TUGAS
KONEKSI ANTAR MATERI-KESIMPULAN
DAN REFLEKSI PEMIKIRAN
KI HAJAR DEWANTARA
MODUL 1.1
OLEH:
DWI NOORIS SA’ADAH
CGP ANGKATAN 7
KABUPATEN MAGELANG
FASILITATOR:
RASJA
PENGAJAR PRAKTIK:
WIDYAWATI PALUPI
TERGERAK , BERGERAK , MENGGERAKKAN
2022
Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan
Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Modul 1.1
Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara
merupakan salah satu pahlawan yang berperan penting dalam pendidikan Indonesia. Ki Hajar
Dewantara dikenal sebagai bapak pendidikan karena beliau mendirikan Taman Siswa yang
sangat menekankan pendidikan kebangsaan agar siswa bisa mencintai bangsa dan tanah air serta
berjuang bersama untuk memperoleh kemerdekaan.
Berdirinya Taman Siswa pada tahun 1920 oleh Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu gerbang
emas kemerdekaan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan yang awalnya hanya ditujukan
untuk sekelompok golongan demi kepentingan Kolonial Hindia Belanda, dialihkan menjadi
pendidikan yang bisa dirasakan semua orang tanpa diskriminasi.
ASAS PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA
Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran
merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak
secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala
kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi
menurut Ki Hajar Dewantara (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan
dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat
maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.
DASAR-DASAR PENDIDIKAN
Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang
ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, Ki Hajar Dewantara mengibaratkan peran
pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang
disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan.
Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah
yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji
jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik
karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu
disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak
mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu
mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
KODRAT ALAM DAN KODRAT ZAMAN
Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan
dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan
dengan “isi” dan “irama”.
“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala
kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup
kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan
dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan
wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya
selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak
bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21).
BUDI PEKERTI
Budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan
kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai
perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).
Budi Pekerti melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya
(kemerdekaan diri) dan kemerdekaan orang lain.
PRINSIP BUKAN ‘TABULA RASA’
Anak lahir bukan kertas kosong yang bisa diisi oleh orang dewasa sesuai kehendaknya. Anak
sudah membawa garis-garis dan coretannya masing-masing. Kekuatan sosio-kultural menjadi
proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Anak bukan kertas kosong
yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.
PENDIDIKAN ‘BERHAMBA’ PADA ANAK
Pendidikan yang berorientasi pada anak yaitu pendidikan yang menekankan pada minat,
kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali
motivasi untuk membangun pembiasaan anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu
terhadap informasi, berpengetahuan luas dan gemar membaca.
TRILOGI PENDIDIKAN
Ing Ngarsa Sung Tuladha berarti dari depan, guru harus memberikan panutan dan teladan yang
baik. Ing Madya Mangun Karsa berarti dari tengah, seorang pendidik harus dapat
membangkitkan atau membangun niat kemauan dan semangat murid serta menciptakan prakarsa
atau ide. Tut Wuri Handayani berarti dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberi arahan,
dorongan dan semangat kepada para muridnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam
masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia
Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.
Pendidikan yang dilakukan hendaknya student-centered yaitu pendidikan yang berorientasi pada
siswa dengan menyeimbangkan kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Penanaman budi pekerti
juga perlu dilakukan. Tugas guru adalah menebalkan garis yang baik-baik dan membiarkan garis
yang tidak baik agar tidak terlihat. Guru menuntun anak agar menampakkan potensinya menjadi
nyata, sekaligus meminimalisasi sifat atau tabiat buruknya. Kekuatan sosio-kultural menjadi
proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Jadi anak bukan kertas
kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.
Dalam tugasnya sebagai ‘pamong’, guru ‘menuntun’ dan memberi arahan agar anak tidak
kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan para
pendidik untuk tetap terbuka namun waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Bila melihat kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk
memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal
sosial budaya murid di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid
di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur. Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pengaruh
dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia.
Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan
zaman dalam mendidik (menuntun kekuatan kodrat anak).
Penggunaan semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri
Handayani sebagai pijakan dan simbol dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Ing Ngarsa
Sung Tuladha berarti guru dalam bertingkah dan berbicara harus dapat menjadi contoh baik dan
menginspirasi murid. Guru sebagai role model untuk murid. Ing Madya Mangun Karsa berarti
guru diharapkan dapat memberikan masukan atau arahan yang relevan dan berguna bagi anak
didiknya. Tut Wuri Handayani berarti guru dapat mengarahkan anak didik dari belakang dalam
mengimplementasikan apa yang dipelajarinya.
Intisari pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan adalah bagaimana memerdekakan
belajar, guna mencapai kemerdekaan belajar yang tujuan utamanya adalah menjadikan siswa
yang memiliki profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila terdiri atas: Beriman, Bertakwa
kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Bergotong royong, Kreatif,
Bernalar kritis, dan Mandiri. Ini berarti dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran kepada
anak-anak, Ki Hajar Dewantara menganjurkan agar pendidik tetap memperhatikan segala potensi
anak-anak, yaitu jiwa, jasmani, etika, moral, estetika dan karakter dengan paduan budaya sesuai
dengan perubahan zaman.
REFLEKSI
Hasil refleksi Filosofis Pemikiran Ki Hajar Dewantara modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak
yaitu sebagai berikut:
1. Sebelum mempelajari modul 1.1, ada beberapa hal yang saya percaya tentang murid dan
pembelajaran di kelas yaitu:
Pertama, Saya meyakini bahwa niat para siswa datang ke sekolah adalah untuk mempelajari
ilmu pengetahuan dan dapat nilai lalu lulus.
Kedua, Dalam pembelajaran saya memandang bahwa saya harus mentransfer pengetahuan
sesuai buku kepada siswa, sehingga guru aktif mengajar dan siswa duduk memperhatikan di
tempat duduknya. Metode yang digunakan menurut saya mudah asalkan materi
tersampaikan dan tidak variatif sehingga jarang memperhatikan kebutuhan siswa atau
pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan. Fokus kegiatan pembelajaran melihat
ketuntasan target kurikulum seperti yang tertuang dalam dokumen program tahunan maupun
program semester. Mengutamakan ketuntasan kurikulum merupakan hal yang penting
dengan tercapainya standar angka-angka yang tinggi. Hasil akhir dalam pembelajaran
diharapkan anak mampu mengerjakan ujian dan tugas dengan benar.
Ketiga, Saya tidak pernah membuat kesepakatan bersama saat mengawali pelaksanaan
pembelajaran. Saya cenderung menggunakan aturan yang sudah ada di sekolah disertai
dengan pelaksanaan sanksi dan hukumannya apabila ada pelanggaran terhadap aturan
sekolah.
2. Perubahan pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul 1.1 yaitu:
Pola pikir saya tentang siswa dan pembelajaran telah berubah. Seorang guru bukan sebagai
pusat akan tetapi guru sebagai ‘pamong’, fasilitator dan motivator. Pembelajaran yang
dilakukan adalah Student Centered Learning (SCL). Setelah muncul problematika PJJ pasca
pandemi Covid19, guru harus bekerja keras dan bekerja cerdas dalam menciptakan
pembelajaran, kreatif, inovatif, bermakna dan menyenangkan.
Pembelajaran dilaksanakan dengan berbagai cara, model, atau metode yang variatif
menggunakan berbagai sumber belajar, seperti lingkungan, surat kabar, majalah,
narasumber, maupun internet. Ketercapaian kurikulum harus dicapai tanpa membatasi
kemerdekaan belajar siswa. Sebaiknya kita sebagai guru harus melakukan asessment
diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan siswa, profil siswa, gaya belajar siswa, metode
belajar seperti apa yang mereka inginkan, sehingga kita sebagai guru dapat merancang
pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang dibutuhkan siswa.
Sebagai guru, saya harus mengaktualisasikan trilogi pendidikan dari KHD yaitu Ing Ngarsa
Sung Tuladha berarti guru dalam bertingkah dan berbicara harus dapat menjadi contoh baik
dan menginspirasi murid. Guru sebagai role model untuk murid. Ing Madya Mangun Karsa
berarti guru diharapkan dapat memberikan masukan atau arahan yang relevan dan berguna
bagi anak didiknya. Tut Wuri Handayani berarti guru dapat mengarahkan anak didik dari
belakang dalam mengimplementasikan apa yang dipelajarinya.
3. Yang dapat segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD
Saya akan mengaktualisasikan pemikiran-pemikiran KHD dalam pembelajaran dengan:
Pertama, membuat kesepakatan yang disepakati semua siswa dalam kelas saya. Dengan
membuat kesepakatan kelas, siswa sadar dan mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan di kelas. Dengan kesepakatan kelas, diharapkan pelanggaran dan hukuman
ditiadakan sehingga kelas menjadi lebih kondusif dan bisa belajar dengan tenang.
Kedua, Saya harus lebih sabar dalam membimbing mendidik dan harus memahami karakter
dan latar belakang siswa, keluarga atau lingkungan. Tetap menjalin komunikasi dengan
orang tua agar orang tua tau sejauh mana permasalahan dan perkembangan anaknya. Saya
harus lebih peka dengan permasalahan siswa dan segera mengatasi masalah tersebut.
Ketiga, Sebagai guru, saya harus memberikan keteladanan kepada siswa, dalam hal sikap,
penampilan, dan pola pikir. Guru tetap terbuka dengan kemajuan teknologi namun waspada
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dan peka terhadap fenomena dan
masalah-masalah sosial disekitar siswa. Guru menuntun, memberi arahan, memotivasi dan
menanamkan serta menumbuhkembangkan pengetahuan dan budi pekerti sehingga anak
bisa meraih kebahagiaan dan keselamatan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Keempat, dalam mengaktualisasikan pemikiran KHD diselaraskan dengan konteks
sosio-kultural siswa. Dalam pembelajaran, metode dan media yang digunakan harus variatif.
Sebagai contoh: menggunakan metode permainan dan diskusi . Kodrat anak adalah bermain.
Diskusi merupakan sarana siswa berkolaborasi dengan temannya. Dengan bermain dan
diskusi, siswa bisa (1) menambah rasa keingintahuan akan pengetahuan, (2)meningkatkan
psikomotor siswa, (3)menumbuhkembangkan sikap disiplin, jujur, kepekaan, gotongroyong,
solidaritas, kerja sama, percaya diri, berani mengeluarkan pendapat, dan menghargai orang
lain, (4)meningkatkan minat dan semangat belajar siswa, (5)menambah pengetahuan siswa.
Untuk mengetahui karakteristik siswa, saya akan melakukan asesmen diagnosis mengenai
potensi, minat, bakat, dan cara belajar siswa.
Kelima, Menumbuhkembangkan pendidikan karakter peserta didik dengan pembiasaan
seperti mengawali aktifitas pembelajaran dengan berdoa, saling menghargai pendapat ketika
berdiskusi, memberikan kata-kata positif untuk teman sebangku/sekelas, memberikan
pujian, menyampaikan permohonaan maaf jika melakukan kesalahan baik sengaja maupun
tidak dan terakhir membudayakan budaya lokal untuk mentransformasikan pendidikan
karakter peserta didik.
Demikian koneksi antar materi - kesimpulan dan refleksi saya mengenai pemikiran Ki Hajar
Dewantara pada modul 1.1.
Semoga bermanfaat.