sekarang juga bukan waktu yang tepat. Tempatnya juga tidak tepat. Tapi kurasa aku
harus mengatakannya sekarang juga.”
Keiko bahkan tidak menyadari ada orang di sekeliling mereka. Ia tidak bisa melihat
apa-apa selain Kazuto. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Kazuto. Ia masih
belum bisa bernapas dengan normal karena terlalu takjub dan ia masih menahan napas
menunggu apa yang akan dikatakan Kazuto selanjutnya.
Mata Kazuto yang gelap menatap matanya lurus-lurus dan Keiko hampir yakin ia
melihat bayangannya sendiri terpantul di sana.
Kazuto menarik napas dan berkata dengan nada rendah namun mantap, “Aku
menyukaimu, Ishida Keiko.” Lalu ia menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada
mata Keiko. “Tidak. Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu.”
Dunia pun berhenti. Setidaknya Keiko merasa dunianya berhenti berputar tepat
pada saat itu. Seluruh jagat raya berhenti. Tidak ada suara yang terdengar selain gema
yang tersisa dari kata-kata Kazuto tadi.
“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerimaku?” Suara Kazuto yang lirih
dan dalam terdengar lagi.
Tidak ada, batin Keiko. Tidak ada...
Gemuruh tepuk tangan terdengar menembus kabut yang menyelimuti kepala
Keiko. Ia mengerjap dan memandang berkeliling. Para pengunjung pameran bertepuk
tangan dan menatap Kazuto sambil tersenyum lebar.
Keiko baru menyadari rupanya saat itu Kazuto diminta maju ke depan untuk
memberikan sedikit kata sambutan dan menjawab pertanyaan dari wartawan. Seorang
wanita yang memegang mikrofon dan yang terlihat seperti salah satu orang yang
bertanggung jawab dalam penyelenggaraan acara melambai ke arah Kazuto.
“Kazuto-san, sepertinya dia memanggilmu,” gumam Keiko.
Kazuto menunduk, mengembuskan napas dengan berat. “Pada saat seperti ini...,”
gerutunya pelan. Namun ia dengan cepat mengangkat kepala, menegakkan bahu, dan
berbalik. Seulas senyum lebar sudah tersungging di bibirnya ketika ia berjalan—
langkahnya masih agak timpang—ke arah si wanita yang memegang mikrofon, diiringi
tepuk tangan semua orang.
“Sudah kubilang dia hebat,” kata Haruka yang tiba-tiba sudah berdiri di samping
kanan Keiko.
“Aku tahu,” timpal Tomoyuki yang berdiri di samping kiri Keiko. “Aku hanya
tidak menyangka dia terkenal begini.”
Keiko menoleh dan menatap kedua kakak-beradik itu bergantian. “Oh, Oneesan...
Tomoyuki-kun...”
Haruka menyiku pelan lengan Keiko. “Dia keren sekali, bukan?”
Keiko menatap Kazuto yang berbicara dengan lancar di depan, menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang masalah teknis dan foto-fotonya. “Ya,” gumamnya
sambil tersenyum. “Memang.”
Salah seorang wartawan menanyakan sesuatu. “Anda sudah sangat sukses di
Amerika Serikat. Apa yang membuat Anda kembali ke Jepang?”
Kazuto tersenyum. “Saya hanya butuh perubahan suasana. Mencari inspirasi.”
“Sepertinya Anda memang sudah berhasil mendapatkan inspirasi kalau melihat
hasil karya Anda yang mengagumkan ini,” puji si wartawan.
Kazuto berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Ya.”
Alis si wartawan terangkat dan ia memperbaiki letak kacamatanya. Ada sesuatu
dalam satu patah kata sederhana itu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Memang
hanya wartawan yang memiliki naluri tajam seperti itu. “Maaf, apakah sumber
inspirasi Anda itu... seorang wanita?”
“Ya,” jawab Kazuto sambil tersenyum.
Haruka melirik Keiko dan berbisik, “Yah, kita semua tahu siapa wanita itu.
Bukankah begitu?”
Keiko pura-pura bego dan tidak menjawab sementara Tomoyuki tertawa pelan.
“Ceritakanlah sedikit tentang sumber inspirasi Anda itu,” pinta si wartawan yang
didukung oleh wartawan-wartawan lain. “Apa yang sudah dilakukannya sampai bisa
membuat Anda terinspirasi?”
Saat itu mata Kazuto bertemu dengan mata Keiko dari seberang ruangan. Keiko
langsung menahan napas dan berharap debar jantungnya yang keras tidak terdengar
oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.
“Dia tidak melakukan apa-apa,” sahut Kazuto sambil tersenyum.
“Tidak?” tanya si wartawan tidak percaya.
“Tidak,” Kazuto menegaskan. “Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang
paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya.”
“Ya, Tuhan. Ini menegangkan sekali,” bisik Haruka dengan nada mendesak sambil
mencengkeram lengan Keiko. Itu bagus juga, karena Keiko merasa kakinya mulai
goyah.
“Maksud Anda?” tanya wartawan yang mulai bersemangat. Hubungan pribadi
memang selalu menarik untuk dikupas, apalagi hubungan pribadi orang terkenal.
“Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya,” sahut Kazuto
dan kembali memandang ke arah Keiko, “dan saya akan merasa saya bisa menghadapi
segalanya.”
Bernapaslah, pinta Keiko pada diri sendiri. Ia harus bernapas. Kalau tidak ia akan
segera pingsan.
Para wartawan berebut mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ada yang terdengar
jelas karena suara-suara saling tumpang-tindih.
“Saya hanya berharap...” Suara Kazuto membuat ruangan itu hening. Semua
perhatian terpusat kepada sosok Kazuto dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya.
Mata Kazuto sendiri tetap terpaku pada Keiko. “Saya hanya berharap dia bisa melihat
saya.”
Keiko masih tidak bisa mengalihkan matanya dari Kazuto. Ia tidak bisa mendengar
apa-apa selain debar jantungnya sendiri. Tetapi mungkin juga suasana saat itu memang
hening. Keiko tidak tahu dan tidak peduli. Ia merasa seolah-olah sedang melayang.
Apakah ia sedang bermimpi?
“Hanya itu yang bisa saya katakan.” Kazuto memecah keheningan. “Terima kasih.”
Suasana kembali riuh dan para wartawan berlomba-lomb aingin bertanya lebih
jauh. Tetapi kali ini Kazuto hanya tersenyum lebar, membungkukkan badan, dan
menyerahkan mikrofon kepada si penyelenggara acara, menandakan wawancara sudah
selesai. Wanita itu buru-buru mengambil alih situasi, dengan ringkas dan efisien
menjawab serta mengalihkan pertanyaan-pertanyaan wawancara kepada masalah yang
tidak bersifat pribadi.
“O-oh. Dia ke sini,” kata Haruka ketika Kazuto keluar dari kerumunan wartawan
dan berjalan ke arah mereka. “Tomoyuki, ayo kita pergi.”
“Kenapa?” tanya Tomoyuki sambil mengerutkan kening, sama sekali tidak
mengerti maksud kakaknya. “Aku baru datang dan aku belum bertemu dengan Kazuto
Oniisan. Aku harus memberikan selamat kepadanya.”
Haruka melotot dan menarik lengan adiknya. “Nanti saja. Sekarang kita harus
menyingkir dari sini.”
Keiko hanya bisa menatap kedua kakak-beradik itu berjalan pergi. Tomoyuki
masih sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Ketika
Keiko berbalik kembali, Kazuto sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan
dimasukkan ke saku celana.
Sesaat mereka hanya berpandangan. Keiko tidak tahu apa yang harus
dikatakannya. Ia bahkan belum bisa bernapas dengan normal dan debar jantungnya
belum mereda. Perasaannya masih melayang-layang.
Tiba-tiba Keiko mendapati dirinya bertanya, “Kalau ingatanmu saat ini masih
belum kembali, apakah kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang kaukatakan
tadi?”
Pertanyaan itu membuat Kazuto agak kaget, tetapi ia tidak membutuhkan waktu
lama untuk menjawab. “Sejak sebelum aku hilang ingatan aku sudah menyukaimu.
Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu,” gumamnya
yakin. Ia terdiam sejenak, menatap mata Keiko lurus-lurus dan melanjutkan, “Jadi, ya,
aku akan tetap mengatakan hal yang sama walaupun seandainya ingatanku belum
kembali.”
Mata Keiko terasa panas dan ia menunduk.
“Keiko-chan.” Kazuto menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Aku tahu kau
menyukai Akira walaupun dia sama sekali tidak seperti yang kaukira. Dan—aku tidak
percaya aku akan mengatakan ini—aku tahu dia menyukaimu. Bukankah dia juga
sudah bilang padamu dia ingin melindungimu atau semacamnya? Tapi katakan
padaku, apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menerimaku. Atau setidaknya
memberiku kesempatan. Aku...”
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa,” sela Keiko.
“Aku... Apa?”
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Kazuto-san,” kata Keiko sekali lagi sambil
berusaha mengatur napas dan debar jantungnya, “karena aku memang sudah
melihatmu.”
Alis Kazuto terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terlihat di wajahnya mulai
menguap. “Kau sudah...? Lalu Akira?”
Keiko menunduk. “Sudah kukatakan padanya,” gumamnya pelan.
Seulas senyum tersungging di bibir Kazuto. “Lalu kini kau kembali padaku?”
Keiko berdeham, agak salah tingkah, lalu balik bertanya, “Apakah kau harus
bertanya terus? Atau kau ingin aku menerima Sensei?”
“Tentu saja tidak,” sahut Kazuto cepat. Wajahnya pun berubah cerah. Ia
mengembuskan napas dengan lega. “Keiko-chan...”
Tepat pada saat itu tiba-tiba Takemiya Shinzo muncul dan menepuk punggung
Kazuto dengan keras. “Foto-fotomu hebat, Kazuto. Selamat,” katanya riang, dan
menoleh ke arah Keiko. “Oh, ada Keiko rupanya. Apa kabar?”
Keiko buru-buru membungkuk memberi salam.
“Paman?” Kazuto mengerjap bingung, seolah ia memerlukan waktu satu-dua detik
sebelum menyadari bahwa orang yang berdiri di sampingnya adalah pamannya.
“Paman baru datang?”
“Maaf, aku datang terlambat,” kata pamannya tanpa merasa bersalah. “Ngomong-
ngomong, bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk merayakan keberhasilanmu
setelah acara ini selesai? Tentu saja Keiko juga harus ikut.”
Keiko cepat-cepat menggeleng. “Tidak, tidak. Paman dan Kazuto-san saja yang
pergi. Aku...”
Kata-katanya terhenti ketika ia merasakan tangan Kazuto menggenggam
tangannya dan menariknya mendekat. Ia bisa melihat alis paman Kazuto terangkat
heran, lalu senyum kecil mulai terlihat di wajah pria yang lebih tua itu. Keiko merasa
pipinya memanas dan ia hampir tidak berani mengangkat wajah.
“Bagaimana kalau kita rayakan lain kali, Paman?” tanya Kazuto dengan nada
meminta maaf. “Hari ini kami punya rencana lain.”
Takemiya Shinzo menatap mereka berdua, lalu mengangguk-angguk. “Ah,
rupanya sudah berhasil.”
***
“Kazuto-san, kita akan ke mana?” tanya Keiko ketika mereka sudah berada di dalam
mobil Kazuto yang melaju di jalan.
“Karena kau sudah memberiku cokelat,” sahut Kazuto sambil menepuk kantong
kain berisi cokelat buatan Keiko yang diletakkan di dasbor, “aku juga harus menepati
janjiku.”
“Janji apa?”
Kazuto sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Bukankah kau pernah
memintaku mengajakmu ke restoran favoritmu itu lagi pada Hari Valentine?”
“Ah, benar!” seru Keiko gembira, baru teringat soal janji itu. “Kazuto-san, ternyata
kau masih ingat. Jadi kita akan makan malam di sana?”
Kazuto mengangguk.
“Kau membawa kartu diskonmu?” tanya Keiko.
Kazuto tertegun. “Kartu diskon?”
“Ya, kartu diskon yang kaubilang hanya bisa dipakai pada hari-hari tertentu,” kata
Keiko.
Kazuto berdeham. “Eh, soal kartu diskon itu...”
“Ya?”
“Sebenarnya tidak ada kartu diskon.”
Keiko tidak mengerti. “Tidak ada? Maksudmu, kau lupa membawanya?”
“Bukan. Aku tidak pernah punya kartu diskon itu.” Melihat Keiko yang
kebingungan, Kazuto cepat-cepat menambahkan, “Sebenarnya itu restoran pamanku,
jadi aku selalu mendapatkan diskon khusus kalau aku makan di sana.”
“Oh, begitu?” gumam Keiko heran. “Tapi kenapa kau tidak mengatakan yang
sebenarnya waktu itu?”
Kazuto mengangkat bahu. Kalau dipikir-pikir, ia juga tidak mengerti kenapa ia
harus berbohong saat itu. “Entahlah,” jawabnya. “Kurasa aku tidak ingin dianggap
memamerkan diri.”
“Kau tidak pernah memamerkan diri,” kata Keiko sambil menepuk pundak Kazuto.
“Malah kau salah satu orang paling rendah hati yang pernah kukenal.”
“Karena itu kau menyukaiku?” gurau Kazuto.
Keiko meringis, lalu tertawa kecil. “Kurasa begitu.”
Kazuto menggenggam erat tangan Keiko. “Terima kasih, Keiko-chan,” gumamnya
pelan. “Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan. Terima kasih karena sudah
ada di sini bersamaku.”
Keiko tersenyum menatap laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu, lalu
menatap tangannya yang hampir tak terlihat dalam genggaman Kazuto. Hatinya terasa
hangat. Ringan. Bahagia. Ia suka apabila Kazuto menggenggam tangannya seperti itu,
membuatnya merasa laki-laki itu akan selalu bersamanya.
“Ngomong-ngomong, Kazuto-san, kenapa kau tadi bilang Sensei tidak seperti yang
kukira?” tanya Keiko tiba-tiba. “Ah, dulu sewaktu kau mengantarku ke stasiun kereta,
kau juga bilang ada sesuatu yang ingin kaukatakan kepadaku. Sesuatu tentang ingatan
masa kecilku. Kau ingat?”
“Oh, itu...” Kazuto tersenyum penuh misteri.
“Aku sangat penasaran,” kata Keiko. Ia mengubah posisi duduknya dan
menghadap Kazuto. “Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan?”
“Tentang cinta pertamamu. Anak laki-laki yang membantu mencarikan kalungmu
yang hilang itu...”
“Sensei.”
Kazuto menggeleng. “Bagaimana kalau anak laki-laki itu bukan Akira?”
“Hah?”
“Bagaimana kalau kukatakan padamu anak laki-laki itu bukan Akira?”
Mata Keiko terbelalak. “Bagaimana mungkin? Naomi yang bilang padaku nama
anak itu Kitano Akira. Naomi kenal banyak orang dan dia tidak mungkin salah.”
“Tapi Akira tidak mengingatmu, bukan? Tidak ingat pernah bertemu denganmu,
atau membantumu mencari kalung, atau semacamnya?”
“Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Orang-orang bisa saja melupakan
beberapa hal pada masa kecilnya,” protes Keiko. “Lagi pula, bagaimana kau bisa begitu
yakin anak itu bukan Sensei?”
Kazuto menatap Keiko sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depan. Ia
tersenyum. “Karnea akulah anak itu.”
Kali ini Keiko terbelalak. “Apa?” Suaranya juga melengking.
“Aku ingat pernah melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang berjongkok
di samping gedung sekolah menangis tersedu-sedu mencari kalungnya yang hilang,”
kata Kazuto.
“Aku tidak menangis tersedu-sedu,” bantah Keiko.
Kazuto mengabaikannya. “Waktu itu kau tidak memakai sarung tangan. Kau terus
meniup-niup tanganmu. Aku ingat itu karena aku bermaksud meminjamkan sarung
tanganku kepadamu. Hanya saja hari itu aku juga tidak membawa sarung tangan.”
Keiko terdiam dan menatap Kazuto tanpa berkedip.
“Aku masih ingat, Keiko-chan. Sungguh. Semuanya tersimpan di kepalaku seperti
foto,” kata Kazuto sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
“Tapi ini benar-benar sulit dipercaya,” kata Keiko. “Apakah itu benar-benar kau,
Kazuto-san?”
“Begitulah kenyataannya.”
Keiko mengerutkan kening dengan bingung. “Tapi bagaimana mungkin Naomi
salah mengenali orang?”
Kazuto mengangkat bahu. “Entahlah. Yang kutahu adalah cinta pertamamu sudah
pasti bukan Kitano Akira,” katanya sambil menatap Keiko, “tapi Nishimura Kazuto.”
Sejenak Keiko masih berpikir. Akhirnya ia tersenyum. “Akan kuingat itu,” katanya,
lalu memandang ke luar jendela dan melihat butiran salju tipis melayang turun. “Wah,
salju mulai turun lagi.”
Epilog
CAHAYA matahari yang silau membuat mata Kazuto menyipit ketika menatap anak perempuan
yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting di samping
gedung sekolah. Sepertinya anak itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya
yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya ia juga sedang menangis.
Kazuto menoleh ke belakang. Teman-temannya belum keluar. Tadi mereka bilang mereka
tidak akanlama, hanya akan memberikan hadiah ulang tahun kepada guru SD favorit mereka.
Kazuto tidak terlalu setuju dengan ide itu. Memang benar, guru itu guru favorit mereka semasa
SD, tetapi kini mereka sudah menjadi murid SMP. Menurut Kazuto mereka tidak pantas lagi
bersikap sentimental dan kekanak-kanakan seperti itu. Namun teman-temannya tidak mau
mendengar alasannya. Ia ikut ke sini karena terpaksa, tetapi ia menolak untuk masuk dan
bertemu dengan guru mereka. Menurutnya laki-laki harus bersikap tegas. Biar saja teman-
temannya yang masuk. Ia akan menunggu di luar sini sampai mereka kembali. Walaupun di
luar sini dingin sekali.
Kazuto kembali menatap anak perempuan itu. Teman-temannya belum kembali. Daripada
melamun saja, mungkin ia bisa membantu anak itu.
Kazuto membetulkan letak topi wol birunya dan menghampiri anak itu. “Sedang apa?”
tanyanya.
Anak perempuan itu mendongak. Matanya menyipit menatap Kazuto. Dari dekat, Kazuto
menyadari rambut panjang anak itu yang diikat ekor kuda terlihat agak miring dan ada sedikit
noda tanah di pipinya yang kemerahan. Kazuto juga baru tahu anak itu tidak sedang menangis
seperti yang diduganya tadi, tetapi anak itu memang hampir menangis. Matanya terlihat
berkaca-kaca.
“Sedang apa?” tanya Kazuto lagi karena anak itu tidak menjawab.
Setelah ragu sejenak, anak perempuan itu bergumam pelan, “Mencari sesuatu.”
“Mencari apa?”
“Kalung.” Lalu anak perempuan itu kembali menunduk dan mengorek-ngorek tanah.
Kalung? Tanpa bertanya lebih jauh, Kazuto pun ikut mencari. Ia baru mulai berlutut ketika
sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau. Ia memungut benda itu dan mengamatinya.
Kalung itu kalung yang sederhana, tetapi indah, dengan liontin berbentuk tulisan “Keiko”.
Nama anak itukah?
“Namamu Keiko?” tanyanya.
Anak itu menoleh ke arahnya. “Ya.” Nada suaranya terdengar ragu-ragu.
Kazuto tersenyum puas dan mengacungkan kalung yang dipegangnya itu. “Ketemu!”
“Benarkah?” Wajah anak perempuan itu langsung berubah cerah. Ia berlari menghampiri
Kazuto dengan mata berkilat-kilat senang dan pipinya semakin merah.
Kazuto berdeham dan menyerahkan kalung itu kepadanya. “Jaga baik-baik. Jangan sampai
hilang lagi.”
Tepat pada saat itu ia mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat teman-
temannya ternyata sudah keluar dan melambai-lambai ke arahnya. Kazuto mendesah. Kenapa
mereka memilih sekarang untuk keluar? Ia mendesah pelan sekali lagi dan menoleh kembali
kepada anak perempuan yang berdiri di depannya. “Aku pergi dulu,” katanya. “Kau juga lebih
baik cepat pulang.”
Setelah itu ia pergi bergabung dengan teman-temannya.
***
“Naomi, cepat ke sini,” Keiko menarik Naomi yang baru datang. “Dan jangan berbalik! Nanti
dia melihat kita.”
“Siapa?”
“Kau kenal anak laki-laki di lapangan itu? Tapi kau jangan berbalik. Nanti dia melihat.”
Naomi mendelik ke arah saudara kembarnya. “Kalau tidak berbalik bagaimana aku bisa
melihat siapa yang kaumaksud?”
“Baiklah, baiklah. Tapi pelan-pelan saja. Jangan sampai ketahuan.”
Naomi menoleh diam-diam dan memandang ke arah lapangan.
***
“Kau tadi bicara dengan siapa, Kazuto?” tanya Eiji yang bertubuh jangkung sambil menoleh ke
belakang.
Kazuto memutar kepala temannya kembali ke depan. “Bukan siapa-siapa. Kenapa kalian
cepat sekali?”
“Cepat?” Mata Makoto melebar terkejut. “Kami pikir kau pasti sudah uring-uringan
karena menunggu begitu lama di luar.”
Kazuto pura-pura tidak mendengar.
“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Emi sambil melirik jam tangan.
Akira smabil mengusap-usap kepalanya yang hampir botak. “Bagaimana kalau kita pergi
makan?” usulnya.
“Kenapa pikiranmu makan melulu?” omel Makoto dan menyikut lengan Akira.
“Memangnya kalian tidak pernah dengar cuaca dingin membuat orang-orang gampang
lapar?” tanya Akira sambil memandang teman-temannya satu per satu. “Apalagi aku.”
Emi terkikik. “Maksudmu karena ibumu salah memotong rambutmu sampai hampir botak
dan sekarang kepalamu kedinginan?”
“Jangan mengingatkanku pada rambut jelek ini,” erang Akira. “Aduh, kenapa aku lupa
bawa topi hari ini?”
Kazuto melepaskan topinya dan melemparkannya ke arah Akira. “Pakai ini saja kalau kau
malu rambutmu yang jelek itu dilihat orang.”
Teman-temannya tertawa. Sambil bersungut-sungut, Akira mengenakan topi wol biru itu.
***
“Sekarang jam pulang sekolah, kau tahu?” kata Naomi. “Di lapangan banyak orang. Anak laki-
laki yang mana maksudmu? Beri aku petunjuk.”
“Tadi dia bersama teman-temannya,” gumam Keiko sambil berpikir-pikir. Tiba-tiba ia
menjentikkan jari. “Dia memakai topi biru. Topi wol biru!”
“Topi biru?” Naomi menyipitkan mata dan mencari-cari. “Ah, itu dia. Topi biru dan... dia
bersama teman-temannya. Yang itu? Bukankah mereka kakak kelas kita?”
“Ya, ya, ya,” sahut Keiko cepat tanpa berbalik. “Kau tahu siapa namanya? Anak laki-laki
bertopi biru itu?”
Naomi mengangguk. “Itu Kitano Akira.”
“Kitano Akira,” gumam Keiko sambil tersenyum sendiri.
Naomi menyikut saudara kembarnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin tahu?”
Keiko tersenyum lebar penuh rahasia. “Akan kuceritakan di rumah. Ayo, kita pulang.”