1
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan
kehadirat Allah swt, atas berkah, rahmat dan karunianya-
Nya sehingga buku panduan penggunaan pembelajaran
literasi berbasis audio visual dengan media power point
untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak usia
dini dapat diselesaikan. Buku panduan ini dibuat sebagai
pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan media tersebut.
Buku panduan ini berisi informasi tentang
bagaimana mengaitkan menggunakan media power point
dalam kegiatan pembelajaran serta dapat menjadi
panduan pendidik dan orangtua dalam mengembangkan
aspek kemampuan berbicara anak usia dini.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang telah banyak
berperan dan memberikan dukungan. Ucapan terima
kasih penulis haturkan kepada Bapak Dr. Parwoto, M.Pd
sebagai pembimbing 1 dan Bapak Dr. Suardi, S.Pd.,
M.Pd. sebagai pembimbing 2.
3
Setiap karya tentu saja tidak luput dari kelemahan,
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan saran yang membangun dari
pembaca. Semoga buku panduan ini dapat bermanfaat.
Makassar, September 2022
Penyusun
4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................i
DAFTAR ISI..................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................1
B. Tujuan Penulisan.......................................................3
C. Manfaat Penulisan………………………………….4
BAB II LANDASAN TEORI
BAB III DFART MODEL
A. Model Pembelajaran Literasi……..……………….10
B. Media Pembelajaran………………………………16
C. Media Audio Visual (Ms Power Point)...................19
D. Keterampilan Berbicara……...................................22
BAB III PANDUAN PENGGUNAAN MODEL
A. Prosedur Pembuatan Media Literasi Berbasis Power
Point……………………………………………….37
B. Indikator Keterampilan Berbicara Anak..................38
C. Aspek Pendukung Pembelajaran………………….39
D. Peran Guru dalam Pembelajaran………………….39
E. Peran Anak dalam Pembelajaran…………………40
F. Kriteria Penilaian Keterampilan Berbicara……….40
5
G. Instrumen Penilaian Keterampilan Berbicara……..43
BAB IV PENUTUP……………………...……….......45
DAFTAR PUSTAKA………………………….….....46
6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pendidikan saat ini telah bergeser sesuai
dengan perkembangan zaman yang dulunya hanya
menggunakan buku dan yang lainnya, kini telah banyak
mengalami perubahan yang sangat pesat dengan
memanfaatkan untuk kepentingan peningkatan layanan
dan kualitas pendidikan. Perkembangan teknologi saat
ini seperti penggunaan telephone, komputer multimedia,
internet dan sarana audiovisual lain untuk pembelajaran,
komunikasi yang berlangsung dalam konteks pendidikan
pun semakin canggih. Sebagai seorang pendidik yang
baik seharusnya kita mampu memanfaatkan kemajuan
teknologi untuk pembelajaran anak didik kita, bukan
hanya mengikuti perkembangan namun juga harus
memnfaatkan secara baik agar perkembangan teknologi
tidak sia-sia. Biasanya anak usia dini selalu tertarik
dengan hal-hal yang baru dan teknologi adalah sesuatu
yang baru bagi anak, maka dari itu kita harus bisa
memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan
kemampuan anak didik.
7
Salah satu aspek perkembangan bahasa anak
adalah keterampilan berbicara, Menurut Kurniawan
(2015) keterampilan berbicara adalah kemampuan anak
dalam menyampaikan ide-gagasan dengan melalui
bahasa lisan dan gaya yang menarik. Keterampilan
berbicara penting bagi anak karena dalam kesehariannya,
anak selalu melakukan kegiatan komunikasi (berbicara)
pada orang lain, termasuk dalam kegiatan keilmuan
seperti pembelajaran.
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat
bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia
seutuhnya. Hal itu meliputi aspek pertumbuhan dan
perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial
emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang
sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh agar anak
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah
satu model pembelajaran yang diterapkan dalam
lembaga pendidikan anak usia dini adalah model
pembelajaran literasi.
Selain itu, salah satu media yang dapat
digunakan dalam pembelajaran literasi adalah media
8
audio visual. Dengan menggunakan media ini, anak
dapat melihat dan mendengar secara langsung setiap
pengucapan kata dan kalimat sehingga anak akan terlatih
dalam mengucapkan kata dan kalimat tersebut. Dengan
menggunakan media audio visual dalam pembelajaran
literasi, akan membantu meningkatkan keterampilan
berbicara anak.
B. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan buku panduan ini
adalah sebagai berikut :
1. Memberikan acuan bagi pendidik PAUD dalam
menggunakan model pembelajaran literasi berbasis
audio visual dengan media power point untuk
meningkatkan keterampilan berbicara anak usia dini.
2. Membantu pendidik PAUD dalam meningkatkan
berbagai pengetahuan dan keterampilan tentang
model pembelajaran literasi berbasis audio visual
dengan media power point untuk meningkatkan
keterampilan berbicara pada anak usia dini.
3. Bagi anak usia dini, dapat memberikan kesempatan
dalam meningkatkan keterampilan berbicara melalui
9
model pembelajaran literasi berbasis audio visual
dengan media powerpoint
C. Manfaat Penulisan
Secara umum manfaat penulisan buku panduan
ini adalah sebagai berikut :
1. Menjadi jembatan penyambung ilmu dalam
mengembangkan model pembelajaran pada anak usia
dini, lembaga pendidikan dan sebagainya.
2. Sebagai acuan dalam pengembangan model
pembelajaran literasi berbasis audio visual dengan
media power point untuk meningkatkan keterampilan
berbicara pada anak usia dini.
10
BAB II
LANDASAN TEORI
Anak usia dini memiliki karakteristik yang berbeda
dengan orang dewasa dalam berpikir, berperilaku, dan
bertindak. Hal inilah yang menyebabkan anak usia dini
juga memiliki karakteristik tersendiri dalam belajar.
Karakteristik cara belajar anak usia dini merupakan
fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan
dalam merencanakan pembelajaran untuk anak usia dini.
Model pembelajaran merupakan suatu pola atau
rancangan yang menggambarkan proses perincian dan
penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak
berinteraksi dalam pembelajaran sehingga terjadi
perubahan atau perkembangan. Model pembelajaran
yang biasa dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan
anak usia dini adalah pembelajaran klasikal,
pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman,
pembelajaran berbasis sudut dan pembelajaran area.
Setiap model pembelajaran memiliki langkah
pembelajran yang relatif yakni sama, kegiatan
pendahuluan yang berupa kegiatan awal untuk
11
memfokuskan perhatian sehingga anak siap untuk
melaksanakan kegiatan. Selanjutnya kegiatan inti yang
merupakan suatu proses untuk mencapai standar tingkat
perkembangan anak. Kemudian kegiatan makan dan
istirahat. Diakhiri dengan kegiatan penutup sebagai
kegiatan untuk mengakhiri aktivitas belajar yang
biasanya berupa penyimpulan dan refleksi. Setiap model
pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh
karena itu guru atau pamong harus mempertimbangkan
dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran
yang tepat, efektif dan sesuai dengan kondisi,
kemampuan, serta sarana prasarana yang ada dalam
lingkungan pendidikan anak usia dini.
Salah satu model pembelajaran yang diterapkan
dalam lembaga pendidikan anak usia dini adalah model
pembelajaran literasi. Secara tradisional, literasi
dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis
Orang yang dapat dikatakan literal dalam pandangan ini
adalah orang yang mampu membaca dan menulis atau
bebas buta hurut. Pengertian literasi selanjutnya
berkembang menjadi kemampuan membaca, menulis,
berbicara, dan menyimak,
12
Pada masa perkembangan tahapan awal, literasi
didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan
beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan,
berbicara, melihat, menyajikan, dan berpikir kritis
tentang ide-ide. Hal ini memungkinkan kita untuk
berbagi informasi, berinteraksi dengan orang lain, dan
untuk mem buat makna. Literasi merupakan proses yang
kompleks yang melibatkan pembangunan pengetahuan
sebelumnya, sosial budaya, dan pengalaman untuk
mengembangkan pengetahuan baru dan pemahaman
yang lebih dalam Literasi berfungsi untuk
menghubungkan individu dan masyarakat, serta
merupakan alat penting bagi individu untuk tumbuh dan
berpartisipasi aktif dalam masyarakat yang demokratis
(Abidin, dkk, 2018).
Media pembelajaran mempunyai peranan yang
penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan
adanya media, proses kegiatan belajar mengajar akan
semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan media
diharapkan akan menumbuh kan dampak positif, seperti
munculnya proses pembelajaran yang lebih kondusif,
13
terjadinya umpan balik dalam proses belajar mengajar,
dan mencapai hasil yang optimal. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2005), Media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan anak yang dapat
memberikan rangsangan untuk belajar."
Secara umum, media pembelajran berguna untuk
menuntun dan mengarahkan murid untuk memperoleh
pengalaman belajar, Pengalaman belajar yang diperoleh
murid sergantung adanya interaksi murid dengan media.
Media berbasis Power Point lebih awet dan lebih
mudah penyimpanannya dibandingkan dengan media
yang lain seperti media nyata atau visual yang terbuat
dari kertas. Para orang tua/pendidik juga dapat saling
berbagai media ini dengan mudah.
Menurut (Rusman, 2013) microsoft powerpoint
merupakan salah satu software yang paling banyak
digunakan pendidik sebagai media pembalajaran di
sekolah atau perguruan tinggi karena pengoperasiannya
yang mudah dan kelengkapan menunya.
Berdasarkan pendapat diatas bahwa untuk
menciptakan media power poin yang berpusat pada
pembelajaran pendidik hendaknya merancang media
14
tersebut dengan baik. Pada media power point
kemudahan memilih animasi dan menambahkan suara.
Keterampilan adalah kemampuan anak untuk
melakukan aktivitas seperti sosial emosional, kognitif,
motorik, berbahasa dan efektif. Keterampilan sama
dengan artinya kecekatan, yang dimana terampil atau
cekatan adalah kepandaian dalam melakukan suatu
pekerjaan dengan baik dan benar. Keterampilan juga
mencakup segala aspek, termasuk keterampilan
berbahasa.
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan
berbahasa yang harus dilatih kepada anak agar bisa
meningkatkan keterampilan berbicaranya. Sebagai
keterampilan yang paling sering digunakan dalam proses
pembelajaran bahasa maupun dalam kehidupan sehari-
hari, semestinya keterampilan berbicara ini dapat
dimiliki oleh setiap anak dengan baik.
15
BAB III
DRAFT MODEL
A. Model Pembelajaran Literasi
1. Model Pembelajaran Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki karakteristik yang berbeda
dengan orang dewasa dalam berpikir, berperilaku, dan
bertindak. Hal inilah yang menyebabkan anak usia dini
juga memiliki karakteristik tersendiri dalam belajar.
Karakteristik cara belajar anak usia dini merupakan
fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan
dalam merencanakan pembelajaran untuk anak usia dini.
Model pembelajaran merupakan suatu pola atau
rancangan yang menggambarkan proses perincian dan
penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak
berinteraksi dalam pembelajaran sehingga terjadi
perubahan atau perkembangan. Model pembelajaran
yang biasa dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan
anak usia dini adalah pembelajaran klasikal,
pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman,
pembelajaran berbasis sudut dan pembelajaran area.
16
Setiap model pembelajaran memiliki langkah
pembelajran yang relatif yakni sama, kegiatan
pendahuluan yang berupa kegiatan awal untuk
memfokuskan perhatian sehingga anak siap untuk
melaksanakan kegiatan. Selanjutnya kegiatan inti yang
merupakan suatu proses untuk mencapai standar tingkat
perkembangan anak. Kemudian kegiatan makan dan
istirahat. Diakhiri dengan kegiatan penutup sebagai
kegiatan untuk mengakhiri aktivitas belajar yang
biasanya berupa penyimpulan dan refleksi. Setiap model
pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh
karena itu guru atau pamong harus mempertimbangkan
dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran
yang tepat, efektif dan sesuai dengan kondisi,
kemampuan, serta sarana prasarana yang ada dalam
lingkungan pendidikan anak usia dini.
2. Pengertian Pembelajaran Literasi
Pembelajaran literasi pada anak usia dini atau
biasa disebut literasi dini merupaka upaya menanamkan
kebiasaan membaca pada anak sejak usia dini.
Kemampuan Literasi dini (Early Literacy Skills) bukan
17
hanya kemampuan berinteraksi dengan kegiatan menulis
dan membaca. Kemampuan ini adalah kemampuan anak
berinteraksi dengan segala hal yang menggunakan
bahasa, bahkan secara lisan, baik pasif maupun aktif.
Sehingga, cakupan kemampuan penguasaan membaca
adalah kemampuan membaca, menulis, mendengar,
berbicara, memahami dan berpendapat, serta
merenungkan dengan menggunakan bahasa. Oleh karena
itu, kemampuan ini diasah dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk memiliki
pengalaman melakukan dan beraktivitas ditengah
komunitas yang beraktivitas serupa.
Literasi dini adalah perkenalan simbol bahasa
melalui kegiatan membaca yang diajarkan secara
terprogram kepada anak prasekolah. Fokus dari program
ini yaitu perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam
konteks pribadi anak-anak dan bahan-bahan yang
diberikan melalui permainan dan kegiatan yang menarik
sebagai perantara pembelajaran. Selain merupakan
kegiatan yang terprogram, terdapat fleksibilitas ketika
guru ataupun orang tua harus mengaitkan kata dalam
cerita dengan kehidupan anak. Dikemukakan pula
18
definisi literasi dini yang mengarah pada sifatnya.
Literasi dini lebih menekankan kepada pengkondisian
anak masuk dan mengenal bahan bacaan. Belum sampai
pada pemahaman mendalam akan materi bacaan, apalagi
dituntut untuk menguasai materi secara menyeluruh, lalu
menyampaikan ide yang dibacanya. Hal tersebut dibahas
dari sudut pandang anak sebagai subjek pembelajaran.
Literasi dini merupakan tahap membaca yang
penekanannya berada pada proses perseptual yang
mengacu pada kemampuan anak dalam menghubungkan
rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang ada.
Literasi dini dalam pengertian ini adalah literasi
dini dalam teori keterampilan, maksudnya menekankan
pada proses penyandian membaca secara mekanis.
Literasi dini yang menjadi acuan adalah merupakan
proses recoding dan decoding. Membaca merupakan
suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses
yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan
secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali
dan membedakan gambar-gambar bunyi serta
kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca
mengasosiasikan gambar-gambar bunyi, kombinasinya
19
dengan makna yang dikandungnya. Dengan proses
tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma
menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata,
kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.
Dalam proses tersebut, anak mengamati tanda-
tanda baca atau gambar untuk membantu memahami
maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa
kegiatan berpikir dalam mengolah informasi yang
disebut decoding, memungkinkan gambar bunyi dan
kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi
makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world
dalam skema yang berupa kategorisasi sejumlah
pengetahuan dan pengalaman dalam ingatan.
Berdasarkan beberapa uraian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran literasi sebagai
perkenalan simbol bahasa yang diajarkan secara
terprogram dan fleksibel yang dilakukan oleh guru.
3. Tujuan Pembelajaran Literasi
Pembelajaran literasi di sekolah dilaksanakan
untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan
perkembangan definisi literasi, tujuan pembelajaran
20
literasi pun mengalami perubahan pembelajaran literasi
pada abad ke-21 memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
a. Membentuk siswa menjadi pembaca, penulis, dan
komunikator yang strategis.
b. Meningkatkan kemampuan berpikir dan
mengembangkan kebiasaan berpikir pada siswa.
c. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
d. Mengembangkan kemandirian siswa sebagai seorang
pemelajar yang kreatif, inovatif, produktif, dan
berkarakter (Abidin, dkk, 2018).
4. Kriteria Kesiapan Membaca Anak Usia Dini
Kesiapan anak usia dini untuk menerima
stimulasi kemampuan literasi dini ditandai dengan
beberapa kondisi. Kondisi tersebut dapat terlihat
beragam pada masing-masing anak. Pedak & Sudrajad
(2009) memaparkan bahwa terdapat beberapa bukti
ketika anak usia dini telah siap untuk membaca, yang
meliputi: (a) Bisa menyelesaikan kalimat pendek yang
tidak lengkap dengan kata-kata yang lengkap; (b)
mengerti nama benda dan kegunaannya; (c) bisa
mengingat nama benda dari gambar yang ditunjukkan;
21
(d) berpura-pura membaca; (e) mengerti nama-nama
binatang; (f) mengerti tentang huruf; (g) mengerti bahwa
sebuah tulisan memiliki arti yang bisa dibaca; (h) bisa
mengucapkan namanya sendiri; (i) mau dibacakan buku
setiap harinya; (j) bisa menjawab pertanyaan tentang
cerita pendek yang dibacakan; (k) bisa mengatakan
sesuatu tentang dirinya; (l) tertarik untuk melihat buku;
(m) bisa mengerti arti kata-kata dari cerita yang
dibacakan; (n) bisa mengerti nama temannya; (o)
mempunyai buku sendiri; (p) ingin mencoba menulis
namanya sendiri; (q) bisa mengatakan arti dari kata
sederhana; dan (r) mengerti nama bagian tubuhnya.
Berdasarkan beberapa uraian tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa dengan memahami kriteria membaca
yang dialami oleh setiap anak, maka dapat membantu
guru untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang
tepat dilakukan agar dapat meningkatkan kemampuan
membaca anak usia dini.
B. Media Pembelajaran
1. Pengertian media pembelajaran
Media pembelajaran mempunyai peranan yang
penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan
22
adanya media, proses kegiatan belajar mengajar akan
semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan media
diharapkan akan menumbuh kan dampak positif, seperti
munculnya proses pembelajaran yang lebih kondusif,
terjadinya umpan balik dalam proses belajar mengajar,
dan mencapai hasil yang optimal. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2005), Media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan anak yang dapat
memberikan rangsangan untuk belajar."
Secara umum, media pembelajran berguna untuk
menuntun dan mengarahkan murid untuk memperoleh
pengalaman belajar, Pengalaman belajar yang diperoleh
murid sergantung adanya interaksi murid dengan media.
1. Pengelompokan Media Pembelajaran
a. Media visual
Zaman, dkk (2011) media visual adalah media
yang menyampaikan pesan melalui penglihatan pemirsa
atau media yang hanya dapat dilihat. Untuk
penyampaian pembelajaran pada anak usia dini media
visual ini sangat tepat karena sesuai dengan sifat dan
cara belajar anak yang menhendaki pembelajaran secara
konkret. Jadi dapat dikatakan bahwa media audio lebih
23
banyak digunakan untuk meransang siswa dalam belajar
yang sifatnya didengarkan. Seperti halnya pemutaran
lagu-lagu yang pada saat bermain diluar kelas.
b. Media audio visual
Menurut Zaman dkk (2011) media audio visual
adalah kombinasi antara media audio dan media visual
atau biasa disebut media pandang dengar. Penggunaan
media audio visual ini untuk penyampaian pembelajaran
pada anak usia dini sangat tepat sekali karena media ini
akan dapat minat anak untuk belajar. Contoh dari media
audio visual ini di antaranya program televisi/video
pendidikan/instruksional, program slide suara.
Media Audiovisual digunakan dalam upaya
peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan
belajar mengajar. Agar dapat mengoptimalkan peranan
media pembelajaran yang digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran, maka harus diperhatikan prinsip-
prinsip penggunaannya antara lain:
1) Penggunaan media pembelajaran hendaknya
dipandang sebagai bagian integral dari suatu sistem
pengajaran.
24
2) Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai
sumber belajar yang digunakan dalam pemecahan
masalah yang dihadapi dalam proses belajar
mengajar.
3) Guru harus benar-benar menguasai teknik dari media
pembelajaran yang digunakan
4) Guru harus memperhitungkan untung ruginya
penggunaan media pembelajaran
5) Penggunaan media pengajaran harus diorganisir
secara sistematis bukan secara asal (sembarangan)
menggunakannya
6) Jika suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari satu
macam media maka guru dapat memanfaatkan
multimedia yang memperlancar proses belajar
mengajar.
C. Media Audio Visual (Ms Power Point)
1. Pengertian Power point
Software Microsoft Power Point salah satu hasil
dari kemajuan media dan teknologi yang paling banyak
dipakai oleh pengajar untuk pembelajaran. Microsoft
Power Point adalah software yang dikembangkan oleh
25
Microsoft yang bertujuan untuk melakukan presentasi
dengan menggunakan komputer. Ada banyak alasan
pengajar menggunakan media pembelajaran berbasis
power point dalam kegiatan pembelajaran.
Media berbasis Power Point lebih awet dan lebih
mudah penyimpanannya dibandingkan dengan media
yang lain seperti media nyata atau visual yang terbuat
dari kertas. Para orang tua/pendidik juga dapat saling
berbagai media ini dengan mudah.
Menurut (Rusman, 2013) microsoft power point
merupakan salah satu software yang paling banyak
digunakan oleh pendidik sebagai salah satu media
pembalajaran di sekolah atau perguruan tinggi karena
pengoperasiannya yang mudah dan kelengkapan
menunya.
Berdasarkan pendapat diatas bahwa untuk
menciptakan atau membuat media pembelajaran power
point yang berpusat pada pembelajaran pendidik
hendaknya dapat merancang media tersebut dengan baik.
Pada media power point kemudahan memilih animasi
dan menambahkan suara.
26
2. Langkah-Langkah Penggunaan Power Point
Penggunaan media pembelajaran power point
pada kegiatan belajar mengajar dapat menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Cara Membuka Power Point
Arsyad (2014) mengatakan ada beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk membuka power point,
yaitu:
(1). Klik Start kemudian sorot program pilih Microsoft
Office pilih Microsoft Power Point.
(2). Klik pada Shortcut atau icon Microsoft Power Point
yang ada pada dekstop komputer. Setelah anda
mengeksekusi atau memilih icon Microsoft Power
Point maka akan tampil lembar kerja program
Power Point.
1) Membuat dan menambahkan slide baru
Membuat Slide baru dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Cara pertama adalah dengan memilih
menu File kemudian pilih New ata kedua dengan
menekan tombol Ctl+N pada Keyboard. Kemudian akan
muncul beberapa pilihan pada New Presentation Task
Pane untuk membuat presentasi baru, antara lain: blank
27
presentation, from desaign template, from auto content
wizard, dan from existing presentation. Klik salah satu
dari beberapa pilihan tersebut. Setelah membuka Slide
yang diinginkan, dari jumlah slide yang ada maka dapat
ditambahkan beberapa Slide baru dengan kebutuhan.
Cara menambahkan Slide baru dalam Microsoft Power
Point adalah sebagai berikut: Pilih Insert pada menu Bar,
kemudian klik New Slide atau dengan menekan tombol
Ctl+M, maka akan muncul Slide baru sesuai dengan
keinginan.
[
D. Keterampilan Berbicara
1. Pengertian Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan hidup
manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia akan
berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan
bahasa sebagai alat utamanya. Berbicara adalah kegiatan
berbahasa yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berbicara seseorang dapat mengungkapkan
pikiran dan perasaannya kepada orang lain secara lisan
(Suhartono, 2005).
28
Keterampilan adalah kemampuan anak untuk
melakukan aktivitas seperti sosial emosional, kognitif,
motorik, berbahasa dan efektif. Keterampilan sama
dengan artinya kecekatan, yang dimana terampil atau
cekatan adalah kepandaian dalam melakukan suatu
pekerjaan dengan baik dan benar. Keterampilan juga
mencakup segala aspek, termasuk keterampilan
berbahasa.
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan
berbahasa yang harus dilatih kepada anak agar bisa
meningkatkan keterampilan berbicaranya. Sebagai
keterampilan yang paling sering digunakan dalam proses
pembelajaran bahasa maupun dalam kehidupan sehari-
hari, semestinya keterampilan berbicara ini dapat
dimiliki oleh setiap anak dengan baik.
Menurut Yudha dan Rudyanto (2005:7)
mengemukakan bahwa keterampilan adalah kemampuan
anak dalam melakukan berbagai aktivitas seperti
motorik, berbahasa, sosial emosional, kognitif dan
efektif. Kata keterampilan sama dengan artinya kata
cekatan, terampil atau cekatan adalah kepandaian dalam
melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan benar.
29
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa, keterampilan berbicara merupakan hal yang
sangat penting bagi anak, dan juga pada kecakapan anak
dalam berbicara saat mengekspresikan pendapatnya.
2. Aspek Keterampilan Berbicara Anak
Menurut Hurlock (Madyawati, 2016) tugas utama
dalam belajar berbicara mencakup tiga proses terpisah,
akan tetapi saling berhubungan satu sama lain, ketiga
aspek-aspek tersebut antara lain yaitu:
a. Pengucapan
Tugas pertama dalam belajar berbicara adalah
belajar untuk mengucapkan kata. Pengucapan yang
dipelajari dari meniru. Keseluruhan pada pola
pengucapan anak dapat berubah dengan cepat jika anak
tersebut ditempatkan dalam lingkungan baru yang orang-
orang di lingkungan tersebut mengucapkan kata-kata
yang berbeda.
b. Pengembangan kosa kata
Tugas kedua dalam belajar berbicara adalah
mengembangkan jumlah kosa katanya. Anak yang
mempelajari dua jenis kosa kata yakni kosa kata umum,
terdiri dari terdiri dari kata kerja, dan kata sifat serta
30
anak mempelajari kosa kata yang khusus, terdiri dari dari
kosa kata warna, menyebutkan bilangan dan telah
mampu untuk menghitung tiga objek, menyebutkan kosa
kata yang sesuai dengan ukuran dan warnanya.
Peningkatan jumlah kosa kata tidak hanya mempelajari
kata-kata yang baru, akan tetapi juga dapat mempelajari
arti baru bagi kata-kata yang lama.
c. Pembentukan Kalimat
Tugas ketiga dalam belajar berbicara yaitu dapat
menghubungkan kata ke dalam kata yang bahasanya
benar dan dapat untuk bisa dipahami oleh orang lain,
aspek ini merupakan hal yang sulit dari ketiga tugas
tersebut. Pada awal masa kanak-kanak terkenal sebagai
masa tukang ngobrol, karena sekali anak dapat berbicara
anak tidak akan berhenti berbicara. Setelah anak belajar
berbicara maka anak tersebut hampir tidak putus-putus
dalam berbicara.
3. Tujuan Pengembangan Berbicara Pada Anak
Berkaitan dengan pentingnya pengembangan
berbicara, maka berbicara perlu dikembangkan.
31
Suhartono menyatakan bahwa terdapat lima tujuan
umum dalam pengembangan berbicara yaitu:
a. Agar anak memiliki perbendaharaan kata yang cukup
sehingga dapat digunakan untuk berkomunikasi
sehari-hari;
b. Agar anak dapat mendengarkan dan memahami kata-
kata serta kalimat;
c. Agar anak mampu mengungkapkan pendapat dan
sikap dengan lafal yang tepat;
d. Agar anak berminat menggunakan bahwa yang baik;
dan;
e. Agar anak berminat untuk menghubungkan antara
bahasa lisan dengan tulisan (Suhartono, 2005).
4. Capaian Keterampilan Berbicara Anak
Keterapilan berbicara anak pada masa usia dini
diharapkan dapat berkembang dengan baik disetiap
jenjang usianya. Hurlock (2005) bahwa harusnya ada
banyak kemajuan yang dicapai oleh anak dalam
berbicara, seperti pada penambahan kosa-kata,
pengucapan, pembentukan kalimat, kemajuan dalam
pengertian, isi pembicaraan dan banyak bicara.
32
Penjelasan dari tugas belajar bicara pada anak-anak
adalah sebagai berikut:
a. Penambahan kosa kata atau jumlah kosa kata
Kosa kata anak-anak akan meningkat pesat ketika
anak-anak belajar kata-kata baru dan arti-arti baru untuk
menunjukkan kata-kata lama.
b. Pengucapan kata-kata
Anak-anak sulit untuk mengucapkan kata-kata
tertentu dan kombinasi bunyi dan kombinasi huruf
tertentu. Mendengarkan radio dan televise dapat
membantu belajar mengucapkan kata-kata dengan benar.
c. Membentuk kalimat
Kalimat yang bisanya terdiri dari tiga atau empat
kata sudah mulai bisa disusun oleh anak-anak usia dua
tahun dan anak usia tiga tahun Kalimat ini banyak yang
tidak lengkap, terutama terdiri dari benda dam kurang
kata kerja, kata depan dan kata penghubung. Sesudah
usia tiga tahun anak membentuk kalimat yang terdiri dari
enam sampai delapan kata.
A. Kemajuan atau peningkatan dalam pengertian
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain anak
dituntut untuk mengerti dengan apa yang dikatakan
33
orang lain. Kemampuan mengerti sangat dipengaruhi
cara anak mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang
lain kepadanya. Mendengarkan radio dan televisi
ternyata sangat membantu karena mendorong anak untuk
mendengarkan dengan penuh pengertian. Selain itu,
kalau orang berbicara dengan lambat dan jelas kepada
anak, dengan kata-kata yang sekirangay dimengerti oleh
anak, hal itu juga dapat mendorong anak untuk
mendengarkan dengan baik.
B. Isi pembicaraan
Pada mulanya pembicaraan anak bersifat egosentris
dalam arti sering bicara tentang dirinya sendiri, berkisar
pada minat, keluarga dan miliknya. Namun pada akhir
masa kanak-kanak pembicaraan mulai bersifat sosial dan
anak berbicara tentang orang lain disamping dirinya
sendiri.
C. Jumlah bicara
Awal masa kanak-kanak sering dikenal sebagai
masa tukang ngobrol, karena sekali anak-anak bisa
berbicara dengan mudah ia akan tidak putus-putus dalam
bicara.
34
5. Faktor Penunjang Keterampilan Berbicara Anak
Bicara merupakan keterampilan bagi anak,
sehingga berbicara dapat dipelajari dengan beberapa
metode yang berbeda. Ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi perolehan keterampilan berbicara anak.
Hal penting yang perlu disiapkan dalam belajar bicara
adalah persiapan fisik untuk berbicara, kesiapan mental
untuk berbicara, model yang baik untuk ditiru,
kesempatan untuk berpraktik, motivasi dan bimbingan,
media yang baik untuk diperagakan, kesempatan untuk
berpraktik, motivasi dan bimbingan. Dari hal-hal
tersebut, pengkondisian anak dalam belajar berbicara
harus diperhatikan secara seksama terutama dalam
proses pembelajaran di sekolah.
Sabarti Akhadiah, dkk (1992) menyebutkan
bahwa faktor penunjang dalam keterampilan berbicara,
yaitu:
a. Aspek kebahasaan
1) Ketepatan ucapan (pelafalan bunyi)
Anak harus dapat mengucapkan bunyi-bunyi bahasa
secara tepat dan jelas.
35
2) Penempatan tekanan, nada, jangka, intonasi, dan
ritme
Penempatan tekanan, nada, jangka, intonasi, dan
ritme yang sesuai akan menjadi daya tarik tersendiri
dalam berbicara, bahkan merupakan salah satu faktor
penentu dalam keefektifan berbicara.
3) Penggunaan kata dan kalimat
Penggunaan kata sebaiknya dipilih yang memiliki
makna dan sesuai dengan konteks kalimat. Anak juga
perlu dilatih menggunakan struktur kalimat yang benar.
b. Aspek non kebahasaan
1) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
Dalam berbicara harus bersikap wajar, tenang, dan
tidak kaku. Wajar berarti berpenampilan apa adanya,
tidak dibuat-buat. Lalu, sikap tenang adalah sikap
dengan perasaan hati yang tidak gelisah, tidak gugup,
dan tidak tergesa-gesa. Selanjutnya, dalam berbicara
juga tidak boleh kaku.
2) Pandangan yang diarahkan kepada lawan bicara
Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara
agar lawan bicara memperhatikan topik yang sedang
dibicarakan serta lawan bicara merasa dihargai.
36
3) Kesediaan menghargai pendapat orang lain
Dengan menghargai pendapat orang lain berarti
telah belajar menghormati pemikiran orang lain.
4) Gerak-gerik dan mimik yang tepat
Gerak-gerik dan mimik yang tepat berfungsi untuk
membantu memperjelas/menghidupkan pembicaraan.
5) Kenyaringan suara
Tingkat kenyaringan suara disesuaikan dengan
situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik (ruang
dengar) yang ada, yaitu tidak terlalu nyaring dan tidak
terlalu lemah.
6) Kelancaran
Kelancaran dalam berbicara akan mempermudah
untuk menangkap isi pembicaraan yang disampaikan.
7) Penalaran dan relevansi
Yaitu hal yang disampaikan memiliki urutan yang
runtut dan memiliki arti yang logis serta adanya saling
keterkaitan atau hubungan dari hal yang disampaikan.
6. Cara Meningkatkan Keterampilan Berbicara
Peningkatan keterampilan berbicara anak dapat
dilakukan dengan berbcara cara. Keterampilan berbicara
anak perlu dikembangkan. Pengembangan bicara anak
37
yaitu usaha meningkatkan kemampuan anak untuk
berkomunikasi secara lisan sesuai dengan situasi yang
dimaksudnya. Anak yang sejak kecil dilatih dan
dibimbing untuk berbicara yang baik, akan mampu
berpikir kritis dan logis. Dengan membimbing anak
berbicara sejak dini, akan banyak manfaatnya bagi anak
itu sendiri. Anak akan mampu mengungkapkan isi
hatinya secara lisan dengan lafal yang tepat, anak dapat
melafalkan bunyi bahasa yang digunakan, anak juga
mempunyai perbendaharaan kata yang banyak dan
mampu menggunakan kalimat untuk berkomunikasi.
Adapun cara untuk meningkatkan keterampilan
berbicara menurut Suhartono (2005) meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Membiasakan untuk berbicara dengan anak
Jika anak ingin cepat bisa bicara, sebagai orang tua
membiasakan diri untuk berbicara walaupun anak itu
masih bayi dan belum bisa bicara. Tidak akan terlalu dini
memulai berbicara kepada anak. Semakin sering
berbicara dengan anak, maka akan semakin cepat
perkembangan jalur auditoris yang ada di dalam otak
setiap anak.
38
b. Memandang mata anak
Melakukan kontak langsung dengan cara
memandang mata anak berarti kita mengajarkan kepada
anak bahasa isyarat dan ekspresi muka yang akan
dijadikan bekal untuk meningkatkan kemampuan
berbicara anak. Hal ini penting terutama dalam
memberikan instruksi dan menyuruh anak-anak.
c. Menghindari kebiasaan bicara pada anak dengan
pengejaan yang dibuat-buat
Ada kecenderungan seorang ibu mengucapkan kata-
kata tertentu kepada anaknya dengan ucapan yang
dibuat-buat. Pengucapan yang demikian mengakibatkan
anak tidak terbiasa mendengarkan ucapan sebenarnya.
Hal yang demikian menjadikan perkembangan bahasa
anak menjadi lambat. Anak akan belajar lebih akurat dan
efisien jika kita berusaha secara benar dan jelas mengeja
setiap kata yang kita ucapkan.
d. Berbicara apa yang benar-benar dilakukan dan
dialami anak
Jika sebagai orang tua melakukan aktivitas dan
diikuti oleh anak, deskripsikanlah apa yang kita lakukan
dan dialami anak. Pada waktu kita sedang memberi
39
makan, mandi atau menggendong anak, deskripsikan apa
yang dialami anak.
e. Berkata lebih banyak daripada yang diminta
Jika anak meminta sesuatu kepada orang tua,
sebaiknya orang tua menjawab secara lebih panjang dan
jelas. Kata-kata yang digunakan dalam kelimat orang tua
sebaiknya lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan
kata-kata yang diucapkan anak. Hal tersebut
memungkinkan anak tidak akan mengetahui secara
detail, namun beberapa dari informasi baru sudah masuk
dalam memorinya. Selain itu, kosa kata anak akan
semakin bertambah banyak.
f. Menggunakan tata bahasa yang benar dalam
berbicara
Pada periode kritis untuk menguasai tata bahasa
terjadi sebelum umur tiga tahun. Anak anda akan meniru
struktur bahasanya sesuai dengan pola-pola yang ia
dengar selama kehidupan sehariannya. Oleh karena itu,
gunakan ucapan yang secara tata bahasa benar.
g. Dengan lembut membetulkan kesalahan anak
Daripada menunjuk dengan kasar kesalahan ejaan
dan tata bahasa seorang anak, orang tua bisa
40
menawarkan pembenaran yang lembut namun efektif
sebagai bagian dari percakapan. Setiap anak akan meniru
bentuk tata Bahasa yang benar dan membetulkan
kasalahan.
h. Melakukan percakapan dengan anak
Kadang-kadang dalam percakapan ada kalanya kita
menggunakan Bahasa isyarat atau gerakan-gerakan
anggota badan. Anak mungkin tidak akan menggunakan
kata-kata, namun ia dapat berpartisipasi dalam
percakapan yang saling mengisi. Ikutilah ambil bagian
ketika berbicara atau berinteraksi dengan anak. Saling
bertukar senyum atau kata-kata dari canda merupakan
langkah awal, namun hal itu penting bagi anak untuk
mempelajari struktur dasar percakapan.
i. Tidak memaksa anak menghafalkan kata
Menghafalkan kata merupakan bagian dari kegiatan
anak sehari-hari. Anak biasanya senang menghafal kata-
kata tertentu yang baru dikenalnya. Kesadaran untuk
menghafal kata pada diri anak untuk muncul bila ada
rangsangan. Sebaiknya tidak memaksa anak untuk
menghafal kata. Usahakan anak sadar sendiri akan
kebutuhan kata-kata baru yang belum diketahuinya.
41
j. Hati-hati dengan infeksi telinga
Anak-anak yang memiliki penyakit kronis atau
kambuhan sebelum berumur empat tahun akan
mengalami kehilangan pendengaran secara temporal
yang dapat mengganggu perkembangan kemampuan
bicara dan kemampuan membaca. Anak-anak ini
mungkin tidak akan mampu membedakan antara suara
tertentu seperti "eh" dan "sih" tanpa melalui terapi
ucapan.
42
BAB III
PANDUAN PENGGUNAAN MODEL
A. Prosedur Pembuatan Media Literasi Berbasis
Power Point
Terdapat beberapa langkah-langkah dalam
membuat media literasi berbasis audio visual dengan
menggunakan media power point yakni sebagai berikut:
1. Cara membuka Power Point
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
membuka Power Point, yaitu sebagai berikut:
a. Klik Start kemudian sorot program pilih Microsoft
Office pilih Microsoft Power Point.
b. Klik pada Shortcut atau icon Microsoft Power Point
yang ada pada dekstop komputer. Setelah anda
mengeksekusi atau memilih icon Microsoft Power
Point maka akan tampil lembar kerja program Power
Point.
2. Membuat dan menambahkan slide baru
Membuat Slide baru dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Cara pertama adalah dengan memilih
menu File kemudian pilih New ata kedua dengan
43
menekan tombol Ctl+N pada Keyboard. Kemudian akan
muncul beberapa pilihan pada New Presentation Task
Pane untuk membuat presentasi baru, antara lain: blank
presentation, from desaign template, from auto content
wizard, dan from existing presentation. Klik salah satu
dari beberapa pilihan tersebut. Setelah membuka Slide
yang diinginkan, dari jumlah slide yang ada maka dapat
ditambahkan beberapa Slide baru dengan kebutuhan.
Cara menambahkan Slide baru dalam Microsoft Power
Point adalah sebagai berikut: Pilih Insert pada menu Bar,
kemudian klik New Slide atau dengan menekan tombol
Ctl+M, maka akan muncul Slide baru sesuai keinginan.
B. Indikator Keterampilan Berbicara Anak
Indikator keterampilan berbicara yang akan
dikembangkan degan mengacu pada Permen 137 Tahun
2014 adalah sebagai berikut:
1. Pengucapan; anak dapat menyusun kalimat
sederhana, anak mampu menyusun kalimat dengan
struktur lengkap.
2. Pilihan kata; anak mampu mengekpresikan ide, anak
mampu menggunakan 5-6 kata.
44
3. Kelancaran; menjawab pertanyaan yang lebih
kompleks
C. Aspek Pendukung Pembelajaran
Aspek yang mendukung dalam penerapan model
pembelajaran literasi berbasis audio visual dengan media
power point untuk meningkatkan keterampilan berbicara
anak usia dini yaitu sebagai berikut:
1. Ruang belajar
Kegiatan pembelajaran ini dilakukan di dalam
ruangan (indoor) karena menggunakan media elektronik
berupa laptop/komputer
2. Interaksi guru dan anak
Guru dapat lebih berinteraksi dengan anak untuk
meningkatkan kemampuan berbicara, salah satunya
dengan melakukan tanya jawab kepada anak.
D. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
Penerapan penerapan model pembelajaran literasi
berbasis audio visual dengan media power point untuk
meningkatkan keterampilan berbicara anak, tentunya
guru harus memahami apa saja peran yang harus
dilakukan guru. Adapun peran tersebut yakni:
1. Guru menjelasan tujuan pembelajaran
45
2. Guru menyampaikan dengan jelas apa yang ada di
media power point tersebut
3. Setelah kegiatan dilakukan, guru melakukan refleksi
kepada anak tentang kegiatan yang akan dilakukan
4. Guru pada hal ini banyak berperan sebagai fasilitator
sehingga anak menjadi lebih aktif dalam kegiatan.
E. Peran Anak dalam Proses Pembelajaran
Terdapat beberapa peran anak saat melakukan
penerapan alat permainan kartu huruf hijaiyah yakni
sebagai berikut:
1. Anak memahami langkah-langkah kegiatan
pembelajaran dengan media power point.
2. Anak memiliki kontrol diri dalam menggunakan
media power point tersebut.
3. Setelah selesai hendaknya masing-masing anak
mengucapkan kembali apa yang tadi telah dipelajari
dengan menggunakan media power point.
F. Kriteria Penilaian Keterampilan Berbicara
Berdasarkan beberapa indikator keterampilan
berbahasa anak usia dini. Tentunya dalam melakukan
penilaian harus sesuai dengan kriteria masing-masing
46
indikator. Adapun kriteria penilaian keterampilan
berbicara anak usia dini yakni sebagai berikut:
1. Pengucapan : “Anak dapat menyusun kalimat
sederhana”
a. SB : Anak telah dapat menyusun kalimat sederhana
dengan tepat dan dapat mengarahkan temannya.
b. B : Anak telah dapat menyusun kalimat sederhana
dengan tepat.
c. C : Anak mulai dapat menyusun kalimat sederhana
namun belum tepat.
d. K : Anak belum dapat menyusun kalimat sederhana.
2. Pengucapan : “Anak mampu menyusun kalimat
dalam struktur lengkap”
a. SB : Anak mampu menyusun kalimat dalam struktur
lengkap dengan tepat dan mampu membantu
temannya.
b. B : Anak mampu menyusun kalimat dalam struktur
lengkap dengan tepat.
c. C : Anak mulai mampu menyusun kalimat dalam
struktur lengkap namun dengan bantuan guru.
d. K : Anak belum mampu menyusun kalimat dalam
struktur lengkap.
47
3. Pilihan Kata : “Anak mampu mengekpresikan ide”.
a. SB : Anak mampu mengekspresikan ide dan mampu
memotivasi temannya.
b. B : Anak mampu mengekspresikan ide.
c. C : Anak mulai mampu mengekspresikan ide namun
dengan arahan guru.
d. K : Anak belum mampu mengekspresikan ide.
4. Pilihan Kata : “Anak mampu menggunakan 5-6
kata”
a. SB : Anak mampu menggunakan lebih dari 5-6 kata.
b. B : Anak mampu menggunakan 5-6 kata.
c. C : Anak mulai mampu menggunakan lebih dari 5-6
kata namun belum tepat.
d. K : Anak belum mampu menggunakan lebih dari 5-6
kata.
5. Kelancaran : Anak mampu menjawab pertanyaan
yang lebih kompleks
a. SB : Anak dapat menjawab pertanyaan yang lebih
kompleks dengan tepat dan dapat mengarahkan
temannya.
b. B : Anak dapat menjawab pertanyaan yang lebih
kompleks dengan tepat.
48
c. C : Anak dapat menjawab pertanyaan yang lebih
kompleks namun belum tepat.
d. K : Anak belum dapat menjawab pertanyaan yang
lebih kompleks.
G. Instrumen Penilaian Keterampilan Berbicara
Penilaian sebagai tahapan penting dalam sebuah
kegiatan pembelajaran sebab dengan penilaian maka
guru dapat mengetahui bagaimana capaian anak dalam
mengikuti kegiatan belajar. Penilaian sebagai salah satu
tugas guru setelah melakukan proses belajar mengajar
pada anak serta dengan penilaian tersebut maka guru
dapat menentukan langkah apa yang akan dilakukan
selanjutnya.
Penilaian keterampilan berbicara pada anak usia dini
yang dilakukan oleh guru dapat menggunakan 4 (empat)
skala penilaian yakni terdiri dari: Sangat Baik (SB), Baik
(B), Cukup (C) dan Kurang (K).
Selain itu, dalam melakukan penilaian tentunya
menggunakan lembar penilaian untuk memudahkan guru
dalam mengetahui capaian perkembangan yang
diperoleh setiap anak. Adapun bentuk intrumen penilaian
49
keterampilan berbicara anak usia dini yang dapat
digunakan guru pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran
ini yaitu sebagai berikut:
50
BAB IV
PENUTUP
Panduan penerapan model pembelajaran literasi berbasis
audio visual dengan media power point untuk
meningkatkan keterampilan berbicara anak usia dini ini
diharapkan dapat membantu guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar di sekolah, dimana guru
merupakan sumber belajar utama di sekolah. Dengan
adanya buku panduan ini, guru dapat lebih melaksanakn
pembelajaran sebagaimana mestinya khususnya dalam
meningkatkan kemampuan berbicara anak usia dini.