The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by richiehadi22, 2022-08-31 12:00:47

Perang Tondano dan Perang Pattimura

Perang Tondano dan Perang Pattimura

SEJARAH
INDONESIA

KELOMPOK 5 XI MIPA 4

Nama anggota kelompok :

Arjunadinata Richie R.H.(03)
Aycha Nonatasari(05)
Faiza Zulfa(09)
Jesica Amelia Marsito(18)

Perang Tondano
dan

Perang Pattimura

1. Perang Tondano

"Perang Tondano yang terjadi pada 1808-1809 adalah perang yang melibatkan orang Minahasa di
Sulawesi Utara dan pemerintah kolonial Belanda pada permulaan abad XIX. Perang pada permulaan

abad XIX ini terjadi akibat dari implementasi politik pemerintah kolonial Hindia Belanda oleh para
pejabatnya di Minahasa, terutama upaya mobilisasi pemuda untuk dilatih menjadi tentara"
(Taufik Abdullah dan A.B. Lapian, 2021:375)

A. Perang Tondano I (1808)

Perang Tondano berlangsung sekitar 1 tahun dalam dua tahap. Perang Tondano 1 terjadi
pada masa kekuasaan VOC. Sebelum bangsa barat datang di nusantara orang-orang
Spanyol telah datang terlebih dahulu di situ orang Spanyol berdagang dan juga
menyebarkan agama seperti agama Kristen, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama
Kristen di tanah Minahasa (Tondano) Sulawesi Utara adalah Fransiscus Xaverius.
Hubungan Spanyol dengan para pedagang dari Minahasa terus berkembang, tetapi pada
abad XVII hubungan dagang antara Spanyol dengan para pedagang Minahasa mulai
terganggu dengan adanya kehadiran para pedagang VOC.Pada saat itu VOC yang
berhasil menguasai Ternate gubernur Ternate Simon Cos berusaha membebaskan
Minahasa dari pengaruh Spanyol. di situ para pedagang Spanyol tidak mendapatkan
kebebasan berdagang lagi karena simoncos telah menempatkan kapalnya di selat lembeh
untuk mengawasi pantai timur Minahasa.

Pada saat itu Spanyol harus meninggalkan kepulauan Indonesia untuk menuju Filipina.
Di satu sisi VOC berkehendak untuk memonopoli perdagangan di Minahasa tetapi orang-
orang Minahasa menentang usaha monopoli tersebut sehingga tidak ada pilihan lain VOC
akhirnya menyatakan perang pada orang-orang Minahasa. Untuk melemahkan orang-
orang Minahasa VOC membendung sungai temberan, akibat peperangan itu aliran
sungai meluap dan menggenangi tempat tinggal rakyat dan para pejuang Minahasa. Hal
itu membuat orang-orang Minahasa pindah tempat tinggal ke danau Tondano dengan
rumah-rumah apung.

Gambar danau Tondano

Pasukan VOC mengepung kekuatan orang-orang Minahasa yang berpusat di danau
Tondano. Setelah kejadian tersebut simoncos kemudian memberikan ultimatum yang
isinya yaitu :

1. Orang-orang Tondano harus menyerahkan para tokoh pemberontak kepada VOC.
2. Orang-orang Tondano harus membayar ganti rugi dengan menyerahkan 50-60

budak sebagai ganti rugi rusaknya tanaman padi karena genangan air sungai
temberan.

Tetapi orang-orang Tondano bergeming dengan ultimatum VOC tersebut hal itu
membuat simon Cos sangat kesal karena ultimatumnya tidak diperhatikan. Pasukan VOC
akhirnya ditarik mundur ke Manado.Setelah kepergian VOC rakyat Tondano menghadapi
masalah dengan hasil panen yang menumpuk tidak ada yang membeli sehingga membuat
rakyat Tondano terpaksa mendekati VOC agar bisa membeli hasil-hasil pertaniannya
tersebut. Hal itu membuat tanah Minahasa terbuka oleh orang-orang VOC sehingga
berakhirlah perang Tondano I. Di situ orang-orang Minahasa pindah ke perkampungan
di daratan yang diberi nama minawanua.

B. Perang Tondano II (1809)

Perang ini sebenarnya sudah terjadi ketika memasuki abad ke-19 pada masa

pemerintahan kolonial Belanda. Perang ini dilatar belakangi oleh kebijakan gubernur

jenderal Daendels, pada saat itu Daendels memerlukan pasukan dalam jumlah besar

yang membuat mereka mendirekrut pasukan dari kalangan pribumi salah satunya yaitu

dari Belanda menargetkan 2000 pasukan Minahasa yang akan dikirim ke Jawa tetapi

orang Minahasa umumnya tidak setuju dengan program Daendels untuk merekrut

pemuda Minahasa sebagai pasukan kolonial.

Banyak para ukung mulai meninggalkan rumah karena mereka

ingin mengadakan perlawanan terhadap kolonial Belanda salah

seorang pemimpin perlawanan itu adalah Ukung Lonto. Ia

menegaskan rakyat Minahasa harus melawan kolonial Belanda

sebagai bentuk penolakan terhadap program pengiriman 2000

pemuda Minahasa ke Jawa serta menolak kebijakan kolonial

yang memaksa mereka menyerahkan beras secara cuma-cuma

kepada Belanda. Hal ini membuat Residen predigger mengirim

pasukan untuk menyerang pertahanan orang-orang Minahasa

di Tondano Minawanua. Hal itu membuat Belanda melakukan

strategi membendung sungai temberan lagi, prediger juga

membentuk dua pasukan tangguh 1 pasukan diantaranya

dipersiapkan untuk menyerang dari danau Tondano sedangkan

pasukan yang lain menyerang minawanua dari darat. Gambar Ukung Lonto

Tanggal 23 Oktober 1808 pertempuran mulai berkobar. Pasukan

Belanda berhasil melakukan serangan dan merusak pagar bambu

berduri yang membatasi danau dengan perkampungan minawanua

sehingga menerobos pertahanan orang-orang Minahasa di

minawanua. Perlawanan Belanda berlangsung sampai malam di situ

orang-orang Minahasa tetap berjuang untuk bertahan dan membuat

perlawanan pasukan Belanda mulai merasa kewalahan setelah pagi

hari tanggal 24 Oktober 1808 pasukan Belanda dari darat

membombardir kampung pertahanan minawanua sehingga kampung

itu seperti tidak ada kehidupan lagi. Ketika pasukan predigger

mengendorkan serangannya tiba-tiba orang-orang tornado muncul

dan menyerang dengan hebatnya sehingga beberapa korban

berjatuhan dari pihak Belanda. Pasukan Belanda terpaksa

mengundurkan diri. Sungai temberan di Bendung mulai meluap

sehingga mempersulit pasukan Belanda sendiri. Perang Tondano II

berlangsung cukup lama bahkan sampai Agustus 1809. Saking

lamanya suasana kepenatan dan kekurangan makanan pun muncul

sehingga ada kelompok pejuang yang memihak kepada Belanda,

namun dengan kekuatan yang ada para pejuang Tondano terus

memberikan perlawanan. Sehingga pada tanggal 4 -5 agustus 1809

benteng pertahanan moraya milik para pejuang hancur bersama

rakyat yang berusaha mempertahankannya. Para pejuang itu Gambar Benteng moraya
memilih mati daripada menyerah kepada penjajah

2. Perang Pattimura

Seperti yang kita ketahui Maluku sebagai hasil rempah-rempah yang sangat diincar oleh
orang -orang Eropa, yang sampah membuat orang-orang Eropa ingin melakukan
monopoli perdagangan. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda Maluku
kembali diperketat kegiatan monopoli yang membuat beban rakyat semakin berat.
Ditambah lagi terdengar desah-desus bahwa para guru akan diberhentikan untuk
penghematan, sementara para pemuda akan dikumpulkan untuk dijadikan tentara di
luar Maluku. Hal ini membuat situasi semakin panas ditambah dengan sikap arogan dan
sikap sewenang-wenang dari residen Saparua.Seperti halnya contoh ketika Belanda
memesan perahu orang baik kepada nelayan di situ ketika perahunya diserahkan kepada
Belanda Belanda tidak mau membayar perahu itu dengan harga yang pantas tentu saja
para nelayan itu menuntut agar pemerintah bersedia membayar perahu yang telah
dipesan tersebut dengan harga yang pantas tapi para pemerintah Belanda tidak pernah
membayar perahu tersebut. Padahal orang Maluku sudah menyediakan ikan asin untuk
kapal Belanda di Maluku. Karena kesal diperlakukan seperti itu para pembuat perahu
mengancam akan mogok jika tidak dibayar. Sehingga membuat residen Saparua Van Den
Berg menolak tuntutan rakyat itu sehingga menyebabkan kebencian rakyat Maluku
semakin panas. Melihat situasi seperti ini para tokoh dan pemuda Maluku melakukan
serangkaian pertemuan rahasia seperti contoh pertemuan rahasia di pulau haruku
(pulau yang dihuni orang-orang Islam).

Pada tanggal 14 Mei 1817 di pulau Saparua (pulau yang dihuni orang-orang Kristen)
kembali diadakan pertemuan di sebuah tempat yang sering disebut dengan hutan
kayu putih. Dari berbagai pertemuan itu dapat disimpulkan bahwa rakyat Maluku
tidak ingin terus menderita di bawah keserakahan dan kekejaman Belanda sehingga
mereka mengadakan perlawanan untuk menentang kebijakan Belanda.

Thomas Matulessy yang terkenal dengan Gambar Pattimura
gelarnya Pattimura dipercaya sebagai
pemimpin karena pengalamannya bekerja di
dinas angkatan perang Inggris diyakini dapat
menguntungkan rakyat Maluku. Gerakan
perlawanan pun dimulai dengan
menghancurkan kapal-kapal Belanda di
pelabuhan. Ketika pejuang Maluku menuju
benteng Duurstede ternyata sudah terdapat
kumpulan pasukan Belanda dengan demikian
terjadilah pertempuran antara para pejuang
Maluku melawan pasukan Belanda, dalam
perang itu pasukan Belanda dipimpin oleh
residen Van Den Berg.

Para pejuang Maluku dengan sekuat tenaga mengepung Banteng Duurstede mereka tidak
menghiraukan tembak-tembakan meriam yang diberikan oleh Belanda dari dalam
benteng. Para pejuang Maluku satu persatu memanjat dan masuk ke dalam benteng
presiden pun dibunuh dan benteng duurstede dapat dikuasai oleh para pejuang
Maluku.Belanda kemudian mendatangkan batuan dari Ambon datanglah 300 prajurit
yang dipimpin oleh mayor beetjes, yang dikawal oleh dua kapal perang yaitu kapal
nassau dan Evertsen. Ternyata bantuan itu digagalkan oleh pasukan Pattimura. Bahkan
mayor Beetjes terbunuh . Selanjutnya pattimura memusatkan perhatian untuk
menyerang benteng Zeelandia di pulau Haruku. Maka pasukan Belanda memperkuat
pertahanan benteng dibawah komandannya Groot. Oleh karena itu pattimura gagal
menembus benteng Zeelandia.

Gambar Benteng Zeelandia Gambar Benteng Duurstede

Akhirnya Belanda mengarahkan semua kekuasaannya termasuk bantuan dari Batavia
untuk merebut kembali benteng Duurstede. Pada bulan Agustus 1817 Saparua Diblokade,
benteng Duurstede dikepung disertasi tembakan meriam yang bertubi-tubi. Satu persatu
perlawanan di luar benteng dapat dipatahkan. Dalam kondisi yang demikian itu
pattimura memerintahkan pasukannya untuk meloloskan diri, dengan demikian benteng
Duurstede berhasil dikuasai Belanda kembali. Tetapi pada bulan November beberapa
pembantu pattimura tertangkap seperti Kapitan Paulus Tiahahu (Ayah Christian Martha
Tiahahu) yang kembali dijatuhi hukuman mati.

Belanda tidak akan puas sebelum dapat menangkap
pattimura. Bahkan Belanda mengumumkan kepada siapa
saja yang dapat menangkap pattimura akan diberi hadiah
1.000 gulden. Setelah 6 bulan memimpin perlawanan
pattimura tertangkap. Pada tanggal 16 Desember 1817
pattimura dihukum gantung di alun-alun kota Ambon. Juga
Christian Martha Tiahahu berusaha melanjutkan perang
gerilya juga ikut tertangkap , ia dihukum mati tetapi
bersama 39 orang lainnya dibuang ke jawa untuk diperkerja
rodikan.

Gambar Christina Martha Tiahahu

Dikisahkan bawah kapal Christian Martha Tiahahu mogok tidak mau makan dan tidak
mau buka mulut ia pun jatuh sakit dan kemudian meninggal pada tanggal 2 Januari 1818,
Jenazahnya di buang ke laut antara pulau baru dan pulau tiga. Demikian berakhirnya
perlawanan Pattimura.

Gambar Peta Maluku dan Sulawesi


Click to View FlipBook Version