ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SRIMARYATIE 239002495022 FISIKA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI MAKASAR MEI, 2023
ii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat dan karunianya sehingga Tugas Laporan ini dapat tersusun dan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan dari pihak Panitia PPG LPTK Universitas Negeri Makasar (UNM) selaku penyelenggara dan rekan-rekan Kategori 1 (peserta Reguler, Lulusan PGP, dan Ex-PLPG) Dalam Jabatan Universitas Negeri Makasar (UNM) tahun 2023 yang telah banyak memberikan bantuan, dukungan, dan semangat yang selalu menginspirasi kami untuk melakukan yang terbaik. Harapan besar kami semoga Tugas Laporan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tersendiri dari para pembaca tentang bagaimana mekanisme pelaksanaan PPG Dalam Jabatan di Universitas Negeri Makasar (UNM) ini. Penulis merasa masih banyak kekurangan dalam penulisan Tugas Laporan ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari para pembaca Tugas Laporan ini sangat diharapkan agar menjadi sebuah perbaikan bagi saya selanjutnya. Sepang Simin, Mei 2023 Penyusun, SRIMARYATIE
iii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................. i KATA PENGANTAR ............................................................................... ii DAFTAR ISI .............................................................................................. iii RINGKASAN ............................................................................................ iv BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................... 1 1. Latar Belakang ..................................................................................... 1 2. Tujuan Kegiatan ................................................................................... 2 3. Manfaat Kegiatan ................................................................................. 3 BAB II. PEMBAHASAN ......................................................................... 4 1. Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara .............. 4 2. Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak .................................................. 6 3. Visi Guru Penggerak ............................................................................ 7 4. Budaya Positif ...................................................................................... 9 BAB III. PENUTUP .................................................................................. 10 1. Refleksi ................................................................................................. 10 2. Tindak Lanjut ....................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 13 LAMPIRAN ............................................................................................... 14
iv RINGKASAN Kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Sepang sering didominasi dengan metode ceramah, kurangnya kegiatan yang melibatkan murid, dan penyampaian materi pelajaran yang belum sepenuhnya mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan literasi sains dan aspek psikomotor murid tidak berkembang dengan maksimal. Pendidikan Guru Penggerak memiliki tujuan untuk (1) merencanakan, melaksanakan, menilai, dan merefleksikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik saat ini dan di masa depan dengan berbagai data, (2) berkolaborasi dengan orang tu, rekan sejawat, dan komunitas untuk mengembangkan visi, misi, dan program Satuan Pendidikan, (3) mengembangkan kompetensi secara mandiri dan berkelanjutan berdasarkan hasil refleksi terhadap praktik pembelajaran, (4) menumbuhkembangkan ekosistem pembelajar melalui olah rasa, olah karsa, olah raga, dan olah pikir bersama dengan rekan sejawat dan komunitas secara sukarela. Filosofi Pendidikan Nasional menurut Ki Hadjar Dewantara, guru harus mampu menuntun muridnya dengan memandang bahwa peserta didik sejak dilahirkan memiliki kodrat alam dan kodrat zaman masing-masing dan sebagai seorang guru harus mampu menuntun mereka untuk belajar dengan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, mampu memahami jiwa, hoby dan kesenangan murid dalam belajar sehingga tercapai semua proses belajar yang berpihak pada murid. Nilai-nilai Guru Penggerak (Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid). Lima (5) peran utama Guru Penggerak adalah : (1) menjadi pemimpin pembelajaran, (2) menggerakkan komunitas praktisi untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, (3) menjadi Coach bagi guru lain terkait pengembangan pembelajaran, (4) mendorong kolaborasi antar guru melalui ruang diskusi positif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, (5) mewujutkan kepemimpinan murid.
v Visi Guru Penggerak dibuat dengan mengelaborasikan konsep dan memanfaatkan tujuan dari elemen-elemen Profil Pelajar Pancasila dengan menyusun “prakarsa perubahan diri sendiri (BAGJA)”, menuliskan refleksi “kekuatan paradigma Inkuiri Apresiatif”. Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi instrinsik yang berdampak jangka panjang sehingga murid melakukan hal-hal positif dan jika terjadi pelanggaran atas keyakinan kelas/sekolah yang dibuat.
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang kegiatan yang telah dilakukan SMA Negeri 1 Sepang adalah salah satu Sekolah Menengah Atas yang dengan NPSN 30202276 yang beralamatkan di desa Sepang Simin, kecamatan Sepang di Jl. Antang Taoi No.64 Kabupaten Gunung Mas. SMA Negeri 1 Sepang berdiri pada tahun 1994 dengan luas tanah 29.513 m2 dan dipimpin oleh Bapak Suyono, S.Pd.,M.Pd memiliki visi mewujudkan sekolah yang bermanfaat dan berkualitas demi kemajuan pendidikan nasional di Provinsi Kalimantan Tengah terkhusus wilayah Kabupaten Gunung Mas. Sebelum penulis mengikuti Program PGP ditemukan beberapa permasalahan di antaranya: pertama, pelaksanaan pembelajaran masih didominasi dengan metode ceramah/guru hanya satu-satunya sumber pembelajaran. Kedua, guru jarang melaksanakan kegiatan yang melibatkan keaktifan murid dalam berinovasi karena masih berorientasi terselesaikannya materi. Hal ini menyebabkan murid tidak terlibat dalam aktivitas kerja ilmiah yang berarti literasi sains murid belum dikembangkan. Ketiga, penyampaian materi pembelajaran belum sepenuhnya mengaitkan dengan kehidupan nyata murid. Keempat, kegiatan murid dikelas belum menyentuh aspek psikomotorik dan aspek lain yang berkenaan dengan proses pengembangan literasi sains murid. Penulis selalu memiliki andil yang paling dominan mengajar hanya berdasarkan keinginan dan target diri sendiri tanpa memahami keunikan/potensi murid yang beragam dan perlu untuk dikembangkan. Perkembangan zaman yang begitu cepat membuat setiap orang harus berpacu mengikuti arusnya dan murid pun tidak bisa terlepas dari hal itu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, hendaknya guru dapat mengubah strategi mengajar yang lama dengan strategi mengajar baru yang lebih memberdayakan murid untuk lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga mencapai hasil belajar yang lebih baik dan dapat mengembangkan literasi sains
2 murid. Dan melalui pemahaman tentang pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara penulis berkeinginan untuk mengubah pola pikir dalam mengajar bahwa berdasarkan kodrat alam dan zaman yang dimiliki murid sejak lahir perlu diperhatikan untuk dikembangkan sehingga mampu tercipta murid yang memiliki karakter dan Profil Pelajar Pancasila. 2. Tujuan kegiatan Adapun tujuan yang diharapkan oleh penulis pada laporan ini sebagai bahan referensi dan refleksi diri tentang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan penulis sebagai Guru Penggerak Angkatan 5 Dasus Gunung Mas dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai seorang pendidik dan penuntun yang diharapkan mampu memberi dampak positif terhadap penguatan karakter dan budaya positif untuk kemajuan pendidikan bagi warga sekolah dan komunitas praktisi yang ada di sekitarnya. Tujuan dari kegiatan Program Guru Penggerak (PGP) khususnya tentang analisis materi pembelajaran berbasis masalah adalah : 1) Menerapkan budaya 5 S (senyum, sapa, salam, sopan santun) baik itu sesama guru, guru dan murid, dan antar murid di sekolah. 2) Membudayakan kegiatan literasi setiap hari sekolah selama 15 menit sebelum jam pelajaran. 3) Membuat strategi untuk menciptakan suasana, situasi, dan kondisi kelas sebagai tempat menyenangkan melaksanakan pembelajaran bermakna, inovatif, kreatif, dan menarik. 4) Menerapkan Prakarsa Perubahan yang ditungkan pada BAGJA tentang “Pengelolaan Laboratorium Sebagai Sarana Pembelajaran Untuk Mewujudkan Budaya Literasi Sains Murid”. 5) Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.
3 3. Manfaat Kegiatan Berdasarkan program dan aksi nyata yang akan dilaksanakan oleh penulis pada SMA Negeri 1 Sepang maka manfaat kegiatan pada analisis pembelajaran berbasis masalah pada penulisan laporan ini adalah : 1) Menumbuhkan adanya kolaborasi positif antara guru, murid, dan orang tua dalam menerapkan budaya positif. 2) Memberi ruang kepada penulis untuk melakukan inovasi-inovasi pembelajaran yang berpihak kepada murid. 3) Mengembangkan potensi diri penulis dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri untuk mencapai sebuah program. 4) Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.
4 BAB II PEMBAHASAN 1. Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara Menurut Simon Petrus Rafael (2022 : 17) Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa pendidikan itu “menuntun” tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Dalam proses pembelajaran antara guru dan murid, murid diberi ruang kebebasan untuk menentukan kekuatan dirinya dan peran guru adalah sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Metode “among”, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan keterampilan komunikasi guru dan murid. Proses komunikasi pembelajaran dengan “Paradigma Berpikir Among” menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh sehingga mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi manusia mandiri (merdeka lahir). Program Pendidikan Guru Penggerak angkatan ke-5 Daerah Khusus dilaksanakan selama 9 bulan. Guru harus mengikuti serangkaian seleksi mulai dari pendaftaran, menulis dan penialain esai, mikro teaching/simulasi mengajar, hingga ke proses akhir wawancara. Dan setelah dinyatakan lulus seleksi maka guru akan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan ke-5 untuk Daerah Khusus yang di ikuti secara luring/tatap muka. Pada proses pendidikan ini guru tidak hanya menerima materi pelatihan bersama fasilitator, berkolaborasi dalam memecahkan permasalahan dengan peserta lainnya tetapi guru juga melakukan banyak aksi nyata, sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di kelas/sekolah masing-masing. Program Pendidikan Guru Penggerak didesain untuk mempersiapkan guru-guru terbaik Indonesia untuk menjadi pemimpin-pemimpin sekolah yang akan berfokus pada kegiatan pembelajaran (instructional leaders). Melalui
5 berbagai aktivitas pembelajaran dalam Program Pendidikan Guru Penggerak, maka kandidat kepala sekolah masa depan diharapkan dapat memiliki kompetensi dalam pengembangan diri dan orang lain, pengembangan pembelajaran, manajemen sekolah dan pengembangan sekolah. Selama mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) ada beberapa program yang penulis jalankan melalui aksi nyata di sekolah diantaranya adalah : Menerapkan budaya 5 S (senyum, sapa, sopan, dan santun) bersama warga sekolah. Melakukan pembenahan ruang kelas sehingga menjadi tempat paling nyaman, menarik, dan menyenangkan. Membuat kesepakatan kelas, mading kelas, pohon keinginan, pojok baca/literasi, dan kotak absensi berkolaborasi bersama dengan warga sekolah. Berkolaborasi dengan tim ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja) sekolah dalam melakukan projeck pembuatan pupuk/pestisida kulit bawang merah. Mewujudkan Prakarsa perubahan melalui filosofi Inkuiri Apresiatif BAGJA dengan memaksimalkan budaya literasi sains melalui pengelolaan kegiatan laboratorium. Penulis juga melakukan refleksi dengan bagaimana proses pembelajaran selama ini, dan menemukan beberapa permasalahan seperti sikap guru yang kurang mengakomodir kemampuan/potensi, minat dan bakat murid. Aktivitas mengajar dianggap hanyalah sebuah pekerjaan bukan suatu panggilan jiwa yang harus dilakukan dengan sepenuh hati. Guru seringkali memaksakan kehendak ketika mengajar di kelas dan mengajar tanpa memahami bagaimana kondisi murid yang akan di ajarkan. Sehingga potensi murid yang seharusnya dapat di eksplor secara maksimal menjadi kurang mendapat perhatian dan akhirnya terpendam tanpa mendapat tempat layak untuk dikembangkan dengan maksimal. Berdasarkan temuan permasalahan di atas penulis mencoba untuk memahami kondisi murid mulai dari potensi/keunikan/keberagaman yang
6 dilandaskan atas proses menuntun murid menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara untuk belajar sekaligus menggali potensi yang dimilikinya sehingga dapat menghasilkan produk kreatif, dan inovatif dan proses pembelajaran yang berpihak kepada mereka. Sebagai guru yang pembelajarannya berpihak kepada murid diharapkan dapat : (1) memahami murid sesuai kodrat alam dan zaman yang sifatnya dinamis mengikuti perkembangan zaman, (2) menuntun murid untuk mendapatkan pendidikan/pembelajaran, (3) menghamba kepada murid dengan memberikan pembelajaran sesuai kebutuhannya dengan tulus dan ikhlas dalam mendidik, (4) menerapkan budi pekerti dengan memadukan kemampuan cipta (kognitif), karsa (afektif), dan karya (psikomotorik) yang selalu mengikuti perkembangan zaman. 2. Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak Menurut Adytia Dharma (2022 : 9) dalam Program Pendidikan Guru Penggerak proses perubahan diri seorang guru dalam “menuntun” murid adalah sebagai manusia (Tergerak) dengan memahami murid melalui kerja otak (Truine-brain, Berpikir Cepat-Lambat), kebutuhan genetis (5 Kebutuhan Dasar Manusia), dan tahap tumbuh kembang anak (Psikososial). Manusia merdeka (Bergerak) yaitu memahami teori pilihan, motivasi instrinsik untuk menuju Profil Pelajar Pancasila dan nilai Guru Penggerak. Kegiatan menuntun kekuatan kodrad manusia (Menggerakkan) dengan memahami Diagram Identitas Gunung Es, Lingkaran Pengaruh, dan Peran Guru Penggerak. Nilai-nilai Guru Penggerak (Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid). Setelah mengetahui nilai Guru Penggerak penulis menjadi termotivasi untuk makin mendalami lebih dalam nilai-nilai dalam guru penggerak. Lebih tersadarkan akan pentingnya seorang Guru Penggerak sebagai agen perubahan. Nilai Guru Penggerak tersebut sebenarnya ada dan sudah dimiliki oleh penulis seperti nilai mandiri dimana dengan nilai ini penulis mampu memunculkan motivasi untuk membuat perubahan baik untuk lingkungan sekitarnya ataupun pada dirinya sendiri. Penulis juga memiliki nilai reflektif mau membuka diri terhadap pengalaman yang baru dilalui, lalu
7 melakukan evaluasi terhadap apa saja hal yang sudah baik, serta apa yang perlu dikembangkan. Berikut ini merupakan lima (5) peran utama Guru Penggerak sebagai pionir-pionir perubahan meliputi : 1) Sebagai pemimpin pembelajaran yang selalu berpihak dan berorientasi kepada murid dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh kembangnya murid. 2) Mampu menggerakkan komunitas praktisi untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. 3) Sebagai Coach bagi guru lain terkait pengembangan pembelajaran. 4) Mampu mendorong kolaborasi antar guru melalui ruang diskusi positif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran 5) Mampu mewujutkan kepemimpinan murid sehingga mampu mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi, dan mendidik karakter murid. Untuk kegiatan aksi nyata ini penulis ingin melihat sejauhmana kemampuan murid dalam berliterasi sains baik itu dalam proses pembelajaran maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah remaja di sekolah. Penulis berkeyakinan bahwa aksi nyata ini akan memberikan dampak kepada murid untuk dapat memahami potensi/kemampuan diri sendiri melakukan sesuatu secara mandiri, selalu dapat berkolaborasi dengan guru dan teman-temannya di kelas, membuat karya yang kreatif dan inovatif, dan mengembangkan secara menyeluruh kemampuan literasi sainsnya. 3. Visi Guru Penggerak Menurut Adytia Dharma (2022 : 11) bahwa Guru Penggerak diharapkan dapat berperan menjadi pemimpin yang menggerakkan murid, rekan sejawat, kepala sekolah, dan komunitasnya untuk berjalan bersama menuju perubahan yang lebih baik. Sebagai pemimpin Guru Penggerak harus memiliki visi atau gambaran yang jelas tentang arah dan tujuan yang akan dicapai. Pemimpin adalah penyemangat semua pihak untuk berpijak kepada kekuatan-aset-hal positif yang telah dimiliki sekaligus pelayan semua pihak untuk meyakini
8 bahwa demi mencapai tujuan perubahan yang diharapkan dibutuhkan strategi, upaya gotong-royong, dan kesabaran. Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat menjadi pegangan para guru dalam proses pembelajaran di kelas. Visi Guru Penggerak dibuat dengan mengelaborasikan konsep dan memanfaatkan tujuan dari elemen-elemen Profil Pelajar Pancasila dengan menyusun “prakarsa perubahan diri sendiri (BAGJA)”, menuliskan refleksi “kekuatan paradigma Inkuiri Apresiatif”. Dalam implementasinya Inkuiri Apresiatif dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Untuk melaksanakan Inkuiri Apresiatif diperlukan sebuah strategi yang dikenal dengan istilah akronim BAGJA, yakni Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi. Sebagai Guru Penggerak yang memahami potensi/kemampuan murid yang variatif, maka dari itu penulis merancang aksi nyata dibuat dan disesuaikan dengan kondisi nyata yang ada dilingkungan pendidikan. Untuk itu guru melakukan upaya dalam merubah metode dan strategi pembelajaran di kelas yang lebih menarik, menyenangkan, dan mampu memaksimalkan literasi sains murid yaitu dengan melaksanakan pembelajaran yang berpusat kepada murid. “Terwujudnya proses pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif sehingga terciptanya peserta didik yang mandiri dan cakap” adalah visi penulis sebagai guru penggerak. Untuk mewujudkan visi tersebut penulis melibatkan keberadaan seluruh warga sekolah (kepala sekolah, rekan guru, murid, dan orang tua murid) dalam hal memberi dukungan tenaga, pikiran, perhatian, bimbingan/arahan yang membangun. Penerapan program BAGJA oleh Guru Penggerak untuk saat ini dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah. Pada pelaksaannya banyak hal positif yang terjadi seperti adanya kesepakatan bersama antara guru dan murid di kelas melalui keyakinan kelas, perubahan suasana dan kondisi kelas menjadi lebih
9 hidup, murid dapat mengembangkan potensi/bakat secara lebih alami dan terkondisikan, pembelajaran lebih bervariatif dan menyenangkan. 4. Budaya Positif Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi instrinsik yang berdampak jangka panjang sehingga murid melakukan hal-hal positif dan jika terjadi pelanggaran atas keyakinan kelas/sekolah yang dibuat. Dalam pelaksanaannya hukuman bukan lagi solusi yang akan di jalani murid tetapi disiplin dalam bentuk konsekuensi yang akan diterima bila terjadi pelanggaran. Pada proses akhir restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat menurut (Gossen ; 2004) dalam Adri Nurachman. Budaya positif yang harus dimiliki oleh seorang Guru Penggerak dalam melakukan perubahan. Pada aktivitas ini penulis banyak belajar tentang bagaimana menggunakan pikiran, ucapan-ucapan positif yang sangat penulis perlukan ketika berhadapan dengan murid. Contohnya adalah dengan membuat kesepakatan kelas yang perlu dilaksanakan setiap awal tahun ajaran sehingga apapun yang menjadi kesepakatan kelas yang dibuat menggunakan kata-kata positif dapat di taati bersama dan menjadi kesepakatan kelas nantinya. Sebelum mengikuti Pendidikan Guru Penggerak praktik baik ini belum pernah penulis lakukan di kelas sehingga hanya kesepakatan pribadi dengan murid saja yang tercipta. Dengan adanya kesepakatan kelas penulis harapkan siswa menjadi lebih nyaman untuk mantaati aturan kelas yang mereka buat sendiri. Contoh lain yang dilakukan sekolah dalam menerapkan disiplin positif adalah budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (program 5 S). Dan tentunya program ini masih sangat perlu ditingkatkan dan komitmen dari warga sekolah untuk melaksanakannya dan menjadi budaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan di sekolah.
10 BAB III PENUTUP 1. Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional menurut Ki Hadjar Dewantara, guru harus mampu menuntun muridnya dengan memandang bahwa peserta didik sejak dilahirkan memiliki kodrat alam dan kodrat zaman masing-masing dan sebagai seorang guru harus mampu menuntun mereka untuk belajar dengan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, mampu memahami jiwa, hoby dan kesenangan murid dalam belajar sehingga tercapai semua proses belajar yang berpihak pada murid. Sebagai pendidik dibutuhkan komitmen yang konsisten dalam melaksanakan proses ini, paradigma mengajar perlu dipahami lebih mendalam terutama untuk kepentingan belajar murid. Nilai dan peran Guru Penggerak, tentang bagaimana nilai-nilai dan seperti apa peran seorang guru penggerak yang harus dimiliki dan nilai-nilai guru penggerak tersebut adalah (Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid). Setelah mengetahui nilai guru penggerak penulis menjadi termotivasi untuk makin mendalami lebih dalam nilai-nilai dalam guru penggerak. Lebih tersadarkan akan pentingnya seorang guru penggerak sebagai agen perubahan. Visi Guru Penggerak, aktivitas yang membahas bagaimana visi yang harus di miliki oleh seorang guru penggerak. Pada saat diskusi banyak hal yang kami lakukan untuk menentukan pemetaan kekuatan visi guru penggerak. Masing-masing calon guru penggerak menyampaikan ide/gagasannya tentang unsur-unsur yang harus dicantumkan dalam pemetaan kekuatan visi guru penggerak. Baik unsur internal maupun eksternal dari diri seorang guru penggerak tersebut. Budaya Positif adalah tentang budaya positif yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak dalam melakukan perubahan. Pada aktivitas ini penulis
11 banyak belajar tentang bagaimana menggunakan pikiran, ucapan-ucapan positif yang sangat saya perlukan ketika berhadapan dengan murid. 2. Tindak Lanjut Berdasarkan hal tersebut di atas, berikut ini beberapa tindak lanjut yang akan dilaksanakan setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak : Melakukan refleksi akhir untuk Program Pendidikan Guru Penggerak dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan yang dimiliki dan perlu ditingkatkan beserta kelemahan yang harus diperbaiki oleh diri sendiri selama mengikuti program. Kegiatan dilaksanakan melalui umpan balik dari kepala sekolah, rekan sejawat, murid, dan orang tua/wali murid; Selalu melakukan diskusi informal dengan rekan sejawat di sekolah dalam komunitas praktisi sekolah; Mengembangkan sosialisasi Program Pendidikan Guru Penggerak bagi komunitas praktisi di dalam dan luar sekolah tujuannya adalah untuk menggalang kekuatan dan potensi untuk selalu bersama-sama tergerak, bergerak, dan menggerakkan untuk berbagi pengalaman melakukan praktik baik selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Sekaligus menyebarluaskan pemahaman dan pengetahuan terkait pembelajaran yang berpusat kepada murid; Melakukan sosialisasi tentang pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional sehingga pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dapat dilakukan dengan maksimal. Kegiatan dilakukan dalam bentuk IHT (In House Training) berupa pelatihan pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berdiferensiasi dan Sosial Emosional; Mengembangkan budaya positif dalam bentuk kesepakatan kelas dan program 5 S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun) di sekolah. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penguatan dan kolaborasi bersama semua wali kelas dalam pembuatan kesepakatan kelas dan program 5 S; Mengembangkan program pengelolaan kelas yang menyenangkan bagi murid dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan
12 kualitas pembelajaran berpusat pada murid. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penguatan wali kelas dalam menciptakan kelas yang menyenangkan bagi murid; Mendorong rekan sejawat di sekolah dalam mengakses Platform Merdeka Mengajar (PMM) untuk meningkatkan kompetensi masing-masing dalam pemahaman Kurikulum Merdeka; Mengelola program yang berdampak kepada murid di sekolah terkait budaya literasi sains melalui pembelajaran. Tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan kepemimpinan murid berliterasi di dalam kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah; Demikian tindak lanjut yang akan dilaksanakan ke depannya, di susun bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Pelaksanaan masing-masing program disesuikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Sebelum pelaksanaan implementasi tindak lanjut terlebih dahulu dilakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah dan kolaborasi dengan rekan sejawat.
13 DAFTAR PUSTAKA Simon Petrus Rafael, M.Pd. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. 2022 Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Aditya Darma, S.Si., M.B.A. Modul 1.2 Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak. 2022 Jakarta: Direktorat jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Aditya Darma, S.Si., M.B.A. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak. 2022 Jakarta: Direktorat jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Andri Nurcahyani, S.Pd, M.S. dkk. Modul 1.4 Budaya Positif. 2022 Jakarta: Direktorat jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Drive Bersama Pendidikan Guru Penggerak Dasus Gunung Mas Angkatan 5. Diakses pada 16 Mei 2023 dari PGP GUMAS https://s.id/pgpgumas
14 LAMPIRAN 1. Program Pendidikan Guru Penggerak
15
16 2. Aksi Nyata Pembenahan Lingkungan Kelas dan Sekolah
17
18
19 3. Aksi Nyata Pembelajaran Berpusat Pada Murid
20
21
22 4. Aksi Nyata Budaya Positif dan Program 5 S (semyum, salam, sapa, sopan, dan santun)
23
24 5. Aksi Nyata Budaya Literasi Sains Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi
25
26
27