i
Struktur Penulis Judul : Profil Dusun Sirnarasa Copyright © KKN Wésa Laksmana Sahwahita 2024 Universitas Nusa Putra Sukabumi Dusun Sirnarasa Kec. Cikakak Kab. Sukabumi Jawa Barat Penulis : Arif Maulana, Hario Tirto Aji, Alfiand Purwa Nugraha Penata Text : Haerul Ambiya, Hario Tirto Aji, Risa Yunia Febri Wulandari Ansori Tata Letak : Haerul Ambiya Photografer : Muhammad Adli Shafnaj, Arif Maulana Desain Cover : Alfiand Purwa Nugraha Narasumber : A Nde (Ketua Lembaga Adat Desa) : Pak Absor (Juru Basa Kampung) : Pak Okih Suryadi (Kepala Desa Sirnarasa) : Pak Iyad Supriadi (Kepala Dusun 2 Sirnarasa) : Tuti Susilawati (Guru SDN 1 Cihangasa) Universitas Nusa Putra Sukabumi KKN Wésa Laksmana Sahwahita Dusun Sirnarasa 2024 iii
Kata Pengantar Dusun Sirnarasa adalah bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul yang dipimpin oleh Abah Ugi dan berlokasi di Kasepuhan Gelar Alam, sebuah komunitas adat di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Mereka masih menjaga kebudayaan peninggalan leluhur sejak tahun 1368. Komunitas ini tinggal di daerah pegunungan dan sepanjang Sungai Cibareno Girang. Kasepuhan memiliki artian kata dasar ‘Sepuh’, yang berarti ‘Tua’. Kasepuhan mengandung artian makna sebagai tempat tinggal para ‘sesepuh’ dan dipimpin oleh Abah sebagai pemimpin adat berdasarkan garis keturunan. Pertanian menjadi ritual adat yang sangat sakral dengan istilah ‘Mupusti paré, lain migusti’ yang artinya memuliakan padi tetapi bukan menuhankan. ‘Leuit’ (lumbung padi) merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan status sosial. Komunitas adat ini memiliki sistem ketahanan pangan yang kuat memenuhi kebutuhan masyarakat adat dengan hasil panen padi yang tidak diperjual belikan. Komunitas adat Kasepuhan Ciptagelar melestarikan alam dengan membagi wilayah dalam 3 zona berbeda (hutan titipan, tutupan, dan garapan) untuk pemanfaatan dan pengelolaan hutan yang berdasarkan sistem hukum adat. Mereka tetap mempertahankan aturanaturan adat dalam menjaga tradisi, budaya, dan kelestarian ekosistem alam. Meskipun perkembangan zaman yang semakin modern tidak mempengaruhi aspek-aspek budaya, komunitas ini berkomitmen untuk menjaga kearifan lokal demi keberlangsungan hidup manusia di masa depan. Dusun Sirnarasa merupakan salah satu yang mesti diperhatikan keberadaanya, karena dusun ini masih memegang teguh keadatan sebagai ciri budaya mereka. Ciri umum pada dusun ini ialah terciptanya harmonisasi antara masyarakat dalam bergotong royong untuk mempertahankan tatanan adat. Pengelolaan padi dan sistem pertaniannya yang unik, tentu memberikan dampak yang lebih positif kedepannya. Buku ini juga berisikan wawancara dengan pakar atau narasumber terkait tentang asalusul dusun adat dan kebudayaan yang tetap melambangkan mereka, seperti ikat kepala dan sarung merupakan pokok pendirian dari masyarakat adat. Sukabumi, Maret 2024 KKN Wésa Laksmana Sahwahita iiiii
Daftar Isi Stuktur Penulis i Kata Pengantar ii Daftar Isi iii Profil Dusun 01 Dusun Sirnarasa 01 Sejarah Keadatan 02 Adat Istiadat 05 Padi (Paré) 07 Lumbung Padi (Leuit) 09 Gotong Royong (Sabilulungan) 11 Tungku Tradisional (Hawu) 12 Profesi 15 Komoditas 19 Kerajinan Anyaman 20 Hasil Bumi 21 Pangan 22 Penutupan 25 ivii
Profil Dusun Dusun Sirnarasa Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Dusun Sirnarasa sebuah dusun adat yang terletak di bawah Gunung Halimun Salak, lebih tepatnya berada di punggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas yang berada pada ketinggian antara 700- 1.000 mdpl. Jika wilayah Pantai Pelabuhan Ratu dijadikan sebagai acuan maka jarak tempuh ke Dusun Sirnarasa adalah 30 km, dapat ditempuh dengan waktu 1,5 jam menggunakan kendaaraan bermotor. Asal mula nama Dusun Sirnarasa ini dulunya merupakan tempat persinggahan (Pupuhu) bagi leluhur adat banten kidul. Dalam pemberian nama Dusun Sirnarasa memiliki makna “SIR” dalam bahasa sunda yang artinya, keinginan hati yang dimana akan menetap di tempat, menjadi rasa yang masih disimpan akhirnya disamper (dijemput) sampai di tetapkan. Dusun Sirnarasa sendiri didirkan oleh Abah Anom (Alm). Dusun adat ini mempercayakan seorang “Abah” sebagai sesepuh (orang yang dituakan) untuk memimpin, dengan memberikan amanatamanatnya kepada kepala dusun setempat. Mayoritas masyarakat Dusun Sirnarasa beragama Islam. Pekerjaan masyarakat pada umumnya adalah bertani, berternak, dan berkebun. Pekerjaan lainnya adalah sebagai pengrajin, tukang kayu, kuli bangunan, dan pedagang. 1
Dusun Sirnarasa merupakan bagian dari kesatuan adat banten kidul yang di pimpin oleh Abah Ugi menetap di kasepuhan gelar alam. Tersebar di tiga kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi, dan Banten tersebar di 568 Kampung salah satunya adalah Kampung Sirnarasa yang berada di Desa Sirnarasa. Berjalan pada tahun 1368 M di Bogor sampai saat ini, dan sudah beberapa kali berpindah-pindah (nomaden). Perpindahan kesepuhan terjadi saat mendapat (wangsit) petunjuk dari leluhur yang datang dari mimpi. Perpindahan pertama yaitu di Bogor sebanyak 17 kali sampai ke Sirnarasa lalu ke Linggarjati, Ciptarasa, Ciptagelar dan saat ini ada di Gelar Alam. Sejarah Keadatan Dusun Sirnarasa, perjalanan kesepuhan dan padi dalam kehidupan adat 2
Mayoritas dari masyarakat adat terdiri dari masyarakat asli sunda yang memiliki asal usul yang sama. Bertani secara tradisional merupakan upaya dalam melestarikan kekayaan adat banten kidul, umumnya dalam menjalankan bertani padi masa panennya hanya satu tahun sekali mengikuti siklus alam yang ditetapkan oleh kalender alam dan menjadi ketentuan masyarakat adat tidak boleh memperjual belikan beras. Konsumsi terbesar masyarakat adat atau masyarakat sunda ialah nasi, padi merupakan sebuah bekal untuk semuanya dan umumnya padi adalah salah satu upaya masyarakat adat dalam mempertahankan kebutuhan seharihari. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat biasanya memanfaatkan komuditas lain seperti gula aren, kolang-kaling, durian, dan kerajinan tangan. Padi bagi masyarakat adat adalah kehidupan itu sendiri, padi biasanya di simpan dalam lumbung padi (leuit) mampu bertahan sampai puluhan tahun. Pembangunan lumbung padi (leuit) biasanya menggunakan bahan bahan yang disediakan oleh alam, lama waktu dari proses pembangunan lumbung padi (leuit) memakan waktu 2-3 hari untuk ukuran kecil atau sedang, sementara untuk leuit yang berukuran besar membutuhkan waktu paling lama 5-7 hari. 3
“Padi itu bekal bagi kita karena padi juga tidak bisa menghidupi dirinya dan kita pun hidup karenanya.” (A Nde) 4
Adat Istiadat Kasepuhan Adat Banten Kidul Kegiatan-kegiatan pertanian yang terkait dengan budidaya padi mengikuti ketentuan-ketentuan adat Dusun Sirnarasa merupakan salah satu desa tradisional yang masih memegang adat dengan kuat. Secara budaya, Sirnarasa termasuk ke dalam wilayah kesatuan adat Banten Kidul, Kasepuhan Gelar Alam. Banyak kegiatan-kegiatan pertanian terutama yang terkait dengan budidaya padi yang harus mengikuti ketentuan-ketentuan adat. Salah satu upacara besar yang menarik perhatian publik, bahkan sering dianggap sebagai atraksi wisata kultural yang langka, adalah kegiatan Sérén Taun sebagai perwujudan rasa terima kasih petani atas karunia Tuhan berupa keberhasilan panen. Sérén Taun biasanya diselenggarakan di sekitar bulan Juli-Agustus. Kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari, selalu bercermin kepada hukum adat atau aturan adat karena setiap kehidupan mereka sehari-hari telah diatur dalam hukum adat atau aturan adat seperti ikat kepala dan sarung. 5
Hutan merupakan tata kelola dan kebutuhan yang paling utama bagi masyarakat adat kasepuhan, dalam aturan adat kasepuhan hutan memiliki peran penting dalam ruang kelola hutan yaitu Hutan Tutupan, Hutan Titipan, dan Hutan Garapan. • Hutan Tutupan yaitu hutan yang tidak boleh dimasuki atau hutan larangan. Hutan ini tidak boleh disentuh atau tidak boleh dimasuki oleh masyarakat adat kasepuhan dan masyarakat non adat. Hutan Tutupan ini mengaliri sawah-sawah milik masyarakat, sehingga selain untuk pesawahan air ini juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari kebutuhan untuk minum, mandi, dan lain-lain. • Hutan Titipan merupakan hutan garapan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat dan dengan adanya izin dari pemangku adat, hutan ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan membangun rumah dan lumbung padi. Masyarakat hanya boleh mengakses hutan titipan apabila hutan tersebut masih tersedia bahan-bahan untuk keperluan membuat rumah. • Hutan Garapan yaitu hutan yang menjadi mata pencaharian masyarakat seharihari berupa pesawahan, ladang, dan kebun. Hutan Garapan ini siapa saja boleh menggarapnya asalkan ada kemauan baik itu masyarakat adat atau bukan, mereka tetap dibolehkan menggarap lahan tersebut. Namun, dengan syarat yaitu mereka tidak boleh memiliki tanah tersebut secara individu dan mereka hanya diperbolehkan menggarapnya. Tidak ada batasan tertentu seberapa luas mereka harus menggarap. 6
Peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun sejak tahun 1368 Masehi, hampir seluruh kegiatan dalam kehidupan tidak terlepas oleh kepercayaan, budaya, dan tradisi terutama dalam sektor bercocok tanam atau pertanian secara tradisional. Pertanian secara tradisional menjadi ritual adat yang sangat sakral dan memiliki aturan adat tersendiri, terdapat istilah “Mupusti Paré” artinya memuliakan padi tapi bukan mentuhankannya. Masyarakat Dusun Sirnarasa yang merupakan bagian dari adat Kasepuhan Gelar Alam tetap mempertahankan aturan-aturan adat dalam menjaga tradisi dan budaya serta menjaga kelestarian ekosistem alam. Para sesepuh mendapat wewenang untuk tetap melestarikan sistem pertanian tradisional secara turun-temurun, dalam menjalankan sektor pertanian para sesepuh biasanya melakukan perhitungan bintang atau perhitungan tanggal akan dilaksanakannya masa bertani dan ritualritual yang menjadi tradisi. Salah satu upacara besar yang menarik perhatian publik yaitu kegiatan Sérén Taun sebagai perwujudan rasa terima kasih petani atas karunia Tuhan berupa keberhasilan panen, Sérén Taun biasanya diselenggarakan di sekitar bulan Juli-Agustus. Padi (Paré) Bekal kehidupan itu beras, sebagai konsumsi terbesar masyarakat adat 7
Tata kelola penggarapan lahan pertanian masyarakat adat biasanya menggunakan kerbau sebagai alat untuk membajak sawah, kerbau yang dipakai ialah dua ekor dan satu orang yang mengarahkannya. Sesi menanam padi (tandur) biasanya dilakukan secara beramairamai sampai 2-5 orang dengan cara penananam padi dengan langkah mundur, petani dapat melihat dan menyesuaikan barisan benih tersebut. Beukah merupakan proses keluarnya bunga padi yang perlahan-lahan akan tumbuh berisi cairan yang nantinya akan memadat menjadi padi. Pelaksanaannya tradisi Mipit Paré dilaksanakan oleh masyarakat adat secara bergotong royong. Tradisi ini sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil padi yang berlimpah. 8
Lumbung padi (Leuit) memiliki peran sebagai tempat penyimpanan hasil panen (padi), karena didalam adat kasepuhan masyarakat diwajibkan memiliki minimal satu buah leuit meskipun tidak diwajibkan memiliki sawah pribadi (seperti perkebunan/ bercocok tanam). Fungsi leuit juga dianggap sebagai simbol dari kemakmuran, artinya jumlah leuit yang dimiliki tiap keluarga merupakan perlambang kemakmuran bagi keluarga tersebut. Leuit dibangun dengan bahan material alami yang diperoleh di sekitaran wilayah kasepuhan karena kondisi geografis dan alamnya yang subur dan berada di kaki gunung halimun seperti bambu, kayu, dan lainnya. Leuit pribadi yang dimiliki secara personal atau perseorangan oleh keluarga yang telah berumah tangga. Leuit ini melambangkan tolak ukur kesejahteraan, semakin banyak leuit yang dibangun maka semakin tinggi pula status ekonominya. Leuit komunal, warga sekitar menyebutkan dengan nama leuit kasatuan yaitu sebuah lumbung padi milik kokolot lembur yang berada di kampung-kampung kasepuhan berfungsi untuk mengatasi permasalahan ketahanan pangan. Leuit kasatuan tersebut dibangun di atas tanah milik abah dan biasanya dibangun menggunakan sistem gotong royong. Ada satu bangunan lumbung padi yang disakralkan oleh masyarakat adat kasepuhan yaitu keberadaan leuit jimat, jaraknya tidak terlalu jauh dengan bangunan Imah Gedé. Leuit ini berstatus menjadi hak milik semua warga kasepuhan. Dilihat dari kata ‘jimat’ pada Leuit yang berasal dari kata ‘nyimat’ yang berarti meminjam, dipergunakan sebagai wadah pemimjaman hasil padi bagi warga yang merasa kekurangan dan bisa dibayar setelah panen raya tahun depan sesuai dengan jumlah padi yang di pinjam waktu itu. Setiap musim panen raya tiba, tiap keluarga adat kasepuhan diwajibkan untuk Tatali (menyimpan hasil panen padi) untuk kemudian disimpan kedalam Leuit Jimat. Besaran hasil panen yang mereka peroleh jika hasil panen sebanyak 50 ikat padi, maka harus menyerahkan satu ikat padi. Begitupun jika memperoleh hasil panen sebesar 100 ikat padi, mereka wajib menyumbangkan dua ikat padi dan seterusnya. Uniknya, hasil panen padi tersebut tidak boleh diperjual belikan untuk masyarakat luar dan dikhususkan hanya untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari bagi masyarakat adat kasepuhan sendiri. Lumbung Padi (Leuit) Simbol kemakmuran masyarakat Dusun Sirnarasa 9
Dusun sirnarasa merupakan bagian dari kesepuhan adat banten kidul yang di pimpin oleh abah ugi menetap di kesepuhan gelar alam. tersebar di tiga kabupaten yaitu bogor, sukabumi dan banten, tersebar di 568 kampung salah satunya adalah kampung sirnarasa dan kampung ciptarasa yang berada di dusun sirnarasa. ????? (Numbuk Padi) 10
Di masyarakat kesatuan adat Banten Kidul, nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang di kasepuhan Gelar Alam, yang diwarnai oleh hubungan persaudaraan dan kebersamaan yang erat. Sabilulungan mengandung makna silih asah, silih asuh, silih asih, silih wawangi, sabar, dan iman yang semuanya akan berkontribusi pada pembentukan kondisi masyarakat yang mempunyai karakter/jati diri dan ber-etos kerja tinggi untuk mempertahankan budayanya. Gotong royong (sabilulungan) menjadi ciri khas utama diselenggarakannya acara-acara seperti gégénék, hajatan, sedekah ruwah, nyimbur, sérén taun, dan upacara adat lainnya. Masyarakat adat bahu membahu membantu mempersiapkan semua kebutuhan pokok seperti padi. Gotong royong menjadi cikal bakal Dusun Sirnarasa mempunyai sistem ketahanan pangan yang sangat kuat, khususnya padi dan beras. Sérén Taun merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan setelah panen padi. Ritual yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu ini ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil alam yang diterima khususnya sektor pertanian dan perkebunan. Sérén Taun atau sedekah bumi juga dimaksudkan untuk melepas tahun yang sudah dilalui dan menerima tahun yang akan datang. Semua warga desa terlibat dan merayakan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun. Menampilkan adat tradisi masyarakat sunda dengan berbagai atraksi kearifan lokal, masyarakat adat antusias untuk menyelenggarakan acara sérén taun ini karena budaya, hasil bumi, dan kerajinan. Upacara Sérén Taun dimaksudkan untuk menghormati leluhur dan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang telah dilakukan. Gotong Royong (Sabilulungan) Silih asah silih asuh silih asih silih wawangi 11
Hawu merupakan tungku tradisional yang digunakan untuk memasak, nasi yang dimasak dengan cara ini akan menghasilkan panas yang tahan lebih lama dan nasi terasa pulen dan mengeluarkan aroma yang wangi. Dalam ketentuan adat hawu tetap digunakan untuk menjaga tradisi menanak nasi, aroma nasi yang khas menjadi primadona tersendiri dan juga menjaga kehangatan tubuh saat malam hari. Menanak nasi pada hawu biasanya menggunakan aseupan sebagai wadah menanaknya dan sééng yang mempunyai fungsi untuk memasak air yang dimana aseupan yang berisi beras bisa disimpan diatas sééng tersebut. Biasanya bahan bakar yang dipakai ialah daun-daun kering, kayu, dan kertas bekas yang disimpan lalu dibakar di dalam tungku tradisional tersebut. Songsong terbuat dari bambu kecil yang dari ujung ke ujung memiliki lubang yang cukup untuk menghembuskan angin untuk membesarkan dan mempertahankan api. Songsong terbuat dari bambu dengan diameter lubang berukuran sedang dan panjang yang sedang pula. Mempertahankan api adalah hal yang sangat penting, karena api yang kecil belum bisa membakar kayu yang tebal diperlukan kesabaran dan ketelitian sampai api itu membara (ruhay). Tungku Tradisional (Hawu) Kehangatan nasi yang dikukus menghasilkan aroma yang khas 12
13
14
Profesi Masyarakat Dusun Sirnarasa Etos kerja melahirkan kepercayaan dan menilai tindakan-tindakan yang dikerjakan Etos yang berarti karakter, watak kesusilaan, adat istiadat atau kebiasaan merupakan subjek dari arti etika. Etika yang terkait dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau kelompok untuk menilai apakah tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etos kerja adalah suara hati yang tulus dan ikhlas dari setiap anggota organisasi untuk mau bekerja keras tanpa pamrih dalam memberikan pelayanan terbaik yang lebih kepada setiap orang tanpa terkecuali. Etos kerja yang baik berasal dari masyarakat proaktif dalam mempersiapkan diri, siap mentaati aturan atau tuturan adat kesepuhan dengan nilai-nilai positif. Masyarakat adat dengan tulus dan serius memegang kepercayaan mereka dan dengan komitmen pada pekerjaan tersebut, kepercayaan tersebut membentuk sikap kerja dan perilaku kerja unik. Inilah etos kerja masyarakat adat dan itu pula budaya kerja mereka. Mengingat aspek-aspek yang terkandung dalam konsep etos kerja, penilaian secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu penilaian positif dan negatif atau etos kerja tinggi dan etos kerja rendah. Pekerjaan masyarakat pada umumnya adalah bertani, berternak, dan berkebun. Pekerjaan lainnya adalah sebagai pengrajin, tukang kayu, pekerja lepas, dan pedagang. 15
Meskipun ada masyarakat yang merantau ke luar desa, mereka tetap terikat dengan ketentuan adat, yang mengharuskan mereka pulang ketika ada acara besar di kasepuhan. Disamping itu, etika lingkungan juga dianggap sebagai refleksi kritis mengenai tindakan yang harus diambil masyarakat adat dalam menghadapi pilihan moral yang terkait dengan isu lingkungan. Penghormatan terhadap alam mendasarkan diri pada prilaku moral manusia yang mempunyai kewajiban untuk menghormati kehidupan, baik pada manusia atau makhluk hidup lainnya. Hormat terhadap alam adalah suatu prinsip dasar yang harus dimiliki manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Hal ini tercermin dari kewajiban moral masyarakat adat untuk menghormati kehidupan bersama. Sektor pertanian hingga saat ini masih menjadi sektor penggerak perekonomian yang paling penting dan terbukti memiliki ketahanan yang paling tinggi, ketahanan sektor pertanian merupakan fondasi pembangunan ekonomi. 16
17
18
Komoditas Produk Dusun Sirnarasa Hasil bumi, industri, dan barang kerajinan setempat Kakayaan alam yang dimiliki Dusun Sirnarasa menjadi sumber daya masyarakat untuk mengembangkan berbagai komoditas unggulan. Produk-produk Produk-produk dari dusun tersebut tersebut memberikan memberikan dampak yang signifikan signifikan dalam sektor pertanian. Selain itu mereka juga mengembangkan aneka pangan dan hasil bumi seperti gula aren, kolang-kaling, durian, petai, kapulaga, dan cengkih. Hasil kekayaan alam dijaga dengan cermat oleh masyarakat, yang secara kolektif turut serta dalam upaya pelestarian alam disekitarnya. dalam berbagai acara adat atau pernikahan, masyarakat selalu menyajikan hidangan tradisional seperti dodol, bubur sumsum dan lainya sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Komoditas ini menjadi ciri khas dan juga bagain yang melekat bagi masyarakat, seiring dengan upaya mereka yang tetap melestarikan adat istiadat adat yang ada di Dusun s\ Sirnarasa. 19
Kerajinan anyaman merupakan bentuk kerajinan tradisional yang pada awalnya memiliki bentuk sederhana sebagai karya seni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kerajinan anyaman masih merupakan kegiatan sampingan masyarakat pedesaan dalam mengisi waktu luang ketika menunggu saat bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama. Anyaman adalah teknik membuat karya seni rupa yang dilakukan dengan cara menumpang tindihkan (menyilangkan) bahan-bahan seperti lidi, rotan, akar, dan daun-daun yang sudah kering untuk dijadikan suatu rumpun yang kuat. Sedangkan alat yang digunankan untuk menganyam masih sangat sederhana seperti pisau pemotong, pisau penipis, dan catut. Kerajinan anyaman yang biasanya ada di Dusun Sirnarasa berupa kaneron, dudukuy, cetok, hihid, aseupan, nyiru, ayakan, dan boboko. Alat-alat ini merupakan kebutuhan yang ada disetiap masyarakat Dusun Sirnarasa. Pembuatan kerajinan ini tidak ada yang melestarikannya lagi, padahal pada tahun 90-an terdapat kelompok pengrajin yang terkenal hingga ke negara Jepang. Sampai saat ini yang masih aktif membuat kerajinan hanya segelintir orang, salah satunya adalah pak Oo. Kerajinan Anyaman Suplai utama kebutuhan warga dalam memasak dan bertani 20
Hasil Bumi Sektor pertanian dan perkebunan Ekonomi sumber daya alam Masyarakat Dusun Sirnarasa memiliki hutan dan lahan yang luas. Upaya untuk memperkokoh ekonomi dilakukan dengan menjaga sumber daya alam yang dimiliki. Hasil bumi yang biasanya dikelola oleh masyarakat terdiri dari palawija dan berbagai jenis buah-buahan. Masyarakat Dusun Sirnarasa aktif mengelola lahan pertanian dan perkebunan, memanfaatkannya secara optimal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Hasil bumi yang mereka perjual belikan seperti halnya kapulaga, cengkeh, durian dan petai. 21
Pangan Komoditas yang unggul ciri khas Dusun Sirnarasa Saat merayakan pernikahan, dodol menjadi hidangan wajib yang tak terpisahkan sebagai sajian khas yang sangat dihargai. Proses pembuatan dodol sendiri dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat sehingga berdampak dalam memperkuat ikatan silaturahmi antar warga. Dodol sendiri adalah hidangan yang terbuat dari bahan dasar kelapa, gula, dan ketan. Sumber daya alam yang menjadi andalan di Dusun Sirnarasa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menciptakan hidangan kuliner yang kaya akan gizi dan nilai tradisional. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi ciri khas utama di dusun ini, dengan produksi gula aren secara tradisional dan pembuatan kolang-kaling. Hutan-hutan yang dijaga dengan baik di Dusun Sirnarasa memberikan hasil alam yang berlimpah yang kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat. Terletak di sekitar hutan yang masih asri, Dusun Sirnarasa secara alami menyediakan sumber kehidupan yang penting bagi masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. 22
23
24
Penutup Dengan segala keberagaman adat istiadat serta melimpahnya hasil alam di Dusun Sirnarasa, membuat masyarakat di dusun sirnarasa hidup dengan berdampingan antara alam dan budayanya. Nama Sirnarasa bukan hanya sekedar wilayah saja namun sudah menjadi sebuah identitas yang di banggakan bagi masyarakatnya. Meski setiap warganya memiliki ceritanya masing-masing namun semua itu diikat oleh ikatan kekeluargaan yang kokoh. Perjuangan masyarakat Dusun Sirnarasa dalam menjalani kehidupannya ternyata tanpa mereka sadari bisa memperluas nama Dusun Sirnarasa lewat konsistensi yang mereka lakukan dari dulu. Tempat ini dapat terus tumbuh dengan mempertahankan hal-hal terbaiknya mulai dari kekayaan alam, wisata yang masih tersembunyi serta eksotiknya adat istiadat yang ada. Eksistensi ini sangat diperlukan agar setiap aspek yang ada dapat di ekspos dengan baik dan bisa mengenalkan keunikan dari Dusun Sirnarasa kepada masyarakat yang lebih luas. 25
26
27
28
Terima Kasih Kami KKN Wésa Laksmana Sahwahita Terima kasih kepada Allah SWT yang melimpahkan berkat dan karunianya Terima kasih kepada Kecamatan Cikakak Terima kasih kepada Desa Sirnarasa Terima kasih kepada Kesepuhan Gelar Alam Terima kasih kepada Sesepuh Kampung Terima kasih kepada Guru SD Negeri Cihangasa 1 Terima kasih kepada Masyarakat Dusun Sirnarasa Terima kasih kepada Camat Cikakak (Bapak Sutopo, S.Ip.,M.Si) Terima kasih kepada Kepala Desa Sirnarasa (Bapak Okih Suryadi) Terima kasih kepada Ketua Lembaga Adat Desa (A Nde) Terima kasih kepada Juru Basa Kampung (Bapak Absor) Terima kasih kepada Keluarga Bapak Kadus Sirnarasa (Bapak Iyad Supriadi) Terima kasih kepada Ketua RT (Bapak Ajon) Terima kasih kepada Keluarga Ibu Ukay Terima kasih kepada Bapak Jata & Ibu Ersih Terima kasih kepada Bapak Oo Terima kasih kepada Kang Ujang Terima kasih kepada Bapak Edih Terima kasih kepada DPL (Bapak Tulus Rega Wahyuni E, S.Kom.I., M.Sn) Terima kasih kepada Universitas Nusa Putra Terima kasih kepada Anggota KKN Wésa Laksmana Sahwahita Terima kasih kami ucapkan dari kelompok KKN Desa Sirnarasa periode tahun 2024 yang turut serta dalam menjalankan program Kuliah Kerja Nyata melalui pengabdian kepada masyarakat selalu menjadi rasa syukur kami terhadap nilainilai keberagaman budaya dan budi pekerti dari masyarakat Sirnarasa, kami turut senang menjaga kelestarian budaya dan dapat berkontribusi dalam membangun Dusun Sirnarasa ke arah yang lebih baik. 29
KKN Wésa Laksmana Sahwahita Universitas Nusa Putra 30
31 Ade Arian Agung Gumelar Alfiand Purwa Nugraha Arif Maulana Dea Eryani Febri Wulandari Ansori Gigis Zevira Haerul Ambiya Hario Tirto Aji Irna Latifah Moh. Saeful Rohman Muhamad Rizky Fauzi Muhammad Adli Shafnaj Natasha Khairunisa Neng Intan Nasiroh Ramlan Afaril Risa Yunia Sakila Sendu Pradina Siti Intan Adzhariah Warsiti
32