1
Wilayah Condet yang Bersejarah
Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. Ci
memiliki arti air dan Ondet atau ondeh-ondeh merupakan nama sebuah pohon
semacam pohon buni yang buahnya bisa dimakan. Ondet, atau ondeh, atau ondeh –
ondeh, adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg.,
termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888:128), semacam pohon buni, yang
buahnya biasa dimakan.
Selain itu masyarakat meyakini bahwa Condet berasal dari nama seorang yang
memiliki kesaktian dan punya bekas luka di bagian wajahnya atau codet, orang sakti
tersebut sering sekali muncul di kawasan Batuampar, Balekambang dan Pejaten
yang diduga sebagai Pangeran Geger atau Ki Tua dengan nama sesungguhnya
sebagai Haji Entong, yang dikenal berani menentang kolonial Belanda. Dimana
aksi Entong yang melakukan aksi bersama 200 pengikutnya dengan melakukan
perusakan kendaraan milik tuan tanah Tandjong Oost D.C. Kawasan Condet
dikategorikan sebagai kampung karena karakteristiknya yang unik dan istimewa.
Sejarah salak condet Dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa buah satu
ini berasal dari kawasan Condet, Jakarta Timur. Keberadaan buah ini memang tak
lepas dari kawasan Condet yang berasal dari kata Ci Ondet yang merupakan anak
Sungai Ciliwung. Lokasinya yang berada di daerah aliran sungai membuat tanahnya
subur dan cocok untuk berkebun serta bertani.
2
Suburnya lahan Condet membuat Willem Vincent Helvetius van Riemsdjik jatuh
hati. Willem Helevetius merupakan tuan tanah sekaligus putra Gubernur Jenderal
Jeremies van Riemsdjik yang membeli Condet dari Jacobus Johannes Craan pada
tahun 1770 silam. Kemudian, Helvetius mengembangkan Condet menjadi kawasan
pertanian dan peternakan. Selain menghasilkan beras, kawasan ini juga
memproduksi tanaman buah berkualitas seperti salak, duku, durian, gandaria,
nangka, dan mangga.Karena pemberian pupuk organik dari kotoran sapi, kerbau,
dan kambing menjadikan kualitas serta rasa buah-buahan asal Condet terkenal di
kalangan elite Belanda. Lalu, setelah kemerdekaan, Condet pun terus tumbuh
menjadi kawasan penghasil buah terutama salak dan duku yang dikelola oleh
masyarakat asli Jakarta yaitu Betawi.
Bahkan hasil bumi dari Condet ini bersama produk buah nusantara lainnya
disuguhkan kepada para tamu di era Presiden Soekarno. Maka, Gubernur Ali
Sadikin menetapkan Condet sebagai cagar buah-buahan. Pada puncak kejayaannya
tahun 1970-an, produksi Salak Condet mencapai 285,7 ton dari dua kali masa panen
terutama di bulan Desember. Panen sebesar itu didapat dari 1.656.600 rumpun
pohon salak yang tumbuh di atas lahan seluas total 300 hektare. Buah warna cokelat
dengan kulit bersisik serta sedikit duri tipis dijual penduduk ke sentra buah Pasar
Minggu yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Condet. Buah-buahan tersebut
pun dibawa melewati aliran Sungai Ciliwung dengan perahu dari bambu.
Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan, salah satu narasumber yaitu
bapak Ruslan yang merupakan Ketua Forum Lintas Ormas atau FLO Kramat Jati
mengungkapkan bahwa benar pada condet masa dahulu terdapat pahlawan dari
3
condet dan bukan hanya sebuah legenda saja, namanya kong gendut atau Haji
Entong Gendut. Beliau merupakan pahlawan yang melawan penjajah dahulu dan
merupakan orang sakti. Sampai sekarang tapak tilas atau makamnya masih belum
ada yang tahu atau ditemukan.
Wilayah Condet dibagi menjadi 2, yaitu balekambang dan batu ampar. "Pada
bagian Condet batu ampar, itu dulu setiap mau dijajah oleh belanda kelihatannya
batu saja padahal perkampungan. Kalo wilayah Bale Kambang itu ada bale yg
ngambang. Saat jaman dahulu itu ada banyak oang-orang sakti". Ujar bapak Ruslan.
Kemudian terdapat juga Mitos pada wilayah Condet. Yaitu adanya makam para
wali, atau biasa disebut makam keramat. Makam keramat ini merupakan tempat
sakti. Jadi tidak sembarang orang bisa masuk. Namun sekarang makam ini bisa
didatangi untuk ziarah dan sudah dikunjungi oleh banyak orang. "Condet terkenal
akan penghasil buah salak dan dukuh, makanya dibuatlah tugu salak. Namun saat
ini semuanya sudah menjadi kenangan, karena kebanyakan lahan sudah menjadi
tempat rumah" ujar bapak Ruslan.
Dahulu kala Condet terkenal dengan kebun buah duku dan salak. Namun seiring
dengan semakin banyaknya penduduk, kebun-kebun duku dan kebun-kebun salak
berubah menjadi pemukiman penduduk.
Haji Entong Gendut, adalah sebuah nama jalan di kawasan Jakarta Timur yang
cukup terkenal. Rupanya nama jalan tersebut memiliki sejarah yang cukup
membekas di masa lalu. Ya, Haji Entong Gendut merupakan seorang pendekar
jawara atau jagoan dari Condet Timur yang terkenal tangguh dan teguh dalam
4
memegang prinsip. Dia bahkan sempat mendapat tawaran dari Belanda untuk
menjadi raja muda di Condet. Namun dengan prinsip membela yang benar, tawaran
itu pun ditolaknya.
Dilansir dari berbagai sumber, Peristiwa itu berawal dari penjajahan Belanda
terhadap warga Condet. Pada masa itu hampir seluruh tanah di wilayah Kampung
Gedang di Condet tersebut dikuasai oleh tuan tanah. Pajak juga diterapkan oleh
mandor pemilik tanah yang harus dibayar warga setempat. Pajak sebesar 25% yang
harus dibayar setiap minggu tentunya sangat memberatkan warga sekitar lantaran
harga beras saat itu hanya berkisar 4 sen per kilogram.
Apabila ada warga yang tak sanggup membayar pajak, maka harus melakukan
kerja paksa. Kerja ini dilakukan dengan mencangkul sawah dan kebun milik
Belanda selama sepekan. Hukum ini jauh lebih berat bagi pemilik sawah atau kebun.
Hukumannya berupa sawah dan kebun miliknya itu tidak boleh dipanen.
Menyaksikan penderitaan di depan matanya sendiri, Haji Entong Gendut sangat
marah dan tak terima. Pada 5 April 1916 mulailah dikumpulkan seluruh rakyat
Condet untuk berperang melawan penindasan ini. Villa Nova adalah nama perang
tersebut, villa ini ditempati oleh Lady Lollison dengan para pengawalnya. Sekitar
30 pemuda Condet bersama haji Entong Gendut mulai menyerbu tempat tersebut.
Sayangnya bala bantuan Belanda yang datang tidak dapat diredam oleh pasukan
Condet ini.
5
Haji Entong Gendut juga harus gugur dalam pertempuran tersebut. Pejuang satu
ini harus gugur terkena timah panas Belanda ketika melakukan penyerbuan ke
rumah tuan tanah di Kampung Gedong.
Untuk mengenang pengorbanan dan jasanya, namanya sempat menjadi nama
sebuah jalan, namun seiring berjalannya waktu nama tersebut diubah menjadi Jl.
Ayaman yang merupakan tuan tanah di lokasi tersebut. Senin (20/6/2022) nama
Entong Gendut kembali muncul dan diabadikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies
Baswedan sebagai nama jalan di kawasan Condet, Kelurahan Batu Ampar,
Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur tepatnya persimpangan Jalan Batu Ampar I
hingga titik akhir persimpangan Jalan Raya Condet.
Secara umum kawasan ini didominasi dengan lahan kebun dan rumah dengan
mayoritas penduduk kalangan menengah ke bawah, yang istimewa adalah
kedudukan Condet yang berada di garis historis perkembangan Jakarta, yaitu sungai
Ciliwung yang menghubungkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan dengan bagian-
bagian lain Jakarta.
Kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Batuampar,
Kampung Tengah (dahulu disebut Kampung Gedong), dan Balekambang termasuk
wilayah Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.
Kecamatan Batu Ampar merupakan kecamatan di Kabupaten Kubu Raya yang
memiliki luas wilayah 2.002,00 km² dan terdiri dari 15 desa. kecamatan Batu
Ampar merupakan kecamatan paling luas di Kubu Raya dengan Luas wilayahnya
yang hampir 29 persen dari luas kabupaten Kubu Raya. Adapun jumlah penduduk
6
di batu Ampar hingga semester 1 2010 berjumlah 36,240 jiwa dengan perbandingan
18,737 laki-laki dan 17,503 perempuan. Kecamatan Batu Ampar bagian utara
berbatasan dengan Kecamatan Kubu dan Kecamatan Terentang. Di bagian Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara dan Bagian Barat berbatasan dengan
Selat Karimata. Di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau dan
Kabupaten Ketapang.
Camat yang pernah dan masih menjabat di Kecamatan Baru Ampar adalah sebagai
berikut
1. Syarif Ismail
2. Syarif Bujang
3. Daeng Ibrahim
4. Toegimin
5. Ismail Saidi
6. M. Gondang Hz
Taman balekambang pada awalnya bernama Partini Tuin dan Partinah Bosch yang
dibangun oleh KGPAA Mangkunegara VII pada tanggal 26 Oktober 1921. Karena
rasa sayang pada kedua putrinya, GRAy Partini Husein Djayaningrat dan GRAy
Partinah Sukanta, maka dibuatlah sebuah taman dengan mengabadikan nama
keduanya.
Berdasarkan sumber lain Bale kambang memiliki sejarah yaitu pada zaman dahulu
ada sepasang suami istri namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, mereka
memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya perempuan diberi nama Siti
7
Maemunah terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak Pangeran Tenggara
atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta
dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan di atas empang, dekat Kali
Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan
menurut legenda esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di pinggir Kali
Ciliwung.
Anggota Kelompok:
o Andy Yunus
o Dewi Anjani
o Farrel Al islami
o Najwa Nayla
o Rozza Yolla
8
Daftar Pusaka
Artikel:
1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Condet#:~:text=Sejarah,buni%2C%20yang
%20buahnya%20biasa%20dimakan
2. https://jakarta.suara.com/read/2021/06/16/094429/asal-usul-condet-dan-
legenda-haji-entong-gendut-kesatria-berwajah-codet?page=3
3. https://kabare.id/berita/sejarah-panjang-condet-pernah-menjadi-tempat-
peristirahatan-favorit-pejabat-belanda
4. https://id.scribd.com/doc/34881119/6516621-Asal-Usul-Nama-Tempat-
Di-Jakarta
Buku:
1. Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Karya Rachmat Ruchiat
Wawancara:
1. Bapak Ruslan, Ketua Forum Lintas Ormas ( FLO) Kramat Jati
9