The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PAK di Indonesia sejak 1955-sekarang (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by siburianberlian05, 2023-05-18 10:12:48

PAK di Indonesia sejak 1955-sekarang (1)

PAK di Indonesia sejak 1955-sekarang (1)

PAK DI INDONESIA S EJAK1955-S EKARANG Kelompok 9 : 1. Gokberian F. Siburian (2217150020) 2. Sri wahyuni zai (2217150005)


PENDAHULUAN Sejak serdadu, pedagang dan imam portugis tiba di pulau ternate pada tahun 1538 untuk pertama kalinya, maka sejak waktu itulah dimulai sejarah pendidikan agama kristen di indonesia. Sesuai dengan perintah yang diberikan kepada panglima ekspedisi portugis oleh rajanya, ia mendirikan sekolah di pantai ternate sebagai sarana untuk memberitakan injil. Namun tidak lama kemudian pelaksanaan pendidikan di ambil ahli oleh ordo- yesuit. Pendidikan yang disediakan begitu sangatlah sederhana sekali. .


Tujuan perusahaan perdagangan Belanda (VOC) di Nusantara Indonesia lebih mementingkan urusan perdagangan di atas hal-hal agamawi dibadingkan dengan Portugis. Tetapi tujuan pelengkap, dengan mendidik anak-anak dengan bahasa Belanda. Kekuasaan atas orangtuanya dapat diperkukuh, tujuan pelengkap ini tersirat perintah umum kepada gereja tahun 2643 yang menentukan tugas yang diberikan kepada para guru


Hasil dari gerakan injili di eropa termasuk belanda, di Indo nesia mendirikan sekolah m i n g g u y a n g Cenderung s a m a sifatny a dengan Sekolah m i n g g u di I n g g r i s dan a m er i ka pada z a m a n y a n g s a m a , yakni Pendiriannya; a) diprakarsai oleh k a u m aw a m ; b) di luar struktur gereja; dan c) bersifat injili. Pola ini tidak berlaku diseluruh indone sia c o n t o h n y a di HKBP. Karena pada gereja ini kegiatan s eko la h m ing g u ( keba ktia n a na k) Diatur oleh sinode sendiri.


HO M BRIG HA US E N H o mr i g h a u s e n lahir pada tahun 19006 dan dibesarkan dalam keluarga Kristen Amerika y a ng be rba ha s a Je rm a n. S e s ud a h ta m a t d a ri perguruan tinggi dan sekolah Teologi ia ditakhbiskan pendeta dalam gereja re f o r ma s i ya n g berasal dari Jerman. Sebelum terpanggil menjadi d o s e n dalam bidang pendidikan a g a m a Kris te n d a n pa s to ra l d i s e ko la h ting g i Te o lo g i princeton, ia adalah pendeta jemaat gereja . Reformasi, kota indian apolis, negara bagian Ind ia na d a n d o s e n tid a k te ta p pa d a univ e rs ita s butler. Sebelum pensiun, ia sempat menjabat sebagai Dekan sekolah tinggi teologi princeton. Di sa m ping m e ne rjem a hka n d ua ji lid ka ra ng a n barth kedalam bahasa Inggris, ia juga, me n g a r a n g buku- buku dan banyak artikel, pe nc e ra m a h te rna m a , s a la h s e o ra ng re d a ktur majalah theology today.


Dua Dampak Homrighausen Atas Perkembangan Pendidikan Agama Kristen Di Indonesia Memperkuat langkah-langkah oikumenis yang sudah diprakasai dalam pelayanan Pendidikan Agama Kristen i. Permulaan ii. Sekolah Minggu masuk ke dalam sturktur dewan Gereja-gereja Indonesia iii. Peleburan KOMPAK ke dalam Departemen lain dalam Bagan Administrasi DGI (PGI) iv. Hubungan Gereja-gereja di Indonesia dengan Dewan Pendidikan Agama Kristen se- Dunia dan Perserikatan Sekolah Minggu (WCCE-SSA) Perkembangan Korps Ahli Pendidikan Agama Kristen


PENYUSUN KURIKULUM‘’63 DG MENYUSUN KURIKULUM’ 88( PGI) MENINGKATKAN KESADARAN GEREJA AKAN PELAYANAN BAGI ANAK- ANAK PE LAYA NA N PE ND ID IKA N A G A M A KRISTEN BAGI A NA K-A NA K


1. PE NY US UNA N KURIKULUM ‘63 D G . Karena keyakinan bahwa pendidikan agama kristen paling mendalam dialami dalam suatu persekutuan yang beribadah, maka setiap hari kegiatan dimulai dan ditutup dengan kebaktian. Selama minggu pertama waktu sesudah kebaktian itu dimanfaatkan untuk mendengarkan ceramah-ceramah tentang pelbagai segi pendidikan agama kristen pada umumnya dan proses menyusun kurikulum khususnya. Setelah minggu pertama, pekerjaan lebih banyak dilakukan dalam berkelompok. Konferensi PAK yang berlangsung di sukabumi pada tahun 1955, dan kebutuhan yang sangat mendesak bagi kurikulum sekolah minggu, yang bertitik tolak dari keadaan Indonesia bertemu takkala KOMPAK DGI mengadakan koferensi kurikulum di wisma Oikumene di sukabumi pada tanggal 12 Juni-4 Juli 1963. Para peserta adalah pendeta,pekerja sekolah minggu, mahasiswa sekolah teologi, wakil badan oikumenis dan tenaga dari luar negeri di bidangPendidikan Agama Kristen yang sedang melayani di Indonesia, dan konferensi juga diperkuat dengan hadirnya tiga tamu dari WCCE-SSA. Yakni Dr. Nelson Chappel, sekretaris Jenderalnya, Dr. Wilson Cheek, wakil sekretaris jenderal dan Dr. Andrew Kim, se- kretaris WCCE-SSA bagi Asia


• Rupanya, terdapat dua keprihatian yang lain daripada isi tujuan yang memainkan peranan mencolok dalam pemilihan keempat tema utama itu. Tema pertama ialah " YESUS KRISTUS" karena penyataan ALLAH dalam YESUS adalah sifat khas dari iman kristen. Sesuai dengan keyakinan itu, tema itu dibahas dalam kwartal yang sedikit banyak mencakup tiga bulan pertama, atau kesaksian terhadap YESUS sampai dia menderita sengsara, bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga. Benar atau tidak kedua penjelasan tentang alasan para peserta memilih Keempat tema tersebut, yang Jelas adalah bahwa seluruh peserta konferensi kurikulum itu memutuskan Untuk menitikberatkan Empat tema itu dalam kurikulum baru bagi sekolah Minggu. • Mengajak, membantu, menghantar seseorang untuk mengenal kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus, sehingga dengan pimpinan roh kudus. Ia datang ke dalam suatu persekutuan hidup pribadi dengan Tuhan. Hal ini dinyatakan dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya manusia yang dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan selaku anggota tubuh Kristus”. HASILDARITUJUAN UMUMUNTUKKURIKULUM‘’63 DG I:


Tentang pemahaman bersama kepercayaan Kristen Indonesia (pbki) yang diambil sidang raya x DGI di Karang panjang, Ambon, Maluku pada Tanggal 21 – 31 oktober 1984. Disampaikan juga, bahwa para peserta menerima Pengakuan iman rasuli, pengakuan nicea Konstantinopel, pengakuan iman yang lahir dari reformasi sebagai bagian dari warisan gereja yang memperkaya iman dan yang didasarkan pada Alkitab. Sesudah itu terdapat tujuh pokok iman yang diakui dan ditafsirkan, yakni : i . Allah. ii . Penciptaan dan pemeliharaan, i i i . manusia, iv. Penyelamatan, v. Gereja. Vi. Kerajaan Allah dan hidup baru dan vii. Alkitab Kedua, telah diterbitkan buku yang amat dasariah di bidang pendidikan agama kristen yang berjudul, strategi pendidikan kristen di indonesia isinya mengandung rumusan pikiran dan keputusan yang diambil oleh dua kelompok pemikir, yakni oleh konsultasi tentang pendidikan kristen yang diadakan di salatiga, tanggal 11-13 september 1986 dan seminar pendidikan agama kristen yang berapat di jakarta, tanggal 22-23 februari 1988. 2 .M ENY US UN KURIKULUM ’88 (PG I)


Mereka juga menyusun sebuah tujuan kompheresif, yang hasilnya ialah: 1. Akan terdapat kesamaan visi bagi penyelenggaraan pak karena sumber dan motivasi yang satu, yaitu firman Allah; 2. Kita terhindar dari penyajian materi PAK yang tumpang- tindih baik menurut jenjang pendidikan maupun di antara lembaga- lembaga penyelenggara PAK; 3. Akan ada kontinunitas dalam penyajian materi PAK menuju Pendewasaan iman di tengah- tengah bangsa yang sedang membangun. Mereka juga merumuskan arti hakekat dan tujuan PAK: “ Pak sebagai tugas panggilan gereja adalah usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan roh kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam YesuS Kristus,yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari- hari, terhadap sesame dan lingkungannya’’. Mereka berbuat itu supaya tujuan baru "... Benarbenar dapat menjawab kemajuan dan tantangan zaman.


3. M ENING KATKA N KE S A D A RA N G E RE JA A KA N PE LAYA NA N BAG I A NA K-A NA K Masih kurang perhatian/ tanggung jawab gereja terhadap pelayanan anak/SM terlihat belum tergambarnya pelayanan sekolah minggu. Dalam struktur yang jelas di beberapa gereja. Di beberapa gereja lainnya kedudkan pelayanan sekolah m i n g g u s u d a h t e rg a mb a r d a l a m struktur tapi belum efektif d a l a m gerak o p e r a s i o n a l n y a . Di beberapa gereja belum ada kurikulum yang dapat dijadikan sebagai pe- doman dalam pelayanan anak-anak. Di beberapa gereja lainnya sudah ada kurikulum yang dibuat sendirisendiri tapi yang belum seluruhnya mengacu pada ldkg. Jumlah tenaga pelayan anak/sm yang tidak seimbang dengan jumlah murid (anak-anak) yang dilayani. Di samping itu, kualitas pelayan, baik dedikasi maupun kemampuan yang terbatas. 3 4


1. Hendaknya ada wadah yang menangani urusan Sekolah Minggu pada setiap tingkat dan yang mengembangkan saluran komunikasi timbal- balik di antaranya. Ketua Komisi Pelayanan Sekolah Minggu hendaknya ditetapkan sebagai anggota majelis. . POKOK-POKOK UNTUK MEMPERTIMBANGKAN MUTU PERORGANISASIAN PELAYANAN SEKOLAH MINGGU 2. Gereja ( jemaat) yang memanfaatkan sekolah minggu sebagai wadah utama untuk mendidik kaum muda, wajib memikul biayanya sama seperti iamembebani ongkos pelaksanaan kebaktian pagi setiap hari minggu. Oleh karena itu “ semua tingkat ( sinode, klasis, resort, jemaat) memasukkan anggaran pelayanan anak/sekolah minggu dalam anggaran tahunan masing- masing tingkat“ serta mengelola dan memanfaatkan sumber- sumber keuangan dengan baik untuk Pelayanan sekolah minggu.


3. Jemaat hendaknya memupuk langkah-langkah yang cenderung memperkokoh hubungan antara orangtua dan anak-anak sekolah minggu, umpamanya , “ melalui konsultasi dan tatap muka; dan yangtak langsung melalui brosur dan lain- lain". 4. Pelayanan anak di sekolah minggu adalah " bagian integral dari semua kegiatan, yang ada di tingkat jemaat, resort, klasis dan sinodal". Paling tidak, ada asas khusus yang tersirat di dalamnya, yakni)" pembinaan anak mulai dari pelayanan anak/ sekolah minggu harus melanjutkan ke tingkat remaja, katekisasi, pemuda, dewasa dan seterusnya, tanpa ada waktu yang terputus; dan perlu ada koordinasi antara pelayanan kategorial tersebut ( bapak- ibupemuda- anak)."


5. Agar mulai mempertinggi Kesadaran jemaat akan pentingnya para pekerja dalam pelayanan sekolah minggu, majelis hendaknya mengambil ketiga tindakan sebagai berikut : 1. Keberadaan pelayanan anak/guru Sekolah Minggu di jemaat perlu diakui dan dihargai melalui pelantikan mereka dalam suatu ibadah Minggu di gereja; 2. kepada mereka perlu diberikan sertifikat tanda resmimenjadi pelayan/guru Sekolah Minggu , sesudah mereka mengikuti penataran pelayan anak/guru sekolah minggu, dan 3. pelayan anak/guru sekolah minggu yang telah menuaikan tugasnya dngan baik untuk jangka waktu tertentu diberikan piiagam penghargaan oleh jemaat di tempat ia melayani


6. Para peserta mengharapkan supaya ada bahan kurikulum yang bermutu dan yang diperisapkan sesuai dengan cara berfikir, imajinasi, bahasa dan kemampuan mendengar anak-anak dari setiap golongan umur, alhasil sama seperti dengan kurikulum ’63, walaupun ada empat macam bahan kurikulum, masing-masing bahan harus selaras dengan sifat-sifat khas anak-anak dari golongan umur, yaitu taman kanak-kanak (4-6 tahun), anak kecil (7-9) tahun, anak tanggung (10-12 tahun) dan remaja (13-15 tahun). Khususnya bagi kurikulum kaum remaja perlu diperhatikan satuan-satuan belajar yang berporos pada tema mengambil keputusan etis, menjelang waktu kurikulum baru akan diterbitkan, meski diadakan berbagai “penataran penerapan kurikulum” ditingkat nasional, wilayah dan sinodal.


7. M utu be la ja r-m eng a ja r d i ka la ng a n s eko la h minggu tidak akan dipertinggi sebelum s emu a tingkat pada gereja berusaha memperlengkapi para guru (mengingat banyaknya awam yang bekerja di tempat lain untuk memperoleh rezeki) D eng a n peng e ta hua n, peng e rtia n d an ke tram pila n yang diperlukan untuk mendidik anak s e c a r a kre a tif, be rta ng g ung jawa b d a n be rd a s a rka n pelbagai tahap tujuan yang telah ditentukan.


D. KURIKULUM PENDIDIKANAG AM A DI S EKO LAH-S EKO LAH Pada peretengahan dasawarsa 60-an dewan gereja-gereja Indonesia menugaskan kompak untuk menyusun kurikulum Agama bagi anak didik Sekolah Dasar, SLPT Sekolah lanjutan Tingkat Pertama dan SLPT Sekolah lanjutan Tingkat atas. Untuk SD, kurikulumnnya berporos pada pengetahuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru , tetapi isi mata pelajaran tertentu disesuaikan pada tahap perkembangan pada anak sesuai dengan golongan umur tertentu dan setiap kelas.


Membangun atas epngetahuan Alkitab yang diperoleh melalui study di SD, kurikulum Agama bagi anak remaja dipusatkan pada ruang lingkup temaatis, yakni : manusia, masyarakat dan iman. Khususnya untuk kedua tema pertama yaitu asas penutun ialah masalah-masalah, tantangan, tantangan dan peluang-pelyang hidup yang diperhadapkan kepada anak remaja oleh hidup di Idonesia modern ini. Dengan membicarakan pokok-pokok itu bersama dalam terang Alkitab dan Iman Kristen, diharapakan supaya anak remaja dapat bertumbuh menjadi seorang warga muda yang berbudi pekerti tingi dan bertanggung jawab di manapun remaja berada. Untuk tema ketiha, yakni ‘Iman’, isinya lebih bersifat usaha memahami ajaran Kristen, walaupun tema Iman diutamakan dalam ruang lingkup tersendiri, hal itu tidak berarti ahwa pokok iman Kristen tidak termasuk dalam pembahasan tema manusia dan masyrakat.


Untuk Kurikulum Aga ma bagi mahasiswa perguruan tinggi, isinya bersifat makanan pada rijst tafel s a mp a i sekarang, meskipun s ud ah a d a konsultasi beberapa kali untuk me n yu s u n g a r i s be sa r y a n g hendaknya menjadi p e d o m a n bagi pendeta dan d o s e n y a n g men ya mpa ikan kuliah a g a m a . Namun, alangkah beruntungnya para m a ha s is wa bila ia s e ba g a i m a ha s is wa ke d o kte ra n,umpa man ya , diberi peluang m e n g i kuti kuliah A g a m a d e ng a n m e m a nfa a tka n s um be rs um be r im a n kristen dala m rangka m e n o l o n g ia bergumul de ng a n is u-is u m a je m uk y a ng d itim bulka n o le h perkembangan pesat di bidang kedokteran a g a r me mp e r o l e h jawaban ‘‘sementara‘‘ y a n g dapat d ipe rta ha nka n d a ri s e g i im a n kris te n


PENDIDIKAN A G A M A KRISTEN PADA TARAF PGAK • Pertumbuhan PGAK semakin cepat akhir tahun 70 - an ketika pemerintah mulai mengangkat guru agama Inpres sehingga kini jumlah PGAK/ P seluruh indonesia adalah 63 buah, di antaranya hanya dua buah milik Pemerintah, yaitu PGAK/ P di tarutung dan PGAK/ P di ambon. Pgak/ p swasta yang berjumlah 61 buah tersebut umumnya berdiri atas sponsor gereja-gereja dan beberapa di antaranya disponsori oleh yayasan tertentu malah ada yang didukung oleh pemda tingkat I I setempat • Pada daerah sumatera ada 18( delapan belas ) buah (29,5%) PGAK yang terdaftar didepartemen agama. Di pulau Nias saja ada 3 buah PGAK selain sumatra utara, diseluruh sumatra tiada lagi tanggung jawab Sumatra Utara untuk bagaimana dengan keadaan ini bisa menyebar ke bagian Sumatra lainnya. Oleh karena itu, dalam batas-bats tertentu keadaan ini kita nilai positif. Sebaliknya di nusa Tengga Timur, dilingkungan gmit ada tiga PGAK yaitu Soe dan satu lagi diKupang yang membuka filial di dua tempat lainnya dan satu di Kalabahi (Alor) padahal di GKS sama sekali tidak ada PGAK. Belum lagi kita pikirkan untuk bagaimana mensuplay Flores, Sumbah,( Nusa Tenggara barat) dan Timor-Timur.


Pada daerah sumatera ada 18( delapan belas ) buah (29,5%) PGAK yang terdaftar didepartemen agama. Di pulau Nias saja ada 3 buah PGAK selain sumatra utara, diseluruh sumatra tiada lagi tanggung jawab Sumatra Utara untuk bagaimana dengan keadaan ini bisa menyebar ke bagian Sumatra lainnya. Oleh karena itu, dalam batas-bats tertentu keadaan ini kita nilai positif. Sebaliknya di nusa Tengga Timur, dilingkungan gmit ada tiga PGAK yaitu Soe dan satu lagi diKupang yang membuka filial di dua tempat lainnya dan satu di Kalabahi (Alor) padahal di GKS sama sekali tidak ada PGAK. Belum lagi kita pikirkan untuk bagaimana mensuplay Flores, Sumbah,( Nusa Tenggara barat) dan TimorTimur.


PENDIDIKAN AG AM A KRIS TEN BAG I O RANG DEWAS A Penyusun strategi pendidikan Kristen di Indonesia mengandung pikiran globalini: PAK mencakup seluruh kegiatan gereja dalam mendidik anggota dan calon anggotanya untuk hidup dalam kehidupan Kristen baik yang diselenggarakan di dalam gereja maupunyang diselenggarakandi sekolah- sekolah dan dalam Keluarga. PAK yang mencakup pendidikan semua golongan umur dan berjalan terus- menerus dari awal hingga akhir hidup manusia ( from womb to tomb) 56 he kutipan itu tidak menyelesaikan masalah; maksudnya hanya sekadar menjelaskan penggunaan isilah " PAK orang dewasa“ untuk seksi " H“ ini saja. Gereja tidak hanya wajib memberitakan kabar baik untuk menyelamatkan jiwa perorangan, ia bertanggung jawab juga terhadap kesejahteraan masyarakat dan negara dimana warganya hidupdan bekerja. Sebelum PWG dilembagakan sudah ada pendeta dan awam yang sadar sekali akan tanggung jawabnya terhadap gelanggang dan kemasyarakatan. Tetapi secara formal, PWG itu dilembagakan di Pematang siantar, 24-30 Oktober 1971, membentuk Institut Oikumene Indonesia (IOI)


Langkah ini selaras sekali dengan temanya, " disuruh ke dalam dunia" dan sub-tema, tugas kita dalam. Negara pancasila yang membangun", 60 tetapi ioidgi itu sendiri adalah buah sulung dari konsultasi. Nasional pembinaan dan partisipasi awam ( KNPPA) 197 di malang yang berusaha. Tujuan dan fungsi IOI- DGI yang ditetapkan sidang raya VII ialah: melayani Gereja- gereja, anggota- anggota dankelompok- kelompok dalam gereja dan masyarakat dengan berbagai kegiatan studi dan kebaktian, agar mereka dengan sadar terus- menerus mengejar kebenaran injil Kristus, merealisasikan imannya dengan Berbagai masalah kehidupan dalam masyarakat yang berubah-ubah terus, sehingga mereka bersedia serta mampu menjalankan kesaksian dan Pelayanannya terhadap masalah itu dengan kebebasan serta tanggung- jawab penuh.


KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat kita ambil bahwa pendidikan yang pertama ada itu adalah suatu pendidikan yang didirikan oleh Portugis di pantai Ternate kemudian diambil ahli oleh Ordo Yesuit. Pendidikan pada zaman mereka begitu sangat banyak kekurangan dan masih standar berkembangnya zaman masuknya home break housen mulai mengubah semuanya mulai membuat kurikulum pada pendidikan agama, semakin berkembangnya zaman pelayanan bagi anak-anak pun tersedia baik itu di sekolah dan juga di gereja, orang dewasa juga membutuhkan yang namanya suatu pendidikan agama sebagai pedoman dalam kehidupan mereka dan juga dalam keluarga mereka.


Click to View FlipBook Version