1
PRA-KATA
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena Rahmat,
Taufiq, dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan E-Modul:
Persamaan Linear ini dengan sgala kemudahannya.
E-modul merupakan materi pembelajaran interaktif, dimana siswa
tidak hanya membaca teks saja tetapi juga melihat animasi proses
menyerupai proses yang sebenarnya sehingga memudahkan pemahaman
siswa. Mata kuliah Fisika Matematika merupakan matakuliah wajib tempuh
yang memberikan dasar-dasar analisis matematis terhadap persoalan
fisika. Fisika Matematika (FISMAT) merupakan mata kuliah inti prodi yang
diberikan kepada mahasiswa Pendidikan fisika sebagai bekal untuk
mempelajari fenomena fisika. E-Modul ini merupakan salah satu satu. E-
Modul yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mempelajari Fisika
Matematika I (FISMAT I).
Akhirnya kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang
turut membantu penyusunan E-Modul: Persamaan Linear. Semoga E-
Modul ini dapat memberikan kontribusi bagi siapa saja yang ingin
menguasai Fisika Matematika I.
PENULIS
i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 KD DAN IPK ............................................................................................ 1
1.2 DESKRIPSI SINGKAT MATERI ......................................................... 1
1.3 PRASYARAT ........................................................................................... 2
1.4 PETUNJUK PENGGUNAAN ................................................................. 2
BAB II PEMBELAJARAN .............................................. 3
2.1 PERSAMAAN LINEAR .......................................................................... 3
2.2 MENYELESAIKAN HIMPUNAN PERSAMAAN LINEAR DENGAN
REDUKSI BARIS ......................................................................................... 5
2.3.3 MENYELESAIKAN HIMPUNAN PERSAMAAN LINEAR DENGAN
METODE CRAMER ......................................................................................11
2.3 PENERAPAN PENYELESAIAN PERSAMAAN LINEAR DALAM
FISIKA ........................................................................................................ 17
BAB III EVALUASI ................................................. 19
ii
GLOSARIUM
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 KD DAN IPK
KD
1. Dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan persamaan
linear.
2. Dapat menganalisis konsep linear dalam permasalahan
Fisika Matematika.
3. Dapat menganalisis dan menerapkan konsep reduksi baris
dalam permasalahan persamaan linear.
4. Dapat menganalisis dan menerapkan konsep aturan
IPK
crammer dalam permasalahan persamaan linear.
1. Menjelaskan konsep persaamaan linear dalam Fisika
Matematika.
2. Menganalisis materi persamaan linear dnegan reduksi baris.
3. Menganalisis materi persamaan linear dnegan metode
Crammer.
4. Menyelesaikan persamaan linear dengan menggunakan
1.2 DESKRIPSI SINGKAT MATERI
Persamaan linear merupakan salah satu model dari masalah
reduksi baris dan aturan Cramer.
matematika yang akan dipelajari dalam fisika matematika I. Suatu
sistem persamaan linear terdiri atas sejumlah berhinga persamaan
linear dalam sejumlah berhingga variabel. Menyelesaikan suatu sistem
persamaan linear adalah mencari nilai-nilai variabel-variabel tersebut
yang memenuhi semua persamaan linear yang diberikan.
Topik materi persamaan linearberkaitan dengan mata kuliah lain
di Program Studi Pendidikan Fisika seperti: fisika dasar, mekanika,
1
fisika modern, dan lain-lain. Maka diharapkan dengan ada nya E-modul ini
diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memahami pembelajaran
mengenai Persamaan Linear.
1.3 PRASYARAT
Topik persamaan linear dengan reduksi baris dan persamaan linear
dengan menggunakan aturan Crammer merupakan topik pembahasan
mata kuliah Fisika Matematika I (FISMAT I) yang diajarkan pada
semester 3. Materi persamaan linear ini merupakan syarat materi yang
harus sudah dikuasi untuk melakukan pembelajaran Fisika Matematika
untuk materi selanjutnya. Materi ini tergolong mudah dipahami namun,
tak sedikit mahasiswa mengalami kesalahan pemahaman konsep dalam
pembelajarannya.
1.4 PETUNJUK PENGGUNAAN
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan e-
modul ini. Hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pelajarilah daftar isi dengan cermat, karena daftar isi akan
menuntun anda dalam mempelajari materi ini.
2. Pelajarilah materi dalam e-modul ini secara berurutan, karena
materi yang sebelumnya adalah prasyarat untuk memahami materi
yang berikutnya.
3. Pahamilah contoh-contoh soal yang ada, kemudian kerjakanlah
semua soal latihan yang ada untuk melatih dan mengevaluasi
pemahaman anda terkait materi yang dipelajari.
4. Kerjakanlah soal evaluasi dengan cermat. Jika anda
menemukan kesulitan saat menyelesaikan soal evaluasi tersebut,
maka pelajari kembali materi yang terkait dengan soal tersebut.
2
BAB II
PEMBELAJARAN
2.1 PERSAMAAN LINEAR
Persamaan linear terdiri dari dua kata, yaitu Persamaan dan Linear.
Persamaan adalah sebuah pernyataan matematika yang terdiri dari dua
ungkapan pada ruas kanan dan ruas kiri yang dipisahkan oleh tanda “=”
(dibaca sama dengan) (Amir & Prasojo, 2016), sedangkan linear berarti
terletak pada suatu garis lurus (Kartasasmita, et al., 1988). Persamaan
linier itu sendiri merupakan sebuah persamaan aljabar dimana tiap
sukunya mengandung konstanta atau perkalian konstanta dengan tanda
sama dengan serta variabelnya (Nasution, et al., 2016: 42). Tujuan
menyelesaikan permasalahan aljabar dengan menggunakan persamaan
linear adalah untuk mencari nilai yang memenuhi sebuah variabel dari
persamaan tersebut (Laja, 2020: 11). Menurut (Resti 2010) Adapun
bentuk umum sistem persamaan linear (SPL) yang dituliskan sbagai
berikut:
a 1x 1 + a 2x 2 + ....+ a 1nx n = b (2.1)
Keterangan:
a1, a2, ..., an = Koefisien
x1, x2, ..., xn = Variabel
b = Konstanta
Penyelesaian persamaan linear adalah sekumpulan bilangan terurut
yang jika disubtitusikan ke dalam persamaan linear akan menjadi valid.
Sistem persamaan linear memiliki tiga kemungkinan dalam
penyelesaiannya yaitu:
3
1. Penyelesaian tunggal
2. Penyelesaian tak-hingga banyaknya
3. Tak ada penyelesaian
Dibawah ini merupakan gambar dalam bentuk grafik dari tiga
kemungkinan dalam penyelesaian persamaan linear.
Berpotongan pada Dua garis yang Dua garis yang
satu titik berimpit
sejajar (tak ada
(penyelesaian tunggal) (penyelesaian tak penyelesaian)
hingga banyaknya)
Menurut (Anam & Arnas, 2019: 38) sebagai ilustrasi penyelesaian
model matematika dengan menggunakan rumus rumus persamaan linear
dengan m buah persamaan dan n buah variabel bebas, bentuk umum dari
persamaan linear dapat ditulis sebagai berikut :
a11x1 + a12x2 + ....+ a1nxn = b1
a21x1 + a22x2 + ....+ a2nxn = b2
....................................................
am1x1 = am2x2 = ....+ amnxn = bm (2.2)
diketahui bahwa a dan b adalah skalar, di mana a disebut koefisien dan
b disebut konstanta dari persamaan x1, x2, ... , xn disebut sebagai
variabel. Persamaan diatas dapat dinyatakan dalam bentuk perkalian
matriks
AX = B (2.3)
4
Diketahui
A = matriks koefisien berordo m x n
X = matriks unknown (tidak diketahui) berordo n x 1
B = matriks berordi m x 1
11 1 12 2 … 1 1 1
A = [ 21 1 22 2 … 2 ] , X = [ 2] , B = [ 2 ]
1 1 2 2 …
Dengan menggunakan persamaan (3), Persamaan (2) dapat ditulis
dituliskan sebagai berikut:
11 12 … 1 1 1
( 21 22 … 2 ) ( 2 ) = ( 2 )
…
…
…
…
…
…
1 2 …
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa persamaan linear
merupakan sebuah persamaan aljabar yang terletak pada suatu garis
lurus dimana tiap sukunya terdiri dari konstanta, variabel serta tanda
sama dengan sebagai pemisah ruas kiri dan ruas kanan dari persamaan
aljabar. Dalam menyelesaikan permasalahan aljabar diperlukan
penyelesaian dengan menggunakan persamaan linear untuk mencari nilai
yang memenui sebuah variabel dari persamaan tersebut.
2.2 Menyelesaikan himpunan persamaan linear dengan reduksi baris
Formulasi matriks sering kali digunakan untuk memecahkan sistem
persamaan linier melalui metode Reduksi Baris atau Eliminasi Gauss.
Metode reduksi baris atau eliminasi gaus merupakan salah satu cara
untuk mengetahui determinan suatu matriks tanpa memerhatikan
seberapa besar ukuran mariks (Rasmawati et al. 2021: 8). Menurut
Nurmalasari, et al (2019: 243) langkah-langkah menentukan solusi suatu
5
sistem persamaan linear dengan meggunakan metode eliminasi Gaus-
Jordan adalah sebagai berikut.
1. Menyatakan sistem persamaan linear dalam bentuk matriks
diperbesar.
2. Mengubah matriks diperbesar (augmented matrix) menjadi
matrikseselon baris dengan operasi baris elementer.
3. Melakukan subtitusi untuk memperoleh solusi persamaan linear
tersebut.
Penyelesaian himpunan persamaan linear dengan metode reduksi
baris atau Gauss-Jordan merupakan penyelesaian himpunan persamaan
dengan merubah matriks menjadi bentuk matriks eselon. Menurut
Nurmalasari, et al (2019: 243) suatu matriks dikataka matriks eselon
baris jika
1. Satu baris tidak seluruhnya terdiri dari nol, maka bilangan tak nol
pertama pada baris itu adalah 1. Bilangan 1 ini disebut 1 utama
2. Terdapat baris yang seluruhnya tediri dari nol, maka baris ini akan
dikelompokan bersama pada bagian paling bawah matriks.
3. Terdapat dua baris berurutan yang terdiri dari nol, maka 1 utama
pada garis yang lebih rendah terdapat pada kolom yang lebih
kanan dari 1 utama pada baris yang lebih tinggi
Contoh 1
Tinjau sistem persamaan linier dalam variabel x, y, z sebagai
berikut:
2x + y − z = 2
x − y + z = 7 (2.2.1)
2x + 2y + z = 4
6
Untuk menyelesaiakan persamaan (2.2.1) di atas, persamaan
(2.2.1) dapat dituliskan dalam bentuk persamaan matriks AX = B sebagai
berikut:
2 1 −1 2
[1 −1 1 ] [ ] = [7]
2 2 1 4
A X B
Matriks A pada persamaan (2.2.1) disebut juga sebagai matriks
koefisien. Melalui metode reduksi baris kita dapat melakukan langkah-
langkah berikut terhadap matriks A dan B secara simultan:
1. Menukarkan posisi dua buah baris.
2. Mengalikan sebarang baris dengan sebuah konstanta tidak nol.
3. Menjumlahkan atau mengurangkan hasil sebuah baris dengan baris
yang lainnya.
Hasil yang diharapkan dari langkah-langkah tersebut adalah
dihasilkannya sebuah matriks berbentuk:
1 0 0 1
[ 0 2 0 ] [ ] = [ 2]
0 0 3 3
Sehingga solusi dari sistem persamaan linier yang dimaksud diberikan
oleh:
1
2
3
x = , y = , z = .
1 2 3
7
Adapun Cara penyelesaian Persamaan Linear dengan menggunakan
metode Reduksi Baris, dapat dijelaskan memalui video berikut !
Untuk mengimplementasikan metode ini, kita dapat membentuk suatu
matriks baru (A B) yang elemennya merupakan gabungan dari matriks A
dan B yang lazim disebut sebagai matriks perluasan (augmented matrix).
Matriks perluasan untuk kasus persamaan (2.2.1) adalah:
2 1 −1 2
( | ) = (1 −1 1 |7)
2 2 1 4
Setelah mengubah persamaan (2.2.1) kedalam bentuk matriks
perluasan (augmented matrix),langkah selanjutnya adalah Mengubah
matriks diperbesar (augmented matrix) menjadi matriks eselon baris
dengan operasi baris elementer.
Langkah 1. Tukarkan baris 1 dan 2:
2 1 −1 2 B 1 ditukar B 2 1 −1 1 7
(1 −1 1 |7) (2 1 −1|2)
2 2 1 4 2 2 1 4
Langkah 2. Kurangkan baris 3 dengan baris 2:
8
1 −1 1 7
(2 1 −1|2)
0 1 2 2
Langkah 3. Tukarkan baris 3 dengan baris 2:
1 −1 1 7
(0 1 2 |2)
2 1 −1 2
Langkah 4. Kalikan baris 1 dengan − 2
−2 2 −2 −14
( 0 1 2 | 2 )
2 1 −1 2
Langkah 5. Jumlahkan baris 3 dengan baris 1:
−2 2 −2 −14
( 0 1 2 | 2 )
0 3 −3 −12
Langkah 6. Kalikan baris 2 dengan − 3 :
−2 2 −2 −14
( 0 −3 −6| −6 )
0 3 −3 −12
Langkah 7. Jumlahkan baris 3 dengan baris 2:
−2 2 −2 −14
( 0 −3 −6| −6 )
0 0 −9 −18
Langkah 8. Kalikan baris 2 dengan 2/3 :
−2 2 −2 −14
( 0 −2 −4| −4 )
0 0 −9 −18
Langkah 9. Jumlahkan baris 1 dengan baris 2:
−2 0 −6 −18
( 0 −2 −4| −4 )
0 0 −9 −18
Langkah 10. Kalikan baris 3 dengan – 2/ 3 :
−2 0 −6 −18
( 0 −2 −4| −4 )
0 0 6 12
Langkah 11. Jumlahkan baris 1 dengan baris 3:
−2 0 0 −6
( 0 −2 −4|−4)
0 0 6 12
9
Langkah 12. Kalikan baris 3 dengan 2/ 3 :
−2 0 0 −6
( 0 −2 −4|−4)
0 0 4 8
Langkah 13. Jumlahkan baris 2 dengan baris 3:
−2 0 0 −6
( 0 −2 0| 4 )
0 0 4 8
Berdasarkan Langkah ke-13 maka persamaan (2.2.1) menjadi bentuk
sederhana berupa
-2x = -6, sehingga x = 3
-2y = 4, sehingga y = −2
4z = 8, sehingga z = 2.
Contoh 2
Pecahkan sistem persamaan linear berikut:
5x + 2y- z = 10
-3w – 5x + y – 2z = -10
(2.2.2)
w + x + y = 6
2w – x + 3y + 5z = 6
Untuk menyelesaian persamaan (2.2.2) terlebih dahulu ubahlah
persamaan tersebut kedalam suatu bentuk matriks baru (A B) yang
elemennya merupakan gabungan dari matriks A dan B yang lazim disebut
sebagai matriks perluasan (augmented matrix).
0 5 2 1 10 1 1 1 0 6
−3 −5 1 −2 −10 B1 B 3 −3 −5 1 −2 −10
[ | ] [ | ]
1 1 1 0 6 0 5 2 −1 6
2 −1 3 5 6 2 −1 3 5 6
1 1 1 0 6 1 1 1 0 6
B2 + 3B1 2B3 + 5B2
B4 – 2B1 0 −2 4 −2 8 2B4 – 3B2 0 −2 4 −2 8
[ | ] [ | ]
0 5 2 −1 10 0 0 24 −12 60
0 −3 1 5 −6 0 0 −10 16 −36
10
1 1 1 0 6 1 1 1 0 6
B2 : (-2)
B3 : 12 0 1 −2 1 −4 ] [ 0 1 −2 1 −4 ]
2B4 – 5B3
[
|
|
B4 : (-2) 0 0 2 −1 5 0 0 2 −1 5
0 0 5 −8 18 0 0 0 −11 11
1 1 1 0 6
B4 : (-11) 0 1 −2 1 −4
[ | ]
0 0 2 −1 5
0 0 0 1 −1
Sistem persamaan linear yag sesuai degan matriks terakhir adalah
w + x + y = 6 (2.2.2a)
x – 2y + z = -4 (2.2.2b)
2y – z = 5 (2.2.2c)
z = -1 (2.2.2d)
dari persamaan (2.2.2d) diperoleh z = -1. Maka, penyelesaian persamaan
(2.2.2c, b dan a) diperoleh
2y - z = 5 ; y = +5 = −1 +5 = 2
2 2
x = -4 + 2y – z = -4 + 2(2) – (-1) = 1
w = 6 – x – y = 6 – 1 – 2 = 3
dengan demikian, solusi sistem persamaan linear diatas adalah (w, x, y,
z) = (3, 1, 2, -1).
Langkah-langkah di atas mengenai metode penyelesaian reduksi
baris atau eliminasi Gauss-Jordan bukanlah satu satunya yang dapat
digunakan dalam menyelesaikan permasalahan persamaan linear, salah
satunya adalah dengan menggunakan metode cramer.
2.3.3 Menyelesaikan himpunan persamaan linear dengan metode
Cramer
Selain menggunakan metode reduksi baris atau eliminasi Gauss-
Jordan dalam memecahkan persamaan linear adalah dengan
menggunakan metode cramer. Aturan Cramer merupakan salah satu
11
metode untuk menyelesaikan Sistem Persamaan Linear dengan
memanfaatkan determinan matriks (Saragih, et all., 2012: 3).
Determinan matriks dapat dicari dengan menggunakan metode Sarrus
Adapun cara mencari determinan untuk matriks persegi adalah sebagai
berikut:
Penyelesaian himpunan persamaan linear untuk matriks 2x2
Untuk menyelesaikan himpunan persamaan linear pada matriks 2 x
2, gunakan persamaan berikut untuk mengetahui cara mencari
determinan matriks 2x2 dapat menggunakan metode Sarrus.
A = [ ];
maka determinan dari matriks tersebut adalah | |= ad-bc
Tinjau matriks berikut ini:
6 3
A= [ ]
7 4
| |= 6.4 – 3.7 = 24 - 21 = 3
Sedangkan pada matrik dua variabel penyelesaian persamaan
dengan menggunakan metode crammer memiliki persamaan berikut.
Tinjau persamaan berikut ;
Ax + by = e
(2.3)
Cx + dy = f
Untuk menyelesaikan persamaan diatas, terlebih dahulu rubah
persamaan kedalam bentuk matrik. Sehingga di dapati bentuk matriks
menjadi
[ ] [ ] = [ ]
Maka untuk mencari nilai x dan y dari matrik diatas adalah
12
| |
X = = −
| | −
Y = | | = −
| | −
Adapun Cara penyelesaian Persamaan Linear dengan menggunakan
metode Crammer, dapat dijelaskan memalui video berikut !
Contoh 3
Diberikan persamaan sebagai berikut;
2x + 5y = 11
3x - 2y = 7
Persamaan tersebut jika digambarkan dengan matriks menjadi
2 5 11
[ ] [ ] = [ ]
3 −2 7
Maka untuk mencari nilai x dan y dari matrik diatas adalah
13
11 5 |
|
X = 7 −2 = 11.(−2)−5.7 = −22−35 = −57 = 3
| 2 5 | 2.(−2)−5.3 −4−15 −19
3 −2
2 11 |
|
Y = 3 7 = 2.7−11.3 = 14−33 = −19 = 1
| 2 5 | 2.(−2)−5.3 −4−15 −19
3 −2
Penyelesaian himpunan persamaan linear untuk matriks 3x3
Pada persamaan matriks 3x3, cara menyelesaikan persamaan
linear dengan menggunakan metode crammer dapat dijelaskan sbagai
berikut.
Diketahui sebuah persamaan sebagai berikut;
ax + by + cz = A
dx + ey + fz = B (2.4)
gx + hy + iz = C
dari persamaan (2.4), untuk mencari nilai determinan (D) pada matriks
3x3 atau matriks persegi lainnya dapat menggunakan metode Soruss
yang dinyatakan sebagai berikut.
= [ ]
ℎ ℎ
Det A= aei + bfg +cdh – (ceg + afh + bdi)
Dengan menggunakan metode Sarrus untuk mencari nilai
determinan menjadi lebih mudah: Kalikan masing-masing elemen satu
baris (atau satu kolom) menurut kofaktornya dan tambahkan hasilnya.
Bisa jadi menunjukkan bahwa kita mendapatkan jawaban yang sama,
baris atau kolom mana pun yang kita gunakan.
+ − + −
− + − +
| |
+ − + −
| ⋱ |
+ −
− +
14
Persamaan (2.4) apabila disusun kedalam sebuah matriks digambarkan
sbagai berikut:
[ ]
ℎ
Kemudian matriks tersebut dipecah menjadi
[ ] sebagai matriks A
ℎ
[ ] sebagai matriks A1
ℎ
[ ] sebagai matriks A2
[ ] sebagai matriks A3
ℎ
Semua matrik A,A1, A2, A3 dicari determinannya, untuk mencari
determinan matrik 3x3 dapat menggunakan metode Sorrus
Sehingga X = det 1 , Y = 2 , Z = det 3 ......(4)
det det det
Contoh 4
Gunakan aturan Cramer untuk menentukan solusi sistem persamaan
linear berikut
-2x + 3y + 4z = 12
3x + 4y – 2z = -15
(2.5)
5x + 6y – 3z =-22
Untuk menyeleaikan persamaan diatas dengan menggunakan
metode cramer adalah sebagai berikut:
−2 3 4
Det A = [ 3 4 −2] = -2 | 4 −2 | - 3 | 3 −2 | + 4 | 3 4 |
5 6 −3 6 −3 5 −3 5 6
= -2 (0) – 3(1) + 4(-2) = -11
15
12 3 4
Det A1 = [−15 4 −2] = 12 | 4 −2 | - 3 | 15 −2 | + 4 | 15 4 |
−22 6 −3 6 −3 −22 −3 −22 6
= 12 (0) – 3(1) + 4(-2) = -11
−2 12 4
Det A2 = [ 3 −15 −2] = -2 | 15 −2 | - 12 | 3 −2 | + 4 | 3 −15 |
5 −22 −3 −22 −3 5 −3 5 −22
= -2 (1) – 12(1) + 4(9) = 22
−2 12 12 3 4
Det A3 = [ 3 −15 −15] = -2 | 4 −15 | - 3 | 3 −15 | + 12 | 5 6 |
5 −22 −22 6 −22 5 −2
= -2 (2) – 3(9) + 12(-2) = -55
Sehingga penyelesaian dari persamaan (2.5) adalah
x = det 1 = −11 = 1
det −11
22
y = 2 = = 2
det 11
z = det 3 = −55 = 5
det − 11
Fakta-Fakta Berguna mengenai Determinan.
1. Jika setiap elemen dari satu baris (atau satu kolom) determinan
dikalikan dengan angka k, sama dengan nilai determinan dikalikan
dengan k.
2. Nilai determinan adalah nol jika
a) Semua elemen dari satu baris (atau kolom) adalah nol; atau jika
b) Dua baris (atau dua kolom) identik; atau jika
c) Dua baris (atau dua kolom) proporsional.
3. Jika dua baris (atau dua kolom) determinan dipertukarkan,
nilainya dari tanda perubahan determinan.
4. Nilai determinan tidak berubah jika
a) Baris ditulis sebagai kolom dan kolom sebagai baris; atau jika
b) Kami menambahkan ke setiap elemen dari satu baris, k kali
elemen yang sesuai dari baris lain, di mana k adalah bilangan
apa saja (dan pernyataan serupa untuk kolom).
16
2.3 Penerapan penyelesaian persamaan linear dalam fisika
Hukum-hukum Dasar Listrik Statis
Hukum Ohm
Jika sebuah penghantar atau resistansi atau hantaran
dilewati oleh sebuah arus maka pada kedua ujung penghantar
tersebut akan muncul beda potensial, atau Hukum Ohm
menyatakan bahwa tegangan melintasi berbagai jenis bahan
pengantar adalah berbanding lurus dengan arus yang mengalir
melalui bahan tersebut. Secara matematis :
V = I.R
Hukum Kirchof I (KCL)
Jumlah arus yang memasuki suatu percabangan atau node atau
simpul sama dengan arus yang meninggalkan percabangan atau node atau
simpul, dengan kata lain jumlah aljabar semua arus yang memasuki
sebuah percabangan atau node atau simpul sama dengan nol.
Secara matematis ditulis:
∑I pada suatu titik percabangan = 0
∑Imasuk = ∑Ikeluar (2.6)
Hukum Kirchof II (KVL)
Jumlah tegangan pada suatu lintasan tertutup sama dengan nol,
atau penjumlahan tegangan pada masingmasing komponen penyusunnya
yang membentuk satu lintasan tertutup akan bernilai samadengan nol.
Secara matematis ditulis : (2.7)
17
Σ V = 0
Contoh 5
vab + vbc + vda = 0
-v1 + v2 – v3 + 0 = 0
v2 – v1 – v3 = 0
1. Augmentasi sebagai berikut:
11 12 13 1
[ 21 22 23 2]
31 32 33 3
2. Merubah matriks A menjadi matriks identitas dengan cara
mereduksi matriks augmentasi
11 12 13 1 1 0 0 1
[ 21 22 23 2] [0 1 0 2]
31 32 33 3 0 0 1 3
3. Nilai variabel i1, i2 dan i3 dapat di tentukan
I1= x1
I2 = x2
I3 = x3
18
BAB III
EVALUASI
Kerjakanlah soal soal berikut ini dengan menggunkan metode crammer
ataupun dengan menggunkan metode reduksi baris!
Silahkan tekan tombol kuis di bawah ini
19
HSGDHS
20