REVOLUSI
MELATI DI
TUNISIA:
PELUANG POLITIK, FRAMING DAN
MOBILISASI
Indah Ayusora Jasmine - K4421037
APA YANG AKAN KITA BAHAS SEJARAH BANGSA
TUNISIA
Sejarah peradaban di Tunisia dimulai dengan datang dan
menetapnya suku Punisia (Punic) sejak sekitar 1100
tahun sebelum masehi. Suku Punisia mendirikan kota
pertamanya yang diberi nama “Utica” yang terletak
antara Tunis dan Bizerte. Salah satu pemukiman , yang
tersohor adalah Carthage. Carthage dibangun sekitar
tahun 800 sebelum masehi. Dalam perkembangannya,
kota Carthage semakin pesat dan menjadi ibu kota
kerajaan yang kuat dengan kekuasaan yang melingkupi
daerah sepanjang pantai Mediteranea hingga ke wilayah
al-Jazair. Kekuasaan wilayah Carthage inilah yang
kemudian menjadi pondasi entitas kultural Tunisia
sebagai sebuah kesatuan.
TUNISIA DI BAWAH KEPEMIMPINAN
PRESIDEN HABIB BORGUIBA
Pada awal tahun 1930-an, generasi nasionalis tampil ke barisan terdepan dengan
membawa ide-ide perubahan untuk Tunisia. Partai Destour yang merupakan
Gerakan nasionalis, selama satu dekade lebih dipimpin oleh keluarga konservatif,
umumnya berpendidikan Zaitunah dengan naluri identitas Arab muslim yang
kuat. Sebelumnya pada tahun 1919 Syeikh Abdel Aziz Taalbi. mengajukan
sebuah petisi di depan Paris Peace Conference yang menuntut penentuan nasip
oleh Tunisia sendiri. Namun petisi ini ditolak oleh Perancis. Kepeminpinan
Bourguiba menentang kolonialisme di Tunisia yang sedang diduduki oleh
Perancis yaitu dengan pidato-pidato, menerbitkan koran-koran dan pemboikotan
yang sangat menantang protektorat Perancis itu, menjadikan Habib Bourguiba
dan kelompoknya banyak mendapat tantangan dari pergerakannya.
KEBIJAKAN HABIB BORGUIBA
Dalam perkembangannya Habib Bourguiba memimpin dengan
tangan besi dan menekankan pada pembangunan ekonomi dan
sosial, terutama pendidikan, status perempuan, dan penciptaan
lapangan pekerjaan. Program itu berhasil menciptakan stabilitas
politik dan sosial. Dalam menyatukan hukum perkawinan yang
ditunjukkan kepada semua warga tanpa memandang perbedaan
agama. Tahun 1960 beberapa kebijakan Bourguiba cendrung
mengarah sosialis dan menerapkan nasionalisasi perusahaan dan
pembangunan perekonomian kooperatif yang mengakibatkan
boykot besar-besaran dari negara-negara asing yang sebelumnya
menjadi donor utama pembangunan negara. Kondisi yang seperti
itu membuat perekonomian Tunisia menjadi timpang hingga
menimbulkan ketidakpuasan masyarakat luas.
Pada tahun 1983, ketika Bourguiba merayakan 25 tahun
kekuasaannya, pecah pemogokan oleh warga sipil dan kaum
religius, di karenakan memburuknya perekonomian dan
naiknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok. Banyak tokoh
pimpinan dari elemen kekuatan masyarakat ditangkap dan
lari ke luar negeri. Hal inilah kemudian munculnya kerusuhan
dan menimbulkan 80 korban jiwa. Alih-alih meredamkan
kerusuhan, Borguiba malah semakin memperkuat kekuasaan
dengan menunjuk orangorangnya untuk duduk di Komite
Sentral dan Politbiro. Salah satu anggotanya adalah Zine al-
Abidine Ben Ali.
TUNISIA DI BAWAH KEPEMIMPINAN
PRESIDEN BEN ALI
Ben Ali merencanakan penggulingan Presiden Habib Bourguiba.
Untuk itu, ia tugaskan kepada tujuh dokter untuk memeriksa
kesehatan Presiden Habib Bourguiba dan menandatangi surat
pernyataan yang menegaskan bahwa Presiden Habib Bourguiba
tidak layak lagi untuk menjadi pemimipin negara. Kudeta pun
berhasil dan Ben Ali menasbihkan diri sebagai presiden Tunisia pada
7 November 1987. Di awal menduduki kursi kepresidenan, Ben Ali
menanggung beban yang diwariskan oleh presiden pertamanya,
Habib Bourguiba. Ben Ali menerapkan agenda demokratisasi dan
mempercepat reformasi ekonomi, dan Ben Ali memulai
komitmennya dalam jalur yang benar.
Kebijakan Presiden Ben Ali
Mengawali demokrasi, Ben Ali menerapkan sistem baru mencoba dengan menerapkan
sistem politik multi partai, membebaskan tahanan politik, menghapuskan pengadilan
keamanan negara dan membatasi kekuasaan polisi dalam melakukan penahanan.
Tahanan politik yang telah diasingkan diminta untuk kembali dan banyak keputusan
tepat lainnya yang dilakukan.Walaupun sistem demokrasi yang disuguhkan Ben Ali
dengan membentuk multi partai, tapi tidak seenaknya menggunakan partai sebagai
benteng demokrasi. Ben Ali selalu menekankan pentingnya pelaksanaan sistem multi-
partai di bawah pengawasan negara dan menciptakan iklim civil society yang
pelaksanaannya tidak menganggu konsensus persatuan nasional. Selama masa
pemerintahan Ben Ali, telah dilaksanakan tiga kali pemilihan umum, yaitu pada tahun
1994, 1999 dan 2004. Dalam tiga kali pemilu (1994, 1999, 2004) Ben Ali meraih suara
mayoritas dan selalu memenagkan pemilihan umum.
PENYEBAB
Revolusi yang terjadi di Tunisia bukan hanya
REVOLUSI
disebabkan 1 faktor semata, revolusi yang terjadi
MELATI merupakan akumulasi kebencian dari beragam
faktor yang telah dirasakan rakyatnya selama
bertahun-tahun. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan ada 3 faktor utama
terjadinya revolusi Tunisia. Faktor yang pertama
adalah faktor utama (main factor). Permasalahan
didalam negeri Tunisia sangatlah kompleks,
masyarakat mengalami ketidakpuasan dan
kekecewaan yang tinggi dalam segi ekonomi dan
sosial politik selama 24 tahun diperintah Ben Ali.
Kekayaan negara yang harusnya digunakan untuk
mensejahterakan rakyat, malah digunakan oleh Ben
Ali untuk memperkaya dirinya.
Faktor kedua adalah faktor pemicu (trigger). Akumulasi dari tekanan
secara sekonomi dan sosial politik selama 24 tahun Ben Ali berkuasa
meningkatkan rasa kebencian dalam diri masyarakat hingga mencapai titik
kritis dimana hanya dibutuhkan insiden kecil untuk memicu sebuah
gelombang ledakan. Insiden di Tunisia dimulai dari aksi pembakaran diri
Mohammad Bouazizi. Aksinya sontak membakar amarah masyarakat untuk
melakukan demonstrasi besar di seluruh Tunisia. Di luar faktor utama dan
pemicu, terdapat faktor lain yaitu faktor pendukung(permissive factor).
Dalam kasus Tunisia, faktor pendukung yang mempercepat terjadinya
revolusi adalah peran dari media sosial dan militer. Media sosial melalui
Facebook dan Twitter sangat membantu para pemuda untuk
menyebarluaskan informasi dan menggalang aksi protes. Begitu juga
dengan sikap militer yang pro rakyat bukan rezim, membantu
mempercepat lengsernya Ben Ali.
DAFTAR PUSTAKA Ali, Mukti. (1995). Alam Pikiran Islam Modern
di Timur Tengah Jakarta: Djambatan.
Kuncahyono, Trias. Musim Semi di Suriah,
Anak-Anak Penyulut Revolusi. Jakarta:
Kompas, Januari 2013.
Ningsih, Ratna.(2009). “Khairuddin At-Tunisi
dan Revormasi Islam di Tunisia” Skripsi FIB,
Depok: Universits Indonesia.
Perkins, Kenneth. (2004). History of Modern
Tunisia. United Kingdom.
Schiller, Thomas. (2011). “Tunisia- A
Revolution and Its Consequences” Berlin:
International Report.