TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI by: GEO KRISTIAN 200210302041
TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI Banyuwangi yang biasa disebut juga sebagai "Kota Osing". Banyuwangi memiliki jalur Kereta Api ke Jember hingga menuju Surabaya. Dahulunya “Tanaj Blambangan” tersebut memiliki sebuah jalur yang menghubungkan antara Kalisat hingga Banyuwangi Lama dan disamping itu Banyuwangi juga memiliki sebuah jalur kereta api aktif yang sangat komplit yang menyambungkan satu desa dengan desa lainnya, satu pasar dengan pasar lainnya hingga ke Benculuk yang melupakan titik paling selatan jalur kereta Pulau Jawa. Jalur Kereta Api Kalisat-Banyuwangi Pembangunan Terowongan Mrawan. Sumber : Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0 Kereta Api Kalisat-Banyuwangi merupakan jalur kereta api utama di Indonesia dan termasuk dalam Daerah Operasi IX Jember. Rute ini membentang di Kabupaten Jember hingga Kabupaten Banyuwangi. Rute ini tergolong lebih jarang karena hanya 14 KA reguler yang beroperasi setiap hari. Undang-Undang Perkeretaapian Nomor 23 Tahun 2007, semua prasarana dan stasiun di jalur ini dimiliki oleh Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Jalur ini khas wilayah timur Daop IX yang khas pegunungan dan dataran. Belum lagi puluhan bukit di situs Kalisat-Ledokombo yang terhampar di pinggir jalan. Lebih jauh ke timur, mulai dari Kalibaru, jarak (spasial) antara rel kereta api dan pemukiman penduduk sangat kecil, namun lanskap sepanjang bentangan itu hingga titik minus (stasiun Ketapang) dapat digambarkan sebagai pemandangan khas jalur timur jalur tersebut. negara. Daop IX.
TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI Sebelah utara Stasiun Ketapang terdapat lingkaran balon yang menggantikan inverter rel di ujung lain jalur. Rute balon ini dinamai karena bentuknya yang seperti balon. Rute ini dimulai dari Stasiun Kereta Api Ketapang dan kembali ke jalan raya, melewati pabrik-pabrik seperti Pusri, Pelabuhan Meneng, dan Lloyd Jakarta. Namun, jalur kereta ini tidak lagi digunakan karena pabrik telah mengubah cara mereka mengangkut barang-barangnya. Kini jalan balon sudah berkurang dan berada di selatan jalan kecil yang menghubungkan Jalan Gatot Subroton dan Jalan Ketapang Ring. Jalur KA ini sebenarnya menuju Banyuwangi Lama, bukan Ketapang. Rute ke Ketapang baru dioperasikan tahun 1984-1985 sebagai bagian dari pengoperasian pelabuhan baru Ketapang. Sejarah Pembangunan Jalur Kereta Api Kalisat-Banyuwangi Terowongan Mrawan Sumber : Heritage KAI Pada awalnya pembangunan jalur kereta ini diawali karena sulitnya pengangkutan hasil pertanian dari wilayah Banyuwangi yang terpencil dan berbatasan dengan perbukitan terjal yang tidak bisa dilewati melalui jalan desa atau tanah membuat pihak Staatsspoorwegen (SS) mengadopsi kereta api sebagai solusi untuk mengangkut hasil pertanian yang ditawarkan daerah tersebut. Segera setelah dibangunnya Kereta Api Kalisat-Panarukan pada tahun 1897, jalur ini dibangun hingga ke Banyuwangi. Jalur ini dibangun membelah gunung, melintasi dua terowongan dan memiliki jembatan yang cukup dalam di kawasan Garahan-Mrawan. Pada tanggal 2 Februari 1903, SS membuka jalur angkutan umum ini. Begitu jalur ini dibuka, 3.000 kepala keluarga memilih untuk tinggal di sebelah rel di jalur tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perkeretaapian sebagai mesin ekonomi pada saat itu.
TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI Tutupnya Jalur Kereta Api Kalisat-Banyuwangi Stasiun Kabat Sumber : Wikipedia Pada tahun 1985, PJKA menyelesaikan jalur kereta api baru dari Stasiun Kabat ke Stasiun Ketapang, yang secara resmi mengakhiri jalur lama ke Banyuwangi. Ruas setelah Banyuwangi lama resmi ditutup pada 31 Maret 1988. Sejak tahun 1990-an, jalur ini sudah tidak beroperasi karena digantikan jalur baru dari Stasiun Kabat menuju Ketapang yang aksesnya cukup dekat dengan pelabuhan Ketapang. Kondisi pada rute ini bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Stasiun Kabat sudah tidak beroperasi dan Anda bisa melihat bangunan tak beratap yang ditumbuhi rumput liar. Stasiun Banyuwangi Lama juga sudah tidak beroperasi dan sekarang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan, namun arsitektur asli stasiun tetap ada. Rel kereta api yang melintasi kota Kedayuna masih ada, meski hanya rel besi dan bantalannya yang hilang. Di perumahan Kalirejo Perma dijual rel besi bahkan ada beberapa rumah yang pagarnya terbuat dari bekas rel. Persimpangan Jalan S. Parman kini telah dibangun di kantor polisi. Ada jalan tol baru di Jalan Kepiting Kelurahan Sobo yang dibangun tak lama setelah ujung rel. Di kiri dan kanan Jalan Kepiting terdapat tiang-tiang besi berkarat yang mungkin berwarna biru-putih, menandakan pernah ada rel kereta api. Desa pemukiman dan pusat perbelanjaan dibangun di jalan buntu dari Kertosar ke Karangrejo ini. Masih ada beberapa perlintasan manual, seperti perlintasan KA Jalan Ikan Sadar di Karangrejo.
TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI Ada juga beberapa bekas bangunan industri atau pabrik di dekat rel, yang menunjukkan bahwa kereta api digunakan sebelum aktivitas industri. Pabrik terkenal antara lain pabrik Naga Bulan, sebuah perusahaan yang memurnikan minyak kopra. Dan sisa-sisa garis itu masih bisa dilacak ke Pantai Boom, tapi meja putar di ujung garis itu hilang. Pembangunan gedung permanen di atas perbatasan Kabat-Banyuwangi melanggar UU Perkeretaapian No. 23 Tahun 2007, yang menyatakan bahwa tanah di sekitar rel kereta api adalah milik pemerintah dan bukan milik penduduk setempat. Hal itu dijelaskan lebih detail oleh Gatut Setyatmoko, Direktur Wilayah Operasi IX Jember PT KAI. Bangunan yang didirikan secara permanen dengan cara ini harus diperbaiki setiap saat tanpa kompensasi. Jalur Kereta Benculuk-Banyuwangi Di masa Kolonial Pemerintah Hindia Belanda menggunakan Boom Harbour di sebelah timur kota Banyuwangi sebagai pelabuhan kapal feri ke Bali. Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, pelabuhan ini bahkan pernah menjadi persinggahan para pedagang antar daerah dan negara. Kapal-kapal bermuatan kopra dan kapal penangkap ikan berbaur. Untuk mengangkut barang, Belanda harus membangun rel kereta api dari Pelabuhan Boom ke stasiun lama Banyuwangi, yang kini telah diubah menjadi pusat perbelanjaan. Jaraknya hanya 1 kilometer. Pemerintah juga mendirikan halte bus kecil di pelabuhan tersebut, halte bus Banyuwangihaven. Jalur nonaktif Banyuwangi-Kabat sepanjang 10 km dibuka pada 2 Februari 1903, jalur Rogojampi-Srono sepanjang 13 km (dibuka pada 26 Oktober 1921) dan jalur Srono-Benculuk sepanjang 18 km (dibuka pada 1 November 1922) adalah jalur cabang yang cukup penting. . Namun, karena jalur Rogojampi-Srono-Benculuk tidak terlalu padat, jalur tersebut ditutup pada tahun 1976 sedangkan jalur KabatBanyuwangi ditutup pada tahun 1988.
TUTUPNYA JALUR-JALUR KERETA DI BANYUWANGI Merujuk pada buku De Stoomtractie op Java en Sumatra karya JJG Oegema (1982), pembukaan jalur kereta api di Jawa Timur oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, dimulai tahun 1878 dari Surabaya ke Pasuruan. Pembangunan dilanjutkan ke Malang. yang dibuka pada tahun 1879; Blitar dan Probolinggo (1884); dan Jember, Bondowoso dan Panarukan (1897). Pembangunan rel kereta api terakhir dilakukan di Banyuwangi (1903). Panjang rel kereta api dari Surabaya ke Banyuwangi adalah 317 kilometer. Ruas Rogojampi-Benculuk sepanjang 18 kilometer akan menyusul kemudian. Jalur nonaktif Banyuwangi-Benculuk ini memiliki seksi Rogojampi-Kabat hingga 4 kilometer yang masih aktif. Kabat bersatujalur yang dibangun Belanda di atas jalur baru yang dibangun oleh pemerintah Indonesia melalui PJKA. Pembangunan jalur kereta api dari Kabat ke Stasiun Banyuwangi Baru melalui Stasiun Kereta Api Karangasem dan Argopuro yang kecil, berjarak 10 kilometer, selesai pada tahun 1985. Stasiun Kereta Api Banyuwangi Baru, yang hanya berjarak 400 meter dari Pelabuhan Ketapang, jelas sangat bagus. kepentingan strategis.
DAFTAR PUSTAKA Indiarti, W. (2016). Masa Lalu Masa Kini Banyuwangi. International Conference Indonesia: Art & Urban Culture, October, 505–521. https://jelajah.kompas.id/ Oegema, J. (1982). De Stoomtractie Op Java en Sumatra. Purwowibowo, P. (2020). Banyuwangi: Kota Festival Menuju Destinasi Wisata Indonesia Dan Dunia. Journal of Tourism and Creativity, 4(2), 95.