The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Maz Wardiyono, 2020-12-10 08:59:49

PANDUAN BUKU EJ PARAMITHA ST. ANNA

Buku ini hanya menceritakan

Keywords: Emmaus Journey

KELOMPOK SPIRITUALITAS KITAB SUCI
EMMAUS JOURNEY PARAMITHA ST. ANNA

PAROKI DUREN SAWIT
JAKARTA TIMUR

1

BUKU 1
EMMAUS JOURNEY PARAMITHA ST. ANNA

PERJALANAN MENUJU HIDUP MENDASAR

Metanoia > pencerahan dari gelap ke terang

Membaca dan menulis

Berdoa dulu, Lewat keheningan, Dialog 2 arah

Tau cara mintanya dan apa yang diminta

Doa syafaat, maksud dan tujuan doa

Wujud doa bagaimana intensi doa itu diluruskan apabila
ingin dikabulkan (bentuk doa)

Monastik praktek hidup devosional seseorang dengan menerapkan aturan aturan
tertentun (mati raga dll) /// gereja perdana> rahis, pertapa, menyendiri,
berkelompok

Komit = taat teologi

Merenungkan siang dan malam

Manfaat taat dan setia: menanti…… , Membaca dan merenungkan sabda Tuhan,
buah

Sebaik apapun tahu kitab suci tapi tidak berbuah

Mencintai dan merenungkan sabda Tuhan akan membuat aku : 1) bijaksana 2)
berakal budi 3) lebih mengerti 4) menahan diri agar tidak berbuat dosa 5) tidak
jatuh dalam dosa 6) Sabda Tuhan indah bagi kita.

Selalu memuji Allah dengan tidak berbuat dosa serta mewartakannya
merenungkannya sabda Allah.

2

Dipupuk > kita mau dan merenungkan sabda Tuhan untuk sampai pada jalan
keselamatan

Meditasi : 1). Dengan hening dan mengulang ngulang sabda Tuhan 2) jalan menuju
kontemplasi (segala usaha masuk dalam hadirat Allah yang lebih dalam lagi) /
Segala usaha dari jiwa baik memory, imajinasi, intelektual, pemikiran / keinginan
untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah.

Lumen Christie : metode baca – amati – pahami – Aktualkan bacaan kitab suci

Mendengar- ungkap- menerima pesan TV- doan- bagi sharing – tanggapan –
ungkapan dalam doa

Menghadapi godaan dengan berpuasa dan berdoa.

Menurut Yesus : firman Allah- Yesus sendiri

Menerima kitab suci sebagai firman yang diwartakan 2) Menerima kitab suci dan
menanamkan dalam hati sebagai pedoman untuk bertindak dan mengandalkanNya
dalam hidup sehari hari.

Mengingat dan menjauhkan dari kesesatan kita, jika kita berpegang pada Tuhan,
teguh kepada firman

Actode amos 1) pembukaan 2) mendengarkan sabda Allah (- kitab suci bertanya /
usulkan apa yang mau dibaca, – pokok persoalan > menyelesaikan konflik / cari
solusi / rumuskan / evaluasi / doa

Respondent resounce ; 1) masalah hidup yang akan direfleksikan di kitab suci 2)
melihat situasi hidup (persoalan) 3) mendengar sapaan Tuhan 4) melakukan
kehendak Tuhan -tanggapan doa

Sabda Tuhan : Tuhan yang maha bijaksana – Maha Adil & Pro kehidupan.

Tradisi : seluruh karya para Rasul dan Bapa mengajarkan dalam terang, iman dan
memanggali sabda Allah dalam terang iman dalam mengggapai sabda Allah

Pencobaan> menyeret diri sendiri ke dalam dosa

3

Ujian > usaha mengatasi pencobaan agar kita jadi anak sulung, diantara ciptaan

Kredo = syahadat

Pengakuan iman >menghampiri takhta kasih karunia (personal)
4P : Pemujaan -adoration / Pengakuan dosa- confession / Perasaan bersyukur –
thanksgiving / Permohonan – supplication

Buah keheningan > doa > iman > cinta kasih > pelayanan > sukacita

Iman itu percaya bukan perasaan / emosi

Kasih= karena doa pintu persekutuan kita dengan Allah dan sarana relasi kita
kepada Allah Bapa melalui Yesus

Identitas kita Anak Allah = doa- jujur (cinta Allah bertindak & berdoa)

Dengan hati, pusat jiwa merupakan tempat / taktha Allah

Dikuatkan Oleh Allah = DOA

Doa jangan doain diri sendiri memuaskan hawa nafsu.

Kuasa : tidak percaya, luka batin, percaya penuh, takut ga dikabulin, emosi
perasaan (iman bukan perasaan), setan malas, dsb

Sebelum berdoa tanyakan dirimu sendiri apakah bisa tau bisa konsentrasi, kalau
tidak jangan berdoa sama sekali > mereka yang menjadikan doa sebagai kebiasaan
berarti tidak berdoa dengan tulus

Semakin tinggi doa, sudut pandang/ naik tingkat // rajin doa banyak hikmat.

1) 1 Petrus 5:6 apapun yang tidak biasa dilakukan latihlah dirimu

2) 1 Tim 4:7 latihlah dirimu melakukan hal yang benar karena menabur kata dan
peebuatan kita.

4

3) 1 Tim 4:15 perhatikanlah semua itu (nubuat2) dan panggilan

4) EF …… ucapkanlah syukur senantiasa, menjaga sumber air kehidupan kita agar
tidak tersumbat Dan iman tetap berkembang

5) Yesaya 11:2 takut akan Tuhan sesungguhnya adalah suatu urapan salah satu dari
7 Roh Allah (Allah mengawasi kita/menjaga)

Tingkah laku yang dapat mengatasi keegoisan : 1) menjaga tubuh sebagai
persembahan yang kudus 2) memperbaharui budi 3) menguasai diri 4) fokus
karunia masing masing

Contoh dosa sakralegi-berjinah

Jadi batu sandungan : menghalango orang lain untuk sampai kepada Allah

Cara untuk membangun dan menyemangati orang lain : 1) kasih persaudaraan,
hidup tenang dan sopan, jangan berduka dalam menghadapi kematian karena
Tuhan sendiri yang menyambutnya, saling menghibur dan menasehati,
membangun. 2) tanggung jawab saling menjaga dan menasehati agar tidak jatuh
dalam dosa dan tersesat (kondisi Iman dan jangan dosa dukungan yang manjur)

Orang berdosa menolak kasih Tuhan bahkan mengkhianatinya, kita ? Mengabaikan
kasih Tuhan.

Allah setia dan adil, setia akan janjinya karena ia mengasihi manusia total dan tak
terbatas, adil untuk semua orang.

Sifat air yang membasuh, mencuci, membersihkan dimaksudkan agar bagian yang
terlahir dan air dikenali kepada kesucian // Roh yang penurut bertentangan dengan
sifat daging, dilahirkan dari Roh, ia dipimpin oleh Roh bukan kedagingan

Pertobatan, lewat pembaptisan air, artinya setiap orang menjadi suci kembali yang
juga diikuti sifat batinnya, bahwa sekarang Roh pemimpin bukan kedagingan
(nafsu dll)

KASIH KARUNIA ALLAH = GRATIS-GRATIA

5

Perubahan tingkah laku yang paling penting: 1) menanggalkan manusia lama 2)
memperbaharui hidup dalam Roh dan pikiran serta manusia baru > mau bertobat
dan selalu memperbaharui diri sesuai dengan kehendak Allah yang selalu hidup
dalam kebenaranndan kekudusan.

6

BUKU 2 :
EMMAUS JOURNEY PARAMITHA ST. ANNA

PERJALANAN MENUJU HIDUP BERBUAH

Perjalanan Menuju Hidup Berbuah adalah
buku kedua dari serial materi diskusi
pendalaman spiritualitas Kitab Suci yang dibuat
untuk dipergunakan dalam komunitas Katolik.
Materinya telah disusun, diuji, dan terbukti
sukses dipergunakan dalam komunitas-
komunitas Katolik pada Paroki Holy Apostles
Colorado Springs, Colorado.

Materi buku ini dirancang untuk memberikan

pelatihan dasar, baik dalam hal kerohanian

pribadi maupun dalam kemampuan

berpartisipasi yang sebaik mungkin di dalam

kelompok Kitab Suci. Peserta yang pernah

mengikuti kelas Perjalanan Menuju Hidup Mendasar, telah

mengembangkan kebiasaan membaca Kitab Suci dan berdoa

harian. Perjalanan Menuju Hidup Berbuah ini melanjutkan kebiasaan

berbagi pemahaman dari pembacaan Kitab Suci dan berdoa harian pada

setiap permulaan sesi.

Tiga seri Perjalanan Menuju Hidup Mendasar, Perjalanan Menuju
Hidup Berbuah, dan Perjalanan Menuju Hidup Terfokus, berisikan
perenungan berdasarkan kutipan-kutipan Kitab Suci, dengan berbagai
topik penting mengenai kerohanian pribadi dan kerasulan. Setiap topik
diskusi disajikan dan dikuatkan dengan acuan ke sumber-sumber berharga
agama Katolik. Persiapan dan pengolahan materi mingguan dalam setiap
sesi, akan membuat Anda dapat berpartisipasi dengan baik di dalam
diskusi, sekaligus menerima nilai-nilai yang sesungguhnya dari materi ini.

7

BUKU 3
EMMAUS JOURNEY PARAMITHA ST. ANNA

PERJALANAN MENUJU HIDUP TERFOKUS
---------------------------------------------------------------

Yesus pembawa terang

Perilaku hidup seperti Yesus

Fungsi terang : menerangi, membuka mata,
menuntun, membangunkan dan memperingatkan

Fungsi garam : antiseptic, pengawet, pembuat haus
(haus akan firman Tuhan), penyembuh (memegang
kebenaran agar tidak busuk dan kegelapan)

Sabda Tuhan dan Ekaristi = BERPUSAT PADA YESUS

BERAKAR SERTA BERDASAR DALAM KASIH (TIMBAL BALIK)

MEMUPUK & MENGEMBANGKAN KETIGA CARA MENGASIHI :
1) FIRMAN DAN DOA
2) AKAL BUDI- PEMAHAMAN, CARA PIKIR KITA TERHADAP SABDA
TUHAN DAN pengenalan Allah

Kasihilah tercermin pada kasih dan doa (keberadaan dalam dan sakramen)

Jiwa- seluruh hidup dam keberadaan kita (pikiran, tingkah laku, ucapan)

Doa + SABDA ALLAH

Menaati-mengasihi-melakukan firman (menerima keselamatan surga)

Berjalan dalam kegelapan (?)

8

Prinsip berdoa :
Rendah hati
Mementingkan Kristus (bukan kesombongan, kesalehan diri) dengan
begitu doa kita tertuju pada Tuhan
Perilaku kehidupan “harus benar”
Damai sejahtera – berbuat baik
Gereja – kumpulan orang percaya
5 tugas gereja : (Kis 2:41-42)
Liturgi (42b) pecah roti-ekaristi
Karisma (42a) pewartaan
Koinonia (44) persekutuan
Diakonia (45) pelayanan
Martirni (47) kesaksian

9

PERTEMUAN PERTAMA BUKU 4

“ TUJUH SABDA TERAKHIR” ATAU

SEVEN LAST WORDS FROM THE CROSS

--------------------------------------------------------------------------------

KELOMPOK SPIRITUALITAS KITAB
SUCI EMMAUS JOURNEY

Pertemuan ini adalah kelanjutan dari pertemuan
pertemuan awal yang dilakukan oleh para
emmauser dalam kelompok-kelompok kecil,
yang beranggotakan : Peserta baru, Fasilitator
dan Pendamping, dan perkelompok tidak lebih
dari 10 anggota.

Dengan panduan Buku I ( Perjalanan Menuju
Hidup Mendasar ), Buku II ( Perjalanan
Menuju Hidup Berbuah ) dan Buku III (
Perjalanan Menuju Hidup Terfokus ) dari buku
Emmaus Journey – Kelompok Spiritualitas
Kitab Suci sebagai guidance bahan diskusi,
masing-masing Kelompok Spiritualitas Kitab
Suci ini mengadakan pertemuan seminggu
sekali, untuk memperdalam pengetahuan
tentang firman Tuhan, teristimewa dengan sharing pandangan dan pengalaman
hidup dan diskusi dari masing masing anggotanya, sehingga dengan proses
perenungan dari masing-masing kelompok tersebut, masing-masing anggota
diharapkan mengalami kenaikan level dalam spiritualitas dan pemahaman akan
firman Tuhan yang di pelajari dari Kitab Suci secara bersama-sama.

Buku “Tujuh Sabda Terakhir” Sesi 1, yaitu

“ Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Dalam perikop “Yesus disalib” Lukas 23: 32-38, disitu diceritakan banyak orang-
orang yang terlibat dalam peristiwa penyaliban Yesus, ada dua orang penjahat
yang disalib di kiri dan kanan Yesus, yang satu menantang Yesus dengan apakah
bisa membebaskan diriNya dan mereka, yang lain memohon ampun pada Yesus

10

dan minta diselamatkan karena dia telah melakukan dosa-dosa, kemudian para
pemimpin agama bangsa-Nya, yang rapuh ketakutan, karena tidak dapat
menghindar dari telah hilangnya perasaan kasih dari dalam diri mereka sedemikian
lamanya, Pilatus yang malang, yang untuk selama-lamanya meremas-remas
tangannya, tangan yang selama-lamanya tercemar, para prajurit yang harus
menjalankan tugas, mencabuki-Nya, memaku-Nya, menusuk-Nya dengan tombak,
sebagai bagian dari tugas yang harus mereka lakukan sebagai prajurit di negeri
asing, jauh dari rumah mereka atau juga penonton lainnya dengan reaksi yang
beragam.

Kami diajak untuk merenungkan peristiwa itu, dan hadir disana, dengan berusaha
menyadari sebagai siapakah kita dalam drama penyaliban Yesus tersebut ?.

Bila kita renungkan lebih jauh, peran yang dilakukan orang-orang disekitar Yesus
ketika terjadi penyiksaan yang diakhiri penyaliban Yesus, juga kita lakukan pada
perjalanan hidup kita, semakin kita renungkan semakin menghantui rasa bersalah
kita karena memang “Dosa membawa perasaan bersalah”.

Melalui Sabda Yesus sebelum maut menjemput “ Bapa, ampunilah mereka sebab
mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” saat itulah Yesus menghapus dosa
dan kesalahan kita dan bagi kita telah kita terima ketika kita menerima “ Sakramen
Baptisan” sebagai pengampunan atas dosa-dosa kita.

Namun dalam perjalanan dan penziarahan hidup kita, kita masih sering baik
sengaja ataupun tidak sengaja melakukan dosa-dosa lagi, sehingga dalam “ Hati
Nurani kita” ada tertinggal disana perasaan dengan kadar kepekaan dan reaksi yang
berbeda-beda, ada yang merasa bersalah terus menerus dan merasa tak termaafkan,
ada yang makin kebal dan tidak peduli sehingga melakukan dan melakukan dosa
yang sama lagi tanpa terbesit rasa sesal, namun ada juga yang berusaha membuka
hatinya untuk membuka pintu maaf pada dirinya, menyesali kesalahannya untuk
tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan penuh keyakinan “tidak ada lagi
yang tertinggal karena dosaku telah diampuni” dan melakukannya dalam Sakramen
Pertobatan, dan melalui pelepasan atas ikatan dosa dan pemberian denda dosa /
penitensi yang diberikan Tuhan dengan perantara Imam, kita yakin dosa kita telah
dihapus dan dengan mantap kita bisa menyongsong masa depan dengan penuh
semangat tanpa tanggungan dari masa lalu kita. Sebab pengampunan dari Tuhan
itu total, dan sarana itu telah diserahkan kepada Imam pengakuan kita dalam kuasa
pemberian Sakramen Pertobatan.

11

Ada kata-kata yang bagus untuk kita renungkan dari seorang Tokoh Mahatma
Gandhi “ Hanya orang-orang yang melakukan kesalahan dan dimaafkan, maka
dia tahu apa itu Kasih”

Dalam Studi Kitab Suci dapat kita ambil dari perikop “ Perumpamaan tentang anak
yang hilang” yang menurut Romo Ricard judul yang lebih tepat adalah “Bapa yang
maha rahim”

Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang
bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang
menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara
mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu
lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan
hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana
kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja
pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk
menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi
makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu
ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang
berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan
bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah
berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak
bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan
pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu
tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu
merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa
terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah
yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan
sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan
marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi
hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka
bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang
dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu
ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya
itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak
lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah
anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara
dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku
melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku

12

belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan
harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa
menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku,
engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah
kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati
dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (TB Luk 15:11-
32)

Disini dapat kita lihat tiga tokoh yang mewakili karakter yang berbeda-beda,
seorang anak bungsu yang tentu saja di dimanja ayahnya, namun menuntut hak
warisnya, walaupun ayahnya masih hidup, kemudian menjual jatah warisannya dan
berfoya-foya. Namun ketika jatuh miskin, dan untuk mengisi perutnya diapun
bekerja pada orang kafir ( bukan Yahudi ) dan bahkan rela makan makanan babi
yang najis pula. Jadi begitu terperosoknya dia jatuh kedalam dosa dan jatuh lagi ke
kegelapan, namun ketika dia dengan segala sesalnya dan berusaha memohon
ampun pada ayahnya, maka sedikitpun ayahnya tidak mengingat-ingat
kesalahannya dan menerima dengan sepenuh hati anaknya yang dianggap hilang
tersebut telah kembali.

Tokoh kedua adalah anak sulung, yang hidup bersama ayahnya, merasa dekat
dengan ayahnya, merasa bekerja dengan baik dan melayani ayahnya dengan baik
pula, namun ketika melihat adiknya datang dan dirayakan dengan penuh sukacita
dia iri, dan dengan marahnya ia menyebut adiknya dengan “anak bapa” seakan dia
tidak lagi mengakui sebagai adiknya, dan dia menghitung-hitung segala
kebaikannya kepada ayahnya, namun dia merasa mengapa ayahnya tidak pernah
menghargainya. Disinilah letak kesombongan rohani bagi si sulung dan dia telah
melakukan dosa kedagingan.

Tokoh ketiga adalah Sang Ayah, yang telah memberikan hak penuh pada anak-
anaknya untuk berkehendak bebas, termasuk menuntut warisan walaupun dia
belum meninggal. Namun ketika si bungsu kembali dan meminta maaf atas
kesalahannya, si Ayah walaupun itu belum terucapkan, dia telah lebih dahulu
memaafkannya dengan lebih dulu menyongsong anaknya, menyiapkan baju, sepatu
dan membuat pesta yang meriah untuk merayakan anaknya yang hilang telah
kembali. Dan ketika anak sulung menuntut keadilan menurut pendapat si sulung,
dengan sabar ayahnya menerangkan bahwa apa yang ada pada dia adalah miliknya
juga, walaupun alasan itu tidak diterima si sulung.

Disinilah letak kerahiman dari seorang ayah, yang senantiasa terbuka memaafkan
dosa dan kesalahan anak-anaknya.

13

Demikian juga yang terjadi dengan Yesus ketika memaafkan semua orang yang
ikut andil dalam penyiksaan dan penyaliban-Nya, dalam sabdanya di kayu Salib,
ada suatu peribahasa yang dapat kita renungkan, berbuat kesalahan itu manusiawi,
pengampunan itu Illahi.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita ingat, dalam sesi 1 buku IV ini, yaitu :

1. Ketika kita mohon pengampunan hendaklah kita terlebih dahulu rela
mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Karena ketika kita
menangguhkan kesalahan orang lain pada kita, maka kita juga
menangguhkan pengampunan yang diberikan Tuhan pada kita. Contoh :
Ketika seseorang berhutang kepada kita, dan oleh karena sebab dia tidak
mampu membayar, sementara kita sudah mengiklaskannya, maka kita harus
menyampaikan pada dia bahwa hutangnya sudah lunas, agar kita tidak
tertangguhkan oleh kesalahan orang lain.

2. Jangan menyimpan dendam pada orang lain, walaupun kita telah
diselamatkan. Sebab hak mengadili dan menghukum itu adalah hak Tuhan,
bukan hak kita. Contoh : Ketika istri Lot menoleh ke belakang sebagai
keingin tahuannya bahwa dendamnya pada penduduk Sodom dan Gomora
terpenuhi, malah akhirnya dia menjadi abu.

3. Berbuatlah kebaikan pada orang disekitar kita, karena surga dan neraka
adalah tergantung dari mereka. Dan orang-orang disekitar kita adalah anak,
istri, suami, saudara, sahabat, dsb.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di
tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan
hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke
dalam penjara. (TB Mat 5:25)

4. Perbedaan antara Petrus dan Yudas Iskariot, adalah ketika Petrus bersalah,
dia mau memaaf dirinya dan menjalin hubungan lagi dengan Tuhan,
sementara Yudas Iskariot ketika dia bersalah, dia tidak mampu memaafkan
kesalahan dirinya, namun malah bunuh diri.

Sebagai orang yang berdosa kita harus meneladani sikap Petrus, ketika kita
melakukan dosa kita harus mampu memaafkan diri kita dan mohon pengampunan
pada Allah Bapa, dan dengan penuh penyesalan dan berjanji tidak akan
mengulangi lagi.

14

5. Upah dari dosa adalah maut, dan untuk itulah Allah melalui putraNya Yesus
Kristus menebus dosa dunia dengan maut, dan dengan mengalahkan maut
Dia bangkit.

6. Kiamat, adalah saat kita berdiri dihadapan Tuhan untuk
mempertanggungjawabkan kehidupan kita, oleh sebab itu selagi kita diberi
waktu dalam hidup kita, kita harus senantiasa berbuat kebaikan, dan bila
bersalah dan berdosa segera lakukan pertobatan, karena pertobatan bisa
dilakukan selagi kita masih hidup.

7. Berbuatlah kebaikan bagi banyak orang, agar ketika kita diadili pada hari
pengadilan, banyak orang yang membantu kita, jadi ketika kita mati dengan
sukacita, orang lain yang menangis.

Demikianlah sesi 1, Buku IV “Tujuh Sabda Terakhir” ini kami renungkan, semoga
refleksi kita dalam mengartikan tujuan hidup ini benar-benar sesuai dengan
kehendak Allah, yang mana sekiranya tujuan Allah pada kita dengan kehidupan
yang kita peroleh dapat memberi arti bagi diri sendiri dan sesama, dan dapat kita
pertanggung jawabkan pada akhir zaman. Amin

15


Click to View FlipBook Version