1
MENGENAL 7 SAKRAMEN DALAM GEREJA KATOLIK
1. Sakramen Baptis
2. Sakramen Ekaristi
3. Sakramen Tobat
4. Sakramen Krisma
5. Sakramen Perkawinan
6. Sakramen Perminyakan
7. Sakramen Imamat
1.Sakramen Baptis
Bab-1 : Materi Dasar Sakramen Baptis
Baptisan dan hidup baru
Banyak orang Protestan mengatakan dan percaya bahwa
Babtis hanya sebuah simbol. Dalam Gereja Katolik Babtisan
tidak hanya sebagai simbol tetapi adalah sebuah sakramen.
Babtisan (menurut Gereja Katolik) membuat kita lahir baru.
Dasar kitab suci dari ajaran tentang babtis ini cukup banyak
antara lain:
Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika
seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat
masuk ke dalam Kerajaan Allah” pada ayat ini Yesus
menekankan pentingnya Babtis sebagai jalan untuk masuk
dalam Kerajaan Allah.
dalam Kis 2:38 St. Petrus mengatakan “Bertobatlah dan
hendaklah kamu masing-masing memberi
dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus
2
untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima
karunia Roh Kudus.” St. Petrus menekankan perlunya Babtis
untuk pengampunan dosa dan syarat untuk menerima
karunia Roh Kudus.
St. Paulus dalam Titus 3:5 “pada waktu itu Dia telah
menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian
kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan
oleh Roh Kudus” lalu dalam Kis 22:16 “Dan sekarang,
mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu
dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada
nama Tuhan!“
Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa Sakramen babtis
bukan hanya sebuah lambang atau simbol (jikalau itu simbol
untuk apa Para Rasul menekankan perlunya Babtis?) tetapi
Babtisan memang membuat kita lahir baru, karena babtisan
itu berhubungan erat sekali dengan Roh Kudus yang membuat
kita lahir baru. Bila kita perhatikan Yohanes 3:5 “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan
Allah” kata “air dan Roh” (Babtisan dan Roh Kudus) memiliki
suatu hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan
yang erat antara babtisan dan Roh Kudus yang tak
terpisahkan inilah yang membuat kita memperoleh hidup
baru pada saat kita dibabtis. karena hubungan yang erat
antara Roh Kudus dan Babtisan sehingga ketika Paulus
berbicara mengenai babtisan ia tidak menyebut Roh Kudus
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah
dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama
dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama
seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh
kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup
yang baru.” (Roma 6:3-4).
3
Babtisan bukan perbuatan manusiawi belaka tetapi Babtis
adalah tanda dan sarana Rahmat Allah (yaitu kelahiran/hidup
baru) dimana Allah berkarya melalui para pelayan (Imam,
Diakon, dll) yang membabtis. Jadi Babtisan adalah karya
Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Babtisan
tidak dapat dibedakan/dipisahkan dari Iman kepada Yesus dan
dari Pencurahan Roh Kudus. Babtisan merupakan
perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan Iman itu
berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus lihatlah pada1
Kor 12:3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak
ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat
berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun,
yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh
Kudus.”
Dari uraian diatas jelaslah bahwa Babtis bukan hanya sebuah
simbol tetapi benar-benar membuat kita lahir baru karena
peranan dari Roh Kudus yang membuat kita lahir baru
didalam pembabtisan. oleh karena hal itulah St. Petrus
menegaskan perlunya babtisan bagi keselamatan “Juga kamu
sekarang diselamatkan oleh kiasannya (kiasannya=air bah
{lihat ayat sebelumnya untuk lebih jelas}), yaitu baptisan–
maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani,
melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada
Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Pet 3:21)
Babtis cara Selam
Setelah berbicara banyak mengenai Hakekat Babtis yang
membuat kita lahir baru, Ada baiknya kita membahas
mengenai masalah Babtis selam. Babtis selam dalam gereja
Pantekosta dimutlakkan dan mereka terkadang (tidak
semuanya) mengatakan babtisan selain cara selam tidak sah.
secara umum terkadang mereka mengajukan bukti dari
Matius 3:16 “Yesus segera keluar dari air” kata “keluar dari
air” menurut mereka berarti Yesus sebelumnya berada
4
didalam air. Menurut kami kata “keluar dari air” tidak
menunjukkan berapa banyak bagian tubuh yang terendam.
(yang menarik bahwa lukisan kristen kuno
tentang pembabtisan Yesus pada Katakombe, dll pada jaman
yang dekat dengan jaman para rasul digambarkan bahwa
Yesus masuk ke air hanya sebatas lutut)
Yang agak Rumit disini adalah pembahasan dari kata Babtizo
(kata Yunani untuk membabtis) yang menurut mereka berarti
“menenggelamkan sesuatu dalam air”. Sebenarnya kata
Babtizo memiliki beberapa arti yaitu “menenggelamkan” dan
arti yang lain “mencelupkan”. ada hal yang menarik bahwa
Lukas 11:38 “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran,
karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan”
kata “Mencuci” dalam Lukas 11:38 dalam bahasa Yunani
babtizo tetapi dalam hal ini tentu bukan kata
menenggelamkan, tetapi mungkin hanya mencelupkan (dalam
tradisi yahudi ada tempayan yang digunakan untuk
pembasuhan sebelum besantap) tetapi rasanya tidak etis dan
tidak higienis jika seseorang mencelupkan tangannya (yang
kotor) kedalam tempayan itu (sementara tempayan itu
digunakan untuk pembasuhan tidak hanya untuk satu orang)
tentunya orang akan mengambil gayung dan mengambil air
dari tempayan itu lalu mengucurkannya ke tangan. Jadi
jelaslah penggunaan kata “babtizo” sangat fleksibel tidak
hanya menenggelamkan, oleh karena itu Tradisi Babtis
Kristen sangat fleksibel (tidak hanya dengan diselam saja)
berikut kesaksian dari Dokumen 12 Rasul (berasal dari abad
II M) mengatakan bahwa jika tidak ada air yang cukup untuk
membabtis maka pembabtisan dengan pengucuran airpun
adalah sah. hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Didache
(sekitar tahun 100 Masehi) yang berisi hal yang sama dan juga
pernyataan St. Agustinus, sekedar pengetahuan Bahwa gereja
Protestan yang termasuk aliran utama (Lutheran, Calvinis)
menggunakan cara Babtis mirip seperti Katolik. Kita tahu
kitab suci tidak memberikan petunjuk yang jelas dengan cara
5
apakah Para Rasul membabtis (apakah dengan cara selam,
dibasuh, atau dengan cara lain) tetapi kesaksian Yustinus
Martir bahwa pembabtisan dilakukan dengan cara “masuk ke
air” dan menurut banyak sejarah Gereja, pembabtisan
dilakukan dengan cara menenggelamkan orang dan ini
merupakan cara Babtis pada Gereja perdana yang akhirnya
berevolusi menjadi Ritus yang lebih sederhana (untuk lebih
jelasnya lihat: Sakramen Babtis dan sejarah Perubahan
Ritusnya). Cara (Ritus) apapun yang digunakan untuk
pembabtisan tetap tidak mengubah hakekat sakramen Babtis,
bahkan menurut informasi di beberapa Gereja Katolik di
Amerika terdapat “kolam” untuk membabtis.
Keselamatan tanpa babtis?
Dalam Dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium No 16
dikatakan bahwa “Mereka yang tanpa bersalah tidak
mengenal injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan tulus
hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha
melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui
suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh
keselamatan kekal.”. sekilas ajaran itu bertentangan dengan 1
Tim 2:5 “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi
pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus
Yesus” ajaran Konsili Vatikan II menegaskan bahwa mereka
“yang tanpa bersalah tidak mengenal injil Kristus” bisa
selamat didasarkan karena Yesus menjadi tebusan bagi semua
orang (lihat Mat 20:28; Mrk 10:45; 1Tim 2:6). Ajaran Konsili
Vatikan II juga tidak bertentangan dengan Mrk 16:15 dan Yoh
3:18 karena menurut pendapat kami (yang bisa saja salah)
Mrk 16:15 dan Yoh 3:18 tidak perlu ditafsirkan secara harafiah
dalam arti yang ketat kedua ayat itu menekankan tentang
perlunya iman dan babtisan agar orang dapat selamat, namun
bagi “yang tanpa bersalah tidak mengenal injil Kristus”
masakah mereka juga harus dihukum?. Ajaran Konsili
Vatikan II ini tidak mengakui bahwa semua agama itu sama,
Gereja merasa perlu untuk mewartakan injil dan kita wajib
6
memperkenalkan Kristus yang adalah jalan kebenaran dan
Kehidupan dan Gereja sendiri memiliki kepenuhan sarana-
sarana keselamatan (lihat Redemptoris Missio 55, Ensiklik
Evangelii Nuntiandi, dokumen Konsili Vatikan II Digitatis
Humanae 14, Ad Gentes 6 dan 7, dll) oleh karena itulah Gereja
tidak pernah melupakan Perutusan agung yang diberikan
Yesus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-
Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(mat 28:19-20) dengan tujuan memperkenalkan Kristus yang
adalah jalan yang pasti dan singkat menuju Rumah
Bapa. (Thomas Rudy)
Bab-2 : Sakramen Pembaptisan & Sejarah Perubahan
Ritusnya
Seperti sebuah karya seni yang telah diperbaiki, difernis
sampai beberapa kali dan kadang kala sedikit disalahgunakan,
ritus Sakrament Pembaptisan dalam Gereja Kristen juga telah
mengalami perubahan selama berabad-abad dengan alasan
dan latar belakang tertentu. Namun biarpun demikian,
perubahan ritus itu tetap tidak mengubah hakekat
Pembaptisan sebagai Sakrament tanda kelahiran baru
seseorang ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus.
Tapi dewasa ini Gereja dihimbau untuk kembali ke ritus
pembaptisan yang dipraktekkan oleh Gereja Kristen pada
abad-abad pertama yaitu pembaptisan dengan dengan
“mencelupkan” seorang catechumen ke dalam kolam air.
Karena ritus pembaptisan seperti ini dirasa lebih efektif
mengungkapkan peristiwa “kelahiran baru” seseorang ke
dalam Karajaan Allah yang dimasukinya melalui Sakramen
Permandian. Tapi demi alasan praktis, Gereja tetap diijinkan
untuk memakai ritus pembaptisan sederhana dengan
7
“menuangkan sedikit air pada kepala”. Untuk lebih
mamahami hal ini, mari kita kembali menengok sejarah
Gereja seputar ritus sakramen permandian.
***
Dalam bab pertama Injil Markus, seperti telah diramalkan
Nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis tampil di padang gurung
sambil memaklumkan sebuah “pembaptisan pertobatan” demi
pengampunan atas dosa. Orang banyak berkerumun
mendengar kothbah Yohanes Pembaptis yang berkobar-kobar.
Mereka berbondong-bondong ke Sungai Yordan dan memberi
diri mereka untuk disucikan (Kata pembaptisan sendiri
berasal dari kata Yunani “bapizo” yang berarti “membasuh
atau mencelupkan atau menenggelamkan”).
Markus menceriterakan bahwa Yesus juga kemdian datang
kepada Yohanes dan dibaptis. Ketika Ia keluar dari air, Ia
melihat surga terbuka dan Roh Kudus dalam rupa seekor
burung merpati turun ke atasNya. Dan Ia mendengar suara
dari atas yang mengatakan:”Engkaulah PuteraKu yang
terkasih; kepadamu aku berkenan.”
Penginjil Markus kemudian melanjutkan ceriteranya dengan
mengatakan bahwa segera setelah peristiwa permandian di
Sungai Yordan, Yesus dibawa Roh Allah ke padang gurun and
tinggal di sana untuk berdoa dan berpuasa 40 hari lamanya,
sambil digodai iblis. Setelah berdoa dan berpuasa, Yesus mulai
menjalankan perutusanNya di depan umum.
Lima belas bab kemudian, pada bagian akhir dari Injilnya,
Penginjil Markus kembali mencatat kata-kata terakhir Yesus
kepada kesebelas rasul (dikurangi Yudas Iskariot yang telah
mengkianati Yesus): “Pergilah ke seluruh bumi dan
wartakanlah Injil…Barangsiapa percaya dan dibaptis akan
diselamatkan.”
8
Kalau kita meneliti Kitab Suci Perjanjian Baru (PB) maka kita
akan menemukan kenyataan bahwa Kitab Suci PB tidak
menceriterakan “bagaimana para Rasul membaptis”. Tapi ahli
sejarah Gereja berpendapat bahwa kemungkinan besar
seorang calon permandian berdiri di air sungai atau di sebuah
kolam umum, dan kemudian air dituangkan ke atas
kepalanya, sambil ditanyakan kepadanya: Apakah saudara
(saudari) percaya kepada Allah Bapa? Apakah saudara percaya
akan Allah Putera, yaitu Yesus Kristus? Apakah saudara
percaya akan Allah Roh Kudus? Setiap kali calon menjawab
“ya” atas masing-masing pertanyaan itu, ia ditenggelamkan
(dicelupkan ) ke dalam air sebanyak tiga kali juga.
Tentang hal ini, Yustinus Martir (100-165 AD) menulis begini:
“Calon permandian berdoa dan berpuasa.
Komunitas beriman berdoa dan berpuasa dengan dia.
Calon permandian masuk ke dalam air.
Petugas Gereja mengajukan kepadanya tiga pertanyaan
Trinitaris.
Calon sekarang diperkenalkan kepada komunitas umat
beriman.
Doa umat kemudian disampaikan oleh semua untuk yang baru
saja dibaptis.
Ciuman tanda kasih dan damai diberikan kepadanya oleh
semua umat beriman.
Lalu Ekaristi kudus dirayakan.”
Setengah abad kemudian, pujangga Gereja Tertulianus
menjelaskan lebih detail lagi. Ia mulai menyebut adanya
“pengurapan” minyak suci, “tanda salib” dan “penumpangan
tangan” atas calon permandian.
9
Untuk orang-orang yang hidup pada tiga abad yang pertama
sesudah Yesus, langkah-langkah yang harus ditempuh
sebelum dibaptis tidak terlalu gampang. sering mereka
diarahkan kepada kemartiran.
Sebelum Kaisar Romawi Konstantinus mengumumkan pada
tahun 313 bahwa Gereja Kristen bukan lagi sebuah agama
ilegal, maka setiap orang, baik laki-laki, perempuan maupun
anak-anak yang menggabungkan diri menjadi orang Kristen
dipandang sebagai sebagai penjahat dan dihukum dengan
sangat keji. Ingat sejarah Gereja. Selama tiga abad pertama
orang-orang Kristen dianiaya dan dibunuh oleh pemerintahan
kafir Romawi. Orang Romawi pada masa itu mempunyai
agama sendiri dengan pusat kultus penyembahan kepada
dewa-dewi. Orang Kristen yang tidak menyembah dewa-dewi
sembahan kaisar dianggap kafir, kriminal, melawan kaisar
dan mereka dihukum dengan sangat keji seperti digantung
hidup-hidup dikayu salib, dibakar hidup-hidup, digoreng dan
direbus hidup-hidup, dilempar hidup-hidup ke dalam kandang
singa yang sengaja tidak diberi makan berhari –hari supaya
mereka lapar betul dan makan orang Kristen.
Kemungkian besar Gereja waktu itu menyusun sebuah proses
perkenalan kepada orang yang baru bergabung ke dalam
komunitas umat beriman. Gereja (umat beriman) butuh
waktu untuk mengenal dan percaya kesungguhan hati setiap
calon permandian sebelum mereka dipermandikan (sama
seperti si calon permadian juga butuh waktu untum
memperlajari lebih tentang Gereja yang merupakan agama “di
bawah tanah” pada masa itu).
Ada suatu alasan mengapa calon permandian membutuhkan
sponsor (wali permandian, bapa-ibu permandian), yaitu
seorang anggota komunitas beriman yang menjamin si calon
permandian. Sponsorlah yang bertugas pergi menghadap
uskup dan membuktikan kepadanya bahwa calon permandian
merupakan seorang yang sungguh baik. Lalu, selama
10
bertahun-tahun sponsor bekerja, berdoa dan berdoa bersama
anak/orang didikannya sampai pada hari pembaptisan tiba.
Pada waktu itu, masa katekumen (dari bahasa Yunani yang
berarti “instruction” atau pelajaran) terdiri atas dua bagian.
Bagian pertama adalah sebuah “masa persiapan rohani” yang
berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Bagian kedua
adalah masa persiapan akhir menjelang permbaptisan. Bagian
ini dimulai pada masa Puasa dan kegiatannya terdiri atas doa-
doa yang rutin, puasa, dan penelitian kelayakan sang calon
permandian oleh uskup.
Kemudian si calon dibawa ke depan uskup dan para imam,
sementara sang sponsor ditanyai. jika sponsor bisa menjamin
bahwa sang calon tidak mempunyai tabiat buruk yang serius
(seperti mabuk, tiak menghormati orangtua dan lain-lain)
uskup kemudian mencatat nama calon ke dalam buku baptis.
Calon tidak diijinkan untuk mengambil bagian secara penuh
dalam perayaan misa kudus. Setelah Liturgi Sabda (sesudah
homili) seorang calon permandian diminta untuk
meninggalkan Gereja atau tempat berlangsungnya perayaan
misa kudus. Para calon hanya diijinkan untuk mendengar
Credo dan doa Bapa Kami dan menghafalnya secara diam-
diam.
Puncak dari upacara itu dimulai pada Hari Kamis Suci dengan
sebuah wadah pemandian sebagai sarana penyucian rohani.
Calon kemudian berdoa dan berpuasa keras pada Hari Jumat
Agung dan Sabtu Suci.
Pada malam hari Sabtu Suci, calon permandian laki-laki dan
wanita ditempatkan di ruangan yang terpisah dan gelap. di
ruangan yang gelap ini, setiap calon berdiri sambil
menghadapkan wajah ke arah barat (barat dianggap simbol
kegelapan dan setan, karena matahari terbit di timur).
Seorang diakon akan meminta para calon untuk
11
merentangkan lengan mereka dan menghembuskan nafas
untuk mengeluarkan semua roh yang tidak baik dari dalam
tubuh, sambil berkata: “Saya melepaskan diri dari kau, setan,
dari kungkunganmu, dari segala pernyembahan terhadapmu
dan semua malaikatmu yang jahat.” Lalu sesudah itu, sambil
memutarkan badan ke arah timur, para calon berseru:
“Sekrang saya menyerahkan diriku kepadaMu, O Yesus
Kristus.” Berdasarkan ini, bertobat kemudian harafiah berarti
“memutar haluan” (turning around).
Sampai di sini, para calon kemudian menurunkan tangan dan
lengan mereka, dan uskup lalu mengurapi kepala mereka
masing-masing dengan minyak. Ini adalah lambang meterai
Kristus. Sekarang secara rohani mereka ditandai, sama seperti
seorang gembala menandai (mencap) kawanan ternaknya.
Sesudah itu setiap kelompok akan pergi ke ruang lain dan
menanggalkan pakaian mereka. Peristiwa “penanggalan
pakaian” ini melambakan “penanggalan manusia lama dari
seseorang” (taking off the old self) dan kembali ke keadaan
murni taman Eden sebelum munusia pertama jatuh ke dalam
dosa dan lebih dari itu ada kepercayaan orang pada masa itu
bahwa roh-roh jahat sering melekat pada pakaian seseorang
seperti kutu busuk.
Lalu dalam keadaan telanjang dan terpisan menurut jenis
kelamin, para calon dihantar ke tempat permandian. Setiap
calon masuk ke dalam air yang dalamnya sampai setinggi dada
dan uskup akan berlutut di samping kolam air. uskup lalu
dengan halus menekan kepada calon ke dalam air sampai tiga
kali, sambil mempermandikan (menuangkan air) mereka satu
persatu di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Setelah orang Kristen yang baru dipermandikan itu keluar
dari air dan setelah tubuh mereka dilap, mereka diberi
pakaian baru berbentuk kain linen putih yang mereka pakai
sampai minggu berikut. Setiap anggota baru dari komunitas
12
umat beriman dibagikan sebuah lilin bernyala dan ciuman
tanda kasih dan damai.
Setelah semua calon dibaptis, mereka merayakan Ekaristi
dengan seluruh komunitas umat beriman. Untuk pertama
kali, orang yang baru dibaptis mengambil bagian secara penuh
dalam seluruh misa dan menerima Komuni Kudus.
Kemudian hari, aspek kerahasiaan dan kesedian calon untuk
mengorbankan hidupnya untuk mati demi Kristus menjadi
pudar setelah Gereja Kristen diterima sebagai agama resmi
Kekaisaren Roma pada awal abad IV. Lebih dari itu, sejak
Gereja Kristen diakui sebagai agama resmi dari negara,
menggabungan diri ke dalam Gereja merupakan suatu
kebijakan politis.
***
Penting untuk diingat bahwa doktrin tentang Sakramen
Pembaptisan kemudian berkembangan seturut
perkembangan jaman. Tidak terlalu mudah, misalnya, untuk
menentukan apa yang harus dibuat dengan orang-orang yang
melakukan dosa berat setelah pembaptisan atau dengan
orang-orang yang menyangkap iman mereka, lalu kemudian
bertobat lagi dan minta diterima lagi ke dalam komunitas
umat beriman.
Salah satu dari masalah-masalah itu adalah masalah peranan
pembaptisan bayi. Para ahli Kitab Suci mengandaikan bahwa
ketika “seluruh rumahtangga” dipermandikan, permandian
itu termasuk anak-anak, bahkan yang paling kecil sekalipun
(bayi). Tapi sekali lagi, oleh karena perkembangan refleksi
iman/teologi, seperti penjelasan St. Agustinus tentang Dosa
Asal pada abad V, yang akhirnya membuat permandian bayi
menjadi amat populer dan dominan. Pada point ini,
Pembaptisan tidak lagi dilihat terutama sebagai awal dari
kehidupan moral, tapi lebih ditekankan sebagai jaminan
untuk diterima di dalam kerajaan surga setelah kematian.
13
***
Pada awal Abad Pertengahan, ketika seluruh suku di Eropa
utara bertobat dan seluruh suku (sering jumlahnya sampai
ribuan) harus dibaptis secara serempak jikalau kepala suku
atau raja mau masuk Kristen. Dalam keadaan seperti itu,
sebuah ritus (tata upacara) yang lebih sederhana, praktis dan
cepat, amat dibutuhkan. Sampai pada akhir abad VIII,
upacara permandian yang sebelumnya panjang dan
berlangsung selama berminggu-minggu telah dibuat sangat
singkat. Anak-anak menerima upacara pengusiran roh jahat
selama tiga kali pada minggu-minggu sebelum Paska dan
Sabtu Suci. Setelah air pembaptisan dan bejana pembaptisan
(bukan lagi kolam) diberkati, anak-anak kecil dicelupkan
kepadanya ke dalam bejana air itu sampai tiga kali. Sesudah
itu para imam mengurapi kepala mereka dengan minyak,
uskup menumpangkan tangan ke atas mereka dan mengurapi
mereka sekali lagi dengan minyak suci, dan mereka diberi
Komuni Kudus dalam perayaan misa Kudus.
Ritus kemudian terus dibuat semakin singkat ketika
kebiasaan bayi menerima komuni suci pada waktu
permandian dihapus oleh Konsili Trente pada tahun 1562.
Dan karena Pembaptisan sekarang dilihat sebagai kunci
untuk diterima dalam kerajaan surga, Gereja kemudian
menawarkan sebuah ritus darurat yang pendek untuk bayi-
bayi yang berada dalam bahaya kematian. Sebelum awal abad
XI sejumlah uskup mengingatkan bahwa bayi kemungkian
besar selalu berada dalam bahaya kematian yang tiba-tiba dan
karena itu mereka mendorong para orangtua untuk tidak
menunggu sampai perayaaan besar pada Hari Sabtu suci
untuk mempermandikan bayi-bayi mereka.
Sebelum abad XIV, perayaan pembaptisan pada hari Sabtu
Paska benar-benar sudah hilang, kecuali upacara
pemberkatan bejana dan air, dan ritus permandian yang lama
14
dipersingkat lagi dan hanya dibuat sebagai upacara kecil
waktu imam masuk Gedung Gereja.
Sejak masa ini pembaptisan hanya disaksikan oleh anggota
keluarga inti dan sejumlah kecil kaum kerabat, daripada
disaksikan oleh seluruh komunitas umat beriman (seperti
sebelumnya). Ketimbang mencelupkan bayi-bayi ke dalam
kolam air, para imam hanya menuangkan sedikit air ke atas
kepala anak-anak.
Seiring dengan perjalanan sejarah, dan ritus pendek
permandian yang semula disusun khusus hanya untuk bayi-
bayi, yang berada dalam bahaya kematian, menjadi begitu
universal, ritus permandian Gereja perdana (abad I sampai
III) semakin lama semakin dilupakan. Tapi kemudian pada
akhir tahun 1950-an para ahli sejarah Gereja mulai meneliti
dan studi kembali mengenai ritus-ritus Gereja abad pertama.
Hasilnya adalah bahwa pada tahun 1969, sebuah ritus
Pembaptisan untuk anak-anak (bayi), yang telah direvisi,
diterbitkan. Sama seperti ritus Gereja perdana, ritus yang
disempurnakan ini menekankan aspek kommunal dari
perayaan sakramen-sakramen. Upacara pembaptisan
dianjurkan untuk dibuat dalam rangkaian perayaan misa
(seperti sakramen perkawinan). Ritusnya diperpanjang juga.
Sekarang orangtua diharapkan menghadiri pembinaan
(pendalaman) iman setiap kali anak mereka mau
dipermandikan. Dan penekanan teologis bergeser dari
Pembaptisan sebagai “jaminan masuk surga” ke upacara
permulaan masuk ke dalam kehidupan moral. Pada tahun
1980, sebuah dokument dari Vatikan menegaskan bahwa jika
orangtua tidak menjamin dan tidak mau memastikan bahwa
anak (bayi) mereka akan dibesarkan dalam iman Katolik,
maka Pambaptisan sebaiknya ditunda sampai tidak ada batas
waktu.
Setelah beberapa dekade berlalu, kita perlahan-lahan kembali
kepada simbol-simbol, drama dan spiritutalitas komunal umat
15
beriman yang merupakan ciri khas pembaptisan pada abad-
abad pertama sejarah Gereja yang dirasa lebih efektif
mengungkapkan makna permandian sebagai tanda kelahiran
baru ke dalam Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus, sambil
tetap mengakui keabsahan pembaptisan dengan ritus yang
sederhana dan singkat. Karena biar bagaimanapun bentuk,
panjang atau pendeknya ritus Sakramen Permandian,
hakekatnya tetapi sama dan sah sebagai tanda kelahiran baru.
Bab-3 : Baptisan Bayi
Banyak sekali saudara/i kita dari Gereja Protestan yang tidak
dapat menerima praktek babtisan bayi. alasan yang sering
diajukan antara lain: Babtisan memerlukan pertobatan dan
iman (anak kecil dan bayi tidak bisa) juga yang sering juga
diajukan adalah tidak adanya dasar alkitab bagi babtisan bayi.
Perlu kita ketahui bahwa babtisan bayi lebih merupakan
Tradisi Apostolik, dan kita ketahui bahwa dasar Iman Katolik
tidak hanya Alkitab tetapi juga Tradisi Apostolik dan
Magisterium (lebih jelasnya lihat artikel Apakah hanya alkitab
dasar iman kita?). Jika kita ingin mencari babtisan bayi dalam
kita suci hal itu sulit didapat karena dalam Kitab Suci tidak
diungkapkan secara eksplisit mengenai babtisan bayi tetapi
tidak ada larangan agar anak-anak(bayi) dibabtis. Kita tahu
bahwa babtisan itu melahirbarukan dan menghapus dosa
asal (lihat artikel Sakramen Babtis) oleh karena itulah Gereja
tidak melarang bayi dibabtis. Lalu bagaimana dengan iman
anak?? jawaban yang mudah adalah bahwa perkembangan
iman anak adalah tanggung jawab orang tua karena itu janji
mereka ketika menikah untuk membesarkan anak-anak
dalam iman katolik (tidak mungkin ada orang tua yang mau
anaknya berbeda iman dengannya).
Sekarang kita mencoba mereview Kitab Suci. dalam Kis
2:38-39 dikatakan “Jawab Petrus kepada mereka:
‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi
16
dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia
Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-
anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang
akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ ” disini jelas sekali
ungkapan Petrus bahwa kita perlu bertobat dan dibabtis yang
akhirnya kita mendapat buah dari babtisan itu yaitu
menerima Karunia Roh Kudus (ayat 38) dan janji itu berlaku
pula untuk anak-anak (bayi juga termasuk anak-anak) (ayat
39) tentunya juga dengan melakukan hal yang sama yaitu
dibabtis. Bila kita melihat dalam Perjanjian Lama dimana kita
tahu bahwa bayi harus disunat (padahal mereka tidak tahu
apa-apa soal iman) lihat pada Kej 17:12, Im 2:21, Luk 2:21 lalu
pada Kolose 2:11-12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan
dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan
sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang
berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam
baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh
kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah
membangkitkan Dia dari orang mati.” disin jelas bahwa
Paulus mempararelkan antara Sunat (Ayat 11) dengan
Babtisan (ayat 11b-12) kita tahu bahwa hukum sunat berlaku
juga untuk anak (bayi) berarti babtispun demikian. lalu dalam
Kis16:15,33 dikatakan “ia dibaptis bersama-sama dengan seisi
rumahnya” (ayat 15) dan “Seketika itu juga ia dan
keluarganya memberi diri dibaptis.” (ayat 33) dari kedua ayat
ini tidak tertutup kemungkinan akan adanya bayi dan ikut
dibabtis karena pada ayat itu maupun sebelum atau
sesudahnya tidak ada kata “kecuali bayi atau anak-anak”.
Pada abad ke II sudah ditemukan Babtisan bayi seperti St.
Polikarpus, misalnya, dibunuh sebagai martir pada tahun 155
M. Pada saat penguasa Romawi memaksa Polikarpus untuk
menyangkal Yesus Kristus dan untuk menyembah kaisar
Roma, ia berseru demikian, “Delapan puluh enam tahun saya
menjadi hamba-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat yang tidak
baik kepadaku, bagaimana mungkin saya dapat menghojat
17
Rajaku yang telah menebusku?” Kesaksian ini berarti bahwa
Polikarpus dibaptis sejak ia masih bayi atau kanak-kanak,
yakni sekitar tahun 70-an. Hal ini tidak benar hanya jika
Polikarpus sudah mencapai usia yang amat tinggi pada tahun
155 M itu, sehingga 86 tahun sebelumnya ia sudah dewasa dan
baru dibaptis waktu itu.
Berikut kesaksian para Bapa Gereja tentang Babtisan Bayi:
o “For He [Jesus] came to save all through means of
Himself-all, I say, who through Him are born again
to God,-infants, and children, and boys, and youths,
and old men” (St. Irenaeus, Against Heresies, 2, 22,
4)
o “The Church received from the Apostles the
tradition [custom] of giving Baptism even to infants.
For the Apostles, to whom were committed the
secrets of divine mysteries, knew that there is in
everyone the innate stains of sin, which must be
washed away through water and the Spirit” (Origen,
Commentary on Romans 5, 9).
o “This [infant baptism] the Church always had,
always held; this she received from the faith of our
ancestors; this she perseveringly guards even to the
end” (Augustine, Sermon. 11, De Verb Apost)
o “Who is so impious as to wish to exclude infants from
the kingdom of heaven by forbidding them to be
baptized and born again in Christ?” (Augustine, On
Original Sin 2, 20).
o Now they were bringing even infants to him that he
might touch them; and when the disciples saw it,
they rebuked them. But Jesus called them to him,
saying, ‘Let the children come to me, and do not
hinder them; for to such belongs the kingdom of God’
(Lk 18:15-16). In the early Church this passage was
understood as a command to bring the infants to
18
Christ for Baptism. The very first time this passage
shows up in Christian literature (c. 200), it is used in
reference to Infant Baptism (Tertullian, De
Baptismo 18:5). (Thomas Rudy)
2. Sakramen Ekaristi
Dalam Sakramen Ekaristi, Roti & anggur yang dikonsekrasikan
oleh imam berubah menjadi Tubuh & Darah Kristus lalu kemudian
pada saat komuni kita menyambutnya dengan Hormat sekali, Pada
hari kamis Putih sakramen di Tahtakan kemudian diarak. hal ini
adalah suatu hal yang tidak akan diragukan kebenarannya oleh
Gereja Katolik karena Roti & anggur yang dikonsekrasikan oleh
imam berubah menjadi Tubuh & Darah Kristus paham ini
mempunyai dasar alkitabiah yang sangat kuat sekali misalnya
dalam:
1. Injil Matius bab 26:26-29, dimana pada saat merayakan
perjamuan terakhir Yesus berkata “AMBILLAH, MAKANLAH,
INILAH TUBUH-KU” & “MINUMLAH, KAMU SEMUA DARI CAWAN
INI. SEBAB INILAH DARAHKU…” dari ayat ini dapat disimpulkan
bahwa Roti & anggur itu benar-benar Tubuh & Darah Yesus, karena
dalam perikop tersebut Yesus tidak berkata “makanlah,
umpamakan ini Tubuh-Ku” Tetapi Yesus berkata “INILAH TUBUH-
KU”.
2. Injil Lukas 22:14:23, Lukas menekankan Perkataan Yesus
“Perbuatlah ini menjadi Peringatan Akan Aku”.
3. Injil Yohanes 6:25-59, Yesus menyatakan “Daging-ku adalah
Benar-Benar Makanan & Darah-ku adalah Benar-Benar Minuman”,
Yesus Juga menyatakan bahwa Ekaristi adalah jaminan Kehidupan
Kekal “Barangsiapa makan Daging-Ku & Minum Darah-Ku, ia
mempunyai Hidup yang Kekal & Aku akan Membangkitkan dia
pada akhir Zaman”, Yesus juga menyatakan Bahwa dengan ekaristi
Kita bersatu dengan Yesus “Barangsiapa Makan daging-Ku &
19
Minum Darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku & Aku di dalam dia”
Yesus menyatakan hal ini bukan sebagai bahasa simbol / lambang
tetapi yang sebenarnya sehingga orang yahudi berkata “perkataan
ini sangat keras siapakah yang sanggup mendengarkannya” ini
menunjukkan Yesus berkata bukan dengan bahasa lambang (nb:
Orang Yahudi tidak bisa menerima Kanibalisme) 1. Saudara kita
dari Gereja Protestan mengatakan Yesus sebenarnya bicara
dengan bahasa lambang buktinya “Rohlah yang memberi
hidup daging sama sekali tidak berguna perkataan-perkataan
yang kukatakan kepadamu adalah Roh yang Hidup” (Yohanes
6:63) bila diteliti lebih lanjut Yesus berbicara “daging-Ku” ketika ia
berbicara tentang Ekaristi sedangkan pada Yohanes 6:63 Yesus
hanya berkata “daging” dan kata-kata terakhir Yesus dalam ayat ini
“perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah Roh yang
Hidup” Yesus dalam hal ini tidak membicarakan Ekaristi lagi tetapi
membicarakan tentang murid-murid yang mengundurkan diri itu.
4.Surat Paulus yg 1 kepada Jemaat di Korintus 11:17-33, Rasul
Paulus dalam suratnya menekankan Kesakralan Ekaristi
“Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan Roti atau
minum cawan Tuhan ia berdosa terhadap Tubuh & Darah Tuhan”
dan secara langsung juga menekankan bahwa Roti & Anggur yang
telah diberkati (Dikonsekrasikan) benar-benar berubah menjadi
TUBUH & DARAH TUHAN YESUS sendiri.
Seringkali ini menimbulkan pertanyaan dan dipertentangkan
dengan kemahahadiran Tuhan. Dalam hal ini kita harus
membedakan antara ‘kehadiran spiritual’ dan ‘kehadiran nyata’.
Memang benar Tuhan hadir di mana-mana dalam setiap jiwa yang
berada dalam keadaan rahmat, ini adalah ‘kehadiran spiritual’.
Sedangkan dalam hosti yang telah dikonsekrasi, kehadiran Tuhan
bersifat unik, dan khusus, hal ini dikenal sebagai ‘Kehadiran Nyata’
(Real Presence) dengan demikian kita perlu menunjukkan
penghormatan yang khusus, karena Tuhan sendiri telah
menunjukkan kehadiran-Nya secara khusus.
20
Dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik, hal ini bukan tidak
menimbulkan perdebatan. Misalnya saja pada jaman reformasi,
Luther melihat peristiwa ini sebagai co-substansi dimana Tubuh
dan Darah Kristus ada bersama dengan roti dan anggur. Bahkan
Calvin lebih jauh lagi melihat hosti sekedar simbol/perlambang
kehadiran Kristus saja dan bukan kehadiran Kristus yang aktual
sehingga seseorang yang menerimanya hanya diartikan menerima
Kristus secara spiritual. Pandangan ini di tolak secara tegas oleh
Gereja Katolik pada Konsili Trente.
Dalam pandangan Gereja Katolik, roti maupun anggur berubah
sepenuhnya menjadi Yesus Kristus secara keseluruhan, baik
Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keallahan-Nya. Dengan demikian
seseorang yang menerima hosti berarti menerima Yesus Kristus
secara keseluruhan. Perubahan ini adalah perubahan yang benar-
benar terjadi secara aktual, dengan demikian baik di mata orang
Katolik maupun bukan, roti dan anggur tersebut tetap merupakan
Tubuh dan Darah Kristus.
Kehadiran Kristus tetap ada sepanjang bentuk roti dan anggur
masih tetap ada. Ketika hosti yang telah dikonsekrasi ditelan
ataupun larut dalam air maka itu bukan lagi Tubuh dan Darah
Kristus. Jadi Tuhan Yesus dalam hosti tetap hadir pada diri
penerima komuni selama hosti tersebut belum larut/ditelan
sehingga ia harus menghormati kehadiran Kristus secara khusus
selama masa itu.
jadi saudara-saudari sebelum kita menyambut Sakramen Ekaristi
ada baiknya kita yang memiliki dosa berat mengakukan dosa
terlebih dahulu karena kita menerima Yesus Tuhan Kita.
(Sumber http://www.imankatolik.or.id)
21
3. Sakramen Tobat
Beberapa saudara/i kita dari Gereja Protestan mengatakan
“mengapa dalam Gereja Katolik ada sakramen tobat?” dua alasan
yang mereka sering ajukan adalah
Bukankah hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa?, dasar
mereka adalah Mark 2:7 dan 1 Yoh 1:9
Terhadap Kritik ini kita dapat mengajukan keberatan antara lain:
o Bila kita melihat konteks dari Mark 2:7 “Mengapa orang
ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat
mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” jelas
disana ungkapan dari musuh-musuh Yesus, yang
menganggap Ia menghujat Allah
o Bila kita melihat konteks 1 Yoh 1:9 “Jika kita mengaku
dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan
mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari
segala kejahatan.” jadi jelas bahwa disini mengandung
arti bahwa Allah selalu bersedia untuk mengampuni
dosa kita bila kita mengaku dosa dan tidak ada larangan
untuk mengakukan dosa kepada Imam atau apapun
yang akan kita bahas pada paragraf selanjutnya nanti.
Bukankah dosa itu urusan pribadi Allah dengan kita??…….
Terhadap hal ini kita dapat menjawab bahwa dosa menjadi urusan
Gereja karena kita dengan Gereja seluruhnya adalah tubuh mistik
Kristus bila kita berdosa yang merasakan akibat dosa itu tidak
hanya kita tetapi juga Gereja. berikut beberapa contoh hal tersebut
dalam kitab suci:
• 1 kor 5:1-5 berbicara tentang Paulus yang menghukum
orang yang menikah dengan isteri ayahnya dan
memerintahkan supaya orang tersebut dikucilkan dari
22
jemaat dengan maksud supaya pada akhirnya jiwanya
diselamatkan
• 2 Kor 2:5-11 berbicara tentang Paulus (dan jemaat
Korintus) yang mempunyai wewenang untuk
mengampuni dosa seorang anggota jemaat.
• Mat 18:15-20 berbunyi, “Apabila saudaramu berbuat
dosa, tegurlah dia di bawah empat mata … Jika ia tidak
mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya
kepada jemaat.”
Ayat-ayat ini mengandaikan bahwa jemaat memiliki kuasa untuk
mengadili dan mengampuni dosa anggota jemaat. Ayat-ayat di atas
menunjukkan dengan jelas bahwa dosa bukanlah soal pribadi
antara si pendosa dan Allah saja! Itu urusan Gereja juga.
Gereja memiliki kuasa mengampuni dosa karena otoritas tersebut
diberikan oleh Yesus sendiri :
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu
berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-
pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang
Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-
tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan
sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan
lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu
Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama
seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus
kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan
berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa
orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang
tetap ada, dosanya tetap ada.” bersukacita ketika mereka melihat
Tuhan. (Yoh 20:19-23)
disini jelas bahwa Yesus menghembusi para Rasul, bandingkan
dengan kejadian 2:7, Jelas disini Yesus memberikan suatu otoritas
sehingga penulis injil Yohanes menekankan hal ini dengan
menuliskan pada injilnya “Ia menghembusi mereka…” (Ayat 22) dan
pada ayat sebelumnya nampak jelas bahwa ini adalah amanat
perutusan Yesus kepada para Rasul (Ayat 21) yang diteguhkan oleh
23
Roh Kudus (Ayat 22) dan bertujuan untuk mengampuni dosa (Ayat
23). jadi otoritas ini bukan buatan atau rekaan Gereja Katolik,
Otoritas ini bukan omong kosong hal ini bisa dilihat pada ayat-ayat
berikut:
• 2 Kor 5:17-21 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia
adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu,
sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya
ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah
mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah
mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada
kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya
oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita
pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah
utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati
kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus
kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan
dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia
kita dibenarkan oleh Allah.” disini jelas bahwa Paulus
adalah “Pelayan Pendamaian” (Rekonsiliasi=Tobat) dari
sini jelas bahwa Pelayan Pendamaian yang adalah tugas
Kristus dapat dijalankan oleh Paulus (atas nama
Kristus).
• 2 Kor 2:10 “Sebab barangsiapa yang kamu ampuni
kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku
mengampuni (Yun: Charizomai), –seandainya ada yang
harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu
di hadapan Kristus,” lalu pada Kol 2:13 “Kamu juga,
meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh
karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan
Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia
mengampuni (Yun: Charizomai) segala pelanggaran
kita” jadi jelaslah Allah mengampuni dosa dan Paulus
juga mengampuni dosa atas nama Yesus.
24
• Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita,
baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira
baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu
yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat,
supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya
dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir
dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan
Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah
berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.Karena
itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling
mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang
benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar
kuasanya (Yak 5:13:16)
Disini jelas bahwa Sakramen Tobat mendapat tempatnya
“hendaklah kamu saling mengaku dosamu” (ayat 16), sekedar kita
ketahui bahwa Yakobus 5:13-16 adalah dasar sakramen Tobat dan
Sakramen Pengurapan orang sakit. Sakramen Tobat dan Sakramen
Pengurapan orang sakit menurut Yakobus membutuhkan Penatua
Jemaat (Presbiter=Imam) lihatlah pada ayat 14. Dari banyak uraian
diatas maka jelaslah sakramen tobat dan mengakukan dosa
dihadapan Imam memiliki landasan Alkitab dan Tradisi Apostolik
yang kuat sekali.
Berikut kesaksian beberapa Bapa-Bapa Gereja
• “God never threatens the repentant, rather He pardons
the penitent. You will say that it is God alone who can do
this. True enough, but it is likewise true that He does it
through his priests, who exercise His power.” – St.
Pacianus of Barcelona (4th century A.D.)
• “In this sacrament the acts of the penitent are as matter,
while the part taken by the priest, who works as Christ’s
minister, is the formal and completive element of the
sacrament. Now in the other sacraments the matter pre-
exists, being provided by nature, as water, or by art, as
bread: but that such and such a matter be employed for
a sacrament requires to be decided by the institution;
25
while the sacrament derives its form and power entirely
from the institution of Christ, from Whose Passion the
power of the sacraments proceeds.” – St. Thomas
Aquinas (“Summa Theologica” 13th century
A.D.) (Thomas Rudy)
(Sumber http://www.imankatolik.or.id)
4. Sakramen Krisma
SAKRAMEN KRISMA (PENGUATAN)
Sakramen Krisma adalah salah satu dari tiga sakramen inisiasi
Kristen yaitu Baptis, Krisma dan Ekaristi. Sakramen Krisma
memiliki dasar Kitab Suci dari Kis 8:16-17 “Sebab Roh Kudus belum
turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya
dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya
menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh
Kudus.” dan dari Kis 19:5-6 “Ketika mereka mendengar hal itu,
mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah
Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata
dalam bahasa roh dan bernubuat”. dari kedua kutipan ini jelas
bahwa Sakramen Krisma membutuhkan penumpangan tangan
untuk mengundang Roh Kudus.
Didalam sakramen Krisma, kita menerima “Kepenuhan Roh Kudus”
sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya dalam Gereja.
bandingkan dengan para rasul yang menerima Roh Kudus
saat Pantekosta, sebelum peristiwa Pantekosta mereka sudah
menerima Roh Kudus (lihat Yoh 20:22) tetapi mereka baru ‘aktif’
sesudah Pantekosta. Demikian juga halnya dengan kita karena
sebenarnya Roh Kuduspun sudah kita terima saat Permandian, yaitu
Roh yang menjadikan kita Anak-Anak Allah, dan yang
membersihkan kita dari Dosa Asal (lebih Jelasnya lihat
tentang Sakramen Babtis). Itulah disebutkan bahwa Sakramen
Babtis adalah Sakramen Paskah dan Sakramen Krisma adalah
Sakramen Pantekosta.
26
Dalam Sakramen Krisma juga ada Pengurapan dengan minyak
Krisma yang berarti kita yang sudah menerima Krisma Dikuduskan,
Dikhususkan, dan menerima Kuasa untuk melakukan tugas
perutusan kita sebagai umat beriman (bdk 1 Samuel 10:1;1Samuel
16:13; 1 Raj 1:39). Dengan menerima Sakramen Krisma, kita
menerima Roh Kudus yang merupakan meterai, Tanda bahwa kita
ini milik Allah.
Berikut ini Kesaksian Bapa Gereja dan Para Kudus tentang
Sakramen Krisma:
o “Melalui Krisma orang dikuatkan sebagai pejuang
Kristus” (St. Bonaventura)
o Theophilus of Antioch: “Are you unwilling to be
anointed with the oil of God? It is on this account that we
are called Christians: because we are anointed with the
oil of God” (To Autolycus 1:12 [A.D. 181]).
o Tertullian: “After coming from the place of washing we
are thoroughly anointed with a blessed unction, from
the ancient discipline by which [those] in the priesthood
. . . were accustomed to be anointed with a horn of oil,
ever since Aaron was anointed by Moses. . . . So also with
us, the unction runs on the body and profits us
spiritually, in the same way that baptism itself is a
corporal act by which we are plunged in water, while its
effect is spiritual, in that we are freed from sins. After
this, the hand is imposed for a blessing, invoking and
inviting the Holy Spirit” (Baptism 7:1)
o Tertullian: “No soul whatever is able to obtain salvation
unless it has believed while it was in the flesh. Indeed,
the flesh is the hinge of salvation . . . The flesh, then, is
washed [baptism] so that the soul may be made clean.
The flesh is anointed so that the soul may be dedicated
to holiness. The flesh is signed so that the soul may be
fortified. The flesh is shaded by the imposition of hands
[confirmation] so that the soul may be illuminated by
27
the Spirit. The flesh feeds on the body and blood of
Christ [the Eucharist] so that the soul too may feed on
God. They cannot, then, be separated in their reward,
when they are united in their works” (The Resurrection
of the Dead 8:2)
o Hippolytus: “The bishop, imposing his hand on them,
shall make an invocation, saying, ‘O Lord God, who made
them worthy of the remission of sins through the Holy
Spirit’s washing unto rebirth, send into them your grace
so that they may serve you according to your will, for
there is glory to you, to the Father and the Son with the
Holy Spirit, in the holy Church, both now and through
the ages of ages. Amen.’ Then, pouring the consecrated
oil into his hand and imposing it on the head of the
baptized, he shall say, ‘I anoint you with holy oil in the
Lord, the Father Almighty, and Christ Jesus and the Holy
Spirit.’ Signing them on the forehead, he shall kiss them
and say, ‘The Lord be with you.’ He that has been signed
shall say, ‘And with your spirit.’ Thus shall he do to each”
(The Apostolic Tradition 21)
o Cyprian of Carthage: “It is necessary for him that has
been baptized also to be anointed, so that by his having
received chrism, that is, the anointing, he can be the
anointed of God and have in him the grace of Christ”
(Letters 7:2 [A.D. 253]). ; “Some say in regard to those
who were baptized in Samaria that when the apostles
Peter and John came there only hands were imposed on
them so that they might receive the Holy Spirit, and that
they were not re-baptized. But we see, dearest brother,
that this situation in no way pertains to the present case.
Those in Samaria who had believed had believed in the
true faith, and it was by the deacon Philip, whom those
same apostles had sent there, that they had been
baptized inside–in the Church. . . . Since, then, they had
already received a legitimate and ecclesiastical baptism,
it was not necessary to baptize them again. Rather, that
only which was lacking was done by Peter and John. The
28
prayer having been made over them and hands having
been imposed upon them, the Holy Spirit was invoked
and was poured out upon them. This is even now the
practice among us, so that those who are baptized in the
Church then are brought to the prelates of the Church;
through our prayer and the imposition of hands, they
receive the Holy Spirit and are perfected with the seal of
the Lord” (ibid. 73[72]:9) ; “[A]re not hands, in the name
of the same Christ, laid upon the baptized persons
among them, for the reception of the Holy Spirit?” (ibid.,
74[73]:5) ; “[O]ne is not born by the imposition of hands
when he receives the Holy Ghost, but in baptism, that so,
being already born, he may receive the Holy Spirit, even
as it happened in the first man Adam. For first God
formed him, and then breathed into his nostrils the
breath of life. For the Spirit cannot be received, unless
he who receives first have an existence. But . . . the birth
of Christians is in baptism” (ibid., 74[73]:7)
o Council of Carthage VII: “[I]n the Gospel our Lord Jesus
Christ spoke with His divine voice, saying, ‘Except a man
be born again of water and the Spirit, he cannot enter
the kingdom of God’ [John 3:5]. This is the Spirit which
from the beginning was borne over the waters; for
neither can the Spirit operate without the water, nor the
water without the Spirit. Certain people therefore
interpret [this passage] for themselves wrongly, when
they say that by imposition of the hand they receive the
Holy Ghost, and are thus received, when it is manifest
that they ought to be born again [initiated] in the
Catholic Church by both sacraments” (VII Carthage [A.D.
256])
o Treatise on Re-Baptism: “[I]t has been asked among the
brethren what course ought specially to be adopted
towards the persons of those who . . . baptized in heresy
. . . and subsequently departing from their heresy, and
fleeing as supplicants to the Church of God, should
repent with their whole hearts, and only now perceiving
29
the condemnation of their error, implore from the
Church the help of salvation. . . . [A]ccording to the most
ancient custom and ecclesiastical tradition, it would
suffice, after that baptism which they have received
outside the Church . . . that only hands should be laid
upon them by the bishop for their reception of the Holy
Spirit, and this imposition of hands would afford them
the renewed and perfected seal of faith” (Treatise on Re-
Baptism 1 [A.D. 256])
o Pacian of Barcelona: “If, then, the power of both baptism
and confirmation, greater by far than charisms, is
passed on to the bishops, so too is the right of binding
and loosing” (Three Letters to the Novatianist
Sympronian 1:6 [A.D. 383])
o dll
Dengan menerima Krisma berarti berarti kita dinilai sudah dewasa
dalam Iman, dilantik menjadi saksi Iman dan terlibat penuh dalam
Gereja. (Thomas Rudy)
(Sumber http://www.imankatolik.or.id/)
5. Sakramen Perkawinan
Gereja Katolik mengenal Sakramen Perkawinan sebagai salah satu
dari ketujuah Sakramen. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan
adalah suatu hal yang luhur. Dengan adanya sakramen pernikahan
secara lahiriah ada tanda yang menyatakan bahwa Allah hadir
dalam kehidupan perkawinan dan Allah menjadi saksi cinta kasih
sang suami dan istri (bdk Mal 2:14). Perkawinan dijadikan
sakramen karena kitab suci sendiri mengisyaratkan seperti
menjunjung tinggi perkawinan. Bahkan Paulus menegaskan supaya
suami-istri saling mencintai seperti Kristus mencintai umatNya
(jemaat atau Gereja-Nya – Lih Ef 5:21-33).
30
Kitab Kejadian memberikan gambaran bahwa Allah sungguh
memberkati perkawinan (bdk Kej 1:28). Campur tangan Allah
itulah yang menjadi dasar yang kuat untuk menjadikan perkawinan
sebagai sakramen.
Menurut Gereja Katolik perkawinan itu bersifat kekal atau tidak
terceraikan dan ini sesuai dengan KS (bdk Markus 10:1-12, Roma
7:2-3 dan Lukas 16:18). Pada kutipan KS yang lain ada seolah-olah
semacam celah untuk melakukan perceraian seperti Matius 19:1-12,
terutama pada ayat 9: “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali
karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah.” Tetapi sebenarnya menurut para ahli kata di atas
merupakan sisipan dari penulis injil. Mengapa?? Karena injil Matius
ditujukan untuk pembaca Yahudi. Kita tahu bahwa hukum Taurat
itu mengijinkan perceraian sehingga akhirnya penulis injil
menyisipkan kata “Kecuali karena zinah” agar tidak menimbulkan
kesan bahwa Yesus mengubah hukum taurat, karena Yesus dalam
injil Matius mengatakan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku
datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku
datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun
tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi.” (Mat 5:17-18) Jadi maksud Yesus tetap bahwa perkawinan
itu tetap tak terceraikan. Hal itu dapat disimpulkan jika kita
membaca ayat 9 pada Matius 19 dengan kesatuan dengan
keseluruhan konteks perkawinan dalam KS.
Ada yang mengatakan bahwa selain Mat 19:1-12, 1 Kor 7:10-11
juga mengisyaratkan akan bolehnya perceraian (lihat pada ayat
11).
Tetapi jelas sekali dalam perikop ini bahwa kalau memang harus
berpisah (= Paulus menyebutnya bercerai ) istri yang menceraikan
suaminya tidak diperkenankan menikah lagi dan sebisa mungkin
kembali rujuk dengan suaminya. Nah dalam hal ini sudah jelas
bahwa Paulus mengatakan perceraian itu tidak diijinkan. Dalam
Efesus 5:22-32 kita dapat menyimpulkan bahwa perceraian itu tidak
31
dimungkinkan. Mengapa? Karena pada perikop itu dijelaskan
bahwa hubungan Yesus dengan Jemaat adalah sebagai Kepala dan
Tubuh yang sudah pasti tidak dapat diceraikan. Nah kalau Paulus
juga menyamakan hubungan itu dengan hubungan suami dan istri
berarti secara otomatis hubungan antara suami dan istri tidak
dapat diceraikan, karena hubungan Yesus dengan jemaat tidak
dapat diceraikan. Dalam Perjanjian Lama ditegaskan bahwa Allah
sendiri membenci perceraian (Mal 2:16).
Dalam istilah Gereja ada istilah Annulments yang dalam hukum
gereja berarti sejak awal mula tidak ditemukan perkawinan yang
sah (perkawinan yang menjadi batal karena tidak memenuhi hukum
Gereja atau sebab musabab yang sesuai hukum Gereja). dalam hal
ini mereka yang mengalami mungkin dapat menikah kembali di
Gereja. Dalam Gereja Katolik jika pasangan yang menikah salah
satunya ada yang meninggal maka pasangan yang satunya dapat
pula kembali menikah di gereja.
Berikut kesaksian Bapa-Bapa Gereja tentang Sakramen
Pernikahan:
• Hermas “What then shall the husband do, if the wife continue
in this disposition [adultery]? Let him divorce her, and let the
husband remain single. But if he divorce his wife and marry
another, he too commits adultery” (The Shepherd 4:1:6 [A.D.
80]).
• Justin Martyr “In regard to chastity, [Jesus] has-this to say: ‘If
anyone look with lust at a woman, he has already before God
committed adultery in his heart.’ And, ‘Whoever marries a
woman who has been divorced from another husband,
commits adultery.’ According to our Teacher, just as they are
sinners who contract a second marriage, even though it be in
accord with human law, so also are they sinners who look
with lustful desire at a woman. He repudiates not only one
who actually commits adultery, but even one who wishes to
do so; for not only our actions are manifest to God, but even
our thoughts” (First Apology 15 [A.D. 151]).
32
• Clement of Alexandria “That Scripture counsels marriage,
however, and never allows any release from the union, is
expressly contained in the law: ‘You shall not divorce a wife,
except for reason of immorality.’ And it regards as adultery
the marriage of a spouse, while the one from whom a
separation was made is still alive. ‘Whoever takes a divorced
woman as wife commits adultery,’ it says; for ‘if anyone
divorce his wife, he debauches her’; that is, he compels her to
commit adultery. And not only does he that divorces her
become the cause of this, but also he that takes the woman
and gives her the opportunity of sinning; for if he did not take
her, she would return to her husband”
(Miscellanies 2:23:145:3 [A.D. 208]).
• Origen “Just as a woman is an adulteress, even though she
seem to be married to a man, while a former husband yet
lives, so also the man who seems to marry her who has been
divorced does not marry her, but, according to the declaration
of our Savior, he commits adultery with her” (Commentaries
on Matthew 14:24 [A.D. 248]).
• Basil the Great “A man who marries after another man’s wife
has been taken away from him will be charged with adultery
in the case of the first woman; but in the case of the second he
will be guiltless” (Second Canonical Letter to
Amphilochius 199:37 [A.D. 375]).
• Ambrose of Milan “No one is permitted to know a woman
other than his wife. The marital right is given you for this
reason: lest you fall into the snare and sin with a strange
woman. ‘If you are bound to a wife do not seek a divorce’; for
you are not permitted, while your wife lives, to marry
another.” (Abraham 1:7:59 [A.D. 387]). “You dismiss your
wife, therefore, as if by right and without being charged with
wrongdoing; and you suppose it is proper for you to do so
because no human law forbids it; but divine law forbids it.
Anyone who obeys men ought to stand in awe of God. Hear
the law of the Lord, which even they who propose our laws
must obey: ‘What God has joined together let no man put
asunder”‘ (Commentary on Luke 8:5 [A.D. 389]).
33
• Jerome “Do not tell me about the violence of the ravisher,
about the persuasiveness of a mother, about the authority of
a father, about the influence of relatives, about the intrigues
and insolence of servants, or about household [financial]
losses. So long as a husband lives, be he adulterer, be he
sodomite, be he addicted to every kind of vice, if she left him
on account of his crimes he is still her husband still and she
may not take another” (Letters 55:3 [A.D. 396]). “Wherever
there is fornication and a suspicion of fornication a wife is
freely dismissed. Because it is always possible that someone
may calumniate the innocent and, for the sake of a second
joining in marriage, act in criminal fashion against the first, it
is commanded that when the first wife is dismissed a second
may not be taken while the first lives” (Commentaries on
Matthew 3:19:9 [A.D. 398]).
• Pope Innocent I “[T]he practice is observed by all of
regarding as an adulteress a woman who marries a second
time while her husband yet lives, and permission to do
penance is not granted her until one of them is dead”
(Letters 2:13:15 [A.D. 408]).
• Chrysostom John ” ‘What therefore God hath joined together,
let not man put asunder.’ See a teacher’s wisdom. I mean, that
being asked, Is it lawful? He did not at once say, It is not lawful,
lest they should be disturbed and put in disorder, but before
the decision by His argument He rendered this manifest,
showing that it is itself too the commandment of His Father,
and that not in opposition to Moses did He enjoin these things,
but in full agreement with him. But mark Him arguing
strongly not from the creation only, but also from His
command. For He said not, that He made one man and one
woman only, but that He also gave this command that the one
man should be joined to the one woman. But if it had been His
will that he should put this one away, and bring in another,
when He had made one man, He would have formed many
Women. But now both by the manner of the creation, and by
the manner of lawgiving, He showed that one man must dwell
with one woman continually, and never break off from her.”
34
Chrysostom John,On Matthew,62:1(A.D. 370),in
NPNF1,X:382. (Thomas Rudy) (Sumber http://www.imankatolik.or.id/)
6. Sakramen Perminyakan
PENGURAPAN ORANG SAKIT
Apakah Sakramen Pengurapan Orang sakit itu? Sakramen ini
adalah salah satu dari 7 sakramen yang umumnya diberikan Gereja
kepada orang yang dalam keadaan bahaya kematian atau orang
yang dalam kondisi sakit berat/parah.
Melalui sakramen ini, Tuhan ingin hadir dekat dengan si sakit,
melalui Perantaraan Pelayan Gereja. Tanda lahiriah yang
meneguhkan itu diharapkan akan menumbuhkan/menguatkan
Iman si sakit. Tanda itu terdiri dari penumpangan tangan (tanda
perlindungan, penghiburan dan penguatan) dan pengurapan
dengan minyak (tanda kedekatan yang meringankan, Tanda Roh
Kudus yang menyerupakan Manusia dengan Kristus[Kristus: yang
Terurapi]).
Sakramen ini memiliki dasar kitab suci antara lain Mark 6:13 “dan
mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit
dengan minyak dan menyembuhkan mereka”; mark 16:18
“mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun
maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan
meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan
sembuh”; Yak 5:14-16 “Kalau ada seorang di antara kamu yang
sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka
mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama
Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang
sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah
berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu
hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan,
supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin
didoakan, sangat besar kuasanya.” dengan Menerima sakramen ini
mereka yang sakit mendapat peneguhan bahwa Allah hadir dan
35
mendampingi sehingga mereka percaya bahwa Allah membantu
menanggung pula beban si sakit (lih Mat 8:17).
Dengan Menerima Sakramen ini si sakit mau menggabungkan
penderitaannya bersama penderitaan Yesus, sehingga jalan salib
yang ditempuh si sakit menjadi jalan menuju Paska, dan bila
memang kehendak Penyelenggaraan Ilahi maka si sakit bisa
kembali sembuh dan pulih seperti sediakala.
Berikut kesaksian Bapa Gereja tentang Sakramen
Pengurapan orang sakit:
• “We beseech you, Savior of all men, you that have all virtue
and power, Father of our Lord and Savior Jesus Christ, and we
pray that you send down from heaven the healing power of
the only-begotten [Son] upon this oil, so that for those who
are anointed . . . it may be effected for the casting out of every
disease and every bodily infirmity. . . for good grace and
remission of sins . . . ” (The Sacramentary of Serapion 29:1).
• “For they are bold enough to teach, to dispute, to enact
exorcisms, to undertake(13) cures–it may be even to baptize.”
Tertullian,Prescription,49(A.D. 200),in ANF,III:263
• “O God who sanctifiest this oil as Thou dost grant unto all who
are anointed and receive of it the hallowing wherewith Thou
didst anoint kings and priests and prophets, so grant that it
may give strength to all that taste of it and health to all that
use it.” Hippolytus of Rome,Apostolic Tradition,5:2(c.A.D.
215),in AT,10
• “In addition to these there is also a seventh, albeit hard and
laborious…In this way there is fufilled that too, which the
Apostle James says :’If then, there is anyone sick, let him call
the presbyters of the Church, and let them impose hands upon
him, anointing him with oil in the name of the Lord; and the
prayer of faith will save the sick man, and if he be in sins, they
shall be forgiven him.’ ” Origen,Homily on Leviticus,2:4(A.D.
244),in JUR,I:207
36
• “[O]f the sacrament of life, by which Christians [baptism],
priests [in ordination], kings and prophets are made perfect;
it illuminates darkness [in confirmation], anoints the sick, and
by its secret sacrament restores penitents.” Aphraates the
Persian Sage,Treatises, 23:3(A.D. 345), in CE,V:720
• “For not only at the time of regeneration, but afterwards also,
they have authority to forgive sins. ‘Is any sick among you?’ it
is said, ‘let him call for the elders of the Church and let them
pray over him, anointing him with oil in the name of the Lord.
And the prayer of faith shall save the sick, and the Lord will
raise him up: and if he have committed sins they shall be
forgiven him.’ ” John Chrysostom,On the Priesthood,3:6(A.D.
386),in NPNF1,IX:48
• “[The sick] considered a more terrible calamity than disease
itself … [instead of allowing] the hands of the Arians to be laid
on the heads.” Athanasius, Encyclical Epistle (A.D. 341),in
CE,V:720
• “[this oil]…for good grace and remission of sins, for a
medicine of life and salvation, for health and soundness of
soul, body, spirit, for perfect strengthening.” Serapion of
Thmuis,Anaphora,29:1(A.D. 350),in CE,V:720
• “They pray over thee; one blows on thee, another seals thee.”
Ephraim,Homily 46(ante A.D. 373),in CE,V:720
• “Why, then, do you lay on hands, and believe it to be the effect
of the blessing, if perchance some sick person recovers? Why
do you assume that any can be cleansed by you from the
pollution of the devil? Why do you baptize if sins cannot be
remitted by man? If baptism is certainly the remission of all
sins, what difference does it make whether priests claim that
this power is given to them in penance or at the font? In each
the mystery is one.” Ambrose,Penance,1,8:36(A.D. 390),in
NPNF2,X:335
• “[I]f some part of your body is suffering…recall also the saying
in the divinely inspired Scripture: ‘Is anyone among you ill?
Let him call the presbyters of the Church and let them pray
over him, anointing him with oil in the name of the Lord. and
the prayer of faith will save the sick man, and the Lord will
37
raise him up, and if he be in sins they shall be forgiven.(James
5:14-15)” Cyril of Alexandria,Worship and Adoration,6(A.D.
412),in JUR,III:217
• “[I]n the epistle of the blessed Apostle James…’If anyone
among you is sick, let him call the priests…’. There is no doubt
that this anointing ought to be interpreted or understood of
the sick faithful, who can be anointed with the holy oil of
chrism…it is a kind of sacrament.” Pope Innocent[regn. A.D.
401-416],To Decentius,25,8,11(A.D. 416),in DEN,43
• “[L]et him who is ill receive the Body and Blood of Christ; let
him humbly and in faith ask the presbyters for blessed oit, to
anoint his body, so that what was written may be fufilled in
him: ‘Is anyone among you sick? Let him bring in the
presbyters, and let them pray over him, anointing him with
oil; and the prayer of faith will save the sick man, and the Lord
will raise him up; and if he be in sins, they will be forgiven him
(James 5:14-15)” Ceasar of Arles,Sermons,13(265),3(ante
A.D. 542),in JUR,III:285
• “[A] priest is to be called in, who by the prayer of faith and the
unction of the holy oil which he imparts will save him who is
afflicted [by a serious injury or by sickness].”
Cassiodorus,Complexiones(A.D. 570),in CE,V:7. (Thomas
Rudy)
(Sumber http://www.imankatolik.or.id/)
7 . Sakramen Imamat
SUKSESI APOSTOLIK DAN SAKRAMEN IMAMAT
Salah satu sifat gereja adalah apostolik dimana gereja itu harus
menunjukkan (menampakkan) ciri-ciri rasuli (lih Ef 2:20) karena
dibangun diatas para Rasul dengan Kristus sebagai batu
Penjurunya, tentu pula dengan Petrus sebagai kepada dewan para
rasul seperti yang Yesus sendiri kehendaki (bdk Mat 16:18-22;Yoh
21:15; Kis 2:14; dll). Konsekuensi dari gereja yang
38
mempertahankan sifat gereja yang Apostolik adalah mempunyai
suksesi apostolik, dengan adanya suksesi Apostolik maka
kedudukan para rasul dan Petrus sebagai kepala dewan para rasul
dapat tergantikan, dengan demikian kelangsungan Gereja dapat
terjamin sesuai kehendak Yesus sendiri kepada Gerejanya (bdk
Mat 28:20). Suksesi apostolik dalam Gereja perdana bisa kita lihat
pada misalnya penggantian Yudas Iskariot oleh Matias (Kis 1),
Pengangkatan beberapa Pelayan dalam jemaat, dll. caranya itu
dilakukan dengan penumpangan tangan (bdk Kis 6:6;Itim 5:22, dll)
dan fungsinya adalah menggantikan kedudukan para rasul (bdk
Kis 14:23). Suksesi Apostolik dipertahankan oleh Gereja Katolik
dan Gereja Ortodoks, kita percaya bahwa meskipun alkitab tidak
secara tegas menyatakan tentang suksesi Apostolik, tetapi alkitab
memberikan gambaran tentang hal itu dan juga Tradisi Suci juga
menegaskan hal yang sama [penjelasan tentang Tradisi suci lihat
artikel Apakah hanya Alkitab dasar iman Kita?]. Gereja yang
mempertahankan suksesi Apostolik, memiliki ciri-ciri antara lain
memiliki kesatuan dalam hal iman, ajaran, tata ibadat, hirarki, dll
dimanapun komunitas itu berada, dimana Gereja sekarang sama
seperti Gereja para rasul, dimana para jemaat bertekun dalam
pengajaran para rasul (lih Kis 2:42). Dimana Gereja yang sekarang
sama seperti Gereja pada masa Bapa-Bapa Gereja dan akan tetap
sama sampai kepada akhir jaman. Pembahasan mengenai suksesi
Apostolik berkaitan erat dengan sakramen Imamat, karena dengan
adanya Sakramen ini maka dimungkinkan adanya Suksesi
Apostolik dan dengan menerima sakramen Imamat dari mereka
yang memiliki Suksesi apostolik yang sah maka penerima akan
turut ambil bagian dalam Imamat Kristus (secara khusus) sebagai
Imam, karena hal inilah Gereja percaya bahwa Tahbisan Suci itu
benar-benar merupakan suatu Sakramen.
Sakramen Tahbisan diberikan oleh Uskup kepada mereka yang
telah mendapat tahbisan diakon. Sakramen ini mendapat tempat
dalam kitab suci sebagai contoh kita dapat lihat di Kis 14:23 “Di
tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi
jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka
menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah
39
sumber kepercayaan mereka” juga pada Kis 20:17,28. kemudian
bila kita perhatikan dalam 1Kor 12:28 “Dan Allah telah
menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul,
kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar.” Jadi disini jelas
bahwa dalam Gereja ada pembedaan fungsi dan peran yang
masing-masing memiliki jenjang tersendiri. Pentahbisan para
pelayan gereja ini juga ditunjukkan dengan penumpangan tangan
untuk jelasnya lihat Kis 6:6, Kis 13:3. disini jelaslah bahwa
sakramen imamat memiliki dasar kitab suci dan sakramen imamat
akan lebih jelas lagi bila Tradisi Suci yang menjelaskannya. berikut
komentar Teolog Besar Gereja Katolik “Kristus adalah sumber
setiap imamat; karena imam hukum [lama] citranya. Tetapi imam
Perjanjian Baru bertindak atas nama Kristus” (Thomas Aquino, s.th
3,22,4) dan Berikut pula beberapa kesaksian Bapa-Bapa Gereja
tentang Sakramen Imamat dan Suksesi Apostolik:
1. “Bapa, Engkau yang mengenal hati, berilah kepada para
pelayan-Mu, yang telah Engkau panggil untuk martabat
Uskup, supaya ia menggembalakan kawanan-Mu yang kudus
dan melaksanakan di hadirat-Mu imamat yang agung ini
tanpa cacat, dengan melayani Engkau siang dan malam.
Semoga ia tanpa henti-hentinya membuat wajah-Mu
menyinarkan belas kasihan dan semoga ia membawakan
persembahan Gereja-Mu yang Kudus. Semoga ia berkat roh
imamat yang agung ini mempunyai kekuasaan untuk
mengampuni dosa sesuai perintah-Mu. Semoga ia membagi-
bagikan tugas sesuai dengan aturan-Mu dan membuka ikatan
berkat kekuasaan yang telah Engkau berikan kepada para
rasul-Mu. Semoga ia berkenan kepada-Mu oleh
kelemahlembutan dan oleh hatinya yang murni, waktu ia
mempersembahkan kepada-Mu keharuman yang
menyegarkan dengan perantaraan Yesus Kristus anak-Mu….”
(Hipolitus, trad. ap. 3)
2. “When I had come to Rome, I [visited] Anicetus, whose deacon
was Eleutherus. And after Anicetus [died], Soter succeeded,
and after him Eleutherus. In each succession and in each city
there is a continuance of that which is proclaimed by the Law,
40
the Prophets, and the Lord” (Hegesippus, Memoirs 4:22:1 [
A.D. 180]).
3. “It is possible, then, for everyone in every church, who may
wish to know the truth, to contemplate the Tradition of the
Apostles which has been made known to us throughout the
whole world. And we are in a position to enumerate those
who were instituted bishops by the apostles and their
successors down to our own times, men who neither knew
nor taught anything like what these heretics rave about”
(Irenaeus dan Lyons, Against Heresies 3:3:1 [A.D. 189]); “But
since it would be too long to enumerate in such as volume as
this the successions of all the churches, we shall confound all
those who, in whatever manner, whether through self-
satisfaction or vainglory, or through blindness and wicked
opinion, assemble other than where it is proper, by pointing
out here the successions of the bishops of the greatest and
most ancient church known to all, founded and organized at
Rome by the two most glorious Apostles, Peter and Paul–that
church which has the Tradition and the with which comes
down to us after having been announced to men by the
apostles. For with this Church, because if its superior origin,
all churches must agree, that is, all the faithful in the whole
world. And it is in her that the faithful everywhere have
maintained the Apostolic Tradition” (ibid., 3:3:2).
4. “[The Apostles] founded churches in every city, from which
all the other churches, one after another, derived the tradition
of the faith, and the seeds of doctrine, and are every day
deriving them, that they may become churches. Indeed, it is
on this account only that they will be able to deem themselves
apostolic, as being the offspring of apostolic churches. Every
sort of thing must necessarily revert to its original for its
classification. Therefore the churches, although they are so
many and so great, comprise but the one primitive church,
[founded] by the apostles, from which they all [spring]. In this
way all are primitive, and all are apostolic, while they are all
proved to be one in unity by their ” (Tertulianus, Demurrer
Against the Heretics 20 [A.D. 200]).;”[W]hat it was which
41
Christ revealed to them [the apostles] can, as I must here
likewise prescribe, properly be proved in no other way than
by those very churches which the apostles founded in person,
by declaring the gospel to them directly themselves . . . If then
these things are so, it is in the same degree manifest that all
doctrine which agrees with the apostolic churches–those
molds and original sources of the faith must be reckoned for
truth, as undoubtedly containing that which the churches
received from the apostles, the apostles from Christ, [and]
Christ from God. Whereas all doctrine must be prejudged as
false which savors of contrariety to the truth of the churches
and apostles of Christ and God. It remains, then, that we
demonstrate whether this doctrine of ours, of which we have
now given the rule, has its origin in the Tradition of the
Apostles, and whether all other doctrines do not ipso facto
proceed from falsehood” (ibid., 21).;”But if there be any
[heresies] which are bold enough to plant [their origin] in the
midst of the apostolic age, that they may thereby seem to have
been handed down by the apostles, because they existed in
the time of the apostles, we can say: Let them produce the
original records of their churches; let them unfold the roll of
their bishops, running down in due succession from the
beginning in such a manner that [their first] bishop shall be
able to show for his ordainer and predecessor some one of the
apostles or of apostolic men–a man, moreover, who
continued steadfast with the apostles. For this is the manner
in which the apostolic churches transmit their registers: as
the church of Smyrna, which records that Polycarp was
placed therein by John; as also the church of Rome, which
makes Clement to have been ordained in like manner by
Peter” (ibid., 32).
5. ” I must not omit an account of the conduct also of the
heretics–how frivolous it is, how worldly, how merely human,
without seriousness, without authority, without discipline, as
suits their creed. To begin with, it is doubtful who is a
catechumen, and who a believer; they have all access alike,
they hear alike, they pray alike–even heathens, if any such
42
happen to come among them. ‘That which is holy they will
cast to the dogs, and their pearls,’ although (to be sure) they
are not real ones, ‘they will fling to the swine.’ Simplicity they
will have to consist in the overthrow of discipline, attention
to which on our part they call brothelry. Peace also they
huddle up anyhow with all comers; for it matters not to them,
however different be their treatment of subjects, provided
only they can conspire together to storm the citadel of the one
only Truth. All are puffed up, all offer you knowledge. Their
catechumens are perfect before they are full-taught. The very
women of these heretics, how wanton they are! For they are
bold enough to teach, to dispute, to enact exorcisms, to
undertake cures–it may be even to baptize. Their ordinations,
are carelessly. administered, capricious, changeable. At one
time they put novices in office; at another time, men who are
bound to some secular employment; at another, persons who
have apostatized from us, to bind them by vainglory, since
they cannot by the truth. Nowhere is promotion easier than
in the camp of rebels, where the mere fact of being there is a
foremost service. And so it comes to pass that to-day one man
is their bishop, to-morrow another; to-day he is a deacon who
to-morrow is a reader; to-day he is a presbyter who
tomorrow is a layman. For even on laymen do they impose
the functions of priesthood.”
Tertullian,On Prescription Against Heretics,41(c.A.D. 200),in
ANF,III:263
6. “Pejabat yang angkuh harus digolongkan dengan setan.
Anugerah Kristus tidak dinodai karena itu;yang mengalir
melalui dia, pertahankan kemurniannya;yang disalurkan
melalui dia, tinggal bersih dan sampai ke tanah yang subur. …
kekuatan rohani Sakramen adalah serupa dengan terang;
siapa yang harus disinari, menerimanya dengan
kejernihannya, dan apabila ia harus melewati yang kotor, ia
sendiri tidak menjadi kotor” (Agustinus ev. jo 5,15)
7. “Since therefore I have, in the persons before mentioned,
beheld the whole multitude of you in faith and love, I exhort
you to study to do all things with a divine harmony, while
43
your bishop presides in the place of God, and your presbyters
in the place of the assembly of the apostles, along with your
deacons, who are most dear to me, and are entrusted with the
ministry of Jesus Christ, who was with the Father before the
beginning of time, and in the end was revealed. Do ye all then,
imitating the same divine conduct, pay respect to one
another, and let no one look upon his neighbour after the
flesh, but do ye continually love each other in Jesus Christ. Let
nothing exist among you that may divide you ; but be ye
united with your bishop, and those that preside over you, as
a type and evidence of your immortality.”
Ignatius of Antioch,Epistle to the Magnesians,6(A.D. 110),in
ANF,I:61
8. Since, according to my opinion, the grades here in the Church,
of bishops, presbyters, deacons, are imitations of the angelic
glory, and of that economy which, the Scriptures say, awaits
those who, following the footsteps of the apostles, have lived
in perfection of righteousness according to the Gospel. For
these taken up in the clouds, the apostle writes, will first
minister [as deacons], then be classed in the presbyterate, by
promotion in glory (for glory differs from glory) till they grow
into ‘a perfect man.’ ” Clement of Alexandria,Stromata,13(A.D.
202),in ANF,II:505
9. “Semua orang harus menghormati diaken seperti Yesus
Kristus, demikian pula Uskup sebagai citra Bapa, tetapi
Presbiter sebagai dewan Allah dan sebagai persekutuan para
rasul. Tanpa mereka tidak ada Gereja” (Ignasius dari Antiokia,
Trall. 3,1)
10. “Tuhan telah mengatakan dengan jelas bahwa usaha
untuk kawanan-Nya adalah suatu bukti cinta terhadap-Nya”
(Yohanes Krisostomos, sac 2,2)
11. “Through countryside and city [the apostles] preached,
and they appointed their earliest converts, testing them by
the Spirit, to be the bishops and deacons of future believers.
Nor was this a novelty, for bishops and deacons had been
written about a long time earlier. . . . Our apostles knew
through our Lord Jesus Christ that there would be strife for
44
the office of bishop. For this reason, therefore, having
received perfect foreknowledge, they appointed those who
have already been mentioned and afterwards added the
further provision that, if they should die, other approved men
should succeed to their ministry.” (Paus Klemens I, Letter to
the Corinthians 42:4-5, 44:1-3 [A.D. 80]).
12. “Beware lest ever like Simon thou come to the
dispensers of Baptism in hypocrisy, thy heart the while not
seeking the truth. It is ours to protest, but it is thine to secure
thyself. If thou standest in faith, blessed art thou; if thou hast
fallen in unbelief, from this day forward cast away thine
unbelief, and receive full assurance. For, at the season of
baptism, when thou art come before the Bishops, or
Presbyters, or Deacons,–(forits grace is everywhere, in
villages and in cities, on them of low as on them of high
degree, on bondsmen and on freemen, for this grace is not of
men, but the gift is from God through men,)–approach the
Minister of Baptism, but approaching, think not of the face of
him thou seest, but remember this Holy Ghost of whom we
are now speaking. For He is present in readiness to seal thy
soul, and He shall give thee that Seal at which evil spirits
tremble, a heavenly and sacred seal, as also it is written, In
whom also ye believed, and were sealed with the Holy Spirit
of promise.” Cyril of Jerusalem,Catechetical
Lectures,XVII:35(A.D. 350),in NPNF2,VII:132
13. “Despise not, therefore, the Divine laver, nor think
lightly of it, as a common thing, on account of the use of water.
For the power that operates is mighty, and wonderful are the
things that are wrought thereby. For this holy altar, too, by
which I stand, is stone, ordinary in its nature, nowise different
from the other slabs of stone that build our houses and adorn
our pavements; but seeing that it was consecrated to the
service of God, and received the benediction, it is a holy table,
an altar undefiled, no longer touched by the hands of all, but
of the priests alone, and that with reverence. The bread again
is at first common bread, but when the sacramental action
consecrates it, it is called, and becomes, the Body of Christ. So
45
with the sacramental oil; so with the wine: though before the
benediction they are of little value, each of them, after the
sanctification bestowed by the Spirit, has its several
operation. The same power of the word, again, also makes the
priest venerable and honourable, separated, by the new
blessing bestowed upon him, from his community with the
mass of men. While but yesterday he was one of the mass, one
of the people, he is suddenly rendered a guide, a president, a
teacher of righteousness, an instructor in hidden mysteries;
and this he does without being at all changed in body or in
form; but, while continuing to be in all appearance the man he
was before, being, by some unseen power and grace,
transformed in respect of his unseen soul to the higher
condition. And so there are many things, which if you
consider you will see that their appearance is contemptible,
but the things they accomplish are mighty: and this is
especially the case when you collect from the ancient history
instances cognate and similar to the subject of our inquiry.”
Gregory of Nyssa,On the Baptism of Christ(ante A.D. 394),in
NPNF2,V:519
14. “As often as GOD’s mercy deigns to bring round the day
of His gifts to us, there is, dearly-beloved, just and reasonable
cause for rejoicing, if only our appointment to the office be
referred to the praise of Him who gave it. For though this
recognition of GOD may well be found in all His priests, yet I
take it to be peculiarly binding on me, who, regarding my own
utter insignificance and the greatness of the office
undertaken, ought myself also to utter that exclamation of the
Prophet,’LORD, I heard Thy speech and was afraid: I
considered Thy works and was dismayed.’ For what is so
unwonted and so dismaying as labour to the frail, exaltation
to the humble, dignity to the undeserving? And yet we do not
despair nor lose heart, because we put our trust not in
ourselves but in Him who works in us. And hence also we
have sung with harmonious voice the psalm of David, dearly
beloved, not in our own praise, but to the glory of Christ the
LORD. For it is He of whom it is prophetically written, ‘Thou
46
art a priest for ever after the order of Melchizedeck,’ that is,
not after the order of Aaron, whose priesthood descending
along his own line of offspring was a temporal ministry, and
ceased with the law of the Old Testament, but after the order
of Melchizedeck, in whom was prefigured the eternal High
Priest. And no reference is made to his parentage because in
him it is understood that He was portrayed, whose generation
cannot be declared. And finally, now that the mystery of this
Divine priesthood has descended to human agency, it runs
not by the line of birth, nor is that which flesh and blood
created, chosen, but without regard to the privilege of
paternity and succession by inheritance, those men are
received by the Church as its rulers whom the Holy Ghost
prepares: so that in the people of GOD’s adoption, the whole
body of which is priestly and royal, it is not the prerogative of
earthly origin which obtains the unction, but the
condescension of Divine grace which creates the bishop.”
Pope Leo the Great[regn. A.D. 440-461],Sermons,3:1(ante
A.D. 461),in NPNF2,XII:116
15. “When a priest is ordained, while the bishop is blesing
[him] and holding his hands over his head, let all the priests
also, who are present, hold their hands close to the hands of
the bishop above his head.” Council of Chalcedon,Canon
3(A.D. 451),in DEN,62-63
Sakramen Imamat dipertahankan oleh Gereja yang benar-benar
memiliki sifat apostolik dan dengan demikian benar-benar
memiliki Suksesi Apostolik yang sah. Sakramen Imamat juga
menimbulkan ‘cap’ yang tidak dapat dihapuskan sama seperti
Yesus yang adalah imam untuk selamanya, demikian pula mereka
yang ambil bagian dalam imamat khusus Yesus (dengan
ditahbiskan) juga memiliki karunia Imamat itu selamanya (lih KGK
1581 & 1582)
SELIBAT
Selibat merupakan suatu aturan tersendiri dalam Ritus Latin.
sedangkan dalam Ritus Timur para Imamnya diperbolehkan untuk
47
menikah (sebelum ditahbiskan) tetapi sesudah ditahbiskan
mereka tidak boleh menikah, sedangkan para Uskup dipilih dari
mereka yang selibat (lihat KGK 1580).
Selibat dalam Ritus Latin sebenarnya memiliki landasan Kitab Suci
yang kuat antara lain Matius 19:21 dimana disana jelas dinyatakan
bahwa ada orang yang memang selibat karena kerajaan Allah. dan
dalam 1 Kor 7:7-38 Paulus membicarakan masalah selibat
meskipun ia berbicara pula masalah perkawinan, Paulus
menganjurkan agar orang selibat jika memang itu karunianya. dan
dalam ayat 32-33 dan 35 Paulus mengatakan bahwa dengan selibat
maka orang dapat melayani Tuhan tanpa gangguan. Pada 1 Kor
7:20 dikatakan “baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan,
seperti waktu ia dipanggil Allah.”, kita tahu bahwa menjadi Imam
adalah panggilan Allah sendiri dari sejak awal mula hidup kita
didunia ini (lih Yer 1:5) meskipun kita sendiri dikarunai kehendak
bebas. Nah St. Paulus mengatakan bahwa “baiklah tiap-tiap orang
tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” nah
berarti seseorang terpanggil mejadi Imam lebih baik selibat karena
menuruti ajuran Paulus ini dan mengingat beberapa hal yang
diatas tersebut.
Thomas Rudy
Terima Kasih untuk Romo Pidyarto, O.Carm yang membantu
mengkoreksi artikel ini
Baca Artikel Lainnya : Buah Retret: cara baru bagiku untuk
memahami Sakramen Imamat
(Sumber http://www.imankatolik.or.id/)
48