Nama : Renarti Dewi Lestari Kelas : 7B
NIM : 1903363 Prodi : Pendidikan Sejarah
Tugas Kajian Buku Teks Sejarah
1. Identitas Buku Teks
Hapsari, R., & Adil, M. (2017). Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X Kelompok
Peminatan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sejarah
Untuk SMA/MA Kelas X
Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial
Berdasarkan Kurikulum 2013 (Edisi Revisi 2016)
Hak Cipta 2017 pada Penerbit Erlangga
Penulis : Ratna Hapsari dan M. Adil
Editor : Rifky Kurniawan
Hadiyansyah
Proofreader : Dr. Mohammad Iskandar
(Dosen Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas
Ilmu Budaya, Universitas Indonesia)
Reviewer : Warsono M.Pd
(Ketua MGMP Sejarah DKI Jakarta)
Desain : Bambang Triatmoko
Setting : Tim Setting Bupel 3
Percetakan : PT Gelora Aksara Pratama
Kode Buku : 0049070111
ISBN : 9786024341770
Jumlah Hal : 400 Halaman
Ukuran : 25,5 cm x 17,5 cm
Berat : 641,60 gr
2. Kesesuaian Materi dan Isi dengan Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar
3.7 Memahami langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik/verifikasi,
interpretasi/eksplanasi, dan penulisan sejarah).
4.7 Menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik.verifikasi,
inerpretasi/ekspalanasi, dan penulisan sejarah) dalam mempelajari sumber sejarah yang
ada di sekitarnya.
Berdasarkan hasil analisis mengenai kesesuaian materi dan isi dengan kompetensi
dasar 3.7 tersebut terdapat kata kunci “memahami” yang dapat diartikan dalam kelas verba
atau kata kerja sehingga memahami dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan,
pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Kata memahami sendiri berasal dari kata
dasar paham yang memiliki arti tanggap, mengerti benar, pandangan, ajaran. Menurut
KBBI arti kata memahami adalah mengerti benar (akan) atau mengetahui benar tentang
sesuatu. Kata memahami ini tentu dapat diturunkan menjadi pemahaman siswa atau peserta
didik, yang mana pemahaman sendiri merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan
seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam
hal ini ia tidak hanya hafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau
fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah,
mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan,
mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil
keputusan (Purwanto, 1997). Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang
sesuatu yang dapat melihatnya dari berbagai sisi.
Dalam level tingkat kognitif Taksonomi Bloom, kata kunci memahami berada pada
level C2 atau merupakan kapabilitas siswa di ranah kognitif yang masih rendah (LOTS).
Memahami berarti mengerti secara sederhana yang ditunjukan dengan cara menafsirkan,
mengartikan, meringkas, menyimpulkan sebuah kesimpulan yang sederhana. Siswa juga
harus meletakan pengetahuan kedalam alternatif yang lain seperti ungkapan ke dalam
bahasa sendiri atau sehari-hari hingga menghubungkan satu gagasan dengan gagasan
lainnya secara mandiri. Lebih baik lagi apabila siswa dapat memberikan contoh apa-apa
yang dia pelajari dengan berbagai permasalahan yang ada di sekitarnya.
Kemudian apa yang harus dipahami oleh siswa tersebut? Merujuk pada kompetensi
dasar 3.7 di atas tentunya jelas disebutkan yaitu memahami langkah-langkah penelitian
sejarah. Dalam buku teks ini termuat penjelasan langkah-langkah tersebut pada halaman
92-103, dimana penjelasan awal dimulai dengan peranan penelitian sejarah itu sendiri,
termasuk berbagai pengertian dipaparkan terlebih dahulu, seperti pengertian penelitian itu
seperti apa dan kemudian dihubungkan dengan pengertian penelitian sejarah itu sendiri
yang menjadi topik utama hingga seberapa pentingnya penggunaan metode sejarah
tersebut. Penjelasan awal ini tentunya sangat penting dalam menstimulus siswa dalam
memahami materi. Setelah itu, masuk pada pembahasan langkah-langkah penelitian
sejarah yang dimuat pula pernyataan tokoh besar yaitu Kuntowijoyo yang menyebutkan
bahwa langkah penelitian sejarah itu meliputi pemilihan topik, pengumpulan sumber
(heuristik), verifikasi (kritik sejarah), interpretasi, dan penulisan sejarah (historiografi).
Sebagai tambahan, dapat pula dicantumkan foto, biografi kuntowijoyo secara singkat,
siapakah beliau dan lain sebagainya.
Bagian selanjutnya adalah penjelasan dari langkah-langkah penelitian sejarah itu
sendiri yang telah disusun secara kronologis, cukup jelas, dan mudah dimengerti oleh
siswa. Ditambahkan dengan gambar 3.9 yang menjelaskan tahapan penelitian sejarah yang
cukup menarik. Meskipun pemilihan topik dalam kompetensi dasar tidak disebutkan, tetapi
dalam buku teks ini dijelaskan dengan baik yaitu didorong dengan hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pemilihat topik yaitu unik, bernilai, kesatuan, orisinal, dan praktis.
Dilanjutkan dengan langkah selanjutnya ialah heuristik yang dijelaskan dengan baik karena
ditambahkan beberapa contoh macam sumber berdasarkan cara mendapatkannya,
bentuknya, hingga beberapa masalah yang kerap muncul dalam dalam heuristik itu seperti
apa. Menariknya adalah terdapat contoh dalam gambar 3.10 yang menjelaskan berbagai
data primer mengenai peristiwa pengeboman Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 yang
disertai foto pendukung. Beralih pada langkah kritik atau verifikasi sumber yang kemudian
menjadi fakta sejarah, dijelaskan pula macam fakta sejarah berdasarkan sifatnya dan
wujudnya termasuk dicantumkan contoh mengenai kontroversi ibu kota Kerajaan
Sriwijaya. Kritik sendiri terdiri dari 2 macam yaitu kritik eksternal dan internal. Dalam
buku ini disebutkan berbagai pertanyaan yang dapat memberikan gambaran kepada siswa
dalam langkah kritik atau verifikasi sumber tersebut. Sehingga siswa diberikan gambaran
yang cukup jelas sebagai sejarawan yang tengah melakukan penelitian.
Selanjutnya masuk pada langkah interpretasi yang dijelaskan sangat singkat atau
dalam 1 paragraf, tentunya hal ini dapat ditambahkan kembali atau ditambahkan contoh
dengan penjelasan yang lebih mendalam namun mudah dimengerti. Langkah terakhir yaitu
historiografi dijelaskan dengan cukup lengkap, ditambah terdapat sejarah historiografi
dalam kolom dan penjelasan mengenai 2 model penulisan yaitu bersifat deskriptif naratif
dan deskriptif eksplanatif. Kemudian dijelaskan pula berbagai ilmu sosial yang dapat
digunakan dalam membantu penelitian sejarah diantaranya dijelaskan mengenai ilmu bantu
arkeologi, sosiologi dan antropologi, geografi, ekonomi, dan psikologi. Dapat pula
ditambahkan ilmu bantu lainnya yaitu ilmu komunikasi, epigrafi, ikonografi, numismatik,
genealogi, filologi, bahasa, statistik, etnografi, dan lainnya. Meskipun sangat asing dan
sulit dimengerti, tetapi penjelasan sedikit mengenai hal tersebut dapat lebih mengenalkan
lebih dalam mengenai ilmu bantu sejarah. Dalam kolom berwarna orange juga dijelaskan
fungsi dari historiografi yang menjadi informasi tambahan kepada siswa. Kemudian dalam
historiografi yang bersifat deskriptif eksplanatif dengan menggunakan ilmu bantu ini
diberikan 2 contoh buku yaitu Kapitalisme Pribumi Awal: Kesultanan Banten (1522-1684)
yang ditulis oleh Heriyati Ongkodharma Untoro dan buku Pemberontakan Nuku:
Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810 yang ditulis oleh Muridan
Widjojo.
Dengan demikian secara keseluruhan materi dan isi dalam buku teks ini sesuai
dengan kompetensi dasar 3.7 karena didalamnya telah memuat langkah penelitian sejarah
yang jelas, cukup lengkap, dan mudah dimengerti. Sehingga indikator memahami tersebut
dapat tercapai dengan penjelasan yang terdapat dalam buku ini. Langkah penelitiannya pun
dijelaskan dengan sistematis, disertai contoh juga gambar dan informasi tambahan yang
menarik. Namun, sumber foto atau gambar yang digunakan tidak langsung dicantumkan
dalam foto, tetapi berada diakhir buku. Dapat pula ditambahkan kata kunci atau istilah the
king yang akan lebih memudahkan siswa dalam memahami langkah-langkah penelitian
sejarah tersebut, sebagai contoh disingkat HKIH (Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan
Historiografi) atau kata kunci lainnya yang dinilai mudah diingat oleh siswa. Dapat
ditambahkan pula gambar atau foto pendukung lainnya yang dapat memberikan siswa
gambaran mengenai materi tersebut, seperti gambar peneliti, sumber dan lain sebagainya.
Kompetensi Dasar
3.8 Menganalisis ciri-ciri dari historiografi tradisional, kolonial, dan modern
4.8 Menyajikan hasil kajian ciri-ciri historiografi tradisional, kolonial, dan modern dalam
bentuk tulisan dan/atau media lain
Berbicara mengenai “menganalisis” tentunya level kognitif ini selangkah lebih
tinggi dari sekedar “memahami”. Sehingga kesesuaian materi dan isi buku teks ini sangat
diperhatikan agar kompetensi dasar tersebut dapat tercapai dengan baik. Analisis
merupakan kata dasar dari menganalisis, dimana menurut KBBI analisis adalah penguraian
suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan
antara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Analisis disini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menguraikan suatu situasi
atau keadaan tertentu atau pengetahuan yang telah ia dapatkan kedalam unsur-unsur atau
komponen-komponen pembentuknya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai
pemahaman yang komprehensif dan dapat memilah integritas menjadi bagian-bagian yang
tetap terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, memahami cara bekerjanya, dan
memahami sistematikanya (Sudjana, 2012). Kemampuan analisis merupakan kemampuan
untuk mengidentifikasi, memisahkan, dan membedakan komponen atau elemen suatu
fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesis atau kesimpulan, dan memeriksa setiap
komponen tersebut untuk melihat apakah kontradiksi atau tidak (Hamdani, 2010).
Pada level kognitif Taksonomi Bloom sendiri, analisis berada pada level 3 yaitu
C4. Sehingga dalam hal ini siswa diharapkan dapat menganalisis ciri-ciri dari historiografi
tradisional, kolonial, dan modern dengan baik. Materi ini termuat dalam buku teks pada
halaman 104-110 dengan subbab berjudul perkembangan historiografi. Terlihat
didalamnya dijelaskan mengenai perkembangan historiografi di Indonesia yang disebutkan
bergerak dalam 3 gelombang. Disebutkan pula ciri umum dalam penulisan sejarah
Indonesia sejak zaman kerajaan sampai pascakolonial. Hal ini menunjukkan bahwa buku
ini berusaha memberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai sejarah perkembangan dan
cirinya dimasa lampau hingga saat ini. Bagian selanjutnya dipaparkan dengan jelas
mengenai kategori historiografi, yaitu dimulai dari historiografi tradisional yang sudah
dimulai sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha. Dicantumkan pula pandangan seorang tokoh
bernama Taufik Abdillah mengenai fase historiografi tradisional tersebut dan kemudian
dijabarkan poin-poin yang menjadi ciri dari historiografi tradisional sebanyak 8 poin
diantaranya adalah sebagai berikut:
Istana sentris karena berpusat pada keinginan dan kepentingan raja
Feodal-aristokratis karena berfokus pada kehidupan bangsawan feodal, bukan
kehidupan rakyat jelata
Subjektivitas yang dinilai tinggi karena penulis mencatat peristiwa penting di
kerajaan atas permintaan raja yang bersangkutan
Tujuannya melegitimasi kekuasaan
Banyak mengandung anakronisme
Umumnya penulisannya tidak disusun secara ilmiah dan banyak data yang
tercampur antara fakta dan mitos
Sumber datanya sulit untuk ditelusuri
Regio-sentris yang artinya banyak dipengaruhi faktor budaya
Dalam buku ini juga disebutkan contoh dari historiografi tradisional yang
diantaranya adalah prasasti, babad, hikayat, hingga serat. Diperjelas dengan contoh pada
gambar 3.13 yang menyebutkan Babad Tanah Jawi dan Bustanus Salatin. Beralih pada
historiografi kolonial, dalam buku ini tidak dijabarkan dalam bentuk poin-poin, tetapi
masih dalam bentuk deskripsi. Buku ini menjelaskan bahwa fokus utama historiografi
kolonial adalah kehidupan warga Belanda di Hindia Belanda. Karena fokusnya
kepentingan Belanda, maka banyak penulisan tentang perlawanan rakyat Indonesia
terhadap Belanda berlawanan dengan kenyataan yang sebenarnya. Menariknya dalam
historiografi ini disebutkan contoh yaitu Pangeran Diponegoro yang jika dikaitkan dengan
2 interpretasi yang berbeda, yaitu dianggap sebagai pemberontak dan pahlawan. Hal ini
tentunya menjadi bukti adanya perbedaan sudut pandang antara historiografi kolonial dan
nasional. Disebutkan pula contoh karya historiografi kolonial yaitu opkomst van het
Nederlandsch Gezag in Oot-Indie yang ditulis oleh J.K.J dan Geschiedenis der
Nederlanders op Java 1600-1800 yang ditulis oleh M.L. van Deventer.
Kemudian terdapat penjelasan dari historiografi modern yang dimulai dengan
sejarah bagaimana awal maraknya historiografi yang bercorak nasional atau indonesia
sentris. Sejarawan terkenal Sartono Kartodirdjo menyebutkan bahwa visi dasar
historiografi nasional adalah menempatkan rakyat Indonesia sebagai pemeran serta pelaku
utama dari sejarahnya sendiri atau berdasarkan sudut pandang orang Indonesia sendiri.
Dari kalimat ini tentunya dapat memberikan arahan kepada siswa, sekaligus menjadi
pembeda dengan kategori historiografi sebelumnya. Contohnya adalah disertasi yang
berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Tinjauan Kritis tentang Sejarah
Banten) karya Dr. Hoesein Djajadiningrat (1886-1960) yang disebut sebagai pelopor
historiografi modern. Historiografi ini juga membuka peranan rakyat kecil sebagai pelaku
sejarah, karena sebelumnya banyak didominasi oleh tokoh-tokoh besar saja.
Dengan demikian, secara keseluruhan materi dan isi dengan kompetensi dasar 3.8
ini sudah sesuai dan disusun dengan baik juga sistematis. Didalamnya telah termuat ciri-
ciri dari historiografi tradisional, kolonial, hingga modern. Hanya saja dalam historiografi
kolonial dan modern tidak dijelaskan dalam bentuk poin-poin seperti historiografi
tradisional. Sehingga siswa diajak untuk menganalisis mandiri apa saja yang menjadi ciri
dari historiografi tersebut. Dapat ditambahkan pula beberapa contoh tambahan yang lebih
mudah dimengerti oleh siswa dan didukung pula dengan gambar. Sebagai tambahan video
pun dapat dicantumkan dalam bentuk link atau QR. Termasuk dapat dicantumkan pula
kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kategori historiografi juga dapat ditambah
tabel perbandingan diantara ketiganya.
3. Tampilan Layout Buku Teks
Dari kedua kompetensi dasar yang termuat dalam buku teks ini terlihat bahwa
tampilan layout yang disuguhkan sudah ditampilkan dengan baik, terusun dengan rapih,
dengan penggunakan huruf dan ukuran yang pas, serta perpaduan warna yang halus
membuat siswa mendapat suasana yang nyaman dalam membacanya. Penggunaan garis
miring pun sudah tepat pada kata atau kalimat asing, hanya saja pada tampilan gambar
tidak full color atau hanya hitam putih. Bagian menariknya adalah terdapat kolom besar
maupun kecil yang menjelaskan informasi tambahan mengenai materi terkait, sehingga
menambah wawasan siswa dalam memahami materi dan isi pada buku teks ini.
Gambar 1. Tampilan Buku Teks Sejarah Peminatan Kelas X
Sumber: Dokumen Pribadi
Kertas yang digunakannyapun menggunakan kualitas yang cukup baik dan
cetakannya pun sudah jelas dan tidak ada kecacatan. Terdapat 2 font huruf dalam buku teks
ini, sehinggga masih terlihat nyaman dibaca oleh siswa.
4. Tidak Mengandung Unsur SARA
Secara keseluruhan kompetensi dasar 3.7 dan 3.8 yang termuat dalam buku teks ini
tidak mengandung unsur suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), hal ini terlihat dari
kalimat ataupun contoh yang digunakan oleh penulis yang menghindari kata yang dapat
menggiring opini atau mengarah pada hal-hal yang negatif. Buku teks ini juga tentunya
layak dijadikan sebagai bahan ajar atau rekomendasi buku sejarah bagi SMA.
5. Analisis Isi Nilai Buku Teks Sesuai Instrumen
Kompetensi Dasar
3.7 Memahami langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik/verifikasi,
interpretasi/eksplanasi, dan penulisan sejarah).
4.7 Menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik.verifikasi,
inerpretasi/ekspalanasi, dan penulisan sejarah) dalam mempelajari sumber sejarah yang
ada di sekitarnya.
Nilai Nasionalisme
Indikator : Pembentukan Bangsa
Sub Indikator : Cerita, Mitos, dan Sejarah Bangsa Indonesia
Materi :
Fakta Keras (hard fact) yaitu fakta yang telah diterima kebenarannya atau fakta
yang sudah pasti dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Contohnya pada 17 Agustus
1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan
kemerdekaan (Halaman 97). Dari sana terlihat bahwa peristiwa proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu sejarah Bangsa Indonesia.
Contoh fakta mental adalah gambaran atau pandangan para bangsawan terhadap
nilai-nilai tradisi seperti kebiasaan memberikan sesaji, mencuci pusaka keraton
pada saat-saat tertentu dan melakukan ritual pemujaan terhadap penguasa Laut
Selatan (Halaman 98). Ritual yang disebutkan di atas tentunya menjadi bagian dari
mitos yang berkembang di Indonesia dan bahkan hingga saat ini.
Sub Indikator : Sejarah persebaran nenek moyang bangsa Indonesia
Materi :
Sebagai contoh, alasan masyarakat zaman dulu membangun peradabannya di
pinggir-pinggir sungai besar. Di Jawa, fosil dan hasil budaya manusia purba banyak
ditemukan di sepanjang wilayah aliran Bengawan Solo (Halaman 102). Dari sana
terlihat adanya pengakuan dari fosil dan hasil budaya nenek moyang bangsa
Indonesia yang ditemukan.
Indikator : Kejayaan Masa Lampau
Sub Indikator : Adanya organisasi dan aktivitas kekuasaan masyarakat dalam bentuk
kerajaan
Materi :
Terdapat contoh fakta lunak yang masih memerlukan bukti lebih kuat lagi untuk
diyakini kebenarannya yaitu lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya yang sampai saat ini
masih belum dapat dipastikan dengan benar dan diskusi tentang hal tersebut terus
berlangsung (Halaman 98). Dalam hal ini terlihat adanya pengakuan adanya
kerajaan yang pernah berdiri yaitu Kerajaan Sriwijaya, meskipun pusat kerajaannya
yang masih kontroversi, tetapi kita sebagai bangsa Indonesia telah mengakui
adanya kerajaan tersebut.
Bagaimana kondisi sosial masyarakat Majapahit ketika Prabu Hayam Wuruk
menjadi raja? Lembaga-lembaga apa saja yang berfungsi sebagai pengatur
masyarakat? Bagaimana raja mengatur kehidupan beragama masyarakat?
(Halaman 98). Terlihat adanya kata kunci raja yang tentunya identik dengan
keberadaan kerajaan yaitu Majapahit yang kita kenal saat ini.
Indikator : Kolonial dan Kolonialisme
Sub Indikator : Negara lain adalah lawan yang tidak dapat dikompromikan bagi bangsanya
Materi :
Berbagai data primer mengenai peristiwa pengeboman Kota Hiroshima pada
tanggal 6 Agustus 1945 (1) surat perintah pengeboman yang dikeluarkan pada
tanggal 5 Agustus 1945; (2) foto bom atom “little boy” yang dijatuhkan di atas
Hiroshima; (3) para pelaku sejarah pengeboman Hiroshima; (4) foto kru pesawat
“Enola Gay”; (5) foto awan akibat ledakan bom; (6) Pesawat “Enola Gay”
(Halaman 96). Ini menjadi bukti bahwa negara lain adalah lawan yang tidak dapat
dikompromikan, sehingga dijatuhkanlah bom yang meluluhlantahkan kota atau
negara tersebut hingga pada akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Kompetensi Dasar
3.8 Menganalisis ciri-ciri dari historiografi tradisional, kolonial, dan modern
4.8 Menyajikan hasil kajian ciri-ciri historiografi tradisional, kolonial, dan modern dalam
bentuk tulisan dan/atau media lain
Nilai Nasionalisme
Indikator : Kejayaan masa lampau
Sub Indikator : Kesadaran tentang adanya masa lampau yang besar
Materi :
Penulisan sejarah yang bercorak historiografi tradisional di Indonesia sudah
dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha (Halaman 105). Hal ini
membuktikan adanya kerajaan besar yang pernah berkuasa di Indonesia pada masa
lampau.
Sub Indikator : Adanya organisasi dan aktivitas kekuasaan masyarakat di masa lampau
dalam bentuk kerajaan
Materi :
Terdapat contoh dari historiografi tradisional yaitu Babad Tanah Jawi yang memuat
silsilah raja-raja cikal bakal Kerajaan Mataran, Bustanus Salatin yang ditulis pada
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan Sultan Iskandar Tsani
(1963-1641) (Halaman 107). Kalimat tersebut membuktikan adanya aktivitas
menulis pada masa lampau atau pada masa kerajaan.
Indikator : Kolonial dan kolonialisme
Sub Indikator : Antitesis mutlak dari Kolonialisme Belanda
Materi :
Sebutan untuk Indonesia adalah Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indie yang
merupakan suatu istilah yang menyiratkan pemilikian Indonesia oleh Belanda.
Bangsa Belanda menganggap dirinya “tuan” dan bangsa Indonesia disebut
“Bumiputera” (Halaman 107). Hal ini menunjukan adanya label mutlak dari
Belanda terhadap Indonesia kala itu.
Indikator : Pembentukan Bangsa
Sub Indikator : Cerita, Mitos, dan Sejarah Bangsa Indonesia
Materi :
Dari sudut pandang penulisan sejarah Bangsa Belanda, Pangeran Diponegoro
dinilai sebagai pemberontak, sedangkan bagi Bangsa Indonesia dinilai sebagai
pahlawan (Halaman 108). Hal ini menunjukan salah satu cerita sejarah Bangsa
Indonesia, khususnya yang menyangkut keberadaan Pangeran Diponegoro yang
berusaha mengusir Belanda dari wilayahnya.
Indikator : Kesadaran Kebangsaan
Sub Indikator : Nasionalisme erat berkolerasi dengan bangsa dan negara
Materi :
Penulisan sejarah dengan bangsa Indonesia sebagai aktor utamanya mulai maral
setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kemudian diarahkan
pada kepentingan nasional bangsa Indonesia (Halaman 108). Kalimat tersebut
menunjukan dalam penulisan sejarah tersebut adanya kesadaran kebangsaan yaitu
Bangsa Indonesia yang lebih mementingkan kepentingan nasional.
Sub Indikator : Kepentingan negara dan bangsa mendapat perhatian besar dalam
kehidupan bernegara
Materi :
Visi dasar historiografi nasional adalah menempatkan rakyat Indonesia sebagai
pemeran utama dari sejarahnya sendiri. Artinya sejarah Indonesia ditulis
berdasarkan pengalaman serta sudut pandang bangsa Indonesia sendiri, bukan
bangsa lain (Halaman 109). Hal ini menunjukan adanya kepentingan negara dalam
penulisan sejarah kedepannya.
6. Uraian Kontekstual dalam Buku Teks
Kompetensi Dasar
3.7 Memahami langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik/verifikasi,
interpretasi/eksplanasi, dan penulisan sejarah).
4.7 Menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik.verifikasi,
inerpretasi/ekspalanasi, dan penulisan sejarah) dalam mempelajari sumber sejarah yang
ada di sekitarnya.
Uraian kontekstual pada kompetensi 3.7 dalam buku teks ini terlihat dari heuristik
yang merupakan salah satu langkah penelitian sejarah dalam mencari sumber yang dapat
dikaitkan dengan digitalisasi, dimana pencarian sumber dapat memanfaatkan teknologi
yang tengah berkembang pesat. Didalamnya banyak pula informasi yang dapat kita
temukan dan tentunya memudahkan sejarawan dalam mencari sumber. Sehingga dalam
penyusunannya akan jauh lebih mendalam karena menggunakan sumber yang cukup
banyak dan tentunya relevan. Termasuk dalam proses kritik atau verifikasi dapat
memanfaatkan teknologi, sehingga keabsahan atau keaslian sumber tersebut dapat terlihat
dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik oleh penulis atau sejarawan. Dalam tahapan
historiografi pun tidak hanya dilakukan secara manual, tetapi saat ini dapat dilakukan
digitalisasi yang lebih modern. Kemudian terdapat pula contoh fakta lunak yang masih
kontroversi yaitu lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya yang hingga saat ini masih
diperbincangkan. Hal ini tentunya sangat kontekstual karna langsung dikaitkan dengan
kondisi nyata saat ini yang dapat menjadi acuan atau sumber pendukung mengenai
keberadaan lokasi pusat kerajaan Sriwijaya tersebut.
Kompetensi Dasar
3.8 Menganalisis ciri-ciri dari historiografi tradisional, kolonial, dan modern
4.8 Menyajikan hasil kajian ciri-ciri historiografi tradisional, kolonial, dan modern dalam
bentuk tulisan dan/atau media lain
Seperti yang telah dipaparkan dalam materi, terlihat adanya kontekstualitas yang
ditampilkan yaitu terlihat dari historiografi modern yang hingga saat ini masih berkembang
dan banyak ditemukan perubahan-perubahan yang lebih baik. Termasuk adanya
pertemuan-pertemuan atau perbincangan yang mengundang banyak tokoh atau sejarawan
yang membahas mengenai historiografi yang berkembang saat ini. Historiografi modern
atau nasional inilah yang menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kesadaran nasional
dan kesadaran sejarah dan tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Karena warganya yang sangat menghargai atau menghormati sejarahnya pada
masa lalu. Selain itu, dalam buku teks ini banyak ditemukan berbagai contoh yang hingga
saat ini masih ada dan terus dijaga kelestariannya seperti buku-buku, babad, dan lainnya.
Kemudian sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa historiografi yang
berkembang saat ini dapat memanfaatkan teknologi yaitu dengan cara digitalisasi yang
dapat lebih meningkatkan penulisan sejarah dan tentunya memudahkan bagi penulis dan
juga kita sebagai masyarakat sebagai pembaca.
Referensi
Hamdani. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Purwanto, M. N. (1997). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Sudjana, N. (2012). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya