The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

A31010152_Santika Cahya Pramesti_E-Modul

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by santikacahya0301, 2021-12-20 09:31:12

A31010152_Santika Cahya Pramesti_E-Modul

A31010152_Santika Cahya Pramesti_E-Modul

E-Modul

TEKS DEBAT

BAHASA INDONESIA
oleh : Santika Cahya

KELAS

X

Semester II

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai pembelajar tidak bisa terlepas dengan

informasi. Informasi tersebut bisa diperoleh melalui berbagai macam sumber, baik lisan
maupun tulis. Salah satu sumber yang erat kaitannya dengan kehidupan seorang
pembelajar adalah informasi dari hasil tulisan siswa. Informasi tersebut tentu saja
berguna untuk alat penilaian, sumber wawasan peserta didik.

Apakah tulisan yang bersumber dari peserta didik sudah sesuai dengan tujuan
pembelajaran? Tentu saja ada tulisan yang sudah sesuai dengan kriteria penilaian dan ada
juga yang masih jauh dari kriteria penilaian. Ada peserta didik yang seringkali masih
kurang memerhatikan aspek kohesi dan koherensi dalam pembelajaran menulis. Mereka
kadang merasa bingung dalam menuangkan ide ke dalam tulisan. Ada yang menganggap
bahasa lisan dan tulis disamakan, ada juga yang belum mampu menuangkan ide tulisan
secara runtut dan berkesinambungan.

Pembelajaran menulis di SMA/SMK menuntut peserta didik untuk mampu
menuangkan ide ke dalam tulisan dengan memperhatikan struktur dan kaidah yang benar.
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam kebahasaan adalah wacana.

Modul ini akan menyampaikan mengenai materi ajar teks eksplanasi pada kelas X
SMA khususnya KD 3.13-4.13 memproduksi teks Debat berkaitan dengan bidang
pekerjaan secara lisan atau tulis dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan. Materi
tersebut akan dikaitkan dengan kebahasaan aspek kohesi dan koherensi. Melalui modul
ini, pembelajar diharapkan mampu memfasilitasi peserta didik dalam mencapai tujuan,
yaitu mampu menulis teks eksplanasi dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan.

B. KOMPETENSI DASAR
Modul ini dikhususkan untuk kelas X dengan KD 3.13-4.13 memproduksi teks Debat
berkaitan dengan bidang pekerjaan secara lisan atau tulis dengan memerhatikan struktur
dan kebahasaan. Indikator pencapaian kompetensinya sebagai berikut :
3.13 Menganalisis isi debat (permasalahan/ isu, sudut pandang dan argumen beberapa
Pihak, dan simpulan).
4.13 Mengembangkan permasalahan/isu dari berbagai sudut pandang yang dilengkapi
Argument dan berdebat.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui model pembelajaran discovery learning dengan pemberian stimulus;
pengidentifikasian masalah; pengumpulan data; pengolahan data; pembuktian; dan
penarikan kesimpulan, diharapkan siswa terlibat aktif selama proses belajar mengajar
berlangsung, memiliki sikap ingin tahu, teliti dalam melakukan pengamatan dan
bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi
saran dan kritik, menganalisis isi debat; dan mengembangkan permasalahan/isu dari
berbagai sudut pandang yang dilengkapi argumen dalam berdebat.

D. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Berdoalah sebelum melakukan aktivitas!
2. Tulislah identitas Anda pada kolom yang tersedia!
3. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 5 orang siswa!
4. Amatilah video debat yang ditayangkan oleh guru!
5. Amati tentang isi pada tayangan debat dengan terlebih dahulu!
6. Carilah informasi dan mendiskusikan isi debat!
7. Tuliskan hasil diskusi ke dalam lembar kerja serta menyusun isi debat dengan
sistematika yag benar!
8. Perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompok tentang struktur debat
di depan kelas
9. Perwakilan kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil kerja kelompok
yang ditempelkan di papan tulis.

A.Pengertian Teks Debat

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “debat” berarti
pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal, disertai saling memberi alasan untuk
mempertahankan pendapat masing-masing. Alasan-alasan tersebut bisa didukung oleh informasi,
data, dan fakta yang berkaitan dengan materi debat. Berikut merupakan beberapa pengertian
debat menurut para ahli yang perlu kamu ketahui, antara lain:

 G. Sukandi berpendapat bahwa debat pada hakekatnya saling adu argumentasi antarpribadi
atau antarkelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan.

 Henry Guntur Tarigan mengartikan debat sebagai kegiatan saling adu argumentasi
antarpribadi atau antarkelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak.

 Asidi Dipodjojo memberi pengertian debat sebagai proses komunikasi lisan yang dinyatakan
dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berdebat akan
menyatakan argumen, serta memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak lawan
berdebat atau pihak lain yang mendengarkan perdebatan tersebut menjadi yakin dan berpihak
kepadanya.

B.Jenis-Jenis Debat

Dalam pelaksanaannya, debat dibagi menjadi beberapa jenis. Adapun jenis-jenis debat adalah
sebagai berikut:

a. Debat Parlemen atau Majelis (Parliamentary or Assembly Debating)
Sesuai dengan namanya, debat parlemen atau majelis terjadi di tatanan eksekutif, yudikatif,
atau legislatif suatu negara. Debat ini biasanya membahas mengenai undang-undang,
kebijakan, atau hal-hal yang berkaitan dengan ketatanegaraan.

b. Debat Pemeriksaan Ulangan (Cross-Examination Debating)
Debat pemeriksaan ulangan dilaksanakan untuk memeriksa ulang, dan mengetahui kebenaran
pemeriksaan sebelumnya. Debat ini mengandung banyak pertanyaan yang saling berkaitan
agar dapat mempertahankan posisi masing-masing tim. Jenis debat ini biasanya sering
ditemukan dalam persidangan, yang terjadi antara jaksa dan pengacara.

c. Debat Formal, Konvensional, atau Debat Pendidikan (Formal, Conventional, or
Educational Debating)
Debat formal, konvensional, atau debat pendidikan adalah debat yang bertujuan memberikan
kesempatan pada dua tim yang berseberangan untuk mengungkapkan beberapa argumen
untuk menguatkan materi debat, atau justru argumen untuk melawan materi tersebut.
Berbeda dengan kedua jenis debat sebelumnya, debat jenis ini bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan kedua tim dalam mengutarakan argumen secara logis, jelas,
dan terstruktur.
Selain itu, debat ini juga mengasah kemampuan untuk mendengarkan dan menerima
pendapat yang berbeda. Apabila debat ini dilaksanakan dalam bahasa asing, masing-masing
tim debat juga bisa melatih kemampuan berbahasa asing mereka melalui debat ini. Jenis
debat inilah yang sering kamu lihat di acara televisi maupun dalam kehidupan sehari-hari.

C.Tujuan dan Fungsi Debat

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, debat dilakukan untuk mencapai kemenangan dari
beradu argumen. Argumen yang paling logis, jelas, dan memiliki struktur teks debat yang
baik, biasanya memenangkan perdebatan. Selain untuk mencapai kemenangan argumen,
tujuan debat dilakukan juga untuk menguji kebenaran pemikiran mengenai suatu hal.

Selain tujuan, pelaksanaan debat juga memiliki beberapa fungsi, antara lain melatih
kemampuan berbicara di depan umum, kemampuan beradu argumen, berpikir kritis, serta
mampu menghormati pendapat yang berbeda.

D. Unsur-Unsur Debat

Debat dapat dilaksanakan dengan memerhatikan beberapa unsur penting. Unsur-unsur debat
tersebut adalah sebagai berikut:

 Mosi: Hal atau topik yang diperdebatkan.
 Tim pro: Tim yang setuju pada topik yang diperdebatkan .
 Tim kontra: Tim oposisi tim pro atau tim yang tidak setuju atau menentang topik yang

diperdebatkan.
 Tim netral: Tim yang memberikan dua sisi argumen, baik dukungan maupun sanggahan

terhadap topik yang diperdebatkan.
 Moderator: Orang yang memimpin dan memandu jalannya debat.
 Notulen: Orang yang menulis jalannya perdebatan dan mengambil kesimpulan dari

perdebatan tersebut.

E. Struktur Debat

Sama seperti teks lainnya, teks debat juga memiliki struktur yang wajib kamu perhatikan.
Struktur teks debat tersebut, meliputi:

 Pengenalan: Bagian ini berisi perkenalan diri dari masing-masing tim debat.
 Penyampaian argumen: Bagian ini berisi penyampaian argumen dari masing-masing

tim mengenai mosi yang sudah ditentukan. Argumen harus didukung dengan data dan
fakta.
 Debat: Setelah masing-masing tim menyampaikan argumen, barulah mereka masuk
ke bagian inti struktur teks debat, yaitu debat. Di bagian ini, setiap tim saling
menyampaikan sanggahan mereka. Misalnya, tim pro menyanggah argumen tim
kontra, atau sebaliknya, tim kontra menyanggah argumen tim pro. Dalam
menyampaikan sanggahan, masing-masing tim harus menggunakan bahasa yang
sopan dan tidak menyinggung pihak tim lawan.
 Kesimpulan: Bagian ini berisi kesimpulan dari setiap tim, kemudian diakhiri dengan
kesimpulan hasil debat dari moderator.

F. Kaidah Kebahasaan Debat

Selain memiliki struktur, teks debat juga memiliki kaidah kebahasaannya sendiri. Kaidah
kebahasaan teks debat tersebut adalah sebagai berikut:

 Kalimat Kompleks: struktur teks debat biasanya menggunakan kalimat kompleks, yang
memiliki lebih dari satu struktur atau lebih dari satu kata kerja.

 Konjungsi: teks debat biasanya memanfaatkan konjungsi yang berfungsi untuk
menghubungkan kata-kata atau kalimat.

 Kata Rujukan,:teks debat biasanya menggunakan kata rujukan yang berfungsi untuk
menjelaskan pemilik atau pemberi informasi, data, dan fakta yang digunakan dalam
argumentasi. Misalnya, dia, beliau, ini, itu, di sana, di sini, dan sebagainya.

G. Contoh Teks Debat

Mosi

Dibukanya sekolah tatap muka pada semester genap tahun ajaran dan tahun akademik 2000/2021
di masa pandemi COVID-19.

Moderator

Pada tanggal 20 November 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim
mengumumkan bahwa pemerintah sudah mencabut aturan larangan sekolah tatap muka di masa
pandemi COVID-19.

Berdasarkan SKB 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Semester
Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021, Mendikbud menjelaskan bahwa
pemerintah akan mengizinkan sekolah tatap muka dan memberikan kewenangan sepenuhnya
kepada pemerintah daerah. Bagaimana menurut kalian? Apakah Indonesia sudah siap membuka
sekolah-sekolahnya dan menyelenggarakan sekolah tatap muka lagi?

Argumen

Kami sangat setuju pemerintah membuka kembali sekolah-sekolah dan menyelenggarakan
sekolah tatap muka lagi karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kami nilai kurang efisien dalam
proses belajar mengajar.

Apalagi, selama ini PJJ terbukti tidak dapat dilakukan di seluruh Indonesia. Masih banyak guru
dan pelajar di desa yang tidak dapat menyelenggarakan PJJ karena kendala tidak memiliki
peralatan yang memadai, seperti laptop atau smartphone.

Selain itu, internet di daerah-daerah masih belum stabil sehingga membuat para siswa di daerah
semakin berpotensi mengalami ketertinggalan pendidikan.

Dampak-dampak negatif yang dikemukakan oleh Kemendikbud juga sangat beralasan. Oleh
karena itu, kami mendukung dibukanya kembali sekolah-sekolah dan diadakannya kembali
pembelajaran tatap muka.

Kami menolak dibukanya kembali sekolah-sekolah dan diadakannya kembali pembelajaran tatap
muka. Dalam kondisi pandemi yang semakin memprihatinkan saat ini di Indonesia, lebih baik
rencana pemerintah ini ditunda dulu.

Kami khawatir bila pemerintah masih bersikeras membuka sekolah dan mengadakan
pembelajaran tatap muka, akan ada banyak klaster baru COVID-19.

Memang PJJ tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan di seluruh Indonesia, tapi kami pikir,
kesehatan dan keselamatan masyarakat Indonesia jauh lebih penting dibandingkan memaksakan
diri untuk membuka kembali sekolah-sekolah. Apalagi, data menunjukkan pada tanggal 8
Januari 2021, ada lonjakan kasus baru positif COVID-19 sampai 10.617 kasus.

Sebagai tim netral, kami bisa memahami masing-masing argumen dari tim pro dan tim kontra.
Kami setuju PJJ yang tidak dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia membuat banyak siswa di
daerah yang mengalami ketertinggalan, tapi kami juga setuju kalau dengan memaksakan

dibukanya sekolah-sekolah pada masa pandemi yang semakin mengkhawatirkan ini dapat
menimbulkan banyaknya klaster baru di sekolah-sekolah yang dipaksakan dibuka.

Sekalipun demikian, mungkin kita dapat menekan penyebaran dan penambahan kasus baru
COVID-19 dengan mengetatkan protokol kesehatan di sekolah-sekolah yang akan dibuka
kembali, serta mengikuti peraturan pemerintah mengenai penyelenggaraan pembelajaran tatap
muka.

Adanya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak sekolah, pihak rumah
sakit, orang tua, dan masyarakat, tentu bisa membuat pelaksanaan pembelajaran tatap muka ini
berjalan optimal.

Namun, bila memang nantinya terbukti kebijakan pemerintah ini menimbulkan klaster-klaster
COVID-19 baru di sekolah-sekolah yang dibuka kembali, sebaiknya pemerintah menghentikan
kebijakan pembukaan kembali sekolah-sekolah ini dan kembali menerapkan PJJ.

Moderator

Baik, setelah mendengarkan argumen dari masing-masing tim, kita bisa menarik kesimpulan
bahwa dibukanya sekolah tatap muka pada semester genap tahun ajaran dan tahun akademik
2000/2021 di masa pandemi COVID-19 bisa dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah
pusat, pemerintah daerah, pihak sekolah, pihak rumah sakit, dan masyarakat.

Pelaksanaan tersebut wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan mematuhi peraturan
pemerintah mengenai penyelenggaraan sekolah tatap muka.

Namun, bila kebijakan sekolah tatap muka ini menimbulkan klaster-klaster baru, maka
pemerintah harus menghentikan kebijakan pembukaan kembali sekolah-sekolah ini. Pemerintah
harus berfokus pada penerapan PJJ yang jauh lebih baik dari sebelumnya, terutama untuk para
guru dan siswa yang ada di daerah-daerah.

Kembangkan Permasalahan dan Argumennya

Masalah
Pemerintah kesulitan mengatasi kemacetan arus kendaraan bermotor dan angkutan jalan.

Pengembangan Masalah:
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
Argumen:

Pro:
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________

Kontra:
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________

Netral
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________


Click to View FlipBook Version