Koneksi Antar Materi
Modul 2.3
Coaching untuk Supervisi
Akademik
Oleh
Nisfi Laili, M.Pd
SMPN 1 MATARAMAN
CGP Angkatan 6
Kabupaten Banjar
FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA SANGATLAH
RELEVAN DENGAN DUNIA PENDIDIKAN SAAT INI. PEMIKIRAN-
PEMIKIRANNYA MENJADI ACUAN DAN DASAR PEMERINTAH
DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA.
MENURUT BELIAU BAHWA PENDIDIKAN ADALAH PROSES
MENUNTUN TUMBUH KEMBANGNYA ANAK SESUAI DENGAN
KODRAT, POTENSI, BAKAT YANG DIMILIKINYA AGAR ANAK
TERSEBUT MEMPEROLEH KEBAHAGAIAN DAN KESELAMATAN
BAIK SEBAGAI INDIVIDU MAUPUN BAGIAN DARI MASYARAKAT.
DALAM HAL INI PERAN COACH SEBAGAI AMONG SANGATLAH
BERKAITAN.
SALAH SATU PROSES MENUNTUN TERSEBUT DAPAT
DILAKUKAN DENGAN CARA COACHING. DALAM
COACHING GURU BERPERAN SEBAGAI COACH YANG
DAPAT MENUNTUN MURID SEBAGAI COACHEE DENGAN
MENGAJUKAN PERTANYAAN UNTUK MENGGALI SEGALA
POTENSI DAN KEMAMPUAN YANG DIMILIKI MURID
DENGAN TUJUAN MENUNTUN DAN MENGARAHKAN
UNTUK MENCARI SOLUSI.
COACH SANGAT BERPERAN PENTING DALAM
MENCIPTAKAN KENYAMANAN BAGI REKAN
SEJAWAT MAUPUN MURID MELALUI
KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DENGAN
BAIK SEHINGGA TIMBULLAH RASA EMPATI,
SALING MENGHORMATI DAN SALING
MENGHARGAI ANTARA GURU DAN MURID.
Coaching merupakan proses
kolaborasi yang fokus pada solusi,
berorientasi pada hasil dan
sistematis, dimana coach
memfasilitasi peningkatan atas
performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri dan pertumbuhan
pribadi dari sang coachee.
Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk
diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat
pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong
peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi,
kolaborasi, berpikir kreatif, Dalam coaching ada proses
menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid
sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan
potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman.
Prinsip coaching meliputi:
Kemitraan
Proses kreatif
Memaksimalkan potensi
kompetensi inti coaching meliputi:
Kehadiran Penuh/Presence
Mendengarkan Aktif
Mengajukan pertanyaan yang berbobot
Alur percakapan TIRTA
Peran Guru dalam Coaching
Peran Guru sebagai coaching hendaknya tidak mengajarkan atau
menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi
secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan
bertumbuh. dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan
sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat
memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif,
menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan
kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati,
dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk
menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik
dengan kekuatan yang dimilikinya.
Hubungan Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi
dan Sosial Emosional.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya jika murid atau guru
mengungkapkan masalah atau berbagi pemikiran atas apa yang
dirasakannya saya berusaha untuk memberikan solusi. Penerapan
mulai sekarang dan berkelanjutan ke depannya adalah
menggunakan teknik percakapan coaching dengan alur TIRTA baik
dalam supervisi akademik dan dalam menuntun murid atau rekan
sejawat untuk menggali atau mengidentifikasi permasalahan
yang dihadapinya agar dapat memaksimalkan potensi diri yang
dimiliki dalam mengembangkan ide-ide kreatifnya.
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan
pendidikan adalah menuntun tumbuhnya atau hidupnya
kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki
lakunya. Oleh karena itu keterampilan berpikir coaching
perlu dimiliki oeleh pendidik untuk menuntun murid
mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai individu
maupun anggota masyrakat. Proses coaching sebagai
komunikasi pembelajaran memberikan murid ruang
kebebsan untuk menemukan kekuatan yang ada pada
dirinya dan peran pendidik sebgai among dalam
menuntun dan memberdayakan potensi yang ada agar
murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan
dirinya.
Hubungan dengan modul pembelajaran
berdeferensiasi bahwa pembelajaran yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan murid
maka dengan itu pendidik harus memberikan
pelayanan pembelajaran yang berpihak pada murid
berdasarkan kebutuhannya dengan strategi
berdeferensiasi konten, proses dan produk yang
disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil
belajar murid agar kita dapat menuntun murid
menggali potensi diri yang dimilikinya.
Hal ini juga berkaitan dengan pembelajaran sosial dan
emosional dengan pembelajaran yang berdeferensiasi
dapat terjalin proses kolaboratif yang memungkinkan
murid, pendidik, dan tenaga kependidikan disekolah
memperoleh dan menerapkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial
dan emosionalnya serta dapat meningkatkan 5
kompetensi sosial dan emosionalnya melalui strategi-
strategi dalam pembelajaran berdeferensiasi.
Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) merupakan
pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh
seluruh komunitas sekolah yang bertujuan untuk: 1)
memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran
diri); 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif
(pengelolaan diri); 3) merasakan dan menunjukkan empati
kepada orang lain (kesadaran sosial); 4) membangun dan
mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan
berelasi); 5) membuat keputusan yang bertanggung jawab.
(pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
Sama halnya dengan coaching untuk dapat
mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri
dan orang lain harus menggunakan pendekatan yang sesuai
dengan kebutuhan yaitu pendekatan yang diawali dengan
paradigma berpikir yang memberdayakan. Paradigma
berpikir memberdayakan hal yang harus dimiliki agar
pengembangan diri dapat dilakukan secara terarah dan
berkelanjutan. Salah satu pendekatan pemberdayaan
adalah dengan coaching.
Keterkaitan Keterampilan Coaching dengan
Pengembangan Kompetensi Sebagai Pemimpin
Pembelajaran nampak pada kesamaan tujuan
yakni keduanya ingin meningkatkan performa
belajar, pengalaman hidup murid, pembelajaran
diri dan pertumbuhan pribadi dari murid-murid
yang dituntunnya.
Keterkaitan Keterampilan Coaching dengan Pengembangan
Kompetensi Sebagai Pemimpin Pembelajaran nampak pada kesamaan
tujuan yakni keduanya ingin meningkatkan performa belajar,
pengalaman hidup murid, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi
dari murid-murid yang dituntunnya. Pemahaman tentang coaching ini
sangat baik untuk diaplikasikan oleh seorang guru sebagai penuntun
pembelajaran. Guru dapat menggunakan Teknik coaching untuk
mendorong murid mengembangkan kemampuannya dalam
berkomunikasi, berkolaborasi dan berpikir kreatif. Selain itu juga dapat
membantu murid menggali potensi dirinya sebagai bekal menyelesaikan
permasalahan yang sedang dhadapinya guna mencapai kemerdekaan
dalam belajar.
Thyoaun!k