The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

pengertian, struktur, kebahasaan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by abdiyahwahab92, 2020-10-28 03:32:58

Teks Editorial

pengertian, struktur, kebahasaan

Keywords: teks editorial

TEKS
EDITORIAL

Subjudul

Abdiyah, S.Pd.

Penerbit

TEKS EDITORIAL

Penulis
Copyright © 2015 by Penulis

Diterbitkan oleh:
Penerbit

Alamat penerbit
Penyunting:
Tata letak:
Desain Cover:

Terbit: bulan, tahun
ISBN:

Hak Cipta dilindungi undang-undang

2 | Judul Buku

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
bentuk dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Kata Pengantar

P uji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan kita nikmat sehat, iman, dan
islam. Sehingga penulis mampu menyelesaikan
buku bahan ajar ini.

Buku ajar ini berisi materi pembelajaran bahasa
Indonesia tentang pengertian, tujuan, kebahasaan dan
struktur teks editorial.

Penulis menyadari buku ini memiliki banyak
kekurangan. Sehingga sumbang saran demi kebaikan buku
ini penulis tunggu.

Judul Buku | 3

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihaak yang terlah memberikan motivasi sehingga buku
bahan ajar ini selesai.

4 | Judul Buku

Daftar Isi

Kata Pengantar ................................................... 3
Daftar Isi .......................................................... 5
Pengertian ........................................................ 6
Struktur............................................................ 7
Kebahasaan ....................................................... 9
Contoh Teks Editorial .......................................... 11
PENULIS........................................................... 12

Judul Buku | 5

Pengertian

Teks editorial adalah teks yang ditulis oleh
redaktur surat kabar berisi opini atau
pendapat mengenai isu yang aktual,
fenomenal, dan kontroversial.
Aktual adalah

6 | Judul Buku

Struktur

Struktur teks editorial terdiri dari tiga bagian,
yaitu
1. Tesis (pengenalan Isu)
Bagian ini adalah pembuka dari suatu persoalan aktual
yang ditulis. Sehingga, pengenalan isu dalam paragraf
sangat dibutuhkan untuk memberikan konteks awal
kepada pembaca. Bagian ini dapat berisi pengenalan isu
utama yang menjadi sorotan, tokoh, opini masyarakat
(pro-kontra), dan hal umum lain yang membantu.

2. Argumen (penyampaian pendapat)
Pembahasan mendetail mengenai peristiwa yang
dikomentari penguatan terhadap pendapat dalam bentuk
argumen logis maupun data faktual. Bagian ini
merupakan tanggapan para penyusun media yang
bersangkutan (redaktur) mengenai kejadian, peristiwa
atau persoalan aktual yang sedang disoroti dalam teks
editorial. Pada bagian ini redaktur dapat menunjukkan di
mana posisinya (keberpihakannya) terhadap isu yang

Judul Buku | 7

dibahas, setuju? Tidak setuju? atau justru hanya
mengapresiasi dan memberikan pujian saja.
3. Penegasan (ulang)
Merupakan saran, rekomendasi, kesimpulan, hingga
harapan yang berkaitan dengan solusi ataupun sekedar
prediksi ke depan mengenai berita yang dikomentari.
Bagian ketiga ini adalah penutup dan dapat dikatakan
menjadi sikap akhir, saran, kesimpulan, maupun
rekomendasi dari informasi yang dikomentari.

8 | Judul Buku

Kebahasaan

Kebahasaan dalam teks editorial, yaitu
1. Menggunakan kalimat retoris
Kalimat retoris yang sering digunakan
adalah kalimat pertanyaan yang tidak ditujukan
untuk dijawab namun untuk merangsang pembaca
agar merenungkan suatu masalah lebih dalam.

2. Penggunaan kata-kata populer
sehingga lebih mudah untuk dicerna oleh

khalayak masyarakat seperti: menengarai,
pencitraan, balada, terkaget-kaget, dsb.
Penggunaan kata populer juga ditujukan agar
pembaca tetap rileks meskipun tulisan dipenuhi
tanggapan kritis.

3. Menggunakan kata ganti penunjuk
yang merujuk tempat, peristiwa, waktu,

seperti: ini, itu, ke sini, begitu.

Judul Buku | 9

4. Menggunakan kata penghubung atau konjungsi
kausalitas (sebab-akibat)
seperti: sehingga, karena, sebab, oleh sebab itu
(Kemdikbud, 2017, hlm. 100).

10 | J u d u l B u k u

Contoh Teks Editorial

Contoh teks editorial
Jangan Hanya Bergantung pada Vaksin
Langkah pemerintah dalam membentuk
Tim Nasional Percepatan Pengembangan
Vaksin Covid-19 pada pekan lalu memperlihatkan bahwa
pemerintah mengandalkan ketersediaan vaksin sebagai
jalan keluar dari pandemi ini. Tim yang terdiri dari sederet
menteri, lembaga riset, perguruan tinggi, serta Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan bertugas hingga
31 Desember tahun depan.

Namun terdapat sejumlah masalah mendasar dari
kebijakan pemerintah tersebut. Pertama, tugas dan
fungsinya dapat tumpang tindih dengan Komite Penanganan
Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang sudah
dibentuk oleh Presiden. Meskipun masih sama-sama
dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga
Hartato, keberadaan tim ini berpotensi menghambat
birokrasi. Apalagi masyarakat juga belum melihat hasil
kerja nyata komite di lapangan.

Kedua, keberadaan tim tersebut juga berpotensi
berbenturan dengan tugas Konsorsium Riset dan Inovasi
Covid-19 yang dipimpin oleh Kementrian Riset dan

J u d u l B u k u | 11

Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional. Selain
menghasilkan rapid test (tes cepat covid) dan ventilator,
konsorsium ini juga sedang mengembangkan vaksin Merah
Putih bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institue.
Sebetulnya, pemerintah bisa saja cukup menugasi
konsorsium ini untuk melaksanakan instruksinya perihal
percepatan pengembangan vaksin.

Selain itu, ruang lingkup tim ini tidak terlalu jelas.
Pembuatan vaksin yang mumpuni pastinya memerlukan
waktu yang tidak sedikit dan tidak boleh terburu-buru.
Misalnya, masyarakat tentunya tidak mau percepatan
pengembangan vaksin Merah Putih malah memicu
pertanyaan dunia riset global akan kredibilitasnya yang
bahkan pemerintahnya saja terkesan tidak percaya dan
membentuk tim lain untuk melakukannya.

Kemudian, Pemerintah seharusnya sangat paham
bahwa uji klinis tahap ketiga adalah tahap paling penting
dari perancangan vaksin atau obat. Uji klinis fase terakhir
ini tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. AstraZeneca
dan Universitas Oxford bahkan terpaksa menghentikan uji
klinis buatan mereka ketika menemukan peserta uji klinis
di Inggris mengalami efek samping yang serius. Sehingga,
rasanya tidak akan banyak yang bisa dilakukan oleh tim
nasional bentukan Presiden ini.

Daripada hanya mengandalkan vaksin saja, sebaiknya
pemerintah bisa memperbaiki kapasitas pengetesan dan
pelacakan pasien suspect. Melalui berbagai pusat layanan
kesehatan sebetulnya pemerintah dapat memperbaiki
kualitas pengobatan pasien dan kesiapan tenaga medis agar
angka kematian pasien COVID-19 tidak terus meningkat.

Tanpa upaya terpadu yang melibatkan seluruh
elemen masyarakat, tumpuan harapan pada satu solusi saja

12 | J u d u l B u k u

bisa dapat berujung pada masalah baru. Terutama jika
waktu pengembangan vaksin jauh lebih lama dari apa yang
dijanjikan oleh pemerintah. Pemerintah tidak boleh
menyimpan semua telur dalam satu keranjang, upaya
pengendalian wabah secara holistik dan ketat harus tetap
dilakukan melalui berbagai sudut.

https://koran.tempo.co/read/editorial/457766/jangan-
bergantung-hanya-pada-vaksin

J u d u l B u k u | 13

ANALISIS STRUKTUR

Analisis teks editorial tersebut adalah sebagai berikut:
Pengenalan Isu (Tesis)

Langkah pemerintah dalam membentuk Tim Nasional
Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 pada pekan lalu
memperlihatkan bahwa pemerintah mengandalkan
ketersediaan vaksin sebagai jalan keluar dari pandemi ini.
Tim yang terdiri dari sederet menteri, lembaga riset,
perguruan tinggi, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) akan bertugas hingga 31 Desember tahun depan.

Penyampaian Pendapat (Argumen)

Namun terdapat sejumlah masalah mendasar dari
kebijakan pemerintah tersebut. Pertama, tugas dan
fungsinya dapat tumpang tindih dengan Komite Penanganan
Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang sudah
dibentuk oleh Presiden. Meskipun masih sama-sama
dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga
Hartato, keberadaan tim ini berpotensi menghambat
birokrasi. Apalagi masyarakat juga belum melihat hasil
kerja nyata komite di lapangan.

14 | J u d u l B u k u

Kedua, keberadaan tim tersebut juga berpotensi
berbenturan dengan tugas Konsorsium Riset dan Inovasi
Covid-19 yang dipimpin oleh Kementrian Riset dan
Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional. Selain
menghasilkan rapid test (tes cepat covid) dan ventilator,
konsorsium ini juga sedang mengembangkan vaksin Merah
Putih bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institue.
Sebetulnya, pemerintah bisa saja cukup menugasi
konsorsium ini untuk melaksanakan instruksinya perihal
percepatan pengembangan vaksin.

Selain itu, ruang lingkup tim ini tidak terlalu jelas.
Pembuatan vaksin yang mumpuni pastinya memerlukan
waktu yang tidak sedikit dan tidak boleh terburu-buru.
Misalnya, masyarakat tentunya tidak mau percepatan
pengembangan vaksin Merah Putih malah memicu
pertanyaan dunia riset global akan kredibilitasnya yang
bahkan pemerintahnya saja terkesan tidak percaya dan
membentuk tim lain untuk melakukannya.

Kemudian, Pemerintah seharusnya sangat paham
bahwa uji klinis tahap ketiga adalah tahap paling penting
dari perancangan vaksin atau obat. Uji klinis fase terakhir
ini tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. AstraZeneca
dan Universitas Oxford bahkan terpaksa menghentikan uji
klinis buatan mereka ketika menemukan peserta uji klinis
di Inggris mengalami efek samping yang serius. Sehingga,
rasanya tidak akan banyak yang bisa dilakukan oleh tim
nasional bentukan Presiden ini.

Penegasan Ulang

Daripada hanya mengandalkan vaksin saja, sebaiknya
pemerintah bisa memperbaiki kapasitas pengetesan dan
pelacakan pasien suspect. Melalui berbagai pusat layanan
kesehatan sebetulnya pemerintah dapat memperbaiki

J u d u l B u k u | 15

kualitas pengobatan pasien dan kesiapan tenaga medis agar
angka kematian pasien COVID-19 tidak terus meningkat.

Tanpa upaya terpadu yang melibatkan seluruh
elemen masyarakat, tumpuan harapan pada satu solusi saja
bisa dapat berujung pada masalah baru. Terutama jika
waktu pengembangan vaksin jauh lebih lama dari apa yang
dijanjikan oleh pemerintah. Pemerintah tidak boleh
menyimpan semua telur dalam satu keranjang, upaya
pengendalian wabah secara holistik dan ketat harus tetap
dilakukan melalui berbagai sudut.

16 | J u d u l B u k u

PENULIS

A bdiyah Wahab terlahir di Cilegon pada
25 Maret 1992. Anak ke enam dari pasangan
Bapak H.Abdul Wahab dan Ibu Hj. Zulaehah.
Pendidikan formalnya di awal dari SDN Kepuh Denok, MtsN
Anyer, SMAN 1 Cilegon, dan sarjananya Tinggal di link.
Kubang menyawak Lulusan S1 pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Untirta. Kini mengajar di SMA Al Fath.

J u d u l B u k u | 17


Click to View FlipBook Version