KERAJAAN KALINGGA SECARA DIAKRONIK DAN SINKRONIK Mayang Gita Cahyani, X AKL 3 (27) Kerajaan kalingga adalah kerajaan yang bercorak budha karena ada catatan Yijing menginformasikan di Ho-ling ada rahib Tiongkok bernama Huineng sedang menerjemahkan salah satu kitab agama Budha ke dalam bahasa Mandarin. Ia bekerjasama dengan rahib setempat bernama Janabadra dan kitab tersebut mengenai konsep nirwana menurut Budha Hinayana. Dalam catatan ini mengisyaratkan Ho-Ling pada abad ke 7 berperan sebagai salah satu pusat studi agama Budha Hinayana Kehidupan Politik Pada abad VII Masehi Kerajaan Kalingga pernah dipimpin seorang ratu bernama Sima. Ratu Sima menjalankan pemerintahan dengan tegas, keras, adil, dan bijaksana. Dia melarang rakyatnya untuk menyentuh dan mengambil barang bukan milik mereka yang tercecer di jalan. Bagi siapa pun yang melanggar akan memperoleh hukuman berat. Hukum di Kalingga dapat ditegakkan dengan baik. Rakyat taat pada peraturan yang dibuat ratu mereka. Oleh sebab itu, ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan baik. Menurut naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima mempunyai cucu bernama Sahana yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari Kerajaan Galuh. Sahana mempunyai anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya. Perekonomian Kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian.Letaknya yang berada di pesisir utara Jawa menyebabkan sektor perdagangan maritim dapat berkembang pesat. Komoditas perdagangan Kalingga antara lain, kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Sementara itu, wilayah pedalaman yang subur dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pertanian dengan hasil utama berupa padi. Selain itu, sebagian penduduknya pandai membuat minuman dari bunga kelapa dan bunga aren. Penduduk Kalingga hidup dengan teratur. Ketertiban dan ketentraman sosial di Kalingga dapat berjalan dengan baik berkat kepemimpinan Ratu Sima yang tegas dan
bijaksana dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Dalam menegakkan hukum Ratu Sima tidak membedakan antara rakyat dengan anggota kerabatnya sendiri. Berita mengenai ketegasan hukum Ratu Sima pernah didengar oleh Raja Ta-Shih. Ta-Shih adalah sebutan Cina untuk kaum muslim Arab dan Persia. Raja Ta-Shih lalu menguji kebenaran khabar tersebut. Dia memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalan wilayah Kerajaan Ratu Sima. Selama tiga tahun kantong itu dibiarkan tergeletak di jalan dan tidak seorang pun berani menyentuh. Setiap orang melewati kantong emas itu berusaha menyingkir. Pada suatu hari putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong itu sehingga isinya berhamburan. Kejadiaan ini membuat Ratu Sima marah dan memerintahkan hukuman mati untuk putra mahkota. Akan tetapi, para menteri berusaha memohon pengampunan untuk putra mahkota. Ratu Sima menanggapi permohonan itu dengan memerintahkan agar jari kaki putra mahkota yang menyentuh kantong emas dipotong. Peristiwa ini adalah bukti ketegasan Ratu Sima dalam menegakkan hukum. Sepeninggalnya Ratu Sima, kalingga terbagi menjadi dua, karena sebelum wafatnya Ratu Sima membagi dua kerajaan. Kerajaan kalingga utara ( Bumi Mataram ) dibawah kepemimpinan Sanaha dan Kalingga Selatan ( Bumi Sambara ) dibawah kepemimpinan Dewasinga. Sanaha menikah dengan Bratasenawa yang melahirkan Sanjaya. Sanjaya kelak menikahi putri dewasinga bernama dewi sudiwara yang melahirkan rakai panagkaran, raja kedua kerajaan medang/mataram kuno. Runtuhnya kerajaan Kalingga terjadi setelah Ratu Shima meninggal dunia. Sebelumnya, dia telah membagi kerajaan menjadi dua yang akan diwarisi ke anak- anaknya. Setelah Ratu Shima meninggal dunia, masa kejayaan tidak berlangsung lama. Tanda-tanda kehancuran pada saat Ratu Shima digantikan. Puncaknya terjadi saat serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Jalur perniagaan direbut, sehingga masyarakat Kalingga harus mengungsi ke tempat pedalaman Pulau Jawa pada 742 M. Kesimpulannya kerajaan Kalingga berada pada masa kejayaan pada saat di pimpin oleh ratu Sima, sepeninggalnya ratu Sima Kalingga mulai runtuh karena serangan dari kerajaan Sriwijaya yang merebut jalur perdagangan.
Daftar Rujukan : https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/sejarah-kerajaan-kalingga-9732/ https://relogi.com/edu/kehidupan-politikekonomi-sosialdan-budaya-kerajaan- kalingga Buku paket sejarah Kurikulum Merdeka Penerbit Erlangga halaman 145 https://jateng.inews.id/amp/berita/penyebab-keruntuhan-kerajaan-kalingga