MATERI YADNYA ( KWALITAS YADNYA DAN TINGKATAN YADNYA) 1. Kualitas dan Tingkatan Yajña Kualitas Yajña Ada tiga kualitas yajña, menurut Bhagavadgita XVII. 11, 12, dan 13 menyebutkan ada tiga Yajña itu, yakni: a. Satwika yajña, yaitu kebalikan dari Tamasika yajña dan Rajasana yajña bila didasarkan penjelasan Bhagavaragita tersebut di atas. b. Rajasika yajña, yaitu yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan untuk pamer saja. c. Tamasika yajña yaitu yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjukpetunjuk sastranya, tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh kepercayaan. a. Sattwika Yajña Sattwika yajña adalah yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain: 1. Yajña harus berdasarkan sastra. Tidak boleh melaksanakan yajña sembarangan, apalagi didasarkan pada keinginan diri sendiri karena mempunyai uang banyak. Yajña harus melalui perhitungan hari baik dan buruk. Yajña harus berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat. 2. Yajña harus didasarkan keikhlasan. Jangan sampai melaksanakan yajña ragu-ragu. Berusaha berhemat pun dilarang di dalam melaksanakan yajña. Hal ini mengingat arti yajña itu adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Sang Yazamana atau penyelenggara yajña tidak boleh kikir dan mengambil keuntungan dari kegiatan yajña. Apabila dilakukan, maka kualitasnya bukan lagi sattwika namanya. 3. Yajña harus menghadirkan Sulinggih yang disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Kalau yajñanya besar, maka sebaiknya menghadirkan seorang Sulinggih Dwijati atau Pandita. Tetapi kalau yajñanya kecil, cukup dipuput/diselesaikan oleh seorang Pemangku atau Pinandita saja. 4. Dalam setiap upacara yajña, Sang Yazamana harus mengeluarkan daksina. Daksina adalah dana uang kepada Sulinggih atau Pinandita yang muput yajña. Jangan sampai tidak melakukan itu, karena daksina adalah bentuk dari Rsi yajña dalam Panca yajña. 5. Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara genta, gong atau mungkin Dharmagita. Hal ini juga disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Apabila biaya untuk melaksanakan yajña tidak besar, maka suara gong atau Dharmagita boleh ditiadakan
b. Rajasika Yajña Rajasika yajña adalah kualitas yajña yang relatif lebih rendah. Walaupun semua persyaratan dalam Sattwika yajña sudah terpenuhi, namun apabila Sang Yazamana atau yang menyelenggarakan yajña ada niat untuk memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai yajña itu menjadi rendah. c. Tamasika Yajña Tamasika tajña adalah yajña yang dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan untung. Kegiatan ini sering dilakukan sehingga dibuat Panitia yajña dan diajukan proposal untuk melaksanakan upacara yajña dengan biaya yang sangat tinggi. Akhirnya yajña jadi berantakan karena Panitia banyak mencari untung. Bahkan setelah yajña dilaksanakan, masyarakat mempunyai hutang di sana sini. Yajña semacam ini sebaiknya jangan dilakukan karena sangat tidak mendidik. 2. Tingkatan Yajña Tingkatan yajña dalam hal ini hanya berhubungan dengan tingkat kemampuan dari umat yang melaksanakan yajña. Yang terpenting dari yajña adalah kualitasnya. Namun demikian, Veda mengakomodir perbedaan tingkat sosial masyarakat. Bagi mereka yang kurang mampu, dipersilakan memilih yajña yang lebih kecil, yaitu madyama atau kanista. Tetapi bagi umat yang secara ekonomi mampu, tidak salah untuk mengambil tingkatan yajña yang lebih besar yang disebut utama. Adapun tingkatan-tingkatan yang dimaksud, yaitu: a. Kanista, yajña dengan sarana yang sederhana atau minim; b. Madyama, yajña dengan sarana menengah, tetapi disesuaikan dengan kemampuan Sang Yadnamana; dan c. Utama, yajña yang dilakukan dengan sarana lengkap, besar, megah, dan cenderung mewah. Biasanya dilakukan oleh mereka yang mampu secara ekonomi, para raja atau pejabat.