The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Abdul Malik, 2023-06-28 00:33:43

Analisis Historiografi Tentang Buku Max Havellar

Abdul Malik Ridwan_2288220060_2A

Keywords: #sejarah #MaxHavellar

ANALISIS PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM BUKU MAX HAVELLAR Disusun oleh: Abdul Malik Ridwan (2288220060) Tugas Akhir Mata Kuliah Historiografi Dosen Pengampu: Arif Permana Putra M.Pd


Max Havelaar


Alasan Memilih Buku Ini Pertama mungkin karena ketertarikan personal saya terhadap buku Max Havellar ini, dimana saat di bangku sekolah dasar saya sering mendengar tentang buku ini namun belum sempat membacanya. Namun karena memang saya sempat mendengar buku ini membahas tentang Banten sekaligus kopi jadi saya memutuskan untuk membelinya secara online lewat platform toko online di smartphone saya. Setelah buku ini dating saya pun akhirnya paham dimana letak permasalahan dengan orang orang bicarakan tersebut dan setelah itu saya membuat jurnal pribadi saya yang membahas buku ini, jurnal ini berjudul, Ekspedisi Kopi Rangkasbitung dan Ekspansi Belanda. Dimana saya memberikan pemikiran saya tentang penanaman kopi Rangkasbitung yang sudah sejak dimulai pada periode tanam paksa (1850) disana juga saya sempat mendatangi toko-toko dan warung dekat stasiun untuk mendapatkan sumber dalam bentuk barang kopi aslinya dan alhamdulillah setelah membuat jurnal tersebut karya ini dibuat menjadi artikel popular dan di upload ke website Pendidikan Sejarah Untirta.


1. Identitas Buku Judul Buku/Novel: Max Havelaar Penulis: Multatuli Penerbit: Narasi, 2014 Tebal: 396 hlm Harga: Rp.50.000 Lokasi penjualan: Online Kategori: Novel Cetakan ke: 2. Sinopsis Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi yang tinggal di Amsterdam bertemu dengan Sjaalman, seorang pesakitan masyarakat sekaligus penulis yang dimana dia berhutang budi di masa lalu. Menemukan banyak tulisan Sjaalman yang membahas soal kopi, Droogstoppel setuju mempublikasikan tulisan-tulisannya dengan niat awal untuk keuntungannya sendiri. Namun diantara kertas-kertas tulisan Sjaalman yang berisikan artikel, ide-ide radikal, dan perihal kopi, terdapat sebuah kisah yang menarik dan kejam. Multatuli, atau Eduard D. Dekker, mendasarkan kisah ini pada pengalaman hidupnya selama 18 tahun sebagai makelar kopi di Hindia Belanda, menuliskan sebuah cerita yang jujur, ironis, kejam dan penuh amarah. 3. Isi Cerita Isi buku ini menceritakan kisah Max Havelaar sebelum, saat, dan ketika ia diberhentikan menjadi Asisten Residen Lebak dan dipindah tugaskan ke tempat lain. Namun karena harga dirinya, ia memilih untuk mengundurkan diri saat itu juga, namun masih tetap memperjuangkan nasib rakyat Lebak dengan membawa masalahnya ke hadapan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, namun apa daya Sang Gubernur Jenderal tidak mau ditemui, mencari-cari alasan tidak dapat ditemui. Kita


akan menyukai cara Multatuli menyampaikan ide-idenya, komentar-komentarnya, sindiran-sindiranya. Akhirnya Max dipindah tugaskan ke Lebak dan memutuskan untuk menggulingkan rezim Bupati Lebak yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya seperti merampas kerbau-kerbau mereka dan menyuruh mereka menggarap ladangnya tanpa dibayar, sehingga terjadilah bencana kelaparan dan ketidakmampuan rakyat membayar pajak terhadap negara; kemiskinan tiada akhir dan kerja paksa. Seperti pendahulunya Tuan Slothering (yang kabarnya meninggal karena diracun; sebab ia memperjuangkan hal yang sama seperti Havelaar) pada akhirnya Max juga dijegal oleh orang-orang yang tidak menyukai tindakannya yang ingin memenjarakan Bupati Lebak karena kesewenang-wenangannya, padahal ia sudah memberi teguran-teguran halus, berharap Sang Bupati akan berubah dan menjadi lebih lembut kepada rakyatnya, namun itu tidak pernah terjadi. Sebelum dipindah tugaskan ke Lebak, semasa di Natal, ia juga menghadapi konflik yang sama peliknya, ia diskorsing oleh atasannya selama 9 bulan karena menyindir kekejian atasannya menggunakan epigram; Jenderal van Damme (yang membabat habis orang Sumatera karena terobsesi Napolleon), namun dipengadilan Max dikenal sebagai pencuri kalkun yang kelaparan karena selama masa tahanan itu ia tidak diberi biaya hidup sampai menderita kelaparan, jadi ia membuat lelucon dengan mencuri satu kalkun van Damme, padahal kenyataannya adalah karena ia memberikan sindiran menyentil kepada perbuatan-perbuatan tidak manusiawi van Damme, namun fakta itu tidak pernah dibahas di pengadilan. Masih dalam konflik di Natal, ada sebuah kejadian dimana seorang saksi dipaksa berbohong bahkan ada yang dilenyapkan. Konfliknya pun pelik, melibatkan kisah pribumi-pribumi di sana sampai pada akhirnya untuk kebaikan yang lebih besar seorang bernama Pamaga dijadikan kambing hitam, ia dijatuhi hukuman kerja paksa di Jawa atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada pemimpin pribumi setempat.


Beberapa bab seperti 1-5, kita akan diajak mengarungi pikirannya Droogstoppel yang agak membosankan. Tapi kita akan menemukan fakta-fakta tentang sifat dasar orang Jawa yang nrimo padum, mereka sangat tunduk pada penguasa dibandingkan orang-orang Sumatera yang Islamnya sudah kental, mereka fanatik, dan lebih tidak bisa ditakhlukan (terutama Aceh), banyak pemberontakan pecah dengan alasan jihad di Sumatera. Begitu pula banyak pejabat-pejabat yang menguras tenaga rakyat untuk menghasilkan uang karena mereka terobsesi naik haji ke Mekkah—setidaknya inilah yang dilakukan oleh pejabat-pejabat di Banten. Kita juga akan melihat pola masyarakat kita yang masih marhaenis di sini, sejak jaman dulu sampai jaman sekarang, belum berubah. Buku ini menyimpan protes bisu bagaimana rakyat-rakyat yang marhaenis itu (mereka punya sawah sendiri dikelola sendiri) dipaksa mengolah tanah Rajanya (Bupati Lebak) sehingga terjadi kelaparan, banyak yang mati, terutama tenaga-tenaga produktif, bahkan sampai ibu-ibu menjual anak-anak mereka untuk makan. Dan tidak pernah masalah ini dikatakan bahwa ini salah pemerintah, selalu yang disalahkan hama atau musim tapi tidak pernah kerakusan pemerintah. Di sini juga kita akan menyadari bahwa Eropa (terutama Belanda) datang ke Indonesia membawa misi mulia selain gold dan glory-nya, mereka membawa GOSPEL. Yaitu menyebarkan agama. Seorang Gubernur Jenderal yang dikirim ke Hindia oleh Raja, sering kali diekspektasikan sebagai orang yang mumpuni untuk mengemban tugas mulia ini, meskipun sebenar-benarnya kebanyakan dari Gubernur Jenderal ini sama sekali tidak memiliki pengetahuan soal masalah-masalah pelik di Hindia. Mereka adalah orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan, lalu saat masa jabatannya segera habis adalah orang-orang yang merindukan rumahnya sehingga melalaikan pekerjaannya. Di Bab 8, terdapat keunikan, karena memberitahu kita tidak semua Belanda itu tiran dan pribumi adalah si tertindas. Banyak orang Belanda yang humanis dan manusiawi seperti Max. Banyak orang pribumi yang seperti Bupati Lebak. Belanda yang awalnya membawa misi mulia membiarkan pribumi dengan gaya hidupnya yang jauh lebih besar dari gaya hidup orang Belanda berlaku semena-mena, tidak jarang banyak yang juga mengambil keuntungan untuk dirinya, menimbun uang dan hidup enak setelah ia pensiun. Karena semua orang yang pernah bekerja di Hindia


dan kembali ke Belanda, mereka hidup enak dan mewah, memiliki uang yang banyak, rumah yang bagus, fasilitas nomor satu. Tapi banyak juga pejabat Belanda yang bekerja di Indonesia hidup tertekan dan miskin karena tidak mau korup, hidup mereka pas-pasan dan saat kembali ke Belanda mereka hidup tidak lebih baik dari gelandangan. Contohnya Sjaalman. Bab 12, 13, 14 adalah kisah-kisah Max selama di Sumatera. Bab 17 adalah Bab yang ditunggu-tunggu, kisah Saidjah dan Adinda yang mengharukan, bagian yang paling seru dan paling sedih dalam buku ini. Keluarga Saidjah memiliki seekor kerbau yang dirampas Bupati Lebak untuk menjamu tamutamunya. Padahal kerbau itu satu-satunya alat untuk membajak sawah, jika mereka tidak membajak sawah mereka tidak akan mampu membayar pajak yang dibebankan pemerintah. Jadi, keluarga Saidjah membeli lagi sebuah kerbau dengan uang penjualan keris bapaknya ke orang China. Dikisahkan kerbaunya sangat kuat dan dekat dengan Saidjah, kerbau itu penurut, namun kerbau ini lagi-lagi di rampas. Saidjah sangat sedih, dan saat ayahnya hendak membeli lagi kerbau ketiga dari uang penjualan pengait kelambu, ia menanyakan keadaan kerbaunya apakah mereka memotongnya atau tidak. Kerbau ketiga ini tidak sekuat kerbau kedua, namun tetap memiliki hubungan emosional dengan Saidjah. Di Parang Kujang, anak-anak naik ke atas kerbaunya sambil membajak sawah, saat itu muncul lah macan dari dalam hutan, semua anak-anak termasuk Adinda lari. Saidjah yang berusaha menyelamatkan kerbaunya terlambat lari, dia diterjang macan namun diselamatkan si kerbau hingga kerbau itu terluka. Segeralah si kerbau menjadi kerbau kesayangan saat ia berhasil membawa Saidjah hidup-hidup, kerbau itu diobati. Namun tak berapa lama kerbau itu dirampas lagi oleh Bupati. Keluarga Saidjah tidak lagi punya uang untuk membeli kerbau, ayah Saidjah kabur, melarikan diri ke Bogor, namun karena tidak ada surat jalan ia dihukum. Beliau mati dipenjara, tak berapa lama ibunya pun menyusul. Akhirnya dia memutuskan pergi ke Batavia untuk mencari uang supaya dapat membeli kerbau lagi, ia berjanji kepada Adinda yang menjadi tunangannya sejak dulu. Dalam perjalanannya ia belajar membuat topi jerami, topi ini biasanya diekspor ke Manila. Lalu Saidjah melanjutkan lagi perjalanannya, ia bekerja sebagai kusir awalnya, namun karena gigih ia diangkat sebagai pelayan. Majikannya sayang


kepadanya, ia hidup kecukupan sampai 3 tahun kemudian memutuskan kembali ke Parang Kudjang untuk menemui Adinda. Namun Adinda sudah tidak ada di sana, keluarga Adinda pergi ke Lampung, menjadi buronan karena tidak sanggup membayar pajak. Lampung adalah tempat orang-orang di Banten melarikan diri untuk menjadi pemberontak karena tekanan kolonial dan pejabat pribumi. Namun saat sampai di sana ia mendapati Andinda yang menunggunya juga sudah mati. Bab-bab selanjutnya berisi surat menyurat Max kepada atasannya di Lebak dan bagaimana akhirnya ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya, mengundurkan diri sampai akhirnya Multatuli mengambil alih cerita. 4. Tokoh dan Perwatakan 1. Batavus Droogstoppel, adalah makelar kopi yang hidup dalam pakem, cenderung menjadi orang dengan pikiran menyebalkan dalam buku ini. 2. Sjaalman, adalah teman masa sekolah Droogstoppel yang menyerahkan catatan-catatannya semasa di Hindia-Belanda kepada pria itu sehingga Droogstoppel atas dorongan orang-orang mau mengumpulkan kisah-kisah Sjaalman dan membukukannya karena pria itu memiliki pengetahuan tentang kopi. 3. Max Havelaar,adalah tokoh utama dalam cerita ini dengan perasaan yang sangat halus dan peka terhadap sekelilingnya. Ia senang membantu orangorang disekelilingnya sampai melupakan kehidupan dan kebutuhannya sendiri, karena sifatnya ini ia sering merugi. Namun tampaknya puas dengan dirinya yang manusiawi dan idealis. 4. Tine, adalah istri Max, yang sangat memuja suaminya dan sangat mengenal suaminya, ia rela hidup susah dengan pria itu, harus mengencangkan ikat


pinggang dan memiliki banyak hutang. Istri yang menyupport keputusan yang diambil suaminya. 5. Saidjah, adalah tokoh yang diciptakan Max, salah satu penduduk Parang Kudjang yang kehidupannya dirampas oleh pejabat pribumi dan kompeni. 6. Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan buku ini adalah kita akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang pejabat pribumi kita, pejabat Belanda, dan juga kehidupan rakyat kita saat itu. Multatuli berhasil mengambarkannya dengan baik dan membuat kita semua merenungi setiap kata-katanya dan kisahkisahnya. Benar-benar kisah yang tragis dan membuat kita tersentuh serta berfikir. Apakah kita masih sama dengan 150 tahun lalu? Atau kita sudah berubah. Karena tampaknya sekalipun pergeseran zaman itu setiap detik kita langkahi tetapi problema-problema yang mencekik leher kita sejak zaman dulu sama sekarang masih itu-itu saja; seolah sejarah punya cara sendiri untuk mengulangi kisahnya. Kekurangan buku ini adalah kita akan dibuat pusing dengan kisahnya yang tidak beraturan, meloncat-loncat, dari cerita A ke B ke C kembali ke A ke C lagi, seperti itu, jadi harus benar-benar jeli ketika membacanya. Tidak cukup hanya sekali kita membaca buku ini untuk bisa menyerap seluruh isinya, butuh berkali-kali. Jangan lupa siapkan catatan, sticky note, etc sebagai bantuan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian historis menunjukkan bahwa kolonialisme sebenarnya sudah ada sebelum imperialisme dan feodalisme. Tiga paham yang tidak dapat dipisahkan adalah feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Pengaplikasiannya harus dilakukan secara bersamaan dan tidak boleh


meninggalkan pemahaman yang sama. Ketiga pendapat tersebut bahkan dianalogikan dengan sepeda yang tidak dapat berjalan tanpa dua roda. Sepeda tidak dapat berjalan tanpa salah satu rodanya. Kolonialisme adalah ketika negara mendelegasikan kekuatan politik untuk memberdayakan wilayah lain, dan semua kebijakan dan hak diatur oleh negara tersebut. Negara yang memiliki kekuasaan politik secara hukum berfungsi sebagai pusat pemerintahan, dan wilayah yang diberdayakan dianggap sebagai Negara bawahan. Menurut Forster, kolonialisme lebih dari sekedar narasi; itu adalah pergerakan manusia sebagai respons atas kondisi alam yang tidak lagi menguntungkan. kekacauan, karena kolonialisme sudah ada sejak lama. Sistem di mana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain sambil mempertahankan hubungan dengan negara asal mereka juga dikenal sebagai kolonialisme. Sentralisasi adalah karakteristik pemerintahan kolonial. Sebab menciptakan otonomi di daerah desentralisasi akan mengancam hegemoni kolonialisme. Dalam istilah, imperialisme adalah gagasan untuk memperluas wilayah yang telah dikuasai melalui penaklukan atau dominasi paksa. Prinsip dasar imperialisme adalah keinginan untuk memperluas wilayah tanpa batasan yang jelas. dengan tujuan mencapai kesuksesan bagi para penguasa. Perluasan wilayah dimotivasi oleh keinginan untuk ruang hidup, kekuasaan, wilayah, dan kesuksesan, antara lain. Kerajaan Assiria, Babilonia, dan Kerajaan Mesir Kuno adalah pelaku imperialisme paling tua, menurut temuan arkeologi. Dalam buku yang diterbitkan di Indonesia, menggugat Ir. Soekarno mengatakan imperialisme dapat dibagi menjadi dua jenis: imperialisme kuno dan imperialisme kontemporer. Pieter Jelles Troelstra mengatakan imperialisme adalah ketika kapital besar menguasai suatu negara dengan menggunakan politik luar negeri untuk kepentingannya sendiri. Perkembangan ekonomi yang cepat di abad ke-19 menyebabkan imperialisme. Politik yang cenderung meningkat dari modal yang dikumpulkan di negeri-negeri yang lebih maju untuk diperusahakan ke negeri-negeri yang kurang maju dan kurang penduduk adalah hasil dari imperialisme. Sebenarnya, imperialisme dapat dibagi menjadi dua jenis: imperialisme kontemporer dan imperialisme lama. Dalam istilah kontemporer, imperialisme mengacu pada gagasan untuk memperluas wilayah jajahan dengan menggunakan politik luar negeri agar kapital bank dapat meraup keuntungan industri. Seperti imperialisme modern, imperialisme tua terdiri dari nafsu, keinginan, semangat, dan upaya untuk menguasai negara lain. Imperialisme tidak


pernah dilakukan oleh negara lain selain negara Eropa. Tujuan dan cara bangsa Eropa melakukan imperialisme berbeda dari bangsa sebelumnya. Imperialisme negara lain lebih menekankan kejayaan. Dalam kebanyakan kasus, wilayah yang dapat ditaklukan harus tunduk dan membayar upeti, sedangkan kekuasaan raja yang wilayahnya telah ditaklukan tetap berlaku dan dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa. Meskipun demikian, imperialisme yang dilakukan oleh negaranegara Eropa tidak seperti sebelumnya. Selain melakukannya dengan cara ini, mereka juga mengambil kekayaan dan harta benda negeri jajahan, memberdayakan rakyatnya, dan membatasi kekuasaan raja hingga menjadi sangat kecil dibandingkan dengan Sukarno. Banyak dari mereka yang disingkirkan dan diganti dengan orangorang yang percaya padanya, sehingga mudah dikontrol. Setelah revolusi industri dan munculnya era teknologi, imperialisme berkembang pesat. Ini memungkinkan imperialis Eropa untuk mengambil harta benda dan kekayaan alam serta memeras darah dan keringat rakyat negeri jajahan demi keuntungan yang lebih besar. Selain itu, mereka menghancurkan industri rumahan atau kerajinan rakyat, menjadikan negara jajahan pasar dari hasil produksinya. Sektor politik, ekonomi, dan sosial masyarakat mengalami kerusakan yang semakin parah. Namun, feodalisme menggunakan pemimpin lokal sebagai mitra untuk mengontrol wilayah tertentu. Menurut pendapat lain, feodalisme adalah paham berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara yang mengontrol semua aspek kehidupan kelompok kecil, seperti yang terlihat dalam feodalisme lama. Banyak orang berpendapat bahwa feodalisme berdampak buruk pada sebagian besar masyarakat. Selain itu, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sangat terganggu oleh kontribusi yang diberikan oleh sistem feodalisme. Ini disebabkan oleh fakta bahwa prinsipprinsip yang dipegang oleh sistem feodalisme ini menyimpang dari prinsipprinsip ideal, yang berarti baik dan benar. Bukan untuk membangun negara, bangsa, atau rakyat secara keseluruhan, pelaksanaan pemerintahan di bawah kekuasaan para feodal pada umumnya berfokus pada kemewahan, kemakmuran, kesejahteraan, kepuasan, keagungan, dan kejayaan diri penguasa dan seluruh keluarganya. Negara digunakan untuk memenuhi keinginan penguasa. Penderita dan pihak yang dikorbankan dianggap sebagai objek masyarakat. Konsep feodalisme jelas merendahkan kualitas negara dan menuntut keterpurukan di masa depan. Sebenarnya, feodalisme adalah gaya hidup yang memecah belah lapisan masyarakat dan hierarki hamba. Tidak hanya persamaan yang telah dihancurkan


oleh feodalisme sendiri, tetapi persaudaraan antara sepupu-sepupu pun tidak ada lagi. Mereka hanya memiliki tanggung jawab sosial kepada kaum feodal dari tingkat terbawah. Sebaliknya, kaum feodal tidak bertanggung jawab atas bawahannya, terutama rakyat. Kebebasan berbuat apapun bagi kaum feodal menjadi semakin mutlak seiring dengan peningkatan kefeodalannya, kecuali terhadap pemerintah penjajah Hindia Belanda, satu-satunya batasan yang tidak akan dapat diterjangnya tanpa mengakibatkan kehancuran sendiri. Semua orang yang berusaha untuk membantu rakyat melihat pemerintah jajahan ini sebagai penghalang, terutama kaum feodal, penduduk pribumi sendiri. Kerjasama antara feodalisme dan imperialisme terjadi untuk mencapai tujuan, mempertahankan eksistensi, dan mewujudkan harapan masing-masing. Banyak dari mereka membangun kerja sama yang sangat baik, tetapi kadang-kadang mereka juga memanfaatkan dan mengkhianati satu sama lain. Orang-orang feodal biasanya meminta bantuan kekuatan imperialis untuk mempertahankan kekuasaan mereka, dan sebaliknya. Namun, dalam hal ini, para imperialis bertindak sebagai pemilik dan penguasa monarki feodalis. Posisi feodalis sangat rentan karena menjadi bagian imperialisme yang terkooptasi. Karena imperialis sering mengaburkan dan menghalangi keberadaan feodalis. Akibatnya, kekuasaan politik mengambil alih wilayah kekuasaan yang terbatas, bahkan terlepas dari para feodalis. Pada akhirnya, kerja sama tersebut menyebabkan kerusakan alam yang semakin parah dan penderitaan rakyat semakin parah. Ini adalah salah satu alasan penjajahan berlangsung lama. Pada tahun 1493, Perjanjian Tordesillas membagi dunia menjadi dua: Spanyol mendapat bagian pertama dan Portugis mendapat bagian kedua. Portugis memiliki wilayah dari Brazil hingga bagian timur (termasuk Indonesia) dan Spanyol memiliki sebagian. Setelah Colombus menemukan Amerika, mereka yang menjajah Eropa seperti Portugis, Spanyol, dan lainnya semakin menguasai wilayah tersebut. Waktu itu dikenal sebagai kebangkitan kolonialisme. tiba armada Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Cornelis dan krunya tiba di Banten. Setelah Banten dikuasai oleh Portugis, hubungannya dengan Portugis menjadi buruk ketika Belanda datang. Masyarakat Banten menyambut kedatangan Belanda dengan harapan dapat membantu Banten dalam penyerangan Palembang saat ini. Namun, harapan itu ternyata telah hilang. Houtman ditangkap karena hanya ingin membeli rempahrempah, dan tengkulak Cina yang membeli rempah-rempah itu akhirnya menjadi milik Houtman. Namun, setelah membayar


tebusan, ia akhirnya dibebaskan. Houtman kemudian pindah ke Bali, di mana ia dilayani dengan cara yang sama. Houtman akhirnya diusir dan pulang ke Belanda dengan sedikit rempah-rempah. Houtman dianggap sebagai pendahulu pelayaran Belanda ke Nusantara, meskipun pelayarannya dianggap gagal. Jacob van Neck dan Wybert van Warwyck memimpin delapan kapal Belanda dalam pelayaran ke dua pada tahun 1598. Pelayaran itu dapat mengangkut tiga kapal rempah-rempah ke Belanda. Selain itu, lima kapal tambahan dikirim ke Maluku, di mana mereka disambut kembali karena konflik dengan Portugis sedang terjadi di sana. Setelah ekspedisi Belanda untuk mengambil rempah-rempah itu berhasil, banyak pedagang swasta Belanda datang ke Nusantara. Dimulailah persaingan antara pedagang dan juga antara Portugis dan Spanyol, yang membuat Belanda gulung tikar. Akhirnya, pada tahun 1602, Pangeran Maurits dan Johan van Olden membentuk perserikatan dagang yang terdiri dari kongsi-kongsi Belanda. Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) adalah nama perusahaan dagang. Di antara hak-hak istimewa yang diberikan oleh pemerintah Belanda termasuk monopoli perdagangan, mengumumkan perang, mencetak uang sendiri, dan membuat perjanjian dengan raja dan penguasa lokal. Sejak saat itu, pintu kolonialisme Belanda di Indonesia menjadi lebih mudah diakses. Selama bertahun-tahun kolonialisme Belanda, kesultanan yang sudah ada di Nusantara, termasuk Kesultanan Banten, lambat laun runtuh. Tujuan kedatangan Belanda ke Banten adalah memonopoli perdagangan. Belanda juga memiliki tujuan untuk menguasai kesultanan. Pada akhirnya, mereka berhasil melakukannya. Pemerintahan Banten belum sepenuhnya diubah selama kesultanan menguasainya. Ketika Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mengambil alih wilayah tersebut, dia secara bertahap mengubah struktur pemerintahan yang ada di sana. Dimulai dengan mengubah status sultan menjadi "Bupati Sultan" sebelum Raffles mengubah nama Kesultanan Banten menjadi Keresidenan Banten pada tahun 1811. Pada tahun 1813, Kesultanan Banten secara resmi dihapuskan. Pada tahun itu, Raffles menahan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin. Setelah peristiwa tersebut, administrasi daerah Karesidenan Banten dibagi menjadi empat kabupaten, mengakhiri sejarah Kesultanan Banten. Terdiri dari Serang, Anyer, Pandeglang, dan Lebak. Seorang bupati bertanggung jawab atas setiap kabupaten. Perjanjian Traktat London dibuat pada tahun 1814. Pemerintah Inggris harus menyerahkan kekuasaan Pulau Jawa kepada pemerintah Kolonial Belanda. Di bawah arahan Gubernur Jenderal van Der


Capellen (1816-1826), Belanda merekonstruksi sistem administrasi yang sudah ada menjadi tiga bagian. Kabupaten Utara memiliki Serang sebagai ibu kota, Kabupaten Barat memiliki Caringin sebagai ibu kota, dan Kabupaten Selatan memiliki Lebak sebagai ibu kota. Kabupaten Lebak berasal dari sana. Selain perubahan administrasi, Gubernur Jenderal baru Johannes van Den Bosch memulai sistem ekonomi yang dikenal sebagai Cultuurstelsel (tanam paksa) pada tahun 1830. Konsep sistem sewa tanah dari masa jabatan Raffles yang tidak berhasil diteruskan oleh Komisaris Jenderal Van der Capellen dan Dus Bus (1826-1830), menyebabkan sistem ini dibuat. Dengan demikian, van den Bosch mengusulkan suatu sistem yang dapat menguntungkan adat istiadat lokal. Van den Bosch mengenal sistem pertanian. Pada periode yang dikenal sebagai cultuurstelsel ini, penduduk jajahan membayar pajak kepada perkebunan sebagai pengganti pajak tanah. Selain itu, pemerintah mengubah sistem pembayaran pajak dengan kuota per desa daripada individu. Dengan cultuurstelsel, petani memasukkan tanaman ekspor sementara ekonomi padi pokok tidak terganggu. Akibatnya, tidak ada dualisme ekonomi. Sementara sektor barat bergantung pada modal, sektor timur bergantung pada tenaga. Dalam kehidupan ekonomi, kedua sektor tersebut bekerja sama. Tanaman ekspor tahunan dan keras adalah dua kategori tanaman yang dikenalkan kepada petani pada masa cultuurstelsel. Tanaman tahunan seperti tebu, nila, dan tembakau ditanam di sawah bergiliran dengan padi. Tanaman keras adalah tanaman yang tidak dapat bergiliran dengan padi, seperti teh, lada, kopi, dll. Alat untuk mengelola sistem budaya adalah ikatan desa dan pengabdian feodal. Ini berarti bahwa bupati berfungsi sebagai pemimpin resmi rakyatnya. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja bupati adalah dengan memberi mereka tanah agar penduduk dapat memberikan Yuliati, hasil, dan tenaga, yang kemudian akan mengalir ke pemerintah kolonial. Banyak pegawai Belanda juga dikirim untuk mengawasi para bupati di setiap daerah untuk mengawasi sistem baru ini. Ini memulai pengawasan pemerintahan tidak langsung, yang melibatkan seorang penasehat Belanda dan pegawai tinggi Indonesia. Van den Bosch menggunakan konsep ini untuk menyesuaikannya dengan rumah tangga desa dan penguasa feodal. Setelah sistem cultuurstelsel diberlakukan dan divisi administrasi daerah yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch diberlakukan untuk semua wilayah, termasuk wilayah Lebak Banten. Menurut cerita, Pangeran Sanjaya, yang sebelumnya menjabat sebagai bupati Lebak, digantikan oleh R.A Karta Nata Negara, seorang


demang di Jasinga, dari 1830 hingga 1865. Setelah RA Karta Natanegara berhasil menangkap Nyai Gumparo atau Gemparan, pemerintah kolonial Belanda memberinya posisi bupati Lebak, yang menyebabkan perpecahan ini. Pemerintah Kolonial Belanda menyatakan bahwa RA Karta Natanegara memiliki kemampuan untuk mengelola pemerintahan yang ada di wilayah Lebak. Dia juga jujur dan setia terhadap kebijakan pemerintah Belanda. Itu yang membedakan RA Karta Natanegara dari bupati lain di beberapa Keresidenan Banten. Dengan demikian, peran seorang bupati semakin jelas: menjadi pemimpin yang memiliki ikatan feodal dengan rakyat dan sebagai kepala birokrat pemerintah Kolonial Belanda yang menerima tunjangan tahunan. Selain itu, RA Karta Natanegara mengubah penduduk Lebak yang biasanya petani padi menjadi petani komersial yang menanam komoditas seperti nila, tebu, kopi, tembakau, dan teh. Selain itu, bupati sering meminta petani mengalami kerugian karena tidak membayar hasil upah kerja mereka. Rakyat Lebak jelas marah atas perlakuan bupati terhadap mereka. Namun, setiap kali rakyat menentang, mereka dapat ditumpas oleh kolonial Belanda. Diangkatnya Eduard Douwes Dekker sebagai asisten residen Lebak baru dengan nama pena Multatuli pada tahun 1856 menunjukkan pelanggaran dan tindakan nakal bupati Karta Natanegara dan pejabat kolonial Belanda lainnya. Satu hari setelah Multatuli tiba di Lebak Banten, ia meminta kontelir, yang merupakan koordinator pengawasan pemerintahan Belanda, untuk mengundang para pejabat di wilayah itu untuk pertemuan pertamanya. Dalam pertemuan itu, Multatuli mempertanyakan mengapa wilayah Lebak kaya akan hasil bumi tetapi rakyatnya miskin. Menurutnya, ini tidak wajar. Selain itu, ia meminta para pejabat Belanda dan Banten untuk menegakan keadilan dan bukannya menjual keadilan untuk keuntungan finansial. Multatuli menyarankan para pejabat untuk berlaku adil kepada rakyat, terutama mereka yang telah bekerja tetapi tidak menerima kompensasi atas pekerjaan mereka, mengembalikan barang rampasan, dan menghindari kekerasan atau penindasan. Menurut Multatuli, keadaan seperti ini disebabkan oleh kulturselesen yang diberlakukan oleh orang-orang asing dari Eropa. Ini ditunjukkan dalam kutipan dari buku Multatuli yang diterjemahkan ke dalam Qanita (2018: 89), di mana disebutkan bahwa "Kemudian datang orang-orang sing dari Barat yang mengangkat diri mereka sebagai pemilik tanah." Peneliti berasumsi bahwa Multatuli sudah menyadari ketidakadilan dan penyimpangan di tanah jajahan pada masa culturstelseel sebelum dia ditugaskan di Lebak Banten. Mereka ingin mendapat


keuntungan dari kesuburan tanah itu, dan memerintahkan orang pribumi untuk menyisihkan waktu dan tenaga mereka untuk menggarap tanaman lain yang dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar di pasar Eropa. Dalam pidatonya pada pertemuan pertama, Multatuli mengungkapkan semua masalah yang terjadi di tanah jajahan. Multatuli menunjukkan pandangan unik tentang kebijakan para bupati dan pemerintah Belanda di Lebak. Selain itu, Multatuli berpendapat bahwa masalah yang serupa juga ada di wilayah lebak. Kajian ini menarik untuk melihat bagaimana Multatuli menanggapi kebijakan tanam paksa bupati Lebak Banten. B. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah, maka penulis membuat batasan penelitian dengan beberapa rumusan masalah. Adapun rumusan-rumusan masalah tersebut antara lain: 1. Bagaimana Biografi dan Karya Multatuli? 2. Bagaimana Respon Multatuli Terhadap Kebijakan Tanam Paksa Bupati Lebak Banten Pada Masa Hindia Belanda 1856- 1860? C. Tujuan Penelitian Adapun penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui Riwayat hidup dan karya Multatuli 2. Mengetahui bagaimana respon Multatuli terhadap kebijakan tanam paksa Bupati Lebak Banten pada masa Hindia Belanda 1856-1860 E. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode sejarah yang sifatnya kualitatif deskriptif. Metode Sejarah (Historical research Method) merupakan salah satu metode penelitian yang terkait dengan teori dan praktik, metode penelitian sejarah digunakan untuk membuktikan suatu kisah masa lalu sesuai dengan aturan pembuktian. Selain itu metode penelitian sejarah dapat disebut sebagai ilmu yang membahas mengenai tata cara mengetahui peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Hal yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, karena penelitian seringkali dihadapkan oleh peninggalan yang minim dengan sumber bahasa yang harus dipelajari. Begitu pula dengan pembahasan Dasar pemikiran Multatuli terhadap kebijakan bupati Lebak masa Kolonial Nicholas Walliman, Maka dapat disimpulkan bahwa penulisan ini dibuat sebagai tantangan serta ketertarikan untuk mengemukakan fakta sejarah yang pernah


ada. Untuk menghasilkan penulisan sejarah yang baik serta dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan 4 tahapan kerja. Adapun 4 tahapan tersebut yaitu heuristik, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi, dan yang terakhir historiografi. 1. Heuristik "Heuristik" berasal dari bahasa Yunani, "heuriskein", yang artinya "menemukan", dan "eureka", yang artinya "untuk menemukan". Oleh karena itu, heuristik adalah tahap dalam mencari, menemukan, dan mengumpulkan berbagai sumber dalam berbagai cara dan bentuk. Tujuan heuristik adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang peristiwa masa lalu yang terkait dengan penelitian. Penulis meletakkan dasar pendapat Multatuli tentang kebijakan bupati Lebak pada tahun 1800-an. Sumber lisan dari saksi atau pelaku sejarah tidak digunakan oleh penulis dalam penelitian ini. Kesaksian dari pelaku yang diceritakan diperlukan untuk menggunakan sumber lisan sebagai data sejarah. Pengalaman pribadi biasanya disampaikan secara lisan atau kesaksian yang direkam dengan alat perekam. Karena semua yang pernah sezaman dengan Multatuli sudah jelas tutup usia. Maka dari itu penulis akan banyak mengandalkan sumber-sumber tertulis dan sedikit sumber benda yang ditemukan di Museum Multatuli. Walaupun sumber lisan tidak dapat ditemukan karena para saksi dan pelaku nya sudah tutup usia, namun patut disyukuri karena Multatuli menerbitkan buku dengan judul Max Havelaar De Koffij Veilingen der Nederlandsche Handel Maatschappij pada tahun 1860. Koran Belanda Algemeen Handelsblad mengumumkan penerbitan buku Multatuli ini. Di Museum Multatuli Rangkasbitung juga ada lantai yang berisi surat yang dikirimkan Multatuli kepada Ratu Wilhelmina. Selain itu, ada bangunan rumah tempat Multatuli menulis surat kepada atasannya. Sumber berikut digunakan dan diandalkan dalam penelitian ini: 1. Max Havelaar De Koffij Veilingen der Nederlandsche Handel Maatschappij karya Multatuli (1875) 2. Wetenschappelijke Bladen dibawah pengawasan Mr. J.T Buijs (1860) 3. Koran Algemeen Handelsblad (1860) 25 M.S Prof. Dr. Nina Herlina, Metode Sejarah, Journal of Chemical Information and Modeling, (Bandung: Satya Historika, 2020), hlm. 24. 26 J. De Ruyter, “Max Havelaar,” Algemeen Handelsblad, 1860. 22 4. De Werken van Multatuli koran Algemeen Handelsblad (1870)


Sedangkan sumber sekunder yang digunakan untuk mendukung sumber primer di atas terdiri dari beragam buku, karya ilmiah, jurnal diantaranya ialah Max Havelaar terjemahan H.B Jassin, Max Havelaar terbitan Qanita, Dietse Letteren Multatuli Max Havelaar karya Dr. H. G Brands, De Geschiedenis van het Cultuurstelsel in Nederlands Indië karya fred muller 1873, penderitaan rakyat akibat tanam paksa 1930-1970 Karya Soeroto, Brieven van Multatuli karya W. Versluys 1890. Jassin Djambatan 1988, Membaca Ulang Max Havelaar Peter Carey Dkk 2019 dan lain lain. 2. Kritik Sumber yang telah dikumpulkan dalam tahapan Heuristik tidak semuanya dapat dipakai untuk bahan penelitian dalam bidang tertentu. Karena setelah pengumpulan sumber diperlukan tahapan selanjutnya yaitu verifikasi atau kritik sumber. Tahapan ini bermaksud agar peneliti dapat memilah dan memilih sumber yang digunakan untuk bahan penelitian. Dengan kata lain kritik sejarah adalah upaya untuk mendapatkan sumber yang kredibilitas dan otentik. Adapun kritik sumber-sumber sejarah terbagi menjadi dua, yakni kritik eksternal dan internal. a) Kritik Eksternal Kritik eksternal lebih mefokuskan untuk memverifikasi apakah sumber yang didapat autentik dan orisinal. Sumber dapat diuji dari keakuratan dokumen sejarah tersebut, berupa waktu terbit dan bentuk dokumen berikut beberapa buku yang menjadi sumber dalam penelitian ini; Max Havelaar De Koffij Veilingen der Nederlandesche Handel Maatschappij karya Multatuli (1875). Buku ini berbentuk pdf, didapat dari web delpher yang terpercaya keasiliannya. Sampul dari buku ini berwarna cokelat. Masih dapat dibaca dengan penggunaan bahsa belanda. Pada beberapa halaman terdapat coretan, namun hal tersebut tidak mengganggu peneliti membaca isi buku Multatuli. dibawah pengawasan Mr. J.T Buijs (1860). Buku ini didapatkan dari situs web delpher.nl yang sudah didigitalisasi menjadi pdf. Kondisi buku tersebut masih sangat baik. Sampul depannya berwarna kecoklatan seperti sudah tua namus isinya masih dapat dibaca dengan menggunakan ejaan Bahasa Belanda. Peneliti yakin bahwa sumber yang didapat adalah sumber otentik karena memang situs web.delpher.nl adalah web resmi yang menyediakan dokumen digital asli. Dapat juga ditinjau dari tahun penerbitan, dan pengarangnya. b) Kritik Internal


Kritik internal adalah kritik yang lebih mempersoalkan manfaat informasi dalam suatu sumber. Dengan kata lain kritik intern bisa menjadi prosess analisis terhadap dokumen. Dalam kritik intern dapat ditentukan resmi atau tidaknya sumber yang didapat. Peneliti akan mengkritik sumber primer yang telah dikumpulkan sebelumnya 1. Buku Max Havelaar of de koffij veilingen karya Multatuli Tahun 1860 terlihat orisinal, isi dalam buku tersebut juga menginformasikan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian. Karya Multatuli ini ditulis dalam bentuk otobiografi dengan bahasa Belanda yang informal (tidak resmi). Sumber informal dinilai sebagai sumber yang sangat berharga karena isinya lebih apa adanya. Walaupun pada kenyataannya karya tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai karya tulis sejarah, namun dapat menjadi sumber primer yang menjelaskan pengalaman Multatuli merasakan kebobrokan Sistem Tanam Paksa di Lebak Banten. Kesaksian penulis dapat dipercaya karena Multatuli adalah seseorang yang melakukan apa yang ia katakan.Ia termasuk orang jujur, adil dan taat agama. 2. Wetenschappelijke Bladen dibawah pengawasan Mr. J.T Buijs (1860). Dalam buku ini terdapat banyak sekali kisah mengenai tokoh-tokoh Belanda salah satunya ialah Multatuli. Mr. J. T menjelaskan siapakah Multatuli hingga bagaimana Multatuli dapat melahirkan karya Max Havelaar. Menurut peneliti informasi yang ada dalam buku tersebut sangat penting dan berguna untuk menambah literatur dalam penelitian ini. 3. Koran Algemeen Handelsblad (1860). Dalam koran ini berisikan informasi yang cukup sedikit yaitu mengenai terbitnya buku Max Havelaar di Belanda. Dalam koran ini juga menyebarkan berita bahwa buku Multatuli dapat dibeli di kota Amsterdam. 4. De Werken van Multatuli koran Algemeen Handelsblad (1870) Informasi yang ada dalam koran ini sangat dibutuhkan dalam penelitian. Di dalamnya menyebutkan karya-karya Multatuli yang telah dibukukan selain Max Havelaar. Demikian dapat mejadi sumber outentik yang menyebutkan bahwa Multatuli adalah seorang penulis. 3. Interpretasi Interpretasi menjadi suatu tahap menafsirkan fakta sejarah, yang kemudian fakta itu dirangkai menjadi satu kesatuan. Dalam proses ini tidak semua fakta dimasukkan ke dalam cerita sejarah, harus dipilih secara selektif dan relevan dengan


topik yang ada dan pastinya harus mendukung kebenaran sejarah. Bentuk penafsiran terbagi menjadi dua bagian; Pertama analisis yaitu menguraikan faktafakta yang didapat dari sumber sejarah. Kedua sintesis, proses menyatukan fakta yang didapat menjadi sebuah susunan kronologi sejarah. Sejarah pemikiran memiliki tiga macam pendekatan, yaitu kajian teks, kajian konteks sejarah, dan kajian hubungan anatara teks dan masyarakatnya. Teks pertama, genesis pemikiran. Kedua, konsistensi pemikiran. Ketiga, evolusi pemikiran. Keempat sistematika pemikira. Kelima, perkembangan dan perubahan. Keenam, varian pemikiran. Ketujuh, komunikasi pemikiran. Konteks pertama, konteks sejarah. Kedua konteks politik. Ketiga, konteks budaya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan studi tokoh untuk mengetahui dasar pemikiran Multatuli terhadap kebijakan bupati Lebak pada masa Kolonial Belanda 1856-1860. Studi tokoh sendiri adalah suatu pengkajian secara sistematis terhadap pemikiran atau gagasan seorang tokoh. Dalam pengkajian tokoh biasanya meliputi latar belakang internal maupun eksternal, pemikiran dari tokoh, kekuatan dan kelemahan dalam pemikiran, perkembangan pemikiran hingga kontribusi yang telah tokoh itu lakukan. Ada tiga indikator yang dapat dilihat jika seseorang meneliti ketokohan. Pertama integritas, baik keilmuan, ciri khas, pencapaian, kepemimpinan, perilaku, akhlak dan moralitasnya. Kedua karya, yang dimaksud karya di sini dapat berupa karya tulis, karya nyata fiksi dan non fiksi yang bermanfaat. Ketiga jasanya atau pengaruhnya terhadap masyarakat sekitar. Pengaruh tersebut dapat berbentuk pikiranpikiran, kepemimpinan dan keteladanan hingga dirinya menginspirasi masyarakat banyak. Penelitian ini menggunakan teori challenge and responces Arnold J. Toynbee. Teori ini diciptakan oleh prof. A rnold J. Toynbee seorang sarjana Inggris yang lahir di London 14 April 1889. Pemikiran Toynbee yang terkenal dalam bidang sejarah adalah challenge and responces yang ditulis dalam buku karyanya A Study of History, terdiri atas 12 jilid. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa terbentuknya suatu peradaban bukan berasal dari factor geografis atau biologi yang bertindak secara terpisah, akan tetapi lahir dari hasil interaksi keduanya yang memiliki hubungan. Toynbee juga mengatakan bahwa suatu kubudayaan itu lahir karena tantangan dan jawaban antara manusia dan alam. Jika memiliki kondisi alam yang baik maka manusia dapat menciptakan kebudayaan seperti Eropa, Tiongkok, India dan lainnya. Daerah yang disebutkan sebelaumnya memiliki peninggalan kebudayaan manusia yang beragam. Adapun daerah yang kondisi


alanya ekstrim dingin atau panas, tidak ditemukan kebudayaan manusia. Dalam kondisi ekstrim manusia tidak tertantang untuk menciptakan kebudayaan. Malah akan menimbulkan banyak orang bermigrasi karena tidak bisa menaklukan alam. Penggerak dan pencipta kebudayaan pada suatu masyarakat ialah mereka yang kreatif dengan jumlah kecil. Kaum minoritas kreatif dapat melahirkan pemikiran dan menciptakan kebudayaan. Sehingga Toynbee dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan lahir dari respon kaum minoritas terhadap alam. Demikian selaras denga napa yang dilakukan Multatuli saat menjabat menjadi Asisten Residen Lebak Banten. Multatuli ingin mengajak para pejabat pemerintahan pada masa kolonial Belanda khusunya Bupati R. A Karta Natanegara untuk menegakan keadilan, menciptakan kehidupan yang lebih layak untuk penduduk Lebak. Sehingga hal tersebut dapat melahirkan kegiatan yang baik untuk Hindia-Belanda. Peneliti memilih tokoh Multatuli karena ia memiliki sudut pandang yang berbeda pada kebijakan bupati Lebak untuk rakyat jajahan. menariknya hal tersebut kontras dengan para Pemerintah Belanda lainnya yang bahkan menciptakan dan mendukung kebijakan itu. Keadaan masyarakat Lebak yang disalahgunakaan oleh pemimpinnya membuat Multatuli tergerak untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan, di era kolonial. Upaya yang dia lakukannya berupa pidato di depan pejabat pemerintahan Lebak, surat menyurat dengan residen, dan menuliskan penderitaan rakyat dalam karyanya hingga mengegerkan parlemen serta bangsa Belanda lainnya melalui karyanya Dasar pemikiran Multatuli terhadap kebijakan bupati Lebak pada masa Kolonial Belanda menjadi asal-muasal tidakannya memberantas penyelewengan dan menegakkan keadilan di Lebak Banten. 4. Historiografi Historiografi menjadi tahap akhir dalam metode penelitian sejarah, tahap akhir ini berupa penulisan. Menuliskan sejarah bukan hanya merangkai faktafakta dari hasil penelitian dan menyusunnya, melainkan dalam penulisan harus dapat menyampaikan suatu pikiran melalui penafsiran berdasarkan fakta yang ada. Kecakapan dan kemahiran sangat diperlukan untuk menulis sejarah. Adapun sistematika penulisan yang ada pada penelitian ini terbagi kedalam beberapa bagian, diantaranya: BAB I, merupakan bab pendahuluan yang isinya adalah uraian mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka dan metode penelitian.


BAB II, berisi biografi, karya Multatuli, pandangan Multatuli terhadap Humanisme, kebijakan sistem tanam paksa Hindia Belanda, Peran Bupati Lebak Banten sebagai kepanjangan tangan colonial Belanda. Kebijakan tanam paksa pada masa Bupati Lebak Banten, refleksi penderitaan masyarakat lebak, hingga respon Multatuli terhadap kebijakan tanam paksa di Lebak Banten. BAB III, merupakan bab penutup yang mana setiap penutup dalam penelitian berisikan kesimpulan serta saran. BAB II PEMBAHASAN Biografi Multatuli dan hubungannya dengan Residen Lebak Dengan luas sekitar 73,1 km persegi, Lebak (Rangkasbitung) adalah wilayah di selatan Banten yang memiliki kelebihan geografis. Dipilih karena diyakini akan tumbuh subur untuk bibit kopi yang akan ditanam. Dengan ketinggian rata-rata 600–1800 Mdpl di atas permukaan laut, rencana penanaman kopi di tempat ini sangat percaya diri. Ini karena bupati bertanggung jawab atas pengawasan dan pengalokasian tanah untuk pertanian kopi. Penanaman komoditas kopi di Banten oleh pemerintah Belanda telah dimulai bersamaan dengan dimulainya sistem cultuurstelsel. Banten adalah salah satu wilayah yang berhasil menghasilkan hasil kopi yang cukup baik, dengan pendapatan sistem untuk penduduk Banten sekitar 1.301 kopi jenis arabica. Lokasi penanaman kopi ini dipilih di tempat yang memiliki kondisi tanah yang kering dan suhu udara yang rendah. Karena kopi tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah persawahan, pemerintah Belanda belajar dari hasil yang buruk dari penanaman kopi di wilayah pesisir utama pulau Jawa. Akibatnya, Lebak (Rangkasbitung) akhirnya dipilih sebagai tempat penanaman kopi di Residen Banten. Surat keputusan Kominsaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hindia Belanda nomor 1 Staastsblad nomor 81 tahun 1828 membagi wilayah keresidenan Banten menjadi tiga kabupaten: Serang, Caringin, dan Lebak. Keputusan yang dikeluarkan pada 2 Desember 1828 menandai penciptaan Kabupaten Lebak. Selanjutnya adalah warga Belanda yang ditugaskan di Residen Banten, tepatnya di kabupaten Lebak. Dia menentang kolonialisme dan juga merupakan tokoh yang kita kenal hingga saat ini, Multatuli, dengan nama asli Eduard Douwes Dekker. Ia adalah asisten residen Lebak di sebelah selatan keresidenan Banten, Rangkasbitung, selain menjadi penulis dan dramawan yang terkenal dengan buku Max Havelaar. Eduard dilahirkan di Amserdam dalam keluarga yang kaya dan berpendidikan. Ayahnya adalah seorang ketua kapal yang


hebat, dan ketika dia masih kecil, dia disekolahkan di sekolah Latin, tempat dia akhirnya bisa pergi ke universitas. Eduard berjalan lancar di sekolah karena dia adalah siswa yang pandai dan cerdas yang dapat mempertahankan nilainya. Namun, ketika dia merasa bosan, nilainya mulai menurun, dan ayahnya akhirnya mendengar penurunan nilainya dan mengeluarkannya dari sekolah dan menempatkannya di kantor dagang. Untuk Eduard, penempatannya di kantor dagang membuatnya jauh dari pergaulan. Kehidupannya berubah, dan Eduard akhirnya menyadari bagaimana menjadi orang miskin yang hidup di kelas bawah masyarakat. Ketika ayahnya pulang bekerja, kehidupan Eduard berubah, jadi ayahnya memutuskan untuk membawa Eduard dalam perjalanan. Ayahnya bekerja sebagai kapten kapal yang membawa kapal berlayar menuju dunia yang masih tersembunyi untuk mengumpulkan barangbarang yang dibutuhkan negara. Perjalanan ini juga memberi Eduard kesempatan untuk melihat hal-hal yang dia belum pernah lihat dan membawa ia ke dunia yang luar biasa. Dengan demikian, Eduard pergi ke pulau Jawa dan tiba di Batavia pada tahun 1839 sebagai seorang kelasi baru di kapal ayahnya karena Hindia Belanda menjadi tempat untuk mencari keuntungan dan pekerjaan. Saat kapalnya tiba di Batavia, Eduard mulai mencari pekerjaan di kota tersebut karena hubungannya dengan ayahnya. Tak lama kemudian, dia memilih untuk menjadi Pegawai Negeri (Ambetenaar) di kantor pengawasan keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian, ia melamar posisi yang sama di Sumatera Barat, dan oleh Gubernur Jendral Andreas Victor Michiels, ia dikirim sebagai kontrolir ke Kota Natal, yang terpencil di pantai barat. Eduard malah merasa lebih baik hidup di kota terpencil karena, sebagai Ambetenaar, dia memiliki posisi yang cukup tinggi dan merasa memiliki kekuasaan. Eduard bertanggung jawab atas urusan keuangan dan administrasi serta pemerintahan dan pengadilan selama jabatannya. Namun, dia tidak menyukai pekerjaannya dan akhirnya meninggalkan pekerjaannya dalam waktu dekat. Atasannya melakukan pemeriksaan di daerahnya dan menemukan bahwa pemerintahannya mengalami kerugian besar dalam kas. Ia akhirnya diberhentikan sementara dari pekerjaannya oleh Gubernur Sumatera Barat Jendral Michaels karena sikapnya yang tidak mengikuti perintah. Setelah itu, ia tinggal di Padang selama setahun tanpa uang. Baru pada tahun 1844 dia diizinkan untuk kembali ke Batavia. Ia mendapatkan rehabilitasi oleh pemerintah Belanda dan mendapat "uang tunggu" di sana. Setelah belajar dari pengalaman buruknya di Kota Natal, ia ditugaskan kembali untuk bekerja sebagai ambetenaar


pemerintah. Pada tahun 1846, Eduard akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap karena kinerjanya yang baik. Setelah itu, dia dipromosikan menjadi komis di kantor residen Purworejo. Karena prestasinya, residen "Johan George Otto Stuart von Schmidt auf Altenstadt" mengangkatnya menjadi sekretaris residen. Namun, karena Eduard tidak memiliki sertifikat diploma yang diperlukan untuk kenaikan jabatan, dia tidak benar-benar mendapat kenaikan pangkat. Namun, Gubernur Jendral dapat memberikan pengakuan diploma dalam situasi yang dianggap istimewa dengan memberikan bukti prestasi yang ditunjukkan dalam pekerjaan sebelumnya. Eduard mengajukan permohonan kepada gubernur pemerintahan, yang diterima. Akhirnya, dia berhasil mendapatkan pekerjaannya karena prestasinya di tempat kerja, dan atasannya, yang tinggal di Purworejo, menerima keputusan ini. Kegagalan di kota Natal dianggap sebagai kelalaian staf muda yang dapat dimaafkan. Meskipun demikian, setelah menduduki jabatan yang cukup tinggi di kalangan Ambetnaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Residen Maluku, yang memiliki sistem pemerintahan yang unik yang menghalangi ambetnaar di bawahnya untuk menunjukkan inisiatif mereka sendiri. Pada akhirnya, Eduard mengajukan cuti untuk alasan kesehatan, dan dia diberi izin untuk pergi ke Belanda. Selama tiga puluh tahun, penguasa Lebak, yang dipilih secara suksesi sebagai kepala pemerintahan asli sistem kolonial Hindia Belanda, berkuasa. Karena pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari pendapatan posisinya, tampaknya dia mengalami masalah keuangan yang serius. Oleh karena itu, bupati Lebak hanya dapat bergantung pada uang yang diperoleh dari pekerjaan paksa yang secara historis diwajibkan bagi warganya. Eduard Douwes Dekker menemukan bahwa penduduk kabupaten itu dipaksa bekerja melintasi perbatasan dan bahkan terlibat dalam pemerasan penguasa Lebak dan pejabatnya, meminta biji-bijian dan ternak dari penduduk. Itu sangat murah jika dibeli. Eduard Douwes Dekker menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen, kurang dari sebulan setelah menetap di Lebak. Ia menulis dengan emosi tentang apa yang terjadi di wilayahnya. Eduard meminta untuk menangkap raja dan anak-anaknya serta menyelidiki keadaan. Selama masa jabatan Eduard, ada desas-desus bahwa dia meninggal karena keracunan setelah menggantikan pejabat sebelumnya. Eduard merasa keluarganya dan dirinya terancam karena hal ini. Alasan lain adalah berita bahwa penguasa Cianjur mengunjungi Lebak, yang ternyata adalah keponakan penguasa Lebak, yang menurut Eduard akan melakukan pemerasan terhadap


banyak orang. Atasannya, Brest van Kempen, terkejut dengan berita ini dan melakukan pemeriksaan di lokasi, tetapi menolak permintaan Eduard, sehingga Eduard meminta kasus tersebut diserahkan kepada seorang liberal terkenal, Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist. Eduard justru mendapat teguran yang cukup keras, meskipun niatnya terpenuhi. Karena frustrasi, Eduard mengajukan pengunduran diri, yang diterima atasannya. Namun, keinginan kedua Eduard untuk menjadi seorang penulis sukses terwujud. Sekembalinya dari Hindia Belanda, ia membawa banyak manuskrip, termasuk naskah lakon, dan surat-surat yang ia bantu Lebak. Eduard mengunci diri di sebuah kamar hotel di Brussel pada bulan September 1859 karena tekanan istrinya untuk bercerai. Dia juga menulis buku terkenal Max Havelaar. Buku itu diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit tanpa sepengetahuan penerbit, tetapi masih menimbulkan banyak kontroversi di masyarakat, terutama di tanah airnya sendiri. Diterbitkan kembali pada tahun 1875 dengan teks yang diubah. Eduard dapat mulai mengharapkan uang dari karyanya setelah namanya sebagai penulis sudah diakui. Saat menerbitkan buku Max Havelaar, dia menggunakan nama "Multatuli", yang berasal dari bahasa Latin dan berarti "I Have Sufficient Suffering" atau "I Have Sufficient Suffering", di mana "aku" bisa berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau orangorang yang hidup di zaman jajahan. Buku ini membuka mata orang-orang di seluruh Eropa tentang kenyataan hitam Hindia Belanda, meskipun beberapa orang menganggap presentasi Dekker terlalu berlebihan. Setelah itu, di akhir hayatnya, Eduard tinggal di Wesbaden, Jerman, bersama dengan anak Jerman yang dia anggap sebagai anaknya sendiri. Setelah itu, Eduard Douwes Dekker tinggal di Ingelheim am Rhein, sebuah kota di Bavaria Jerman dekat Sungai Rhein, sampai dia meninggal 19 Februari 1887. Dimulainya Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) Pada awalnya budidaya kopi ini sangat menguntungkan VOC juga dilihat dari jumlah pendapatan yang diterima oleh para bupati penghasil kopi meningkat pada setiap penghasilan mereka. Di tahun 1726, bupati Cianjur yang wafat masih berhak mendapat 26.000 ringgit gulden dan bunga atas jumlah itu, Walikota baru bahkan lebih kaya. Dia memiliki tagihan 32.000 ringgit gulden terhadap VOC dan juga memiliki sejumlah properti dan bangunan. Pada tahun-tahun ini budidaya kopi bisa sangat dibilang berhasil dan juga hasil dari perdagangan mereka dapat dirasakan oleh masyarakat langsung. tetapi masa kegemilangan tersebut tidak bertahan lama dimulai akibat pemerintahan VOC dimana dia yang paling dipercaya dalam perdagangan kopi ini membuat peraturan sewa tanah terhadap petani serta aturan pembatasan pertama yang menempatkan sistem ini ke dalam sistem monopoli VOC


yaitu menjual kopi kepada pedagang swasta akan mendapat hukuman dan peraturan ini dimulai pada tahun 1723, dan juga untuk cara penyetoran hasil panen semakin menggunakan tawar-menawar dan tidak lagi bersifat sistem sukarela dan juga terjadi unsur paksaan dalam perdagangan kopi. Pada tahun 1726 kemudian diberlakukan penurunan harga secara drastis. Dari segala hal yang terjadi penyebab yang yang langsung muncul di kalangan pedagangan dan juga benak masyarakat juga meluasnya pemanfaatan uang di kalangan penduduk pemanfaatan uang itu digunakan untuk yaitu untuk memenuhi segala kebutuhan VOC, Seperti Pembelian Senjata adalah sesuatu yang tidak mungkin (G.J. Knaap 1986:41; M.C.Ricklefs 1993:215). Ditemukan pula keraguan masyarakat tentang kejujuran para Bupati yang semakin mendorong penurunan harga, pada tahap pertama diturunkan harga setengahnya hingga harga sebelumnya, Ketika ditinjau kembali pemotongan gratis ini bahkan terlalu kecil. Berdasarkan perintah dari atasan pada tahun 1726, gubernur jenderal merasa bahwa 5 rijksdaalders (ringgit atau 2,5 gulden) per pikul bukannya 21 rijksdaalders, sudah cukup untuk pekerjaan yang tidak terlalu berat itu.sebagai alasan VOC mengatakan bahwa perusahaan kekurangan uang tunai dan mempertahankan penurunan harga itu dengan argument bahwa penyetoran kopi menggantikan sepersepuluh hasil panen agraris yang merupakan mereka sebagai pemilik tanah. Penghematan itu memancing perlawanan petani Puncaknya pada tahun 1726 ketika seorang penyusup masuk ke sebuah paviliun di kabupaten Cianjur pada suatu malam. Setelah menemukan Aria Wirathanu Datar III sedang bermalas-malasan di istana, dia langsung memasukkan condor (pisau kecil yang digunakan sebagai jambul) ke perut bupati. Mendengar teriakan majikannya, para pengawal tak tinggal diam. Lantas terjadilah perkelahian seru yang berakhir dengan terbunuhnya sang penyusup. Namun akibat luka tiga tusukan di lambungnya, Aria Wiratanu Datar III sendiri mengalami luka parah dan beberapa jam kemudian (tepatnya setelah magrib), dia menghembuskan napasnya yang terakhir. Demikian dikisahkan oleh sejarawan Gunawan Yusuf. Terbunuhnya bupati Cianjur, pemasok terbesar kopi dan beberapa bulan setelah penurunan drastis harga pada tahun 1726 Yang lebih mengkhawatirkan dibanding kerusuhan yang terjadi itu, dan menimbulkan amarah VOC, adalah para petani di berbagai tempat yang melakukan perusakan tanaman. Pemangkasan harga sesungguhnya dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat keuntungan bukan menurunkan penawaran Pada tahun 1726 residen Cirebon mengeluh tentang perkebunan kopi yang menjadi semak belukar. Berita lain menceritakan perginya tenaga kerja yang pada tahuntahun sebelumnya datang dari daerah pesisir Cirebon ke tanah Sunda untuk memperlihatkan posisi VOC yang tidak terlalu besar. Setelah kejadian pemberontakan tersebut VOC harus terus berupaya untuk merebut tempat di pasar dunia dan memanfaatkan popularitas komoditas kopi ini mungkin belum menjadi minuman favorit seluruh rakyat tetapi kopi bukan lagi menjadi sebuah minuman mewah dan semua orang bisa menikmatinya. Tanam Paksa di jawa dimulai pada tahun 1836 atas inisiatif seorang yang memiliki pengalaman dalam bidang ini, yaitu Van De Bosch dia sudah memiliki pengalaman dalam pengelolaan perkebunan di wilayah kekuasaan Belanda di Kepulauan Karibia. Van De Bosch yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jendral memiliki tujuan yaitu Mentransformasi Pulau Jawa menjadi exportir besar-besaran dari produk-produk agrarian, dengan


keuntungan dari penjualannya terutama mengalir untuk kas Belanda. Van De Bosch dengan sistem Cultuurstelsel di jawa itu adalah untuk memenuhi permintaan komoditi di pasar dunia dan untuk mencapai tujuan tersebut ia menganjurkan pembudidayaan berbagai produk seperti kopi, gula, indigo(Nila), tembakau, teh, lada, dan kayu manis. Setiap komoditas memiliki perbedaan harga dengan nilai jual yang berbeda juga, persamaan dari semua produk itu adalah petani dipaksakan oleh pemerintah untuk memproduksinya dan sebab itu tidak dilakukan secara “voluntary” atau sukarela (Fasseur,1992). Menurut penelitian Prof. Fasseur di Universitas Leiden, pada 1840 sekitar 15,5% penduduk jawa dikerahkan cultuurstelsel ini. Penduduk Batavia dan daerah Kesultanan di Jawa Tengah atau Vorstenlanden tidak turut berpartisipati dalam sistem ini. Jumlah itu kemudian berfluktuasi (keadaan turun-naik harga) tetapi tidak turun secara drastis. Luas tanah garapan yang digunakan untuk cultuurstelsel ini menurut perhitungan, pada tahun 1840 adalah 6% saja. Pada 1850 menurun menjadi 4%, pada 1860 harga mengalami kenaikan walaupun terhitung sedikit. Jenis tanah yang dibutuhkan juga berbeda-beda untuk setiap tanaman, Tebu bahan pokok gula membutuhkan tanah persawahan yang baik, karena Tebu memerlukan proses irigasi. Tetapi kopi justru memerlukan kondisi tanah yang agak tandus yang tidak dapat digunakan untuk lahan persawahan seperti lereng gunung. Prof. Fasseur berhasil membuat kalkulasi mengenai berbagai berbagai komoditi yang ditanam di 1830 dan membawa hasil sekitar tahun 1840 (Fasseur, 1993). Dalam waktu sepuluh tahun (1830-1840) semua keresidenan (18 buah) di Jawa sudah terserap dalam sistem ini kecuali keresidenan Batavia. Kopi diusahakan dari Banten hingga ke keresidenan Besuki di Jawa Timur, tetapi produksi kopi terbesar berasal dari keresidenan-keresidenan Priangan (Jawa Barat), Kedu (Jawa Tengah), Pasuruan dan Besuki (Jawa Timur). Setelah menyelenggarakan cultuurstelsel, Belanda berusaha sebisa mungkin untuk tidak berhubungan langsung dengan para petani. Oleh karena itu pelaksanaannya diserahkan kepada para bupati dan tokoh desa serta masyarakat desa. Keunggulan pemerintah hanya pada hasil yang dihitung dari orang pikul (+62 kg) yang tiba di gudang negara. Selain itu, penerapannya bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, dengan pemerintah pusat menyerahkan kendali kepada otoritas Belanda setempat (pengawas/pengontrol), yang diberi insentif untuk meningkatkan produksi karena mereka menerima "persentase budaya" tertentu dari pendapatan tanaman. Oleh karena itu, pada tahun 1860, diberangkatkan tidak kurang dari 90 pengawas berkebangsaan Belanda. Tugas petani tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah hasil panennya untuk dikirim ke gudang-gudang pemerintah. Transportasi ke kamp juga menjadi tanggung jawab para petani. Produksi kopi sepenuhnya berada di tangan para petani. Penduduk dibayar untuk pekerjaannya, tetapi sejarawan tidak yakin bagaimana pemerintah menetapkan tingkat dan juga tinggi rendahnya upah tersebut. Maksud semula Van De Bosch adalah agar upah disesuaikan dengan fluktuasi harga pasar, namun hal ini dianggap tidak praktis. Mungkin karena petani belum memahami kaitan pekerjaan mereka dengan mekanisme pasar. Menurut penelitian Prof. R.Van Niel dari Universitas Hawaii, jumlah upah disesuaikan dengan jumlah pajak tanah (land rent) yang harus dibayar petani. Tetap sejak semula Van De Bosch menginginkan agar upah yang diterima petani harus memungkinkan mereka “menikmatinya” dan itu berarti harus lebih


banyak dari hasil persawahan. Tetap kemudian ternyata berbagai faktor lain turut menentukan tinggi rendahnya upah petani. Masalah kesuburan tanah sawah untuk tebu tentu diperkirakan lebih tinggi pembayaran pajak tanahnya dibandingkan tanah gersang untuk kopi. Masalah iklim, teknologi teknologi yang digunakan, dan lain sebagainya, turut menentukan tinggi rendahnya upah. Dengan demikian upah bervariasi, bukan saja untuk masingmasing komoditi tetapi juga dari keresidenan-keresidenan (Fasseur,1992:42). Dengan demikian salah satu dampak dari cultuurstelsel adalah masuknya ekonomi uang di pedesaan. Penduduk membayar pajak sewa tanah yang diperkenalkan oleh Raffles dengan uang. Juga berbagai bahan kebutuhan dapat dibeli dengan uang. Kenyataan ini saja sudah merujuk adalah perubahan dalam kehidupan pedesaan. Suatu masalah yang penting pula dari cultuurstelsel adalah apa yang dinamakan “cultuur procent” (Fasseur, 1993: 46-50), yaitu jumlah persentase yang diterima oleh para pejabat Belanda maupun sesuai produksi yang diserahkan pada gudang-gudang pemerintahan. Jumlah itu tidak jarang jauh lebih besar dari gaji yang diterima. Van De Bosh sengaja menambahkan hal ini untuk mendorong para pejabat tersebut untuk bekerja keras, lagipula itu cara itu juga sudah digunakan dalam preanger sstelsel, dengan demikian cara ini bukan sesungguhnya ciptaan Van De Bosch. Sistem cultuur procent ternyata kurang membawa dampak yang kurang baik dalam korps kepegawaian Belanda karena menimbulkan perbedaan pendapatan yang mencolok antara mereka yang terlibat dengan cultuurstelsel dan yang tidak dan juga antara mereka yang bekerja di daerah Tinggi dan yang bekerja di daerah rendah ketidakpuasan pada pihak pejabat Belanda Nampak dari permintaan untuk di pindahkan ke daerah lain. Pertanyaan lain adalah berapa keuntungan yang diterima oleh pemerintah dari sistem pertanian tersebut. Sekali lagi perhitungan Prof. Fasseur bisa membantu memberi gambaran agak baik dengan mengambil tahun-tahun 1840 hingga 1849, ia sampai pada kesimpulan sebagai berikut: Tah un Kopi Gula Indig o Cochi nela 184 0- 184 4 184 5- 184 9 40.277 .637 24.549 .049 8.217. 907 4.136. 060 7.835. 77 7.726. 362 20.421 519.66 1 Ta hu n Kayu mani s La da Teh Tem baka u Bati g Slot 18 40- 18 43 151.3 10 132 .74 4 514. 394 --- 39.3 41.6 51 18 45- 18 49 171.7 98 56. 548 1.66 6.49 6 94.56 0 35.0 56.8 20 (Hasil Keuntungan Pemerintah Hindia Belanda) (Sumber: Fasseur, 1992:37.) Data menunjukkan bahwa kopi merupakan sumber pendapatan terbesar pemerintah Belanda. Mereka menghasilkan sekitar 65 juta Gulden dari penjualan barang paling populer Priangan antara tahun 1840 dan 1849. Karena sistem ini, dapat dikatakan bahwa tujuan Van De Bosch untuk mengembangkan ekonomi Belanda tercapai. Pada saat itu, perekonomian Belanda sedang mengalami penurunan akibat berbagai jenis perang, khususnya


Perang Napoleon yang pecah di daratan Eropa dan berdampak buruk bagi negara. Pernyataan “Java de kurut waroop Nederland driff” kemudian terjadi karena masalah Belanda sudah teratasi dan mulai terobati sejak diberlakukannya kebijakan cultuurstelsel. Maka tidak diherankan semenjak krisis keuangan Belanda ini dapat teratasi lewat cultuustelsel muncul suara-suara semejak pertengahan abad-19 terutama kaum liberal, yang mentuk dihapuskannya sistem itu dan menggantikannya dengan modal swasta dan kerja bebas. Salah satu intelektual yang paling terkemuka di kalangan ini adalah pendeta Van Baroll Haovell yang mendesak di twede komer (DPR) untuk menghapus undang-undang cultuurstelsel. Dalam tahun tahun 1860-an desakan itu semakin kuat, dan perubahan nyata muncul Ketika pemerintahan konservatif yang mendukung cultuurstelsel jatuh pada tahun 1860. Dan pemerintahan baru dibentuk oleh kauma liberal pada tahun 1862 mulai dimulai perubahanperubahan mendasar akhirnya dimulai abad 20 seluruh sistem ini lenyap sama sekali dan digantikan oleh sistem lain. BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Para pembaca ataupun dapat memeriksa "Max Havelaar" oleh Multatuli, a.k.a. Eduard Douwes Dekker adalah seorang penulis Belanda. Itu dirilis pada tahun 1860, tetapi sudah memiliki reputasi sebagai klasik sastra Belanda. Novel "Max Havelaar" mengikuti kehidupan seorang petugas kolonial bernama Max Havelaar yang dikirim ke India Belanda (sekarang Indonesia) pada abad ke-19. Havelaar memiliki standar moral yang tinggi dan bekerja untuk menghilangkan eksploitasi dan korupsi yang mengganggu pemerintah kolonial Belanda. Multatuli menceritakan kisah kekejaman dan ketidakadilan yang dialami oleh penduduk asli Indonesia selama pemerintahan kolonial Belanda dengan cara yang rumit dan bergaya. Protagonisnya, Havelaar, berjuang untuk hak-hak penduduk asli dan mengungkapkan kegagalan sistem kolonial kepada atasan Belanda dan masyarakat. Novel ini menawarkan kritik terhadap aspek politik dan sosial pemerintahan kolonial Belanda, selain menjadi karya fiksi. Isu-isu seperti eksploitasi perkebunan kopi, pencurian tanah, ketidakadilan hukum, dan perlakuan brutal terhadap penduduk asli dibangkitkan dalam "Max Havelaar" melalui karakter yang beragam dan peristiwa dramatis novel. Novel "Max Havelaar" memainkan peran penting dalam membangkitkan masyarakat Belanda untuk realitas yang keras dari kolonialisme dan memicu gerakan reformasi sosial di India Belanda. Buku ini juga secara signifikan mempengaruhi perspektif publik tentang kolonialisme di Belanda dan seterusnya. Singkatnya, "Max Havelaar" adalah karya sastra yang signifikan karena kritik sosial dan politik yang ditawarkan tentang kolonialisme Belanda di India Belanda. Melalui narasi


yang berpengaruh, Multatuli mengungkapkan ketidakadilan dan eksploitasi hubungan kolonial dan memicu introspeksi serius. Daftar Pustaka [1] Multatuli/Eduard Douwes Dekker. 2014. Max Havellar. NARASI Yogyakarta [2] Wetenschappelijke Bladen dibawah pengawasan Mr. J.T Buijs (1860). [3] Koran Algemeen Handelsblad (1860). [4] De Werken van Multatuli koran Algemeen Handelsblad (1870). [5] Thomas Stamford Raffles. History Of Java. [6] Bulthuis, R : De Vreemde Figuur van Eduard Douwes Dekker, Haagsche Post 8 Januari 1995, Den Haag, 1955.


Click to View FlipBook Version