Bab 6
ANGGARAN PRODUKSI
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Instruksional Umum :
Mahasiswa dapat memahami pengertian, tujuan, dan manfaat
anggaran produksi.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Agar mahasiswa dapat memahami dasar kebijakan
persediaan.
2. Agar mahasiswa dapat menyusun anggaran produksi dengan
beberapa pola penyusunan anggaran produksi
A. PENGANTAR DAN TUJUAN
Untuk menyusun perencanaan laba, maka setelah penyusunan rencana
penjualan dikembangkan perencanaan aktivitas pendukungnya . Pada perusahaan
dagang berdasarkan rencana penjualan, kemudian disusun rencana pembelian
barang dagangan. Sedang pada perusahaan manufaktur rencana penjualan
digunakan sebagai dasar penyusunan rencana (anggaran) produksi.
Pada anggaran pembelian barang dagangan diperlukan penetapan
kebijakan persediaan barang dagangan. Demikian juga dalam penyusunan
Anggaran Produksi pada perusahaan manufaktur, setelah menyusun Anggaran
Penjualan, kemudian ditentukan kebijakan tingkat persediaan produk jadi, dan
dapat ditentukan Anggaran Produksinya.
B. PENGERTIAN DAN TUJUAN ANGGARAN PRODUKSI
Anggaran produksi adalah : suatu rencana mengenai jumlah produk yang akan
diproduksi oleh suatu perusahaan selama periode tertentu di masa yang akan
datang. Penyusunan anggaran produksi diperinci menurut jenis produk dan waktu.
Penyusunan Anggaran Produksi merupakan tanggung jawab Bagian Produksi dan
penyusunannya berdasarkan anggaran penjualan yang disesuaikan dengan
kebijakan tingkat persediaan. Dan Manajer Produksi bertanggung jawab
membuat perencanaan, penjadwalan, dan pelaksanaan produksi sepanjang tahun.
Tujuan penyusunan Anggaran Produksi
1) Menunjang kegiatan penjualan, dengan maksud agar produk selalu
tersedia sesuai dengan rencana penjualan.
2) Mempertahankan tingkat persediaan produk jadi yang cukup, sehingga
produk tidak terlalu banyak, dan tidak terlalu sedikit
3) Mengatur produksi sedemikian rupa, sehingga biaya produksi dapat
ditekan seefisien mungkin.
66
C. LANGKAH PENYUSUNAN ANGGARAN PRODUKSI
1) Menetapkan Kebijakan Tingkat Persediaan
Tujuan kebijakan persediaan adalah untuk merencanakan dan
mencapai tingkat optimal investasi persediaan. Karena pada umumnya
persediaan merupakan investasi yang relatif besar, maka penentuan
banyaknya persediaan yang harus ada, harus direncanakan sebaik-
baiknya. Karena tingkat persediaan yang terlalu besar menimbulkan
biaya penyelenggaraan yang tinggi, risiko rusaknya produk dan
besarnya investasi. Tetapi sebaliknya, tingkat persediaan yang rendah
dapat menyebabkan kehilangan kesempatan dalam memenuhi
tambahan permintaan penjualan .
Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan besarnya persediaan antara lain:
a) Jumlah rencana penjualan
Jumlah anggaran penjualan yang telah disusun merupakan dasar
untuk menentukan kebijakan persediaan. Jika anggaran
penjualannya relatif stabil, maka perencanaan produksi nya juga
relatif stabil, sehingga perencanaan persediaan dapat relatif stabil
juga.
b) Sifat (daya tahan) produk yang dihasilkan
Jika produk yang dihasilkan merupakan produk yang tahan lama,
maka rencana jumlah persediaan dalam jumlah besar tidak menjadi
masalah. Tetapi sebaliknya jika produk yang dihasilkan tidak tahan
lama, maka persediaan cukup dalam jumlah kecil saja.
c) lamanya proses produksi
lamanya proses produksi tergantung jenis produk yang dihasilkan.
Untuk produk yang proses nya membutuhkan waktu lama, maka
rencana jumlah persediaan harus dibuat dalam jumlah besar.
d) Ada tidaknya fasilitas penyimpanan
Fasilitas penyimpanan merupakan masalah berkaitan dengan
jumlah persediaan barang. Jika perusahaan mempunyai fasilitas
67
penyimpanan yang terbatas maka jumlah persediaan produk jadi
tidak bisa dalam jumlah besar.Walaupun saat ini ada kemungkinan
fasilitas penyimpanan bisa menyewa di tempat lain, maka perlu
juga dipertimbangkan masalah biaya sewa.
e) Tersedianya modal
Jika perusahaan mempunyai modal banyak, dengan asumsi barang
tahan lama, dan fasilitas penyimpanan memadai, maka produksi
dalam jumlah besar tidak terdapat masalah.
f) Mudah tidaknya mencari bahan baku
Kebijakan penetapan tingkat persediaan dapat dinyatakan dengan
beberapa cara, yaitu:
a) Dengan menghitung tingkat perputaran persediaan.
Tingkat perputaran persediaan = Penjualan/tahun
Persediaan rata-rata
Persediaan rata - rata = Persediaan awal + persediaan akhir
2
Misal : Tingkat perputaran Produk X 9 x
Apabila rencana penjualan produk X dalam1tahun = 270.000 unit
Persediaan awal tahun produk X = 25.000 unit
Berapa Persediaan akhir tahun produk X ............. ?
9x = 270.000
Persediaan rata-rata
Persediaan Rata-rata = 30.000
30.000 = 25.000 + persediaan akhir
2
Persediaan akhir = 60.000 – 25.000
Persediaan akhir = 35.000 unit
68
b) Dengan ditentukan batas maximum dan minimum jumlah
persediaan.
Misal : persediaan produk Y maximum 80.000 unit, dan minimum
60.000 unit.
c) Disesuaikan dengan kebutuhan.
Misal: Persediaan akhir produk jadi tiap bulan diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan 1/2 bulan berikutnya. Jika jumlah rencana
penjualan 1 tahun 120.000 unit, dan penjualan per bulan 10.000
unit. Maka setiap akhir bulan jumlah produk yang harus tersedia
sebanyak 5 unit.
2) MENGHITUNG JUMLAH PRODUK YANG AKAN
DIHASILKAN
Penyusunan anggaran produksi dilakukan sebelum akhir periode
yang berjalan, sehingga persediaan akhir periode tahun yang
merupakan persediaan awal periode berikutnya belum diketahui secara
pasti. Oleh karena itu tingkat persediaan awal untuk periode anggaran
juga harus diperkirakan.
Jumlah rencana produksi dihitung dengan cara:
Jumlah rencana penjualan xxxx unit +
Persediaan akhir periode xxxx unit -
Jumlah produk yang harus ada
Persediaan awal periode xxxx unit
Jumlah rencana produksi xxxx unit
xxxx unit
Faktor lain yang mempengaruhi rencana jumlah produksi adalah
persediaan barang dalam proses (WIP). Apabila diperkirakan tidak
terdapat perubahan atas jumlah Barang Dalam Proses, maka tidak ada
pengaruh terhadap jumlah rencana produksi.
Tetapi jika ada perubahan, maka Barang Dalam Proses perlu
diperhitungkan dalam perencanaan produksi.
69
Jumlah rencana penjualan xxxx unit +
Persediaan akhir periode xxxx unit -
Jumlah produk yang harus ada xxxx unit +
Persediaan awal periode xxxx unit
Equivalen WIP akhir xxxx unit
xxxx unit
Equivalen WIP awal xxxx unit
Rencana jumlah produksi xxxx unit
xxxx unit
3) MENYUSUN PRODUKSI MENURUT PERIODE ANTARA
Sebelum menyusun produksi menurut periode antara ( Bulan / Tri
Wulan), maka perlu dipertimbangkan beberapa hal.
Adapun hal-hal yang harus dipertimbangkan yaitu:
− Kapasitas pabrik dan kebijakan persediaan
− Bagaimana agar penyusunan Anggaran Produksi dapat memenuhi
ketiga tujuan penyusunan anggaran produksi.
Untuk menghadapi penjualan yang bersifat musiman, memang sulit
untuk mencapai ketiga tujuan tersebut. Kita dapat merencanakan
tingkat produksi yang stabil, tetapi akibatnya tingkat persediaan akan
berfluktuasi mengikuti fluktuasi penjualan dengan arah yang
berlawanan. Dan sebaliknya jika tingkat persediaan diusahan stabil,
akibatnya tingkat produksi yang berfluktuasi.
Terdapat tiga pola dasar dalam menyusun anggaran produksi.
Pemilihan terhadap salah satu pola tergantung pada faktor apa yang
dipentingkan oleh perusahaan, faktor kestabilan produksi atau faktor
kestabilan persediaan.
Ketiga Pola Dasar Penyusunan Produksi tersebut yaitu:
1) Kestabilan produksi
2) Kestabilan persediaan
3) Keseimbangan yang optimum antara tingkat penjualan, produksi,
dan persediaan.
70
Untuk memberi gambaran bagaimana menyusun produksi
dengan ketiga pola tersebut, berikut adalah contoh dari
PT. MANUNGGAL.
Rencana penjualan selama satu tahun 160.000 unit, yang
terperinci tiap bulan sebagai berikut :
Januari 18.000 unit
Pebruari 20.000 unit
Maret 18.000 unit
April 15.000 unit
Mei 13.000 unit
Juni 12.000 unit
Juli 7.000 unit
Agustus 6.000 unit
September 11.000 unit
Oktober 11.000 unit
Nopember 13.000 unit
Desember 16.000 unit
Rencana jumlah persediaan awal tahun 20.000 unit, dan persediaan
akhir tahun 16.000 unit, maka rencana jumlah produksi dalam 1 tahun
dapat dihitung sbb.:
Rencana penjualan 160.000 unit +
Persediaan akhir 16.000 unit -
Jumlah yang harus ada 176.000 unit
Persediaan awal 20.000 unit
Rencana jumlah produksi 156.000 unit
Berikut ini penerapan ketiga pola penyusunan anggaran produksi.
a) KESTABILAN PRODUKSI
Dengan pola ini, walaupun tingkat penjualan berfluktuasi,
tetapi tingkat produksi tiap bulan stabil. Pada saat penjualan
meningkat, jumlah produksi tidak dinaikkan, sehingga tingkat
persediaan akhir rendah. Dan sebaliknya pada saat penjualan
menurun, jumlah produksi tetap, akibatnya tingkat persediaan
tinggi.
Dengan demikian, apabila tingkat penjualan berfluktuasi,
dan tingkat produksi yang stabil mengakibatkan tingkat persediaan
71
yang berfluktuasi dengan arah yang berlawanan dengan fluktuasi
penjualan. (Lihat tabel : pola Keseimbangan Produksi)
Dalam hal ini produksi per bulan = 156.000 = 13.000 unit
12
Keuntungan dengan pola ini :
1) Adanya kestabilan dalam penggunaan tenaga kerja
2) Adanya kestabilan penggunaan mesin dan peralatan
3) Adanya kestabilan dalam merencanakan pembelian bahan baku,
dan bahan pembantu
Kerugian penggunaan pola ini yaitu:
1) Jika pada saat tertentu tingkat persediaan tinggi, akibatnya biaya
pemeliharaan dan penyimpanan besar.
2) Menanggung risiko kerusakan barang
72
Pola Kestabilan Produksi
Keterangan Jan Feb Maret April Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nov Des Total
Penjualan 18.000 20.000 18.000 15.000 13.000 12.000 7.000 6.000 11.000 11.000 13.000 16.000 160.000
Persediaan Akhir 15.000 8.000 3.000 1.000 1.000 2.000 8.000 15.000 17.000 19.000 19.000 16.000 16.000
Jumlah kebutuhan 33.000 28.000 21.000 16.000 14.000 14.000 15.000 21.000 28.000 30.000 32.000 32.000 176.000
Persediaan Awal 20.000 15.000 8.000 3.000 1.000 1.000 2.000 8.000 15.000 17.000 19.000 19.000 20.000
Produksi 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 13.000 156.000
73
b) KESTABILAN PERSEDIAAN
Pada pola ini, untuk menghadapi penjualan yang
berfluktuasi tingkat persediaan dibuat stabil, sehingga tingkat
produksi akan berfluktuasi searah dengan fluktuasi penjualan. Pada
saat penjualan meningkat jumlah produksi juga dinaikkan. Dan
sebaliknya pada saat penjualan menurun, jumlah produksi juga
diturunkan sehingga tingkat persediaan stabil. Untuk menetapkan
tingkat persediaan yang stabil selama periode tertentu harus
diperhatikan kebijaksanaan tingkat persediaan awal dan persediaan
akhir tahun yang ada. Jika terdapat selisih antara persediaan awal
dan persediaan akhir tahun, maka selisih tersebut diratakan atau
dialokasikan selama periode tersebut.
Ada 2 cara menghitung tingkat persediaan, yaitu :
1) Selisih persediaan awal dan akhir tahun dibagi 12, hasilnya
merupakan selisih persediaan awal dan persediaan akhir tiap
bulan.
Jika diambil dari contoh didepan, maka selisih persediaan dapat
dihitung :
persediaan awal tahun 20.000 unit
persediaan akhir tahun
16.000 unit -
4,000 unit
Selisih persediaan tiap bulan = 4000 = 333,3
12
Selisih persediaan awal dan akhir tahun dibagi dengan angka
tertentu, sehingga diperoleh angka yang bulat. Misal selisih
pesediaan 4000 unit dibagi dengan 10, sehingga selisih
persediaan 400 unit. Artinya selama 10 bulan terdapat selisih
400 unit, dan 2 bulan yang lain tidak ada selisih persediaan.
Dalam contoh disini digunakan cara yang kedua, yaitu selisih
antara persediaan awal dan persediaan akhir 400 unit, dan 2
74
bulan yang tidak dibebani dengan selisih persedia diterapkan
pada bulan Juli dan Agustus.
Pertimbangan bulan juli dan Agustus tidak dibebani dengan
selisih persediaan, karena pada bulan juli dan Agustus tingkat
penjualan paling rendah.
Oleh karena dalam contoh ini, perseiaan akhir tahun lebih
rendah jika dibanding persediaan awal, sehingga anggaran
produksi lebih rendah dibanding anggaran penjualannya.
Apabila pada bulan Julidan Agustusakan dibebani dengan selisih
persediaan,maka pada bulan tersebut produksinya akan menjadi
lebih rendah. Tabel Anggaran produksi dengan pola Kestabilan
Persediaan sbb.:
75
76
Jan Feb maret April Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nov Des Total
Penjualan 18000 20000 18000 15000 13000 12000 7000 6000 11000 11000 13000 16000 160000
Persed. Akhir 19600 19200 18800 18400 18000 17600 17600 17600 17200 16800 16400 16000 16000
Jumlah kebutuhan 37600 39200 36800 33400 31000 29600 24600 23600 28200 27800 29400 32000 176000
Persed.awal 20000 19600 19200 18800 18400 18000 17600 17600 17600 17200 16800 16400 20000
produksi 17600 19600 17600 14600 12600 11600 7000 6000 10600 10600 12600 15600 156000
c) KESEIMBANGAN YANG OPTIMUM ANTARA TINGKAT
PENJUALAN, PRODUKSI, DAN PERSEDIAAN
Dalam pola ini apabila tingkat penjualan berfluktuasi, maka
produksi dan persediaan dibiarkan berfluktuasi dalam batas yang
wajar agar diperoleh tingkat keseimbangan ketiga tersebut.
Pada saat penjualan meningkat jumlah produksi juga ditingkatkan,
tetapi tidak setinggi tingkat penjualan tersebut. Hal ini disebabkan
adanya pertimbangan tertentu dan adanya faktor keterbatasan
perusahaan, misalnya terbatasnya bahan baku, tenaga kerja, modal,
dan kapasitas mesin.
Dan sebaliknya pada saat penjualan menurun, jumlah produksi
diturunkan, tetapi tidak serendah jumlah penjualan tersebut.
Maksudnya agar perusahaan dapat mempertahankan tingkat
persediaan yang memadai untuk menghadapi saat penjualan
meningkat.
Agar diperoleh keseimbangan maka manajemen menetapkan
kebijaksanaan yang lain.
Misal : - Tingkat produksi diharapkan tidak berfluktuasi
diatas/dibawah 25 % dari produksi rata-rata.
- Tingkat persediaan minimum 6.000 unit, dan maksimum
18.000 unit.
Penyusunan dengan pola keseimbangan ini, tidak seperti pada
kedua pola diatas. Penyusunan anggaran tiap bulan sangat fleksibel,
tetapi tidak menyimpang dari kebijakan-kebijakan yang ada
maupun keterbatasan sumber daya yang ada.
Jika diharapkan penurunan maupun kenaikan tingkat produksi tidak
melebihi 25 % dari produksi rata-rata, maka dapat dihitung batasan
produksi tertinggi, dan batasan produksi terendah sebagai berikut :
77
Rata-rata produksi 13000
kenaikan 25% 3250
Batas atas 16250
Rata-rata Produksi 13000
Penurunan 25% 3250
Batas bawah 9750
Dengan batasan tingkat produksi dan batasan tingkat
persediaan, maka anggaran produksi dengan pola keseimbangan
dapat disusun sebagai berikut:
78
Pola Keseimbangan
Keterangan Jan Feb maret April Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nov Des Total
Penjualan 18000 20000 18000 15000 13000 12000 7000 6000 11000 11000 13000 16000 160000
Persediaan Akhir 16500 11000 7500 6500 7500 7500 10500 14500 15500 16500 17500 16000 16000
Jumlah kebutuhan 34500 31000 25500 21500 20500 19500 17500 20500 26500 27500 30500 32000 176000
Persediaan Awal 20000 16500 11000 7500 6500 7500 7500 10500 14500 15500 16500 17500 20000
79
D. PRODUKSI JUST - IN - TIME
Produksi JIT adalah produksi yang tepat waktu dan jumlahnya, sehingga
lini produksi hanya berproduksi sejumlah yang diperlukan oleh tahap
berikutnya atau sesuai dengan permintaan pembelian.
Pendekatan Just - In - Time (JIT) pada perencanaan produksi merupakan trend
baru dalam produksi modern.
Faktor yang mendasari perlunya Produksi JIT adalah:
1. Penyimpanan persediaan yang besar sebagai pengaman dari bahan baku,
produk setengah jadi, maupun produk jadi merupakan hal yang tidak efisien.
Sehingga persediaan sebagai pangaman harus diminimisasi.
2. Waktu persiapan/ penyetelan mesin untuk produksi dapat diminimisasi
melalui penggunaan robot dan penelitian perbaikan proses. Sehingga
seringnya penyetelan mesin untuk produksi membuat tidak efisien.
3. Kualitas yang sangat tinggi dari produk setengah jadi dan produk jadi harus
dicapai sebagai upaya untuk mengurangi kebutuhan persediaan pengaman.
Penggunaan pendekatan JIT pada produksi tidak merubah prosedur yang
digunakan dalam penyusunan Anggaran Produksi yang berhubungan dengan
sistem Perencanaan Dan Pengendalian Terpadu.
KETERBATASAN JIT
a. Sering timbul masalah dengan pemasok, meski ada kontrak jangka panjang
b. Pandangan negative dari karyawan yang merasa diperas tenaganya
c. Jika tidak dijalankan dengan baik, maka ada resiko kehilangan penjualan
yang bisa jadi merupakan penjualan yang hilang selamanya
1. Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan
cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk
memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan
dengan aktivitas pembelian dengan cara:
a. Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi
sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
80
b. Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan
pemasok.
c. Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang
mapan.
d. Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai
tambah.
e. Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi
biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
a. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
b. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
c. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga
banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.
d. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga
beli secara individual
e. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi.
2. Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau
produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang
diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi
permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan
cara:
a. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap
workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep
persediaan nol).
b. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi
(konsep waktu tunggu nol).
c. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi
biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk
(workstation).
81
d. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas
produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.
Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan
efisiensi dalam bidang:
a. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
b. Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
c. Waktu perpindahan
d. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
e. Ruangan pabrik
f. Biaya mutu
g. Pembelian bahan
Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem
akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
a. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
b. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk
aktivitas tidak langsung
c. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya
tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
d. Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”
D. ANGGARAN PRODUKSI SEBAGAI ALAT PERENCANAAN,
PENGKOORDINASIAN DAN PENGENDALIAN
Rencana produksi yang terperinci, disusun berdasarkan rencana
penjualan. Pada saat menyusun rencana produksi, dipertimbangkan kelemahan
atau masalah yang akan dihadapi, maksudnya agar dalam pelaksaaannya
masalah tersebut dapat dihindari.
Anggaran produksi sebagai alat perencanaan, maksudnya anggaran
produksi merupakan dasar utama perencanaan operasional pabrik yaitu
perencanaan kebutuhan bahan baku, kebutuhan tenaga kerja langsung,
perencanaan kegiatan departemen jasa, biaya produksi tak langsung serta
kebutuhan modal.
82
Anggaran produksi sebagai alat pengkoordinasian yaitu koordinasi
dengan bagian penjualan mengenai rencana penjualan, dan koordinasi dengan
Bagian Keuangan.
Selain itu anggaran Produksi sebagai alat pengendalian yaitu
pengendalian terhadap jumlah produksi, pengendalian kwalitas, dan
pengendalian biaya produksi.
E. ILUSTRASI PENYUSUNAN ANGGARAN PRODUKSI
Berdasarkan Anggaran Penjualan PT BOROBUDUR ( Bab V), sekarang
dilanjutkan dengan penyusunan anggaran produksi. Penyusunan Anggaran
Produksi diperinci menurut jenis produk yaitu produk A dan B, dan menurut
periode antara, yaitu TW I, II, III, dan IV. Sedang untuk periode TW I
diperinci tiap bulan. Perinciaan ini mengikuti pola anggaran penjualannya.
Untuk produk A, persediaan awal tahun 1200 dan persediaan akhir tahun
1000 unit. Persediaan akhir bulan Januari 1000 unit, Pebruari 900 unit, Maret
800 unit, TW II 800 unit, TW III 1.100 unit .
Dan untuk produk B, persediaan awal tahun 500 unit, persediaan akhir
tahun 700 unit. Persediaan akhir bulan Januari 550 unit, Pebruari 500 unit,
Maret 550 unit, TW II 650 unit, dan TW III 850 unit. Dalam contoh ini
persediaan WIP diabaikan, karena diasumsikan persediaan WIP stabil selama
periode anggaran ini.
(Penyusunan Anggaran produksi dapat dilihat pada tabel berikut)
TABEL 5.1
PT BOROBUDUR
ANGGARAN PRODUKSI
(Diperinci menurut jenis produksi, dan waktu)
Keterangan TRI WULAN I TRI WULAN TW IV TOTAL
Januari Pebruari Maret Total TW I TW II TW III
PRODUK A
Penjualan 500 500 500 1500 1000 1000 1500 5000
Persed. Akhir 1000 900 800 800 800 1100 1000 1000
∑ kebutuhan 1500 1400 1300 2300 1800 2100 2500 6000
Persed. Awal 1200 1000 900 1200 800 800 1100 1200
Produksi 300 400 400 1100 1000 1300 1400 4800
83
PRODUK B
Penjualan 250 250 250 750 500 500 750 2500
Persed. Akhir 550 500 550 550 650 850 700 700
∑ kebutuhan 800 750 800 1300 1150 1350 1450 3200
Persed. Awal 500 550 500 500 550 650 850 500
Produksi 300 200 300 800 600 700 600 2700
84
SOAL JAWAB
Anggaran Penjualan selama tahun 2009 sbb.:
Jawa Timur Jawa Tengah Total
Unit Hasil Penjualan
Triwulan
Unit Harga Jual Hasil Penjualan Unit Harga Jual Hasil Penjualan
TW I 20 % 45.000 13.735 618.075.000 30.000 14.284 428.532.000 30.000 1.046.607.000
TW II 30 % 67.500 13.735 927.112.500 45.000 14.284 642.798.000 45.000 1.569.910.500
TW III 20 % 45.000 13.735 618.075.000 30.000 14.284 428.532.000 30.000 1.046.607.000
TW IV 30 % 67.500 13.735 927.112.500 45.000 14.284 642.798.000 45.000 1.569.910.500
Total 225.000 3.090.375.000 150.000 2.142.660.000 150.000 5.233.035.000
85
Persediaan produk jadi awal tahun 2009 sebanyak 10.000 unit dengan harga
pokok Rp 8.500,- , dan persediaan akhir tahun 2009 diperkirakan sebesar 10 %
dari anggaran penjualan tahun 2009.
Diminta:
1. Hitung Produksi selama 1 tahun
2. Susunlah Anggaran Produksi secara terperinci dengan menggunakan pola
Kestabilan Persediaan.
Jumlah Rencana Penjualan 375.000 unit
Persediaan Akhir Periode 37.500 unit +
Persediaan Yang Harus Ada 412.500 unit
Persediaan Awal Periode 10.000 unit -
Rencana Produksi 402.500 unit
Jawab:
1. Anggaran Produksi Tahun 2009 (tahunan)
Jumlah Rencana Penjualan 375.000 unit
Persediaan Akhir Periode 37.500 unit +
Persediaan Yang Harus Ada 412.500 unit
Persediaan Awal Periode 10.000 unit -
Rencana Produksi 402.500 unit
2a. Anggaran Produksi Pola Kestabilan Persediaan
Keterangan I II III IV Total
R. Penjualan 75000 112500 75000 112500 375000
P. Akhir 16875 23750 30625 37500 37500
Produk yang Ada 91875 136250 105625 150000 412500
P. Awal 10000 16875 23750 30625 10000
R. Produksi 81875 119375 81875 119375 402500
86
Selisih Persediaan Awal dan Akhir
Persediaan Akhir = 37.500 unit
Persediaan Awal = 10.000 unit -
Selisih persediaan = 27.500 unit/triwulan
Selisih persediaan per tri wulan = 27.500 = 6.875
4
2b. Anggaran Produksi Pola Kestabilan Produksi
Jumlah produksi 1 tahun 402.500
Jumlah Produksi tiap Tri Wulan = 402500/4 = 100.625
Keterangan I II III IV Total
R. Penjualan 75000 112500 75000 112500 375000
P. Akhir 35625 23750 49375 37500 37500
Produk yanga ada 110625 136250 124375 150000 412500
P. Awal 10000 35625 23750 49375 10000
R. Produksi 100625 100625 100625 100625 402500
SOAL 2
Anggaran Penjualan tahun 2009 sbb.:
Waktu Unit Penjualan
Tri Wulan I 200,000
Tri Wulan I 200,000
Tri Wulan I 250,000
Tri Wulan I 350,000
1,000,000
Persediaan akhir tahun 2008 sebesar 60.000 unit, dengan tingkat perputaran
persediaan 10 x
Diminta :
87
a. Berapa nilai Persediaan akhir tahun 2009, jika perusahaan mengharapkan
tingkat perputaran persediaan sama dengan tahun 2008 ?.
b. Berapa Jumlah produksi dalam satu tahun ?
c. Susun Anggaran Produksi dengan Pola Kestabilan Produksi
d. Susun Anggaran Produksi dengan Pola Kestabilan Persediaan
Jawab:
a) Nilai Persediaan
1.000.000
10 x = -----------------------------
Rata-rata persediaan
Rata-rata persediaan = 1000000/10 = 100.000
Persediaan awal + persediaan akhir
Rata-rata Persediaan = ----------------------------------------------
2
60.000 + persediaan akhir
100.000 = ------------------------------------------
2
Persediaan akhir = 200.000 -60.000 = 140.000
b) Anggaran Produksi dalam 1 tahun
Keterangan Total
R. Penjualan 1,000,000
P. Akhir
Produk yang Ada 140,000
P. Awal 1,140,000
R. Produksi
60,000
1,080,000
88
c) Anggaran Produksi dengan Pola Kestabilan Produksi
Keterangan I II III IV Total
R. Penjualan 200.000 200.000 250.000 350.000 1.000.000
P. Akhir 130.000 200.000 220.000 140.000
Produk yang Ada 330.000 400.000 470.000 490.000 140.000
P. Awal 130.000 200.000 220.000 1.140.000
R. Produksi 60.000 270.000 270.000 270.000
270.000 60.000
1.080.000
Jumlah produksi 1 tahun 1.080.000, maka produksi per tri wulan 270.00
d) Anggaran Produksi dengan Pola Kestabilan Persediaan
Keterangan I II III IV Total
200,000 200,000 250,000 350,000 1,000,000
R. Penjualan 100,000 120,000 140,000
80,000 140,000
P. Akhir
Produk yang 280,000 300,000 370,000 490,000 1,140,000
Ada 60,000 80,000 100,000 120,000 60,000
220,000 270,000 370,000
P. Awal 220,000 1,080,000
R. Produksi
Selisih Persediaan Awal dan Akhir
Persediaan Akhir = 140.000 unit
Persediaan Awal = 60.000 unit -
Selisih persediaan = 80.000 unit/triwulan
Selisih persediaan per tri wulan = 80.000 = 20.000
4
Persediaan Awal Januari 60.000, maka persediaan Akhir Twi wulan I 80.000
LATIHAN
1. PT. X pada tahun 2002 merencanakan menjual produk A selama 6 bulan
sebesar: berikut :
Januari 900 unit
Pebruari 1.000 unit
Maret 1.200 unit
89
April 1.100 unit
Mei 1.000 unit
Juni 1.100 unit
Apabila persediaan awal ditentukan sebesar 700 unit dan persediaan akhir 500
unit. Hitung dan susun budget produksi dengan stabilitas produksi dan
stabilitas persediaan.
2. Produsen plastik ”Menara” sedang menyusun anggaran produksi. Walaupun
musiman, departemen penjualan berhasil membuat rencana penjualan bulanan
yang realistis untuk tiap tahun. Berikut adalah anggaran penjualan untuk tahun
2009.
a. Anggaran penjualan untuk tahun 2009
Bulan Unit Bulan Unit Bulan Unit
Januari 36.000 Mei 32.000 September 26.000
Februari 38.000 Juni 26.000 30.000
Maret 38.000 Juli 22.000 Oktober 36.000
36.000 20.000 November 40.000
April Agustus Desember
b. 1 Januari 2010, persediaan produk jadi diperkirakan 96.000 unit
c. Persediaan produk dalam proses tetap konstan
d. Penjualan tahunan aktual tahun 2008, termasuk estimasi Desember, adalah
350.000 unit
e. Persediaan produk jadi rata-rata untuk tahun 2008 adalah 70.000 unit
PERMINTAAN
1. Buat anggaran produksi tahunan, asumsikan bahwa kebijakan manajemen
adalah menganggarkan persediaan akhir produk jadi pada jumlah standar
yang berdasarkan rasio penjualan terhadap penggantian persediaan historis
tahun 2008
2. Buat jadwal yang memperlihatkan penjualan, produksi, dan tingkat
persediaan bulanan dengan asumsi (1) persediaan yang stabil, (2) produksi
yang stabil
90