bukan seorang manusia
, bukan gumpalan daging dan bukan gumpalan darah. Bahkan engakau harum ketika berupa setetes air
di punggungnya Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika naik perahu. Sementara berhala Nasr dan orang-orang
kafir pemujanya ditenggelamkan dalam banjir bandang. Engkau harum ketika dipindah dari tulang rusuk
laki-laki ke rahim wanita, ketika generasi berlalu diganti oleh generasi berikutnya. Engkau harum ketika
berada pada tulang rusuk Nabi Ibrahim sang kekasih Allah, ketika ia dilemparkan ke sekumpulan api,
sehingga tidak mungkin ia terbakar. Sampai kemuliaanmu yang tinggi yang menjadi saksi akan
keutamaanmu memuat dari suku yang tinggi dan di bawahnya terdapat lapisan gunung-gunung. Ketika
engkau dilahirkan, bumi menjadi bersinar dan cakrawala menjadi terang berkat cahayamu. Maka kami
menerobos dalam sinar, cahaya dan jalan-jalan petunjuk itu.
Pangeran Perang dan Pemimpin yang Luar Biasa
Sejarah Islam tak hanya mencatat sosok Muhammad SAW sebagai seorang utusan Allah yang berakhlak
mulia tanpa cela, tapi juga sosok pahlawan besar. Dalam banyak perjuangan membela Islam, Rasulullah
adalah prajurit Allah yang gagah perkasa dan panglima perang yang bersahaja.
Sejarah Islam dan juga Alquran mencatat sejumlah peperangan yang terjadi pada masa awal Islam.
Dalam bahasa Arab, peperangan itu disebut ghazwah dan sariyya. Keduanya sama-sama melibatkan
kaum Muslimin, namun ghazwah diikuti langsung oleh Rasulullah, sementara sariyya tanpa beliau.
Lebih dari 25 ghazwah pernah terjadi sepanjang sejarah Islam. Namun, dari jumlah tersebut, hanya
sembilan peperangan yang berakhir dengan pertempuran. Selebihnya diakhiri oleh menyerahnya pihak
musuh atau tercapainya perdamaian. Pertempuran-pertempuran tersebut, di antaranya, Perang Badar,
Perang Uhud, Perang Khandaq (Parit), Perang Khaibar, Fathu Makkah, Perang Hunain, dan Perang Tabuk.
Perang Badar merupakan salah satu pertempuran terbesar yang terjadi pada 17 Ramadhan
tahun kedua Hijriyah atau 17 Maret 624 M. Pada peperangan yang melibatkan lebih dari 300
Muslim itu, kaum Muslimin menang dengan gemilang. Sebanyak 70 orang dari kelompok
kafir tewas dan 70 lainnya tertawan dalam pertempuran. Sedangkan, 14 orang dari kelompok
Muslim wafat sebagai syuhada.
Pertempuran besar selanjutnya, Uhud, tak segemilang Badar. Kaum Muslimin tercerai-berai
dan kalah dalam pertempuran yang terjadi pada 7 Syawal tahun tiga Hijriyah (22 Maret 625
M) tersebut. Beberapa peperangan lainnya, seperti Khandaq dan Fathu Makkah, berakhir
dengan kondisi yang ber beda pula. Meski memunculkan ketegangan yang luar biasa,
keduanya berakhir tanpa pertumpahan darah.
Allah memerintahkan umat Islam untuk memerangi kelompok yang memerangi Islam,
namun dengan sejumlah catatan yang membatasinya. Seperti disebutkan dalam surah
al-Baqarah ayat 190, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang meme rangi kamu,
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyu kai
orang-orang yang melampaui batas.”
Hadits-hadits
Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah
mapan ilmunya, banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua,
kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan
oleh para salaf.
Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran
ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu
saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.
Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.
inilah beberapa hadits-haditsnya.
ﺗﻌﻠم اﻷدب ﻗﺑل أن ﺗﺗﻌﻠم اﻟﻌﻠم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
ﺑﺎﻷدب ﺗﻔﮭم اﻟﻌﻠم
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu"
Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab
berkata,
ﻣﺎ ﻧﻘﻠﻧﺎ ﻣن أدب ﻣﺎﻟك أﻛﺛر ﻣﻣﺎ ﺗﻌﻠﻣﻧﺎ ﻣن ﻋﻠﻣﮫ
“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –
Ibnu Sirin berkata,
ﻛﺎﻧوا ﯾﺗﻌﻠﻣون اﻟﮭد َي ﻛﻣﺎ ﯾﺗﻌﻠﻣون اﻟﻌﻠم
“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu"
Sumber :
https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html
Nasihat para Rasullah untuk Para Pecintanya
Pada diri Nabi Muhammad SAW dapat kita temukan suri tauladan terbaik bagi
seluruh manusia.
Tutur katanya, perilakunya, kebijaksanaannya, semua tingkah lakunya di dunia ini
membawa kebaikan dan contoh yang baik bagi setiap manusia di bumi ini.
Sebelum kepergiannya, beliau telah meninggalkan begitu banyak suri tauladan
yang baik yang dapat kita jadikan pedoman hidup agar dapat menjadi seorang
muslim yang kaffah dan seutuhnya. Salah satunya adalah ketujuh pesan beliau
kepada salah seorang sahabat, Abu Dzar Al-Ghifari.
● Mencintai orang miskin
Beliau memerintahkan kita seluruh umat Islam agar senantiasa untuk mencintai orang miskin.
Orang-orang miskin yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang hidupnya tidak berkecukupan
dan tidak mempunyai harta untuk mencukupi kehidupannya, dan mereka tidak mau meminta-minta
untuk mencukupi kebutuhan mereka.
“Barangsiapa menghilangkan kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan
darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang-orang
yang dililit utang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan di akhirat.”
● Menyambung silahturahmi
Maka, silaturahim merupakan salah satu ibadah yang paling dianjurkan dan diwajibkan
dalam Islam. Seperti peringatan dan ancaman-Nya dalam firman “Maka, apakah kiranya jika
kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga
mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47]: 22-23).
● Melihat orang yang lebih rendah dalam hal materi dan penghidupan
Jauh dari syukur, itulah sifat dasar dari manusia, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan umat
Islam untuk melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal materi dan penghidupan, agar kita
senantiasa berterimakasih dan bersyukur atas segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita.
Sebagaimana sabda Rasulullah: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan
melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak
meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu” (HR. Bukhari).