Mendapat perlindungan dan membela diri jika mendapat ancaman atau tujuan dari berbagai pihak selama proses kaderisasi berjalan. Dilibatkan dan mengetahui jika ada intervensi dari pihak manapun tentang agenda kaderisasi yang akan atau sedang dilaksanakan. Mendesain dan merancang agenda kaderisasi guna meningkatkan kapasitas diri mahasiswa baru. Memberikan bentuk-bentuk arahan, penugasan, serta pelatihan yang mampu menunjang peningkatan kapasitas kadernya. 1. 2. 3. 4. Merupakan hal-hal yang harus didapatkan oleh pengkader : Merupakan hal-hal yang harus dilakukan sebagai seorang pengkader : Melaporkan segala kegiatan kaderisasi yang akan dilaksanakan maupun yang sedang dilaksanakan kepada pihak birokrasi terkait sebagai bentuk transparansi. Mendidik dan membina kaderkadernya sebaik mungkin tanpa adanya perbedaan pada setiap kader sehingga tercipta kader yang COMPLETE. Menjaga dan memberi perlindungan serta bertanggung jawab bagi kadernya atas segala penyimpangan selama proses kaderisasi berjalan. Melaporkan kepada pihak yang berwenang apabila menemukan kesalahan selama proses kaderisasi berjalan. Memahami dan menaati peraturan yang berlaku di lingkungan pengkader serta dilarang keras melakukan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk apapun selama proses pengkaderan berjalan. 1. 2. 3. 4. 5. *Ketentuan lanjut terkait hak & kewajiban kader dan pengkader disesuaikan dengan kebutuhan. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 50
*Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk pelanggaran kader dan pengkader disesuaikan dengan kebutuhan fakultas/sekolah dan lingkungan yang bersangkutan. KADER Tidak mengikuti proses kaderisasi tanpa izin/keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Membawa senjata tajam, senjata api, dan/atau benda-benda berbahaya lainnya. Melakukan penghinaan, penipuan, dan/atau pencurian terhadap pengkader, mahasiswa baru, pihak ketiga, dan/atau segenap civitas akademika. Melakukan perusakan fasilitas, sarana, prasarana, dan lingkungan di Universitas Diponegoro. Melakukan perpeloncoan atau physical bullying. Mengadakan dan/atau melakukan pungutan liar. Melakukan tindak pengancaman dan/atau kekerasan ringan selama proses kaderisasi kepada pengkader, mahasiswa baru, pihak ketiga, dan/atau segenap civitas akademika. Kekerasan ringan mencakup perbuatan kekerasan yang tidak menjadikan sakit dan tidak sampai membuat korban terhalang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Melakukan perbuatan anarkis dan/atau provokatif baik secara individu maupun kelompok yang dapat mengganggu keamanan, kenyamanan, dan keselamatan di Universitas Diponegoro. Melakukan perbuatan yang mengandung diskriminasi atas nama agama, suku, ras, gender, dan/atau golongan, baik secara verbal maupun nonverbal. Terlibat dalam penggunaan, pengedaran, dan/atau perdagangan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) serta minuman keras. Melakukan tindak asusila atau non asusila yang melanggar etika dan norma yang berlaku kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses kaderisasi. Terlibat atas aksi terorisme dan sejenisnya. Melakukan plagiarisme dalam pengerjaan tugas yang diberikan. Melakukan pemalsuan terhadap berbagai hal dalam proses kaderisasi. Melakukan penyuapan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kaderisasi. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 51
0 Memanfaatkan mahasiswa baru untuk melakukan hal yang bertentangan dengan etika, norma, dan peraturan yang berlaku. Tidak melaksanakan proses kaderisasi dengan baik sehingga penyampaian materi atau esensi tidak tersampaikan dengan baik pada kader. Tidak melaksanakan kewajiban dan kewenangannya di dalam proses kaderisasi sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Memberikan sanksi yang berlebihan/tidak sesuai dengan peraturan dalam kaderisasi. Menyalahgunakan wewenang. Merusak fasilitas, sarana, dan prasarana yang ada di Universitas Diponegoro. Melakukan perpeloncoan atau physical bullying. Mengadakan dan/atau melakukan pungutan liar. Melakukan perbuatan anarkis dan/atau provokatif secara individu maupun kelompok yang dapat mengganggu keamanan, kenyamanan, dan keselamatan di Universitas Diponegoro. Melakukan tindak pengancaman dan/atau kekerasan selama proses kaderisasi terhadap segenap civitas akademika. Melakukan perbuatan yang mengandung diskriminasi atas nama agama, suku, ras, gender, dan/atau golongan baik secara verbal maupun non-verbal. Terlibat dalam penggunaan, pengedaran, dan/atau perdagangan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) serta minuman keras. Melakukan tindak asusila atau non asusila yang melanggar etika dan norma yang berlaku kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses kaderisasi. Terlibat atas aksi terorisme dan sejenisnya. Melakukan pemalsuan terhadap hal-hal yang terdapat dalam proses kaderisasi. Melakukan penyuapan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kaderisasi. Melakukan tindak pidana korupsi dari pendanaan kegiatan kaderisasi kampus. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. PENGKADER *Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk pelanggaran kader dan pengkader disesuaikan dengan kebutuhan fakultas/sekolah dan lingkungan yang bersangkutan. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 52
Melaporkan pelanggaran yang diketahui kepada Kepala Bidang PSDM BEM/HMD/HMJ dengan melampirkan bukti valid dalam bentuk apapun untuk ditindaklanjuti, maksimal 1x24 jam. Pelaporan dilakukan sesuai dengan tingkatan kegiatan dilaksanakan. Apabila terjadi di tingkat departemen/jurusan, maka dilaporkan kepada Kepala Bidang PSDM HMD/HMJ. Apabila terjadi di tingkat fakultas, maka dilaporkan kepada ketua pelaksana kegiatan yang akan melaporkan kepada Kepala Bidang PSDM BEM Fakultas. Laporan tersebut akan ditindak lanjuti bersama Senat Mahasiswa, maksimal 1x24 jam. Ketika telah memiliki keterangan dari pihak-pihak terkait dan bukti yang valid, maka akan dilaksanakan investigasi di tingkat mahasiswa terlebih dahulu secara kekeluargaan, maksimal 1x24 jam. Apabila telah dilaksanakan investigasi di tingkat mahasiswa, maka pihakpihak yang melakukan investigasi wajib melaporkan hasil investigasi dengan secara tertulis yang ditujukan kepada Wakil Dekan I Bidang Kemahasiswaan dengan mencantumkan hasil investigasi dan bukti valid agar dapat ditindaklanjuti untuk mekanisme penyelesaian dan penjatuhan sanksi. Apabila pelanggaran dinilai cukup berat, maka dibutuhkan pelaporan secara tertulis, meliputi bukti yang cukup lalu disampaikan secara lisan/tertulis, termasuk rekam jejak investigasi yang dilaksanakan mahasiswa dan birokrasi fakultas yang ditujukan kepada Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan. 1. 2. 3. 4. 5. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 53 *Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk pelanggaran kader dan pengkader disesuaikan dengan kebutuhan fakultas/sekolah dan lingkungan yang bersangkutan.
Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 54
Pada era Society 5.0 terdapat beberapa konsep utama, yaitu berkaitan dengan Internet of Things, Big data, dan Artificial Intelligence yang akan berfokus untuk menjadi penunjang kehidupan manusia yang jauh lebih baik. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang baik, namun juga mengancam bagi manusia. Manusia harus dapat berperan aktif mempersiapkan diri untuk menghadapi Society 5.0. Secara umum dapat dikatakan bahwa implementasi dari Industri 4.0 di Indonesia belum terealisasikan secara maksimal, tetapi kini hadir konsep baru yang disebut sebagai Society 5.0. Jika pada Industri 4.0 titik fokus berada pada proses produksi, di era Society 5.0 manusia akan berperan sebagai pusat dari inovasi yang ada, dan teknologi akan dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan perkembangan. PERAN MAHASISWA PENDIDIKAN TINGGI DI ERA SOCIETY 5.0 Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 55 You affect the world by what you browse Tim Berners-Lee
Inovasi ini mencakup seluruh bidang, tidak terkecuali bidang pendidikan. Pendidikan merupakan bidang terpenting dalam peradaban manusia yang berupaya dalam pengembangan pola pikir, ide, gagasan, atau keterampilan seseorang yang dididiknya. Pada era society 5.0 dibutuhkan inovasi model pembelajaran yang mampu menjawab tantangan dari revolusi 4.0 dan society 5.0. Pada tahap ini, peserta didik tidak cukup jika hanya dibekali dengan keterampilan untuk membaca, menulis, dan berhitung. Disebabkan karena di era Society 5.0 yang berfokus pada manusia sebagai pusat, peserta didik juga harus dibekali kecakapan abad 21, yaitu keterampilan yang disebut sebagai “Four Cs”, yaitu communicators, creators, critical thinkers, and collaborators. ERA SOCIETY 5.0 AGENT OF CHANGE Mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan, yaitu orang-orang yang menjadi pemicu terjadinya perubahan dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitarnya. SOCIAL CONTROL IRON STOCK MORAL FACE Mahasiswa diharapkan dapat menjadi kontrol sosial yang menyelaraskan hal-hal yang bertentangan dengan nilai keadilan baik di lingkungan kampus maupun lingkungan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berperan secara tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan pada era Society 5.0. Dengan demikian, mahasiswa dapat memberikan solusi dan inovasi bagi perkembangan zaman. Mahasiswa di era Society 5.0 diharapkan dapat memiliki moral yang baik yang diharapkan pula dapat menjadi teladan dalam lingkungan perguruan tinggi atau lingkungan masyarakat. Sebagai bagian dari peserta didik, kita, sebagai mahasiswa juga harus mempersiapkan dirinya untuk mengambil peran di era ini. Persiapan tersebut dilakukan agar mahasiswa dapat hidup di tengah masyarakat dan bermanfaat untuk masyarakat tersebut dengan keahlian dan potensi yang kita miliki. Terdapat beberapa peran yang dapat kita ambil, sebagai mahasiswa, untuk menghadapi era society 5.0, yaitu : Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 56 Humans are still the most extraordinary 'computer'
Hidup bukanlah tentang ‘Aku Bisa Saja’ , namun tentang ‘Aku Mencoba’. Jangan pikirkan tentang kegagalan, itu adalah pelajaran. Dr. Ir. H. Soekarno Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 57
Untuk mencapai hal tersebut tentunya mahasiswa harus memiliki wadah pengembangan skill yang tepat. Dalam hal akademik tentunya universitas telah memberikan segala fasilitasnya untuk mampu mengembangkan mahasiswanya. Namun, tidak dipungkiri bahwa ada banyak sekali keterampilan yang harus dimiliki mahasiswa tidak hanya pada bidang akademik. Hal tersebut yang akhirnya menjadi alasan pentingnya kegiatan kaderisasi dalam organisasi guna mengembangkan mahasiswa. TUNJUKKAN TUNJUKKAN PERANMU SEBAGAI PERANMU SEBAGAI MAHASISWA DALAM MAHASISWA DALAM ORGANISASI! ORGANISASI! Mahasiswa merupakan sekelompok orang yang menjadi pelaku utama dalam adanya perubahan bangsa. Dalam hal tersebut maka mahasiswa harus mampu menjadi agent of change dan agent of social control. Artinya mahasiswa harus memberikan dampak yang signifikan baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Memaknai hal tersebut mahasiswa tentu dituntut agar mampu memiliki pemikiran yang jernih, positif, dan kritis serta bertanggung jawab. Kemudian secara moral mahasiswa akan dituntut tanggung jawab akademiknya agar mampu menghasilkan karya yang memberikan dampak-dampak positif. merupakan segala bentuk kegiatan yang bersifat positif dan mampu memberikan pengembangan keterampilan bagi seseorang. Tentunya kegiatan kaderisasi sangat erat hubungannya dengan organisasi. Dikutip dari buku panduan kaderisasi Universitas Diponegoro organisasi kemahasiswaan adalah sebuah sistem yang hidup dan terus bergerak sebab di dalamnya terdapat entitas mahasiswa yang ditopang untuk menciptakan penerus bangsa yang memiliki jiwa kepemimpinan dan sikap kritis. LALU SEBENARNYA APA YANG DIMAKSUD Oleh sebab itu, dibutuhkan generasi penerus yang mampu mengembangkan potensi diri dan membangun jiwa yang berkarakter melalui sebuah wadah. Melalui kegiatan kaderisasi nantinya akan dihasilkan kader-kader unggul yang mampu menjadi penerus estafet keorganisasian. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 58
tersebut diperkuat melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 pasal 77 tentang organisasi kemahasiswaan. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa organisasi kemahasiswaan akan melatih tiap-tiap mahasiswa untuk mampu terjun langsung ke masyarakat dan memberikan kontribusi yang nyata. Organisasi kemahasiswaan dapat menjadi wadah pengembangan diri mahasiswa untuk meningkatkan wawasan dan integritas diri serta melatih kemampuan atau keterampilan yang dapat diterapkan untuk masyarakat di sekitarnya. Melalui organisasi kemahasiswaan, mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk berkarya sesuai minat dan bakatnya, menyampaikan aspirasinya, dan juga membawa perubahan bagi lingkungan kampus dan sekitarnya. Selain itu, melalui kegiatan keorganisasian juga diharapkan mahasiswa mampu memiliki pemikiran yang rasional dan bersifat terbuka sehingga tidak memberikan dampak-dampak negatif dalam memberikan putusan atau tindakan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa baru tentunya sangat tepat untuk bisa mengenal berbagai macam organisasi kemahasiswaan dan mulai untuk mencobanya. Mahasiswa memiliki tanggung jawab cendekiawan yang didasarkan pada tiga tolak ukur, yaitu keadilan, kebenaran, dan rasio. Jelas artinya mahasiswa dituntut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang berdasar pada asas rasionalitas. Hal tersebutlah yang memberikan penjabaran mengenai tanggung jawab dasar mahasiswa yang direfleksikan dengan berbagai aktivitas kemahasiswaan dan gerakan mahasiswa. Dalam mewadahi hal-hal tersebut disinilah peran organisasi sangat dibutuhkan. Organisasi dipandang sebagai wadah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Organisasi pun merupakan wadah dari sekelompok orang yang mengadakan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pengertian tersebutlah menjabarkan bahwa organisasi merupakan suatu hal penting dalam rangka pengembangan diri mahasiswa. Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 59
Thank You For Support Images Offial Website Undip. https://www.undip.ac.id/ Arsip KMI BEM UNDIP Arsip ODM UNDIP 2019-2023 Arsip dokumentasi PKKMB-Pendikar HMA Amoghasida 2022 Intan Safa Bisyarah (Awardee Program Kampus Merdeka 2022) Majalah Kaderisasi Mahasiswa Baru I 60