The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alyarahma1510, 2021-10-24 06:24:42

buku digital kelompok 1 putri

buku digital kelompok 1 putri

Perjuangan Meraih Mimpi

Penulis

-Alya Rahma -Ambararum

-Amanda Najwa Choirunnisa -Hasna Syarifah

-Athira Zafarina -Azra Ghaida Zafira

-Harashta Keisha Filaqintara -Lovia Khansa Zuleyka

Ilustrator

Athira Zafarina

Lovia Khansa Zuleyka

Harashta Keisha Filaqintara

Penata Letak

Alya Rahma

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya,
dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun izin
tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal
pengutipan untuk penulisan artikel atau
karangan ilmiah.

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat
Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya dan karunianya. Kami Kelompok 1 Putri 9C
dapat menyelesaikan tugas bahasa Indonesia membuat
cerpen.

Dengan ini kami mengucapkan terimakasih kepada
Pak Heri Santoso .S.S yang telah membimbing kami
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas membuat
cerpen ini. Antologi Cerpen ini dibuat sedemikian rupa
untuk untuk membangkitkan minat baca siswa/siswi
dan menjadi motivasi dalam membuat karya cerpen.
Kami sadar masih banyak kekurangan maka kami
membutuhkan kritik saran yang membangun dari rekan
pembaca dan juga kami meminta maaf jika ada
kesalahan seperti penulisan maupun tata Bahasa.

Demikian, semoga karya tulis cerpen ini dapat
bermanfaat untuk para pembaca.

Tim Penyusun

Cilegon, September 2021

Sekapur Sirih

Seorang anak desa yang memiliki cita cita menjadi
pengusaha sukses, memang terdengar mustahil apalagi
dalam kondisi covid-19 ini, kegiatan belajar mengajar pun
kurang maksimal. Libur yang dijanjikan hanyalah empat belas
hari, tetapi nyatanya sampai setahun pun kegiatan belajar
mengajar masih di lakukan secara daring.

Memang belajar secara daring tidak semaksimal
belajar tatap muka, tetapi aku tidak putus asa, karena aku
yakin usaha tidak akan mengianati hasil. Pesan orang tua
yang membuatku tidak mudah putus asa menghadapi
keadaan yang sedang aku hadapi ini.

Perjuangan meraih mimpi memotifasi agar kita tidak
mudah untuk putus asa dalam keadaan apapun.
Berusahalah kalian dengan sungguh-sungguh jika kalian
tidak ingin menyesal, jangan terlalu banyak mengeluh
karena ujian yang kalian dapat saat ini adalah tantangan
kalian untuk menuju kesuksesan syukuri apa yang telah
kalian dapat saat ini karena belum tentu orang lain
mendapat apa yang kalian dapat dan tetap semangat
sampai akhir jangan cepat menyerah.

Daftar Isi

Sambutan …………………………………………………………………………..
Pengantar …………………………………………………………………………..
Sekapur Sirih ……………………………………………………………………….
Daftar Isi ………………………………………………………………………………

1. Budaya Indonesia …………………………………………………………. 1
2. Pawai Budaya………………………………………………………………... 6
3. Meraih Mimpi………………………………………………………………… 9
4. Belati Jiwa……………………………………………………………………. 17
5. Vaksin Covid-19……………………………………………………………. 24
6. Impianku………………………………………………………………………. 32
7. Trio Kuliner…………………………………………………………………… 41
8. Ayo Tolong Menolong…………………………………………………… 44
Biodata Penulis………………………………………………………………....



Budaya Indonesia

Karya Alya Rahma

“.... upacara selesai. barisan dapat dibubarkan
oleh masing masing pemimpin regu....” itulah kalimat
terakhir yang di ucapkan fina saat menjadi petugas
upacara. Fina, murid sekolah menengah pertama kela 9H
yang memiliki segudang prestasi. Hari ini adalah hari
pahlawan, sekolah mengadakan acara memainkan
permainan traditional, makan makanan khas daerah
bersama dan lomba antar kelas.

Setelah melakukan upacara bendera, murid murid
masuk ke kelas untuk menyiapkan barang barang
permainan traditional yang akan di bawa ke lapangan
sekolah untuk di mainkan bersama sama, Fina membawa
congklak, bola bekel, gangsing, dan lain lain. Semua
murid berdatangan ke lapangan untuk memainkan
permainan traditional. Rana, teman sekolah Fina yang
berasal dari kelas 9D menjadi mc pada acara tersebut.
Rana memulai pembukaan dan menjelaskan tentang alat
traditional. Semua murid pun memainkan permainan
traditional dari alat yang mereka bawa termasuk Fina, ia
dan Rana memainkan congklak bersama.

1

“Seru banget ya permainan nya teman teman juga
semua sangat enjoy dengan acara hari ini, selain
menyenangkan memainkan permainan traditional
merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya
Indonesia” kata Rana.

“iya kann seru banget aku ga sabar deh acara
selanjut nya makan makanan khas daerah bersama”
jawab Fina.

Lalu Rana selaku mc pada acara tersebut pun
mengakhiri kegiatan memainkan permainan traditional
dan menginformasikan bahwa setelah ini akan sholat
dzuhur mersama di masjid lalu makan bersama di aula
sekolah.

Setelah sholat dzuhur bersama, semua murid pun
ke aula sekolah membawa makanan yang merekan bawa
ada yang membawa rendang, pempek, otak otak, kue
surabi dan sebagai nya. Fani dan teman teman nya
berbagi cerita saat makan bersama. Mereka juga
menjelaskan cara pembuatan makanan daerah dan asal
nya satu sama lain. Setelah selesai makan bersama, rana
menutup kegiatan hari ini dengan menyimpulkan,
memberitahu hikmah dari kegiatan hari ini, dan
menginformasikan tentang lomba antar kelas yang di
lakukan esok lusa nya.

2

“Ada waktu 3 jam untuk mendiskusikan apa yang
akan kalian tampilkan saat lomba esok lusa. silahkan
kembali ke kelas dan memanfaatkan waktu sebaik
mungkin. Sekian dan terimakasih atas partisipasi nya
wassalamualaikum wr wb” kata Rana.

Lalu semua murid masuk ke dalam kelas mulai
lah mereka mendiskusikan akan menampilkan apa saat
lomba nanti.

“teman teman mau pake alat musik apa nih?” kata Rio,
ketua kelas 9H

“angklung saja Bagaimana? Setuju ngga?” Jawab Rani,
teman sekelas Fina

“hmm mending rebana ga sihh atau yang lain?” balas
Tira, teman sekelas Fani.

Rio berbincang dengan fani dan memutuskan
untuk voting saja untuk penentuan alat musik nya ada
beberapa alat musik yang sudah di diskusikan untuk
voting. Mereka mengambil sepotong kertas untuk
menuliskan alat traditional yang mereka pilih dan alasan
nya. Fina dan rio mengumpulkan kertas voting dan mulai
membaca kertas kertas tersebut. Mereka berdua
mengumumkan di depan kelas bahwa alat traditional
yang terpilih adalah angklung dan memberitahu besok
masuk ke sekolah untuk latihan bersama.

3

Di keesokan hari nya murid kelas 9H mulai
latihan menggunakan angklung yang di sewa mereka,
dan membawa perlengkapan lain nya. Sudah lebih dari 5
jam mereka latihan sekolah untuk lomba besok tiba tiba
tiba orang tua Fina datang membawakan snack dan
makan siang untuk teman Fina. Mereka akhir nya makan
bersama lalu latihan kembali.

“Teman teman terimakasih telah datang tepat
waktu ke sekolah untuk latihan semoga perlombaan
besok bisa dilakukan dengan lancar” kata Rio.

Hari mulai gelap, murid murid datu persatu
pulang kerumah masing masing.

Keesokan hari nya murid murid kelas 9 di
persilahkan ke lapangan untuk menonton kisah pahlawan
dan lanjut acara perlombaan. Kisah pahlawan nya
sanagat menginspirasi serta memiliki banyak hikmah dan
kata kata inspirasi di dalam nya. Setelah menonton lanjut
acara berikutnya. Lomba antar kelas ini dilakukan
berurutan dari kelas 9A – 9H juri nya adalah kepala
sekolah, guru seni budaya, dan voting dari guru guru lain
nya. Sekolah juga menyedakan ruangan khusus penilaian
pentas lomba. Pemenang lomba akan di berikan hadiah
istimewa dari kepala sekolah.

4

“Teman teman, sebelum memulai perlombaan
mari kita berdoa bersama sama agar kegiatan hari ini
dapat dilakukan dengan lancar. Berdoa di mulai”
“aamiin” kata Rio.

Setelah itu mereka memasuki ruangan untuk
penilaian lomba. Fani dan teman teman nya memainkan
angklung dengan lancar. Lalu mereka keluar dari
ruangan tersebut dan menunggu hasil dari juri. Juri
membagikan hasil diskusi mereka dan hasil voting dari
guru, ternyata hasil nya 9H menang. Rio mengambil
hadiah dari kepala sekolah dan membagi kan nya dengan
teman sekelas yang sudah berjuang untuk lomba hari ini.

5



Pawai Budaya

Karya Amanda Najwa Choirunisa

Besok adalah hari istimewa. Di daerah tempat
aku tinggal akan diadakan pawai budaya Di pawai ini
kita akan menampilkan pakaian adat kami sesuai
sukunya. Berbagai masyarakat dari berbagai budaya dan
suku akan berpatisipasi dalam kegiatan ini

Aku sendiri berasal dari berasal dari Suku
Madura. Tapi alih-alih memintaku untuk membantu
persiapan pawai untuk budaya kami, mamah memintaku
untuk membantu kelompok suku lain.
“Mah,aku ingin membantu persiapan budaya aku bukan
yang lain.” Ucap aku
“ Bantu saja temanmu, Eris. Pasti akan menyenangkan!”
Balas mamah

Aku tak bisa membantahnya, aku langsung
bergegas ke area kelompok Eris, Suku Dayak.
Sesampainya disana aku langsung menyerukan namanya.
“Eris!” Seru aku

Dia tampak terkejut dengan kehadiranku, namun
dia langsung membalas sapaanku.

6

“Adora, sedang apa kamu disini? Apa kau tidak
mempersiapkan pawainya?” Tanya Eris bertubi-tubi.

“Entah, aku sendiri pun tak tau. Ibuku memintaku untuk
membantumu.” Balas aku

Eris lalu menganggukkan kepalanya sebagai
tanda mengerti dan mengajakku mendekat dan
menunjukan ikat kepala yang sedang dia lakukan. Disana
pun tak bosan aku bertanya

“ Bulu apa itu?”

“Apakah ada artinya?”

“Mengapa panjang sekali?”

Eris yang mendengar itupun tertawa kecil dan menjawab
pertanyaanku.

“ Ini adalah bulu Burung Enggang. Ikat kepala ini hanya
dipakai oleh pemimpin suku, bulunya melambangkan
pemimpin idaman yang mencintai perdamaian. Dan tak
ada alasan kenapa ini panjang.” Jelas Eris

Aku pun menganggukan kepala ku. Disana aku
sedikit membantu sesuai arahan Eris. Eris pun tak segan-
segan melontarkan cadaan agar tak terasa bosan.

“Aku pulang dulu ya. Aku belajar banyak darimu Eris,
terima kasih.” Seru ku

7

“Tidak masalah.” Balasnya
Sesampainya di rumah. Mamah menghampiriku dan
bertanya mengenai hari ini
“ Bagaimana? Apakah menyenangkan?” Tanya Mamah
Aku tersenyum mendengar lontarannya karena aku
paham maksud mamah
“ Sangat! Aku belajar banyak darinya, terima kasih
mamah..”
Mamah tersenyum sambil membelai rambutku.

Esok harinya, aku sudah bersiap-siap untuk
pawai ini. Disana aku dapat melihat Adora menggunakan
pakaian sukunya. Kami saling melempar senyum dan
lambaian tangan ketika mata kita saling bertemu

Ini sangat melelahkan sebenarnya karena kita
akan memutari daerah ini. Tapi tak masalah, karena ini
juga sangat menyenangkan dan sangat berharga. Disini
pun aku belajar bahwa pawai budaya bukan hanya
sekedar pawai biasa , melainkan sebuah ajang merajut
kebhinnekaan yang telah lama sirna. Aku sangat
menunggu pawai yang lain datang.

8

\

Perjuangan meraih mimpi

Karya Ambararum

Covid-19 itulah nama virus yang membuat kami
terjebak dalam situasi sekarang, harus selalu mematuhi
protokol kesehatan, dibayang-bayangi ketakutan akan
perginya orang tersayang, belajar secara daring, dan
masih banyak lagi. Empat belas hari, itulah yang
dijanjikan pemerintah untuk memberhentikan
pembelajaran, tetapi kenyataannya empat belas hari itu
berubah menjadi bulan, bulan menjadi tahun, yah
awalnya memang hanya sampai tingkat SMA/SMK yang
belajar dirumah tetapi korban virus Covid-19 semakin
melonjak naik dan membuatku juga terkena dampaknya,
hingga aku lulus dan menjadi sarjana adik-adik
tingkatku masih harus belajar secara daring.

Abian Bagaskara, itulah namaku. Hey, mau dengar
cerita? Cerita tentang seorang anak laki-laki yang
berasal dari desa mempunyai mimpi besar untuk
menjadi pengusaha hebat. Yeah, mungkin kalian
sekarang menganggap bahwa dia bermimpi terlalu
tinggi dan meremehkannya, itulah tanggapan orang
lain terhadap dirinya ketika menceritakan mimpinya.

9

Dan orang yang mungkin sekarang sedang kalian
tertawakan adalah aku, ya aku Abian Bagaskara
seorang anak dari desa yang dengan lancangnya
mempunyai mimpi besar seperti itu.

Jujur, aku awalnya sempat tidak percaya diri dengan
cita-citaku ini, terlebih karena pandemi ini aku harus
berjuang lebih ekstra untuk mencapainya. Awalnya juga
aku ingin menyerah saja tetapi aku teringat pesan kedua
orang tuaku sebelum meninggalkanku sendirian. Ya aku
adalah anak yatim piatu sejak umur 10 tahun.

#Flashback

Sore hari aku dan kedua orang tuaku sedang berada
di pekarangan rumah. Aku berlarian dengan kedua
orang tuaku yang mengawasi.

“Abian, sini nak" panggil ibu, aku segera berlari
kearah ibu yang memanggilku

“ada apa bu?” jawabku, “duduk sini, ayah dan ibu mau
bicara” sahut ayah, mendengar itu aku langsung duduk
di antara ayah dan ibu. “Mau bicara apa yah?” “ayah
mau tanya, Abian punya cita-cita?”

“Tentu saja Abian punya!" jawabku antusias

“Kalau kami boleh tau, cita-cita Abian mau jadi apa?”
kali ini ibu yang bertanya

10

“Abian nanti ingin menjadi pengusaha hebat biar ayah
sama ibu di rumah aja gak perlu kerja lagi biar nanti
Abian aja yang kerja” jawabku

“Wah, keren sekali cita-citamu, tapi nanti jika kamu
sudah sukses gak boleh sombong dan jadi semena-mena
sama orang yang di bawahmu ya nak?” nasihat ibu

“Abian juga harus rajin belajar dan jangan patah
semangat ya nak, juga jangan dengarkan orang yang
meremehkanmu, anggap saja itu motivasi buat mencapai
cita-cita dan tunjukan pada mereka kalau kamu bisa
sukses, oke?” tambah ayah

“Siap yah, bu Abian bakal belajar yang rajin dan bisa
berhasil menggapai mimpi Abian" kataku semangat.

Siang itu, kelasku dihebohkan dengan berita di
liburkannya kampus. Saat itu aku berada pada semester
akhir, tentu saja aku dan teman sekelasku senang, karena
bisa istirahat sejenak dari skripsi yang membuatku sakit
kepala. Yah, aku senang sebelum tahu bahwa
kenyataannya aku akan belajar dirumah sampai entah
kapan.

Selama aku belajar secara daring, selama itu juga aku
terus berusaha lebih keras untuk mencapai nilai terbaik,
untuk tugas-tugas yang entah kenapa semakin banyak
aku terus berusaha, karena disini system
pembelajarannya tidak sebagus di kota.

11

Terkadang dosenku hanya memberi tugas tanpa
menjelaskan atau hanya memberi materi yang harus
kupelajari sendiri lewat internet. Sungguh keseharianku
selama belajar secara daring sangat tidak menarik jadi
lebih baik tidak aku ceritakan karena khawatir kalian
akan bosan nantinya. Oh ya, mungkin kalian bertanya-
tanya bagaimana aku membayar kuliah padahal aku
hanya tinggal sendirian disini, mungkin aku harus
banyak bersyukur karena aku disini mendapat beasiswa
dan juga ada tetangga baik hati yang mau
mempekerjakanku.

Di hari Minggu pagi yang cerah, aku memutuskan
untuk pergi ke perpustakaan desa yang ada di dekat
rumahku untuk skripsiku bersama kedua teman
seperjuanganku. Tenang saja kami sudah mematuhi
protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah kok. Jika
kalian bertanya siapa nama kedua temanku maka akan
ku beritahu panggil saja mereka Ali dan Adam, kami
sekarang sedang berjalan menuju perpustakaan desa.

“Hey, kalian" panggil Ali

Aku dan Adam serempak menoleh ke arah Ali

“Ada apa Li?” jawab kami berdua

“Aku penasaran, kapan pandemi ini berakhir, kalian tahu
aku mulai bosan belajar di rumah, aku merasa semakin
bodoh belajar di rumah.

12

Tidak ada penjelasan dan hanya memberikan tugas,
itulah yang dilakukan dosen kita juga skripsi yang
membuatku hampir gila" sungut Ali

“Bukan cuma kamu, tapi kita semua juga sama.
Bukankah waktu itu kita berjanji untuk sukses bersama?,
mungkin inilah salah satu ujian kita untuk mencapai
mimpi kita, benarkan Bi?” tanya Adam padaku

“Ya kita harus terus semangat jangan mudah menyerah,
dan terus ingat janji kita ya?” jawabku menyemangati

“Huft! Maaf teman-teman aku hanya kesal tadi, kalau
begitu ayo kita berjuang dan sukses bersama!” semangat
Ali

“SEMANGAT!!!” serempak kita semua, kemudian
tertawa.

Tidak terasa kami sudah sampai di perpustakaan desa
karena percakapan tadi dan mulai belajar dengan serius.

Kami mungkin belajar dengan sangat serius dan
bersemangat hingga lupa waktu, aku sangat terkejut saat
melihat jam dinding yang ada di dekat Adam.

“Teman-teman” panggilku

“Ada apa Bi?” Adam menjawab

“Coba lihat jam didekatmu Dam” suruhku

13

“Jam 22.00?” ucap Ali tidak percaya

“Waah, lama sekali kita disini" lanjutnya

“Ayo kita pulang, ini sudah larut lanjutkan besok saja”
ucap Adam

“Tidak usah aku sudah selesai tinggal nanti aku
presentasikan skripsinya pada dosen pembimbing"
kataku

“Aku juga sudah sebenarnya dari tadi siang, tapi aku
terlalu asyik dengan novel-novel disini, hehe” Adam
terkekeh

“Kamu gimana Li?”lanjutnya

“Aku kan hanya menemani kalian disini, aku sudah
selesai dari minggu kemarin dan tinggal melakukan
penelitian saja, apa kalian tidak sadar dari tadi kerjaanku
hanya memperhatikan kalian dan membaca novel serta
komik disini" ucap Ali tidak bersalah.

“Kok gak bilang-bilang sih?!” marah aku dan Adam
bersamaan

Ali meringis karena terkejut lalu berkata “Hehe maaf
deh, aku waktu itu mau bilang Cuma aku gak tega liat
kalian yang hampir gila itu kan nanti makin tertekan
habis itu gila beneran gimana coba?, nanti aku gak punya
teman lagi dong”

14

setelah berucap begitu Ali langsung berlari menghindari
kami yang sedang menatap tajam dirinya.

“ALIII JANGAN KABUR KAMUU!!!” emosi aku dan
Adam yang berakhir kami yang bermain kejar-kejaran
hingga lelah.

~~~

Setelah proses pengajuan judul hingga sidang tugas
akhir tidak terasa sekarang adalah hari dimana aku
wisuda, yah akhirnya skripsiku dan kedua temanku
diterima, aku senang sekali bisa lulus bersama kedua
teman seperjuanganku itu walaupun kadang mereka
membuat emosi justru itu yang membuat pertemanan
kami bertahan sampai sekarang, aku juga mendapatkan
nilai terbaik dan coba tebak aku bersama kedua teman ah
tidak sahabat ku berhasil membangun perusahaan
bersama yah walaupun perusahaan itu masih belum
terlalu besar tetapi aku dan kedua sahabat ku yakin jika
usaha tidak akan menghianati hasil, karena apa yang
kudapat sekarang juga atas usahaku bersama mereka
dulu.

Mungkin sampai disini saja ceritaku aku takut nanti
kalian bosan dan aku punya satu pesan untuk kalian yang
membaca ceritaku ini mohon diingat ya, berusahalah
kalian dengan sungguh-sungguh jika kalian tidak ingin
menyesal jangan terlalu banyak mengeluh

15

karena ujian yang kalian dapat saat ini adalah tantangan
kalian untuk menuju kesuksesan syukuri apa yang telah
kalian dapat saat ini karena belum tentu orang lain
mendapat apa yang kalian dapat dan tetap semangat
sampai akhir jangan cepat menyerah.

16



Belati Jiwa

Karya Athira Zafarina

Matahari tenggelam tidak lagi memancarkan
keindahan nya, saat ini digantikan oleh suara jutaan
butiran air jatuh menghantam bumi dengan deras nya,
seorang Anak 12 tahun berlari-lari di antara jutaan
hunjaman air terasa menyenangkan. Ketika kaki nya
berkecipak menyibak genangan yang menyegarkan,
mencari kuncuran air yang tumpah dari atas atap rumah.
Karena, air nya lebih besar. Mengabaikan suara Ibu nya
yang berteriak menyuruh pulang, Ia diam menunggu
Ayah nya yang memanggil, meskipun tau Ayah nya
tidak akan peduli sama sekali dengan diri nya, tapi dalam
hati yang paling dalam Ia berharap Ayah nya memberi
perhatian sedikit saja. Lelah berdiam diri dibawah
guyuran air hujan menunggu ayah nya, dengan berat hati
Ia langsung masuk ke dalam rumah.

17

Anak laki-laki itu bernama Basa’ari yang saat ini
tengah mengumpat ketakutan dibalik lemari, samar-
samar mendengar keributan yang berasal dari orang tua
nya, lagi-lagi meributkan masalah keuangan yang turun
drastis semenjak pandemi begini. Mata nya menatap
sendu takut sekali akan terjadi hal buruk.

“Ayah dan Ibu kenapa kalian melakukan semua ini”
ucap Basa’ari penuh kesedihan

Masih terjadi keributan, bahkan jauh lebih hebat dari
keributan sebelum nya. Tidak ada yang mau mengalah
satu sama lain, masing-masing lebih mementingkan ego
nya sendiri tanpa mau mengambil jalan keluar untuk
masalah nya.

“Kamu ini jadi Ibu bagaimana sih, masa diam saja saat
anak nya bermain hujan. Bagaimana kalau sakit, bakal
ngeluarin biaya lagi nanti nya” ujar sang Ayah dengan
ketus

“Biarkan saja lah nama nya juga anak-anak, masih suka
bermain bergituan, yang penting dia bahagia.

18

Mana tega aku melarang dia bermain hujan” ucap sang
Ibu, masih penuh kesabaran dan pengertian.

“Bisa mikir tidak sih, sekarang pendemi begini cari uang
lebih susah. Apa lagi bayar rumah sakit jauh lebih mahal
dari tahun sebelum nya, kita saja sudah mengurangi
biaya pengeluaran bulanan ini habis habisan. Sekali ini
bisa tidak berpikir lebih panjang” ungkap sang Ayah
dengan penuh amarah dan kekesalan.

“Kamu sama keluarga saja perhitungan, lagian aku udah
pernah bilang mau bantu kamu cari uang dengan
berjualan kue. Tapi waktu itu kamu malah marah tidak
mengizinkan” jawab Ibu dengan mendenga

“Mau bantu saya cari uang dengan berjualan kue
murahan seperti itu ? Hah, kamu mau malu-maluin saya
di hadapan teman-teman saya bahwa istri
peternak sukses jualan kue seperti sampah begitu” jawab
sang Ayah dengan penuh amarah

“kamu ini kenapa sih- “ omongan Ibu belum selesai, tapi
terdengar suara

19

“AYAH IBU UDAH CUKUP BERHENTI, AKU
MUAK SAMA KALIAN” teriak Basa’ari penuh
penekanan dan kemarahan.

“GAK TAU TATA KERAMA YAH KAMU, MAIN
MEMOTONG PEMBICARAAN ORANG TUA
SEPERTI TADI. PASTI GARA-GARA KAMU
TERLALU DIMANJA.” ucap Ayah dengan nada emosi
dan penuh penekanan.

“Jaga omongan kamu yah, ini anak kamu darah daging
kamu yang dulu kamu damba-damba kan kehadiran nya.
Sekarang kamu kaya begitu sama dia, aku beneran gak
nyangka kamu bisa sekasar ini” jawab Ibu dengan sendu

“Itu dulu, sekarang beda lagi. Dia sekarang hanya lah
beban tak berguna yang hanya bisa menggangu
kehidupan ku, dan hei lihat sekarang kamu lebih bela dia
yang tak berguna ini” ujar sang Ayah

“Cukup aku udah terlalu sabar menghadapi kamu selama
ini, dan kamu tidak pernah mau mengaku salah. Masih
tetap sama egois,

20

hanya memikirkan kepentingan sendiri” ucap Ibu dengan
nada lirih

“Aku gak bakal begini, kalau kamu nurut sama aku buat
membuang anak sialan itu yang harus rutin ke psikiater
hanya karena trauma tidak jelas nya itu” jawab sang
Ayah menggebu-gebu

“Dia seperti itu juga gara-gara kamu yang selalu kasar,
nuntut kesempurnaan, dan main fisik sama dia. Jelas dia
punya trauma mendalam tentang itu. Apa selama ini
kamu peduli sama keadan kita, engga! Kamu engga
peduli sama sekali dengan keadaan kita. Kamu cuman
peduli sama harta dan
jabatan kamu udah itu doang.” Kata Ibu sambil menahan
nangis

“sekarang kamu nyalahin saya begitu, padahal jelas-jalas
dia yang salah tidak bisa memenuhi standar hidup saya,
padahal saya sudah memberikan fasilitas yang sangat
baik tetapi dia tidak bisa mengatur diri nya sendiri” kata
Ayah

21

“Harus nya kamu paham anak kamu punya disleksia, dia
berbeda dengan anak lain nya. Kenapa kamu gak bisa
nerima kenyataan itu” kata Ibu dengan tangisan yang
sudah pecah

“SAYA HANYA MAU YANG SEMPURNA UNTUK
SEGALA URUSAN, DAN KAMU TIDAK BISA
MEMBERIKAN ITU SEMUA” ucap sang Ayah emosi
sambil mendorong kencang tubuh Ibu sehingga terjatuh
membuat kepala nya terbentur pilar rumah meninggalkan
bercak merah. Mengetahui hal itu Ayah langsung
mengecek kondisi Ibu, namum nahas nyawa Ibu sudah
tidak
tertolong, karena, panik dan tidak ingin anak nya
mengcap diri nya sebagai pembunuh, Ayah melakukan
bunuh diri dengan overdosis obat. Sebelum melalukan
bunuh diri, Ayah sempat menuliskan pesan yang ditaruh
kantung celana nya bertulislan “Tolong jangan menjadi
seperti Ayah, hidup lah dengan bahagia”

Menyaksikan semua itu tepat didepan mata sendiri,
merupakan kejadian yang sangat memukul hidup ku.

22

Di usia dini ku sudah harus kehilangan kedua orang tua
dengan sangat tragis

“Aku tidak membenci Ayah hanya membenci sifat
tekamakannya saja yang membuat dia seperti itu. Ayah
tidak sejahat itu kan” kata Basa’ari mencoba
menyangkal fakta yang ada

Basa’ari telah menceritakan semua kejadian 9 tahun
silam yang dialami nya, penyebab dia bisa berada di
ruangan serba putih ini, tidak lain adalah Rumah Sakit
Jiwa . Kejadian itu benar-benar memukul habis
kesehatan mental ku, aku tidak

menyangka bahwa ganguan mental ku bisa menjadi
separah ini. Aku mengira aku bisa sembuh jika rutin
mengkonsumsi obat dari psikiater ku, tapi ternyata salah
besar dunia berserta jiwa ku sudah terlalu hancur, dan
aku tidak bisa menyelamati dunia serta jiwa dalam diriku
sendiri. Tidak tau apakah aku bisa memiliki masa depan
yang cerah seperti orang-orang. Tapi ku berharap alam
semesta masih memberiku kesempatan untuk mengubah
segala nya.

23



Vaksin Covid-19

Karya Azra Ghaida Zafira

Covid-19 sudah melanda dunia ini kurang lebih 1,5
tahun, sekarang banyak Covid-19 jenis baru yang lebih
berbahaya dan lebih mengancam nyawa. Covid-19
semakin parah, peraturan yang di buat oleh pemerintah
demi melindungi warganya pun semakin bertambah,
sepertinya diadakannya PPKM di Indonesia.

Lea Annata, gadis berumur 9 tahun yang sudah
membiasakan diri melakukan protokol kesehatan selama
pandemi Covid-19 ini, seperti mencuci tangan,
berolahraga di pagi hari, membersihkan diri setelah
keluar rumah, dan peraturan lainnya.
“Lima…enam…tujuh…de…la..pan..!!!”

“Akh…akhirnya selesai juga” ucap Lea gembira,
berolahraga di pagi hari kini sudah menjadi rutinitas Lea
selama pandemi ini. “Lea! cepat mandi kemudian ambil
sarapanmu” ibu berbicara ketika melihat Lea memasuki
rumah, “baik bu”.

“Pertambahan kasus positif covid-19 di Indonesia
kembali mencatat rekor harian.

24

Tercatat 6 Juli 2021, ada 31.189 kasus baru, sehingga
total kasus covid-19 di Indonesia berjumlah 2.345.018
kasus. Penambahan kasus meninggal dunia juga
mencatat rekor dengan ada 728 orang meninggal karena
covid-19. Sehingga total orang meninggal 61.868
orang.”

“Ya Allah.., Lea kalo keluar rumah jangan lupa
pake masker ya..,tuh liat kasus corona di Indonesia
semakin banyak saja, kalo bisa sih untuk sementara
jangan keluar dulu” teriak ayah sambil mengambil kopi
nya di meja tamu. “iya ayah” balas Lea dari meja
makan.
“Lea taruh dulu hpnya, jangan makan sambil bermain
hp” ibu mengambil telefon genggam yang ada di tangan
Lea.

“Bu, bukannya kita diminta untuk vaksin ya?
untuk mencegah terinfeksi dari Covid-19” tanya Lea,
setelah menghabiskan makanan yang berada di dalam
mulutnya.

25

“Iya” jawab ibu sambil membereskan piring-piring
kotor.

Lea mengambil hp nya dan pergi ke ruang tamu.
“Ayah! Ayah! tadi ibu bilang kalo kita harus vaksin, tapi
kenapa keluarga kita sampai sekarang

tidak vaksin juga?” ucap Lea, duduk di samping ayah.
“Setiap kita mau vaksin pasti sudah penuh, jadi keluarga
kita tidak kebagian vaksinnya” mata ayah fokus menatap
TV yang memberitakan tentang covid-19. ”Ohh.. gitu”

“Lebih dari 150 vaksin kini sedang
dikembangkan di seluruh dunia. Ada 4 tahap yang harus
dilewati sebuah vaksin sampai dianggap aman
disuntikkan. Ada 10 vaksin yang sudah masuk tahap 3,
yang paling maju, salah satunya adalah Sinovac yang
juga sedang uji klinis di Indonesia. Tidak hanya Sinovac,
ada beberapa penyuplai vaksin yang juga sedang
dijajaki, yang terbaru adalah Astra Zeneca. Pengadaan
vaksin ini berjalan beriringan dengan pembuatan vaksin
merah putih. Butuh dana besar untuk vaksin, di apbn
2021 pemerintah menganggarkan dana 18 triliun…….”
“Setelah di vaksin apa kita tidak akan tertular covid-19?”

26

tanya Lea ikut menonton berita.“Mendapatkan vaksin
bukan berarti kamu secara otomatis kebal terhadap virus,
setelah ayah baca di internet ternyata perlu waktu 10-14
hari agar vaksin dapat bekerja, jadi walaupun sudah di
vaksin, Lea harus tetap menjaga protocol kesehatannya”
jawab ayah.



“Kalian sudah vaksin belum?” tanya Lea kepada
teman temannya, mereka sedang melakukan panggilan
video.

“Aku udah dongg!! Ehehe” Fina menunjukan senyum
manisnya “Aku belum” kali ini Ela yang menjawab.
“hufh..kapan si corona hilang, kangen sama kalian, main
bareng waktu jam istirahat, kangen sama jajanan di
kantin jugaaa” keluh Lea “ Iya nih kesel ih..” tambah
Fina, “ Kata papa aku kalo mau cepet corona hilang,
setidaknya 70% warga Indonesia sudah vaksin covid-19”
Ela Kembali menjelaskan apa yang dia dengar dari
ayahnya,

27

“Kalau begitu kita harus cepat cepat vaksin biar
coronanya hilang!” ucap Lea dengan semangat, sambil
pamit kepada temannya untuk mengakhiri panggilan
video itu.

“Ayah! Ibu! Kapan ada vaksin corona lagi di
sini?” lari Lea menuju orang tuanya yang sedang bersih
bersih sehabis keluar. “Belum ada berita lagi, nanti ayah
kasih tau Lea kalau ada vaksin corona didekat sini,
memangnya kenapa?” ayah mengelap tangannya dengan
lap tangan, “Tadi Fina bilang kalo harus 70% warga
Indonesia yang divaksin supaya corona hilang di
Indonesia” ucap Lea.

“Bukan hilang tetapi, supaya kekebalan tubuh di
orang yang sudah melakukan vaksin itu dapat bekerja
dengan lebih baik” jelas ayah. “Makanya perlu kesatuan
warga-warga Indonesia supaya corona di Indonesia ini
melemah” lanjut ayah

Cantiknya…matahari sudah tenggelam, hari benar
benar terlewat begitu saja, bosan. Pikir Lea.

28

“Sayang….Lea..ayo bangun!!! Ayah dapet kabar
katany nanti siang bakal ada vaksinasi masal di deket
rumah” ucap ayah sambil mengguncang tubuh Lea
pelan.

“Ih..ayahh Lea sudah bangun jadi berhenti
mengguncang tubuh Lea” Lea bangun dari tidurnya,
rambutnya berantakan.

…..

“Jadi, jam berapa ibu sama ayah bakal vaksin?” tanya
Lea sambil memakan sarapannya, “Ayah sama ibu harus
berangkat lebih awal dari jam yang di janjikan, pasti
ngantrinya bakal panjang banget” kata ibu, duduk dan
memakan sarapannya. “pastinya” timpa ayah.

Suasana di kota tempaat Lea tinggal tidak sepi sama
sekali padahal Indonesia sedang melaksanakan PPKM.
“Pantes saja kasus covid-19 di Indonesia sangat tinggi,
warganya tidak melaksanakan apa yang pemerintah
minta”

29

oceh ayah, selama perjalanan menuju tempat vaksinisasi
ayah tidak berhenti berbicara.

“Selanjutnya..,bagi warga yang di belakang bisa maju
satu bangku” pinta petugas.

“Wahh.. walaupun banyak warga yang tidak patuh
dengan peraturan PPKM, yang mengikuti vaksinasi juga
tidak kalah banyak” ucap Lea dari dalam mobil. Dia
menunggu orang tuanya yang sedang vaksin dari dalam
mobil, tidak lupa ia menggunakan masker.
“Apa tidak ada vaksin untuk anak anak?” Lea membuka
telefon genggam miliknya dan mulai mencari berita itu
di search engine.

Indonesia memulai program vaksinasi Covid-19 bagi
anak-anak berusia 12-17 tahun. Hal itu dilakukan untuk
mencegah semakin banyaknya anak-anak yang terinfeksi
Covid-19 lalu mengalami kondisi yang parah dan
memeerlukan perawatan. “Vaksinasi anak usia 12-17
tahun sudah (dimulai),” kata Juru Bicara Vaksinasi
Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi
kepada Kompas.com, Jumat (2/7/2021)

30

“Ternyata sudah ada ya..tapi umurku belum cukup” Lea
merasa sedih karena umurnya belum cukup untuk di
vaksin.
Setelah orang tua Lea mendapatkan vaksin mereka
langsung pulang ke rumah dan membersihkan diri.
Keluarga itu membicarakan kembali, bahwa warga
Indonesia harus kompak agar Covid -19 yang menyiksa
ini segera berakhir, bukan hanya Indonesia saja tetapi
seluruh negara di dunia ini.

31



Impianku

Karya Harashta Keisha Filaqintara

Suara goresan pensil menemani heningnya
suasana dari dalam kamar seorang remaja bernama
Anita. Pensil itu menari-nari di atas kertas gambar. Garis
demi garis tercoret di atas kertas, menyatu hingga
membentuk sebuah gambar objek yang berada di
hadapannya. Objek itu adalah makanan khas Palembang.
Pempek. Makanan yang sedari tadi tidak digubrisnya.
Padahal, pempek adalah makanan favoritnya sejak kecil
hingga sekarang.

“Akhirnya selesai juga.” ucap Anita setelah
menyelesaikan gambarannya. Kemudian, ia
menempelkan gambar pempek itu di dinding kamarnya.
Meletakkannya di tempat yang masih kosong karena
sebagian dindingnya sudah dipenuhi oleh gambaran-
gambaran Anita yang lain.

32

Ya, Anita memang hobi sekali menggambar, apalagi
menggambar keberagaman budaya di Indonesia.

Rencananya dari dulu ialah membuat pameran
gambaran-gambarannya itu agar dapat mengenalkan dan
ikut melestarikan budaya-budaya Indonesia agar tidak

hilang begitu saja. Namun, dia belum memiliki cukup
uang untuk membangun pameran impiannya itu. Padahal
sebenarnya, Anita bisa terbilang anak dari orangtua yang
kaya. Tapi, dia tidak ingin merepotkan orangtuanya. Dia

lebih memilih untuk menyisihkan uang jajannya dan
menabungnya di dalam celengannya.

Setelah Anita menempelkan gambarnya di
dinding, ia segera menghabiskan pempek buatan Ibunya.

Suara jam alarm milik Anita berdering kencang
hingga membangunkan Anita dari tidurnya. Dia bersiap-
siap pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, dia
langsung menuju ke arah kelasnya dan menaruh tasnya
di bangkunya. Tiba-tiba ada seseorang datang dari
belakang Anita.

33

Menepuk pundak Anita, hingga Anita tersentak kaget.
Ternyata itu adalah Lia, sahabatnya.

“Nit, aku punya kabar baik!” seru Lia. Anita bingung
dengan maksud sahabatnya itu.

“Ada lomba menggambar di kota kita, Nit. Kalau
menang hadiahnya lumayan buat menambah tabungan
untuk pameran impian kita.” lanjut Lia sambil
menunjukkan poster lomba menggambar di kotanya.

Sungguh. Anita sangat senang dengan kabar baik
tersebut. Lia juga tak kalah senangnya dengan Anita.
Bagaimana tidak, membangun pameran gambar budaya-
budaya Indonesia bukan hanya mimpi bagi Anita saja.
Lia juga memiliki impian yang sama. Kemudian, Anita
dan Lia mengeluarkan smartphone dari dalam saku
mereka. Mengetikkan link pendaftaran lomba yang
tertera di poster. Lalu, mendaftarkan diri mereka via
online untuk menjadi salah satu peserta lomba
menggambar.

34

Tak terasa, hari ini adalah hari dimana lomba itu
dilaksanakan. Anita dan Lia pergi ke tempat lokasi
lomba bersama-sama. Disana, banyak sekali peserta
lomba dari berbagai kecamatan. Kemudian, Anita dan
Lia memilih tempat duduk yang nyaman dan menata
alat-alat menggambar mereka.

Panitia lomba terlihat sudah menaiki panggung.
Bersiap untuk mengumumkan bahwa lomba
menggambar akan segera dimulai.

“Apa kabar adik-adik peserta lomba
menggambar?!” tanya salah satu kakak panitia lomba
menggambar dengan semangat.

“Baik, Kak!” jawab seluruh peserta lomba
dengan lantang.

“Oke adik-adik. Sebelum memulai lomba
menggambar hari ini, mari kita berdoa sesuai
kepercayaannya masing-masing. Berdoa dimulai.”

35

“Selesai. Baik adik-adik, silahkan kalian memulai
menggambar dari sekarang!” perintah kakak panitia.

Anita sudah bersiap-siap menggambar.
Sedangkan, Lia yang berada di sampingnya tampak
panik. Anita yang kebingungan akhirnya menanyakan
kepada Lia apa yang sebenarnya terjadi.

“Lia, kamu kenapa?” tanya Anita dengan
khawatir.

“Aku lupa bawa catnya, Nit.” jawab Lia.

“Haduh… terus gimana dong.”

Anita juga tampak kebingungan. Tadinya, Anita
ingin menawarkan agar Lia menggunakan alat-alat
menggambarnya saja. Tetapi, Lia tidak terlalu pandai
dalam menggambar menggunakan pensil warna. Dia
lebih pandai melukis menggunakan cat air. Mau tidak
mau, Lia mengundurkan diri dari lomba menggambar
ini. Dia sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan
lomba menggambar.

36

Sekarang, Anita jadi punya tanggung jawab
untuk memenangkan perlombaan ini. Dia sangat
bertekad untuk menang supaya hadiahnya dapat dipakai
untuk membangun pameran impiannya dan juga Lia. Dia
tidak ingin mengecewakan Lia. Sekarang, Anita sangat
semangat menggambar. Ia menggambar salah satu
kesenian bela diri yang berasal dari daerahnya, Debus.

Setelah 2 jam berlalu, waktu lomba menggambar
telah selesai. Banyak peserta lomba yang sudah
mengumpulkan hasil karyanya di meja juri. Sekarang,
juri sedang menilai siapa yang akan menjadi juaranya.
Setelah selesai menilai, panitia lomba mulai menaiki
panggung. Kali ini, bukan untuk membuka acara, tetapi
untuk mengumumkan siapa pemenang 3 besar
perlombaan ini.

“Saya akan mengumumkan hasil pemenang 3
besar lomba hari ini yang tadi sudah didiskusikan oleh
para juri. Saya mulai umumkan dari juara ketiga.”

“Juara ketiga adalah…”

37

Anita melihat sekeliling. Banyak raut muka
tegang terpasang di seluruh peserta lomba. Begitu juga
Anita, jantungnya berdegup kencang menunggu panitia
mengumumkan siapa juara ketiga lomba ini.

“Putra Pratama! Silahkan Putra Pratama menaiki
panggung untuk mengambil hadiah juara ketiga.”
perintah kakak panitia, kemudian disusul oleh peserta
yang dipanggil namanya barusan.

“Sekarang kita umumkan juara kedua yaitu…”

“Dinda Dhaninjaya! Silahkan Dinda Dhaninjaya
menaiki panggung untuk menggambil hadiah juara
kedua.”

“Dan sekarang, saya umumkan juara yang paling
ditunggu-tunggu. Juara pertama. Siapakah yang akan
memenangkan hadiah utama lomba ini?”

“Juara pertama dimenangkan oleh…”

Jantung Anita semakin berdegup kencang. Sangat
kencang.

38

Tersisa satu harapan lagi, yaitu juara pertama. Dia
menutup telinga dan matanya. Dia takut kalau nama
yang dipanggil bukan namanya, melainkan nama peserta
lain. Khawatir jikalau dia kalah, dia akan mengecewakan
Lia. Khawatir jika dia tidak bisa mewujudkan impiannya
dan Lia untuk membangun pameran gambaran budaya
Indonesia. Sementara, Lia yang berada di samping Anita
berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Anita Dewita! Selamat kepada Anita Dewita
yang telah memenangkan hadiah utama lomba ini.
Silahkan naik ke atas panggung untuk mengambil
hadiahnya.”

Walaupun Anita menutup telinganya, dia tetap
dapat mendengar namanya dipanggil. Perlahan-lahan dia
membuka telinga dan matanya. Banyak peserta lomba
yang bertepuk tangan. Lia yang berada di sampingnya
juga ikut senang. Anita masih tidak menyangka bahwa ia
menang. Tetapi, dia tetap berjalan menuju panggung
kecil yang berada di tengah-tengah ruang perlombaan.

39


Click to View FlipBook Version